CHAPTER 7
Kyuhyun mengeluh keras-keras. Hari sudah beranjak gelap. Sekolah juga sudah mulai sepi. Tapi, sialnya ban sepedanya kempis. Ditendangnya ban depan sepedanya yang kempis dan tak menyisakan udara sedikit pun di dalamnya.
Kalau tak ingat esok hari Kyuhyun masih membutuhkan sepeda itu untuk sampai ke sekolah, sudah ia tinggalkan sepeda itu di tempat parkir sekolah. Malam ini nampaknya Kyuhyun harus menuntun sepedanya. Paling tidak sampai ia menemukan tempat untuk mengisi udara ban sepedanya.
Kyuhyun sudah capai seharian belajar. Kyuhyun sudah merasa lelah fisiknya. Ditambah lagi kesialan ini membuatnya ingin mengumpat keras-keras. Kalau saja ia tak ingat masih berada di lingkungan sekolah, pasti kata-kata mutiara sudah keluar dari mulutnya.
Kyuhyun mengeluarkan sepedanya dari tempat parkir. Ia tuntun sepedanya di sepanjang halaman sekolah menuju pintu gerbang. Belum jauh ia menuntun sepedanya, Kyuhyun merasa tetes-tetes air menyapa kepalanya.
Sial. Kyuhyun mendongakkan kepalanya. Langit malam amat pekat. Kyuhyun berharap hujan deras tak turun sebelum ia sampai ke rumah. Sudah dua hari berturut-turut Kyuhyun pulang basah kuyub karena kehujanan. Jika ia kehujanan lagi, mungkin staminanya akan benar-benar ambruk.
Kyuhyun menyesali dirinya yang kerap lupa membawa jas hujan. Meskipun eomma dan hyung-nya sering mengingatkannya untuk membawa benda yang satu itu, Kyuhyun selalu saja melupakan jas hujannya teronggok dekat pintu depan.
Tapi tetes-tetes air yang mengenai kepala Kyuhyun hanya berhenti sampai di situ. Tak ada tetes-tetes air lagi yang mengguyurnya. Kyuhyun akan amat bersyukur kalau hujan tak jadi turun.
Saat menuntun sepedanya lagi, Kyuhyun mendengar bunyi berisik di dari atas atap gedung sekolah yang dekat dengan tempat ia berdiri sekarang. Gedung terdekat dengan tempatnya berdiri memang hanya ada dua lantai. Jadi, bunyi berisik dari atas atap dapat terdengar di telinganya meskipun lamat-lamat. Kyuhyun merasakan tetes-tetes air sekali lagi mengenainya. Ah, Kyuhyun paham akhirnya darimana tetesan air yang mengenainya barusan, mungkin para petugas kebersihan sedang membersihkan atap sekolah yang berlumut.
Kyuhyun bergegas meninggalkan area sekolah. Ia harus cepat-cepat pulang dengan menuntun sepedanya sebelum hujan benar-benar mengguyurnya.
Sebenarnya kalau Kyuhyun mau menengok atap sekolah sebentar saja, ia akan tahu alasan mengapa ada titik-titik air yang mengenai kepalanya. Memang ada beberapa orang yang ada di atap sekolah. Tapi mereka bukan pesuruh sekolah yang sedang membersihkan atap.
Ada empat orang yang berada di atap sekolah. Yang satu memegangi selang panjang yang biasa digunakan pesuruh untuk membersihkan atap. Yang satu lagi memegangi ember besar yang penuh dengan air. Yang lainnya sedang berdiri bersandar di tembok sambil bersedekap. Sedangkan yang satunya lagi sedang duduk berjongkok sambil memeluk kedua lututnya dengan kedua tangannya. Wajahnya menunjukkan ketakutan yang tak bisa ia sembunyikan.
Anak yang duduk berjongkok itu keadaannya boleh dibilang memprihatinkan. Tas, pakaian, dan tubuhnya mulai ujung rambut hingga ujung kaki basah kuyup. Anak itu, Kim Ryeowook, menggigil kedinginan dan ketakutan.
Sepulang sekolah tadi Shin Dong Min, anak yang memegang selang dan menyemprot tubuhnya, menggamit lengannya dan menyeretnya menuju atap ruang olah raga yang sepi. Tak ada siapa pun di sana. Ruang olahraga memang selalu sepi kalau tidak ada kegiatan. Jadi, mereka bertiga bisa leluasa menjalankan aksinya.
Saat tiba di atap ruang olahraga, Ryeowook langsung disambut dengan guyuran air yang melewati kepalanya. Lee Kwang So yang jangkung dengan mudah menyiramkan seember air melewati kepalanya. Tak hanya itu Shin Dong Min juga menambahinya dengan semprotan air dari mulut selang yang dipegangnya.
"Kuharap sambutan kami bisa membuat otakmu sedikit segar, Kim Ryeowook," sapa suara dingin yang terdengar menakutkan bagi Kim Ryeowook.
Baru sekarang Ryeowook menyadari kalau Han Kaisoo ada bersama mereka. Ia berdiri menyandar di dinding sambil menautkan kedua lengannya di depan dada. Sorot matanya menyiratkan kemarahan pada Kim Ryeowook yang bergetar menahan dingin dan rasa takut.
"Rasanya sudah lama kita tak bertemu sedekat ini. Sudah lama juga kau tak menyapaku dengan hormat seperti biasanya. Apakah karena berteman dengan Cho Kyuhyun membuat kepalamu sedikit lebih besar, eoh?" cecar Han Kaisoo lagi.
Ia berjalan mendekati Ryeowook. Kim Ryeowook semakin terpaku di tempatnya sekarang. Han Kaisoo berjongkok di depan Kim Ryeowook. Ia mencengkeram dagu Ryeowook dan memaksanya menatap ke arahnya.
"Apa kau berani melawanku hanya karena merasa dekat dengan Cho Kyuhyun? Apa memiliki sekutu membuatmu berani menentangku? Jawab!" bentak Han Kaisoo.
Lidah Ryeowook merasa kelu. Ia sendirian sekarang, ia sadar hal itu. Tak ada Kyuhyun yang membelanya seperti waktu di kantin tempo hari. Tak ada Kyuhyun yang membantu meloloskannya sekarang.
Ryeowook semakin menyadari siapa dan bagaimana dirinya. Dia bukan apa-apa tanpa Kyuhyun. Ia tak sangup melakukan apa-apa, bahkan menatap mata Han Kaisoo pun ia tak berani melakukannya.
"Kurasa dia perlu diberi sedikit pelajaran. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kita memberinya pelajaran," ujar Shin Dong Min pada Han Kaisoo.
"Kau sudah mulai macam-macam denganku, Kim Ryeowook. Sejak kau bergaul akrab dengan Cho Kyuhyun, kau sudah mulai berani bertingkah. Apa maksudmu? Ingin melawanku, hah?" kata Han Kaisoo pada Ryeowook.
Cengkeraman jari-jemari Han Kaisoo pada dagu Ryeowook semakin kuat. Ryeowook merasa dagu dan lehernya mulai kaku dan kebas.
"Mulutmu bisukah, Kim Ryeowook?" tanya Shin Dong Min. Matanya menatap culas pada Ryeowook yang ketakutan.
"Kau tahu apa kesalahan terbesarmu, Kim Ryeowook. Kesalahan terbesarmu adalah kau tak tahu diri. Kau kira kau bisa bersekolah di sini karena apa? Apa hanya karena otakmu? Otakmu tak berarti apa-apa tanpa uang, kau tahu? Uang kamilah yang kaupakai untuk biaya sekolahmu. Uang kami yang sudah kaugunakan untuk menikmati fasilitas di sekolah ini. Dan kau mulai berlagak hanya gara-gara merasa sudah punya seorang teman? Buka matamu, Kim Ryeowook. Kau hanya tikus yang mengotori tempat kami, kau hanya kecoak yang menodai sekolah kami."
Ucapan Han Kaisoo barusan seperti menohok hati Ryeowook. Hatinya merasa sakit tiap kali diingatkan dengan posisinya. Batinnya menjerit tiap kali nada-nada hinaan itu dialamatkan padanya. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak berani bahkan hanya untuk bersuara sekali pun.
"Kuingatkan sekali lagi padamu, Ryeowook! Jaga sikapmu selama di sini! Kau hanya tikus got tak berguna di sini. Kau bisa sekolah gratis dan mengemis dari orang lain untuk menikmati pendidikan di sini. Aku bisa mengeluarkanmu dari sekolah ini hanya dengan menjentikkan jariku, ingat itu!" kata Han Kaisoo.
Ia melepaskan cengkeraman tangannya dari dagu Ryeowook dan mulai berjalan menjauh.
"Ini hanya sebagai peringatan pertama, Ryeowook. Kau akan merasakan yang lebih menyakitkan dari ini kalau kau mengulangi kesalahanmu lagi untuk yang kedua kali. Cukup sekali ini saja kau buat tugas Biologiku mendapat nilai D. Sekali lagi kau mengerjaiku, kau akan merasakan akibatnya," ancam Han Kaisoo.
Ia memberi isyarat pada kedua temannya untuk meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Ryeowook dalam keadaan yang menyedihkan. Meninggalkannya teronggok tak berdaya dan sendirian.
Sementara itu, sepeninggal orang-orang yang menghinanya, Ryeowook terisak mengeluarkan tangis dan kesedihannya melalui air mata. Sekali lagi hatinya merasa tertusuk saat Han Kaisoo dan kawan-kawannya memperlakukannya semena-mena. Terlebih lagi saat mendengar ancaman dan peringatan dari Han Kaisoo. Ia tak menyangka akan mendapatkan perlakuan buruk karena sesuatu yang tidak dilakukannya.
Ryeowook kecewa pada Kyuhyun, orang yang dianggapnya sebagai teman paling baik yang pernah ia punya. Ia tak menyangka Kyuhyun akan berbuat sesuatu yang membuatnya terlibat masalah dengan Han Kaisoo. Ryeowook merasa sangat kecewa . Namun, ia lebih kecewa pada dirinya sendiri karena mempercayakan hidupnya pada seseorang yang baru ia kenal baik.
Ryeowook tak keberatan menjadi budak Han Kaisoo karena memang ia tak punya keberanian untuk melawannya. Ryeowook rela menjadi orang suruhan Han Kaisoo demi mengenyam pendidikan yang lebih baik, demi membanggakan dan membahagiakan orang tuanya. Ryeowook juga rela menjadi anak yang pendiam dan tertutup hanya demi mendapat rasa aman selama bersekolah.
Ryeowook berdiri dari tempatnya terpuruk. Ia berjalan tertaih-tatih meninggalkan tempat itu. Ia kedinginan dan kesakitan. Mungkin nanti di rumah ia akan mengarang cerita bagaimana bisa seluruh tubuhnnya basah kuyub seperti itu. Ia akan mengarang cerita yang membuat kedua orang tuanya percaya.
Langit semakin kelam dan menggelap. Saat Ryeowook sampai di halaman depan sekolahnya yang sepi, hujan pun turun membasahi bumi. Ryeowook tersenyum sinis. Bahkan langit pun tak mau bersahabat dengannya.
Ryeowook melangkah pelan meninggalkan area sekolah membiarkan tubuhnya yang kedinginan diguyur hujan. Paling tidak ia tak harus mengarang cerita saat tiba di rumah nanti.
Kyuhyun merasa jengkel. Ia dipaksa tinggal di rumah hari ini. Badannya demam sejak semalam. Tiga hari berturut-turut, ia kehujanan sepulang sekolah. Belum lagi aktivitas sekolah yang melelahkan membuat tubuhnya berteriak minta istirahat.
Kyuhyun merasa baik-baik saja. Ia merasa masih bisa sekolah hari ini. Tapi eomma dan hyung-nya kompak memaksanya untuk tinggal di tempat tidur. Menyuruhnya kembali tidur dan beristirahat. Hyung-nya malah ikut meliburkan diri demi menjaga adik kesayangannya itu.
Hyung Kyuhyun itu, Siwon, mengecek ke kamarnya tiap jam, menyuruhnya kembali tidur saat Kyuhyun terjaga, menyita telepon genggam, bahkan mengancam akan mengeloninya kalau adiknya itu berniat beranjak dari tempat tidur.
Kkyuhyun uring-uringan tentu saja. Ia hanya demam, dan hyung-nya memperlakukannya bak pesakitan yang perlu pengawasan dan perawatan ekstra. Kyuhyun yakin setelah ini penyakit tekanan darah tinggi yang akan menghampirinya hanya gara-gara sering naik darah dengan ulah hyung-nya itu.
"Mau ke mana?" tanya Siwon saat tengah hari Kyuhyun menyibakkan selimut dan beringsut dari ranjangnya.
Setelah menunggui adiknya menghabiskan makan siangnya dan memastikan Kyuhyun meminum obatnya, Siwon memang tak beranjak dari kamar adiknya itu. Ia tak menghiraukan tatapan sebal Kyuhyun padanya.
"Aku mau nonton tv di ruang tengah," sahut Kyuhyun.
Ia sudah bosan sejak pagi disekap di dalam kamar. Semua benda-benda yang biasa menghiburnya juga disita. Siwon beralasan, Kyuhyun harus benar-benar istirahat supaya lekas sehat.
"Tidah boleh! Kau harus tidur siang," cegah Siwon sebelum adiknya itu meraih pintu kamar dan keluar.
"Aku bosan di kamar terus," gerutu Kyuhyun kesal.
Ia bertambah kesal saat hyung-nya itu menarik tangannya agar ia kembali ke tempat tidur.
"Kau sakit dan harus istirahat," kata Siwon saat adiknya itu menolak menuruti perkataannya.
"Aku hanya sedikit demam, Hyung, bukannya mau mati," teriak Kyuhyun kesal.
"Pokoknya tidak boleh. Tetap di kamar dan istirahat. Kau tak akan cepat sembuh kalau tidak istirahat," ucap Siwon sambil berusaha mendorong Kyuhyun kembali ke ranjangnya.
"Aku bukan anak kecil lagi, Hyung. Kau sudah memaksaku tidur seharian ini, sudah memaksaku makan meski perutku mual dan ingin muntah, memaksaku menelan obat meski aku muak, dan sekarang kau masih menyuruhku tinggal di tempat tidurku lagi. Punggungku pegal tahu dari tadi tidur terus, Hyung," kata Kyuhyun marah.
Siwon memandangi adiknya yang terengah-engah. Dadanya naik turun tak beraturan entah karena marah, merasa sakit, atau karena kalimat panjang yang diucapkannya tanpa jeda itu.
"Okelah, kalau begitu. Tapi hanya satu jam saja, tak lebih. Setelah itu, kau kembali ke tempat tidur," kata Siwon akhirnya. Menyerah setelah adiknya itu berteriak kesal dan memandangnya penuh amarah.
Mata bulat Kyuhyun pun berbinar. Akhirnya ia boleh juga keluar dari penjara yang dibuat Siwon untuknya. Ia melangkah keluar kamar. Kepalanya masih sedikit pusing, tapi Kyuhyun merasa itu lebih baik daripada terkurung di dalam kamarnya dengan Siwon sebagai pemandangan pertama yang dilihatnya saat ia terjaga.
Kyuhyun berbaring di sofa ruang tengah. Menikmati acara tv yang bisa membunuh kebosanannya. Ia berharap hanya sehari saja tinggal di rumah. Ia tak mau hanya bertemu dengan hyung-nya yang super cerewet. Lebih baik ia ke sekolah dan bertemu dengan teman-temannya yang lain.
"Kau tak kuliah, Hyung?" tanya Kyuhyun pada Siwon yang duduk di bagian sofa yang lain.
"Kan aku sudah bilang kalau hari ini aku libur," jawab Siwon.
"Tak membantu appa bekerja juga?" tanya Kyuhyun lagi.
"Tidak. Aku menemanimu di rumah saja seharian ini. Mungkin besok aku akan libur lagi kalau kau belum sembuh juga," ucap Siwon.
"Jangan harap aku mau tinggal di rumah lagi besok! Hari ini saja aku absen," kata Kyuhyun.
"Kau harus tetap tinggal di rumah kalau masih sakit, Kyu!" perintah Siwon.
"Aku tidak mau kalau hanya denganmu. Lebih baik aku dengan eomma daripada dengamu. Eomma tak secerewet dirimu, Hyung," ketus Kyuhyun.
"Haah, kenapa kau selalu bilang aku cerewet, Kyu. Aku ini bukan cerewet, tapi perhatian," keluh Siwon. Ia tak mengerti kenapa adiknya itu selalu menolak setiap perhatiannya.
"Perhatian bukan berarti harus mengaturku ini dan itu kan, Hyung. Aku sudah besar, sudah 16 tahun. Tapi, kau selalu memperlakukanku seperti bocah berumur 6 tahun. Bisakah kau melihatku bukan sebagai adik kecilmu, Hyung? Aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah besar," kata Kyuhyun.
"Kau adikku satu-satunya, Kyu. Kuberikan pada siapa lagi perhatianku kalau bukan padamu," ucap Siwon sedih. Ia sedih kalau adiknya menolak perhatian dan kasih sayangnya.
"Carilah pacar kalau begitu!" ucap Kyuhyun enteng.
"Huh, apa?" tanya Siwon tak mengerti.
"Carilah pacar dan beri kekasihmu itu perhatian dan kasih sayangmu yang berlebihan itu!" kata Kyuhyun pada Siwon yang tengah melongo menatapnya,"dan berhenti juga menggangguku," tambahnya jahil.
"Jadi selama ini aku mengganggumu? Jadi, semua perhatianku padamu itu mengganggumu?" tanya Siwon nanar. Wajahnya dibuat sesedih-sedihnya sekarang.
Kyuhyun mendengus keras-keras melihat wajah hyung-nya yang dibuat-buat seperti itu. Ia sayang pada hyung satu-satunya itu. Kyuhyun juga suka diperhatikan dan dimanjakan. Tapi ia tidak suka jika perhatian dan kasih sayang Siwon padanya terlalu berlebihan.
Kadang kala Siwon memang bersikap terlalu berlebihan pada Kyuhyun. Siwon akan mengecek apa saja aktivitas Kyuhyun setiap hari. Siwon juga setiap malam menginterogasi Kyuhyun tentang segala hal, mulai teman-teman, pelajaran, keadaan, kesehatan, dan lain-lain.
Siwon juga seringkali khawatir yang berlebihan kalau mendengar sesuatu yang kurang baik tentang kesehatan Kyuhyun. Bahkan batuk dan pilek pun menjadi sesuatu yang membahayakan di mata Siwon.
Setiap kali Kyuhyun protes tentang sikap Siwon padanya, kakaknya itu akan mulai mengeluarkan jurus memasang tampang sedih, duka, dan pilu seperti saat ini.
"Kau adikku satu-satunya, Kyu. Kau tak pernah tahu rasanya kesepian tanpa seorang saudara. Kau pernah nyaris meninggalkan kami. Kau tahu, aku berdoa siang dan malam, memohon pada Tuhan supaya kau terbangun dari tidur panjangmu. Dan saat itu aku berjanji akan menjaga adikku dengan baik. Aku pernah berjanji kalau aku akan melindungi adikku sebaik-baiknya kalau ia bangun lagi," kata Siwon sambil terisak.
Kyuhyun menghela napasnya. Ia benci kalau hyungnya sudah bersikap melankolis seperti ini. Kyuhyun memang pernah sakit keras saat ia berusia 10 tahun yang membuatnya tertidur panjang selama tiga hari. Ia juga selalu bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup sampai detik ini.
"Arra, arra, aku mengerti. Terima kasih karena sudah memperhatikan dan menjagaku. Tapi, aku juga ingin Hyung mengerti kalau aku sudah besar. Aku bisa menjaga diriku dengan baik, Hyung. Jadi, kau tak perlu mengkhawatirkanku. Kita tak perlu membahas hal ini lagi, okay!" kata Kyuhyun.
Kyuhyun ingin menyudahi pembicaraan yang mengharu biru ini. Kyuhyun tak ingin ada banjir air mata di rumahnya. Kyuhyun sangat tidak menyukai jika hyung-nya sudah mulai merajuk dan menunjukkan wajah sedih di hadapannya.
"Hhhh, okay!" kata Siwon akhirnya, "tapi berjanjilah akan selalu sehat! Hyung tak mau melihatmu sakit. Kau selalu membuat Hyung khawatir setiap kali sakit. Hyung akan memberimu kepercayaan asalkan kau bisa menjaga dirimu dengan baik."
"Terima kasih, Hyung. Itu sudah cukup untukku."
"Jadi, sekarang tidur siang, ne! Istirahatlah agar kau cepat sembuh," kata Sion lagi, mencoba merayu adiknya untuk beristirahat.
Kyuhyun mengeluh keras-keras. Hyung-nya itu sudah mulai lagi.
"Tidak mau! Aku mau nonton tv sampai sore nanti. Aku tak mau tidur lagi. Hyung mau duduk diam menemaniku atau mau membuatku kesal dengan memaksaku tidur lagi?" ucap Kyuhyun.
"Baik, baiklah, kau boleh menonton tv. Hyung akan menemanimu di sini," kata Siwon mengalah pada adiknya.
Kyuhyun tersenyum dan merebahkan tubuhnya lagi di atas sofa ruang tengah yang empuk. Matanya memandang layar televisi yang memutar acara musik kesukaannya. Tapi, tak sampai tiga puluh menit kemudian dengkur halusnya mulai terdengar. Menandakan sang empunya sudah lelap tertidur.
Siwon tersenyum melihatnya. Dimatikannya televisi dan diselimutinya tubuh Kyuhyun dengan selimut yang diambilnya dari kamar. Diusapnya rambut adik kesayangannya sebelum ia mengambil laptopnya dan mulai mengerjakan tugas-tugas kuliahnya sambil menunggui Kyuhyun yang tengah lelap tertidur di ruang tengah.
Kyuhyun merasa senang hari ini. Tubuhnya sudah merasa lebih baik setelah diistirahatkan seharian. Kyuhyun pun memaksa semua orang di rumah agar diperbolehkan masuk sekolah. Appa dan eomma-nya tak keberatan, namun ia harus merayu Siwon supaya boleh masuk sekolah hari ini. Akhirnya, Siwon pun mengizinkannya meski dengan syarat ia mau diantar dan dijemput Siwon ke sekolah.
Kyuhyun yang biasanya menolak pun, akhirnya menyetujui syarat kakaknya itu. Toh, ban sepedanya yang bocor juga belum dibetulkan. Jadi, tak ada salahnya kalau ia diantar jemput kakaknya itu hari ini. Hanya hari ini saja, lain hari Kyuhyun tidak akan mau.
"Sampai tikungan itu saja, Hyung!" kata Kyuhyun pada Siwon di tikungan dekat sekolah Kyuhyun.
"Kenapa? Sekolahmu kan masih di sana," tanya Siwon tak mengerti.
"Aku tak mau diantar sampai depan sekolah. Cukup sampai di sini saja," desak Kyuhyun.
Siwon pun menghentikan kendaraannya di ujung jalan menuju sekolah Kyuhyun. Berdebat dengan Kyuhyun sepagi ini hanya akan membuat perang dimulai pada awal hari. Siwon tak mau mood adiknya buruk sepanjang hari hanya gara-gara hal sepele. Sekolah Kyuhyun pun tak jauh jaraknya dari tempat mereka sekarang.
"Nanti jemput aku di sini saja! Tak usah menungguku di depan sekolah," perintah Kyuhyun sebelum meninggalkan Siwon.
"Kenapa?" tanya Siwon lagi.
"Aish, kenapa kau selalu bertanya sih, Hyung? Aku tak mau ada yang melihat aku diantar ke sekolah. Aku bukan anak kecil lagi," sahut Kyuhyun mulai kesal.
"Jadi, hanya gara-gara itu? Yang lain juga banyak yang diantar kan, Kyu? Tak ada yang mengatai mereka anak kecil hanya gara-gara diantar jemput setiap kali ke sekolah," kata Siwon.
"Itu mereka, Hyung. Tapi aku tak ingin seperti itu. Jadi, nanti sore, Hyung menjemputku di sini saja atau aku akan pulang naik bus," ancam Kyuhyun yang biasanya mempan untuk memaksa Siwon melakukan sesuatu yang diinginkannya.
"Baiklah, Hyung akan menunggumu di sini. Jangan ke mana-mana apalagi sampai nekad naik kendaraan umum!" ucap Siwon akhirnya.
Kyuhyun tersenyum senang. Ia meninggalkan Siwon dan berjalan menuju sekolahnya. Pagi ini sudah banyak anak yang datang. Kelasnya juga mulai bising dengan banyaknya anak yang bergerombol sekedar bergosip atau bertukar cerita.
Kyuhyun menuju tempat duduknya di deretan paling depan. Ia sedikit merasa heran karena Ryeowook belum nampak. Biasanya teman sebangkunya itu selalu datang paling pagi.
"Kau sudah masuk? Kudengar kemarin kau sakit," tanya Ahn Jae Hyun, teman sekelas Kyuhyun yang merangkap sebagai ketua kelas.
"Hanya sedikit demam," jawab Kyuhyun.
Ahn Jae Hyun meletakkan tasnya di meja sebelah Kyuhyun dan duduk di kursi yang ada di dekat meja.
"Kim Ryeowook juga tak masuk kemarin dan tampaknya hari ini pun ia belum masuk. Kompak sekali kalian sampai sama-sama tidak masuk," kata Ahn Jae Hyun.
"Oh, ya, apa dia juga sakit?" tanya Kyuhyun.
"Begitulah kata Kim Bum So Songsaengnim."
"Sakit apa dia sampai dua hari tak masuk?" tanya Kyuhyun heran.
"Molla, mana aku tahu," jawan Ahn Jae Hyun.
"Selama ini dia tak pernah absen kan? Apa parah sakitnya sampai ia absen selama lebih dari satu hari," kata Kyuhyun sambil menatap Ahn Jae Hyun.
"Dia memang anak yang rajin dan tak pernah absen. Lain denganmu yang berkali-kali absen," sindir Ahn Jae Hyun menggoda Kyuhyun.
"Yak, bukan mauku terlalu banyak absen. Salahkan Lee Songsaengnim yang memaksaku ikut olimpiade sampai aku tak menikmati masa sekolahku dengan baik," jawab Kyuhyun jengkel.
Ahn Jae Hyun tertawa mendengar ucapan Kyuhyun. Teman sekelasnya ini memang terkenal lihai mengelak.
"Kau tahu rumah, Ryeowook?" tanya Kyuhyun pada banjang kelasnya itu.
"Aku tak tahu dan tampaknya tak ada satu orang pun di kelas kita yang tahu di mana rumahnya. Selama ini Ryeowook terkenal tertutup dan tak mau bergaul. Anak-anak yang lain pun juga tak ada yang mengajaknya bicara, kecuali dirimu tentu saja," jawab Ahn Jae Hyun.
"Kau sebagai banjang juga tak pernah mengajaknya bicara. Banjang macam apa itu?" sindir Kyuhyun.
"Bukannya aku tak mau, tapi anak itu memang sulit diajak bicara. Ia hanya menunduk atau menggumam sesuatu yang tak jelas kalau kuajak bicara," kelit Ahn Jae Hyun.
"Dan kau menyerah karena hal itu. Kim Ryeowook itu teman sekelas kita. Keterlaluan sekali kalau kita mengabaikannya hanya karena ia tertutup. Bukan alasan yang masuk akal menurutku," ucap Kyuhyun.
"Kau benar mungkin aku yang kurang memperhatikan anak-anak satu kelas, padahal itu tanggung jawab dan tugasku sebagai banjang," kata Ahn Jae Hyun.
"Aku tak menyalahkanmu sebagai banjang. Mengatur kelas ini memang tak mudah apalagi dengan orang-orang macam mereka," tunjuk Kyuhyun dengan dagunya pada Han Kaisoo dan teman-temannya yang sedang duduk bak Putra Mahkota di bangkunya. Menikmati jeritan dan tatapan kagun dari penggemar-penggemarnya.
Ahn Jae Hyun tertawa sumbang mendengar ucapan Kyuhyun itu. Kelasnya memang penuh corak dan warna. Orang dengan beragam sifat dan karakter ada di dalamnya. Ia harus mampu mengenal dan mengatur mereka.
Bel berbunyi nyaring menandakan pelajaran akan segera dimulai. Menghentikan anak-anak dari kegiatan pagi mereka. Semua anak pun mulai kembali ke tempatnya masing-masing mempersiapkan diri untuk mengikuti pelajaran dan kegiatan sekolah hari itu.
TBC
Chapter 7 update. Ini chapter terpanjang yang saya buat (sampai 3000 kata lebih, lho). Semoga tak bosan bacanya apalagi pas bagian Siwon yang kayaknya agak lebay (menurut saya…hehehe). Selamat membaca dan jangan lupa reviewnya. Gomawo.
