TWO SIDES
by Gyoulight
.
.
.
.
HUNHAN FANFICTION
GENRE: Drama, Romance
RATING: T
.
.
.
.
.
Malam semakin larut dengan semua jendela besar dibuka. Angin malam lalu bertiup, memasuki jendela yang berhadapan langsung dengan kolam renang di dekat pagar. Sehun memanggil pelayannya untuk menyediakan pesanannya. Dan ia nyatanya tidak berbohong saat mengatakan ingin minum sampai pagi.
Baekhyun, Jongin dan Sehun sudah duduk melingkar di meja bundar. Sehun yang setegah mabuk pun menantang Luhan untuk bergabung, tapi Baekhyun melarangnya mati-matian. Luhan sendiri bukannya ingin patuh mendengarkan sahabatnya, ia hanya tidak pernah punya pengalaman minum dalam hidupnya. Dan ibunya akan membencinya jika ia minum dengan orang asing. Baiklah, itu terlalu klasik, Luhan bahkan sudah 26 tahun sekarang. Dan ia baru saja menegak dua gelas cocktail dan segelas red wine di pesta hingga kepalanya tak berhenti berputar.
Baekhyun masih menatap Sehun dengan sinis. Ia belum bisa meredakan amarahnya sejak pulang dari pesta. Ia mengabaikan Luhan yang memilih duduk di dekat tangga dengan kepala hangovernya. Namun tetap mengawasinya jika saja Luhan berubah pikiran dan ikut duduk dengan vodka di tangan.
"Ayolah ada apa dengan semua ketegangan ini? Aku sudah dianggap gila dan ditendang oleh pihak pengawas di pesta. Minimal kalian menghargai itu." Jongin mengambil selokinya. Menuang vodka sesuka hati lalu meneguknya sedikit. Pria bersurai eboni itu mungkin suka minum, tapi ia tetap tak suka berada dalam kecanggungan yang aneh.
Baekhyun menghela nafasnya. Ia teringat kembali pada kejadian yang ia lalui beberapa jam yang lalu. Ia membuang harga dirinya, menjadi wanita memalukan dan jangan lupakan bahwa ia sudah menendang seorang staff yang tidak bersalah dengan sepatunya. Tak mau memikirkan banyak hal konyol, akhirnya Baekhyun ikut menuang vodka ke dalam selokinya. Meminumnya dengan sekali teguk, sampai Sehun menyernyit dibuatnya.
"Well, ini berhasil," mulai Sehun setelah meminum seluruh isi selokinya. Lantas pria itu hanya bisa memandang selokinya yang kosong, merindukannya kembali untuk diisi.
Baekhyun berdecih. Membuang wajahnya ke luar jendela. "Kau pasti ingin berterima kasih. Kau membuat kita duduk disini tapi aku masih tidak mengerti jalan pikiranmu."
Jongin mengetuk meja. Mulai cemas menyaksikan raut Baekhyun yang memang sudah berubah sejak memasuki mobilnya. Terlebih mengetahui Sehun membiarkan Luhan minum di pesta. "Bisakah kalian tidak bertengkar, sehari saja?"
Sehun meletakkan selokinya yang kosong. Matanya mulai berkunang-kunang setelah tegukan keempatnya. "Kenapa kita tidak bisa berbicara dengan baik dimanapun?"
"Kau terlalu kasar. Kau bahkan tidak berpikir saat bicara," jawab Baekhyun menuang lagi vodkanya. Luhan yang menyaksikannya hanya bisa menggelengkan kepala. Pemandangan ini tentu bukan hal yang aneh di matanya. Setiap hari ia bisa melihat Baekhyun dan Sehun beradu mulut di rumah. Dan Luhan tak akan bisa membayangkan seburuk apa hubungan mereka di perusahaan.
"Apa yang membuatmu tidak pernah percaya padaku?" Sehun merebut botol vodka dari tangan kecil Baekhyun. Menuangnya sekali lagi ke dalam selokinya dan membiarkan Jongin menggeleng menatapnya. Persetan pada ia yang mungkin akan pingsan besok pagi.
Baekhyun kembali merebut botol vodka itu. Menuangnya lagi sampai selokinya penuh. "Aku selalu percaya padamu bodoh. Kau pikir untuk apa aku menjadi sekertarismu?"
Jongin sudah tidak tahan. Ia ingin segera pulang sebelum kesadarannya habis dan berkendara di bawah pengaruh alkohol. Dan ia memutuskan untuk berhenti minum demi sebuah reputasi serta menanam kemurahan hati untuk menyaksikan kedua rekannya yang tenggelam dalam emosi. "Hei, ayolah. Aku tidak bisa pulang karena kalian. Aku merasa buruk."
"Aku ingin mengundurkan diri," tuntut Baekhyun yang mulai cekukan. Pipinya memerah dan itu akan buruk menurut seisi rumah.
Jongin menjatuhkan rahangnya. Ia pasti sudah mabuk karena mendengar sekertaris unggulan Arion itu ingin mengundurkan diri. "A-apa?"
"Aku ingin mengundurkan diri, sialan!" ulang Baekhyun memukul kepala belakang Jongin hingga pria itu mengaduh dengan sangat keras. Kali ini biarlah Jongin mengambil kesimpulan bahwa Baekhyun tengah mabuk sedangkan ia tidak. Karena ia bersumpah, ia masih bisa merasakan sakit di kepalanya.
Sehun menghentak selokinya di atas meja. Membuat Luhan ikut terusik di ujung sana. "Kau tidak bisa berhenti begitu saja, tidak sampai proyek kita selesai. Aku tidak punya waktu untuk melakukan perekrutan atau basa-basi saat ini."
Baekhyun menekan keningnya yang mulai pening. Ia hampir saja tumbang ke lantai jika Jongin tidak tanggap menahannya. "Aku tidak perduli, aku tetap akan menyerahkan berkas pengunduran diriku besok pagi."
Sehun tersenyum lucu. "Aku tidak akan menerima berkasmu," balas Sehun tak kalah pening dengan kepalanya. Lalu tibalah dimana Baekhyun melempar selokinya. Nyaris mengenai Sehun jika pria pucat itu bergerak saat insiden pelemparannya.
"Jangan menghalangiku, sialan!" umpat Baekhyun masih mengamuk di lengan Jongin. Pria brunette itu kini mabuk berat setelah menegak lima selokinya. Ia semakin menyalak, menumpahkan banyak emosinya kepada Sehun di seberang meja. Jongin, satu-satunya yang sadar, hanya berusaha mencegahnya. Mati-matian ia mengambil botol kosong dari tangan pria itu karena berusaha melempar sasarannya.
Luhan hanya menyaksikan rumah itu kacau karena ulah Sehun dan Baekhyun yang mengamuk. Ia masih duduk di dekat tangga memegangi kepalanya. Melempar heelsnya yang hampir mematahkan tumitnya atau merapus sisa riasannya yang berantakan. Luhan sebenarnya ingin membuka gaun berserta wig yang membuat tubuhnya gatal. Namun sayang, ia tak punya tenaga untuk sekedar naik ke kamarnya.
Sehun beranjak susah payah sampai kursinya berdecit. "Aku sudah bilang padanya untuk segera menikah lalu pergi dari sini, tapi dia tak mau dengar."
Baekhyun mendorong Jongin hingga pria itu terhuyung ke meja. Terlepas dari itu, ia mendekati Sehun lalu meraih kerah pemuda pucat yang tengah melotot padanya. "Aku yang tak mau mendengarnya!"
"Hentikan," cegah Jongin semakin kalut menengahi. Ia seperti butuh bantuan, tapi Luhan nampaknya tidak berminat untuk bergabung dengan masalah internal. Terlebih ikut campur masalah Sehun yang beberapa jam lalu menciumnya dengan sangat tidak sopan.
"Kenapa kau tak mau mendengarnya dan malah mengurusiku?" tekan Sehun pada mata bulan sabit yang tampak berkilat-kilat itu.
"Karena Luhan disini. Aku tidak bisa membiarkanmu menyakitinya," tutur Baekhyun melemah. Ia melepaskan kerah kemeja Sehun setelahnya. "Aku yang membawanya ke dalam masalah. Seharusnya aku tidak menyerahkannya padamu."
Sehun berkedip sebentar. "Kenapa kau selalu mengurusi urusan orang lain?" gumamnya lalu menyugar surainya yang kusut. Ia mencoba berbalik meninggalkan Baekhyun yang masih termenung sendiri. Namun langkahnya terhenti ketika menemukan Luhan sudah berdiri di hadapannya. Pria bermata rusa itu masih menatapnya dengan sorot kosong. Masih tak siap dengan perkataan Baekhyun yang menukiknya.
Kehadiran Luhan membuat kepala Sehun semakin pening. Ia kembali teringat dengan insiden kecilnya bersama pria itu. Dan ia mungkin harus minum lebih banyak lagi sampai ia bisa melupakan hal-hal yang seharusnya tidak ia ingat.
"Masuk ke kamarmu," pinta Sehun pelan. Tak ada lagi tenaga baginya untuk marah atau mengurusi masalah Luhan dengan Baekhyun malam ini. Ia tidak ingin tambah pusing dan ia sepenuhnya tidak bertanggung jawab untuk meluruskan setiap masalah yang terjadi.
"Aku akan bekerja lebih keras," lirih Luhan yang kemudian pergi dengan heels di tangannya.
e)(o
Luhan terbangun dengan kepala berdenyut. Perutnya terasa mual dan mungkin saja lapar diwaktu yang bersamaan. Ia mencoba mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Masih dengan gaun pesta yang kusut dan juga sisa make up yang masih menempel di wajahnya. Pintunya pun segera diketuk ketika ia memutuskan untuk meraih kunci jendela. Membuatnya bertanya siapa yang repot-repot datang dipagi yang kurang menyenangkan ini.
Kepala Jongin kemudian mengembul dari balik pintu. Pria berkulit tan itu tengah memohon untuk dipersilahkan masuk dengan sederet gigi putihnya. Dan itu segera mengundang tawa Luhan dipagi harinya yang kusut. "Masuklah, pintuku tidak punya kunci."
Jongin masih tersenyum bodoh padanya ketika dipersilahkan masuk. Otak Luhan secara otomatis membandingkan sikap Jongin dan Sehun yang saling bertolak belakang. Dimana ia merasa Jongin memiliki pribadi yang jauh lebih baik, perihal memasuki ruang pribadi.
"Bagaimana kepalamu?" tanyanya ramah. Ia kemudian menarik kursi di dekat jendela untuk diduduki. Matanya yang coklat pun memilih untuk mengedar ke sekitar sampai tidak menghiraukan penampilan Luhan yang kusut.
Luhan terkikik saat menyadari sahabatnya itu terlalu konyol untuk berkunjung di pagi buta seperti ini. "Kau pagi-pagi kemari hanya untuk menanyakan itu?"
Jongin teringat sesuatu. Buru-buru ia merogoh sakunya kemudian meletakkan sesuatu di atas nakasnya. Luhan pun segera terkesima ketika mengetahui itu adalah obat untuk meredakan mabuk. "Akhir pekanku sangat membosankan, jadi aku memutuskan untuk memeriksa teman-temanku yang mabuk semalam."
"Bagaimana dengan yang lain?" Luhan kembali ke tepi ranjangnya. Mendudukkan diri sebelum kesadarannya jatuh ke lantai.
"Mereka belum bangun," jawab Jongin. "Kau juga seharusnya tidak minum sembarangan."
Luhan berkedip. Mulai tertarik untuk meraih botol obat yang dibawa Jongin. "Aku tidak pernah punya pengalaman minum. Tapi entah, semalam minumannya enak. Apa semua minuman seperti itu?"
"Kau harus belajar banyak soal minuman. Kau bisa minta bantuan Minseok untuk mengajarimu beberapa hal yang kau perlukan." Jongin masih menatap Luhan yang begitu terpaku pada obat yang dibawanya. Sedikit khawatir sebenarnya, mengingat Luhan baru mengalami mabuk pertamanya. "Sena peminum yang baik. Jangan menjadi aneh di depan Kris."
Luhan akhirnya urung membuka botol itu. Ia menyimpannya lagi di atas nakas. Dan Jongin harus tahu bahwa sebenarnya ia tidak suka minum obat "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Anything's okay for you," jawab Jongin dengan senyum khasnya.
"Dimana Sena sekarang?"
Jongin lalu menggeleng dan mengendikkan bahu lebarnya seperti tidak tahu apapun. "Sehun sudah lama menugaskan banyak orang untuk mencarinya. Tapi tidak pernah ada kabar."
Raut Luhan berubah iba. Ia bisa membayangkan seberapa tertekannya Sena karena harus bertunangan dengan orang yang tidak ia cintai. Terlebih dengan Kris yang mungkin selalu bersikap dingin seperti semalam.
Jongin tiba-tiba menjauhkan punggungnya dari sandaran kursi. "Kris mungkin buruk, tapi dia tidak pernah menyakiti orang yang dicintainya."
"Menurutmu, apa Kris benar-benar mencintai Sena?" Luhan menggaruk hidungnya. Ia benar-benar merasa harus membersihkan diri dengan segera.
"Tentu," angguk Jongin.
"Tapi bagi Sehun, tidak."
Ponsel Jongin kemudian memekik. Memecah pembicaraan mereka yang sebenarnya sedikit penting. Tapi Jongin tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan Luhan diabaikan sejenak. "Kau tahu Sehun pria seperti apa. Dia tidak akan mudah percaya pada musuh."
Luhan mencebik. "Aku mungkin mulai membencinya." Ia begitu ingat insiden buruknya dengan Sehun semalam. Dimana ia ingin pergi saja dari muka bumi dan berharap tidak bertemu Sehun bahkan dikehidupan yang berikutnya.
"Biar aku beri tahu sesuatu," Jongin buru-buru beranjak dengan ponsel yang menempel di telinga. "Sehun takut sekali pada hantu."
Luhan merasa jenaka. Ia memasang wajah konyol setelah mendengar hal itu. "Sungguh?"
Pria tan itu kemudian tidak bisa menjawab. Ia kemudian pergi meninggalkan Luhan dengan wajah aneh. Menunjuk ponselnya seolah mengatakan 'ini sangat penting'. Dan Luhan hanya bisa maklum dengan Jongin yang sering menghilang dibeberapa waktu. Tentu saja, pria itu akan menjadi yang paling sibuk saat mengurusi tugas lapangan.
e)(o
Sehun mengerjab beberapa kali sebelum mendudukkan diri di atas sofa. Punggungnya yang berjam-jam menempeli sofa kini terasa kaku. Bahkan tengkuknya pun terasa kebas untuk mendongak. Sehun lantas menekan tengkuknya dengan kepala pening. Kemejanya sudah lebih dulu kusut dan juga lusuh di beberapa tempat. Dan pria itu tidak bisa membawa dirinya sendiri untuk segera bangkit dari sana dengan perut yang mual.
Sehun mengusap wajah pucatnya kasar sebelum menangkup seluruh wajahnya. Memori kepalanya pun segera berputar tentang semalam. Berputar dengan cepat dan juga beruntun sesuai dengan alurnya. Ia mungkin bisa bangga dengan dirinya karena terlalu pintar dalam mengingat sesuatu. Tapi kali ini ia ingin jadi orang bodoh saja karena wajah Luhan mendadak muncul di kepalanya.
Sehun berdecih. Ia mengusak surainya yang kusut lalu buru-buru mencari daun pintu. Langkahnya bahkan terlalu bodoh untuk menggapai tangga di ujung sana. Ia baru saja menyadari bahwa ia harusnya tidak punya ruang kerja di lantai satu yang penuh dengan kesibukan pelayannya.
Sehun kemudian melewati perpustakaan lalu menemukan Jongin yang sibuk berbicara dengan telponnya. Pria tan itu rupanya terlalu sibuk bicara sampai-sampai terkejut sendiri menyaksikannya dalam kondisi berantakan.
"Ya Tuhan, kau baru bangun?" tanya Jongin mengekorinya seperti beberapa pelayan di belakangnya. Katakanlah, mereka semua khawatir jika Sehun tersandung kakinya sendiri atau tergelincir hingga terguling di tangga karena terlalu pening. Semua itu bahkan terlalu buruk untuk dikabarkan pada tuan Oh di kediaman damainya.
"Jangan mengikutiku seperti orang bodoh," tutur Sehun lemah mendapatkan pegangan tangga.
Jongin otomatis menoleh ke belakang. Segera mencari alibi jika bukan ia yang dimaksud. Ia kemudian menyarankan pelayan-pelayan itu membubarkan diri sebelum Sehun memerintah dengan kasar.
"Kau juga, Kim Jongin." Jongin pun berubah masam mendengarnya. Tapi ia tidak perduli meski Sehun menendangnya atau melemparnya dari lantai dua karena kesal tidak didengarkan.
Jongin sendiri sudah bosan dengan keras kepala sahabatnya yang tidak pernah berubah itu. Maka ia memutuskan untuk mengganggunya sampai Sehun gila sendiri. "Kau tidak menemukan obat di atas mejamu?" tanyanya mengejar langkah kaki Sehun.
Sehun tidak menjawab. Ia benar-benar dalam kondisi yang buruk jika tidak dibiarkan sendiri pagi ini. Karena demi apapun kepalanya masih pening mengingat banyak hal yang terjadi. Apalagi mengurusi sesuatu yang tidak penting seperti marah dengan sahabatnya yang tidak mau mendengarkannya.
"Hei, kau baik-baik saja?" Sehun segera mendegus. Ia tak habis pikir mengapa Jongin berubah cerewet seperti Baekhyun hari ini? Ia sudah cukup dengan Baekhyun yang menjadi penceramah di setiap waktunya dan ia tidak mau tambahan orang lagi.
"Hi, Luhan!" sapa Jongin yang sudah menghentikan langkahnya. Sedangkan pria bermata rusa itu masih melongo di posisinya. Kedua matanya membulat bersitatap dengan manusia-manusia di depannya.
Sosok mungil itu berdiri dengan hoodienya. Rambutnya masih dalam kondiri basah dengan handuk yang menutupi kepalanya. Aroma sabun segera menguar menyapu indera Sehun yang masih berantakan di depannya. Membuat Sehun terpaku pada wajah manis itu, masih dengan mulut yang terbuka. Terlalu lucu mungkin, tapi tidak menurut Sehun.
Sehun pun segera membuang wajahnya sebelum ia mengingat dengan benar insiden semalam. Ia berusaha menghindar untuk menatap pria yang kebetulan lewat di depannya itu. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun jika Luhan berdiri menghalangi jalannya. Menatapnya seperti menemukan sosok hantu disiang bolong.
"Kau sudah tidak mabuk kan? Kenapa wajahmu masih merah begitu?" tanya Jongin ribut-ribut di samping Sehun. Pria tan itu menepuk bahu Luhan sambil berusaha menyadarkannya untuk segera menyingkir sedikit.
"T-tidak, aku baik-baik saja," jawab Luhan segera beralih dari sana. Langkah kecilnya lalu pergi mendahului keduanya tanpa meyakinkan Jongin dengan pertanyaannya.
"Kurasa dia masih mabuk," gumam Jongin yang sangat jelas di dengar oleh Sehun.
Sehun dengan harga diri yang tinggi menepis semua ingatannya tentang Luhan. Membuang semua pikirannya dengan melangkah lebih cepat mencari letak kamar agungnya. Ia sepenuhnya meninggalkan Jongin yang kembali mengejarnya. Berharap diberi izin masuk tapi Sehun buru-buru menutup pintunya dengan cepat sampai pria tan itu kesal.
Sehun buru-buru menanggalkan kemeja lusuhnya. Membuang kemeja itu ke lantai sebelum tangannya meraih sesuatu di sakunya. Lantas ponselnya bergetar ketika ia hendak menghempaskannya ke atas nakas.
Ada tiga panggilan yang tidak diterimanya semalam, dan itu menjadi aneh ketika nama Kris terpampang disana. Kemudian pria pirang itu kembali mengiriminya pesan seolah tak sabar untuk menanti responnya. Tapi kepala Sehun terlalu pening untuk mengurusi Kris hari ini. Tidak ada sedikitpun minat ketika teks Kris memintanya mengatur jadwal untuk bertemu. Maka Sehun kembali melempar ponselnya dan memasuki kamar mandi dengan pikiran 'persetan dengan Kris'.
e)(o
Sebagai pimpinan, Sehun mungkin pria yang sedikit rasional. Sekertarisnya bilang otaknya terlalu tidak masuk akal. Sewaktu-waktu bisa penuh dengan catatan dokumen sampai dengan ide perlawanan untuk menghidupkan suasana rapat. Pria jangkung itu selalu tenggelam di balik tumpukan kertas saat hendak melakukan sesuatu dengan proyeknya. Terburu-buru lalu pusing sendiri. Bersyukur karena tubuhnya melebihi satu setengah meter, sehingga sekertarisnya yang mungil dapat dengan mudah menemukannya─hanya dengan melihat kepalanya yang mengembul dari balik meja kerja.
Baekhyun membawakannya sebuah map berisi kertas─lagi. Sekertarisnya itu terlalu sibuk─bolak-balik meletakkan sesuatu di atas mejanya, sampai Jongin yang repot menelpon bahwa pemilik perusahaan yang hendak menemuinya lebih dulu sampai di Lobi. Baekhyun pun tak kunjung mendapatkan tanda tangan untuk kertasnya sampai Sehun menginterupsi. Mencegah sekertarisnya itu berbicara lebih dahulu, sebelum permasalahnnya sendiri benar-benar selesai. Maka tibalah pada Baekhyun yang harus mengangguk kala Sehun memintanya untuk ikut menemui investor lamanya.
Sebuah pertemuan kecil kemudian dibuka pada ruang rapat di kantornya. Mereka duduk melingkari meja konvensi dengan Baekhyun yang mondar-mandir meninggalkan sesuatu di atas meja. Bukan cemilan, tapi lebih tepatnya dokumen penting lain yang Sehun sendiri lupa mengabsennya. Baekhyun lalu mengeluarkan tabnya. Membuka beberapa statistik atau grafik yang sudah dikumpulkan bos terbaiknya. Lalu menampilkannya dengan proyektor dan membiarkan Sehun melakukan presentasi.
"Aku kemari hanya ingin mengabulkan permintaanmu. Tapi ternyata lebih dari itu," mulai Mr. Choi ketika Sehun selesai dengan acara presentasinya. Pria itu melepaskan tautan tangannya dan menoreh senyum simpul. Terlalu ramah bagi Sehun jika dibandingkan dengan banyak pria usia 30 yang pernah bermitra dengannya. "Sebenarnya, aku mendengar banyak rumor tentangmu dan beberapa kasus kebocoran informasi yang serupa dengan ini. Beruntung kau yang menemukan diamond itu di pestaku. Karena berkat itu, aku jadi tahu proyek Arion masih layak untuk dipertahankan."
Sehun tersenyum penuh lega mendengarnya. Sedangkan Baekhyun diam-diam sudah mengambil kursi di sebelah bosnya. Hatinya pun tak kalah meletup. Ia ingin segera berlari menelusuri perbukitan sambil berteriak karena lega luar biasa. Ia masih tak akan percaya bahwa Camolas benar-benar memilih bertahan dengan Arion. Semudah fantasinya semalam, tentu dengan hasil kerja kerasnya dengan memusuhi banyak pria dengan gaunnya tempo hari.
"Sampai jumpa di acara launching." Mr. Choi kemudian beranjak dari kursinya dengan meninggalkan banyak pujian. Tersenyum puas sambil menjabat tangan Sehun yang begitu kaku.
"Terima kasih," balas Sehun tersenyum penuh. Ia benar-benar lega dengan hasil kerjanya dan juga hasil kerja keras dua rekannya tempo lalu. Beruntung tidak ada sesuatu yang terjadi meski Baekhyun mengaku sudah melumpuhkan banyak staff di pesta.
"Kau terlihat senang," gumam Sehun menyesuaikan langkahnya setelah mengantar Mr. Choi hingga lobi depan perusahaannya. Kini biarkan mereka berjalan santai sebelum duduk terpaku pada kursi masing-masing.
Raut Baekhyun berubah masam. "Well, aku tetap akan berhenti bekerja," balas Baekhyun mendahuluinya memasuki lift. Menunggu pria pucat itu mengekorinya, kemudian menekan tombol lift seperti sekertaris baik lainnya.
Sehun tersenyum miring. "Jangan salahkan aku jika kau merindukanku nanti."
Baekhyun berdecih. Hampir berpikir menendang bosnya jika saja ia tak ingat dengan benar dimana sebuah kamera CCTV diletakkan di atas kepalanya. Ia bisa saja gagal menikah dengan kekasihnya karena insiden tidak terhormat semacam itu. "Aku tidak akan merindukanmu."
Sehun terkekeh. Ia hampir mati menahan senang karena berhasil membuat Baekhyun kesal.
"Kita punya banyak pekerjaan sampai aku mengundurkan diri," mulai Baekhyun cepat dengan menatap mata arlojinya. Mereka telah kehilangan banyak waktu sampai dokumen-dokumen penting berhasil masuk ke dalam ruangan Jongin. Tidak ada yang mau menumpuk pekerjaan, dan membuat rapat kecil seperti tadi adalah bentuk dari hal yang tidak terduga. "Kita belum memulai apapun, tapi aku sudah sangat cemas."
Sehun menekan bahunya. Mungkin ia bisa merasa sedikit lega saat ini, tapi mengingat ada banyak yang harus selesai menurut sekertarisnya, ia tentu hanya bisa mengeluh.
"Kau tahu kenapa kita sering menjadi perusahaan yang kelagapan saat meluncurkan sebuah proyek?" mulai Baekhyun melipat lengannya di dada. Ia berbalik menatap bosnya yang kekanakan dan berusaha setenang mungkin menghadapinya. "Kau terlalu sering menunda pekerjaan."
Sehun menyela, "Aku punya cara sendiri untuk melakukan pekerjaanku." Memang benar, ia dan Baekhyun benar-benar tidak bisa berbicara dengan benar. Terlebih bisa menyatukan pikiran yang sempit.
"Terserah," Baekhyun langsung mengambil kursinya ketika sampai di mejanya. Tidak menatap Sehun sama sekali sampai Sehun berhasil membuka pintu ruangannya. "kau punya jadwal rapat siang ini. Mari hentikan omong kosong kita."
Sehun hanya menjawab 'oke' dengan benar sebelum ia memasuki ruangannya. Menatap sekali lagi sekertarisnya yang sudah kembali ke dalam moodnya yang semula, ia pun kembali membuka pintunya. "Dan berikan ponsel Sena pada Luhan."
Alis Baekhyun mengeriting. Otak kecilnya mungkin terlalu sehat untuk memikirkan banyak kepribadian aneh dari bosnya. Tapi dengan Sehun yang membiarkan ponsel adiknya diberikan pada yang lain adalah hal yang lebih aneh lagi bagi Baekhyun. Padahal pria pucat itu sempat mengamuk saat ia mencoba membongkar isi ponsel adiknya.
"Itu penting untuknya dan untuk kita juga─"
Baekhyun mengabaikan komputernya sebentar. Matanya terpaku pada jemarinya untuk memikirkan sesuatu. "Jadi kau sudah berdamai dengannya?"
"Perihal?" tanya Sehun benar-benar tidak mengerti dengan baik gumaman sekertarisnya.
Baekhyun beralih memijit pangkal hidungnya. Ia belum sempat mengeluarkan keluhan panjangnya saat sosok lain tiba-tiba muncul dari balik dinding. Mengganggu fokus pria brunette itu sampai harus menyipitkan kedua matanya untuk memeriksa, siapa yang kini sudah berdiri di dekat mejanya.
Jongin datang dengan membawa dua map. Jasnya masih tersampir di lengannya, lengkap dengan lengan kemejanya yang digulung sampai bawah siku. "Ini laporan yang kau butuhkan. So, bisakah aku pergi sebentar?" Raut Jongin bahkan terlalu kusut untuk disapa dengan senyuman. Sehun sampai urung memasuki ruangannya yang damai demi sahabatnya yang terlihat begitu gusar. Ia bahkan terlalu penasaran dengan masalah pria tan itu kali ini.
"Tidak bisa, kau harus membuat beberapa peninjauan penting. Dokumen pendukung bahkan belum siap karena albino ini terlalu sering menunda pekerjaan," tutur Baekhyun masih menatap layar komputernya. Mengetik beberapa kata dengan keyboardnya sampai mesin itu berhasil mengarsipkan beberapa unduhan penting.
Sehun menunjuk wajah Baekhyun yang sinis dengan telunjuknya. Ia sepenuhnya tidak perduli dengan kamera CCTV yang merekam aksinya. "Kita masih ada di kantor, tolong jaga ucapanmu. Aku bisa memecatmu karena kau selalu berbicara sembarangan."
Baekhyun berdecih sambil memukul tombol enter keras-keras. Tidak pernah terpikirkan di otaknya bahwa tombol enter keyboarnya mungkin saja akan jebol atau terlepas. "Silahkan. Aku malah senang berhenti menjadi sekertarismu."
"Oh, teman-teman. Aku benar-benar serius," tengah Jongin yang masih menggenggam ponselnya yang bergetar. Ia mungkin saja jauh lebih tidak perduli pada perdebatan kedua rekannya yang tidak pernah akur─seperti ini. "Aku harus melakukan sesuatu."
Baekhyun menajamkan ekor amatanya. Melirik pria tan itu dengan peninjauan cahaya hijau seperti mesin barcode. "Kau juga kabur beberapa kali dalam pekan lalu, tidakkah itu aneh?"
"Serius," toleh Baekhyun pada raut Sehun yang masih mencoba menggali kebenaran diam-diam. Sehun memiringkan kepalanya. Mendengar Jongin meminta izinnya saat perusahaan sedang gencar tentu bukan hal yang bagus untuk didengar.
Jongin memenjamkan matanya sejenak. Ia berubah semakin pusing. Penat di kepalanya pun sudah mendera sejak dokumen penting semakin banyak ditumpuk di mejanya. "Oh, please."
"Kemana kau akan pergi?" tanya Sehun akhirnya.
"Sesuatu yang tidak harus kalian tahu," jawab Jongin tidak bisa memberikan kejelasan. Jongin mungkin sahabatnya, tapi Sehun tidak bisa mencampur adukkan hal pribadi ke dalam kantor seperti Baekhyun.
Kepenatan Jongin kemudian mengundang keseriusan Sehun dalam mendisiplinkan pegawainya. "Kau sedang berhadapan denganku, CMO Kim Jongin."
"Baiklah, terserah jika kau mau memecatku. Aku benar-benar harus pergi," tutur Jongin yang sudah mengambil langkah mundur dengan kedua tangan yang terpasang di depan dada. Ia benar-benar sudah pendek akal jika menyangkut hal genting. Ia tidak akan perduli lagi jika ia kehilangan pekerjaan hanya karena Sehun murka padanya. Lagipula ia sangat yakin Sehun sangat mengandalkannya dan tidak akan melepaskannya begitu saja.
"What the hell, Kim Jongin! Kita akan Launching minggu depan, apa yang kau coba lakukan?!" pekik Baekhyun yang nampaknya lebih marah. Ia beranjak dari kursinya lalu menggebrak meja di depan bosnya. Lagi pula siapa yang tidak akan marah ketika semua jadwal perusahaan kacau karena dua orang gila di kantornya.
Sehun kemudian berbalik mendorong pintu kerajaannya. "Segera proses pemecatannya," tuturnya penuh penekanan.
Baekhyun melongo. Ia sudah kehilangan punggung Jongin jika ia ingin meminta pria tan itu untuk menarik ucapannya. Dan jangan lupakan Baekhyun yang tidak pernah suka diberi tugas tambahan. "Kau pikir apa yang ada di kepalamu?!"
"Dia sendiri yang tidak perduli pada pekerjaannya," jawab Sehun yang kemudian membanting pintu.
"Kalian benar-benar sesuatu!" umpat Baekhyun terlalu keras, sampai Sehun ingin membakar ruangannya sendiri.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
