CHAPTER 9
Kim Ryeowook merasa bahagia pagi ini. Semangatnya berangkat ke sekolah hari ini bertambah berlipat ganda. Ia bahkan bernyanyi-nyanyi kecil saat memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, membuat kedua orang tuanya mengernyit heran melihat perilakunya yang di luar kebiasaan.
Kim Ryeowook tak sabar ingin cepat sampai ke sekolah. Ia tak sabar bertemu dan berbincang lagi dengan Kyuhyun. Sejak berakhirnya perang dingin mereka semalam, Ryeowook merasa hatinya semakin bahagia.
Langit yang tertutup mendung dan jalanan yang basah bekas hujan tak menghalangi langkahnya yang riang menuju ke sekolah. Hari ini Ryeowook akan bersama Kyuhyun lagi. Mereka akan duduk sebangku lagi, melakukan banyak hal, dan menghabiskan waktu di sekolah bersama-sama lagi. Ryeowook bahkan membawa bekal lebih banyak hari ini agar bsa dinikmatinya bersama Kyuhyun.
Hari masih terlampau pagi saat Ryeowook datang ke sekolah hari itu. Kelas masih dalam keadaan kosong saat Ryeowook memasuki ruangan tempatnya menuntut ilmu. Seperti biasa, Ryeowook langsung menuju tempat di mana ia biasa duduk. Ia menunggu Kyuhyun yang biasanya duduk di sampingnya sambil membaca buku tebal yang dipinjam Ryeowook dari perpustakaan.
Satu per satu teman-teman sekelas Ryeowook mulai berdatanngan. Han Kaisoo dan dua temannya yang lain juga sudah datang. Ryeowook bahkan harus menundukkan kepalanya dalam-dalam saat Han Kaisoo melewati bangkunya dan menatapnya tajam.
Ryeowook masih menunggu Kyuhyun yang masih belum nampak batang hidungnya. Bel masuk lima menit lagi berbunyi, namun Kuhyun belum juga datang. Mungkinkah Kyuhyun tidak masuk sekolah hari ini mengingat tak biasanya Kyuhyun datang siang.
Beberapa saat sebelum bel berbunyi, Kyuhyun terlihat memasuki kelas. Wajahnya terlihat memerah dan beberapa titik keringat nampak di dahi ujung hidungnya. Ryeowook tersenyum saat Kyuhyun melihatnya. Ryeowook mengira Kyuhyun akan duduk di dekatnya lagi. Namun, anak itu malah melewati bangkunya setelah tersenyum sekilas padanya. Kyuhyun terus menuju bangku yang terletak di tengah dan kembali menempati bangkunya di sebelah Ahn Jae Hyun.
Ryeowook menatapnya tak percaya. Sejak semalam, Ryeowook sudah merasa yakin hari ini Kyuhyun akan duduk di dekatnya lagi. Namun, ternyata Kyuhyun lebih suka duduk bersama Ahn Jae Hyun.
Ryeowook kembali murung. Pelajaran pertama hari ini, Bahasa Inggris, yang merupakan pelajaran favoritnya tak lagi membuatnya tertarik. Ternyata hubungannya dengan Kyuhyun tak membaik seperti sedia kala.
"Aku tahu akan menemukanmu di sini," ucap seseorang yang membuat Ryeowook hampir menumpahkan kotak makan siangnya.
Kim Ryeowook sedang sendirian di lorong depan ruang piala. Ia makan bekal siangnya di sana seorang diri. Bekal yang hari ini dibawanya cukup banyak dan Ryeowook yakin ia tak akan bisa mennghabiskannya. Ia ingin menghabiskannya bersama Kyuhyun, namun anak itu bahkan tak mengajaknya bicara sejak tersenyum padanya pagi tadi.
Tapi Cho Kyuhyun tetaplah Cho Kyuhyun. Anak keras kepala yang tak bisa ditebak jalan pikirannya. Setelah mencueki Ryeowook kini tahu-tahu anak itu sudah duduk di sampingnya dan tanpa sungkan-sungkan mencomot kimbab yang dibawa Ryeowook.
"Ini enak. Eomma-mu yang buat?" tanya Kyuhyun dengan mulut penuh.
Ryeowook masih memandang Kyuhyun tak mengerti. Ia biarkan saja anak itu mencomoti kimbabnya. Melihat Kyuhyun makan dengan rakus seperti itu, membuat perut Ryeowook kenyang dengan sendirinya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Kyuhyun lagi.
"Tidak ada apa-apa," sahut Ryeowook,"ini kimbab buatanku sendiri."
"Oh, ya, pintar memasak juga kau," kata Kyuhyun takjub.
Kyuhyun tak menyangka temannya itu ternyata pandai memasak juga. Tidak seperti dirinya yang hanya bisa makan.
"Eomma-ku yang mengajariku," kata Ryeowook,"habiskan saja kalau kau mau! Aku sudah kenyang."
Tanpa sungkan-sungkan Kyuhyun pun memindahkan semua kimbab itu ke dalam perutnya. Entah karena jatah makan siang di kantin yang tak mengenyangkan perutnya atau memang dasar Kyuhyun memang rakus, tak perlu waktu lama kotak bekal Ryeowook pun licin tanpa ada kimbab yang tersisa.
"Kau benar-benar kelaparan, ya?" tanya Ryeowook yang tak percaya ada orang yang memiliki nafsu makan sebesar Kyuhyun.
"Huft, perutku benar-benar kenyang," kata Kyuhyun sambil mengusap-usap perutnya yang rasanya membesar karena kekenyangan.
"Nafsu makanmu banyak juga. Perutku mungkin hanya muat separuhnya," kata Ryeowook.
"Aku memang suka makan. Tapi, tak serakus Shim Changmin," kata Kyuhyun.
"Shim Changmin? Siapa dia?" Tanya Ryeowook sambl memicingkan matanya. Mencoba mengingat satu nama yang mungkin terselip di antara teman-teman sekelasnya.
"Temanku. Kapan-kapan kukenalkan dia padamu. Dia sangat rakus, kau tahu, tapi anehnya tak membuatnya gendut. Hanya tingginya yang makin bertambah," kata Kyuhyun lagi.
Ryeowook merapikan lagi kotak makannya. Tadinya ia merasa kecewa karena tidak bisa berbagi makanan dengan Kyuhyun. Tapi, melihat betapa semangatnya anak itu menghabiskan kimbabnya membuat hati Ryeowook merasa sedikit senang.
"Kenapa kau tadi tak duduk bersamaku?" tanya Ryeowook meyuarakan tanya yang sedari tadi terus bergelayut dalam hatinya.
"Aku tak mau membuatku semakin bermasalah dengan Han Kaisoo," jawab Kyuhyun.
"Maksudmu?" tanya Ryeowook tak mengerti.
"Jae Hyun yang cerita padaku. Dia tanpa sengaja mendengar apa yang Han Kaisoo katakan tentangmu. Jahat sekali dia melarangmu bergaul dengan siapa pun. Kau juga manusia normal yang membutuhkan bergaul dengan siapa saja. Dia pikir siapa dirinya memperlakukanmu seenaknya," jelas Kyuhyun pada Ryeowook.
Ryeowook menunduk sedih mendengar ucapan Kyuhyun itu. Memang benar Han Kaisoo akan memperlakukannya lebih buruk kalau tahu Ryeowook dekat dengan anak yang lain.
"Jadi, lebih baik dia tak tahu kalau kita berteman lagi. Maka dari itu, aku duduk dengan Ahn Jae Hyun. Kita bisa berbincang santai di luar kelas yang jauh dari pantauan matanya. Kita juga bisa main bersama di luar sekolah," ucap Kyuhyun lagi.
"Kau benar juga. Kurasa begitu lebih baik," ujar Ryeowook tersenyum.
"Jadi, Ryeowook-ah. Besok bawakan aku kimbab lagi, ya! Tapi jangan terlalu banyak sayur aku tak suka sayur," kata Kyuhyun dengan mata bulatnya yang jenaka.
"Yak, kau kira aku Seo ahjumma penjaga kantin apa? Memesan makanan seperti itu padaku," kata Ryeowook pura-pura kesal sambil meninju lengan Kyuhyun, padahal dalam hati ia sama sekali tak keberatan.
Kyuhyun tertawa mendengar teriakan Ryeowook yang sebetulnya memang mirip dengan ahjumma penjaga kantin itu. Kyuhyun juga senang melihat Ryeowook yang tak sungkan-sungkan lagi tertawa atau berteriak sambil memukul lengannya seperti tadi.
Bulan Februari sudah menyapa. Musim dingin pun masih terus mengguyurkan salju beku yang membuat suhu sampai minus beberapa derajat di bawah nol. Ujian kenaikan kelas sudah di depan mata. Para guru pun sangat bersemangat memberikan latihan dan tugas-tugas untuk persiapan menghadapi ujian.
Meskipun anak-anak mengeluh panjang lebar karena ujian akan segera tiba, tapi tidak demikian halnya dengan Kyuhyun. Ia tak pernah ambil pusing dengan ujian. Ia sudah mempersiapkan dirinya dengan baik untuk menghadapi ujian. Kapan pun ujian dilaksanakan Kyuhyun selalu siap.
Minggu pagi ini, sepulang dari mengikuti kebaktian di gereja, Kyuhyun mengayuh sepedanya dengan santai menuju rumah Ryeowook. Ia mau mengajak Ryeowook jalan-jalan hari ini sebelum besok pagi mereka harus berkutat mengerjakan soal-soal ujian.
Untunglah salju tak turun hari ini. Matahari pun mengintip malu-malu di balik awan. Jalanan pun bersih dari salju hari ini.
Perlu waktu hampir tiga puluh bagi Kyuhyun agar sampai di rumah Ryeowook. Suasana rumah sangat sepi. Dalam hati Kyuhyun berharap Ryeowook ada di rumah hari ini mengingat Kyuhyun tak memberi tahu Ryeowook kalau akan singgah ke rumah Ryeowook pagi itu.
Cukup lama juga Kyuhyun mengetuk pagar rumah Ryeowook sebelum temannya itu keluar dan membuka pintu.
"Lama sekali kau," gerutu Kyuhyun sambil memijit buku-buku tangannya yang memerah.
"Maaf, aku sedang membantu ayahku tadi. Jadi, tak mendengar ketukanmu," jawab Ryeowook sambil membuka pintu pagar, "kenapa tak langsung masuk saja? Pintu pagarku tak terkunci."
"Mana aku tahu pintunya terkunci atau tidak," jawab Kyuhyun kesal.
"Masuklah!" ajak Ryeowook.
Kyuhyun mengikuti langkah Ryeowook masuk ke dalam rumah. Ternyata Ryeowook tak sendirian di rumah. Ada ayah Ryeowook yang sedang memasukkan kertas selebaran ke dalam amplop cokelat besar.
Saat melihat Kyuhyun, ayah Ryeowook tersenyum senang. Beliau senang karena Kyuhyun adalah satu-satunya teman Ryeowook yang datang berkunjung ke rumah mereka. Selama ini beliau mengira Ryeowook anak yang antisosial karena tak ada satu orang teman pun yang pernah mengunjungi Ryeowook.
Kyuhyun sedikit berbasa-basi dengan ayah Ryeowook sebelum mengajak Ryeowook keluar rumah. Cukup lama juga ia harus menunggu Ryeowook karena anak itu ternyata belum mandi.
"Kita mau ke mana?" tanya Ryeowook pada Kyuhyun.
Mereka berdua ada di dalam bus. Kyuhyun sengaja meninggalkan sepedanya di rumah Ryeowook. Sejak mereka berdua keluar dari rumah Ryeowook, Kyuhyun tak memberi tahu ke mana tujuan mereka hari itu. Ryeowook terus saja menggerutu kesal karena Kyuhyun tak mau mengatakan ke mana mereka akan pergi.
Rencananya hari ini Ryeowook akan belajar seharian karena besok sudah mulai ujian. Namun karena Kyuhyun datang dan mengajaknya pergi, mau tak mau ia pun setuju. Apalagi ayahnya yang juga setengah memaksanya untuk pergi. 'Sekali waktu bersenang-senanglah' kata ayahnya tadi.
"Bersenang-senang," jawab Kyuhyun singkat.
"Bersenang-senang di mana? Kau dari tadi hanya diam dan melihat ke luar jendela," keluh Ryeowook.
"Aku suka menikmati pemandangan. Maka, dari itu aku suka duduk di dekat jendela," kata Kyuhyun.
"Hanya ada gedung-gedung dan jalan raya di luar. Apanya yang menarik?" balas Ryeowook.
"Banyak yang menarik, Ryeo. Kau bisa melihat orang-orang dan pemandangan yang menarik. Kau bisa melihat berbagai macam orang beragam penampilan. Masih ada juga gundukan salju di tepi jalan yang kelihatan lezat kalau diberi sirup cokelat atau stroberi di atasnya," kata Kyuhyun lagi.
"Bagiku sama saja. Setiap saat aku bertemu dengan banyak orang tiap kali pergi dan pulang dari sekolah. Salju pun aku sampai bosan melihatnya karena hanya berwarna putih," sanggah Ryeowook.
"Itulah dirimu. Kau kurang menikmati hidup. Ayahmu saja menyuruhmu untuk bersenang-senang. Kenapa kau justrus banyak mengeluh sekarang? Tak ada salahnya kan sekali waktu bersenang-senang?" ujar Kyuhyun.
"Kita salah waktu kalau bersenang-senang sekarang. Besok ujian sudah dimulai seharusnya sekarang kita belajar bukan malah keluyuran tak tentu arah seperti ini," gerutu Ryeowook kesal.
"Tak heran kalau selama ini kau seperti robot. Yang ada di pikiranmu hanya belajar dan belajar. Seakan-akan duniamu akan runtuh kalau kau berhenti belajar walau hanya untuk sebentar saja," omel Kyuhyun. Ia mulai gemas dengan Ryeowook yang terus-menerus komplain karena diajaknya pergi hari ini.
"Karena belajar memang sangat penting. Apa kau tidak belajar untuk ujian besok?"
"Aku belajar tentu saja. Tiap hari aku pun belajar. Tapi, aku tidak menyiksa diriku dengan belajar terus-menerus. Aku juga menikmati hidupku. Aku masih suka bermain atau berkumpul dengan teman-temanku yang lain," ucap Kyuhyun.
Ryeowook terdiam mendengar ucapan Kyuhyun itu. Kyuhyun benar. Ryeowook seringkali menyiksa diri dengan berkutat dengan buku-buku pelajarannya. Jika buku-buku pelajaran itu kurang lengkap, ia bahkan meminjam buku-buku perpustakaan yang super tebal untuk mengisi otaknya.
Bus berhenti di halte di distrik Gangnam. Kyuhyun mengajak Ryeowook turun. Ia mengajak Ryeowook menuju ke bangunan besar yang ramai dikunjungi orang saat itu, Coex Mall.
"Kau mengajakku bersenang-senang di sini?" tanya Ryeowook tak percaya.
"Di sini menyenangkan. Kita bisa bermain dan makan sepuasnya di sini sampai sore," jawab Kyuhyun sambil mempercepat langkahnya.
"Aku kira kita hanya jalan-jalan di taman atau ke museum," kata Ryeowook.
"Buat apa ke museum? Menemanimu di ruang piala sudah membuatku merasa ke museum tiap hari," kata Kyuhyun.
Kyuhyun menyeret langkah Ryeowook yang terlihat ogah-ogahan masuk ke Coex Mall. Bukannya Ryeowook tak suka, tapi ia merasa tak nyaman. Ryeowook tak pernah masuk ke tempat itu dan ia merasa seperti makhluk asing di tempat megah seperti Coex Mall.
"Kita cari tempat lain saja, Kyu. Di sini terlalu ramai," ajak Ryeowook.
Kyuhyun tak mau mendengar apa kata Ryeowook. Ia tetap saja melangkah menyusuri jalur yang sudah sangat dihafalnya. Kyuhyun terus saja berjalan mengabaikan Ryeowook yang terus menarik tangannya. Ia malah masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai basement pusat perbelanjaan itu.
Saat pintu lift terbuka di lantai basement, Kyuhyun mengajak Ryeowook keluar dan menuju deretan restoran dan kedai makan yang ada di kiri dan kanan lorong. Sesampainya di gerai steam boat, Kyuhyun mengajak Ryeowook masuk.
Ryeowook melihat ada dua anak sebayanya yang melambai ke arah Kyuhyun. Dua anak yang pernah Ryeowook lihat bermain basket bersama Kyuhyun. Ryeowook tak mengenal mereka, namun Kyuhyun nampaknya sangat akrab dengan mereka berdua.
"Dari mana saja kau, lama sekali?" kata yang paling jangkung pada Kyuhyun.
"Aku harus menjemput Ryeowook dulu. Kalian sudah lama?" tanya Kyuhyun.
"Sudah setengah jam yang lalu aku sampai. Changmin baru sepuluh menit yang lalu sampai," jawab yang berambut kecokelatan.
"Ryeowook, perkenalkan dua temanku, yang jangkung itu Shim Changmin yang ini Choi Minho. Kita satu sekolah hanya berbeda kelas," kata Kyuhyun memperkenalkan dua temannya pada Ryeowook.
Ryeowook mengangguk gugup. Berkenalan dengan orang-orang baru memang selalu membuatnya gugup.
"Kim Ryeowook," ucapnya pelan sambil membalas uluran tangan Shim Changmin.
"Kami bertiga berteman sejak di Junior High School. Kami satu kelas selama tiga tahun. Sayangnya, saat di Sajon kami harus berpisah kelas. Tapi tiap minggu kami selalu berkumpul. Lebih sering berkumpul di sini," kata Shim Changmin, teman Kyuhyun yang luar biasa jangkung melebihi Le Kwang So yang merupakan siswa paling tinggi di kelasnya.
"Kalian sudah pesan makanan?" tanya Kyuhyun.
"Tentu saja belum yang berulang tahun saja belum datang masak kami harus pesan makanan dulu. Itu tidak sopan," kata Choi Minho.
"Eoh, tahu sopan santun juga kau ternyata," ejek Kyuhyun.
Kyuhyun mengambil daftar menu yang ada di mejanya dan membukanya. Ada banyak makanan lezat dalam menu itu. Kyuhyun memang suka makan. Ia tak pernah menolak makanan apa pun, kecuali sayur tentu saja.
"Kau mau yang mana, Ryeo?" tanya Kyuhyun.
Ryeowook masih menekuri lembaran menu yang ada di depannya itu. Ia tak tahu harus memesan apa. Ia bahkan meneguk ludahnya dengan sudah payah saat melihat harga yang tertera di daftar menu itu yang harganya setara dengan uang sakunya selama tiga bulan.
"Yang sama denganmu saja," kata Ryeowook akhirnya.
"Pilih yang banyak, Ryeowook!" kata Shim Changmin,"kemarin Kyuhyun berulang tahun dan hari ini dia yang traktir. Rugi kalau tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya."
"Oh, ya, maaf, aku tidak tahu! Selamat ulang tahun, Kyu!" kata Ryeowook penuh sesal.
"Jangan dengarkan omongannya! Otaknya memang sering korslet kalau sudah membahas tentang makanan!" kata Kyuhyun.
Kyuhyun tahu Ryeowook merasa sungkan berada di sini. Tapi, mengajak Ryeowook bersama teman-temannya yang lain dan menjadi bagian dari mereka memang sudah direncanakannya sejak lama. Momen ulang tahunnya dirasa cukup pas dan tidak akan membuat Ryeowook menolak ajakannya.
"Pesan saja yang biasa kita pesan di sini tapi dengan porsi yang lebih besar," usul Choi Minho yang mendapat anggukan antusias dari Shim Changmin.
Kyuhyun setuju dengan usul kedua temannya itu dan Ryeowook pun kelihatannya juga tak akan menolak apa yang mereka pesan.
"Okelah, Minho, kau yang pesan!" kata Kyuhyun pada Choi Minho.
"Kenapa harus aku? Kan kau yang punya acara," tolak Choi Minho.
"Itu tugasmu sebagai maknae," sahut Kyuhyun kalem.
Chio Minho mendecih pelan tapi tetap melakukan apa yang disuruhkan padanya. Seringkali dia harus menahan kesabaran kalau kedua temannya itu sudah membahas apa yang harus dilakukan sesuai umur mereka. Choi Minho hanya sebulan lebih muda dari Kyuhyun dan Shim Changmin, namun kedua temannya itu seringkali bertingkah sok tua.
"Setelah makan kita ke Game Champ seperti biasanya?" tanya Shim Changmin pada Kyuhyun sepeninggal Choi Minho.
"Tidak bisa. Aku harus pulang sebelum sore. Kita nonton film saja," kata Kyuhyun.
"Ah, sayang sekali! Sudah lama kita tidak main game," keluh Shim Changmin.
"Setelah ujian kita ke sini lagi. Kita bisa main game sampai puas," kata Kyuhyun lagi.
"Kau suka main game, Ryeowook?" tanya Shim Changmin pada Ryeowook.
"Aku tidak suka main game," aku Ryeowook.
Ryeowook memang tak pernah bersentuhan dengan dunia game seumur hidupnya. Selama ini ia lebih sering bergaul dan bergumul dengan buku-buku.
"Kau suka apa?" tanya Shim Changmin lagi.
"Aku lebih suka membaca," jawab Ryeowook.
"Dia lebih suka di perpustakaan daripada di game center. Tidak sepertimu, Chwang," kata Kyuhyun menambahkan.
"Memangnya kau tak suka ke game center. Kegilaanmu pada game malah lebih kronis daripada aku," kata Changmin.
"Ah, aku ingat sekarang kau anak yang sering duduk di perpustakaan kan? Beberapa bulan yang lalu kau membantuku mencarikan buku yang kuperlukan," imbuh Shim Changmin.
"Benarkah? Ah, maaf aku tak pandai mengingat orang," kata Ryeowook takjub karena ternyata ada juga orang yang mengenalnya.
"Sekali waktu main-mainlah bersama kami. Kau suka basket atau futsal?" tanya Changmin lagi.
"Maaf, aku tidak pandai dalam hal olah raga," jawab Ryeowook dengan nada menyesal.
"Tak apa. Kau bisa melihat kami bermain basket atau futsal. Mungkin saja suatu hari nanti kau juga akan menyukainya," kata Shim Changmin.
Ryeowook tersenyum mendengar ucapan Shim Changmin itu. Ia tak menyangka ada banyak teman yang baik di sekelilingnya. Selama ini ia mengira yang bersekolah di Sajon setipe dengan Han Kaisoo dan teman-temannya.
Jujur saja, awalnya Ryeowook merasa canggung dan takut berkumpul bersama dengan teman-teman Kyuhyun yang tak ia kenal sebelumnya. Sekarang Ryeowook merasa nyaman di tengah-tengah mereka. Apalagi saat kedua teman Kyuhyun memeperlakukannya dengan baik dan ramah.
"Aku sudah memesan makanan. Porsinya dua kali lipat dari yang biasa kita pesan," kata Choi Minho sambil mengenyakkan pantatnya ke atas kursi.
"Banyak sekali. Kau yang habiskan nanti tanpa sisa!" kata Kyuhyun.
"Jangan khawatir. Selama food monster ini bersama kita, pasti tak akan ada yang terbuang percuma," jawab Choi Minho sambil menepuk-nepuk lengan Shim Changmin.
"Kau sebut aku apa? Kaukira kau pun tak rakus saat melihat makanan?" bela Shim Changmin yang sebal karena dikatai food monster.
"Sudah cukup! Berhenti berdebat," kata Kyuhyun menghentikan perdebatan tidak mutu kedua temannya itu.
Makanan yang mereka pesan sudah datang. Mata Ryeowook sampai hampir keluar melihat banyaknya makanan yang tersaji di atas meja. Itu sama dengan porsi makan keluarganya selama sehari.
"Ayo, Ryeowook, makanan ini untuk dimakan bukan hanya untuk dilihat!' kata Choi Minho sambil menyorongkan mangkuk kecil ke arah Ryeowook.
Ryeowook menerima mangkuk kecil yang diberikan Minho padanya. Ia bingung mau makan yang mana karena sebagian besar makanan itu belum pernah dicicipinya.
Akhirnya Ryeowook mengambil udang yang letaknya dekat dengannya. Udang itu sangat besar dengan saus merah dan butiran wijen di atasnya. Udang itu sangat enak. Ryeowook mengunyahnya pelan-pelan merasakan kenikmatan rasa yang memanjakan lidahnya.
Itu makan siang terlezat yang pernah Ryeowook rasakan seumur hidupnya. Bukan hanya itu, ia juga bahagia bersama orang-orang yang mau menerimanya apa adanya. Teman-teman baru yang membuatnya bahagia dengan gurauan jenaka mereka. Teman-teman membuatnya tertawa dengan candaan dan godaan dia antara mereka.
Pagi tadi ia mengeluh karena waktu belajarnya merasa tersita. Sekarang ia malah bersyukur karena Kyuhyun mengajaknya menikmati pengalaman baru yang ternyata amat menyenangkan.
Acara siang itu diakhiri dengan menonton film di Megabox Coex Mall. Kyuhyun yang memilih film karena ia yang berulang tahun hari ini. Bukan film action atau romantis, tapi film tentang persahabatan. Film yang menyentuh hati Ryeowook.
Dalam hati ia berdoa agar persahabatan yang baru diawali hari ini akan terus terjalin. Mungkin tak selamanya, namun Ryeowook berharap bisa bertahan lama. Mungkin hingga mereka lulus sekolah atau mungkin lebih lama lagi hingga mereka beranjak dewasa.
Sore sudah menjelang saat mereka berempat berpisah. Kyuhyun dan Ryeowook menunggu bus yang akan mengantar mereka pulang, sedangkan Shim Changmin dan Choi Minho berboncengan sepeda motor karena rumah mereka berdua satu arah.
"Terima kasih, Kyu, untuk hari yang menyenangkan ini," kata Ryeowook dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Sama-sama. Teman-temanku menyenangkan, bukan?" tanya Kyuhyun.
"Mereka baik dan menyenangkan."
"Mereka memang baik. Aku sudah mengenal mereka cukup lama dan mereka teman yang sangat menyenangkan. Temanku adalah temanmu juga sekarang. Jadi, tak ada alasan bagimu untuk selalu menyendiri. Kau juga berhak untuk bahagia," ucap Kyuhyun lagi.
"Aku juga berharap seperti itu," kata Ryeowook.
"Ayo, naik, busnya sudah datang!" ajak Kyuhyun pada Ryeowook.
Ryeowook mengikuti langkah Kyuhyun. Ia melangkah dengan ringan seringan hatinya yang membuncah bahagia sekarang.
TBC
Annyeong readerdeul, I'm back with Fighting chapter 9. Chapter ini memang ceritanya ringan dan tak banyak konflik. Kasihan Ryeowook kalau hidupnya terlalu banyak konflik. Ada dua tokoh tambahan di chap ini si Changmin dan Minho, anggota Kyuline. Dulu Ryeowook kan masuk Kyuline juga tapi entah kenapa dia gak eksis lagi kan seru tuh kalau ada Ryeowook di situ. Di cerita ini Kyuhyun juga tidak saya buat menderita coz di cerita saya yang lain saya sudah siksa dia sampai mati (hiks…hiks..) jadi agak gak tega kalau buat dia menderita lagi. Jangan lupa review ya, guys, atau boleh juga kalau ada ide cerita biar Fighting tambah seru. So, Happy reading. Gomawo.
