TWO SIDES
by Gyoulight
.
.
.
.
HUNHAN FANFICTION
GENRE: Drama, Romance
RATING: T
.
.
.
.
.
Luhan memangku dagunya di meja ketika Minseok masih berdiri di depannya. Menjelaskan semua hal-hal yang membosankan sampai Luhan menguap dibuatnya. Pria itu kemudian mengusap air matanya yang tiba-tiba saja meleleh dari ekor matanya. Ingin mengatakan ia bosan, tapi Minseok terlalu serius menjelaskan bagaimana bahasa China diucapkan dengan benar.
Baekhyun harus bekerja hingga sore hari ini. Pria brunette itu bilang, Arion tengah berada dalam titik yang paling sibuk, sehingga ada beberapa waktu untuknya atau Sehun tidak pulang ke rumah. Jadi sahabatnya itu tidak lagi punya waktu untuk mengajari Luhan beberapa hal seperti sebelumnya. Tapi disinilah Minseok untuk mengganti posisi Baekhyun yang sudah lama absen dalam mengurusinya.
"Luhanie, kau mendengarku?" tanya Minseok yang ternyata sudah sampai di depan mejanya. Luhan melongo sebentar sampai Minseok terkikik dibuatnya. "Aku menyuruhmu untuk membaca teks."
"Oh, maafkan aku," sesal Luhan membuka lembaran bukunya. Ia tentu tidak ingin mengecewakan Minseok yang sudah susah payah berceloteh di depan dengan ia yang tidak mendengarkannya sama sekali. Paling tidak ia harus bisa melakukan semua hal seperti di sekolahnya dulu.
Minseok mengambil kursinya. Meletakkannya tepat di tengah, antara papan tulis dan meja Luhan. "Kau pasti bosan. Minat belajarmu menurun akhir-akhir ini."
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya tidak punya minat untuk belajar bahasa China─" Luhan menjawab dengan sibuk membuka lembaran bukunya. Sebut saja, ia tidak bisa menemukan teks yang dimaksudkan Minseok. "sejak dulu."
Minseok terkekeh menyilangkan kakinya di kursi. Tawa pria yang hampir kepala tiga itu kini membuat Luhan sedikit curiga bahwa ia tengah dikerjai. "Kau akan membutuhkannya suatu hari."
"Ya, semua orang mengatakan itu saat aku mengeluh. Terima kasih, Minseok," jawab Luhan menutup bukunya. Dan benar, Minseok tengah mengerjainya dan kini pria itu terdengar puas menertawainya.
Minseok beranjak dari kursinya. Ia merapikan buku-buku tebalnya di meja dan tak lupa meletakkan kaca matanya. "Mau kubuatkan sesuatu? Makanan apa yang kau suka?"
Mata Luhan berputar. Ia menggaruk tengkuknya sebelum ragu-ragu untuk menjawab. Karena bisa saja, Minseok kembali mengerjainya tanpa perasaan. "Aku ingin makan pizza, tapi berat badanku tidak boleh naik."
Minseok tertawa renyah setelah mendengar jawaban dari Luhan. Pria lucu itu kemudian mendekatinya dengan tumpukan buku di lengan. "Kau bisa mendapatkannya diam-diam."
"Benarkah?" Mata Luhan berubah berbinar-binar. Ia dengan cekatan membereskan barang-barangnya sebelum Minseok berubah pikiran. "Padahal aku sedang menjadi Oh Sena. Kenapa aku tidak bisa melakukan apapun yang ingin kulakukan?"
Minseok menggeleng kecil menyaksikan Luhan begitu bersemangat. Berbeda dengan saat ia menjelaskan banyak hal di depan tadi. "Hei, kau sedang mendapatkannya. Sehun bahkan meminta kami untuk memperlakukanmu seperti Oh Sena."
"Aku berharap Sena kembali secepatnya. Aku juga ingin pulang." Luhan melepas kaca matanya. Rautnya berubah muram dan Minseok akan iba padanya.
"Mintalah hari libur padanya," saran Minseok yang merujuk pada tuan rumahnya yang agung. Lantas siapa lagi kalau bukan Oh Sehun, pemilik sejuta aturan yang dimainkan Luhan pada dunianya. "Apa salahnya mencoba?"
Luhan terkikik. Ia tentu bukan anak kecil yang tidak bisa jauh dari orang tuanya. Tapi yang namanya hati manusia, jika masih punya ibu dan adik, tentu aneh jika tidak menemuinya sesekali. Dan Luhan yakin, ia masihlah anak yang berbakti. "Akan kucoba."
"Dia bukan orang yang seperti itu dulu," mulai Minseok yang mendahuluinya keluar dari pintu. Namun tepat saat mereka sudah berada di koridor lantai tiga, seorang pelayan mendekati mereka dan segera menarik Luhan untuk pergi.
Luhan kepalang terkejut sampai bukunya terjatuh ke lantai. "Tuan Kris berada disini, tuan harus segera berbenah diri," tutur pelayan itu gusar menarik Luhan jauh-jauh.
Minseok yang masih kebingungan mau tak mau mengekori mereka sesegera mungkin. Ia menjuput buku Luhan yang jatuh, berusaha setenang mungkin dan mengawasi sebisanya jika Kris nekat berkeliling mencari tunangannya. "Kapan dia tiba?"
"Baru saja, tuan," jawab pelayan itu menunjukkan mereka tangga belakang. Karena jika mereka melewati tangga utama, Kris tentu akan menemukan mereka.
"Kenapa dia disini, Minseok?" tanya Luhan berubah bingung. Matanya terlalu kabur untuk menyisir langkah pelayan yang ada di depannya. Minseok pun hanya bisa meresponnya dengan menggeleng.
"Sehun harus tahu ini." Minseok segera membongkar ponselnya. Mendial Sehun dengan gusar sampai harus tinggal di dekat jendela. Ia pun membiarkan Luhan turun lebih dulu untuk menemukan kamar persembunyiannya.
e)(o
Luhan segera turun dari kamarnya saat Kris sudah bosan duduk di sofa. Dijamu dengan agung sampai Minseok harus turun tangan untuk mengajak pria itu berbicara agar tidak bosan menunggu. Kris tersenyum cerah saat melirik Luhan dari balik kepulan asap tipis gelas kopinya. Ia pun semakin melirik Minseok yang diharapkan mengerti untuk segera memberikan mereka hari berdua.
Luhan sangsi saat duduk di dekat Kris ketika pria itu mengajaknya duduk dengan manis. Luhan pun terserang gugup tiba-tiba saat tahu bahwa hanya mereka yang ada disana. Tanpa hiruk-pikuk pelayan rumah yang permisi menyajikan makanan di meja atau sosok Minseok yang sudah raib dimakan waktu.
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan," jawab Kris saat Luhan bertanya dengan matanya. Pria tampan itu ternyata terlalu pintar membaca pikirannya sampai-sampai Luhan terserang sesak nafas. "tapi tidak disini."
"Kris, aku sudah bilang tempo hari," balas Luhan sedikit mengingatkannya tentang Kris yang dicampakkan. Kemudian ia harap Kris mau mengerti dan tidak lagi datang mengganggu waktunya yang berharga begitu tiba-tiba. Karena mau ia dan juga Minseok, bisa saja terserang penyakit jantung karena kehabisan akal─tidak siap dengan kehadirannya.
"Ikutlah denganku." Kris meraih jemarinya. Menatap Luhan begitu penuh arti. Pria itu seperti tengah memohon dengan hatinya, berbeda dengan permohonannya tempo lalu. Dimana pria itu begitu memaksa untuk dituruti keinginannya. Namun Luhan sama sekali tidak bisa menemukan letak perbedaan permohonan itu sedikitpun.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Luhan menarik kembali tangannya. Ia tentu tengah berusaha melakukan perannya dengan benar. Berharap pria tampan di depannya itu mau mengerti bahwa Sena sangat ingin hubungan mereka lenyap dari dunia.
"Kau akan menyukainya," jawab Kris begitu yakin. Dan pria itu bisa menyunggingkan senyum kecilnya ketika Luhan berbaik hati ikut menimbang permintaannya.
Entah apa yang ada di pikiran Luhan ketika ia mengiyakan permohonan dari Kris. Ia benar-benar berjalan memasuki mobil import pria itu seperti lupa segalanya. Luhan mungkin orang yang akan memanfaatkan keadaan. Ia bosan terkurung di rumah besar dan ia butuh angin segar setelah mengikuti semua pelajaran membosankannya. Paling tidak, ia bisa keluar dari rumah itu sebentar. Walaupun setelah ini Sehun akan menjadikannya pajangan rumahnya yang paling antik.
Kris yang tampan sudah tersenyum seperti pria kasmaran usia 17. Hadiah buket bunga atau barang mahal lainnya sudah diturunkan dari mobil itu sehingga Luhan tidak sesak. Merasa jenaka, Luhan hanya menyandarkan dirinya pada sandaran kursi. Mengisi kepalanya dengan keheningan panjang, tanpa perduli dengan kepalanya yang ingin sekali diputarkan lagu lewat radio.
Kris tentu tidak peka untuk merasakan sebuah kebosanan di dalam mobilnya. Ia mungkin saja fokus untuk menyetir mobilnya sendiri, tapi ada satu mobil lagi yang mengikuti mereka di belakang. Dan Kris tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak diikuti sedemikian rupa. Bahkan ketika Kris sudah menggandeng Luhan ketika memasuki taman bermain.
Luhan hanya bisa menganga memasuki taman bermain itu. Matanya penuh takjub, pikiran kusutnya tentang bahasa china hilang seketika. Ada terlalu banyak wahana, sampai Luhan bingung ingin menaiki yang mana ketika ditawari oleh Kris. Pria itu kemudian sudah kembali membawakannya sebuah es krim kesukaannya. Memberinya satu yang besar sampai Kris sendiri menurunkan harga dirinya untuk mengantri dengan baik.
Luhan tanpa sadar sudah menunjukkan senyumnya. Ia mengambil es krim coklat itu lalu duduk di kursi panjang di dekat pohon penuh lampu. Kris ikut duduk di sampingnya. Bersandar pada kursi sambil menatap Luhan yang berbinar menikmati es krim favoritnya. Sedangkan orang-orang Kris mengambil posisi terjauh yang mereka bisa. Masih berjaga di sudut jauh sana tanpa mau mengganggu. Memberi ruang pada bosnya yang mungkin saja butuh privasi dengan tunangan tercintanya.
"Apa yang ingin kau mainkan?" tanya Kris lagi. Pria itu masih menatap satu persatu wahana yang ada di sekitarnya. Menghitungnya seakan ingin membelinya satu persatu sampai tidak ada yang boleh menaikinya selain ia dan tunangannya sendiri.
"Aku mau naik─roller coaster?" jawab Luhan sembarangan. Ia dari dulu sangat suka wahana itu. Dan ia mengaku tidak pernah bosan untuk menaikinya, kapan pun ia kembali ke taman bermain.
"Kau yakin?" kikik Kris menunjukkan tawa kerennya. Entah mau seberapa dinginnya Kris waktu itu, ia tetap bisa menjadi pria hangat yang bisa sangat manis disuatu waktu. Luhan pun masih memuji dengan baik sosok itu dengan sangat luar biasa. Bahkan dengan penampilan mahalnya Kris tanpa berpikir akan mengajak Luhan ke taman bermain yang ramai. Padahal jika Kris mau, ia bisa membooking taman bermain itu atau membelinya untuk liburan pribadinya. Tapi benarkah Kris yang tak suka keramaian menjadi sangat aneh dan tidak berdaya di kaki Sena? Mungkin saja tidak.
Luhan menggeleng. Ia harusnya menarik ucapannya dengan segera. Tentu saja wignya tidak boleh terlepas di hadapan Kris jika ia menaiki permainan gila semacam itu. "Rambutku akan berantakan, jadi mungkin bianglala? Atau pulau beruang?"
"Sudah kuduga, kau pasti akan naik itu jika kemari," jawab Kris kemudian menawarkan tangannya. Luhan yang lega karena masih ingat beberapa hal tentang Sena, akhirnya menatap Kris begitu polos. Pria bermata rusa itu tanpa berpikir menerima uluran tangan itu. Membiarkan tangannya digenggam dengan begitu manis dan juga terasa amat sangat dilindungi.
Luhan tersenyum manis sekali. Ia mungkin tidak lagi punya harga dirinya sebagai Sena karena ingin menolak ini. Ia seharusnya membuat Kris menyerah menghadapinya, tapi entah mengapa ia sangat yakin keputusannya untuk menuruti Kris adalah sesuatu yang benar. Terlepas dengan ia yang tidak ingin mendekam di kamarnya, maka bukankah tidak ada salahnya menerima kesempatan emas seperti ini?
Luhan tiba-tiba tertarik pada kerumunan badut di dekat wahana pirate. Ia menarik Kris yang penampilannya terlalu mencolok itu untuk ikut berdesak-desakan dengan banyak orang. Orang-orang Kris pun kelagapan mengejar bosnya sendiri, sampai harus mendorong banyak orang di jalannya. Tapi Kris tetap tidak perduli dengan orang-orangnya. Ia hanya mendengarkan satu orang saat ini. Hanya Oh Sena seorang.
"Dia punya hadiah untuk kita," seru Luhan mendekat pada Kris. Tak lama badut-badut itu memasangkan mereka topi bertelinga lucu. Sampai Luhan menertawakan Kris karena tidak keberatan memakai barang aneh di kepalanya. "Kau terlihat seperti ayah kelinci sekarang."
"Benarkah?" tanya Kris membenarkan topinya. Ia sesungguhnya paling risih dengan kegiatan semacam ini. Ia lebih suka acara klasik dari pada harus berdesakan dengan keramaian. Tapi ia sekali lagi tidak bisa berbohong, bahwa Sena telah membuatnya banyak berpikir. Membuka matanya lebar-lebar bahwa dengan punya uang kadang tidak membuat ia bahagia dalam hidup.
e)(o
Sehun membuang tumpukan laporan yang baru saja sampai di mejanya. Baekhyun yang sampai di pintu hanya bisa menjatuhkan rahangnya. Hendak bertanya mengapa bosnya itu membuang laporan divisi pemasaran setelah ia dengan benar meletakkannya di meja. Dan Sehun malah menjatuhkan dirinya di kursi putar sampai Baekhyun urung keluar dari ruangan.
"Beri tahu mereka sistematika penulisan laporan," ucapnya menyugar surainya yang hitam legam. Masih terlihat begitu rapi meski pria pucat itu mengacaknya sesuka hati.
"Mereka pemain lama kantormu. Jadi tidak mungkin mereka tidak tahu sistematika," balas Baekhyun memicingkan ekor matanya. Atasannya yang berubah sensitive itu baru saja membuat pertanyaan besar di kepalanya. Entah apa yang membuat suasana hati Sehun berubah seburuk ini.
Sehun melirik sekertarisnya dengan mata elang miliknya. Tangannya sudah menunjuk ceceran kertas yang berserakan di lantai. Ia bahkan seakan tidak punya rasa penghargaan yang lebih baik perihal menilai hasil kerja keras karyawannya. "Kau bilang itu laporan? Coba kau check back dengan benar sebelum kau bawa banyak laporan ke ruanganku."
Baekhyun melipat lengannya mendengar ia turut dipersalahkan hari ini. Ia tentu tidak suka pada orang yang selalu menurutkan emosinya. Membuat orang lain menjadi korban kemarahannya, sampai ia ingin pergi saja seperti Jongin kemarin. "Kau menyalahkanku sekarang?"
Sehun mengambil ponselnya. Ia segera beranjak dari sana dengan Baekhyun yang mau tak mau mengekor dengan benar-benar tidak suka. "Mana tugas yang kuminta kemarin?"
Baekhyun menaikkan salah satu alisnya. "Tugas apa?"
"Dokumen pemecatan Jongin," jawab Sehun tidak menoleh sedikitpun. Ia nyatanya sudah lebih dulu masuk ke ruang rapat sebelum Baekhyun memanggil Jongdae yang masih bersantai di ruangannya. Alhasil Sehun berdiri menunjuk arlojinya sendiri setelah mendapati ruangan itu hanya membayangi dirinya.
Baekhyun meletakkan laporan yang baru saja dibuang Sehun ke lantai. Ia dengan harga diri jatuh menjuput setiap kertas itu meski Sehun melarangnya. Karena suka atau tidak divisi pemasaran bisa saja benar soal laporan itu. "Tidak ku kerjakan."
"Kenapa tidak kau kerjakan?" tanya Sehun dipenuhi aura hitam. Ia sudah berada dalam level berbahaya siang ini. Dan itu tidak baik untuk kesuksesan rapat internalnya.
"Bos, sepertinya kau butuh minum atau mungkin berendam air dingin." Baekhyun memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Belum semenit ia mengirim pesan kepada Jongdae, pintu belakang sudah diburu karyawan dengan berbagai penampilan. Lusuh, kelaparan, mengantuk atau mungkin kelelahan menjadi pemandangan divisi pemasaran kali ini. Lalu tibalah Jongin sebagai kepala mereka, dan juga manager divisi lainnya sebagai perwakilan.
"Aku serius," lolong Sehun tajam menggertakkan giginya. Ia geram dengan kehadiran Jongin yang seperti muka tebal karena insiden tidak hormatnya kemarin.
"Aku lebih serius," jawab Baekhyun mulai menyediakannya kursi untuk segera memulai rapat. Karena demi Tuhan, Baekhyun sendiri juga sudah mulai mengalami gangguan lambung. "Kita butuh Jongin, okay? Kau akan menyesal jika kau memecatnya."
Sehun mendudukkan dirinya. Merasa tak sudi membuka kumpulan laporan yang sudah dibuangnya. Jadi ia ingin mendengarkan secara langsung penjabaran ketua tim mereka siang ini. Sekaligus menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan keluhannya yang bercampur dengan lapar.
"Apa yang terjadi denganmu?" bisik Baekhyun yang sudah selesai memberi kalimat pembuka. Kini pria brunette itu menyuruh atasannya untuk segera memulai rapat. Terserah jika Sehun ingin membombardir ruangan rapat atau membunuh Jongin. Baekhyun tidak perduli dan ia harus segera makan siang. "Aku tidak perduli apa yang terjadi padamu, tapi aku harus makan siang sebelum lambungku mengempis."
"Kim Jongdae lakukan pekerjaanmu," utus Sehun melipat lengannya. Ia masih tak kunjung membuka laporan di hadapannya meski semua manager sudah selesai membaca lembaran-lembaran tipis itu dan memasukkannya ke dalam otak.
"Ne." Jongdae segera menggeser layar lengkung di depannya. Menampilkan beberapa matriks yang tergambar dalam laporan para kepala. Satu persatu titik matriks itu kemudian mengeluarkan beberapa point penting sampai pada sebuah link untuk mengakses beberapa gambar dan detail. "Kami sepakat kalau ini akan jadi event terbuka dan promosi diwaktu yang bersamaan. Kenapa kami memilih event terbuka seperti ini? Itu karena para media akan memberikan nilai tambahan untuk memacu Star-S di pasar otomotif, sehingga─"
"Lupakan event terbuka," potong Sehun memainkan jemarinya.
Jongdae mengusap peluhnya. Bagaimana pun meyakinkan CEO seperti Oh Sehun adalah tugas yang paling sulit di dalam hidupnya. Tidak mudah membuat Sehun setuju dan membiarkan anggota timnya bersantai setelah sekian banyak badai dibebankan pada mereka. "Tapi ini akan jadi nilai lebih, pak. Kita bisa lihat bagaimana Ghostliner berhasil untuk membawa produk mereka ke pasar Jepang."
"Lalu apa kalian sudah mendapatkan izin? Dimana kalian akan memulai test drive?" Sehun akhirnya tertarik dengan laporan karyawannya. Ia lantas membuka lembaran-lembaran itu dengan tidak berperasaan sampai semua karyawannya menelan ludah dengan kasar. "Bagaimana dengan biaya sarana, CMO Kim? Atau kau mau berbicara tentang ketersediaan anggaran kita?"
Jongdae menggeser beberapa layar imajiner di depannya. Menunjukkan sebuah gambar lokasi yang begitu ideal sampai Baekhyun mengangguk memberi pendapat. Tapi lain halnya dengan Sehun yang masih tidak mau memandangi wajah Jongdae yang sibuk menjelaskan. "Jeju. Kami juga telah mendapatkan izin dan juga sponsor yang layak untuk event."
Jongin menutup kertasnya. Memandangi Sehun seprofesional mungkin untuk menyampingkan urusan pribadinya. "Untuk biaya sarana, Arion tidak akan terganggu untuk itu. Ini adalah harga yang sesuai jika melakukan event terbuka─"
Sehun membuang sekali lagi lembaran di tangannya. Membuat Baekhyun menggeleng dan memijit keningnya frustasi─sekali lagi. Jongdae, Jongin dan jajaran karyawan lainnya kemudian hanya bisa menatap kertas tak berdaya itu tergeletak di lantai. Sedangkan jiwa mereka sudah melayang ke awan, tidak berani mengusik bumi karena Sehun akan segera memalu hati mereka sampai tidak berbentuk.
"Kalian bilang ini hasil kerja keras kalian? Kalian bahkan tidak mempertimbangkan error yang mungkin saja terjadi. Apa yang akan kalian lakukan jika test itu gagal dan promosi dilakukan secara bersamaan? Ini namanya bunuh diri," tekan Sehun begitu tajam dan juga tegas disuatu waktu. Jongdae sukses gemetar di posisinya. Belum genap dua bulan ia bekerja dengan Sehun, nyalinya sudah menciut melihat hasil kerja timnya dibuang di depan manager divisi lainnya. "Lupakan event terbuka atau yang lainnya. Rapat diundur sampai pukul Lima sore."
Bagai petir yang menyambar, seluruh karyawan sukses tegang di kursinya. Para manager divisi sudah bangkit dari kursinya beserta Baekhyun yang mulai sibuk mengambil kertas yang berserakan di lantai. Berbeda dengan Jongin yang mengusap wajahnya kasar. Pria bersurai eboni itu segera menatap Jongdae yang masih membatu di posisinya. Memerintahkan pria itu untuk segera bergerak sebelum Sehun benar-benar meneriaki mereka.
Sehun yang hendak beranjak kemudian mendapati ponselnya menjerit hingga Baekhyun menatapnya tajam ingin menyuruh atasannya itu segera mengakhiri keributan ponselnya. Tanpa babibu pria pucat itu pun menjawab panggilannya tanpa sepatah dua patah kata. Membiarkan lawan bicaranya di ujung sana sibuk melaporkan sesuatu yang bahkan tidak bisa Baekhyun dengar dengan telinganya.
"Ada apa?" tanya Baekhyun berhasil memeluk semua dokumen di tangannya. Menyita atensi Jongin yang baru saja ingin pergi. Tapi melihat raut lelah Sehun, mereka jadi urung untuk tidak perduli.
"Apa yang dilakukannya?!" tanya Sehun menggenggam ponselnya. Hampir melempar benda itu jika saja ia tidak berhasil menahan emosinya. Kepalanya bahkan penuh dan ini menjadi tidak wajar baginya karena jika sesuatu yang lain menjadi beban pikirannya yang lain.
"Apa yang terjadi?" Baekhyun bersih keras ingin mendapatkan jawaban. Rautnya berubah khawatir, ia begitu ingat kabar dari Minseok beberapa jam yang lalu. Bahwa Kris datang ke kediaman Sehun tanpa basa-basi.
Sehun beranjak dari kursinya. Melonggarkan ikatan dasinya sampai ia bisa bernafas dengan lega. Tapi nyatanya tidak ada yang berubah. Ia tetap kalut dengan semua pikirannya yang terbang. "Luhan pergi dengan Kris, apa itu masuk akal?"
Baekhyun tertegun di posisinya. Bayangan hal-hal buruk kemudian melubangi kepalanya sendiri. Membuatnya tidak bisa berpikir dengan baik bahkan untuk memberi saran yang tepat untuk menyelamatkan sahabatnya. "Kemana mereka pergi?"
"Aku tidak tahu," jawab Sehun yang kemudian pergi begitu saja.
e)(o
Turun dari bianglala, Luhan melangkahkan kakinya pada jalanan taman yang semakin ramai. Kris masih melangkah di sampingnya sesekali menggenggam tangannya. Menghindari keramaian yang mungkin saja menelan Luhan dan membuatnya kehilangan tunangannya yang cantik. Itu akan jadi lucu jika ia kehilangan Sena karena segerombol orang yang tidak bisa menjamin akan membantunya.
"Kau senang hari ini?" Luhan mengangguk kecil, sedangkan tubuhnya sudah lelah bekeliling. Kris yang masih cukup punya tenaga kemudian menyeretnya ke sebuah kursi. Kemudian menyuruhnya duduk dan menikmati matahari yang semakin tenggelam di balik bukit.
Kris tersenyum lega mendapatkan respon dari Luhan. Pria pirang itu kemudian melepaskan tautan jemarinya. Tersenyum kecil melihat tatapan Luhan yang begitu meneduhkan hatinya. "Kau ingat dengan hari pertama kita jumpa?"
Luhan memutar matanya. Ia tidak tahu bagian mana yang ia lupakan. Tapi pertemuan pertama Sena dengan Kris adalah bagian yang paling sulit untuk diketahuinya. Bahkan sangat pribadi sampai-sampai Baekhyun dan Sehun tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya. Dan keduanya menjadi terlalu sibuk sampai-sampai melupakan hal sekecil ini.
"Kau tak mau bicara padaku, hari itu," mulai Kris menjuput semua memori lamanya. "Tapi kau gadis yang baik. Kau masih mau mendengarkan semua perkataanku meski kau membenciku."
Luhan tergugu. Ia pun tidak tahu benar hal sepenting ini. Lantas ia harus memikirkan banyak alasan yang jelas sampai pembicaraan ini selesai dari mulut Kris.
"Aku tidak perduli apa kau mencintaiku atau tidak. Tapi─" Kris menggantung kalimatnya. Ia sepenuhnya tidak perduli pada ketukan jantung Luhan yang terus terpacu untuk didengarkan. Tapi Kris benar-benar tidak mendengar apapun selain kegugupannya sendiri.
"Kris─" potong Luhan untuk menolak semua cerita yang tidak pernah ia ketahui. Ia ingin pulang dan mengakhiri ini. Ia sudah cukup bersenang-senang dan ia harus segera pulang demi keselamatannya sendiri.
"Apa kau menyukai orang lain?" tanya Kris tiba-tiba mendapatkan manik Luhan dalam hazelnya yang coklat. Menelisik lembut dalam lautan jiwanya, tapi sakit di hatinya begitu pilu sampai ia menjadi seonggok luka yang menyedihkan. Padahal jika ia mau menerima banyak orang luar biasa, ia bisa mendapatkan yang lebih baik dan jauh lebih sempurna. Tapi entah mengapa ia tak mau yang lain selain wanita di hadapannya ini.
"Ya," jawab Luhan meyakinkan. Sesungguhnya Luhan ingin Kris menyerah dengan alasan klasik seperti ini. Tapi mau bagaimanapun Kris adalah orang yang tidak mudah percaya. Terlebih pada alasan pasaran yang sering kali menjadi alasan kandasnya sebuah hubungan sepihak.
"Setelah apa yang ku lakukan, jawabanmu masih tetap sama?" selidik Kris tidak berkedip sedikitpun. Hatinya hancur berkeping-keping, tapi ia tidak mau mengakui kekalahannya sendiri. "Apa lagi yang harus ku lakukan untuk mendapatkanmu?"
Luhan beranjak dari kursinya. Ia mengambil tasnya lalu mengambil nafas dengan tenang sebelum mengatakan, "Aku hanya tidak bisa mencintaimu, Kris."
"Kau menyukainya?" Kris masih bersih keras menggali 'siapa' yang dimaksud oleh tunangannya. Dan demi Tuhan Luhan tidak percaya jika benar Sena mencintai pria lain dihidupnya. Lalu pria itu bukanlah Kris yang memiliki segalanya. Walaupun Kris mungkin saja menjadi sebuah standar pria keren di dunia.
Luhan ingin menanyakan 'siapa', tapi tentu itu akan aneh untuk perannya. Maka ia melepaskan cincin di jemarinya lalu memberikannya pada Kris sebelum pria itu beranjak untuk menarik kembali ucapannya. Sungguh dramatis, Luhan bahkan bisa sangat simpati pada Kris saat ini. Oh, wanita mana yang menolak orang setampan Kris kalau bukan Sena.
Kris menatap Luhan dengan tatapan terlemah miliknya. Ia seakan kehilangan harta paling berharga ketika Luhan tak mau menatap kedua matanya. Bagaimana tidak sakit ketika hatinya ingin berkata dan memohon tapi orang itu tidak perduli, lalu memenangkan hati yang lain. "Malam itu kau belum memberiku jawaban, lantas apa jawabanmu?"
Luhan kembali kalut dalam hatinya. Ia sama sekali tidak mengerti maksud dari pertanyaan Kris padanya. Ia benar-benar tidak tahu apa yang pernah terjadi di antara Sena dan Kris. Ia bersumpah, ia ingin segera pulang dan menyalahkan Sehun karena tidak pernah mengenal adiknya. "A-aku tidak bisa menjawabnya."
"Kau seharusnya tidak membuat pilihan yang salah," gumam Kris pelan. Dan itu bisa terdengar di telinga Luhan. Membuatnya gemetar seketika, karena Kris kembali menjadi dirinya sendiri. Bukan Kris yang baru saja mengizinkannya naik banyak wahana dan juga bersusah payah mengantri membelikannya es krim, tapi sebuah kegelapan yang ada di punggungnya kini menguar hingga wajahnya. Memberinya kesan tidak wajar dan dingin disatu waktu.
Kris menarik lengan Luhan. Menyeretnya kembali ke pelantara parkir untuk menemukan mobilnya. Orang-orang Kris turut berlari menjemput mobilnya yang terparkir jauh. Tidak ingin kehilangan satu incipun bosnya yang mungkin saja menghilang dari pandangan. Luhan masih kalut menyeimbangkan langkahnya dengan pria yang menyeretnya. Langkahnya hampir tersandung dan ia tidak tahu apa yang Kris pikirkan tentang ini. Yang jelas Luhan sangat takut pada kemurkaan Kris yang sudah dicap tidak punya rasa belas kasih.
Luhan hampir dilempar ke kursi penumpang jika sosok jangkung yang lain tidak lebih dulu menariknya. Luhan hampir mengeluarkan bola matanya ke lantai ketika Sehun kini berdiri di hadapannya. Menyembunyikannya di balik punggung tegapnya, sampai Kris benar-benar tidak bisa dilihatnya.
"Kau tidak bisa memperlakukannya seperti ini," tegas Sehun melotot pada manik Kris yang menajam. Kehadiran Sehun saat itu benar-benar menjadi suatu kelegaan tersendiri bagi Luhan. Tapi jauh dari itu, Luhan malah berpikir bahwa kehadiran Sehun akan memberinya pengalaman terburuk cepat atau lambat.
"Kau tidak punya hak untuk ikut campur," balas Kris menutup pintu mobilnya kasar. "Aku harus bicara dengannya."
Sehun semakin menggenggam Luhan di punggungnya. Tidak mengizinkan Kris menyentuhnya bahkan seujung kuku. "Aku mengizinkannya bertunangan denganmu tapi tidak untuk mengekangnya."
Kris menajamkan ekor matanya. Ini pertama kalinya ia merasa sangat tidak dihargai setelah kehadiran perjanjian mereka. "Dia baru saja menentang perjanjian kita."
"Seperti yang ku katakan, Kris, aku hanya mengizinkanmu bertunangan dengannya. Tapi tidak dengan mendapatkannya. Kau seharusnya mencamkan itu sampai ke alam bawah sadarmu." Sehun menekan, begitu juga dengan Kris yang tidak mau kalah dalam berargumen.
"Peran apa yang sedang kalian mainkan sebenarnya?" Kris memiringkan senyum liciknya. Ia sepenuhnya tidak habis pikir dengan pikiran dua bersaudara di depannya ini. "Kau benar-benar mencoba membodohiku?"
Sehun terdiam. Hatinya bergejolak untuk tetap memikirkan realita tanpa batas. Ia bersiap mengambil ancang-ancang jika saja rencananya benar-benar terbongkar. Atau buruknya, Kris mengetahui jika Luhan bukanlah tunangannya.
"Kalian benar-benar bermain di belakangku," tutur pria pirang itu sejelas-jelasnya.
Sehun semakin memicingkan matanya. Tidak begitu mengerti dengan banyak pernyataan pria China-Kanada di hadapannya kini. "Apa maksudmu?"
"Malam di pesta itu. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dan aku tidak bodoh untuk mengetahui hubungan macam apa yang kalian miliki." Kris kembali membuka pintu mobilnya. Memasukinya dengan bantingan pintu yang tidak berperasaan. Ia pun memberi ketegasan terakhir lewat jendela mobilnya. "Ingatlah, kalian sudah menyatakan perang denganku."
e)(o
Mobil metallic itu sudah melesat menyapu aspal. Sehun berusaha tenang menikmati jalanan hitam di hadapannya. Tidak ingin perduli dengan rapat yang terpaksa tidak bisa dihadirinya karena langit benar-benar sudah gelap. Ia tak punya pilihan lain selain memilih salah satunya. Mengabaikan perusahaan atau mengabaikan persoalan adiknya yang tak kunjung selesai? Tentu Sehun memilih opsi kedua, karena ia pikir dengan memilihnya ia bisa menyelamatkan perusahaannya secara otomatis. Tapi malangnya semua itu tidak sesuai dengan jalan berpikirnya.
"Jadi Sena menyukai kakaknya?" Luhan bergumam dengan imajinasi mata kosongnya. Ia masih tenggelam di kursinya sambil memeluk erat sabuk pengamannya. Berjaga-jaga jika Sehun kembali menggila karena marah dengan menginjak pedal gas kuat-kuat seperti sebelumnya.
"Tidak mungkin," jawab Sehun sama kosongnya.
"Ini terlalu jelas," lirik Luhan lewat ekor matanya. Ia mencoba memastikan sesuatu lewat kekalutan Sehun. Tapi pria pucat itu tetap bersih keras mengatakan tidak dan sama terkejutnya dengan hal ini.
Sehun kembali membanting setirnya. Membuat Luhan tepejam dalam kubangan rasa takutnya. "Aku bilang tidak!"
Luhan mengangkat kedua lengannya. Ia menyerah karena sudah mengganggu macan kelaparan. "Baiklah, asal kau tidak menginjak pedal gasmu dengan gila. Karena ini sudah gelap dan aku kehilangan lensa kontakku. Pandanganku jadi memburam karena mataku minus."
"Terserah. Tapi kau harus mengetahui sesuatu," Sehun menoleh sebentar pada Luhan di sampingnya. "ini semua adalah salahmu."
Luhan berubah masam. Ia tentu tidak bisa menerima suatu kesalahan yang tidak ia perbuat sama sekali. "Kenapa ini menjadi salahku?"
"Kau pergi tanpa seizinku dan inilah yang terjadi," tutur Sehun geram. Ia tidak tahu harus bagaimana saat ini. Pikirannya pun terlalu penuh untuk memikirkan rencana B yang bisa membuat permasalahannya selesai.
Luhan mengepalkan tangannya. Tapi ia tidak bisa melepaskan pegangannya pada sabuk pengamannya. "Ini sepenuhnya salahmu. Kau menciumku malam itu."
Sehun tanpa sadar menginjak pedal gasnya dengan keras. Membuat mobil yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan yang cukup menakutkan. "Kau yang menciumku duluan, sialan!"
"Lalu kenapa kau balas menciumku?" tanya Luhan polos. Sepolos warna dressnya yang putih dan sedikit bernoda di ujungnya karena es krim.
"Hentikan─ini jadi topik yang menjijikkan." Sehun kembali terfokus pada setirnya. Berusaha mengontrol kecepatan karena mereka sudah melewati jembatan panjang dengan pengguna jalan yang padat. Dan ia tidak ingin membuat catatan hitam dengan mobilnya hanya karena ia tenggelam dalam emosi dan juga rasa aneh di dadanya.
Luhan menatapnya dengan tatapan tajam miliknya. Nyaris urat di leher pria yang menyamar sebagai wanita itu mencuat dengan jantan. "Kau menikmatinya, bodoh. Kau benar-benar pria paling kurang ajar yang pernah ku temui!"
Sehun yang merasa kepalanya seperti baru saja dipalu, seketika menginjak pedal remnya. Membuat roda mobilnya tercekit dengan suara ternyaring yang pernah ia dengar. "Berhentilah mengoceh, ini benar-benar salahmu," omel Sehun menunjuk wajah Luhan yang melotot padanya.
Luhan tak kalah melotot. "Itu salahmu sendiri! Kenapa kau tidak bisa melihat Kris ada disana?"
"Bagaimana denganmu? Kau sendiri yang mencium orang sembarangan saat mabuk." Sehun memejamkan matanya. Ia kemudian segera membuka pintu mobilnya untuk mencari udara segar. "Lagi pula itu hanya sebuah ciuman."
Luhan mengembulkan kepalanya dari jendela mobil. "Kau bilang ini hanya? Kau itu telah merebut sesuatu yang berharga dariku."
Sehun berdecih. Ia sungguh bosan meladeni sikap kekanak-kanakan Luhan. Ia bahkan terlalu penat untuk menyadari bahwa wajahnya berubah menjadi panas mengingat insiden mereka. "Jangan bilang kau tidak pernah melakukannya."
Luhan kemudian menggertakkan giginya. Ia membuka jemarinya, lalu merentangkannya pada Sehun yang sudah kehilangan harapan. "Dengar, melakukan sesuatu seperti itu harus ada alasan. Dan kita tidak sedang berada dalam suatu alasan yang jelas untuk melakukan hal semacam itu."
"Turun!" pekik Sehun membuka pintu mobilnya. Kepalanya semakin pening mendengar ocehan tak jelas dari Luhan. Dari pada kepalanya pecah, ia harusnya menyeret Luhan untuk turun dari mobilnya sesegera mungkin.
"A-apa?" Luhan melongo dengan wajah sok polosnya.
Sehun semakin kesal. Ia pun menarik lengan Luhan untuk segera pergi keluar. "Kubilang turun!"
"Apa yang kau lakukan?!" Luhan memberontak, ia sepenuhnya menolak untuk disentuh.
Sehun merogoh saku jasnya. Menjuput ponselnya yang sudah menampilkan puluhan panggilan dari Baekhyun. Dan sekarang ia memberikan ponselnya pada Luhan. Memaksanya untuk menuruti sebuah perintah pentingnya. "Yakinkan Kris, buat ia berubah pikiran."
Luhan menampik lengan Sehun. Nyaris ponsel mahalnya terlepas. "Tapi aku tidak mau menikah dengannya."
"Lakukan!" tegas Sehun tak mau tahu.
Luhan menjambak rambutnya sendiri. Sampai ia lupa bahwa rambut itu adalah wig yang gampang sekali lepas. Alhasil wignya kini berubah menjadi berantakan. "Tidak semudah itu, sialan! Kau pikir dia pria sebaik pangeran? Kau sendiri yang mengatakan bahwa Kris bukan orang sembarangan."
Sehun kembali menyodorkan ponselnya. Bersih keras bahwa cara yang ada di kepalanya adalah jalan satu-satunya. "Lakukan apa yang kukatakan atau aku akan meninggalkanmu disini."
"Kalau aku menikah dengannya, kau dan aku bisa ketahuan, bodoh!" tandas Luhan.
Sehun menggenggam sendiri ponselnya. Kepalanya hampir pecah sekarang juga. "Kau tidak mengerti. Aku bahkan belum memulai proyekku."
"Hei, ini tidak semudah yang kau pikirkan. Ini percuma. Kris sama berengseknya denganmu. Kau hanya harus menemukan Sena secepatnya." Luhan kembali duduk di kursinya. Tidak ingin berdebat terlalu panjang dengan Sehun yang keras kepala. "Hanya dia yang bisa melawan Kris untukmu."
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
A/N:
Hi, kali ini double update. Selamat hari minggu ya ^^
Feel nulis aku lagi menurun. Tapi kemaren ajaib banget langsung bisa selesein dua chap. Dan baru bisa up ditengah malam yang lain hehe..
Aku sebenernya enggak maksa kalian buat rajin review. Tapi kalau kalian punya komentar atau saran, jangan ragu untuk dituang di kolom review ya. Aku selalu seneng kok baca review kalian.
Kemudian, terima kasih yang tiada henti buat kalian yang masih nunggu dan mendukung ff ini. Aku pengen ngomong lagi sebenernya, tapi aku lupa. #apaansih? Yaudah deh, aku pamit aja.
Sampai jumpa di next chap ya ^^
