CHAPTER 6

Semakin hari Kyuhyun dan Ryeowook semakin dekat. Mereka tidak hanya duduk sebangku, namun juga melakukan banyak hal bersama. Ryeowook merasa nyaman berteman dengan Kyuhyun. Begitu juga Kyuhyun.

Awalnya Kyuhyun mengira Ryeowook anak yang pendiam dan tak banyak tingkah. Namun, ternyata Ryeowook tak kalah cerewet dengan eomma dan hyung-nya di rumah. Kyuhyun sampai-sampai memanggilnya ahjumma kalau Ryeowook sudah mulai banyak bicara.

Begitu pula dengan Ryeowook. Bagi Ryeowook, Kyuhyun adalah teman yang menyenangkan. Kyuhyun cerdas dan lebih dewasa dari usianya, baik pemikiran dan tingkah lakunya. Kyuhyun juga berpikiran luas jadi enak diajak bertukar pikiran tentang apa pun. Kyuhyun anak yang selalu optimis dan tingkat kepercayaan dirinya tinggi.

Namun, kadang kala Ryeowook juga dibuat jengkel dengan sifat Kyuhyun yang sangat keras kepala. Berdebat dengan Kyuhyun kadang menguras isi otak Ryeowook. Dulu Ryeowook menganggap dirinya sudah amat pintar. Namun, setelah berhadapan dengan seorang Cho Kyuhyun, Ryeowook merasa menemukan mitra yang seimbang.

Sejak kejadian di mana Shin Dong Min mempermalukannya di kantin, Ryeowook tak pernah lagi menginjakkan kaki di kantin. Kyuhyun masih ke kantin meskipun jarang. Kyuhyun lebih suka menemani Ryeowook, lebih tepatnya membantu Ryeowook, menghabiskan bekalnya. Ryeowook pun sekarang juga membawa bekal lebih banyak supaya cukup untuk mengisi perut mereka berdua.

Kyuhyun dan Ryeowook lebih sering menghabiskan waktu di kelas, perpustakaan, lorong dekat perpustakaan, atau lorong dekat ruang piala di lantai satu. Pendek kata di mana ada Kyuhyun di situ ada Ryeowook.

"Apa rencanamu setelah lulus SMA?" taya Kyuhyun.

Hari sudah petang pelajaran pun sudah selesai beberapa saat yang lalu. Anak-anak sudah banyak yang pulang, namun ada juga yang masih bertahan di sekolah. Petang itu hujan turun sangat deras. Bagi anak-anak yang tak beruntung dijemput kendaraan roda empat, harus rela menunggu hujan berhenti atau setidaknya tidak sederas sekarang.

Kyuhyun yang selalu bersepeda ke sekolah dan Ryeowook yang berjalan kaki untuk pergi dan pulang dari sekolah, sama-sama sepakat bahwa nekad menerobos hujan yang turun selebat sekarang ini bukanlah suatu tindakan yang bijaksana. Mereka duduk-duduk di bangku panjang di lobi sambil mengobrol untuk membunuh waktu.

"Kuliah tentu saja. Aku harus masuk universitas ternama dan lulus dengan nilai yang sangat baik. Aku ingin mendapatkan pekerjaan yang baik juga, Kyu. Orang tuaku bilang aku bisa jadi orang sukses kalau aku bisa masuk universitas ternama dan lulus dengan predikat memuaskan," kata Ryeowook.

"Kau ingin jadi karyawan atau mau membuka usaha sendiri?" tanya Kyuhyun.

"Mana bisa aku membuka usaha sendiri. Membuka usaha butuh modal banyak. Aku tak punya dana yang cukup untuk dijadikan modal. Aku ingin bekerja di Goldstar Corp., seperti ayahku. Kau tahu, Kyu, bos ayahku itu orangnya sangat baik," celoteh Ryeowook pada Kyuhyun.

"Oh, ya, kau sudah pernah bertemu dengan bos ayahmu?" tanya Kyuhyun takjub. Setahu Kyuhyun bos adalah orang yang super sibuk, bahkan karyawannya pun jarang bisa bertatap muka secara langsung.

"Tentu saja pernah. Choi Kihoon, sajangnim Goldstar ternyata orang yang sangat baik dan ramah," jelas Ryeowook.

"Kau bertemu di mana?" tanya Kyuhyun penasaran.

"Aku pernah ke rumahnya sekali membantu ayahku mengantarkan barang-barang Tuan Choi untuk dibawa ke rumah,"cerita Ryeowook.

"Oh, ya, kapan?" tanya Kyuhyun terkejut. Terpana karena Ryeowook bahkan pernah berkunjung ke rumah bos ayahnya.

"Hampir dua bulan yang lalu. Oh, ya, Kyu, Tuan Choi bilang kalau anak bungsunya juga bersekolah di sini. Tapi, aku tak pernah tahu siapa dia. Tuan Choi juga bilang kalau anaknya itu satu angkatan dengan kita. Apa kau tahu siapa dia? Mengapa kita tak pernah mengenalnya. Kalau benar anak Tuan Choi bersekolah di sini mengapa ia tak populer seperti Han Kaisoo. Anak chaebol pasti cepat populer," kata Ryeowook.

"Molla, aku tak pernah tertarik dengan gosip seperti itu. Siapa pun dia juga tak penting bagiku. Kenapa kau tak bertanya langsung pada Tuan Choi?" jawab Kyuhyun.

"Sebenarnya ayahku yang cerita. Aku hanya menunggu ayahku di teras depan rumah Tuan Choi waktu itu. Kata ayahku tak sopan kalau aku ikut masuk ke dalam rumah besar Tuan Choi. Aku penasaran seperti apa dia. Kalau anak sulung Tuan Choi aku tahu. Dia legenda sekolah ini. Siswa teladan, kapten tim basket sekolah, juara taekwondo, dan pidato. Deretan piagam penghargaan, piala, dan medali atas namanya bahkan berjajar di ruang piala. Bahkan, foto besarnya juga menghiasi ruang piala. Aku ingin seperti dia," ucap Ryeowook.

"Jangan ingin seperti orang lain, Ryeowook! Jadilah dirimu sendiri. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bahkan seseorang yang disebut legenda pun juga memiliki kelemahan dan kekurangan. Kita harus menjadi diri kita sendiri dan melakukan segala sesuatu yang terbaik," nasihat Kyuhyun.

"Kau benar. Setiap orang sudah ditetapkan takdirnya sejak lahir. Kita terlahir unik dan memiliki kelebihan masing-masing. Oh, Kyu, kau kadang bisa berkata bijak juga, selama ini kau lebih banyak mencibir atau berdecak jika ada sesuatu yang tak sepaham denganmu," kata Ryeowook.

"Jadi, maksudmu mulutku kadang kelewat batas begitu?" tanya Kyuhyun.

"Hm, kadang memang seperti itu. Apakah pernah ada orang yang mengatakan kalau mulutmu lebih cepat bekerja daripada otakmu, Kyu?" tanya Ryeowook setengah menggoda.

"Huh, siapa yang berani? Bahkan hyung-ku pun tidak," tantang Kyuhyun.

Kyuhyun yakin mengatakannya karena selama ini ia sebenarnya bak raja kecil di rumah.

"Kau punya hyung?" tanya Ryeowook,"Wah, senangnya! Aku juga ingin punya hyung."

"Kadang memang menyenangkan, selebihnya lagi menyebalkan," ucap Kyuhyun.

"Kenapa? Apa kalian kurang dekat?" tanya Ryeowook heran.

"Terlalu dekat malah. Hyung-ku itu sangat cerewet, hampir sama sepertimu. Selalu saja memperlakukanku seperti anak kecil," sungut Kyuhyun.

"Dia memanjakanmu, eoh? Seharusnya kau bersyukur bisa dekat dengan hyung-mu. Aku saja tidak terlalu dekat dengan noona-ku. Ia sibuk bekerja sampai malam. Jadi, aku jarang bertemu dengannya," keluh Ryeowook,"keluargamu seperti apa, Kyu? Kau tak pernah cerita tentang keluargamu."

"Keluargaku sama seperti keluarga pada umumnya. Ada appa, eomma, dan aku punya satu hyung," jawab Kyuhyun.

"Jadi, hanya ada empat orang dalam keluargamu. Sama sepertiku, bedanya kau punya hyung, sedangkan aku punya noona. Ah, ayo, pulang! Hujan sudah mulai berhenti. Seram juga rasanya di sekolah malam-malam begini," ajak Ryeowook saat hujan tak lagi turun dengan deras. Hanya menyisakan rintik-rintik kecil yang turun membasahi bumi.

Kyuhyun beranjak meninggalkan tempat duduknya. Ia mengambil sepedanya dari tempat parkir dan menuntunnya sambil berjalan mengiringi langkah Ryeowook. Di persimpangan jalan mereka berpisah. Kyuhyun mengendarai sepedanya menuju ke rumah, sedangkan Ryeowook harus berjalan kaki untuk dapat sampai ke rumahnya.

Sudah satu minggu berlalu sejak Kyuhyun memberi pelajaran pada Han Kaisoo. Selama satu minggu itu pula Kyuhyun belum meminta maaf atau mengakui apa yang sudah ia lakukan pada Ryeowook.

Mereka sudah semakin dekat. Kyuhyun tak mau hubungan persahabatan mereka menjadi renggang gara-gara masalah itu. Ryeowook memercayainya dan menganggapnya teman terbaik yang pernah Ryeowook punya.

Ryeowook sudah merasa nyaman bersama Kyuhyun. Selama ini Ryeowook memang tak punya kawan. Ia selalu sendiri. Entahlah, Ryeowook juga tak tahu. Ia tak tahu mengapa tak ada seorang pun yang mau berteman dengannya, kecuali Kyuhyun sekarang.

Mungkin karena selama ini Han Kaisoo dan teman-temannya selalu mengucilkannya. Ia selalu diancam dan disudutkan. Di kelas, kantin, maupun di lapangan olahraga sehingga tak ada anak yang mau berteman dengannya. Siapa juga yang mau berurusan dengan Han Kaisoo hanya karena Ryeowook.

Namun, dengan hadirnya Kyuhyun, Ryeowook merasa berbeda. Hari-harinya di sekolah rasanya lebih menyenangkan. Kyuhyun baik dan ia juga berani. Berteman dengan Kyuhyun amat menyenangkan.

Semenjak ada Kyuhyun, Ryeowook juga berteman dengan anak-anak yang lain, seperti Ahn Jae Hyun dan Cheon Suk Jae. Kyuhyun juga yang membuat Ryeowook mengenal mereka. Ternyata mereka teman yang menyenangkan juga. Mungkin selama ini Ryeowook terlalu pendiam dan tertutup sehingga merasa tak ada satu teman pun yang mau berkawan dengannya.

"Ah, rasanya sekolah berlalu cepat sekali," kata Ryeowook sambil meregangkan tangannya ke atas.

Pelajaran pagi hingga siang menjelang istirahat memang rasanya berlalu dengan cepat bagi Ryeowook. Ia punya teman sebangku sekarang. Dan itu membuat hatinya merasa bahagia.

Kyuhyun dan Ryeowook berjalan menuju ruang piala yang terletak di gedung yang sama dengan aula dan perpustakaan sekolah. Sekolah Kyuhyun memang memiliki beberapa gedung. Selain gedung untuk ruang-ruang kelas ada juga gedung khusus olahraga.

Dari tadi Ryeowook terus menarik-narik tangan Kyuhyun untuk ikut dengannya ke ruang piala. Ia ingin menunjukkan sesuatu pada Kyuhyun. Makanya saat bel istirahat berbunyi, Ryeowook dengan semangat menyeret Kyuhyun agar ikut dengannya ke ruang piala.

Kyuhyun sebal tentu saja. Ia tak suka pergi ke ruang piala. Tempat yang sepi seperti museum. Tapi herannya, Ryeowook suka sekali pergi ke sana. Ia suka suasana yang tenang, katanya. Ruang piala dan perpustakaan adalah tempat favorit Ryeowook.

"Ayo, Kyu, cepat!" paksa Ryeowook sambil menyeret Kyuhyun yang terlihat ogah-ogahan melangkah.

"Lepaskan tanganku, Kim Ryeowook! Aku bisa jalan sendiri," desis Kyuhyun kesal. Ia kesal karena diseret-seret secara tidak manusiawi seperti itu.

"Kau terlalu lelet, Kyu. Bisa tidak kaupercepat langkahmu? Aku sudah tidak sabar," kata Ryeowook mengabaikan kekesalan Kyuhyun.

"Tapi, tak perlu menyeretku seperti ini, kan? Ruang piala juga tak akan pindah ke mana-mana," gerutu Kyuhyun kesal.

Tapi, Ryeowook tak peduli. Ia terus saja menyeret Kyuhyun sampai di depan ruang piala. Kyuhyun kira Ryeowook akan melepaskan tangannya begitu sampai di ruang piala. Nyatanya anak itu terus saja menyeretnya sampai ke tempat yang ia tuju.

"Lihat, Kyu, lihat itu! Ada fotomu terpampang di sana. Peraih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional, Cho Kyuhyun. Wow, daebak! Kau hebat, Kyu, sampai foto, nama, dan medalimu terpasang di sini," ujar Ryeowook bangga saat menunjukkan foto Kyuhyun dan medali emas yang terpajang dalam kotak kaca.

"Kau menyeretku ke mari hanya untuk ini?" tanya Kyuhyun tak percaya.

"Kenapa? Bukankah itu membanggakan melihat nama dan fotomu terpajang di sini. Aku saja sebagai temanmu merasa sangat bangga apalagi dirimu," kata Ryeowook tak mengerti dengan reaksi Kyuhyun.

Tadinya ia mengira, Kyuhyun akan melonjak kegirangan melihat foto dan medalinya terpajang di ruang piala. Tak sembarang orang bisa menorehkan prestasi seperti dirinya. Ryeowook saja ingin seperti Kyuhyun. Berharap nama dan foto dirinya terpajang di sana bersama deretan siswa berprestasi lainnya.

"Biasa saja, Ryeowook. Bagiku itu biasa saja. Kau saja yang terlalu heboh. Tadi kukira ada sesuatu yang sangat penting yang ingin kautunjukkan padaku. Ternyata hanya fotoku yang terpajang di sini yang membuatmu tak sabar ingin memperlihatkannya padaku. Kalau cuma foto aku juga punya banyak di rumah," uajr Kyuhyun seolah-olah apa yang ditunjukkan Ryeowook adalah hal yang tak penting.

"Mana bisa begitu. Tak sembarang orang bisa diabadikan nama dan prestasinya di sini. Kau ini sepertinya tak bersyukur dengan hal itu. Aku saja ingin seperti dirimu. Aku juga ingin namaku terpampang di sini. Satu saja, sudah pasti akan membuatku terharu dan bahagia," kata Ryeowook kecewa.

"Bukannya aku tak suka, Ryeowook. Sudah banyak siswa lain yang mengharumkan nama sekolah dengan prestasinya. Bahkan lebih dari satu kali mereka menunjukkan prestasinya. Aku baru sekali, Ryeowook. Kalau sudah bisa menyamai atau melebihi yang diperoleh legenda sekolah kita, baru kau boleh menyorakiku," kata Kyuhyun.

Ryeowook berdecak sebal pada Kyuhyun. Kadang ia tak mengerti jalan pikiran Kyuhyun. Kadang Kyuhyun bisa bersikap manis dan rendah hati. Tapi tak jarang ia bersikap terlalu angkuh dan ambisius.

"Kau masih mau di sini dan menggumi fotoku?" tanya Kyuhyun memecah lamunan Ryeowook,"aku lapar. Aku mau ke kantin dulu. Kau ikut?" tanya Kyuhyun penuh harap.

"Tidak, Kyu, kau saja. Aku tak mau lagi pergi ke kantin. Aku mau ke perpustakaan saja," jawab Ryeowook.

Kyuhyun mengangkat bahunya dan berlalu meninggalkan Ryeowook, sedangkan Ryeowook mengambil arah yang berlawanan menuju perpustakaan sekolah, tempat favoritnya yang lain untuk menghabiskan waktu istirahat siang itu.

Jika Ryeowook merasa senang, lain halnya dengan Han Kaisoo dan sekutunya. Mereka tak senang dengan hal itu. Kenyataan bahwa Ryeowook mulai berteman dengan anak yang lain membuat mereka gusar.

Mereka tak senang Ryeowook gembira. Selama ini Ryeowook adalah mainan yang bisa mereka mainkan setiap saat. Mereka bisa menyuruh Ryeowook melakukan ini itu, mengejek Ryeowook seenak hati, dan kadang mengancam Ryeowook untuk melakukan apa yang mereka mau. Mereka senang melihat Ryeowook susah dan susah melihatnya senang.

Ryeowook adalah hiburan bagi mereka. Seringkali mereka merencanakan apa yang akan mereka lakukan pada Ryeowook. Menyuruhnya mengerjakan PR atau tugas, mengucilkannya, menguncinya di kamar mandi atau gudang saat mereka bosan, menghinanya hanya untuk membuat Ryeowook menangis, dan semacamnya.

"Kau lihat Ryeowook sekarang? Sepertinya anak itu sudah mulai bertingkah," ucap Han Kaisoo pada kedua temannya di selasar lantai dua sekolah mereka.

Dia memandang ke halaman di bawahnya. Terlihat sosok Kyuhyun dan Ryeowook berjalan beriringan menuju gedung yang berseberangan dengan tempat mereka berada sekarang.

"Kau benar. Ia mulai dekat dengan Cho Kyuhyun," jawab Shin Dong Min.

"Bahkan Ahn Jae Hyun juga mulai dekat dengan Ryeowook," timpal Lee Kwang So.

"Huh, dia sudah berani bertingkah! Kalian tahu, dia sudah menghancurkan nilai tugas Biologiku," kata Han Kaisoo.

"Oh, ya, bagaimana bisa?" tanya Shin Dong Min terkejut.

"Tadi Baek Saem memanggilku. Aku mendapat nilai D untuk tugas Biologi minggu kemarin. Bayangkan nilai D! Nilai paling buruk yang pernah kudapatkan selama hidupku. Baek Saem sampai menginterogasiku karena nilaiku itu. Menanyakan apa masalahku dan lain-lain. Semua mendapat nilai A, kecuali aku. Kim Ryeowook itu sudah mulai berani menentangku. Ia sudah lupa siapa dirinya dan apa yang harus dia lakukan untukku. Sejak ia dekat dengan Cho Kyuhyun, dia sudah mulai berani macam-macam," kata Han Kaisoo berapi-api.

"Sudah waktunya kita mengingatkannya kalau begitu. Sudah waktunya kita membuka otaknya sedikit. Dia bisa bersekolah di Sajon karena kita, karena orang tua kita, karena uang orang tua kita. Jangan sampai ia mulai bertingkah hanya gara-gara ia sudah mulai punya kawan! Ia bisa besar kepala kalau kita tidak mulai bertindak," kisik Shin Dong Min culas.

"Kau benar. Kita harus buat Kim Ryeowook sadar siapa dia sebenarnya. Cari waktu yang tepat! Jauhkan dia dari Cho Kyuhyun! Kita akan sedikit memberinya pelajaran sikap agar dia tahu diri dan tidak mulai melawan kita. Kita harus membuat Kim Ryeowook menyadari kalau dia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa di sini. Ia hanya pengemis yang kebetulan masuk ke Sajon," kata Han Kaisoo, pada kedua temannya.

Kau tunggu saja, Kim Ryeowook. Tunggu saja apa yang akan lakukan padamu' kata Han Kaisoo dalam hati sambil tersenyum sinis.

TBC

Happy Birthday, Cho Kyuhyun. Huft, akhirnya selesai juga 2 ff yang saya upload bertepatan dengan ulang tahunnya. Wish you all the best, uri magnae, stay health and happy. We're always be here for you.

For your information, semua cerita yang saya buat maincast-nya hanya Cho Kyuhyun. Kalau kadang tokoh yang lain lebih dominan, itu hanya untuk kepentingan alur cerita. Tapi, dari awal sampai akhir cerita, Kyuhyun tetap memegang peranan utama. Selain itu, cerita yang saya buat tiap chapternya memang tak terlalu panjang. Saya batasi sekitar 1800-2500 kata saja supaya tidak membosankan (sebetulnya pengalaman pribadi sih, suka baca setengah cerita saja kalau udah bosan karena kepanjangan).

So, happy reading, guys. Mind to review? Gomawo.