CHAPTER 8

Ryeowook terbaring lemas di kamarnya. Sebenarnya itu bukan kamarnya seorang. Rumah kecilnya yang hanya terdiri atas dua ruangan memaksa semua anggota keluarganya tidur di satu ruangan yang sama. Appa, eomma, noona, dan Ryeowook biasa tidur berdesakan di ruangan sempit yang disebut dengan kamar ini.

Ini hari kedua Ryeowook terbaring sakit. Badannya masih demam dan ia terus-menerus bersin. Dua hari yang lalu ia pulang dalam keadaan basah kuyup. Eomma-nya sampai memarahinya karena nekad pulang dengan basah kuyup dan tidak menunggu hujan berhenti.

Tak hanya seragam sekolahnya, buku-buku pelajaran yang disimpan dalam tas kainnya pun juga basah. Beruntung eomma dan appa Ryeowook telaten mengeringkan buku-bukunya. Ryeowook masih bersyukur buku-bukunya masih bisa dibaca dan diselamatkan meski kondisinya kini keriting seperti mie ramen kering yang belum dimasak.

Siang ini Ryeowook sendirian saja di rumah. Appa, eomma, dan noona-nya sudah berangkat bekerja sejak pagi tadi. Sebelum berangkat, eomma sudah menyiapkan sup panas yang berisi sawi dan daun bawang serta nasi lembek di dalam panci. Eomma juga sudah menyediakan obat yang harus diminumnya setelah makan.

Saat-saat sendiri seperti ini membuat Ryeowook banyak merenung dan melamun. Ucapan-ucapan pedas dan menyakitkan dari Han Kaisoo terus terngiang-ngiang di telinganya. Seakan-akan Han Kaisoo selalu membisikkan kata-kata itu di telinganya setiap waktu. Ryeowook bahkan bergidik saat mengingat kejadian malam itu di atap sekolah.

Selama ini Ryeowook selalu berdoa agar ia tak terlibat masalah dengan Han Kaisoo dan teman-temannya. Ia hanya ingin menghabiskan tiga tahun sekolahnya di SMA dengan tenang.

Ia akan menuruti dan melakukan apa saja yang Han Kaisoo suruh supaya ia merasa aman selama tiga tahun ini. Han Kaisoo dan teman-temannya sangat berkuasa. Orang tua mereka pun juga orang yang sangat berpengaruh. Kim Ryeowook tak seharusnya membuat masalah dengan orang-orang seperti mereka. Mau tunduk dan takluk adalah cara terbaik baginya untuk bertahan bersekolah di Sajon.

Kim Ryeowook merasa menyesal sekarang. Selama beberapa minggu ia dekat dengan Cho Kyuhyun, membuatnya sedikit lupa tentang siapa dirinya.

Mulanya ia merasa senang ada Kyuhyun yang selalu membela dan melindunginya. Namun, kemarin, ucapan Han Kaisoo bagaikan tamparan keras baginya. Ryeowook tak berdaya di hadapan Han Kaisoo. Nyalinya terbang entah ke mana saat ia sendirian berhadapan dengan Han Kaisoo. Ia bahkan tak mampu berbicara sepatah kata pun untuk membela dirinya. Ia benar-benar pengecut.

Air mata Ryeowook menetes mengingat hal itu. Yah, dia memang seorang pecundang dan pengecut. Dua kata itu selalu didaraskan Ryeowook dalam otaknya supaya ia tahu siapa dirinya dan bagaimana ia harus bersikap.

Ia bukan Cho Kyuhyun yang candang. Ia bukan Cho Kyuhyun yang bisa mempertahankan diri. Ia juga bukan Cho Kyuhyun yang berani melawan siapa pun yang ingin meruntuhkan harga dirinya.

Mengingat Cho Kyuhyun membuat hati Ryeowook semakin teriris. Ia masih tidak percaya temannya itu tega membuatnya seperti ini. Ia harus menanggung balasan Han Kaisoo yang tugas Biologinya mendapat nilai D hanya karena ulah Kyuhyun.

Sungguh, Ryeowook ingin berteriak pada Han Kaisoo kalau bukan ia yang membuat nilainya jatuh. Ia ingin meneriakkan bahwa Kyuhyunlah yang sudah membuat nilai Han Kaisoo jelek. Tapi, lidahnya yang pengecut seakan kelu. Ia tak mampu membela dirinya sendiri untuk suatu kesalahan yang tidak dilakukannya.

Pantas saja minggu lalu Kyuhyun berkata padanya, ia ingin meminta maaf pada seseorang karena telah membuat suatu kesalahan fatal. Pantas saja Kyuhyun ragu apakah orang itu mau memaafkan kesalahannya atu tidak. Sekarang Ryeowook tahu siapa orang yang membuat Kyuhyun harus minta maaf. Orang itu adalah dirinya sendiri, Kim Ryeowook.

Ryeowook berbaring menatap langit-langit kamar yang hanya berjarak kurang dari dua meter dari tempatnya berbaring sekarang. Langit-langit di rumahnya memang rendah, serendah derajad dan harga dirinya saat ini.

Jika esok ia sudah masuk sekolah lagi, entah apa yang akan ia katakan pada Kyuhyun. Mungkin Ryeowook akan memarahinya, mungkin ia akan mendiamkannya, atau tak memedulikannya. Ryeowook masih merasa marah pada Kyuhyun. Permintaan maaf saja mungkin tak cukup untuknya. Ryeowook butuh waktu untuk menenangkan diri dan meredakan rasa marah dan kecewanya pada Kyuhyun.

Hari ini Ryeowook sudah merasa lebih baik dari dua hari sebelumnya. Ia merasa sudah cukup beristirahat di rumah selama dua hari untuk memulihkan kondisinya. Ryeowook tak mau sampai tertinggal pelajaran hanya gara-gara terlalu lama beristirahat di rumah.

Ryeowook berjalan menyusuri jalanan beraspal yang selalu dilaluinya setiap hari. Ia selalu berjalan sendirian tanpa ada teman yang menyertainya. Dulu ia seringkali berharap bisa memiliki teman untuk saling berbagi dan melengkapi.

Harapannya sempat tumbuh saat ia mulai dekat dengan Kyuhyun. Namun, setelah tahu apa yang dilakukan anak itu padanya, Ryeowook merasa gamang. Ia masih merasa kecewa pada Kyuhyun. Ia merasa Kyuhyun menusuknya dari belakang. Melakukan sesuatu tanpa ia ketahui hingga ia yang harus menanggung kesengsaraan akibat ulahnya.

Sekolah masih sangat sepi saat Ryeowook datang pagi itu. Ryeowook memang selalu datang pagi. Ia suka keadaan sekolah yang tenang dan sepi saat pagi hari. Ryeowook duduk di bangku ujung paling depan seperti biasanya. Ia duduk dalam diam di bangkunya itu.

Ryeowook masih belum tahu apa yang akan dilakukannya saat bertemu dengan Kyuhyun nanti. Mungkin dia akan marah, menumpahkan seluruh kekesalannya dengan mengomel panjang lebar, atau cukup dengan mendiamkannya saja karena ia masih merasa sakit hati atas ulah Kyuhyun padanya.

Satu per satu teman sekelas Ryeowook mulai berdatangan. Suasana kelas mulai ramai. Ryeowook menghabiskan waktu menunggu bel berbunyi dengan membaca buku yang dipinjamnya dari perpustakaan.

"Kau sudah masuk? Lama sekali kau absen," ujar sebuah suara membuyarkan konsentrasi Ryeowook pada buku yang sedang dibacanya.

Ryeowook mendongak. Dilihatnya Kyuhyun yang berdiri di sebelahnya sambil meletakkan tas ranselnya di atas meja di sebelah Ryeowook.

Hati Ryeowook langsung diliputi perasaan marah saat menatap wajah Kyuhyun. Wajah tampan dengan senyum yang seakan-akan menunjukkan raut muka tanpa dosa. Kelihatannya Kyuhyun tak merasa sudah membuat hidup seseorang menderita karena ulahnya.

Ryeowook tak menjawab sapaan tanya Kyuhyun itu. Ia menekuk wajahnya dan kembali menekuni bukunya. Ia masih merasa kesal pada Kyuhyun. Perasaan kesal itu pula yang membuatnya enngan menatap dan meladeni Kyuhyun seperti biasanya.

Kyuhyun mengeryitkan keningnya. Ia heran karena tak biasanya Ryeowook bersikap tidak acuh padanya.

"Ada apa?" tanya Kyuhyun yang merasa ganjil dengan kelakuan Ryeowook hari ini.

Ryeowook masih mengacuhkan Kyuhyun. Ia tetap menekuri kalimat demi kalimat yang tercetak di atas kertas buku tebal yang terhampar di mejanya. Sebenarnya Ryeowook tak sungguh-sungguh membaca buku itu. Sejak Kyuhyun mulai bersuara menyapanya, pusat pikirannya tak lagi tertuju pada buku yang dibacanya itu.

Kyuhyun duduk di atas kursi di samping Ryeowook. Rasa heran masih menggelayut di dalam batinnya. Ryeowook biasanya menunjukkan wajah cerah saat melihatnya. Ryeowook juga tak pernah mengabaikan sapaan pagi darinya.

"Kau kenapa?" tanya Kyuhyun akhirnya.

Ryeowook masih tetap diam tak mengacuhkan Kyuhyun.

Lama-lama Kyuhyun merasa kesal karena tak diacuhkan Ryeowook. Ingin sekali dia mengambil paksa buku yang ditekuri Ryeowook itu supaya Ryeowook tak mengacuhkannya.

"Kau kenapa, sih? Diam saja tak memedulikanku," kata Kyuhyun sebal.

Kyuhyun memang selalu merasa kesal jika sudah tak diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya.

Ryeowook mengalihkan pandangannya dari bukunya itu dan beralih menatap Kyuhyun. Dilihatnya anak itu sudah mulai merengut. Matanya yang biasanya bulat cemerlang kini terlihat keruh dan mulai menyipit. Kyuhyun terlihat menyeramkan kalau seperti itu.

Hei, bukankah saat ini seharusnya Ryeowook yang lebih berhak marah. Seharusnya Kyuhyun paham mengapa Ryeowook tak memedulikannya. Seharusnya Kyuhyun mengerti mengapa Ryeowook terlihat tak mau meladeninya sekarang.

Seharusnya Ryeowook yang merasa kesal. Seharusnya Ryeowook yang merasa sebal. Namun, nampaknya Kyuhyun tak juga bisa menangkap kesan tersirat dari perilaku Ryeowook hari ini padanya.

Tak mendapat respon seperti yang diharapkan dari Ryeowook, Kyuhyun pun duduk diam di kursinya. Kyuhyun tak menghiraukan juga Ryeowook yang nampaknya mulai bersikap dingin padanya. Masa bodoh dengan Ryeowook. Toh, bukan dia juga yang membuat suasana mendung sepagi ini.

Sudah lebih dari tiga minggu perang dingin terjadi antara Kyuhyun dengan Ryeowook. Kyuhyun sudah segan menanyai Ryeowook apa masalahnya. Anak itu selalu saja diam, bahkan melengos saat bertatap muka dengannya. Kyuhyun sudah jengah menghadapi Ryeowook yang sekarang sepertinya tak mau kenal lagi dengannya.

Pun demikian halnya dengan Ryeowook. Ia kembali bersikap sebagai Ryeowook yang pendiam dan tertutup seperti dulu. Kini ia duduk sendiri di bangkunya. Kyuhyun bahkan sudah pindah tempat duduk bersama Ahn Jae Hyun sehari setelah perang dingin itu dimulai.

Saat istirahat siang, Ryeowook juga jarang terlihat bersama Kyuhyun. Hari-harinya semakin sepi sekarang. Tak ada lagi Kyuhyun yang selalu mengajaknya bicara dan bercanda. Tak ada lagi Kyuhyun yang menyemarakkan hari-harinya.

Entah mengapa Ryeowook merasa hari-harinya kini semakin muram. Dulu, sebelum ia berkawan dengan Kyuhyun, Ryeowook sudah akrab dengan yang namanya kesepian dan kesendirian. Ryeowook sudah terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Setelah Ryeowook mengenal Kyuhyun, semuanya berubah. Ryeowook merindukan hari-harinya bersama Kyuhyun.

Hari ini, Ryeowook menghabiskan waktu istirahat siangnya di perpustakaan. Ia menenggelamkan diri di tumpukan buku-uku untuk membunuh waktu. Dalam hati ia selalu mengulang-ulang hal yang sama. Bahwa ia mampu melewati semua ini. Bahwa ia dapat menjalani hari-harinya tanpa Kyuhyun dan mungkin juga tanpa orang lain. Walau kenyataannya, dalam hatinya menjerit pilu.

Dari jendela besar perpustakaan, Ryeowook dapat melihat seluruh lapangan tengah sekolahnya. Buku-buku tebal yang tadi dipilihnya tertumpuk tak tersentuh di atas meja. Ryeowook menatapi kumpulan anak-anak yang asyik bermain dan bersenda gurau di lapangan.

Hari ini cuaca cukup cerah meskipun sedikit dingin. Langit tak mendung seperti biasanya. Anak-anak banyak yang menghabiskan waktu di luar ruangan setelah makan siang. Mata Ryeowook tertumbuk pada sesosok tubuh yang dikenalnya. Sosok itu lincah memainkan bola berwarna oranye dan memasukkanya ke dalam ring basket yang ada di lapangan. Ia tertawa lepas menikmati permainan bersama dua orang lainnya yang tidak Ryeowook kenal.

Sosok yang dikenal Ryeowook itu, Cho Kyuhyun, tampaknya sedang senang menikmati pemainan. Sepertinya ia sangat mengenal akrab kedua orang yang sedang bermain basket dengannya.

Pandangan Ryeowook semakin menerawang menatapi pemandangan itu. Kyuhyun kelihatannya tak merasa kehilangan dirinya. Ketidakhadiran Ryeowook dalam hari-hari Kyuhyun nampaknya tak memberi efek apa-apa. Lain sekali dengan Ryeowook. Ryeowook merasa kehilangan wujud Kyuhyun dalam hidupnya.

Tak bisa dipungkiri, kehadiran Kyuhyun memberi kesan tersendiri di hati Ryeowook. Ryeowook bahagia saat bersama-sama Kyuhyun. Ryeowook lebih semangat pergi ke sekolah setiap harinya karena Kyuhyun. Karena Kyuhyun teman satu-satunya yang Ryeowook miliki. Ryeowook menyadari betapa berharga dan berartinya kehadiran seorang teman dalam hidupnya.

Bersama Kyuhyun, Ryeowook tak lagi merasa kesepian. Bersama Kyuhyun, Ryeowook tak lagi akrab dengan kesendirian. Ryeowook bisa tersenyum dan sedikit melupakan beban hidupnya bila bersama Kyuhyun.

Kyuhyun seperti rembulan di malam yang gelap. Ia seperti hujan di tengah musim panas yang menyengat. Kehadirannya membuat hidup Ryeowook lebih berwarna, lebih bermakna.

Seringkali Ryeowook menyalahkan dirinya sendiri mengapa ia dulu begitu mudah mengabaikan Kyuhyun. Andai saja dulu ia langsung mengatakan pada Kyuhyun masalah apa yang terjadi pada dirinya, tentu akibatnya tak akan seperti ini. Semarah-marahnya Ryeowook, ia tetap merindukan kehadiran kawan baiknya itu.

Mungkin Kyuhyun melakukan itu semua bukan karena semata-mata ingin mencelakainya. Kyuhyun melakukannya justru karena ia peduli pada Ryeowook. Kyuhyun selalu marah kalau Ryeowook mudah menyerah. Kyuhyun mudah kesal kalau Ryeowook tak punya keberanian.

Baru sekarang Ryeowook menyadarinya. Baru sekarang Ryeowook mengerti. Dan saat Ryeowook mulai memahami, Ryeowook baru sadar kalau Kyuhyun sudah jauh darinya. Kyuhyun bukan katak dalam tempurung seperti dirinya. Kyuhyun anak yang ceria dan punya banyak teman. Kyuhyun bahkan terlihat senang duduk sebangku dengan Ahn Jae Hyun. Kyuhyun juga terlihat bahagia bermain basket dengan teman-temannya yang lain.

Ryeowook menyesal sekarang. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Kyuhyun, tapi Ryeowook tak tahu caranya. Ryeowook tak tahu bagaimana memulainya. Ryeowook hanya bisa berharap ada keajaiban yang datang padanya yang bisa membuat mereka kembali dekat dan bersahabat seperti dulu.

Jika Ryeowook merasa sedih, lain halnya dengan ketiga orang teman sekelas Ryeowook yang merupakan penguasa kelas. Mereka adalah Han Kaisoo, Shin Dong Min, dan Lee Kwang So. Melihat Kim Ryeowook hanya sendiri tanpa adanya Cho Kyuhyun membuat mereka merasa senang.

Han Kaisoo terutama yang lebih merasa senang. Ia senang karena bisa menindas Ryeowook lagi. Ia senang karena bisa mempermainkan Ryeowook lagi. Seperti tempo hari, mereka bertiga menyembunyikan tas Ryeowook di dalam gudang saat istirahat siang.

Ia dan kedua temannya merasa senang mendapat hiburan siang hari, melihat Ryeowook yang kelimpungan mencari tasnya. Mereka bahkan menikmati Kim Ryeowook yang dihukum berdiri di lorong luar kelas karena tidak bisa menunjukkan PR Fisikanya pada Ma Dong Wook Songsaengnim. Mereka tak akan bisa mengerjai Ryeowook seperti itu selama anak itu masih dekat dengan Cho Kyuhyun.

"Akhirnya badut kita kembali lagi," ujar Han Kaisoo di ruang ganti setelah pelajaran Olahraga berakhir.

Han Kaisoo memasukkan kaus olahraganya yang basah oleh keringat ke dalam kantung plastik. Ia berganti pakaian dengan seragam harian setelah membersihkan diri dengan kedua rekannya.

"Kau benar. Kalian lihat wajahnya kemarin saat Ma Songsaengnim memarahinya? Aku sampai ingin tertawa keras melihatnya. Perutku sampai merasa sakit karena menahan tawa," kata Lee Kwang So mengiyakan ucapan Han Kaisoo sebelumnya.

"Anak itu memang perlu sering-sering diberi pelajaran supaya ingat siapa dirinya. Kita harus sering mengingatkannya supaya ia tak besar kepala. Rasanya peringatan kita tempo hari sudah membuatnya sadar siapa dirinya," kata Shin Dong Min menambahkan.

"Kau benar. Anak itu tak boleh dibiarkan berbuat sesuka hati. Ia sudah mengambil uang kita untuk bisa bersekolah. Tikus got macam dia tak layak untuk bersekolah di Sajon. Ia mengotori sekolah kita saja. Dia hanya pengemis tak berguna. Sudah selayaknya memang dia menunjukkan sedikit rasa hormat dan terima kasih pada kita yang ikut membiayai sekolahnya," kata Han Kaisoo kejam.

"Jadi, kita melakukan hal yang bear saat memperingatkannya di atap sekolah beberapa minggu yang lalu. Ia sudah mulai berani bertingkah semenjak dekat dengan Cho Kyuhyun. Sekali waktu kita memang harus memerinya pelajaran supaya ia tidak melupakan kodratnya di sini," kata Shin Dong Min.

Mata Shin Dong Min berkilat senang saat ia membayangkan akan sering-sering memberi Kim Ryeowook peringatan. Ia suka menindas orang yang lemah. Suatu hiburan tersendiri baginya melihat orang tunduk dan takhluk padanya.

"Kau benar. Sekarang kulihat ia tak begitu dekat dengan Cho Kyuhyun. Baguslah kalau begitu. Kim Ryeowook itu memang harus dijauhkan dari siapa saja. Jangan beri ia ruang gerak supaya ia tak besar kepala!" kata Han Kaisoo,"Ayo, pergi, yang lain sudah kembali ke kelas, tinggal kita saja yang masih berada di sini!" ajak Han Kaisoo pada kedua sekutunya.

Sepeninggal Han Kaisoo dan teman-temannya, seseorang keluar dari dalam toilet yang dekat dengan loker Han Kaisoo. Orang itu, Ahn Jae Hyun, mendengar semua yang dikatakan Han Kaisoo tentang Kim Ryeowook.

Ahn Jae Hyun amat geram mendengar ucapan jahat Han Kaisoo dan teman-temannya itu. Selama ini ia memang merasa heran dengan Cho Kyuhyun dan Kim Ryeowook. Mereka yang biasanya terlihat akrab kini terlihat saling menjauh dan tak peduli. Bahkan Kyuhyun sampai berpindah tempat duduk dan duduk di dekatnya.

Kini ia tahu apa sebabnya. Ternyata Han Kisoo yang menekan dan mengisolasi Ryeowook dari pergaulan dengan teman-temannya yang lain. Ahn Jae Hyun bergegas meninggalkan ruang ganti. Ia harus segera mencari Cho Kyuhyun. Ia harus menceritakan semua yang didengarnya hari ini pada Cho Kyuhyun.

Hari ini sekolah pulang lebih awal. Meskipun awal, tapi tetap saja mereka pulang menjelang senja, tapi lumayanlah daripada pulang menjelang malam seperti hari-hari biasanya.

Kyuhyun tidak langsung pulang ke rumah. Ia masih duduk-duduk di kedai ramen di ujung jalan dekat sekolahnya. Hari yang dingin seperti ini memang nikmat dilewati dengan semangkuk ramen panas.

Kyuhyun bukannya ingin menikmati ramen saja di kedai itu. Ia sebenarnya tengah menunggu seseorang. Hari ini ia bertekad akan menyelesaikan masalahnya dengan Kim Ryeowook.

Pagi tadi setelah pelajaran Olahraga, Ahn Jae Hyun menyeretnya ke ujung selasar lantai dua. Ia bahkan mengabaikan umpatan dan protesan Kyuhyun karena diseret tanpa perikemanusiaan.

Di tempat yang dirasa cukup sepi, Ahn Jae Hyun menceritakan apa yang ia dengar di ruang ganti tentang Kim Ryeowook. Kyuhyun kaget tentu saja mendengar cerita itu. Ia juga amat marah saat mendenngar apa yang dilakukan Han Kaisoo dan teman-temannya pada Ryeowook.

Ia ingin menemui Ryeowook saat itu juga, namun setelah dipikirnya bahwa itu bukan hal yang baik untuk Ryeowook, maka Kyuhyun menahan keinginannya itu sampai saat ini. Ia tak mau Ryeowook menjadi bulan-bulanan Han Kaisoo karena dirinya.

Kyuhyun menunggu Ryeowook muncul di ujung jalan, tempat biasanya mereka berpisah arah. Rumah Kyuhyun dan Ryeowook memang berlawanan arah. Kyuhyun rencananya ingin mengikuti Ryeowook sampai ke rumahnya. Sepulang sekolah tadi, Kyuhyun melihat Ryeowook menuju perpustakaan sekolah dan tak langsung pulang ke rumahnya. Jadi, Kyuhyun memutuskan menunggu Ryeowook di kedai ramen itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kyuhyun sudah mulai merasa bosan. Sudah satu jam lebih ia berada di kedai ramen ini. Semangkuk besar ramen juga sudah berpindah ke dalam perutnya.

Kedai ramen itu mulai ramai. Banyak orang yang singgah sepulang bekerja. Tempat duduk mulai banyak yang ditempati. Kyuhyun mulai tak enak hati kalau harus menunggu lebih lama di sana.

Saat Kyuhyun mulai menimbang akan meninggalkan kedai ramen itu atau tinggal sebentar lagi, sosok yang ditunggunya terlihat berjalan pelan menyusuri trotoar.

Kyuhyun cepat-cepat membayar ramen yang sudah dinikmatinya dan bergegas menggambil sepedanya untuk mengikuti Ryeowook. Ia mengambil jarak yang cukup jauh supaya Ryeowook tidak menyadari kalau Kyuhyun mengikutinya.

Ryeowook berjalan pelan sambil memasukkan tangganya ke dalam jaket lusuhnya. Langkahnya menyusuri trotoar yang basah bekas air hujan. Kyuhyun merutuk dalam hati karena harus menuntun sepeda yang kini dirasanya mulai merepotkan langkahnya.

Udara sangat dingin. Tangan yang digunakan untuk memegangi stang sepeda mulai terasa kaku karena dingin. Ia membayangkan kedua tangannya berada dalam saku mantelnya yang hangat.

Jarak rumah Ryeowook dengan sekolah ternyata jauh juga. Sudah setengah jam Kyuhyun berjalan, namun belum ada tanda-tanda Ryeowook sampai ke tempat tujuannya.

Kyuhyun melihat Ryeowook mulai berjalan menjauhi jalan raya dan berbelok menuju gang sempit. Gang itu sedikit remang-remang karena tak disinari dengan cahaya lampu yang memadai.

Ryeowook kelihatannya tak takut dengan tempat itu. Ia masih berjalan santai menyusuri gang kecil yang memang sudah sangat dikenalnya itu. Seumur hidupnya, Ryeowook memang tinggal di sebuah rumah kayu di gang kecil itu. Di sanalah ia dibesarkan dan menghabiskan masa kecil hingga remajanya.

Kyuhyun mengintip dari balik tiang listrik besar di ujung gang. Saat sampai di bawah pohon besar, Ryeowook berhenti. Ia terlihat membuka pintu pagar sebuah rumah dan setelah itu tubuhnya lenyap tak terlihat lagi.

Kyuhyun cepat-cepat menuju pohon besar tempat terakhir kali Ryeowook berdiri. Di depan pohon besar itu terdapat sebuah rumah kecil yang ditutup dengan pagar kayu setinggi leher Kyuhyun.

Ragu-ragu Kyuhyun mengetuk pintu kayu yang sudah usang dimakan usia itu. Catnya sudah terkelupas di sana-sini, bagian bawahnya juga mulai keropos di beberapa tempat. Tak beberapa lama kemudian pintu kayu terbuka, menunjukkan seorang wanita paruh baya yang memandangnya penuh tanya.

"Nuguya?" tanya perempuan itu pada Kyuhyun.

"Annyeong haseyo, Cho Kyuhyun imnida. Saya teman Kim Ryeowook di sekolah," jawab Kyuhyun sambil membungkuk hormat.

"Oh, teman Ryeowook? Mari, mari, masuk!" ajak perempuan itu pada Kyuhyun. Wajahnya terlihat senang saat Kyuhyun memperkenalkan diri sebagai teman Ryeowook, "Bawa masuk saja sepedanya supaya tidak hilang!" ujarnya lagi pada Kyuhyun.

Kyuhyun melakukan apa yang diminta perempuan paruh baya itu padanya. Kalau ditaksir usianya yang hampir sama dengan ibunya, Kyuhyun memperkirakan perempuan paruh baya itu pasti ibu Ryeowook.

"Ayo, masuk saja ke dalam! Ryeowook sedang mandi jadi tunggu saja di dalam sebentar," kata ibu Ryeowook itu ramah.

Kyuhyun tersenyum dan melepas sepatunya di teras rumah Ryeowook yang sempit yang seukuran dengan halaman rumah Ryeowook.

Halaman depan rumah Ryeowook memang sempit. Separuh halaman masih berupa tanah, sedangkan yang separuh lagi sudah disemen. Di atas halaman bersemen itu terdapat tumpukan panci dan bak-bak plastik.

Teras rumah Ryeowook lebih tinggi dari halamannya. Ada undakan kayu yang menghubungkan teras dengan halaman. Rumah Ryeowook nampak mungil dan sempit. Bagian bawah rumah Ryeowook sudah berupa dinding semen, sedangkan bagian atasnya terbuat dari kayu.

Ibu Ryeowook membukakan pintu depan bagi Kyuhyun dan mempersilakannya masuk. Saat Kyuhyun memasuki ruangan dilihatnya seorang laki-laki paruh baya sedang duduk di balik meja persegi besar yang terletak di tengah ruangan.

"Siapa yang bertamu?" tanyanya.

"Ada teman sekolah Ryeowook yang datang," jawab ibu Ryeowook pada laki-laki itu.

"Ah, teman Ryeowook," laki-laki paruh baya itu, yang merupakan ayah Ryeowook, berdiri dan tersenyum pada Kyuhyun.

"Ayo, duduklah! Ryeowook sebentar lagi selesai mandi," kata ayah Ryeowook.

Kyuhyun duduk di lantai kayu di depan meja besar pendek itu. Ruangan yang menjadi ruang tamu itu tak bisa dikatakan luas. Di ujung dekat pintu terdapat rak berisi sepatu dan sandal rumah. Di sebelah kiri meja besar itu terdapat rak yang penuh dengan tumpukan buku-buku. Di bagian dalam ruangan terdapat kompor dan beberapa peralatan memasak. Ruang tamu itu ternyata juga merangkap sebagai dapur.

Kyuhyun melihat ada satu ruangan lagi. Ruangan itu tak berpintu, hanya ditutupi dengan tirai berwarna cokelat.

Ibu Ryeowook ikut duduk di sebelahnya. Beliau terus-menerus memandangi Kyuhyun sambil tersenyum, membuat Kyuhyun merasa jengah.

Pintu yang menghubungkan dapur dengan belakang rumah Ryeowook terbuka, menampilkan sosok Kim Ryeowook yang terlihat segar sehabis mandi.

"Ryeowook, ada temanmu yang datang," kata ibunya riang.

Ryeowook tertegun saat mendengar ibunya berkata seperti itu. Apa dia tak salah dengar. Seingatnya tak ada satu orang teman pun yang tahu di mana ia tinggal. Ia juga merasa tak pernah memberitahukan alamat rumahnya pada siapa pun.

Ryeowook lebih terkejut lagi saat melihat temannya yang datang. Ternyata Cho Kyuhyun. Kyuhyun yang duduk di ruang tamu rumahnya dengan ayah dan ibunya yang memandangnya sambil tersenyum.

Selama ini Ryeowook memang tak pernah mengajak teman sekolahnya ke rumahnya. Terakhir kali teman sekolahnya berkunjung sewaktu Ryeowook duduk di bangku sekolah dasar. Saat Ryeowook masuk ke sekolah menengah, tak pernah ada lagi temannya yang datang. Ryeowook merasa rumahnya tak layak untuk didatangi teman-teman sekolahnya.

"Oh, eh, Kyuhyun!" sapanya gugup.

Jujur saja Ryeowook tak menyangka Kyuhyun bisa sampai ke rumahnya apalagi mengingat beberapa minggu terakhir ini mereka sedang ada masalah.

Kyuhyun tersenyum. Senyum yang dirindukan Ryeowook. Ia merindukan Kyuhyun yang ceria, yang terkadang mengumpat dan cemberut tanpa sebab yang jelas.

Ryeowook ikut duduk bersama Kyuhyun dan kedua orang tuanya. Ryeowook sedikit sebal pada orang tuanya yang kelihatannya masih betah duduk bersama mereka sambil tersenyum cerah. Menatap sosok Kyuhyun seakan-akan ia barang langka yang sangat jarang mereka lihat.

"Ayo, kita keluar!" ajak Ryeowook pada Kyuhyun,"kita bicara saja di luar."

Kuhyun mengikuti langkah Ryeowook keluar rumah. Ryeowook mengajaknya duduk di teras beralaskan lantai. Kyuhyun menyandarkan punggungnya yang pegal ke dinding rumah Ryeowook.

"Ada apa ke sini?" tanya Ryeowook pada Kyuhyun.

"Tak bolehkah?" tanya Kyuhyun balik.

"Maksudku kenapa kau ke sini?" tanya Ryeowook ingin tahu. Ryeowook sangat terkejut dengan kedatangan Kyuhyun malam ini.

"Hanya sekadar berkunjung," jawab Kyuhyun singkat. Sebenarnya Kyuhyun bingung harus mengatakan apa.

Kyuhyun tahu ia mengikuti Ryeowook untuk menyelesaikan masalah di antara mereka berdua. Namun, dasar Kyuhyun yang tidak pandai merangkai kata. Sekarang ia malah kebingungan harus berkata apa pada Ryeowook.

Kyuhyun meniupkan napasnya ke udara. Menyisakan kabut putih tipis di udara yang dingin.

"Maaf," kata Kyuhyun akhirnya.

Ryeowook menoleh menatap Kyuhyun. Tak menyangka Kyuhyun akan mengucapkan kata maaf untuknya.

"Maaf untuk apa?"

"Karena membuatmu terlibat masalah. Karena membuat Han Kaisoo marah padamu. Maaf karena aku terlambat menyadari kesalahanku. Kau boleh marah dan memaki padaku sekarang, aku tak keberatan," ucap Kyuhyun.

Ryeowook menghembuskan napas berat. Ryeowook memang pernah merasa marah pada Kyuhyun. Tapi, seiring berjalannya waktu Ryeowook menyadari bahwa persahabatannya dengan Kyuhyun jauh lebih berharga dari semua perasaan marah dan kecewanya.

"Maafkan aku juga," kata Ryeowook.

"Apa?" tanya Kyuhyun tak mengerti.

Kyuhyun sudah siap kalau Ryeowook memaki dan menumpahkan seluruh kekesalan hatinya padanya. Kyuhyun tak menyangka kalau ucapan maaf juga terlontar dari bibir Ryeowook.

"Kenapa meminta maaf padaku? Untuk apa?" tanya Kyuhyun tak paham.

"Maaf karena bersikap kekanakan. Aku memang marah dan kecewa pada apa yang sudah kaulakukan. Tapi, kita seharusnya saling terbuka kan. Aku malah mendiamkanmu dan tak mengacuhkanmu," jawab Ryeowook.

"Ah, itu, aku memaafkanmu kalau begitu. Kau memang seringkali bersikap kekanakan. Lain kali bersikaplah lebih dewasa!" kata Kyuhyun yang lupa dengan tujuan sebenarnya ke sini.

"Yak, seharusnya aku yag berkata seperti itu. Kenapa malah aku yang sepertinya punya salah padamu?" kata Ryeowook gemas.

Kyuhyun tertawa mendengar ucapan Ryeowook itu. Tapi, ia senang karena Ryeowook sekarang juga tertawa bersamanya. Tak seperti beberapa minggu belakangan ini.

"Apa yang sudah dilakukan Han Kaisoo padamu?" tanya Kyuhyun akhirnya ingin tahu.

"Bukan apa-apa. Bukan sesuatu yang besar, Kyu," jawab Ryeowook.

Ryeowook segan menceritakannya pada Kyuhyun. Mengingat kejadian itu saja sudah membuatnya merinding apalagi menceritakan ulang, Ryeowook tak mau.

"Bukan masalah besar, tapi kau sampai mendiamkanku berminggu-minggu. Katakan padaku apa yang dilakukannya padamu!" paksa Kyuhyun.

"Aku tak mau mengingatnya lagi, Kyu. Cukup sekali itu saja aku mengalaminya. Jadi, jangan paksa aku untuk menceritakannya padamu!" tolak Ryeowook akan paksaan Kyuhyun.

Kyuhyun masih menatap Ryeowook menunggu jawab pada pertanyaannya. Tapi, setelah dilihatnya Ryeowook tak juga membuka mulut untuk menceritakan kejadian itu pada Kyuhyun, membuat Kyuhyun menyerah. Mungkin lain kali Kyuhyun akan mencoba mengorek keterangan dari Ryeowook, tapi bukan malam ini. Saat mereka sudah mulai dekat lagi. Kyuhyun tak mau merusak suasana malam itu.

"Dari mana kau tahu rumahku?" tanya Ryeowook penasaran.

"Aku mengikutimu pulang tadi," jawab Kyuhyun singkat.

"Kau mengikutiku? Kenapa aku tidak tahu?" kata Ryeowook.

"Kalau kau tahu mungkin kau sudah akan menyuruhku pulang," kata Kyuhyun.

"Aku tidak akan seperti itu," kata Ryeowook.

"Begitukah? Kalau tahu begitu, aku tak akan mengendap-endap seperti maling," ucap Kyuhyun.

"Siapa suruh?"

"Yak, siapa juga yang mendiamkanku tanpa pemberitahuan apa pun?" balas Kyuhyun kesal.

"Siapa juga yang membuat nilai tugas Han Kaisoo menjadi D sampai dia mengancamku di atap sekolah," kata Ryeowook tak mau kalah.

"Oh, jadi dia mengancammu, ya?" kata Kyuhyun. Akhirnya mulai terkuak juga apa yang membuat Kim Ryeowook menjauhinya.

Ryeowook menutup mulutnya kesal. Kebiasaan barunya sekarang, ia mudah menceritakan apa saja pada Kyuhyun. Mulutnya sekarang sering di luar kontrol kalau sudah berhadapan dengan Kyuhyun.

"Jangan bicarakan itu lagi, okay! Yang penting masalah kita sudah selesai. Itu yang terbaik," kata Ryeowook memaksakan diri tersenyum.

Kyuhyun mengangguk menyetujui ucapan Ryeowook itu. Memang tak ada untungnya mengungkit-ungkit masalah yang sudah terjadi. Saat ini yang lebih penting adalah mulai terbuka satu sama lain. Mulai belajar untuk saling mengerti dan memahami. Memiliki sahabat berarti memiliki kemauan untuk saling memahami, menghargai, dan berbagi.

"Sudah malam, Kyu. Kau tak pulang?" kata Ryeowook.

"Kau mengusirku, eoh?" ucap Kyuhyun sambil melihat waktu yang ada di jam tangnnya. Sudah pukul sepuluh lebih sekarang,"sudah jam sepuluh. Aku pulang dul, Ryeo! Sampaikan salamku pada orang tuamu."

Ryeowook mengangguk. Ia mengantar Kyuhyun hingga ke ujung gang rumahnya. Ia memandang Kyuhyun yang mulai menjauh dengan mengayuh sepedanya, sampai bayangan sahabatnya itu menghilang di ujung jalan.

Annyeong…. Saya bawa lagi Fighting chapter 8. Akhir-akhir ini otak saya lagi semangat buat diajak kerja sama. Jadi, bisa update cepet dan lumayan panjang sampai 4000 kata. Terima kasih buat semua yang sudah vote dan komen (ada yang tiap Chapter kasih vote dan komen lho, daebak). Semoga masih tetap semangat baca ff buatan saya ini. FIGHTING.