TWO SIDES

by Gyoulight

.

.

.

.

HUNHAN FANFICTION

GENRE: Drama, Romance

RATING: T

.

.

.

.

.

Baekhyun mengetik ribuan kata dengan jemari lentiknya. Dokumen seharga lima kali lipat gajinya itu tak kunjung selesai bahkan ketika ponselnya bergetar sangat ribut. Memiliki meja panjang tepat di depan pintu ruangan sang atasan mungkin saja membuatnya beruntung. Suasana hening, ditambah dengan Sehun yang absen dari pekerjaannya, membuatnya lebih berkonsentrasi dari pada menjadi karyawan yang duduk di meja divisi. Tapi dia akan kesal karena menjadi dua kali lebih sibuk jika bosnya itu tidak masuk bekerja. Karena ia akan mengerjakan tugas bosnya dan dengan senang hati ia memeriksa kembali tugasnya sendiri.

Keluhan Baekhyun kemudian mengingatkannya pada Chanyeol yang dulu menemaninya di balik kaca itu. Sebelum Chanyeol di pindahkan ke perusahaan utama, jamnya tak pernah sekacau ini. Chanyeol mungkin pemimpin yang selalu bisa mengatur waktu dan memanajemen karyawannya dengan santai, tapi tidak benar-benar lalai. Berbeda dengan Sehun, yang memiliki metode bar-bar saat bekerja dengan karyawannya.

Lama menyelam dalam lamunannya, ponsel Baekhyun akhirnya bergetar kembali. Kali ini nama yang tertera di layar ponselnya lebih menarik dari pada puluhan lembar dokumennya. Maka ia membebaskan jemarinya sejenak, lalu dengan senang hati menjuput ponselnya.

"Kau tidur nyenyak?" tanya suara berat itu di seberang sana. Pertanyaan sepele sebenarnya, tapi hadirnya pertanyaan semacam itu membuat hati Baekhyun penuh bunga─kapanpun ia mendengarnya.

"Aku sedang bekerja," jawab Baekhyun tersenyum sangat lebar. Hatinya benar-benar merasa senang sambil menerawangi dinding kaca di depannya. Membayangkan Chanyeol berada disana sambil menatapnya lewat kaca─dengan telpon yang menempel di telinga. "Pukul berapa di Berlin sekarang?"

"Masih pukul lima sore," jawabnya.

Baekhyun mengulum bibirnya sebentar. Mata bulan sabitnya mencari keberadaan jam di dinding. Memastikan bahwa kekasihnya itu tidak sedang membodohinya. Bukan apa-apa, hanya saja memiliki rasa percaya adalah sesuatu yang sulit di jaman ini. "Kapan kau pulang?"

Ada jeda panjang sebelum Chanyeol berpikir. "Berlin terlihat jauh lebih menyenangkan. Mungkin dua minggu lagi?"

"Jadi kau menyukainya sekarang?"

Chanyeol terdengar tengah terkekeh di seberang sana. Dan Baekhyun dapat membayangkan kekasihnya itu tengah berbaring di sofa panjang dengan segala penat di kepalanya. "Tidak, jika tidak denganmu."

Baekhyun terkikik. Itu jawaban yang tidak terduga untuk hatinya. Bersyukur ia tak menemukan satu orang pun yang lewat di mejanya. Kalau ya, ia bisa saja disebut sekertaris yang tidak professional dalam bekerja. Tapi bukankah menerima telpon dari orang sepenting direktur Chanyeol adalah hal yang penting? "Aku harus bekerja. Adikmu absen hari ini." Seketika bayangan kejadian semalam menabrak ujung syarafnya. Membuat Baekhyun sedikit menebak, apa yang akan terjadi pada Luhan hari ini tanpanya? "Dan ya, dia merawat Luhan dengan… sangat baik."

Tawa kecil Chanyeol kembali mengelitik telinganya. Membuat hati Baekhyun yang kusut jadi lebih berwarna pagi ini. Sebut saja, sebuah cinta bisa terlihat begitu murahan dalam hidup seseorang. "Katakan padanya kalau aku akan kembali merebut posisiku."

"Dia mulai menyukai tempatmu. Mungkin tidak akan mudah," canda Baekhyun mulai beranjak mencari sebungkus kertas. Menghidupkan mesin printer, lalu mencoba membenarkan posisi untuk mencetak hasil ketikannya sebagai arsip.

"Baekhyun, menikahlah denganku."

Baekhyun tersipu. Hatinya menghangat bagai disiram mentari sore. Kertas di genggamannya hampir lepas jika saja Baekhyun tak segera sadar untuk segera memasukkan kertas itu ke dalam mesin printer. "A-aku sibuk. Aku tak bisa mendengarmu."

"Kenapa kau tak pernah menjawab lamaranku?" Chanyeol kembali mengambil aksi protesnya dan Baekhyun tak akan nyaman soal itu.

Baekhyun tertunduk menggaruk ceruk lehernya. Ia benar-benar begitu ingin menjawab 'ya' untuk kekasihnya. Tapi ia juga harus menjaga Luhan dari tugas-tugasnya. Maka tak ada pilihan lain ketika Chanyeol harus menunggu lebih lama lagi. "Chanyeol?"

"Ya?"

"Aku merindukanmu," jujur Baekhyun sedikit sedih. Sudah sebulan lamanya Chanyeol berada jauh darinya. Dan ia belum terbiasa akan itu. Ia masih saja sering membayangkan Chanyeol berada di ruangan Sehun. Tak lupa menjuput setiap kenangan yang mereka buat tiap kali akhir pekan datang.

"Aku akan mengunjungimu sebentar lagi."

e)(o

Luhan masih menatap Sehun yang duduk di seberang mejanya. Hidangan sarapannya sudah lebih dulu mendingin terabaikan. Keadaan rumah pun seketika berubah menjadi sepi. Luhan dengan piama birunya masih tak mengerti kemana semua pelayan rumah Sehun bersembunyi pagi ini. Sampai Luhan berpikir dengan imajinasinya jika semua pelayan bosnya itu adalah anak buah peri yang kembali berubah menjadi tikus selepas tengah malam. Oke, mungkin ini karena Luhan sering menonton kartun Disney akhir-akhir ini dan kepalanya sempat terantuk dinding saat perutnya sakit semalam.

Pikiran Luhan yang sederhana kian tidak terkontrol sejak Sehun hadir di kamarnya. Dan siapa yang akan menyangka orang seperti Sehun bisa punya pikiran untuk mengacaukan tidurnya di pagi buta, lalu memerintahkannya ini itu, sampai diminta duduk menikmati sarapan di depan kedua matanya.

Mungkin benar jika kepala Luhan tengah melakukan proses booting yang membutuhkan banyak waktu. Sehingga Luhan dapat merasakan kehadiran icon imajiner yang berputar dengan persentase prosesnya di atas kepala. Dan Luhan tidak menemukan opsi pembatalan atau pause. Tidak ada cara yang membuat ia berhenti memandangi sosok Sehun dengan setelan santainya di rumah ini.

Luhan tak mengerti mengapa ia bisa memuji dalam hati tentang betapa menawannya Sehun pagi ini. Padahal ia juga tak akan kalah menawan kalau ia sedikit modis. Kecuali dengan wig atau dress wanita menggelikan yang membentuk tiap lekuk tubuhnya. Dan percayalah, Luhan belum terbiasa dengan semua itu.

Luhan akhirnya kehilangan selera makan karena kehadiran Sehun yang terus mengawasinya seperti tengah berburu rusa. Pria itu mungkin saja terlihat luar biasa dengan rambutnya yang turun seperti ini, tapi entah mengapa hal itu membuat Luhan yakin bahwa sangat wajar untuk memuji penampilan sesama pria. Para gadis bahkan melakukannya, kenapa pria dipanggil aneh soal ini?

"Bisakah kau lebih cepat?" gumam Sehun membalik halaman bukunya. Matanya masih menacap pada paragraf yang dibacanya, tidak berminat meliriknya sama sekali. Tapi tanpa pria itu tahu, hati Luhan sudah bergetar beberapa kali karena menatapnya. "Sena tidak makan seperti itu."

Luhan menggeleng beberapa kali. Ia tentu saja tidak lupa dengan sikap Sehun yang tempramen. Luhan bahkan terheran-heran pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia memuji pria yang selalu bersikap buruk padanya sebegini sibuk? Memikirkannya saja sudah membuat Luhan menyesal setengah mati.

Luhan pun mengambil gelasnya untuk melegakan kerongkongannya yang kering. Namun, belum ia menelan air mineral yang masuk ke mulutnya, tiba-tiba Sehun kembali memerintah. "Aku hampir melupakan sesuatu. Kau juga harus terbiasa memanggilku oppa di depan banyak orang."

Luhan berdecih. Pikirannya melayang membayangkan bagaimana ia bersikap imut lalu memanggil Sehun dengan sebutan oppa. Oh, itu sangat, "Menggelikan!"

Sehun menutup bukunya sebelum menyandarkan punggung pada kursi. "Akan ada pesta dansa besok malam. Selesai ini kau harus berlatih dansa dengan Mrs. Hwang."

"Dansa?" Kali ini biarkan Luhan terkejut. "Kau bercanda?"

"Ini bukan sekedar pesta dansa. Kalau kau ketahuan di pesta itu maka kita akan tamat." Sehun mengecilkan suaranya. Telunjuknya sibuk menunjuk meja seakan ada sesuatu disana. Tapi sekeras apapun Luhan mencari tahu tentang sesuatu itu, itu tetaplah sebuah permukaan meja tanpa sesuatu.

"Bisakah aku tidak ikut?" tanya Luhan merasakan hidupnya sedikit terancam. Ia sungguh tidak mau ketahuan, ia bahkan belum memulai semuanya.

"Kau harus ikut," sanggah Sehun begitu serius. Kilat matanya bahkan terlalu ambisius di mata Luhan. "Tunanganmu ada disana dan kau harus bekerja." Sehun menegakkan kepalanya. Ia sepenuhnya tak mengerti dengan kebingungan yang dialami orang di depannya ini. "Apa Baekhyun tidak mengatakannya?"

Alis Luhan mengerut. "Mengatakan apa?"

Terdiam sebentar, Sehun akhirnya beranjak dari sana. "Ikut aku."

Luhan mau tak mau mengekor di belakangnya. Masih dengan setelan piama biru dan juga wajahnya yang berminyak. Lalu jangan ingatkan ia yang mungkin saja sedikit bau karena belum sempat membersihkan diri.

"Aku tak percaya Baekhyun belum menceritakan ini padamu," mulai Sehun membuka sebuah pintu perpustakaan. Bahunya yang lebar menyita perhatian Luhan di sisi belakangnya. Luhan masih memandanginya dengan sedikit mendongak. Pria itu lupa bahwa tingginya akan menciut jika berdiri di depan bosnya seperti ini. "Ada sesuatu yang harus kau tahu."

Luhan mengangguk paham saat mengambil salah satu kursi di dekat meja tumpukan buku. Matanya masih mengawasi gerak-gerik Sehun yang mulai membuka kunci lemari di dinding. Mengeluarkan salah satu buku yang masih terlihat begitu baru.

"Aku mengumpulkan beberapa hal tentang Kris Wu. Dan ya, namanya Kris Wu." Sehun mendekat dan duduk di sebelah Luhan. Membuka lembaran buku itu dan memperlihatkan sebuah profil pria tampan berambut pirang. "Dia putra tunggal keluarga Wu. Satu-satunya pria yang diinginkan banyak orang di China."

"Kalian tidak bilang tunanganku ini tampan," celetuk Luhan masih menatap foto pria itu dengan lekat. Menyaksikan bagaimana mata pria itu memberi efek teduh jauh di lubuk hatinya, atau hidung panjangnya, bentuk rahang yang sempurna dan yang lainnya seperti tinggi badan, semua itu membuat Luhan tak berhenti memuji dalam pikirannya. "Dia blasteran? Sungguh?"

"Dia tidak tampan," tolak Sehun dengan semua pemujaan Luhan pada musuhnya. Karena tentu saja Kris tidak seindah yang orang pikirkan.

Luhan masih menatap foto Kris dengan mata yang berbinar-binar. Tak acuh pada raut Sehun yang mulai kesal karena tidak didengarkan. "Sungguh, aku tidak pernah melihat pria setampan dia sebelumnya."

Sehun menutup buku itu dengan kesal. Menghentikan Luhan melanjutkan pemujaannya. "Dia tidak setampan yang kau lihat," tekannya.

Luhan menegakkan kepalanya. Menatap tajamnya manik hitam Sehun yang masih menancap padanya. Luhan pun menggigit bibir bawahnya, merasa salah karena Sehun tidak toleran dengan kata diabaikan. "Lalu apa yang harus kulakukan?"

"Ingat semua isi buku ini dan berdansa dengannya di pesta," jawab Sehun merampas buku itu lalu mengangkatnya hingga sejajar dengan wajahnya.

"H-hanya itu?"

"Tapi itu tidak sesederhana yang ada di pikiranmu." Sehun mengunci Luhan dalam tatapannya. Memberinya sebuah keyakinan, bahwa semua hal tidak semudah yang Luhan pikirkan. Itulah mengapa hingga detik ini Sehun masih mempertanyakan mengapa Luhan berani menerima pekerjaan semacam ini. "Kris Wu bukan orang gampangan bahkan dengan Oh Sena sekalipun."

e)(o

Sehari sebelum pesta dansa itu, Jongin masuk ke ruangan kerja Sehun dengan lembaran yang sukses diketik Baekhyun selama berjam-jam. Siang yang membosankan menurut Sehun setelah dokumen sedikit tebal itu sampai ke tangannya. Jongin memberinya sebuah pulpen dari saku jasnya yang mahal. Tersenyum sambil membuka lembaran terakhir, menunjukkannya tempat dimana tanda tangannya dibutuhkan.

Sehun hanya menghela nafasnya kemudian mengambil pulpen dari tangan Jongin. Ia pun mau tak mau membubuhkan banyak tanda tangan di beberapa tempat yang ditunjukkan padanya─sama sekali tidak perduli pada isi paragraf yang disahkannya. Ia hanya tengah malas membaca banyak dokumen hari ini. Lagi pula ia punya sekertaris yang kompeten, bukan?

Jongin segera mengambil kembali pulpennya, seakan ia hanya memilikinya satu di dunia. Yang sebenarnya, ia tidak mau ambil pusing jika saja ia melupakan pulpennya di suatu tempat, lalu Sehun yang tidak suka mengoleksi pulpen hanya bisa mengoceh karena tidak disediakan pulpen. "Baekhyun hyung pergi ke suatu tempat, mungkin dia akan sedikit terlambat."

Sehun masih terdiam memutar kembali rubiknya yang nyaris selesai─jika saja Jongin tidak datang mengganggunya. Matanya jengah menatap keluar jendela. Menyaksikan bunga-bunga yang mekar di dekat air mancur. Sedikit kesal sebenarnya karena sekertarisnya itu lalai dengan perintahnya. "Begitukah?"

Jongin mendekat pada atasannya ketika sadar bahwa ada sesuatu yang hendak ia katakan. Ia merogoh sakunya lagi lalu mengirim sesuatu lewat email di ponselnya. "Perusahaan E&M berhasil menjual AA0094. Aku sudah mengirim detailnya padamu."

Sehun mengatur fokus pada sahabat karibnya. Tak lupa melirik sedikit pada ponselnya yang bergetar di atas meja. "Seberapa banyak dampaknya?"

"Empat persen," jawab Jongin cermat. Ia sepenuhnya sudah mengantongi ponselnya yang sunyi. "Tapi jika kita mempertahankan Camolas, semua itu tidak akan berarti apa-apa."

Sehun berbalik meletakkan rubiknya sejenak. Mengambil dokumen yang sudah ia setujui lalu membuka acak lembaran tengahnya. Ia kemudian memindai angka-angka yang dilihatnya. Memastikannya benar dan Baekhyun tidak harus merevisinya sambil mengutuk seberapa lelahnya ia dengan semua tugasnya.

"Baiklah, ini tidak buruk." Sehun tersenyum sebentar lalu mengambil beberapa langkah menuju pintunya. "Kita akan segera sampai jika tidak salah naik kereta."

Jongin berkedip. Memahami arti dari kalimat Sehun yang mudah sekali dibaca. Pria bersurai eboni itu pun mengekori kemana Sehun melenggang dengan kemeja santainya─masih dengan rubrik di tangannya. Memainkannya seperti remaja 17 tahun. Sedikit tidak itu mengingatkan Jongin akan masa SMA mereka. Tapi jauh dari itu, dia mengetahui seberapa kalutnya jiwa Sehun mengetahui penyokong perusahaannya satu persatu mulai meninggalkannya.

"Aku ingin kau ikut ke pesta itu," tutur Sehun memelankan langkahnya. Menyeimbangkan langkahnya dengan Jongin yang begitu santai saat melangkah.

Jongin berkedip beberapa kali. "Kenapa kau tiba-tiba merubah rencananya?"

"Entahlah," jawab Sehun tenang. Ketidakpatuhan Baekhyun padanya hari ini lalu memberinya sedikit inspirasi. "Tapi aku tidak membawamu untuk menikmati dansa. Ini jauh lebih mudah dan kau tidak perlu mencari wanita untuk datang ke tempat itu. Karena Baekhyun akan melakukannya."

Jongin terkekeh. Ia selalu terbayang dengan Chanyeol yang selalu tidak suka kekasihnya dibawa dalam misi berbahaya. "Chanyeol akan marah. Aku tidak mau berurusan dengan kekasih orang."

Sehun melirik sahabatnya. "Ini hanyalah cosplay bagi Baekhyun. Kalian hanya perlu mendapatkan diamond Mr. Choi."

Jongin menaikkan salah satu alisnya. "Apa dia sudah setuju untuk ini?"

Tepat ketika mereka sampai pada ruangan berdinding kaca, atensi Sehun segera teralihkan pada dua sosok yang terbias di dalamnya. Ia baru saja menghentikan langkahnya, tak perduli pada Jongin yang masih berjalan lurus meninggalkannya.

"Kaki kiri. Bukan. Kau harus mensejajarkannya dengan tubuhmu."

Sehun terpaku pada Luhan yang sangat berusaha keras menegakkan tubuh dengan high heels merahnya. Suara instruktur dansa yang dibayarnya masih menggemakan suara. Mengganggu Luhan yang entah berapa kali harus melemaskan sendi-sendinya.

"Lakukan sambil menegakkan punggungmu."

Instrukturnya terus membimbingnya berdiri dan melangkah. Menekan punggungnya yang kaku, menarik lengannya, lalu membuatnya berputar. Sehun diam-diam mengetahui Luhan sudah amat sangat kelelahan. Pria itu bahkan beberapa kali terpincang-pincang dengan kakinya.

"Melangkahlah dengan pelan─"

Sehun lantas tak sadar jika Jongin memanggilnya dari ujung sana. Tapi saat Jongin memutuskan kembali mendekat, pria itu malah mencari kemana atensi Sehun tertinggal. Ingin mengatakan sesuatu, namun pandangannya terpaku pada Sehun yang mematung dengan raut tak terbaca. Ia pun kemudian hanya bisa memandangi sahabatnya itu dengan tatapan memahami. Sesekali menyaksikan Luhan berusaha keras di dalam sana.

"Kau membuatnya belajar dansa?" Tak ada jawaban dari Sehun. Ia masih tenggelam dalam lamunannya. Entah apa yang tengah dipikirkannya dengan melihat Luhan diam-diam dari balik kaca seperti ini. "Oh ayolah, ini hanya dansa. Ia mungkin tak akan bisa berjalan esok hari," tutur Jongin berusaha merusak atensi Sehun. Sahabatnya itu mungkin tengah mencoba merubah cara pandang Sehun yang begitu bar-bar. Tapi mau bagaimana pun, Sehun tetaplah Sehun. Ia tak akan bisa menjadi Chanyeol yang tenang.

"Tapi bagiku, ini bukan hanya sekedar dansa." Sehun menoleh pada Jongin. Menyerahkan rubiknya yang sudah sepenuhnya selesai lalu meninggalkan Jongin begitu saja. Jongin pun menggambar tanda tanya yang besar di kepalanya ketika Sehun buru-buru masuk ke dalam ruangan itu. Mendekati Luhan lalu membuka sepatunya.

e)(o

Luhan ingin mengeluh. Kakinya serasa ingin patah menjadi dua bagian jika terus menuruti saran dari wanita china ini. Ia lebih dulu terseok-seok karena heelsnya dan hampir terhuyung ke belakang. Untungnya Luhan bisa menyeimbangkan diri. Jadi ia tidak akan terjatuh dengan mudah. Luhan mungkin sempat berpikir dansa adalah sebuah tarian yang mudah, namun ternyata ia bisa menyesal karena meremehkannya. Lagi pula ia adalah seorang pria, tidak akan mungkin meliuk dengan berlebihan seperti ini.

Ketika instrukturnya mengatakan istirahat untuk yang ke tiga kalinya, barulah Luhan memutuskan untuk berjalan menuju kursi di dekat kaca. Tapi tiba-tiba saja, seseorang datang lalu terbias dalam jernihnya cermin yang membayangi tubuhnya.

"Lepaskan itu," tunjuk Sehun pada kaki Luhan yang terkejut. Luhan mematung sebentar menyaksikan pria itu membuka sepatunya. Meletakkan sepatu itu jauh-jauh lalu menunggunya patuh.

Luhan tak punya pilihan lain. Ia hanya bisa menurut pada perintah bosnya. Membuang jauh-jauh keinginannya untuk duduk di kursi, lalu meninggalkan heelsnya di dekat sepatu milik pria pucat itu. Sedangkan instrukturnya hanya bisa diam memperhatikan. Tak ingin berkomentar, selama Sehun adalah orang yang membayarnya.

Sehun mengambil lengan Luhan lalu membawanya ke tengah ruangan─menjauhi sepatu mereka. Pria pucat itu memberikan instruksi pada sang instruktur untuk menyalakan sebuah musik. Dan tak butuh waktu lama sampai musik lembut mengalun lewat speaker yang menempel di sudut.

Sehun meletakkan salah satu tangan Luhan di lengannya. Lalu yang satunya lagi ia genggam penuh lembut. Luhan masih mengatur nafasnya karena tak sengaja menghirup aroma dari Sehun. Bahkan mendengar suara pria itu di dekat telinganya telah membuat jantungnya ribut bertalu-talu. Ia lantas tak dapat melakukan apapun selain kakinya yang lemas karena gugup sekaligus pegal.

"Tatap aku," pinta Sehun ketika tangannya sudah berada di pinggang Luhan. Luhan hanya bisa menurut. Namun wajahnya kini berubah menghangat setelah matanya menangkap manik Sehun yang jernih luar biasa.

Luhan hampir mati kehilangan nafasnya ketika jarak Sehun dengannya semakin menipis. Kakinya sudah lebih dulu lemas bagai agar-agar yang mencair. Beruntung keanehan itu tidak ditanggapi Sehun dengan serius, sehingga Sehun kini hanya terfokus padanya dan memintanya untuk segera menggerakkan kakinya.

"Hanya dengarkan musiknya," bisik Sehun tepat di telinganya. Hal itu membuat Luhan segera menunduk gugup. Menatap kakinya yang bergerak seirama dengan kaki telanjang milik bosnya dan jangan lupakan kepalanya yang kini sudah mulai terantuk dengan dada bidang Sehun. "Tegakkan kepalamu," tegasnya.

Luhan kembali menurutinya. Membiarkan kakinya bergerak di luar kendalinya dan menunjukkan semua hasil belajarnya sejak berjam-jam yang lalu. Namun belum ia bangga pada dirinya sendiri, Sehun tiba-tiba saja berhenti bergerak. Membuat Luhan menginjak salah satu kaki partnernya. "M-maaf," sesal Luhan hampir tak terdengar.

"Biarkan musiknya mengendalikanmu." Sehun kembali berbisik. Tapi Luhan terlalu kacau untuk mendengarnya. Sehun pun mencoba untuk membimbing Luhan dengan kesabaran yang ia punya. Sampai dirasa tepat, ia kemudian memindahkan lengan-lengan kecil Luhan pada bahunya.

Sungguh Luhan tak akan bisa menghayati musiknya jika Sehun semakin dekat dengannya seperti ini. Pikirannya kosong, telinganya hanya sibuk merekam dentuman di dadanya. Ia tak pernah membayangkan akan melakukan dansa dalam hidupnya. Apalagi berdansa dengan seorang pria yang juga tampan. "A-aku tidak bisa."

"Kau bisa," balas Sehun meyakinkannya. Membuat jantung Luhan semakin ingin keluar saja dari rusuknya. "Oh Sena bahkan sangat pandai melakukannya."

Sehun kembali meraih salah satu lengan Luhan. Mejauhinya, lalu menarik tangan Luhan yang lemah. Dan saat Luhan terlempar padanya, ia memutar tubuh Luhan dengan lengannya dan menangkap pinggang rampingnya. "Saat kau melakukannya, kau harus menatap mata partnermu. Katakan sesuatu padanya lewat matamu." Luhan menelan ludahnya kasar. Ia hampir saja kehilangan kesadarannya saat menyaksikan Sehun terus menatapnya lembut. "Ya, seperti itu," tutur Sehun yang kemudian tersenyum penuh pesona padanya.

e)(o

Baekhyun beberapa kali berjalan bolak-balik di depan Luhan. Memindahkan gaun, aksesoris, sepatu atau tas, dan yang terakhir adalah wig ke dalam lemari besar kamar Luhan. Luhan tak berminat bertanya mengapa Baekhyun bisa sesibuk ini pada pukul sepuluh malam. Tidak dibantu siapapun, padahal ada banyak pelayan rumah yang sangat bisa diandalkan untuk ini. Rambut brunette Baekhyun bahkan sudah tak jelas bentuknya. Ia sepenuhnya kacau dengan semua yang ia lakukan. Tapi ia nyatanya sangat benar saat menyembunyikan wig─untuk menghindari celah ketahuan.

Sampai pada Luhan yang beranjak dari kursinya. Hendak membantu sedikit tapi Baekhyun buru-buru menolaknya dengan sopan. "Beristirahatlah baby, kakimu bisa bengkak," ucapnya merampas sepatu yang dibawa Luhan demi membantunya.

"Untuk apa semua ini?" tanya Luhan akhirnya. Ia sepenuhnya telah mengambil posisi bersila di atas ranjangnya yang empuk. Mau tak mau menunggu Baekhyun selesai dengan acara beres-beres.

"Pesta," jawab Baekhyun sedikit meliriknya dan mendapatkan anggukan segera. Luhan mencebikkan bibirnya. Bagaimana mungkin wanita bisa sebanyak ini kebutuhannya?─pikirnya.

"Haruskah aku memakai wig ini lagi?" keluh Luhan menjuput satu lagi wig di dekatnya. "Tidak bisakah kita menggunakan hair extension atau semacamnya yang lebih canggih? Bagaimana jika wig ini lepas saat Kris terpesona padaku?"

"Itu tidak akan terjadi baby, dan─mau kuberi tahu sesuatu?" potong Baekhyun melipat lengannya di dada. Mengambil posisi di samping Luhan dengan cepat hingga membuat Luhan hampir terpantul ke atas. "Aku juga akan memakai gaun di pesta itu," bisiknya sebelum beranjak untuk meraih sisa gaun yang belum masuk ke lemari.

Mata Luhan kemudian berubah berbinar-binar. Ia senang luar biasa ketika tahu Baekhyun akan ikut dengannya. Setidaknya ia akan sedikit bersemangat karena bisa melakukan penyamaran bersama sahabatnya. "Sungguh?"

"Sehun menghukumku, kau tahu?" toleh Baekhyun sebentar sebelum menggantung gaun mahal terakhirnya di lemari. Kepala pria itu seperti ingin pecah menjadi dua ketika Luhan meneliknya. "Aku hanya pergi berbelanja sebentar karena tertekan dengan pekerjaan. Tapi dia marah karena aku terlambat datang dan ia sudah mengubah rencananya tanpa berdiskusi denganku terlebih dahulu. Aku bahkan sempat dipanggil nona karena terlalu sibuk memilih gaun di sebuah butik. Tidakkah ini sesuatu yang menggelikan? Harga diriku jatuh hanya karena Oh Sehun sialan itu menugaskanku menjadi pasangan dansa Kim Jongin. Dan kau tahu yang lebih lucu?"

Luhan masih memasang telinganya dengan benar. Ia sangat paham bagaimana Baekhyun saat lelah dan juga kesal disaat yang bersamaan. Pria itu akan berbicara seenaknya, lalu masa bodoh jika Luhan tidak ingin mendengarnya. Karena sesungguhnya, Baekhyun hanya ingin menemukan tempat untuk berkeluh kesah. Tapi sebagai sahabat yang baik, Luhan akan setia mendengar segala ocehan Baekhyun, sebagaimana Baekhyun selalu duduk mendengarkan curahan hatinya.

"Chanyeol ingin menikah denganku," sambung Baekhyun setengah frustasi. Entah, mengapa pria itu bisa tertekan hanya karena lamaran pacarnya sendiri. Padahal bagi pasangan lainnya hal itu akan menjadi prestasi yang luar biasa.

Alis Luhan mengeriting. "Itu bagus, empat tahun lagi kalian akan kepala tiga. Mengapa kau resah soal itu?"

Baekhyun terdiam sebentar. "Aku hanya mengkhawatirkan banyak hal." Baekhyun kemudian menyelami hazel Luhan yang begitu sendu. Hatinya begitu pilu ketika menyadari begitu polos wajah Luhan mengalahkan keponakannya.

Belum Luhan bertanya 'kenapa', Baekhyun lebih dulu memotong dengan alam pikirannya yang terlanjur menjadi random. "Maafkan aku," sesal Baekhyun tiba-tiba. Pria itu meraih tangan Luhan lembut. Menggenggamnya seakan mengharapkan banyak pengampunan. "Aku membuatmu terjebak dengan hal semacam ini."

Luhan membalas genggaman tangan sahabatnya, sambil terkikik ia mengatakan, "Pikiranmu pasti sedang kacau."

Baekhyun ikut menggeleng dengan sorot sedihnya. "Maaf, jika ada banyak hal yang mungkin saja terjadi di masa depan."

"Kenapa semua orang berusaha menakutiku?" Mata Luhan berkedip beberapa kali. Sedikit heran dengan kondisinya sendiri. Tapi sama dengan Sehun atau yang lainnya, sahabatnya itu pun tak akan memberikan penjelasan lebih.

"Aku janji, aku akan melindungimu," Lirih Baekhyun yang memberi efek kesenangan berlebih pada Luhan. Hatinya meletup, cukup mekar untuk menenangkan sahabatnya. Luhan bahkan tidak tahu apa jadi dirinya jika tidak bertemu dengan Baekhyun.

"Aku bisa melindungi diriku sendiri." Dan kata-kata itu sukses membuat Baekhyun memeluknya dengan lembut.

e)(o

Sebuah gedung Grand Convention tampak berkelip dari ujung jalan. Bersinar begitu terang dengan awak media yang berjejer di tepi red carpet. Beberapa merk mobil terparkir di ujungnya bergantian, seakan tengah melakukan lomba tentang siapa yang paling mahal. Mobil-mobil itu harus melakukan antrian untuk menurunkan tuannya dan dipotret surat kabar. Kemudian pergi bersembunyi di area parkir bawah tanah sampai acara selesai digelar.

Ada banyak cahaya blits yang menyilaukan mata dalam kegelapan. Beberapa wartawan juga ikut melayangkan pertanyaan ringan pada tiap tamu penting. Di sudutnya sudah ada reporter yang bertugas memberikan siaran pada kamera. Mengabsen para tamu penting dan juga selebriti yang ikut memeriahkan acara.

Mobil Sehun masih mengantri di belakang mobil van super mewah yang tuannya baru saja mendarat dari Barcelona. Ia menggandeng wanita bule di lengannya, tersenyum dengan jas berkelasnya yang hitam, dan jangan lupa bahwa ia begitu menawan saat berjalan di atas karpet. Sehun ikut melirik pria itu datar dengan ekor matanya, tak lupa mengingatkan Luhan di sampingnya, untuk tidak tercengang terlalu banyak malam ini.

"Kau bersumpah ini bukan award show?" tanya Luhan masih dengan mata membola. Wajahnya bahkan sukses menempel pada kaca mobil. Masih menatap tiap kerumunan wartawan yang tengah mengacuhkan mobil Sehun. Dan sikap Luhan yang terlalu norak itu segera membuat Sehun sakit kepala. "Bagaimana caranya mereka mengundang Hyunbin?"

Sehun buru-buru menarik Luhan untuk berhenti bersikap polos. "Kau memerankan Oh Sena malam ini."

Luhan yang rambutnya diurai hanya mengangguk patuh. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia bukanlah orang yang suka diatur atau menuruti banyak aturan. Karena Luhan hanya kenal hidup sesuka hatinya. Belajar sesukanya, makan sepuasnya atau tidur semaunya. Tapi Luhan telah kehilangan rasa semaunya sejak ayahnya meninggal. Ia bahkan harus bekerja di tiga tempat yang berbeda setiap harinya. Ia kemudian terbiasa dengan perintah dan juga sikap kasar. Luhan tahu semua itu akan ia terima cepat atau lambat. Terlebih ibunya yang kini jatuh sakit telah membiarkannya bekerja sendirian, termasuk mengurusi rumah dan juga adiknya. Maka tak ada lagi alasan baginya untuk tidak patuh demi sesuatu yang ia butuhkan, seperti uang.

Lengan Luhan baru saja di tarik oleh Sehun. Luhan yang terbangun dari lamunanya baru saja menyadari sekelilingnya. Blits kamera menyorotinya, membuat mata rusanya menyipit untuk menghitung seberapa banyak wartawan yang bersiap untuknya. Ia akhirnya menyerah untuk menyaksikan hal-hal itu dan beralih memandangi Sehun─yang sekali lagi membuatnya gugup bukan main.

Sehun terlihat luar biasa dengan hair up andalannya. Jas hitamnya membuat postur tubuhnya bertambah porposional. Kulitnya yang pucat lantas berkilauan ditempa malam. Jiwa Luhan kemudian melayang ketika Sehun menawarkan lengannya. Dan Luhan tak punya pilihan selain mengalungkan lengannya pada Sehun. Berjalan dengan pria itu di atas red carpet sambil menebar senyum pada kamera.

Di belakang mereka, Baekhyun dan Jongin menyusul dengan posisi yang sama. Penyamaran dari Baekhyun membuat Jongin merasa lengkap malam ini. Tidak ada yang akan menyangka bahwa malam ini ia hanya menggandeng sekertaris bosnya.

Tak butuh waktu lama bagi Sehun untuk menjawab pertanyaan ringan dari beberapa media. Ia hanya melakukannya dengan gayanya sendiri, singkat, jelas dan padat. Jongin pun tahu bagaimana pria itu tak suka banyak bicara. Maka sampailah mereka pada pintu depan acara, dimana sebuah undangan harus ditukar dengan satu topeng.

Luhan hampir lepas kendali ketika menerima topeng yang begitu indah. Baginya malam ini seperti dongeng-dongeng yang dibacanya saat kecil. Melihat Sehun yang terus mengingatkannya tentang pengendalian diri, akhirnya Luhan memasang topengnya. Menyembunyikan dirinya dari banyak kesan kekaguman. Namun rautnya tidak akan bisa berbohong saat menatap ke sekeliling ballroom. Ada banyak meja penuh cemilan di beberapa tempat dan menyisakan ruang kosong yang luas di tengah. Tapi semua orang memilih berdiri. Mengambil minuman yang ditawarkan pelayan sambil tertawa kecil dengan kenalan. Tentu semua ini pemandangan yang langka bagi Luhan.

Sehun semakin menarik Luhan masuk. Melewati berbagai dinding penuh figura, patung-patung antik dan juga lampu gantung kristal di atas sana. Tak lupa memperkenalkannya dengan orang baru atau menunjukkannya seseorang yang harusnya Sena kenal.

Menyadari Baekhyun dan Jongin telah menghilang dari mereka, Luhan akhirnya ingin bertanya sesuatu yang dilupakannya. Tapi nampaknya Sehun tidak akan menjawab, karena ia telah dibawa pada seorang pria super tinggi dengan rambut pirang. Dan tak butuh waktu lama bagi Luhan untuk mengenal siapa sosok yang kini tersenyum di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan Kris Wu.

"Aku senang kau benar-benar datang." Kris segera menjabat tangan Sehun. Terlihat ramah dengan senyum khasnya. Sehun hanya tersenyum simpul, menjadi dirinya sendiri meski itu mungkin akan memberi kesan tak ramah bagi orang lain. Ia kemudian menatap wanita cantik yang digandeng Kris malam ini. Namun bukan karena tertarik, sekedar hanya ingin tahu karena Kris tak akan membawa orang sembarangan.

"Dia Song Qian, sekertaris baruku," tutur Kris seakan mengerti pertanyaan kecil di bagian kepala Sehun. Wanita itu pun tersenyum sangat menawan pada Sehun. Menawarkan tangannya untuk segera dijabat.

"Oh Sehun," balas Sehun menjabat tangannya. Lalu sampai pada Luhan yang ditawari perkenalan wanita itu.

"Lu─Oh Sena." Nyaris Luhan salah menyebutkan namanya. Sehun yang tak bisa mempermasalahkan hal itu pun hanya bisa mengalihkan topiknya.

"Aku membawa adikku untukmu," canda Sehun menunjukkan Luhan pada seorang Kris Wu. Kepala Luhan kemudian tegak dan tersenyum penuh pesona pada Kris yang memujanya. Ia kemudian sepenuhnya mengerti bahwa setelah Sehun mengatakan hal itu, kode 'mulai' berarti sudah dimainkan.

Kris terkekeh. Pria itu segera meletakkan gelas tingginya di meja lalu mendekat pada Luhan. Senyumnya lalu terpatri, dan itu terlalu tampan di mata Luhan. "Terima kasih karena sudah membawanya," balas Kris mengundang senyum kecil dari Sehun.

Entah pembicaraan apa yang mereka bicarakan setelahnya. Luhan hanya bisa menjadi pendengar yang buruk karena masa bodoh soal bisnis. Sampai pada seorang pelayan menawarkan minuman padanya, Luhan pun tidak bisa mengatakan tidak untuk itu. Kakinya sendiri pegal karena berdiri seperti orang bodoh dan ia butuh sesuatu untuk meredakan kesunyiannya. Maka ia meminum seluruh isi gelas yang diambilnya, tak perduli minuman apa selama itu diterima baik oleh lidahnya.

Setelah mencegat salah satu pelayan lagi dan menukar gelas kosongnya, Luhan akhirnya tersadar bahwa Sehun sudah menjauh dari sana sambil menggandeng sekertaris Kris bersamanya. Luhan yang tidak menduga hal ini akan terjadi, hanya diserang gugup saat ditinggal sendirian. Tangannya mendingin ketika harus berhadapan langsung dengan Kris. Mata Luhan lantas masih memburu punggung Sehun yang menghilang dari kerumunan. Isi gelas ke dua di genggaman Luhan tiba-tiba saja bergoyang ketika Kris mulai meraih jemarinya yang lain. Membawanya menuju wajahnya untuk dikecup dengan manis.

"Kau terlalu banyak diam malam ini. Apa kau baik-baik saja?" Kris menyadarkan Luhan akan eksistensinya. Kilauan matanya begitu teduh saat menunggu Luhan menatapnya.

Luhan hanya kehilangan kata-kata saat menatap pria jangkung itu. Ia hendak memuji tapi begitu tinggi harga dirinya untuk melakukannya. Lantas ia hanya akan berbicara dengan matanya. "Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" sapa Luhan menerima gandengan Kris. Ia nyatanya hanya bisa meminum isi gelasnya dengan penuh pesona, tak lupa menunjukkan senyum yang diajari Baekhyun semalam.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Terima kasih karena sudah mau menunggu ff ini ^^

Aku update tengah malam lagi... semoga kalian suka.

Pengennya aku tetep bisa update seminggu sekali seperti ini. Tapi real life ku kadang memusingkan. Mungkin ada saat dimana aku akan sangat terlambat untuk update. Kuharap kalian tidak bosan juga untuk mereview ff ini. Aku seneng baca review kalian, serius. Karena dari review kalianlah yang buat aku semangat untuk lanjutin ff ini.

Akhir kata, aku mau ngucapin terima kasih lagi.

Sampai jumpa di next chap.