TWO SIDES

by Gyoulight

.

.

.

.

HUNHAN FANFICTION

GENRE: Drama, Romance

RATING: T

.

.

.

.

A Month Ago (flashback)

Sehun beranjak dari kursinya setelah rapat dadakan selesai digelar. Para kepala sudah membubarkan diri lewat pintu belakang. Kini hanya ia yang melenggang lewat pintu utama ditemani Baekhyun yang memburui langkahnya. Sehun meletakkan ponselnya di telinga, sementara Baekhyun sibuk menekan tombol lift dan sebisa mungkin untuk tidak berurusan dengan pembicaraan telpon bosnya. Namun terima atau tidak, Baekhyun punya telinga yang tajam untuk mendengar semua ucapan bos tingginya itu.

Sampai pada pintu lift yang terbuka, Sehun masih saja sibuk dengan ponselnya. Ia kembali mendial beberapa orang kepercayaannya di seberang sana, sementara Baekhyun hendak menekan nomor lantai teratas ruangan bosnya. Tapi lebih dulu ia menerima interupsi tak terduga.

"Basement," perintah Sehun yang kemudian dituruti sekertarisnya. Baekhyun menoleh pada bosnya yang masih menelik arloji. Kebingungan yang melanda membuatnya bertanya, kemana tujuan mereka kini.

"Katakan pada Jongin untuk meninjau Real." Baekhyun berkedip beberapa kali. Ia mungkin maklum dengan Sehun yang gila di meja rapat, tapi kali ini ia tidak bisa mengatakan apapun perihal keputusan sepihak yang dibuatnya. Percaya atau tidak, Sehun baru saja menolak saran divisi pemasaran untuk melupakan proyeknya dan membangun proyek baru yang dijanjikan akan lebih menguntungkan. Sehun masih ngotot dengan proyek sebelumnya, terlebih mengambil keputusan mengejutkan dengan menambahkan hasil produksi Real ke dalamnya. Dan itu sama sekali tidak murah bagi perusahaan.

"Saham kita turun dan biaya produksi membengkak, tidakkah ini─"

"Aku sudah bilang di rapat, proyek tetap akan berjalan," potong Sehun tidak mau dengar. Ia sudah cukup membantah banyak orang di dalam ruang rapat. Dan ia sudah sangat puas dengan sekertarisnya yang kadang selalu memiliki pemikiran yang tidak sejalan dengannya. "Kris mencoba memanipulasi Arion."

Baekhyun sukses melongo. Ia belum bisa mencerna hasil pemikiran ajaib bosnya. Seketika ia teringat dengan segala penawaran Wu Dragon empat bulan yang lalu di China. Seusai pelelangan hotel Sirius, CEO mereka, Kris, menjamu mereka pada kerajannya yang besar. Mengundang CEO Arion yang baru saja berganti pemimpin dengan alasan tertarik untuk berbisnis. Siapa sangka orang luar biasa seperti Kris memiliki sisi gelap manipulatif?

"Kita seharusnya tidak membangun Helio dengannya," sambung Sehun masih menatap pantulan dirinya di pintu lift. Sorotnya kosong, tidak benar-benar memperhatikan dirinya yang cukup kalut. "Kris menciptakan rumor untuk menurunkan angka saham dan menyuap banker untuk mencekik tagihan. Beruntung Junmyeon mengetahui ini lebih dulu sebelum semuanya terlambat." Sehun menyugar surainya. Ia cukup lelah dengan proyek otomotifnya yang selalu menuai masalah. "Seharusnya aku tahu mengapa Kris tiba-tiba mengundang kita malam itu."

Baekhyun segera mendial Jongin sebelum Sehun mengamuk. Ia mungkin saja buta masalah dunia gelap perusahaan karena ia tidak pernah mendengarnya sebelumnya. Tapi dengan melihat raut Sehun yang begitu serius membuat Baekhyun berpikir, semua ini haruslah mendapat perhatian lebih.

Berhasil memasuki mobil, Sehun langsung mengambil tabnya. Ia langsung mendapatkan email dari Junmyeon mengenai profil gelap Wu Dragon yang notabenenya susah didapatkan. Entah darimana ahli IT Arion itu menemukan brangkas hitam perusahaan China sebersih Wu Dragon.

Baekhyun membanting setir dengan buru-buru tapi tetap disiplin. Ia juga tidak ingin nyawanya putus di tengah jalan, apalagi membawa nyawa orang penting di dalam mobil. Tak lama, sebuah pesan diterima dari ponselnya. Junmyeon yang cukup cepat dalam bekerja, nyatanya sudah membagikan lokasi Kris padanya. Baekhyun yang terkagum-kagum pun hanya bisa mengatur GPS pada mobil bosnya sambil menggeleng.

Sesampainya di Hotel Signiel, mereka segera dilobi oleh seorang berpakaian serba hitam. Bukan pegawai hotel yang ramah, lebih tepatnya kaki tangan Kris yang lebih dulu menyambut dengan dingin. Baekhyun hanya memasang wajah bingung sampai ia benar-benar sampai pada pintu kamar konglomerat yang dicarinya. Dua penjaga menyetop mereka dan Sehun sudah berubah masam ketika tubuhnya diperiksa sebelum memasuki kamar itu. Tidak berbeda pula dengan Baekhyun.

Setelah puas dengan hasil pemeriksaan, barulah penjaga itu mengetuk pintu kamar dan mengawal keduanya untuk masuk. Baekhyun masih menatap sekeliling, menghitung orang-orang Kris di setiap sudut sebelum menemukan wajah Kris yang bersantai di sofa. Pria pirang itu mempersilahkan semua orang duduk dengan santai. Sangat ramah, bahkan wajah Kris yang menawan itu terlalu ramah untuk disebut pendosa.

Seketika suasana terasa memberat dengan wine sebagai jamuan. Kris memberikan sedikit basa-basi sebelum Sehun menuai protesnya tentang bagaimana ia diperlakukan rendah di luar sana. Kris terkikik dan segera minta maaf dengan menjanjikan banyak hadiah sebagai gantinya. Tapi Sehun tidak butuh apapun saat ini, bahkan jika Kris bersedia memberinya sebuah gedung lengkap dengan karyawan di tiap divisi.

Sehun bukanlah orang yang suka dengan basa-basi, jadi ia mengejutkan Kris dengan lemparan tabnya di meja. Nyaris orang-orang Kris mendekat untuk melayangkan tinju, tapi Kris lebih dulu menginterupsi dengan tangannya. Maka orang-orangnya mundur dengan teratur seperti robot diberi perintah.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Sehun yang benar-benar pada intinya.

Alis Kris naik membaca tiap biografi perusahaannya terangkum dalam benda tipis itu. Tak lupa tersenyum manis seolah tak punya dosa. "Pantas saja orang-orangku menemukan jejak kalian beberapa minggu ini. Aku sampai kagum pada anak buahmu dengan ID Z0M itu."

Baekhyun menelan ludahnya kasar. Ia tak menyangka secepat ini Kris mengetahui pergerakan Junmyeon pada daringnya. Pria brunet itu kemudian harus menelan kecemasannya sendiri. Jari lentiknya berusaha tidak menyentuh apapun saat mata Kris mulai menatapnya.

"Kau membawa sekertarismu juga? Ini menarik," gumam Kris lagi. Dan Baekhyun hampir sesak karena Kris benar-benar mengingatnya dengan baik. Sungguh ia ingin pulang saja sekarang, firasatnya saja sudah mengacau di kepala.

Sehun dengan wajah datar meraih gelasnya, memainkan isinya tanpa berniat meminumnya. Bukannya curiga kalau itu bisa saja diracun, tapi Sehun sedang tidak ingin melakukan apapun jika belum menemukan apa yang dicarinya. "Ayolah Kris aku sibuk, kau pikir kenapa aku menemuimu?"

"Perusahaanmu sudah terbongkar dan ini menjadi begitu lucu karena kau bisa tersenyum setelahnya," sambung Sehun sarkastik. "Aku bisa saja membawa ini ke pengadilan, mengingat ayahku punya koneksi yang bagus dengan badan hukum."

Kris terkikik. Menemukan kata 'ayah' dalam kalimat Sehun membuatnya kepalang geli. Memiliki koneksi yang bukan milik pribadi tentu bukan sesuatu yang patut untuk dibanggakan. Kris boleh saja tertawa tentang itu, tapi hatinya cukup serius menanggapi. Karena Ayah Sehun bukanlah ayah sembarangan di Korea dan Jerman. Dan mungkin ia sudah salah karena bermain-main dengan keluarga Oh yang terhormat.

"Kau mungkin bisa memanipulasi perusahaan besar seperti yang lainnya, tapi aku tidak. Terima kasih atas jamuanmu waktu itu, jadi aku memiliki kesempatan untuk membangun Helio dengan bantuanmu." Sehun meletakkan gelasnya. Padahal emosinya sudah tak tertahan untuk segera menyiram wajah pria pirang itu.

Kris meminum kembali isi gelasnya. Ia sepenuhnya merasa tidak dihargai ketika jamuannya tidak dicicipi. "Jadi sampai mana kalian mengetahuinya?"

"Semua ten─"

Belum selesai Sehun menjawab, kini sebuah moncong pistol yang dingin sudah menempel pada pelipis Baekhyun. Baekhyun yang sejak tadi hanya mematung, menyamakan dirinya dengan patung air mancur Hotel Signeil di depan sana, hanya bisa gemetar takut─benar-benar merasa sudah di pinggir ajalnya.

Sehun tetap tenang melirik sekertarisnya yang berubah menjadi bahan ancaman. Sehun memutuskan untuk tidak takut, karena menjadi takut akan membuat Kris tambah senang dengan permainannya. Maka Sehun hanya memasang senyumnya, meski Baekhyun sudah berpikir yang bukan-bukan lewat terkaannya sendiri. "Kau benar-benar licik. Padahal aku sudah mempertahankan Helio mati-matian pagi ini."

Kris bersandar pada sandaran sofanya. Menyilangkan kakinya dengan tampan, bak model cover majalah. "Mari lakukan beberapa negosiasi," bujuk Kris mengembalikan tab itu kepada empunya. Pria pirang itu sesungguhnya tidak merasa seperti terancam. Ia punya banyak koneksi untuk membersihkan namanya kalau saja Sehun berani berperang dengannya.

"Aku juga datang kemari dengan banyak syarat," balas Sehun semakin menajamkan matanya. Ia lantas merasa keadaannya sudah berbalik menjadi ia yang paling terjepit.

Kris mengangguk kecil. "Jangan pernah ungkit masalah ini lagi."

"Itu saja?"

"Sebenarnya tidak." Kris mengangkat jari terlunjuknya. Meminta waktu untuk memulai penjelasan singkat. "Aku menginginkan adikmu."

Sehun menyernyit. "Dia tidak terlibat dalam negosiasi kita, Kris."

"Aku tahu dia anak simpanan ayahmu. Gadis yang dibawa ayahmu setelah hari ulang tahunmu, benar?"

Pria pucat itu masih membolongi sorot Kris yang begitu dingin menusuk. Baginya semua itu adalah benar, tapi pikirannya terlalu sibuk untuk bernostalgia. Jadi ia menyampingkan semua bayangan pikirannya dan mencoba terfokus pada masalah yang sebenarnya─bahwa adiknya tengah menjadi lahan negosiasi. "Kau menyukainya?"

"Lebih dari itu. Aku mencintainya," jawab Kris sangat percaya diri. Pria pirang itu bahkan tidak punya rasa malu saat mengatakannya. Lelaki sejati mungkin, tapi bukankah akan menjadi berengsek jika mencampur adukkan cinta dengan bisnis?

Sehun mengambil jeda sebentar sebelum ia melirik Baekhyun yang sudah menatapnya horror. Lagipula siapa yang tak akan terkejut dengan penawaran gila semacam ini? Terlebih dengan Kris yang sudah menunjukkan wajah aslinya dengan lubang pistol. "Bagaimana jika aku bilang tidak?"

"Kau, sekertarismu, Z0M dan juga perusahaanmu akan dapat kejutan." Senyum licik Kris kini sudah menatap Baekhyun yang tidak berkutik. Sangat dramatis baginya.

Sehun terkekeh. Ia berusaha tenang luar biasa. Ia tentu tidak akan membiarkan dirinya mati dengan kepala berlubang bersama sekertarisnya di hotel. Tidak lucu baginya membayangkan Chanyeol akan menangis selama sisa hidupnya atas ini. "Kau masih tak mengerti mengapa aku lebih memilih datang kemari ketimbang membawa kasusmu ke pengadilan? Ketahuilah Kris, aku masih membutuhkan perusahaanmu. Aku kemari mengajakmu melupakan masalah Wu Dragon yang berniat memanipulasiku itu. Dan mari hentikan ini."

Kris terdiam sebentar, sedikit tertarik sebenarnya ia dengan tawaran pemimpin Arion ini. Tapi Kris bukanlah orang yang mudah percaya begitu saja, terlebih pada musuh yang sudah mengantongi kelemahannya. Kris sudah lama hidup dengan rasa tidak percaya yang tinggi. Ia bahkan tidak punya seorang pun untuk dipercaya dalam hidupnya sendiri. Maka ia akan butuh jaminan untuk menguntungkannya. "Sehunie, kau mengakses daringku tanpa izin dan mencuri informasiku. Tentu kau harus membayar lebih."

Sehun tenggelam dalam emosinya, pikirannya bahkan penuh dengan banyak hal. Ia tidak mungkin bisa memilih disaat terjepit seperti ini. Perusahaan atau keluarga sama-sama penting baginya. Bagaimana mungkin ia bisa memilih salah satunya dengan benar-benar bijak?

Baekhyun masih menatapnya, masih memohon untuk tidak membuat keputusan bodoh─lewat matanya. Tapi Sehun hanya punya satu pilihan agar ia dan Baekhyun bisa keluar dari sini dengan selamat. Dan Sehun yakin, siapapun tak akan menyukai pilihan yang dibuatnya. "Baiklah, kau bisa bertunangan dengan adikku. Tapi dengan syarat, jangan pernah ganggu Arial Ace Corporation dan Arion, mereka bukan wilayahmu. Dan tolong jangan lupakan proyek kita."

Kris tersenyum puas. Ia pun segera memberikan kode 'lepas' pada orang-orangnya untuk menurunkan pistol. "Senang bernegosiasi denganmu," puji Kris mengisi kembali gelasnya yang kosong.

e)(o

Sehun mendapati Baekhyun yang masih terdiam di sampingnya. Pria brunet itu nyatanya belum pulih dari syoknya. Sorotnya kosong, ia tak mampu berbicara sepatah kata pun saat Sehun bertanya. Maka ia mengambil alih kemudi, meninggalkan hotel itu sejauh-jauhnya lalu mengantar Baekhyun untuk pulang. Sedangkan ia kembali berkelana dengan mobilnya. Mengelilingi kota untuk menghapus rasa bersalahnya. Namun semua itu tidak akan pernah bisa hilang, ia terlanjur menjual adiknya pada orang licik seperti Kris.

Sehari berselang, tibalah Sehun yang memutuskan untuk pulang ke rumah menghadap ayahnya. Dengan sejuta konsekuensi, ia menghancurkan pesta perpisahan keluarganya dengan Chanyeol─sebelum pria jangkung itu bertolak ke Berlin. Ia bahkan menerima ketegangan ayahnya dan juga tangisan adiknya malam itu.

Sehun berlutut pada ayahnya seperti masa kecilnya yang keras. Tapi ayahnya yang tempramen selalu memukulnya dengan tongkat. Punggungnya akan habis memar, kakinya akan pincang dan ayahnya tidak akan memaafkannya. Ia tahu betul akhir dari semua perbuatannya. Tapi kali ini ia akan menerima itu sebagaimana ia mengerti kesalahan yang ia lakukan. Tidak seperti dulu, dimana ia akan membenci ayahnya sendiri lalu melakukan banyak kesalahan lain sampai ayahnya bosan memukulnya.

Chanyeol masih berdiri di depan pintu dengan Sena yang berada di pelukannya. Seorang pria yang selalu membuat Sehun iri itu selalu menjadi yang paling tidak berguna jika dihadapkan pada keputusan ayahnya. Chanyeol memang seorang yang patuh dan cerdas, berbeda dengannya yang hanya menjadi masalah ayahnya. Maka karena kepatuhan yang dimilikinya, Chanyeol tidak bisa melakukan apapun untuknya. Kakaknya itu hanya bisa menatapnya dengan sorot lemah. Namun Sehun masih bisa bersyukur, karena Chanyeol satu-satunya orang yang selalu mengerti semua keputusannya dan akan selalu memaafkannya seperti seorang kakak yang ideal.

"Aku berterima kasih karena kau sudah menyelamatkan Baekhyun," bisik pria lembut itu memeluknya. Sangat pelan sampai Baekhyun sendiri tidak bisa mendengar bisikannya. Senyum Chanyeol mengembang seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Sehun lantas hanya bisa menggenggam hatinya yang berdenyut ketika ia melepas kakaknya pergi. Karena dengan Chanyeol yang pergi hari itu, maka pergilah semua malaikat yang dilepaskan kakaknya untuknya. Tidak akan ada lagi seseorang yang mengerti dan percaya pada dirinya selain dirinya sendiri.

"Percaya dirilah, boy, semua masalah akan selalu punya solusi," pesannya sebelum pria itu benar-benar pergi dari pelukan Baekhyun dan memasuki pintu keberangkatannya. Wajah pria itu sangat cerah seperti biasanya. Hendak menyalurkan ketenangan luar biasa tapi Sehun sama sekali tidak bisa menangkap apapun.

e)(o

Tiga minggu setelah pesta pertunangan adiknya yang begitu berkelas dan penuh tamu undangan, Sehun mendapati ayahnya yang terduduk lemah di kursi. Rautnya yang selalu tegas kini tampak begitu lesu. Masih lemah sorotnya mengarah ke luar jendela, tidak mengindahkan kedatangan putranya sama sekali.

Sehun mendekat dan segera berlutut pada ayahnya. Ia sangat ingin mengucapkan sesuatu selain maaf, tapi ia benar-benar tidak punya kata lain yang lebih mahal dari pada itu. Ia pun bisa menerima banyak pukulan jika ayahnya menginginkan ia dihukum. Tapi kali ini ayahnya malah membuang tongkatnya. Menyentuh bahunya dalam keheningan bercampur lara. Entah, Sehun begitu tak mengerti ayahnya. Ayahnya mungkin pribadi dengan sosok yang tegas, tapi jauh dari itu, ayahnya begitu mudah terluka jika disinggung soal hati. Mungkin semua orang boleh benar tentang cinta yang bisa memudarkan kekuatan.

Sehun begitu ingat bagaimana Sena menangis karenanya. Gadis itu terus memohon padanya untuk sesuatu yang tidak bisa dikabulkan dengan mudah. Namun malam itu Sehun hanya bisa memohon maaf dan menjanjikannya sebuah cara yang bahkan sampai sekarang ia tidak tahu apa itu.

Sang ayah lalu kembali ke kursi, kembali memandangi halaman belakang penuh bunga yang menjadi kenangan favoritnya. "Memukulmu pun tidak akan membuatnya kembali," tuturnya pelan. Ia bahkan tidak punya tenaga untuk murka. "Sena begitu membenci ini sampai ia lari seperti ibunya."

Sehun masih menatap lantai di dekat lututnya. Kepalanya pening, bahunya lelah memerintah banyak orang untuk mencari adiknya yang kabur. Dan ia yakin ayahnya pun merasakan hal yang sama dengannya. "Maaf, ayah." Akhirnya ia pun memohon dengan kata murahan miliknya.

"Ibunya bahkan pergi ketika dia tahu aku selalu mencintai ibumu. Sena menjadi tidak diinginkan ibunya sendiri sampai harus menyerahkannya padaku." Pria paruh baya itu lalu menggenggam jemarinya. Hatinya pun terdengar hancur karena merasa tidak berhasil menjadi seorang ayah untuk ketiga anaknya. "Aku kehilangannya sekali lagi. Apa yang harus aku lakukan untuk membuat dia kembali?"

"Aku akan membawanya kembali," jawab Sehun yang entah ia yakini atau tidak. Yang jelas ia yakin ia punya cara untuk menyelesaikan ini sendiri.

Ayahnya kemudian berbalik. Mendekatinya perlahan dengan raut yang tidak dapat ditebak. Sehun hampir saja mundur kala tangan ayahnya mulai mendekatinya. Ia memejamkan kedua matanya, bersiap dengan apapun jika tangan itu hendak menamparnya. Namun yang ia temukan hanya elusan di puncak kepalanya. Begitu nyaman dan juga lembut. Sehun kemudian tersentuh, sudah lama ia tidak diperlakukan seperti ini.

"Kau mungkin tidak bisa menjadi Chanyeol, Sehunie. Tapi percayalah, jika aku ada di posisimu saat itu, aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu."

e)(o

July 7, 2019

"Aku sudah bilang padamu untuk bersikap baik padanya," omel Baekhyun di meja makan. Pria brunette itu bahkan tak punya rasa belas kasih pada Sehun yang nampaknya paling tertekan di rumahnya sendiri. Bagaimana tidak, saat ia butuh makan dan ketenangan dari rasa jenuh, ia malah mendapatkan rasa mual di perutnya─hanya karena mendengar ceramah panjang Baekhyun di atas meja makan. "Kau harusnya minta maaf, bukan menggedor pintunya."

"Dia tidak meresponku. Aku bahkan belum makan sejak tadi siang," balas Sehun lemah meletakkan sumpitnya. Ia sepenuhnya telah kehilangan selera makan. Dan ia bisa saja terkena stress jika begini terus-terusan.

Baekhyun menghela nafasnya. Memandangi sorot lelah Sehun yang begitu kusut namun tidak bisa ditertawakan, karena kondisinya memang sedang tidak tepat. "Aku dan Jongin pun sama denganmu. Kami bahkan mengalami gangguan lambung setiap kali Arion krisis."

Sehun memiringkan kepalanya. Ia hendak terkikik mengingat bagaimana semua karyawannya hari ini berubah menjadi zombie karena meregang nyawa di atas meja kerja. Hanya karena kasus kebocoran informasi dan perusahaan sebelah mengukuhkan diri sebagai penjual unggul setelah melihat kelemahan perusahaannya. Bagimana tidak tambah pusing, ketika investor perusahaan yang telah teken perjanjian beralih menjual kembali saham dan menelantarkan proyek yang hampir setengah kering. "Kenapa kau tidak menikah saja dengan hyungku dan hidup bahagia? Kenapa harus repot mengurusiku?"

Baekhyun berdecih. "Katakan pada hyungmu untuk melamarku dan keluarkan Luhan dari kamarnya, lalu aku akan pensiun dengan cepat," jawab Baekhyun memainkan garpunya. Tidak mau ambil pusing masalah perusahaan dan juga saran yang tepat untuk masa depannya. Karena Baekhyun masih ingin bersenang-senang dengan kesendiriannya.

"Mengapa hyungku tidak kunjung melamarmu?" gumam Sehun meraih gelasnya. Meminum isi gelasnya sambil mencuri tatap pada Baekhyun yang ikut kehilangan selera makannya. Dan ya, katakan saja ia tengah berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Apakah itu penting sekarang?" Baekhyun terpancing. Ia tentu sangat sensitif soal pernikahan. Karena tentu saja semua pernikahan itu tidak semudah yang orang pikirkan. Tidak semudah yang orang pikirkan seperti tinggal berjanji di hadapan Tuhan, saling berbagi dan memahami emosi pasangan yang tidak terduga. Pernikahan tidak sesimple itu, karena kita juga harus menikahi setiap lapisan keluarga pasanganmu. Benar?

Sehun menautkan jemarinya. "Itu penting karena aku lelah denganmu. Kau benar-benar mirip dengan mendiang ibuku."

"Oh, tapi hyungmu mencintaiku, baby." Baekhyun meraih stroberi yang tak jauh dari jangkauannya. Menggigitnya lucu sampai Sehun ngilu ingin segera pergi dari sana. Menyeka sisa makanan di sudut bibirnya, akhirnya Sehun memilih beranjak dari kursi. "Mau kemana?"

"Mendobrak pintunya," toleh Sehun yang dihadiahi tatapan iritasi khas Baekhyun.

"Jangan membuat ayahmu pusing, biaya mengganti pintu itu tidak murah."

Sehun menoleh sebentar. "Dan membayar orang yang tidak melakukan apapun untuk pekerjaannya juga sama dengan membuang-buang uang untuk menggajinya. Dia sudah terima gaji awal, dan itu tidak kecil."

"Sehun, aku ingin kau benar-benar memperlakukannya dengan baik. Seharian ia menolak makan, dan aku sangat mengkhawatirkannya." Sehun lantas mengangguk dengan tatapan terpaksa miliknya, kemudian benar-benar menghilang─menaiki tangga di ujung lorong.

e)(o

Luhan masih mengeliat di tempat tidurnya. Ia mati-matian menekan perutnya, menahan rasa nyeri yang menyerang disana hingga tangannya sendiri gemetar. Ia tahu, ia tidak makan apapun sejak pagi tadi. Ia bodoh karena bisa membiarkan dirinya kelaparan. Lagi pula manusia mana yang kelaparan tapi terikat dengan harga diri, karena merasa tidak sudi memakan makanan mahal di tempat bosnya.

Ia begitu ingat dengan perkataan Sehun kemarin. Begitu menancap di otaknya untuk membuatnya berpikir tidak pantas untuknya makan di tempat ini. Lalu sialnya kontrak kerja yang ia tanda tangani benar-benar tidak mengizinkannya keluar dari rumah. Lantas apa yang harus ia lakukan? Di sisi lain Luhan tahu benar bahwa Sehun hanya manusia berhati besi. Pria itu mungkin saja tidak bisa meluruskan apapun dengan benar.

Perlahan Luhan mencoba beranjak dari ranjangnya. Meringsut ke arah jendela, lalu membukanya dengan sisa tenaga yang ia punya. Cahaya bulan begitu lembut menyiram wajahnya yang pucat. Sambil menekan perutnya, Luhan lalu membiarkan matanya jatuh pada hamparan rumput dan juga pohon yang ada di bawah jendela. Mungkin jika ia sudah tidak perduli lagi pada kotrak yang ia tanda tangani, ia bisa meloncat sekarang juga. Pulang ke rumah menemui adiknya yang cerewet atau menjenguk ibunya yang sakit. Luhan bahkan belum dapat kabar tentang kondisi ibunya pasca operasi. Tapi Luhan bisa sedikit percaya semuanya akan baik-baik saja karena Baekhyun akan mengurus semuanya.

Mungkin ada sedikit kabar jika Luhan membiarkan pintunya terbuka untuk Baekhyun malam ini. Tapi entah mengapa sejak ia memukul wajah Sehun hari itu, ia merasa ingin sendirian saja seharian penuh. Ia mungkin takut jika Sehun menuntutnya. Tapi nyatanya Luhan tidak menemukan apapun selain keheningan Sehun padanya hari itu.

Lama memikirkan bagaimana caranya lari dari masalah membuat Luhan lupa prihal pintunya yang terkunci. Pintu itu kini berbunyi nyaring memecah kesunyian kamarnya. Remang kamarnya lalu membawa kornea Luhan ke arah lubang kuncinya. Kenop pintunya segera bergerak sebelum ia sampai dan menarik kunci lain di balik pintunya. Alhasil pintu itu terbuka dengan raut Sehun yang seakan menantangnya berduel tinju. Gemetar Luhan menahan perutnya yang semakin sakit. Kenapa ia tidak pingsan saja malam ini?

"Sudah puas?" tanya pria pucat itu memasuki kamarnya. Kaki jenjangnya melenggang panjang, ingin menebar jala padanya.

Luhan tidak tahu mengapa ia bisa mundur dengan tatapan rusanya. Jantungnya berdetak, otaknya yang pening merefleksikan betapa takutnya ia dengan tatapan itu. "M-mundur," perintah kecilnya sebelum membentur nakas di tepi ranjangnya. Lampu tidur di punggungnya bergoyang, hampir terguling ke lantai. Dan Luhan segera membenarkan posisinya sebelum membayar uang ganti rugi karena lampu itu rusak.

Sehun semakin mendekatinya. Masa bodoh dengan Luhan yang sudah tidak punya celah lagi untuk mundur. Pria dengan setelan piamanya itu lantas menyandarkan kedua lengannya pada nakas dengan Luhan yang terkunci di antara lengannya. Sebuah tolehan mematikan dari Sehun segera memberi efek tegang dari lawannya. Membuat Luhan membeku, tak berani menatap kedua matanya.

"Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?" Luhan tak bisa bergerak saat Sehun berbicara dengan suara beratnya. Pria itu tidak menunjukkan ekspresi apapun untuknya. Seakan tenang walaupun mungkin hatinya tengah berkobar api.

Semakin gugup, Luhan semakin merasakan sakit di bagian perutnya. Keringat dinginnya bahkan sudah membasahi ujung rambutnya. Ia tidak tahu lagi kondisi jantungnya yang kini sudah bertabuh hingga telinganya ribut. Ia bisa bersumpah, jika ia pingsan seperti orang bodoh di hadapan Sehun sekalipun, ia mungkin tidak akan menyesal.

"Kau senang membuatku marah? Bekas tinjumu waktu itu juga masih membekas. Tidak ingin melihatnya?" Sehun segera menunjukkan wajahnya yang sediki membiru. "Dimana Luhan yang berani menijuku waktu itu?"

Luhan menelan ludahnya kasar. "A-aku─"

"Kau pikir aku akan baik padamu?" Sehun kembali mendekat pada Luhan. Sedangkan Luhan semakin memundurkan wajahnya. "Sadarlah Kim Luhan, kau hanya akan menuruti aturanku. Kenapa repot-repot melawanku, hm? Kau punya uang untuk ganti rugi?"

"Cukup," potong Luhan mendorong bahu tegap itu menjauh darinya.

"Minta maaf padaku," tuntut Sehun kembali memojokkannya.

Luhan kembali mendorong Sehun dengan sisa kekuatannya, tapi itu sama sekali tidak cukup untuk membuat Sehun bergerak. "Menjauh dariku!"

Sehun yang semakin murka kini beralih merampas kedua tangannya. Mencengkramnya kuat hingga Luhan meringis sakit. "Mulai hari ini, pintumu tak akan pernah punya kunci. Dan jika kau ingin mati, jangan lakukan di rumahku."

Luhan lalu menyaksikan Sehun yang mengambil kunci kamarnya. Sorot tajam itu kemudian dihadiahkan khusus untuknya. Lalu tak perlu menunggu lama sampai Sehun benar-benar meninggalkannya dalam keheningan yang paling sunyi.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

A/N:

(Maafkan atas ketidaktelitianku, efek nge-up tengah malem jadi aku lupa naruh keterangan flashback di awal. Ini sudah ku perbaiki, Untuk yang sudah baca duluan, aku minta maaf karena membuat kalian bingung..)

Aku mau ngucapin terima kasih banyak kepada reviewer yang sudah memberikan masukan yang luar biasa untuk ff ini. Saran kalian aku simpan sebagai bahan evaluasi. Mengenai alur, inilah alur yang ada diimajinasiku. Dan ya, part 2 banyak flashbacknya Sehun haha

Anyway, semoga part ini bisa menjawab pertanyaan kalian sebelumnya.

Aku bingung mau nulis apa lagi. Aku up nya tengah malem btw...

Terima kasih sudah mau menunggu. Terima kasih juga untuk yang memfollow dan memfavoritkan ff ini, semoga kalian betah ya? Jangan lupa review lagi di part ini.

Sampai jumpa di part berikutnya ^^