CHAPTER 11

Kim Ryeowook merasa resah dan kesepian. Sudah hampir seminggu Kyuhyun tak masuk sekolah. Kabar beritanya pun tak terdengar. Ryeowook hanya tahu Kyuhyun sakit dari wali kelasnya. Tapi apa sakitnya, tak ada yang tahu. Kim Bum So Seonsaengnim tak memberi keterangan apa pun tentang penyakit Kyuhyun. Pasti penyakitnya parah karena anak itu sampai tidak masuk sekolah selama hampir seminggu.

Tidak ada pelajaran penting di sekolah setelah ujian. Mereka hanya masuk untuk mengikuti class meeting dan persiapan acara tutup tahun ajaran. Mereka yang masuk hanya menunggu hasil ujian dibagikan.

Siswa yang nilainya di bawah kriteria ketuntasan harus mengikuti perbaikan. Yang sudah tuntas bisa bersantai menonton pertandingan di gedung olahraga atau melihat persiapan pengisi acara tutup tahun di aula.

Ryeowook ingin bertanya pada Shim Changmin dan Choi Minho yang sudah mengenal Kyuhyun dengan baik. Tapi, ia malu karena artinya ia harus mengunjungi gedung olah raga yang ramai. Siswa mulai kelas satu sampai kelas tiga berkumpul di sana. Apalagi Ryeowook yakin kalau Han Kaisoo dan teman-temannya pasti juga ada di sana. Ryeowook merasa segan dan juga takut.

Ryeowook menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang piala, seperti biasaya. Sudah hampir seminggu ini ia rajin mengunjungi ruang piala. Ia duduk di depan foto Kyuhyun dan memandangi gambar wajah yang terpajang di dinding itu.

Di tangannya terdapat buku gambar ukuran A3 dan pensil artist graphite. Ia menggambar sketsa wajah Kyuhyun dengan pensil berujung lembut itu. Gambaran tangan Ryeowook sangat bagus. Sketsa wajah Kyuhyun terlihat hidup.

Ryeowook ingin memberikan hasil buatan tangannya itu sebagai hadiah ulang tahun untuk Kyuhyun. Memang sudah sangat terlambat karena Kyuhyun berulang tahun sudah hampir tiga pekan yang lalu.

Tapi apa mau dikata. Ryeowook tak punya uang untuk memberikan hadiah yang dirasa layak untuk Kyuhyun. Akhirnya Ryeowook memutuskan memberi Kyuhyun hadiah hasil karyanya sendiri. Ryeowook akan membiangkai gambarnya itu dan dihadiahkannya pada Kyuhyun.

Namun, sayang anak itu malah tidak masuk sampai hari ini. Tapi ada untungnya juga. Kyuhyun jadi tidak tahu hadiah kejutan yang akan diberikan Ryeowook padanya.

Lukisan Kyuhyun sudah hampir selesai. Sudah 90% rampung. Ryeowook tinggal menambahinya dengan kata-kata puitis yang sudah dirangkainya jauh-jauh hari.

Tak ada seorang pun yang tahu bakat Ryeowook yang satu ini. Orang tua dan kakak perempuannya pun juga tidak tahu. Ryeowook menggambar memang hanya sebagai hobi. Di kala senggang dan tak ada tugas sekolah yang menyita waktunya, Ryeowook menghabiskan waktu luangnya dengan menggambar.

Objek apa saja suka Ryeowook gambar. Yang paling sering, tumbuhan dan manusia. Hewan jarang sekali Ryeowook jadikan bahan lukisan karena hewan-hewan itu selalu melarikan diri sebelum Ryeowook menyelesaikan pekerjaannya. Hasil coretan pena Ryeowook itu tersimpan rapi dalam laci rak bukunya.

Ryeowook tengah memberikan sentuhan akhir pada lukisannya itu. Ia mengarsir pinggiran wajah Kyuhyun dengan bayang-bayang samar. Ia sampai tak menyadari ada orang lain yang mendekatinya saat itu.

"Oh, kau di sini rupanya, Kim Ryeowook, mengagumi wajah namjachingu-mu itu, ya?" kata seseorang yang terdengar penuh cemooh padanya.

Ryeowook tercekat. Ia sangat mengenal pemilik suara itu. Ia selalu berdoa tak pernah membuat masalah dengan orang itu. Namun, orang itu sendiri yang kini memergokinya sendirian di ruang piala yang sepi.

Ryeowook menutup buku gambarnya. Sialnya, orang-orang yang memergokinya malah merampas buku gambar dari tangannya. Mereka membuka-buka buku gambar itu dan tertawa terbahak saat melihat apa yang tergambar di sana.

"Jadi, benar katamu, Shin Dong Min. Anak ini punya hubungan abnormal dengan Cho Kyuhyun. Lihat mana ada orang yang menggambar seperti ini kalau mereka tak punya hubungan apa-apa!" kata Han Kaisoo, orang yang sangat ditakuti Kim Ryeowook.

"Aku selalu benar. Mana pernah aku mengarang-ngarang cerita? Tikus itu memang tak hanya miskin tapi juga tidak normal," kata Shin Dong Min licik di tengah-tengah tawa mengejeknya.

"Aku hampir saja tak memercayai ceritamu, Dong Min. Aku belum pernah melihat sendiri orang yang punya kelainan seperti Kim Ryeowook ini. Kau dan Cho Kyuhyun sama-sama menjijikkan, Kim Ryeowook. Kalian berdua seharusnya merasa beruntung karena diterima di Sajon. Tapi kalian berdua malah mengotori reputasi Sajon dengan kelakuan hina kalian," kata Han Kaisoo yang sangat merendahkan harga diri itu.

Kim Ryeowook semakin tersudut mendengar ucapan Han Kaisoo dan Shin Dong Min yang ditujukan padanya dan Kyuhyun. Mereka hanya berteman. Namun, mereka malah menganggapnya sebagai sesuatu yang hina.

"Tidak! Bukan begitu," cicit Kim Ryeowook mencoba membela diri.

"Bukan begitu apanya? Bahkan Shin Dong Min sendiri pernah melihatmu bersama Cho Kyuhyun di toilet setelah semua anak pulang dan kalian melakukan hal yang tidak senonoh di sekolah. Memalukan!" cecar Han Kaisoo tanpa belas kasihan.

"Itu tidak benar!" sanggah Kim Ryeowook.

"Jadi menurutmu aku berbohong, begitu!" kata Shin Dong Min mengintimidasi.

Semua yang mereka katakan itu memang tidak benar. Shin Dong Min hanya mengarang cerita yang semakin menyudutkan posisi Kyuhyun dan Ryeowook. Celakanya lagi Han Kaisoo tentu lebih percaya pada Shin Dong Min daripada Ryeowook.

Shin Dong Min mencengkeram dagu Ryeowook dan mendesak tubuh kecil Ryeowook ke dinding. Ryeowook terjepit di antara ketiga orang yang selalu menganiayanya lahir dan batin itu.

"Aku tidak berkata seperti itu," jawab Ryeowook ketakutan.

"Jadi, benar kan kau selalu melakukan perbuatan haram dengan Cho Kyuhyun di sekolah. Bukan mustahil di luar sekolah kalian juga seperti itu. Kelakuan kalian sangat menjijikkan. Tak cukup kalian mengotori Sajon dengan kemiskinan kalian. Sekarang kalian pun mengotorinya dengan perbuatan yang tidak bermoral. Aku tak akan heran kalau kalian akan didepak dari Sajon secepatnya," kata Han Kaisoo.

"Kami tidak pernah melakukan hal yang tercela. Kami tidak pernah seperti itu," kata Ryeowook lagi.

Ia sudah tak bisa membendung air matanya. Hatiya sangat sakit mendengar tuduhan yang tidak berdasar itu.

"Mulutmu itu sama brengseknya dengan kelakuanmu, Kim Ryeowook. Mana ada penjahat yang mengaku. Apa saja yang sudah kaulakukan dengan Cho Kyuhyun, hah?" tanya Han Kaisoo tajam di dekat telingan Ryeowook.

Ryeowook sampai memejamkan mata saking takutnya mendengar gertakan Han Kaisoo tersebut. Ia serba salah sekarang. Menyangkalnya, ia takut dicap pembohong oleh Han Kaisoo dan teman-temannya. Diam saja juga akan membuatnya seolah-olah membenarkan fitnahan itu. Ryeowook hanya bisa menangis menyesali hidupnya di Sajon.

Shin Dong Min puas dengan apa yang dilakukan Han Kaisoo pada Kim Ryeowook sekarang. Ia puas karena bisa menumpahkan kekesalannya pada Cho Kyuhyun melalui Kim Ryeowook. Ia sangat membenci Kim Ryeowook yang bebal dan Cho Kyuhyun yang angkuh.

Shin Dong Min sejak lama membenci Kim Ryeowook. Apalagi di rumah, ayahnya selalu membanding-bandingkan dirinya dengan Kim Ryeowook. Shin Dong Min yang merupakan anak seorang direktur keuangan di Goldstar. Corp, tapi tak mempunyai isi otak seperti yang dimiliki Ryeowook yang hanya anak seorang pesuruh di tempat ayahnya bekerja.

Sejak pertama kali Shin Dong Min menginjakkan kaki di Sajon sampai sekarang, ayahnya itu selalu menunjukkan betapa bodohnya Shin Dong Min dan betapa bangga ayahnya jika memiliki anak seperti Kim Ryeowook. Ayahnya bahkan berkata bahwa uang donasinya tak sia-sia disumbangkan untuk Ryeowook.

Sejak saat itulah, Shin Dong Min selalu menghasut Han Kaisoo, teman sekelasnya yang disebut pangeran di Sajon. Han Kaisoo memiliki kuasa di Sajon, sama seperti Han Nam Soo, ayah Han Kaisoo, yang merupakan salah satu donator utama sekolah ini. Han Kaisoo bisa membantunya membalaskan sakit hatinya pada Ryeowook.

Rasa benci Shin Dong Min pada Kim Ryeowook sama besarnya dengan rasa bencinya pada Cho Kyuhyun. Anak yang tak jelas asal-usulnya itu sangat tinggi hati. Cho Kyuhyun selalu menentangnya dan tak mau tunduk pada siapa pun. Cho Kyuhyun itu seperti pahlawan kesiangan yang selalu mengobarkan api amarah dalam dirinya.

Menurut Lee Kwang So, Cho Kyuhyun bahkan tak punya ayah karena di data siswanya tertulis kata almarhum di belakang nama ayahnya. Lee Kwang So tentu saja bisa mendapatkan data yang akurat karena ayahnyalah kepala sekolah di Sajon saat ini.

Cho Kyuhyun memang tinggal di perumahan elit, menurut data yang didapat oleh Lee Kwang So. Namun, jika ia tak punya ayah dan bisa tinggal di lingkungan elit seperti itu, Shin Dong Min bisa menebak dengan mudah seperti apa ibunya. Mungkin ibunya menjual diri atau menjadi simpanan seorang chaebol supaya bisa tinggal dan menyekolahkannya di tempat yang mewah.

Di mata Shin Dong Min, Cho Kyuhyun bahkan lebih tak tahu diri daripada Ryeowook. Dan untunglah Han Kaisoo juga menganggapnya seperti itu.

Anak itu selalu menyepelekan dan memandang mereka sebelah mata. Apalagi setelah ia memenangi Olimpiade Matematika, kepala besarnya makin menjadi-jadi. Ia harus bisa membuat Cho Kyuhyun menunjukkan rasa hormat padanya, terutama pada Han Kaisoo.

"Apa yang kautangisi, Kim Ryeowook. Kau menangis karena Cho Kyuhyun tidak ada di sini untuk menyelamatkanmu? Kau ingin ia tiba-tiba datang dan membebaskanmu? Jangan bodoh, Kim Ryeowook! Kau tak hidup dalam dongeng. Pangeranmu itu mungkin saja sudah mati sekarang," kata Shin Dong Min sambil memukul kepala Ryeowook dengan telapak tangannya berkali-kali.

Kim Ryeowook semakin terguguk mendengar kata-kata itu. Ia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam menerima perlakuan kasar seperti itu. Kim Ryeowook tak punya nyali sedikit pun untuk melawan. Ryeowook berharap mereka akan mengasihani dan segera melepaskannya jika melihatnya yang terus diam dan menangis.

Namun, tangisan Ryeowook itu tak menyurutkan Han Kaisoo, Shin Dong Min, dan Lee Kwangsoo untuk terus menyiksanya. Tak hanya cukup dengan menampar kepalanya, tangan Han Kaisoo pun juga terulur dan meremas kemaluan Kim Ryeowook.

Kim Ryeowook menjerit. Ia berusaha menyingkirkan tangan Han Kaisoo dari pangkal pahanya. Namun, tangan Lee Kwang So malah menahan tangannya di belakang punggungnya. Membiarkan Kim Ryeowook menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri dari pelecehan yang dilakukan Han Kaisoo padanya.

"Seperti inikah Cho Kyuhyun memperlakukanmu, Kim Ryeowook? Ia suka melakukan ini padamu dan kau menikmatinya, kan? Kalian suka berbuat cabul seperti ini kan atau malah lebih jorok dari ini?" tanya Han Kaisoo yang masih meremas kemaluan Kim Ryeowook bahkan dengan lebih kasar lagi.

Kim Ryeowook semakin merana diperlakukan dan dilecehkan seperti itu. Harga dirinya serasa diinjak-injak. Semua hal itu membuatnya semakin terhina. Han Kaisoo yang mempermalukannya dan Shin Dong Min serta Lee Kwang So yang menertawakannya semakin membuatnya merasa tak punya martabat lagi.

"Apa barangmu itu juga bisa berdiri kalau Cho Kyuhyun meremasnya seperti itu, Kim Ryeowook?" olok Lee Kwang So menambahi di antara gelak tawanya.

"Kau sampah menjijikkan, Kim Ryeowook. Aku muak melihatmu. Kau seharusnya ikut menjaga nama baik dan nama besar Sajon, namun kelakuan kotormu yang memalukan malah merusak reputasi Sajon. Kalau kau tahu diri, kau seharusnya angkat kaki dari sini," lanjut Han Kaisoo padanya.

Han Kaisoo memberi isyarat pada kedua temannya untuk melepaskan Kim Ryeowook. Shin Dong Min mendorong kasar tubuh Ryeowook sampai jatuh tersungkur di atas lantai. Han Kaisoo bahkan masih sempat meludahi Kim Ryeowook sebelum mengajak kedua rekannya untuk meninggalkan tempat itu.

Kim Ryeowook menangis pilu. Perlakuan dari Han Kaisoo dan teman-temannya hari ini adalah perlakuan terburuk yang pernah diterimanya. Tak cukup mereka menyakiti fisik dan mentalnya, tapi mereka juga melecehkannya.

Kim Ryeowook menyadari, hidupnya di Sajon tak akan mudah. Namun, ia juga tak mengira akan sesulit ini. Ryeowook sudah biasa menerima ejekan dan cemoohan, namun pelecehen seperti yang baru saja diterimanya hari ini adalah yang pertama kali dialaminya.

Kim Ryeowook merasa amat malu dan seakan tak memiliki harga diri lagi. Han Kaisoo dan teman-temannya sudah meruntuhkan martabatnya hingga Kim Ryeowook merasa tak memiliki harga diri lagi.

Kim Ryeowook membersihkan wajahnya dari ludah dan air mata dengan lengan seragamnya. Ia membereskan peralatan gambarnya dan memungut buku gambarnya. Buku gambarnya sudah rusak tak berbentuk lagi.

Lembaran kertas yang ada gambar Kyuhyun di atasnya juga sudah robek. Sia-sia sudah semua yang sudah dilakukannya selama seminggu ini. Hadiah ulang tahunnya untuk Kyuhyun sudah tak layak lagi bentuknya.

"Ada apa denganmu, Kim Ryeowook?" tanya seseorang ketika yang berpapasan dengan Kim Ryeowook yang melangkah gontai menyusuri lorong lantai dua tempat kelasnya berada.

Kim Ryeowook lagi-lagi tercekat mendengar seseorang yang bertanya seperti itu padanya. Syukurlah bukan ketiga orang yang menganaiayanya tadi yang bertanya seperti itu padanya. Kalau ia harus berurusan lagi dengan Han Kaisoo, Kim Ryeowook mungkin akan pingsan di tempat.

"Oh, tak ada apa-apa, Changmin-ssi! Aku hanya mau ke kelas," jawab Kim Ryeowook pada Shim Changmin.

"Ada apa dengan pipimu itu?" tanya Shim Changmin heran.

Di pipi Ryeowook terdapat bekas kuku dan meninggalkan noda merah di pipinya. Itu bekas cengkeraman kuku-kuku Shin Dong Min. Ryeowook sudah mencuci mukanya di toilet setelah disakiti Han Kaisoo dan teman-temannya, tapi bekas kuku Shin Dong Min itu masih juga terlihat.

"Oh, tak apa-apa, Changmin-ssi! Hanya tadi pipiku rasanya gatal. Mungkin aku menggaruknya terlalu keras," jawab Kim Ryeowook.

Kim Ryeowook tak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada Shim Changmin. Ia baru kenal dengan Shim Changmin. Lagipula belum tentu Shim Changmin akan percaya begitu saja dengan ceritanya.

Siapa pun yang mengenal Han Kaisoo pasti menganggapnya sebagai anak yang manis budi. Tak akan ada yang percaya kalau Han Kaisoo bahkan bisa bertindak kejam di luar nalar. Apalagi korbannya adalah Kim Ryeowook anak pendiam yang selalu menyendiri. Mungkin yang lain akan menganggapnya sebagai pembual.

"Benarkah? Tapi sepertinya bukan seperti itu," ucap Shim Changmin curiga.

"Benar, begitu, Changmin-ssi. Ah, ya, apakah kau tahu Kyuhyun sakit apa?" tanya Kim Ryeowook seolah baru mengingat sesuatu yang ingin diketahuinya dan berharap Shim Changmin berhenti menanyainya.

"Aku tidak tahu. Kyuhyun tak memberi tahu apa-apa. Ia juga melarangku menemuinya. Ia hanya harus istirahat total, begitu katanya," ujar Shim Changmin.

"Dia bicara begitu padamu, ya? Ia bahkan tak memberi tahu apa-apa padaku. Apa ada hubungannya dengan mimisannya tempo hari?" tanya Kim Ryeowook.

"Mimisan apa?" tanya Shim Changmin tak mengerti.

"Hari terakhir ujian dia mimisan di toilet, cukup lama juga. Apa karena itu makanya ia tidak masuk?" tanya Kim Ryeowook.

"Aku tidak tahu. Kyuhyun memang sering mimisan tapi aku tak pernah tahu kalau dia harus istirahat lama karena itu. Aku kenal betul bagaimana Kyuhyun. Ia tak mungkin absen sekolah kalau sakitnya tidak parah," jelas Shim Changmin.

"Begitu, ya. Shim Changmin-ssi, apakah kau tahu rumah Kyuhyun?" tanya Kim Ryeowook.

"Tentu saja. Aku sering main ke sana," jawab Shim Changmin.

"Bisakah kau memberi tahu alamatnya padaku?" tanya Kim Ryeowook penuh harap.

"Kyuhyun tak pernah memberitahumu di mana ia tinggal?" tanya Shim Changmin.

"Ia tak pernah memberi tahu apa-apa tentang dirinya padaku," keluh Ryeowook.

"Aneh sekali. Kyuhyun tak pernah tertutup seperti itu. Mungkin ia punya alasan sendiri. Tapi, selama aku mengenalnya, ia tak pernah menyembunyikan sesuatu dariku. Bahkan kau pun sering diceritakannya padaku," jelas Shim Changmin.

"Oh, ya?" tanya Kim Ryeowook takjub.

"Sudah lama ia bercerita tentangmu. Ia kasihan padamu yang selalu menyendiri. Kau bermasalah dengan Han Kaisoo pun aku juga tahu dari Kyuhyun. Ia selalu membuat hidupmu susah kan?" kata Shim Changmin.

Kim Ryeowook tersenyum miris. Ia bermasalah dengan Han Kaisoo memang membuat hidupnya kacau. Namun, Kyuhyun yang merasa kasihan padanya membuatnya sedikit risau. Jadi, Kyuhyun mau berteman dengannya karena merasa kasihan.

"Masalahku tak seberapa, kok. Aku bisa mengatasinya," kilah Kim Ryeowook.

"Kata Kyuhyun tidak seperti itu. Han Kaisoo dan kawan-kawannya sering berlaku kasar padamu kan, tapi kau tak berani melawannya?"

Ucapan Shim Changmin itu bagai menampar pipi Kim Ryeowook sekali lagi. Ia merasa tidak enak hati pada Shim Changmin. Bagaimana bisa Kyuhyun menceritakan banyak hal tentang dirinya pada orang yang Ryeowook pun tak mengenal baik sebelumnya.

"Kyuhyun bercerita apalagi tentangku?" tanya Kim Ryeowook.

Kim Ryeowook was-was kalau Kyuhyun menceritakan juga tentang latar belakang keluarganya. Kim Ryeowook tak ingin ada lagi orang yang memandang rendah dirinya hanya karena keluarganya yang miskin.

"Masih banyak lagi sebenarnya. Tapi, hanya itu yang sering diceritakannya padaku. Oh, ya, Ryeowook, kau tak perlu sungkan-sungkan padaku! Pangil saja namaku tanpa embel-embel ssi. Bukankah aku pernah mengatakan padamu kalau kita berteman?" ucap Shim Changmin lagi,"Aku harus kembali ke ruang olah raga, Kim Ryeowook, kelasku masuk final basket. Kau harus melihatku bertanding!"

"Maaf, aku tidak terlalu suka olahraga, Changmin. Aku kembali ke kelas saja. Semoga pertandinganmu berhasil!" tolak Ryeowook halus.

Shim Changmin mengacungkan ibu jarinya pada Ryeowook. Anak super jangkung itu berlari kecil menuju tangga untuk turun ke gedung olahraga.

Kim Ryeowook masih berdiri mematung di luar kelasnya. Ia semakin tak mengerti tentang Kyuhyun. Anak itu menyembunyikan banyak hal darinya. Hanya dari Kim Ryeowook, ia tak mau terbuka tentang dirinya. Dengan temannya yang lain, Kyuhyun rupanya sangat terbuka.

Entah apa yang disembunyikan anak itu dan untuk apa. Mungkin ini saatnya Ryeowook mulai mencari tahu segala sesuatu tentang Kyuhyun. Sesuatu yang selama ini Kyuhyun sembunyikan darinya.

Dua minggu liburan yang menyenangkan. Well, sebenarnya bagi Kyuhyun bukan hanya dua minggu namun hampir satu bulan. Dua minggu yang benar-benar libur sekolah ditambah dua minggu libur lebih awal karena sakit dan harus istirahat.

Liburannya kali ini terasa sangat menyenangkan. Semua anggota keluarganya berkumpul dan menghabiskan liburan bersama. Sangat jarang keluarganya bisa liburan bersama seperti ini mengingat betapa sibuknya mereka dengan berbagai kegiatan setiap hari.

Namun masa-masa yang menyenangkan itu rasanya amat cepat berlalu. Kini saatnya kembali pada kenyatan hidup. Menghadapi berbagai rutinitas dan kesibukan yang menyita waktu, tenaga, dan pikiran.

Kyuhyun pun harus kembali ke sekolah hari ini. Sepedanya yang rusak sudah diganti dengan yang baru. Appa harus mengganti sepeda lamanya dengan yang baru karena yang lama sudah tak layak pakai.

Kyuhyun ingin ke sekolah naik sepedanya itu. Namun karena tak satu pun anggota keluarganya yang mengizinkan, membuat Kyuhyun harus mengurungkan niatnya itu.

Apalagi setelah appanya sendiri yang mengatakan akan mengantarnya ke sekolah hari ini, membuat Kyuhyun mau tak mau harus menurutinya. Mana berani Kyuhyun membantah perintah appanya itu.

Pagi ini Kyuhyun sudah duduk manis di samping appanya. Jalanan sudah mulai ramai. Laju kendaraan pun tak bisa cepat. Kalau biasanya Kyuhyun bisa lebih cepat sampai ke sekolah dengan sepedanya, kali ini ia harus bersabar dengan arus lalu lintas yang padat merayap.

"Aku turun di tikungan itu saja, Appa," pinta Kyuhyun pada appanya itu.

"Kenapa?" tanya appa heran.

"Aku bisa jalan sendiri ke sekolah," kata Kyuhyun.

"Sekolahmu hanya berjarak 100 meter dari tikungan itu kan, Kyu. Buat apa berjalan? Sekalian saja Appa antar sampai halaman sekolahmu," tolak appa Kyuhyun pada permintaan anaknya yang dirasa kurang masuk akal itu.

"Tak usah, Appa, sampai tikungan saja. Appa tak perlu berbelok ke sekolah. Appa bisa langsung terus ke kantor tanpa repot-repot berbelok," ucap Kyuhyun.

"Tidak, Appa akan mengantarmu sampai sekolah!" tolak appanya lagi.

"Siwon Hyung juga biasanya mengantarku sampai tikungan saja, tak pernah sampai ke sekolah. Jadi, Appa juga mengantarku sampai di tikungan saja!" pinta Kyuhyun yang masih tetap pada keingainannya.

"Karena kau yang memaksa bukan? Tapi tidak, Appa akan mengantarmu sampai ke sekolah," tolak appa tegas.

Kyuhyun cemberut mendengar ucapan appanya itu. Appanya memang susah dibujuk. Mungkin hanya eomma yang bisa membujuknya.

Kyuhyun harus merelakan appanya itu mengantar sampai ke sekolah. Bukan hanya di pintu gerbang, tapi appanya itu mengantarnya sampai ke halaman di depan lobi sekolah.

Kyuhyun berdoa dalam hati agar jangan sampai ada yang tahu dia diantar ke sekolah hari ini. Tidak elit rasanya kalau ada yang tahu bahwa seorang Cho Kyuhyun yang terkenal kuat dan mandiri diantar orang tuanya ke sekolah hari ini.

Saat mobil appanya berhenti, Kyuhyun cepat-cepat menyambar tasnya, berpamitan pada appanya secara kilat, menggabruk pintu mobil, dan berlari menuju ke dalam lobi. Untung saja tak banyak yang memerhatikannya. Cho Kyuhyun bukan siswa populer. Jadi, ia jarang menjadi pusat perhatian. Satu hal ini yang sangat disyukurinya. Menjadi siswa yang tidak populer memberinya kebebasan dan keleluasaan.

Cho Kyuhyun berjalan ke arah tangga. Tahun ini dia sudah duduk di kelas dua. Kelasnya ada di lantai tiga sekarang. Ia berharap tahun ini ia tidak terkena sial karena sekelas lagi dengan Han Kaisoo dan teman-temannya.

Sebelum menuju ke kelasnya, Cho Kyuhyun melihat pengumuman yang tertempel di papan putih di ujung tangga. Ada banyak anak berkerumun di sana. Mereka mencari nama mereka yang tertera di pengumuman pembagian kelas.

Cho Kyuhyun menemukan namanya di kelas 2-1. Ia masih sekelas dengan Ahn Jae Hyun, ini menyenangkan. Namun rasanya tak menyenangkan lagi saat ia menemukan nama Han Kaisoo juga ada di sana.

Ada nama Kim Ryeowook di kelas 2-1, semoga anak itu tak apa-apa karena sekelas dengan Han Kaisoo lagi. Semoga Han Kaisoo lebih memakai otaknya saat mulai duduk di kelas dua ini. Jadi, ia tak usah merepotkan dan mengganggu Kim Ryeowook lagi.

Kyuhyun kembali mengeluh saat ditemukannya nama Lee Kwang So dan Shin Dong Min di kelasnya. Tahun ini kelihatannya sama buruknya dengan tahun lalu.

Tapi, tunggu, tidak semuanya menyebalkan. Cho Kyuhyun langsung tersenyum lebar tatkala melihat satu nama lagi yang menjadi penghuni di kelasnya. Senyum lebar pertamanya hari itu karena hatinya yang benar-benar merasa girang.

Cho Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya. Ia tak mengeluh lagi soal Han Kaisoo dan teman-temannya yang ternyata masih satu kelas dengannya. Satu orang itu cukup untuk membuat harinya kembali cerah.

Sudah banyak anak di dalam kelasnya saat Kyuhyun memasuki ruang kelas. Mereka sudah memilih tempat duduk masing-masing. Ada juga yang bergerombol untuk sekadar ngobrol dan bergosip.

"Hoi, Cho Kyuhyun, sini, aku di sini!" teriak seseorang dengan suaranya yang melengking tinggi.

Suara itu membuat banyak anak berpaling padanya karena suaranya yang bisa memecahkan gendang telinga. Cho Kyuhyun tertawa lebar pada orang yang memanggilnya itu. Ia senang tentu saja karena sahabat sehidup sematinya kini satu kelas dengannya. Partner in crime-nya itu menjadi teman sekelasnya sekarang.

"Kita sekelas tahun ini," kata Cho Kyuhyun sambil ber-hifive dengan Shim Changmin, sahabatnya.

"Benar. Akhirnya kita sekelas lagi. Choi Minho tadi sudah marah-marah dan mengatai kita curang karena tidak mengajaknya sekelas," kata Shim Changmin sambil tertawa lebar.

"Bodoh. Dia kira kita yang merencanakan hal ini? Kenapa dia tidak protes pada guru saja?" sahut Kyuhyun.

"Kau tahu sendiri bagaimana dia. Taruhan, pasti nanti saat istirahat dia akan ke sini dan mengeluh macam-macam," kata Shim Changmin.

Cho Kyuhyun tertawa mendengarnya. Choi Minho itu kadang-kadang memang suka mendramatisir keadaan. Kyuhyun menempati kursi di sebelah Shim Changmin dan memulai pagi ini dengan obrolan seru, seperti orang yang sudah lama sekali tidak bertemu.

Mereka berdua mengacuhkan semua dan asyik dengan dunia mereka sendiri. Saat di luar kelas heboh karena kedatangan Han Kaisoo dan teman-temannya pun, Cho Kyuhyun dan Shim Changmin tak peduli.

Cho Kyuhyun juga tak sadar bahwa Kim Ryeowook tengah memerhatikan mereka dengan tatapan kecewa dan cemburu. Cho Kyuhyun bahkan tak menatap dan menyapa Ryeowook pagi ini. Semua perhatiannya sudah tersita karena ada Shim Changmin.

Kim Ryeowook menunduk sedih. Dalam hati, ia terus mengulang kata-kata 'Jangan sedih, Kim Ryeowook, jangan sedih! Kau sudah terbiasa seperti ini. Kyuhyun mau berteman denganmu hanya karena kasihan.'

Ya, Kim Ryeowook merasa ia harus membuka matanya mulai sekarang. Ia bukan siapa-siapa. Ia hanya bagian yang tidak penting bagi hidup seseorang. Tak ada yang tulus mau berteman dengannya. Kim Ryeowook menghela napasnya menghalau air matanya yang hampir jatuh. Seperti biasa, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa harus sendirian lagi sekarang.

TBC

Hallo, readers, saya kembali lagi dengan Fighting chapter 11. Tidak lama kan update-nya. Masih adakah yang merasa kalau chap ini kependekan? Saya sekarang sudah berusaha buat cerita yang lebih panjang lho, tapi kalau masih ada yang merasa kurang panjang, maafkan saya karena memang cuma segini bisanya. Di chap ini saya gak mau tanggung-tanggung nyiksa Wookie (pisss…), tapi kalau nyiksa Kyu kayaknya nggak lagi dah, soalnya saya sayaaannnggg banget sama si evil magnae ini. Ide cerita tentang Ryeowook itu muncul waktu saya ikut seminar tentang kekerasan pada anak di sekolah. Salah satunya ya membahas tentang kekerasan seksual, seperti yang dialami Wookie di atas. Jadi, maaf kalau ada yang merasa cerita saya itu keterlaluan vulgarnya. Oh ya, satu lagi cerita saya ini murni brothersip-friendship ya bukan yaoi dan gak akan berubah jadi yaoi. Tetap semangat baca ya, guys. Terima kasih review-nya. Semuanya sangat berharga buat saya. Happy reading… Gomawo.