CHAPTER 5

Semalaman Kyuhyun tak bisa tidur nyenyak. Sejak percakapannya dengan Siwon, Kyuhyun dibayangi perasaan bersalah. Awalnya Kyuhyun merasa bangga dengan dirinya. Ia merasa, setelah memberi pelajaran pada Han Kaisoo, maka anak itu akan sadar dan tidak akan mengganggu Ryeowook lagi.

Namun, sekarang Kyuhyun merasa ragu. Bagaimana kalau Ryeowook menderita karena dirinya. Bagaimana kalau Han Kaisoo membalas Ryeowook dan semakin mempersulit hidupnya.

Kyuhyun merasa bodoh sekarang. Ia bodoh karena melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya terlebih dahulu. Parahnya lagi, bukan dia yang akan menanggung akibatnya, melainkan orang lain. Orang lain yang tak tahu-menahu tentang apa yang sudah diperbuatnya.

Hari ini Kyuhyun terlihat lebih pendiam di sekolah. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana pada Ryeowook. Kyuhyun tahu, bahwa ia harus minta maaf pada Ryeowook. Tapi apakah Ryeowook mau menerima permintaan maafnya dengan mudah. Bagaimana kalau Ryeowook sangat marah padanya. Atau bagaimana kalau nanti Ryeowook malah merasa ketakutan. Takut akan balasan yang akan dia terima dari Han Kaisoo dan teman-temannya. Kyuhyun bingung sekarang harus bagaimana.

Kyuhyun akan merasa lebih baik jika Ryewook marah padanya, menamparnya, atau mencaci makinya. Yang Kyuhyun khawatirkan adalah jika reaksi Ryeowook malah menangis, histeris, tertekan, dan semacamnya.

Kyuhyun masih duduk sebangku dengan Ryewook. Namun, ia tak banyak bicara seperti biasanya. Ia duduk dalam diam. Bicara seperlunya jika ada yang mengajaknya bicara. Suasana hatinya sedang buruk saat ini.

"Kau baik-baik saja, Kyu?" tanya Ryeowook heran.

Ryeowook heran tentu saja karena biasanya Kyuhyun banyak bicara.

"Aku baik-baik saja," jawab Kyuhyun singkat.

"Tak biasanya kau lebih banyak diam hari ini," ujar Ryeowook.

"Huh? Aku sedang ingin diam saja," balas Kyuhyun datar.

"Kau tak sedang sakit kan?" tanya Ryeowook lagi.

"Aku baik-baik saja, Ryeowook. Tak perlu mengkhawatirkanku," kata Kyuhyun lagi," mungkin efek bergadang semalaman."

"Oh kau meyelesaikan tugas, ya? Kau terlalu rajin," ucap Ryeowook.

Kyuhyun tak menanggapi lagi ucapan Ryeowook itu. Ia kembali meletakkan kepalanya di atas lengannya yang terlipat di atas meja.

"Ryeowook-ah, apa yang kaulakukan kalau kau merasa bersalah pada seseorang?" tanya Kyuhyun tanpa mengangkat kepala dari lipatan lengannya.

"Meminta maaf tentu saja," jawab Ryeowook.

"Kalau orang itu tak mau memafkanmu?" tanya Kyuhyun lagi.

"Kau sudah mencobanya?"

Kyuhhyun menggeleng mendengar pertanyaan Ryeowook itu.

"Bagaimana kau tahu dia akan memafkanmu atau tidak kalau kau belum pernah mencobanya? Cobalah dulu maka kau akan tahu jawabnya," ujar Ryeowook,"kau bersalah kepada siapa sampai-sampai tak berani meminta maaf?" tanya Ryeowook ingin tahu.

"Pada seseorang yang kukenal dekat. Maka dari itu aku ragu meminta maaf," jawab Kyuhyun.

"Kau ini aneh. Biasanya kalau pada orang yang kita kenal dekat kita justru lebih mudah untuk meminta maafnya."

"Karena aku tak begitu yakin ia mau memaafkanku. Kesalahanku sangat fatal kali ini," jawab Kyuhyun sedih.

"Apa yang sudah kaulakukan? Tapi, menurutku kalau orang itu dekat denganmu, ia pasti akan mau memaafkan meskipun kesalahanmu itu sangat besar," kata Ryeowook.

"Aaah, kuharap juga begitu. Mungkin aku harus mencari waktu yang tepat untuk meminta maaf padanya," jawab Kyuhyun lagi.

"Dan aku jamin dia pasti mau memafkanmu," kata Ryewook sambil tersenyum menenangkan.

"Yah, semoga saja begitu," jawab Kyuhyun. Ya, semoga saja Ryeowook mau memaafkannya.

Udara musim gugur yang cukup dingin. Meskipun jam istirahat siang sudah berbunyi sejak 10 menit yang lalu, namun masih banyak anak-anak yang tinggal di dalam kelas. Tak banyak anak yang mau melewatkan hari di lapangan atau taman sekolah yang dingin. Mayoritas siswa lebih memilih tinggal di kelas atau di kantin menikmati hangatnya udara dari penghangat ruangan yang terdapat di dalam kelas maupun di kantin sekolah.

Kyuhyun hendak menikmati makan siangnya di kantin hari ini. Kali ini Ryeowook ikut dengannya ke kantin meskipun Kyuhyun harus memaksanya untuk ikut. Selama ini Ryeowook jarang sekali pergi ke kantin. Ia lebih sering membawa bekal yang bisa dimakannya di dalam kelas atau di lorong dekat perpustakaan.

Kantin sekolah Kyuhyun sangat luas. Dindingnya berwarna krem dengan lukisan-lukisan indah di dindingnya. Lantainya dari kayu berwarna cokelat tua. Meja segi empat berpelitur cokelat dengan kursi warna krem diatur dengan rapi dan sejajar.

Ryeowook selalu minder jika pergi ke kantin. Kantin sekolah merupakan tempat berkumpulnya anak-anak populer di sekolahnya. Ryeowook merasa dia berada di tempat yang salah jika harus berada di tengah-tengah anak populer itu.

"Kita duduk di ujung sana saja, Kyu," ajak Ryeowook sambil menunjuk ke sudut ruangan dekat dengan pintu tembus yang mengarah ke dapur.

Kyuhyun mengangguk dan berjalan mendului Ryeowook. Kantin sekolah sangat ramai hari ini. Well, sebenarnya kantin sekolah sangat ramai tiap harinya. Ryeowook berjalan menunduk mengikuti langkah Kyuhyun. Di tangannya terdapat nampan berisi jatah makan siangnya yang terdiri atas nasi, sup sayur, tumis ayam, kimchi, dan air mineral. Kyuhyun juga memegang makanan yang sama dengan Ryeowook.

Sebenarnya setiap siswa di sekolah ini mendapatkan jatah makan siang. Namun, Ryeowook jarang, bahkan boleh dibilang tak pernah, mengambil jatah makan siangnya. Ia lebih suka makan bekal yang ia bawa dari rumah. Hanya nasi dan lauk sederhana yang mengisi kotak bekal makan siangnya.

Ryeowook tak pernah menginjakkan kaki di kantin. Peristiwa yang terjadi padanya saat pertama kali makan siang di kantin sudah cukup membuatnya tahu diri dan tidak pernah menginjakkan kaki di kantin lagi.

Namun, sekarang keadaannya berbeda. Ryeowook merasa nyaman karena ada Kyuhyun. Ryeowook merasa aman karena ia tak sendirian. Ada Kyuhyun yang berjalan bersamanya. Ada Kyuhyun yang ada di dekatnya.

Mereka melewati barisan tempat duduk yang penuh dengan para siswa. Ryeowook masih saja berjalan merunduk. Ia merasa terasing di tempat ini. Ia hanya mengikuti arah langkah Kyuhyun menuju tempat duduk yang tadi ditunjukkannya.

Tempat yang tadi ditunjuk Ryeowook memang kosong. Siapa juga yang mau duduk dekat pintu dapur dengan troli besar di sampingnya tempat nampan dan gelas kotor. Yang lain pasti akan memilih tempat lain yang lebih nyaman. Namun, bagi Ryeowook, tempat yang paling tidak nyaman bagi siswa yang lain adalah tempan yang paling nyaman baginya.

Ryeowook tak memerhatikan siapa saja yang dilewatinya tadi. Pandangannya masih menekuri lantai tempatnya berpijak. Ia tak melihat ke arah lain, hanya menatap sepatunya yang bergerak bergantian menuju tujuannya.

Ryeowook yakin ia berjalan dengan benar, namun sedetik kemudian ia merasa ada seseorang yang menjegal kakinya. Tubuhnya oleng dan nampan berisi makan siangnya jatuh berceceran mengotori lantai di sekitarnya.

Ryewook jatuh terduduk. Kepala anak-anak yang lain menyembul dan menatap ke arah suara bising yang menghebohkan kantin siang itu. Kyuhyun yang tadi berjalan di depan Ryeowook pun tak kalah kaget kala mendengar suara benda jatuh di belakangnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Ryeowook yang menunduk malu seraya menatap horor pada makanan siangnya yang berceceran.

"Matamu ke mana, Kim Ryeowook?" tanya suara mengejek di dekat mereka.

Kyuhyun melihat Han Kaisoo, Shin Dong Min, dan Lee Kwang So duduk semeja yang dekat dengan Ryeowook terjatuh. Shin Dong Min yang duduk paling dekat menanyakan hal kasar itu pada Ryeowook.

"Apa yang kaulakukan?" tanya Kyuhyun tak kalah kasar.

"Apa yang kulakukan? Aku melakukan apa memangnya? Aku hanya duduk makan di sini," jawab Shin Dong Min.

"Kau yang membuat Ryeowook terjatuh kan?" tuduh Kyuhyun. Kyuhyun bisa langsung menebak pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Shin Dong Min. Tak mungkin orang lain yang melakukannya.

"Aku membuat Ryeowook terjatuh? Siapa yang membuatnya jatuh? Akukah? Apa kalian lihat aku melakukan sesuatu padanya?" tanya Shin Dong Min pada orang-orang di sekelilingnya.

Wajah dan ucapannya terdengar tanpa dosa, namun menyebalkan di telinga Kyuhyun.

"Kalau bukan kau siapa lagi? Hanya kau yang duduk paling dekat dengan tempat Ryeowook berjalan. Pasti kau yang menjegal kaki Ryeowook!" tuduh Kyuhyun penuh emosi,"biarkan saja makanan itu di situ, Ryeowook! Kau tak perlu memungutinya!" bentak Kyuhyun marah saat dilihatnya Ryeowook memunguti sisa-sisa makanan yang berceceran di lantai.

Ryeowook pun menghentikan kegiatannya itu. Ia menatap Kyuhyun dan Shin Dong Min bergantian. Menatap wajah keduanya yang saling menantang dan membelalak.

"Memang itu yang pantas dilakukannya, memunguti sampah dan sisa-sisa. Apa lagi yang lebih cocok untuknya selain itu?" ejek Shin Dong Min.

Kyuhun marah bukan main. Selama hidupnya baru kali ini ada orang yang tega menghina orang lain di depan umum.

"Apa kaubilang? Kau kira siapa dirimu?" kata Kyuhyun emosi. Nada suaranya sampai naik beberapa oktaf.

"Kau tak tahu siapa aku, hah?" balas Shin Dong Min tak kalah keras. Ia bahkan sudah berdiri dari tempat duduknya dan siap meladeni Kyuhyun.

Bukan Kyuhyun namanya kalau dia hanya diam dan pasrah. Ia bukan orang lemah seperti itu. Selama ia benar, ia tak takut pada apa pun.

Perkelahian tampaknya tak bisa dihindari lagi. Siswa lain malah sudah mengelilingi mereka berdua. Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Hentikan kalian berdua!" tegur sebuah suara lantang.

Ahn Jae Hyun, banjang kelas Kyuhyun sudah berdiri di antaranya. Matanya menatap tajam kedua temannya yang sedang berusaha mengendalikan dirinya.

"Sudah cukup. Ini kantin, tempat umum, bukan ring tinju. Di sini tempat orang duduk tenang dan makan, bukan saling teriak dan bertengkar," tegur Ahn Jae Hyun tegas.

Kyuhyun mengendorkan kepalan tangannya yang sedari tadi terkepal dan siap menghantam wajah Shin Dong Min. Shin Dong Min pun kembali duduk di tempatnya bersama dua temannya yang lain.

Ahn Jae Hyun memandangi Ryeowook yang masih terduduk di lantai. Wajahnya sulit diartikan antara terluka, terhina, dan teraniaya.

"Tak usah kaubersihkan, Ryeowook! Ada petugas kebersihan yang akan membersihkannya. Kauminta saja ganti makan siangmu pada petugas kantin. Dan yang lain bubar lanjutkan makan kalian!" perintahnya.

Anak-anak pun membubarkan diri satu per satu dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Ryeowook sudah kehilangan selera makannya demikian juga Kyuhyun. Ryeowook menarik tangan Kyuhyun dan mengajaknya pergi. Ryeowook bersumpah dalam hati ia tak akan kembali ke kantin ini lagi.

Kyuhyun menghempaskan pantatnya ke atas kursinya di kelas. Hatinya masih kesal bukan main. Kesal karena masih saja ada orang semacam Shin Dong Min. Kesal karena masih saja ada orang yang sepasrah Ryeowook.

Ryeowook ikut duduk di sebelahnya. Ia keluarkan bekal yang ia bawa dari rumah. Hanya ada nasi dan telur dadar yang digulung dalam kotak makan itu. Ryeowook mengangsurkan kotak bekal itu ke arah Kyuhyun, mengajaknya berbagi makanan.

"Untukmu saja , Ryeowook," kata Kyuhyun saat mengetahui maksud Ryeowook membagi bekalnya.

"Kita makan bersama saja. Kau pasti lapar kalau tak makan siang. Kita masih harus di sekolah sampai malam," kata Ryeowook,"memang hanya makanan sederhana, tapi lumayan untuk mengganjal perut."

Kyuhyun mengambil sumpit di tangan Ryeowook dan mulai mengambil nasi dan telur yang tersaji dalam kotak bekal itu. Rasanya lumayan lezat. Apalagi kalau perutmu sedang kosong seperti saat ini.

Tak perlu waktu lama nasi dan telur itu berpindah ke dalam perut Kyuhyun dan Ryeowook. Perut mereka tak lagi kosong seperti sebelumnya. Tenaga mereka pun mulai bertambah karena makanan penuh energi itu.

"Ingin sekali aku mengoyak wajah Shin Dong Min tadi. Dia menyebalkan sekali," ucap Kyuhyun. Matanya berkilat menunjukkan kemarahannya.

"Jangan sampai kaulakukan hal itu! Kau akan mendapat masalah kalau sampai melakukannya," ucap Ryeowook sambil merapikan kotak bekalnya dan memasukkannya ke dalam tas.

"Kenapa? Kulihat kau pun hanya diam dan pasrah pada apa yang dilakukannya padamu," kata Kyuhyun.

"Shin Dong Min orang yang sangat berpengaruh. Orang tuanya juga salah satu donatur sekolah kita. Kita tak boleh cari masalah dengan orang-orang istimewa seperti mereka kan?" jelas Ryeowook.

"Cih, istimewa apanya? Kita sama-sama manusia Ryeowook. Punya bagian-bagian tubuh yang sama. Kita juga punya tugas dan kewajiban yang sama. Di mana letak perbedaannya?" tanya Kyuhyun menyangkal ucapan Ryeowook.

"Derajat kita yang berbeda. Mereka memiliki derajat yang lebih tinggi, Kyu," jawab Ryeowook.

Kyuhyun mendengus mendengar ucapan Ryeowook itu. Kyuhyun tahu apa maksud Ryeowook. Ryeowook merasa derajatnya rendah karena ia berasal dari keluarga tak mampu, dan memandang derajat orang lain yang datang dari keluarga kaya sebagai orang yang berderajat tinggi.

"Derajat seseorang tidak ditentukan oleh kaya tidaknya orang itu, Ryeowook. Perilaku kitalah yang menentukannya. Moral kita jugalah yang menentukannya," kata Kyuhyun.

"Itu hanya terjadi di dunia khayal kita, Kyu. Hanya terjadi dalam cerita-cerita dongeng yang sering kita dengar waktu kecil. Kenyataannya tidak seperti itu. Orang yang kaya memiliki keistimewaan yang tak mungkin bisa kita dapatkan," jawab Ryeowook pelan.

"Ryeowook, kau tahu dari mana kalau orang tua Shin Dong Min donatur di sekolah kita? Aku tak pernah tahu sebelumnya. Apakah pihak sekolah memberitahumu siapa saja donatur yang memberimu beasiswa?" kejar Kyuhyun ingin tahu.

"Anni, aku hanya kebetulan tahu. Waktu pertama kali masuk aku diantar ayahku ke sekolah dan secara kebetulan bertemu dengan Shin Dong Min dan ayahnya di tempat parkir. Ayah Shin Dong Min seorang petinggi yang sangat berpengaruh di Goldstar corp. Kau tahu kan perusahaan besar itu? Ayahku bekerja juga di sana, namun hanya sebagai pegawai rendahan. Ayahku yang mengatakan bahwa aku harus bersikap baik pada Shin Dong Min," jelas Ryeowook.

"Oh, ayahnya bekerja di Goldstar corp.? Pantas saja kau hanya diam saat ia memperlakukanmu seenaknya," kata Kyuhyun.

"Aku hanya tak mau ayahku mendapat masalah karena kelakuanku, Kyu. Aku harus bisa menjaga sikapku selama di sini. Aku harus tahu diri. Aku memang bergantung pada para donatur untuk mengenyam pendidikan di sini," ucap Ryeowook lirih.

"Kau tak perlu merasa rendah diri begitu. Kaukira hanya ayah Shin Dong Min saja yang jadi donatur? Masih banyak donatur sekolah ini selain ayahnya. Jadi, kau tak perlu takut menghadapinya kalau ia berlaku seenaknya padamu. Kau tak akan kehilangan beasiswamu hanya karena melawan perilakunya yang seenaknya sendiri," kata Kyuhyun menegur Ryeowook.

"Andai aku seberani dirimu, Kyu. Tapi, sayangnya aku tak punya keberanian sebesar dirimu," keluh Ryeowook.

"Maka dari itu belajarlah, Ryeowook. Belajarlah untuk lebih berani. Kau tak akan mendapatkan apa-apa tanpa punya keberanian. Kau tak bisa meraih mimpimu tanpa keberanian. Oleh karena itu, belajarlah untu lebih berani," kata Kyuhyun meyakinkan Ryeowook.

Ya, hanya butuh lebih banyak keberanian untuk dapat menghadapi dunia. Butuh lebih banyak keberanian untuk menantang dunia. Dunia hanya butuh orang yang berani untuk memperjuangkan nasibnya, untuk mengubah hidupnya.

TBC

Chapter 5 akhirnya bisa update juga. Terima kasih buat semua yang sudah menyempatkan diri baca n review cerita saya ini. Baca terus lanjutan ceritanya, ne dan jangan lupa juga reviewnya. Gomawo.