TWO SIDES
by Gyoulight
.
.
.
.
HUNHAN FANFICTION
GENRE: Drama, Romance
RATING: T
.
.
.
.
.
Baekhyun mulai berbelok pada koridor yang sepi setelah melangkah jauh dari toilet wanita. Beruntung Jongin sudah mengirimkannya denah lokasi sore tadi. Sehingga ia harus bangga dengan kepalanya yang cepat beradaptasi dengan hafalan. Ia pun dengan mudah mengingat beberapa tempat, walaupun ini pertama kalinya ia disini.
Baekhyun sibuk menjinjing gaunnya tinggi-tinggi saat harus melenggang panjang demi mencari pintu yang terbuka di ujung sana. Tugasnya hanya perlu menemukan ruang pengawas lalu melumpuhkan mereka untuk mencuri sebuah diamond yang tak berharga di matanya. Ia bahkan tidak pernah punya pengalaman menipu, apalagi bermain sebagai agen dengan Jongin seperti dalam film Mission Imposible. Dan Baekhyun merasa menjadi orang yang paling bodoh di dunia karena harus melakukan ini demi atasan sinting dan perusahaannya yang tersandung. Sebut saja ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya saat ini.
Mata Baekhyun masih mengawasi, mengendap-ngendap sambil menemukan beberapa kamera CCTV yang terpasang di atas kepalanya. Ia pun mulai menekan sesuatu di telinganya ketika bunyi bep mulai mengusiknya.
"Sudah kau temukan?" seru Jongin dari seberang sana.
Baekhyun berdecak ketika kakinya yang pegal masih menelusuri koridor temaram. Ia tak kunjung menemukan ruang pengawas yang dicarinya. Ditambah dengan ia menjadi wanita yang mencurigakan di dalam mata kamera. "Ini tidak mudah, aku bahkan terekam kamera pengawas."
"Buatlah wajah panik dan jadilah wanita. Dan yang lebih penting, rubahlah cara berjalanmu," ucap Jongin memelankan suaranya. Terdengar tengah mencoba menjadi lebih awas di sebrang sana. "Kita hanya punya waktu 40 menit sebelum permainan dimulai."
Baekhyun mendegus marah. "Hey, dari mana kau tahu aku menjinjing gaun ini dengan sangat repot?"
"Sejak kau turun dari mobil tadi kau sudah tidak ada anggun-anggunnya."
Baekhyun tersenyum miring. Dari jauh, ia menemukan pria berseragam dengan kabel yang tersambung di telinganya. Baekhyun kemudian dapat sedikit menyimpulkan, bahwa dia sudah jadi target kecurigaan. Tapi yang lebih penting, ia menemukan ruangan pengawas yang cukup mencolok di belakang pria itu. "Terima kasih, tapi setidaknya aku cantik."
"Kusayangkan Chanyeol melewatkan hal ini. Apa yang akan dikatakannya soal pacarnya yang cantik?" ejek Jongin tidak tahu tempat.
"Jangan sebut namanya malam ini," titah Baekhyun yang kemudian sedikit berlari mendekati pria itu. Rautnya dibuat sepanik mungkin, dan jangan lupakan dengan tatapan penuh permohonan darinya. "Oh hallo, bisa aku minta bantuan?"
"Baiklah giliranku," bisik Jongin kembali menggema di telinganya. Dan Baekhyun kembali memperhitungkan waktu yang ia miliki sampai Jongin benar-benar tiba di posisinya.
"Aku kehilangan kekasihku," lirih Baekhyun pura-pura sedih. Matanya berkedip beberapa kali, memohon seperti seekor puppy. "Bisa kalian carikan dia untukku?"
"Tapi nona, anda tidak boleh berada disini," tutur pria itu menolak. Tapi mau bagaimana pun Baekhyun terlalu manis untuk tidak dimenangkan hatinya.
"Aku harus menemukannya, kekasihku memiliki sedikit gangguan saat mabuk. Aku hanya ingin pesta ini berjalan dengan benar." Baekhyun bersumpah ia jijik dengan dirinya sendiri. Mimpi apa dia kemarin hingga harus menjadi cantik di dalam pesta dansa?
"Ck, yang benar saja," celetuk Jongin masih tersambung dengannya. Kikikan pria itu masih menggema jelas di telinga Baekhyun. Ia bahkan menjadi terlalu sabar menunggu waktu yang tepat untuk mencekik Jongin.
Lama menimbang permohonan aneh Baekhyun, akhirnya pria itu tersulut mundur dan mempersilahkannya masuk. "Baiklah, silahkan masuk."
Baekhyun dengan senang hati memasuki ruangan penuh monitor itu. Di hadapannya sudah duduk dua pria yang tengah berkutat dengan masing-masing monitor. Pria yang berada di luar segera menjelaskan sesuatu pada rekannya tentang Baekhyun yang meminta pertolongan sederhana.
"Dimana terakhir kali kau berbicara dengannya?" tanya salah satu pria berkacamata yang mengabaikan monitornya untuk Baekhyun. Pria bersurai coklat itu lantas mempersilahkannya duduk lalu memberinya segelas air. Sungguh baik, hingga Baekhyun mungkin tak akan tega menipunya.
"Di pojok sana. Dia pergi ke toilet lalu tak kembali setelahnya," tutur Baekhyun dengan cemas sambil menggenggam gelasnya. Matanya dibuat berkaca-kaca seolah ia akan kehilangan Jongin selamanya. Dan ia bersumpah akan menghajar Jongin yang tak kunjung berhenti tertawa─tepat setelah pesta ini selesai. "Tolong temukan dia untukku."
"Ada yang tidak beres," adu seorang pria yang melapor pada pria baik itu. Ia menunjuk ke layar monitor 14, dimana disana terlihat Jongin dengan topengnya, melompat untuk memukul kamera CCTV dengan sepatu. Baekhyun bahkan tercengang dengan sikap Jongin yang terlalu terlihat bodoh dengan triknya. "Dia terlihat aneh."
"Oh, dia kekasihku," lirih Baekhyun mendekat pada monitor. Pura-pura terkejut. "tolong bawa dia keluar untukku tanpa diketahui pihak keamanan. Aku tidak ingin dipermalukan."
Pria yang masih berdiri di belakang Baekhyun segera mengangguk dan pergi dari sana. Ada selang beberapa detik sampai Baekhyun berhasil merogoh sakunya untuk mengambil sesuatu. Setelah dirasa tepat, barulah Baekhyun menyemprotkan parfume kecilnya ke atas kepala pria yang membelakanginya─tak lupa membekap hidungnya sendiri. Lantas tak butuh waktu lama sampai pria-pria ramah itu tak sadarkan diri di kursinya. "Tolong, maafkan aku. Ini sepenuhnya salah bosku."
"Jongin, sekarang!" seru Baekhyun yang kemudian menurunkan lipatan celana yang ia sembunyikan di dalam gaunnya. Ia kemudian merobek ujung gaunnya dan merampas jas serta sepatu dari salah satu pria yang tak berdaya itu. Dibukanya wig panjangnya kemudian merapus sisa lipstiknya. "Sial, apa yang sedang dikerjakan Sehun disana?" omel Baekhyun yang kemudian mematikan banyak monitor lalu menendang pintu. Ia pun segera berlari menuju lantai tiga, tak lupa membuang wig serta seluruh robekan gaunnya ke tempat sampah.
e)(o
Luhan masih terjebak dengan Kris di lantai dansa. Masih tersenyum semaunya saat Kris mulai memutar tubuhnya. Alunan musik dansa masih begitu menenangkan syaraf-syaraf Luhan yang gaduh. Membuatnya sedikit mengantuk dan juga pegal di bagian kakinya. Kris membaca ekspresi tak nyaman dari Luhan. Wajah tampannya pun kini sibuk menyelidiki tunangannya diam-diam.
Luhan semakin membawa dirinya lebih leluasa dalam tariannya. Ia begitu ingat pelajaran dansa yang ia pelajari dalam sehari. Ditambah dengan Sehun yang memberinya beberapa tips penting kemarin. Berbicara mengenai Sehun, di ujung sana, Sehun tampak menikmati dansanya dengan sekertaris Kris yang cantik. Mereka beradu tawa lalu menikmati obrolan kecil dengan berbisik satu sama lain di telinga─tanpa perduli padanya yang berjuang sendiri dengan musuh besar. Entahlah, tapi Luhan nampak sedikit jengkel akan itu.
Kris tiba-tiba menyentuh wajahnya. "Kau baik-baik saja?" Luhan berkedip beberapa kali, kemudian memberi anggukan kecil. Meyakinkan Kris bahwa ia tidak perlu dikhawatirkan atau mencegahnya bertanya pada hal yang sama berkali-kali. Singkatnya Luhan tidak butuh perhatian saat ini, karena Sehun belum memberikan kode 'berakhir'.
Kris menghentikan dansanya. Menangkap Luhan dalam tatapannya sambil menyentuh ujung kepala Luhan. "Mau duduk sebentar?"
Luhan menggeleng. "Acaranya belum selesai─"
"Kau terlihat tidak baik-baik saja," balas Kris yang kemudian menarik lengannya pelan. Menjauhi kerumunan dansa dengan melenggang ke luar ballroom. Luhan tidak mengatakan apapun dan terus berpikir dengan kepala kecilnya. Ia bersiap melakukan rencana B pada hal tak terduga seperti ini.
"Sebenarnya aku tak suka pesta dansa," jujur Kris masih menariknya semakin dalam ke dalam taman yang sepi. Pria blasteran itu lantas mempersilahkan Luhan duduk di kursi panjang dekat air mancur. "Aku kemari hanya ingin bertemu denganmu."
Luhan tergugu. Ia masih terheran-heran pada bagian lain dalam dirinya. Ia masih memuja kesempurnaan Kris, karena mau dilihat dari di sisi manapun, Kris adalah pria yang lembut. Jauh berbeda dari penjabaran Sehun akannya.
Kris berlutut di hadapannya. Membuka high heelsnya yang menjijikkan dengan pelan dan juga gentleman. "Kau pasti tidak nyaman dengan sepatumu," tuturnya tersenyum lembut.
"T-terima kasih," ucap Luhan malu-malu. Ia sangat bersyukur bahwa ia bukan wanita atau tunangan Kris yang sebenarnya. Karena akan sangat lucu jika pipinya merona lalu tidak bisa berkata-kata melihat tunangannya sangat luar biasa seperti ini. Lagipula wanita mana yang tidak meleleh diperlakukan seperti ini? Siapa yang akan menolak karisma seorang Kris Wu? Tapi sayangnya Luhan adalah seorang pria. Ia hanya bisa berpura-pura menjadi senang akan hal itu.
Luhan masih memandangi kaki telanjangnya ketika Kris mengambil duduk di sampingnya. Memastikan kakinya tidak bengkak atau lecet akibat hasil latihannya, karena jika 'ya' maka semua akan menjadi sangat kentara.
Pria super tinggi itu masih menatapnya kosong. Tak bisa dibaca sekiranya apa yang ia pikirkan. "Kau pasti tahu Mr. Choi punya hadiah kalau kita memainkan permainannya," ucap pria itu berusaha membunuh canggung di antara mereka.
Luhan menoleh sebentar, ia pun bersyukur karena kakinya masih baik-baik saja. Luhan kemudian menyadari kepalanya mulai berputar terlalu banyak. Ia berusaha menaruh fokus pada Kris yang kini mendongak pada langit penuh bintang. "Kau bisa meminta apapun jika kau menang."
"Kau mau masuk?" tanya Luhan polos. Dalam pikirannya, ia masih bertanya mengapa kepalanya bisa terasa begitu aneh saat menatap pria itu.
Kris terkikik. Ia menyelami hazel Luhan seperti tak bosan. Seakan mencarinya semakin dalam tapi kecewa tidak menemukan apapun. "Aku sudah menang."
Alis Luhan mengeriting. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa Kris tidak menyangkutkan apapun di hatinya. Berkali-kali ia menggali hati pria pirang itu, namun tidak ada yang didapatkannya selain hawa dingin dari taman. Hati Kris terlalu asing, dan Luhan mungkin hanya bisa menyerah akannya.
"Apa kakimu sakit?" lanjutnya mengaburkan lamunan Luhan.
Luhan terdiam, tidak ada respon dari pertanyaan sederhana itu. Luhan mungkin saja jatuh ke dalam pesona Kris Wu, tapi dia tetap akan menjalankan tugasnya. Tentang mengapa ia berada di sini. Tentang mengapa ia harus di sisi Kris malam ini. "Kris, kenapa kau mencintaiku?"
"Apa kau sangat ingin aku menjawabnya?" Kris tersenyum kecil. Ia baru saja akan menyandarkan dirinya nyaman pada sandaran kursi. "Aku tidak tahu pasti, kenapa aku bisa mencintaimu."
Jawaban itu terlalu klasik dimata Luhan. Tatapan penuh cinta, pengakuan cinta dan juga perlakuan yang dilakukan Kris padanya malam ini mungkin sama dengan kisah romansa lainnya. Dimana seorang pria tak butuh alasan untuk mencintai dan membiarkan rasa itu tumbuh dengan semestinya. Tapi jauh dari itu, Sehun tetap mengatakan hal yang sebaliknya tentang pria pirang ini. Kenapa bisa begitu?
Luhan hilang dalam lamunannya, tenggelam dalam mengolah hipotesis sederhana untuk kesimpulan yang lebih benar prihal teori. Selebihnya, Luhan mungkin tidak percaya pada kedua pria itu. Tidak dengan Kris dan tidak juga dengan Sehun, karena baginya pria kaya sama-sama tidak punya hati. Lalu disinilah tugas Luhan dengan menyampingkan banyak hal yang bukan urusannya. "Aku ingin berhenti─"
Kris berkedip sebentar. Ia sepenuhnya belum mencerna maksud dari tunangannya itu. Andai Luhan menyadari kepalan tangan Kris yang mencengkram kuat ketika Luhan mengatakan,
"aku ingin memutuskan pertunangan kita."
e)(o
Baekhyun masih berlarian di koridor yang gelap. Lampu-lampu ikut dimatikan saat musik berhenti diputar. Ia semakin tak punya waktu saat menyadari staff acara sudah membubarkan diri dan sisanya mengambil posisi di belakang panggung. Baekhyun pun tak punya pilihan, saat mengunci satu pria lagi di kamar mandi demi peran dadakannya.
Langkah Baekhyun sedikit bergerak tak nyaman karena sepatu itu sedikit kebesaran di kakinya. Sepanjang perjalanan ia mengumpat sesukanya. Menyalakan ponselnya kasar untuk mencoba menghubungi Sehun yang entah berada dimana.
"Rencanamu gagal, diamond yang kau inginkan mungkin sudah disebar. Apa yang akan kau lakukan?!"
Sehun berbisik, sedikit terganggu dengan panggilan yang dibuatnya. "Aku masih mengawasi Kris."
"Lain kali aku tidak mau jadi wanita jahat, sialan. Mereka mungkin saja tengah mengejarku" cercau Baekhyun masih mengendap di sudut. Jantungnya tidak bisa terkontrol saat melihat cahaya senter menyala-nyala pada tembok. "Temui aku di lantai dua, aku mungkin punya rencana B. Jongin sudah ditendang keluar."
"Baiklah, kalian bisa pulang setelah ini," tutup Sehun tanpa babibu.
"Kenapa aku bodoh sekali?" decih Baekhyun yang masih melenggang dengan sepatu kebesarannya. Ia nyatanya berhasil menemukan kerumunan pria bertopi di dekat tangga. Dan benar, mereka adalah staff acara yang ia cari sejak tadi.
"Maaf aku terlambat. Apa semuanya sudah di sebar?" tanya Baekhyun setenang mungkin. Ia baru saja menelan bulat-bulat nafasnya yang berhamburan. Berusaha terlihat baik-baik saja atau minimal menjadi pria tangguh yang bisa dipercaya.
"Kau pengganti Jaebum itu?" ucap salah satunya. Pria itu lantas menatapnya dari ujung ke ujung sambil menimbang akan memberikannya sebuah kotak di genggamannya atau tidak. "Kau lama sekali. Tiga menit lagi permainan dimulai. Kau harus letakkan kotak utamanya."
Senyum Baekhyun lalu mengembang sempurna. Ia bahkan tak pernah merasa seberuntung sekarang.
e)(o
Sehun masih tersenyum simpul pada sekertaris cantik itu. Setelah menutup telpon pribadinya, ia kembali membawa wanita itu berdansa. Harmoni yang sama membuatnya merasa de javu. Hanya saja dulu ia biasa berdansa dengan Oh Sena sebagai perwakilan perusahaan. Menggantikan Chanyeol yang masa bodoh dengan pesta. Atau mungkin kakaknya itu tidak mau berdansa dengan wanita penuh topeng. Karena mau ia dan juga kakaknya, sama-sama tidak suka terlibat dengan wanita selain adik mereka.
Tak lama musik benar-benar berhenti mengalun. Menarik atensi tamu undangan dengan lampu yang mulai menyala terang. Seorang pria kemudian keluar dari kerumunan. Naik ke atas panggung untuk sebuah kabar. Dansa nyatanya baru saja berakhir dengan riuhnya tepuk tangan. Pria itu pun segera meminta perhatian. Menjelaskan sesuatu yang membuat Sehun begitu malas mendengarnya.
"Seperti sebelumnya, aku ingin mengajak kalian bermain," mulainya tersenyum, penuh antusias. "Aku tidak ingin menjelaskannya dengan detail karena kalian pasti mengerti dengan baik permainan ini." Sehun hanya bisa membenarkan jasnya ketika pria itu mulai memandang satu persatu tamunya. Berusaha terlihat, seperti yang lainnya. "Temukan diamondku, lalu aku akan mengabulkan satu permintaanmu."
Semua orang akhirnya membubarkan diri. Ada yang begitu antusias, ada pula yang biasa saja menghadapinya seperti tidak perduli. Sehun adalah salah satu yang tidak pernah memperdulikan game dalam sebuah pesta. Mau bagaimana pun pria itu tidak akan membuang energinya hanya untuk permainan bodoh seperti ini setiap tahun. Tapi demi perusahaannya yang hampir terjun bebas, ia mau tidak mau harus memainkan permainan ini.
"Mau mencarinya bersama?" tawar Song Qian tulus. Ia menemukan kesan yang bagus saat mengenal Sehun. Lantas dengan senang hati wanita cantik itu menawarkan sesuatu yang mungkin bisa membantunya. Lagipula tidak akan rugi baginya membantu seseorang yang luar biasa di pesta.
Tapi Sehun menyayangkannya, ia tidak ingin melibatkan banyak orang disini. Ia sudah punya kerja keras Jongin dan juga Baekhyun yang mungkin sudah menunggunya. Maka untuk sebuah ending yang tepat, konflik baru tidak dapat ditambahkan. "Maafkan aku, aku harus mencari adikku."
"Oh, baiklah," jawab wanita china itu sedikit kecewa. Ia pun tidak bisa melakukan apapun ketika Sehun benar-benar pergi meninggalkannya.
Sehun berlarian mendahului banyak orang yang ia temukan di koridor dan tangga. Ia sangat berusaha untuk tidak menabrak siapapun. Melewati semua anak tangga dengan damai lalu mendial Baekhyun dengan cepat.
"Ruang kosong di dekat balkon," seru Baekhyun tidak tahu tempat. Sehun sendiri hampir tuli mendengar pria itu memekik padanya. Lalu biarkan ia menebak, pria brunette itu pasti tengah kesal karena lama menunggunya.
Sehun kemudian mempercepat langkahnya. Setengah berlari ia melewati beberapa orang yang sudah menyebar. Beberapa ada yang berteriak histeris karena ketakutan. Ada pula yang sudah lari terbirit-birit dengan gaunnya. Sehun pun menemukan sosok aneh di koridor. Menghadangnya dengan pakaian kotor dan riasan yang menyeramkan. Sehun tidak terkejut akan itu, ia tak pernah percaya pada hantu atau semacamnya. Satu-satunya yang ia takuti di dunia ini hanyalah angka sahamnya yang jatuh ke jurang.
Sosok aneh itu hanya mematung melihatnya. Terdiam seperti patung dan tidak ingin melakukan apapun. Maka Sehun hanya melewatinya dengan tenang. Namun saat Sehun hampir selesai dengan melewatinya, sosok itu bergerak menarik lengannya.
"Aish, kau membuatku terkejut!" Sosok seram itu masih menahan lengannya. Sehun pun berubah kesal karenanya. "Lepaskan, atau aku melemparmu dari balkon itu?"
Sosok itu masih terdiam. Masih berusaha untuk menjadi seram, atau mungkin saja harga diri hantu itu menjadi menciut karena diremehkan. Entahlah, yang jelas Sehun kehilangan waktunya yang berharga hanya karena hantu palsu.
"Sial!" umpatnya yang kemudian menarik hantu itu untuk dilemparnya ke lantai. Tapi ternyata tak semudah ekspektasinya. Tubuh hantu itu memang jatuh di dekat kakinya, tapi sialnya ia ikut tersungkur karena tersandung tubuh besar yang dilemparnya. Maka tak butuh waktu lama sampai Sehun bangkit dari sana dan menantang hantu palsu itu untuk berduel. "Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau ingin aku takut padamu?"
Hantu itu pun mengangguk. Sehun yang kesal pun mengambil nafas panjangnya. Bersiap untuk berteriak sampai urat lehernya pecah. "What the fuck! Kau pikir aku apa sialan?! Pergilah ke neraka─" Sehun melatunkan sumpah serapahnya lalu menendang hantu itu pergi jauh-jauh. Tawa hantu itu kemudian menggema di seluruh koridor. Sehun pun bersumpah akan menemukan sosok itu suatu hari demi balas dendam.
Entah sejak kapan, kini Baekhyun sudah berdiri di belakangnya. Pria mungil itu melipat lengannya di dada dengan wajah penuh heran. "Kau takut pada hantu?"
"No!" bantah Sehun tegas merapikan jasnya. Ia tidak mungkin menurunkan harga dirinya hanya karena takut dengan mahluk yang sebenarnya tidak ada.
"Lalu kenapa kau berteriak sampai telingaku sakit?" tanya Baekhyun membuka topinya.
Sehun berdecih kesal. "Mana diamondnya?"
"Sungguh tidak tahu diri, aku mempertaruhkan harga diriku untuk ini. Dan sekarang kau berlaku tak sopan padaku?" omel Baekhyun merogoh sakunya. Meraba banyak sakunya demi permata merah yang ia sembunyikan sejak tadi. "Dimana Luhan?"
Sehun berubah kusut. Tangannya membersihkan pakaiannya yang berkelas dari debu-debu yang menempel. Lagi pula siapa yang mau muncul di atas panggung dengan penampilan kacau seperti ini? "Tentu saja melakukan tugasnya." Dan ia tidak akan perduli pada Luhan. Ia hanya perduli pada tugasnya.
"Aku bertanya posisinya, bodoh." Baekhyun hampir melempar Sehun dengan bongkahan permata besar di genggamannya. Hanya saja ia cukup waras untuk tidak merusak benda mahal itu karena bosnya yang bodoh. Dan sekarang bosnya hanya menggeleng sambil menjulurkan tangannya, meminta permata yang susah payah diambilnya. "Kau tidak tahu?" Baekhyun melotot kesal. "Apa yang kau kerjakan sejak tadi? Kau bahkan tidak tahu dimana Kris─"
"Berikan benda itu," titah Sehun yang tak tahu diri. Ia mungkin bukan bosan disalahkan, hanya saja ia merasa kesal karena tidak pernah dihormati sebagai atasan.
Baekhyun meredam kekesalannya. Merasa tak pernah salah, ia pun menyerahkan permata itu lalu menabrak lengan Sehun kasar. "Aku bersumpah akan mematahkan lehermu jika terjadi sesuatu dengannya." Matanya menyalang tajam. Menembus jiwa Sehun yang berkobar penuh api.
e)(o
Rembulan masih bersinar lembut di samping bintang. Masih merdu angin bertiup membawa dedaunan dan ranting ke lantai dansa. Luhan masih mendengar serangga malam yang mendengung di antara ia dan Kris. Masih membuat jarak dengan jurang, bahkan setelah keputusannya diangkat.
Kris tertawa seperti pria gila di rumah sakit jiwa. Menertawakan lelucon kering tentang ia yang dicampakkan tunangannya. Dan sayangnya Kris mudah percaya bahwa Luhan benar-benar tunangan yang ditunggunya. "Kau pasti bercanda."
"Aku tidak sedang bercanda," sanggah Luhan memberikan isyarat jujur dari matanya. Malangnya Kris yang tampan harus ditipu diusia 28 tahun. Luhan bukannya ingin jahat, ia hanya memberikan hadiah dari Sehun untuknya. "Aku tidak bisa mencintaimu."
"Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?" Kris menyeringai. Rautnya berubah dingin menembus malam. Luhan pun baru menyadari dimana letak buruknya seorang Kris lewat sorotnya yang kelabu. "Jika pertunangan kita hilang, kerja sama perusahaan juga akan hilang."
"Aku sungguh─"
Kris tersenyum kecil. Ia beranjak lalu menyentuh dagu Luhan lembut. Membawa wajah kecil Luhan untuk mendongak dan menatap kedua matanya yang begitu ingin meyakinkannya. Pria itu nyatanya tengah menyalurkan banyak permohonan dengan kilatan matanya, namun tidak benar-benar mau rendah diri. "Pikirkan baik-baik, darling. Kalian hanya membutuhkanku," pesannya penuh arti.
Luhan tidak bisa mengatakan apapun kala Kris sudah mencuri segala atensinya. Kepalanya lebih dulu pusing dan ia tidak yakin dengan apa yang terjadi padanya. Maka sebelum tubuh tinggi Kris berbalik dan melenggang dengan panjang meninggalkannya, Luhan hanya bisa menatap sosok itu dengan tidak berdaya. Luhan pun bergidik ketika Kris pergi dengan seringaiannya. Entah mengapa ia berubah takut ketika melihat punggung Kris yang semakin menjauh darinya. Punggung itu seakan penuh bayangan hitam. Bersiap menelan siapa saja.
Tak sampai disitu, Luhan yang baru saja mendapatkan tekanan pada bilik jantungnya, kini hampir terperanjat karena Sehun tiba-tiba saja muncul di belakangnya. Jantungnya memompa terlalu cepat hingga ia harus menekan dadanya sendiri. Namun setidaknya ia lega, sosok itu bukanlah orang suruhan Kris yang mungkin saja diperintahkan untuk membunuhnya karena tengah kesal.
"Mereka menunggu," tutur Sehun memegang gelas yang setengah penuh dengan cairan berwarna merah pekat.
Luhan menekan keningnya. Kepalanya tiba-tiba saja merasa lelah untuk berfungsi. "Jadi sudah selesai?"
"Sesuai rencana. Kecuali kau membuat Kris kesal hari ini dan itu akan sulit," lirih Sehun mencoba membuka ikatan dasinya. Postur tubuhnya yang tegap masih berdiri di dekat air mancur─dengan lipatan jas terselip di lengan. Ia pun sepenuhnya mengukuhkan diri menjadi orang paling menawan dengan lipatan lengan kemejanya yang dinaikkan hingga bawah siku. Memperlihatkan lengannya yang kokoh dan juga sarat jemarinya untuk menggenggam.
Luhan menggelengkan kepalanya. Ia sepenuhnya menolak untuk memasukkan Sehun ke dalam alam pikirannya. "Aku sudah membuatnya kesal," tuturnya merampas gelas dari Sehun lalu meminumnya tanpa aba-aba. Ia juga tidak bisa berbohong jika ia butuh minum untuk meredakan rasa terkejutnya akan sikap Kris.
Sehun sebenarnya tidak keberatan dengan minumannya yang dirampas. Suasana hatinya sedang bagus dan ia bisa minum sesuatu yang lebih berkelas selain wine di rumahnya nanti. "Jadi kau sudah mengenalnya?"
Luhan masih memperhatikan gerak-gerik Sehun di bawah cahaya bulan. Pria itu masih berkutat dengan dasinya, tak meliriknya sedikitpun. Tapi tak butuh waktu lama sampai Luhan menyaksikan bayangan Sehun semakin terbias di matanya. Kepalanya pun terasa berputar ketika ia menyerahkan kembali gelasnya. "Dia berengsek. Tak jauh berbeda denganmu."
Sehun tertawa mendengar Luhan mengejeknya. Pria pucat itu bahkan tidak sadar jika ia telah menerima gelasnya yang kosong. "Kau pasti mabuk."
"Tidak," sanggah Luhan menggenggam kepalanya sendiri. Seolah berusaha mencegahnya terlepas, karena demi apapun kepalanya kini terasa semakin berat.
Sehun sedikit melirik gelas kosongnya. Padahal ia baru saja menerima segelas wine langka setelah dipuji menang di dalam pesta. "Kau bahkan belum minta maaf padaku. Beraninya kau mengataiku berengsek," tuntut Sehun membuang gelas itu ke dalam kolam air mancur. Masa bodoh pada pelayan yang mencari gelas mahal yang ia bawa, toh mereka hanya akan kehilangan satu gelas.
Luhan berdecih. "Kau yang seharusnya minta maaf padaku. Kau bahkan tidak tahu betapa sulitnya berpura-pura menjadi seorang wanita."
"Mau berapa kali aku mengatakannya padamu untuk─"
"Benar, kau membayarku untuk ini. Aku harus menuruti aturanmu dan selalu mendengarkanmu. Tapi pernahkah kau berpikir jika suatu saat aku memilih berhenti?" Luhan memberikan tatapan kosongnya pada Sehun. Berusaha sebaik mungkin untuk tidak kehilangan kesadarannya jika benar ia mabuk. "Atau kau pernah berpikir jika suatu saat aku menghilang darimu atau membocorkannya pada Kris tentang rencanamu ini?"
Sehun menarik dalam-dalam tarikan nafasnya. Ia sepenuhnya tidak ingin murka saat ini. Tidak, sampai ia merayakan kemenangannya sendiri. "Berapa gelas yang kau minum?"
Luhan terkekeh, "Apa yang akan kau lakukan jika aku membocorkannya pada Kris?"
Sehun memutar matanya malas. Langkahnya ia bawa ke hadapan Luhan dengan sunyi. Jemarinya yang bebas dengan lancang menyampirkan helaian rambut Luhan pada telinganya. "Jangan main-main denganku," bisik Sehun tepat di telinga Luhan. Pria pucat itu kemudian mendapati bau alkohol yang kuat dari lawan bicaranya. Bukan red wine yang baru saja diminumnya, tapi cocktail lainnya juga.
Luhan lalu mematung dengan kakinya. Matanya yang berkunang-kunang baru saja memuji bagaimana indahnya wajah Sehun menghias pikirannya. Otaknya kemudian mulai kacau dengan bayangan-bayangan kelam hidupnya. Berbaur menjadi satu lalu berputar dengan satu poros. Lantas saat Sehun memilih menjauh darinya, genggaman kecil Luhan sudah menahannya.
Sehun berbalik dengan wajah risihnya. Ia bersumpah tak akan meladeni Luhan jika saja pria rusa itu ingin menantangnya berceloteh karena mabuk. Tapi seketika wajah Sehun menjadi sangat terkejut saat Luhan menarik kerah kemejanya yang menganggur. Membuat pria pucat itu menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah polos Luhan. "Kau selalu banyak bicara," gumam Luhan menatapnya begitu kosong sekaligus tidak terbaca. Lalu didetik berikutnya, wajah itu dengan cepat mendekatinya. Tidak pernah terpikirkan di kepala Sehun jika Luhan berani menciumnya. Tak akan pernah, bahkan jika bumi terbelah menjadi dua. Namun disinilah ia, dengan Luhan yang berhasil menciumnya tepat di bibir.
Ciuman singkat itu membuat Sehun sukses tidak bergerak. Alisnya bertaut ketika Luhan menjauh darinya tanpa kata dan juga kalimat yang bagus untuk menjelaskan aksinya. "Kau lancang sekali," decih Sehun berubah kesal. Ia tentu tidak bisa menerima jika Luhan tengah meremehkannya.
Sehun kemudian meraih lengan Luhan kasar. Membawa tubuh kecil itu kembali mendekat padanya. Luhan yang terlempar padanya mulai mendorongnya dengan kepala yang kian kacau. Tangan kecilnya mulai mengayun pada bahunya, hendak mendorongnya dengan tenaga yang ia punya. Sehun yang murka semakin mencengkaram lengannya. Tak perduli jika kuku-kuku jarinya mungkin menembus pergelangan kecil tak berdosa itu.
Luhan meringis menahan sakit di pergelangan kecilnya. Tapi Sehun yang tidak memiliki rasa iba malah menangkup wajahnya, membungkam bibirnya tak kalah kasar. Kesadaran Luhan semakin kacau. Pria bermata rusa itu semakin mendorong Sehun untuk berhenti melecehkannya. Namun Sehun tidak pernah ingin kalah dan ia tidak akan main-main saat kesal. Maka Sehun tak mengizinkan Luhan mengumpat seenaknya. Ia meraup semua oksigen yang Luhan butuhkan sampai pria kecil itu sesak karenanya.
"Kau harusnya tidak bermain-main denganku," tutur Sehun yang kemudian menatap tajam manik lawannya. Ia mengusap bibirnya sebelum membenarkan kemejanya yang kusut. Sehun kemudian berbalik meninggalkan Luhan yang kini terduduk lemas mengatur nafasnya yang kacau.
"Sialan," umpat Luhan yang baru saja keluar dari alam bawah sadarnya. Sedangkan sorotnya masih menatap punggung Sehun yang semakin menghilang ke dalam kegelapan.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
Hola, kita ketemu lagi ^^
Sebenernya hari ini aku mau ngundurin jadwal buat nge up. Sumpah aku gak pede sama cerita di chap ini. Entah kenapa scene untuk adegan anunya gak bisa kubuat yang lebih gigit/?. Maksudnya, aku pengen bilang aku gak anu buat adegan anu itu. Duh gimana ya bilangnya?
Btw aku masih mengerjakan sesuatu di real life-ku dan jujur itu belum selesai. Tapi karena hari ini lagi bahagia 'Kyungsoo 2nd win' #ngertikan? Apapun itu, aku ingin Jongin bahagia... Seenggaknya malem minggu besok sama-sama jomblo sama Jongin, biar seru gitu.
Okelah, mataku sudah kunang-kunang kek Luhan. Aku mau makasih lagi sama yang masih nungguin ff ini, apalagi yang tetep nulis review tiap kali aku up. Makasih, kalian membuatku kuat. Aku sayang kalian :')
see you next chap!
