TWO SIDES
by Gyoulight
.
.
.
.
HUNHAN FANFICTION
GENRE: Drama, Romance
RATING: T
.
.
.
.
.
"Aku mungkin tidak bisa pergi ke Jeju dengan kalian."
Baekhyun menoleh pada Jongin. Ia sepenuhnya melupakan sodanya yang semakin berembun di atas meja kantin demi menggali keseriusan pria tan itu. Ia pun menyipitkan matanya karena memakan keanehan Jongin yang sering menghilang dari formasi─antara ia dan Sehun.
"Kau seharusnya memproses dokumen pemecatannya," tutur Sehun yang masih tidak perduli dengan penuturan Jongin di depannya. Nyaris Baekhyun menginjak kaki atasannya itu, jika saja ia menemukan kaki Sehun yang begitu elegan di bawah meja.
Mungkin ini adalah pemandangan langka karena Sehun mau duduk di meja kantin perusahaannya. Jika saja Baekhyun tidak berhasil membujuknya tadi, Baekhyun dan Jongin mungkin tidak akan pernah mendapatkan momen langka seperti menyaksikan para karyawan yang lari terbirit-birit menghindari bos agungnya. Lalu dengan baik hati, Sehun malah mengaku, ia bukanlah singa kelaparan yang akan memakan sesamanya.
"Aku ingin kalian berdamai di meja kecil ini. Dan aku tidak suka hubungan rumit di antara kalian," keluh Baekhyun menjuput gelasnya. Menyedot sodanya sampai kepalanya mendingin. Namun tidak ada yang berubah selain kedua temannya yang tidak kunjung saling menatap. "Ayolah. Kalian bahkan bukan sepasang kekasih yang bertengkar karena tidak saling menjawab panggilan telpon. Ini mudah, kalian hanya harus saling memahami."
Jongin mengambil nafasnya, alih-alih memperbaiki posisi duduknya sebelum ia membuka suara. Ia sendiri sudah bosan dengan Sehun yang bersikap dingin padanya. "Sehun~ah, aku benar-benar tidak bermaksud mengabaikan tugasku. Aku selalu menyelesaikan semuanya sebelum aku berniat pergi."
"Sebenarnya apa yang tengah kau sembunyikan?" tanya Sehun tanpa basa-basi. Ia tentu bukan orang yang suka bertele-tele soal bicara. Karena ia bisa saja kehabisan jam istirahatnya kalau terus memperpanjang pembicaraan. "Kau punya kekasih?"
Baekhyun bertepuk tangan dengan sangat terpaksa. Mencoba mencairkan suasana yang tegang antara CEO dan CMO di tempat kerjanya. Entah pikiran dari mana, sampai ia harus repot-repot ikut ambil andil dalam mendamaikan keduanya. "Aku tidak menyangka kalian sangat cocok satu sama lain."
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan," jawab Jongin yang akhirnya menemukan manik Sehun membayanginya. Menatapnya seakan nekat mencari sesuatu yang tidak akan pernah ia dapatkan.
Sehun memutar matanya jengah. Tangannya lalu sibuk menggoyangkan kaleng colanya. Ia bahkan sempat menyayangkan perutnya yang tak kunjung lapar. Dia tentu berubah menjadi tidak nyaman karena hanya menonton dua rekan semejanya itu sibuk dengan makan siang. Sedangkan ia hanya menikmati sekaleng cola tanpa khawatir akan sakit perut karena meminumnya saat perut kosong. "Kau memutuskan tinggal bersama kekasihmu lalu punya anak?"
Baekhyun membulatkan matanya. Pikirannya bahkan tidak sampai pada pikiran panjang Sehun. Bagaimana kalau atasannya yang gila itu benar soal Jongin yang memutuskan untuk fokus pada pernikahan atau keluarga? "Oh, astaga, serius? Kim Jongin kau punya anak? Ya Tuhan, makhluk mana yang kau panggil istri itu, huh? Kau harusnya bilang padaku kalau kau akan menikahi seseorang."
Jongin menggoyangkan telapak tangannya. Memberi gesture 'tidak benar' sebanyak mungkin sampai teman-temannya melongo di atas kursi. Ia pun berubah panik walaupun ini mungkin lelucon yang sengaja dibuat untuk perdamaiannya dengan Sehun. "Aku tidak punya kekasih atau anak. Aku hanya punya rumah dan juga nenek di Suncheon. Kalian bahkan mengenalku dengan sangat baik."
Sehun menghabiskan sisa colanya. Hampir melempar kaleng colanya ke tong sampah di sudut sana jika ia tidak segera ingat bahwa ia harus menjadi contoh yang baik di kantornya sendiri. "Apa ini sepribadi itu sampai kau tidak mau menceritakannya padaku?"
Jongin menyilangkan lengannya di dada. Ia pun mulai berubah bosan dengan sesi interogasi rekan-rekannya. "Ini hal yang sangat penting bagiku," jelasnya terlalu singkat sampai-sampai Sehun berkedip dengan malas.
"Atau kau punya penyakit kronis? Apa lambungmu bermasalah sampai harus dioperasi?" Baekhyun memasang wajah yang cukup serius untuk pertanyaan konyolnya. Ia mungkin satu-satunya pria yang selalu menerka hal acak jika menyangkut tebak-tebakan tidak berdasar seperti ini. Tapi mengingat Arion punya banyak masalah sejak penggantian CEO, semua karyawan bisa saja terganggu kesehatannya karena sering kehilangan jam istirahat yang berharga.
"Hyung~" Jongin merengek setengah horror. Tidak terima karena terkaan seperti itu bisa saja menjadi kenyataan kalau takdirnya ceroboh. Pria bersurai eboni itu juga tidak ingin memiliki penyakit kronis seperti harapan banyak manusia lainnya. So, sebut saja Jongin sedikit manusiawi.
"Bagaimana jika aku memecatmu?" Sehun melipat lengannya. Memberi sedikit gertakan meski ia sangat tahu Jongin bukanlah pria yang penakut.
"Tidak masalah. Aku bisa membantu nenekku di restoran," jawab Jongin sangat tenang. Tangan pria tan itu kemudian mengaduk sisa jusnya tanpa berminat sedikitpun untuk menghabisinya.
"Kau tahu benar bahwa aku tidak bisa memecatmu bukan?" mulai Sehun membenarkan posisinya. Ia sebenarnya pegal duduk di kursi kecil semacam ini. Dan ia baru saja bertekad untuk tidak kembali ke kantin kantornya, meski tiba suatu hari dimana ia sangat kelaparan dan kantin kantornya adalah satu-satunya tempat yang tersisa untuk makan. "Aku hanya tidak suka karyawan yang lalai dengan tugasnya."
"Maafkan aku," sesal Jongin menunduk. Mau bagaimanapun Sehun tetaplah atasan yang harus ia hormati di perusahaan. Ia seharusnya tidak membawa posisi pribadi Sehun hanya karena pria pucat itu adalah sahabatnya. Karena bagi Sehun dunia pekerjaan tidak akan pernah melihat urusan pribadi, sekecil apapun mereka saling mengenal di kehidupannya yang lain.
Tak lama Sehun menautkan jemarinya sendiri. "Lupakan. Aku punya sesuatu yang lebih penting dari itu."
e)(o
Hari yang cerah ketika mobil yang disewa Sehun kini tiba di hotel─dimana ia akan menginap disana selama beberapa hari ke depan. Luhan pun terganggu tidurnya ketika Sehun membangunkannya dengan cerewet untuk segera turun dari mobil. Para pegawai hotel lalu berbondong-bondong melobi tamu VIP mereka dan sisanya menyeret koper mereka menuju kamar yang sudah dibooking dari jauh-jauh hari.
Sehun masih sibuk dengan beberapa panggilan di ponselnya. Pria bersurai hitam itu memutuskan untuk segera menaiki lift tanpa perduli dengan Luhan yang berhasil atau tidak dalam mengikutinya.
Luhan sendiri terpaku menyaksikan seberapa sibuk Sehun dengan ponselnya. Ia bahkan melupakan rambutnya yang berantakan, wajahnya yang kusut atau penampilannya yang sudah layu. Karena persetan dengan itu semua, toh Luhan akan segera menemukan kamarnya untuk melanjutkan sesi tidur.
"Baekhyun akan menyusul?" tanya Luhan buru-buru setelah pria pucat itu menurunkan ponselnya dan menjadi sibuk menggusap layar. Entah apa yang dicarinya padahal mereka sama-sama baru tiba di Jeju.
"Dia harus memastikan sesuatu," jawab Sehun tidak menatap Luhan sama sekali.
Pintu lift kemudian terbuka sangat lebar. Ada seorang pria paruh baya yang kini berdiri di depan mereka─bersiap berganti posisi dengan keduanya untuk turun ke lobi. Seakan memiliki sensor di kepala, Sehun tahu dengan benar kemana kakinya harus melangkah. Tanpa melihat kemanapun, kakinya sudah melangkah dari arah samping pria itu. Diikuti Luhan yang masih takjub dengan memandangi kesibukan Sehun diam-diam.
"Ingat, jangan pernah keluar dari hotel tanpa ijinku." Sehun kemudian merogoh sakunya. Mengeluarkan kartu kredit dan menyerahkan sebuah ponsel pada Luhan yang tak kalah mahal dari milik Sehun barusan. Luhan pun segera mengambil kedua benda itu dengan tanda tanya besar di kepalanya. Karena bagaimanapun Sehun bukanlah orang yang memberi sesuatu dengan cuma-cuma.
"Ponsel Sena. Jangan pernah melupakan ponsel ini. Apalagi sampai hilang," pesan Sehun lagi. Pria itu kemudian mengusap layar kecil di pintu. Memasukkan beberapa kode sampai bunyi 'tit' bergema dan pintu secara otomatis terbuka. "Kode kamar kita juga ada di ponsel."
"Tunggu," cegat Luhan ketika Sehun hendak memasuki pintu. "Jadi aku tidak mendapatkan kamarku sendiri?"
"Aku tidak ingin kau pergi tanpa izinku seperti kemarin," jawab Sehun sibuk menyingkirkan lengan Luhan padanya. "Kau lebih baik di bawah pengawasanku atau kau kembali menghancurkan rencanaku."
"T-tapi─" Luhan mengekori Sehun sampai ke dalam kamar mereka. Mengejarnya tanpa perduli dengan Sehun yang sudah terganggu dengan ulahnya. Luhan tentu tidak bisa membayangkan hari-harinya tinggal bersama dengan pria datar itu. Padahal ia sudah merencanakan banyak hal agar kehadirannya di Jeju menjadi poin liburannya.
Luhan kemudian menemukan koper-koper mereka berdiri di sudut bersama dengan satu botol wine yang menganggur di atas meja. Luhan terpaku pada botol itu, tapi ia sudah belajar beberapa jenis minuman dari Minseok. Jadi ia bertekad untuk tidak meminum minuman beralkohol kedepannya.
"Aku bilang tidak." Sehun kemudian terfokus untuk memberikan peringatan saat ia hendak berkeliling menyusuri setiap lekuk ruangan yang dipesannya. Mata elangnya lalu memeriksa dengan detail sebelum ia menyesal karena sudah membuang banyak dana untuk ini. "Dan sebagai catatan tambahan, jangan pernah minum selama kita disini." Ia tentu tidak ingin menjadi korban keanehan Luhan yang mabuk jika pria rusa itu nekat mabuk di kamarnya.
Luhan mencebik dan kehilangan semangat walaupun ia sudah melihat pemandangan laut dari jendela besar di dekatnya. "Kau mengekangku," keluh Luhan meraih kopernya. Masa bodoh dengan Sehun yang sudah bolak-balik memindahkan barang-barangnya.
Luhan akhirnya beralih menyeret koper besarnya. Mata rusanya kini menerawang ke sekitar. Mendapati banyak hal mengagumkan yang ia temui, ia lantas memasuki banyak tempat dengan kakinya. Sampai pada ia yang tanpa sadar memasuki ruangan paling besar di dekat jendela.
"Ini kamarku," tegas Sehun menyaksikan Luhan ikut menyeret kopernya masuk. Pria pucat itu masih sibuk merapikan letak kopernya. Tak lupa menyempatkan diri untuk mengeluarkan beberapa barang bawaannya sebelum ia menyusul karyawannya yang tengah mempersiapkan launching sejak dua hari yang lalu.
Luhan yang tadinya takjub dengan letak kamar Sehun yang menghadap langsung ke arah laut, kini hanya bisa merengut kesal. "Kenapa kamarmu harus yang paling bagus?"
Sehun dengan baik hati menunjukkan kamar Luhan yang tak jauh di seberang sofa. "Kamarmu di sebelah sana. Dan jangan pernah berani masuk ke kamarku."
Luhan berdecih. Ia kemudian segera keluar dari sana. Mencari sebuah pintu di sebelah dengan seretan kasar kopernya. "Kenapa semua pakaian wanita ini ada di koperku?" Luhan tercengang ketika ia tak sengaja membuat kopernya terbuka. Sehingga setengah isi kopernya berhamburan di lantai.
Sehun keluar dengan ponsel di genggamannya. Menatap Luhan dengan gelengan kepala sekaligus tidak perduli. "Kau akan melakukan cosplay sepanjang waktu. Jadi jangan coba-coba keluar tanpa semua pakaian itu."
"Apa?!" Luhan menjatuhkan rahangnya. Dengan geram ia memasukkan kembali pakaian wanita yang berhamburan di lantai. Ia lantas berubah kesal ketika Sehun lewat begitu saja di depannya tanpa permisi atau sikap baik untuk menolongnya merapikan barang adiknya. "Lalu kau akan pergi?"
"Aku akan kembali pukul tujuh. Kalau kau lapar kau bisa turun atau menelpon room service," tuturnya membuka pintu. Belum sedetik ia memutuskan keluar dari ruangan itu Sehun kembali membuka pintunya. "Jangan pernah sentuh kamarku!"
Luhan menyernyit tak suka. "Aku tidak berminat dengan kamarmu."
"Bagus kalau begitu," puji Sehun yang kini benar-benar menghilang di balik pintu.
"Lagipula kamarku juga bagus," Luhan bermonolog dengan lipatan pakaian Sena. Terlalu malas untuk membereskan barang-barangnya, hingga ia hanya meletakkan koper itu sembarangan lalu menjatuhkan dirinya ke atas ranjang super empuk.
Luhan pun menguap sesuka hatinya. Matanya yang berat kemudian menerawang pada langit-langit yang berhiaskan lampu di tengahnya. Ia mungkin saja mengantuk, tapi ia juga tidak bisa mengontrol rasa lapar di perutnya. Ia tentu harus melakukan sesuatu demi meredakan laparnya sendiri.
Hati Luhan tiba-tiba berubah menjadi sepi. Ia secara ajaib menjadi tidak bisa menemukan partner berbicara di tempat barunya. Paling tidak jika ia di rumah Sehun masih ada Baekhyun dan juga Minseok yang selalu menemaninya.
"Kenapa Baekhyun belum juga datang?" gumamnya menerawangi keheningannya sendiri. Tapi walaupun Baekhyun tiba di Jeju hari ini, Luhan tidak bisa yakin jika sahabatnya itu akan menemaninya berkeliling. Tentu saja Baekhyun akan sangat sibuk seperti Sehun.
Lama bermonolog, akhirnya Luhan memutuskan untuk turun dari ranjang itu. Ia sepenuhnya merapikan rambut dan pakaiannya. Menjuput ponsel Sena yang tergeletak di lantai, lalu benar-benar keluar dari sana. Luhan tanpa babibu mengambil sebuah lift sambil bersenandung membunuh sepinya. Ia pun memutuskan turun ke lantai dasar untuk menemukan makanan atau mungkin sedikit hiburan di resto. Terlebih perutnya kini meraung lapar dan dokternya bilang ia tidak boleh mengabaikan perutnya jika lapar.
Sampailah Luhan pada sebuah meja dengan papan kecil bernomer 13. Tepat di samping jendela besar yang mengarah ke bibir pantai penuh karang. Luhan pikir ia menemukan meja yang tepat karena bisa menyaksikan birunya lautan lepas. Ia pun segera memanggil seorang waiters setelah membaca beberapa halaman menu yang sedikit ia mengerti.
"Raspberry ice cream, spicy crab stick with salad, abalone sauce linguine dan─" Luhan menatap buku menu dengan penuh khidmat. Ia tanpa ragu memesan banyak makanan yang sangat ingin ia makan. Anggap saja ini merupakan liburannya dengan dana pribadi. Meski pada nyatanya Sehun-lah yang sedang mentraktirnya. "manggo squash."
Luhan sama sekali tidak khawatir ketika waiters tersenyum puas padanya. Ia berhasil mencatat pesanan Luhan lalu dengan senang hati membacakan kembali pesanannya. Luhan pun hanya bisa mengangguk sambil memeriksa letak kartu kredit yang dititipkan Sehun padanya. Dengan hati lega Luhan memeluk kartu itu di genggamannya. Merasa hampir sesak karena harga makanan yang dipesannya ternyata tidak seindah ekspektasinya.
Luhan kemudian beralih pada ponsel Sena yang menganggur di atas meja. Ia mulai menyalakannya dan membongkar setiap sudut robot kecil itu. Ia menyernyit, merasa aneh ketika tidak menemukan satu pesan pun, chat atau history panggilan. Ponsel itu terlihat seperti sudah lama tapi tidak ada tanda-tanda pemakaian. Sampai pada Luhan yang menemukan folder enkripsi yang terproteksi dengan beberapa digit kode. Luhan pun tertarik untuk memutar kepalanya demi mencoba menebak angka-angka yang ada di kepalanya.
e)(o
Cahaya matahari belum juga meninggi ketika Jongin terbangun karena suara mual di lantai dua kediamannya. Piamanya masih kusut ketika matanya mengerjab. Selimutnya sudah tumpah di lantai dengan televisi yang terus menyala sampai pagi. Ia butuh membangun kesadarannya beberapa detik sebelum kemudian segera teringat dengan siapa ia telah tinggal di rumahnya.
Suara mual yang menyakitkan itu kembali membuka mata Jongin lebar-lebar. Membuatnya memutuskan untuk berlari menaiki tangga demi menggapai pintu kamarnya. Pria tan itu kemudian hanya bisa membelalak ketika ia tidak menemukan seseorang yang dicarinya di tempat tidur. Melihat selimut yang berserakan, Jongin akhirnya bergerak untuk memeriksa kamar mandinya.
Jongin terkejut menemukan seseorang yang dicarinya itu berlutut pada lantai di dekat kloset duduk demi membuang isi perutnya. Langkah kakinya yang gusar kemudian ia bawa mendekati gadis itu. Tanpa kata ia berusaha memegangi gadis itu sambil bertanya apakah ia baik-baik saja.
Seorang gadis dengan piamanya itu kemudian meraihnya. Memeluk dirinya begitu erat sampai menangis tak tertahankan. Si gadis lalu tidak bisa menjawab seberapa kalutnya Jongin bertanya tentang kondisinya. Maka Jongin hanya menenangkan gadis itu. Mengelus punggungnya lalu menggendong gadis itu kembali ke kamarnya.
Jongin berlarian ke dalam dapur setelahnya. Berusaha meraih segelas air sambil mendial sebuah nomer penting di ponselnya. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Dia muntah," lapornya kalut.
Seseorang di seberang sana kemudian terdiam sebentar. Jongin bahkan bisa menebak jika orang yang dihubunginya itu baru saja sadar dari tidurnya. "Itu wajar," jawabnya pelan. Ia nyatanya mengimbangi emosi Jongin yang tak kalah kebingungan di pagi buta.
Jongin menghentikan langkahnya. Air di genggamannya hampir tumpah jika saja ia tidak hati-hati dalam memindahkan ponselnya dari telinga kiri ke kanan. "Kau ingin bilang seseorang yang muntah dipagi hari itu wajar?"
"Maksudku, itu tergantung dengan apa yang tengah dialaminya," jawab seseorang di seberang sana. Jongin bahkan mendengarnya menguap beberapa detik sebelumnya.
Jongin mulai menaiki anak tangga pertamanya. "Jadi apa yang dialaminya?"
Seseorang itu tediam sebentar. Entah apa yang dilakukannya sampai harus membuat Jongin menunggu begitu lama. "Jadi kau tidak tahu kalau kekasihmu hamil?"
Jongin mematung beberapa saat sampai wajahnya terlihat begitu bodoh dalam bayangan cermin. Ia lantas berlari menjauh dari tangga. Bersembunyi di samping cela kulkas dengan tangan yang masih melindungi air yang dibawanya. "Kau bilang apa? Hamil?"
Seseorang itu terdengar tengah menghela nafasnya. Ini mungkin saja berubah menjadi topik yang menjengkelkan baginya. "Iya, hamil," jawabnya malas.
"Hamil?" tanya Jongin lagi. Ia masih saja sulit percaya pada penuturan orang yang dihubunginya itu. Padahal semua orang tahu bahwa seseorang yang sedang berbicara dengannya itu adalah seorang dokter.
"Datanglah ke rumah sakit jika kau tidak percaya padaku. Kau bahkan melihat morning sicknessnya hari ini."
Kaki Jongin seketika lemas. Ia memutuskan untuk meletakkan gelas airnya di counter ketika tiba-tiba hatinya ikut membatin dengan sangat banyak. "Oh, Tuhan."
"Morning sickness tidak akan lama. Mungkin sekitar 12 minggu. Pastikan kau terus mengontrol kondisinya," tutur lawan bicaranya masih dengan tidak bersemangat.
"Kau serius?" tanya Jongin sekali lagi. Dan ia tidak perduli dengan seseorang disana yang mungkin akan segera menyusup ke rumahnya lalu menggigitnya karena kesal.
Seseorang itu kemudian tak segan menegaskan setiap katanya. "Ayolah, aku harus tidur beberapa jam lagi sebelum kesibukanku dimulai."
Jongin menyugar surainya yang berantakan. Ia lantas menatap anak tangganya sebelum memutuskan untuk percaya dengan fakta yang baru saja datang padanya. "Kyungsoo, bisakah kau merahasiakan ini untukku?"
"Tentu saja," jawabnya tak kalah cepat, dan itu secara otomatis membuat Jongin bisa bernafas dengan lega. Ia kemudian merasa beruntung karena masih bisa menemukan banyak orang yang begitu baik di dunia.
"Kim Jongin! Kim Jongin!"
Belum semenit Jongin meninggalkan dapurnya, seseorang sudah menggedor pintunya dengan tega. Suara melengking itu menggema ke seluruh ruang di rumahnya, tidak terkecuali sampai hinggap di kamar mandinya yang tenang. Padahal ia punya bel pintu yang sudah ia beli dengan sangat mahal. Sayang sekali jika seseorang itu sangat kolot untuk menemukan belnya di dekat pintu.
Jongin menjambak surainya yang setengah basah. Ia tentu sangat kenal suara berisik itu. "Baekhyun hyung?" Siapa lagi kalau bukan Baekhyun. Jongin segera berlari ke arah kamarnya. Menutup rapat pintu kamarnya dengan pelan sebelum ia mengganggu seseorang yang mungkin sudah terlelap di ranjangnya.
"Ada sesuatu yang harus ku minta padamu sebelum aku pergi." Baekhyun tanpa babibu masuk ke dalam rumahnya sebelum Jongin protes masalah pintunya yang mungkin akan segera rusak karena digedor dengan kasar.
"Apa yang kau butuhkan?" tanya Jongin buru-buru mengejar punggung Baekhyun yang sudah memperhatikan seisi rumahnya.
Baekhyun mendudukkan dirinya di sofa. Mengabaikan selimut coklat di dekat kakinya lalu menjuput sebuah cangkir kopi kosong di meja. "Kau pasti punya salinan proyek KSA yang ditolak sebelumnya kan? Aku harus membawanya sore ini."
Jongin yang melihat kebiasaan buruk Baekhyun itu pun segera memukul kepalanya sendiri. Ia mungkin seharusnya tidak mengizinkan pria brunette itu memasuki rumahnya. Karena Baekhyun akan selalu menginvasi rumahnya, memeriksa apapun yang dilihatnya sampai Jongin harus bertanya dalam hati, siapa sebenarnya pemilik rumah yang ku pijak ini? "Kenapa kau tiba-tiba mencari itu sekarang?"
Baekhyun membalik cangkir itu seakan mencari cairan kopi di dalamnya. Tapi sayangnya, sedikitpun tidak cangkir itu menyisakan kopi seperti yang ada di bayangannya. "Itu sangat penting bagi Sehun," jawabnya tersenyum kecil. Ia lantas membawa langkahnya ke dapur. Membongkar kulkas Jongin demi sekotak susu. Lagipula tamu mana yang tidak dijamu dengan pemilik rumah?
Jongin masih memandang aneh Baekhyun yang sudah menguasai dapurnya. Ia pun buru-buru mencari letak Laptopnya sebelum Baekhyun mengekorinya atau mengelilingi rumahnya yang damai seperti berwisata kebun binatang. "Tunggu sebentar."
"Rumahmu cukup berantakan," komentarnya saat Jongin sudah menaiki setengah anak tangganya.
"Ya, sedikit," jawab Jongin tidak mau tahu lagi ketika Baekhyun kembali berkeliling dengan sekotak susu di tangannya.
"Dan sejak kapan kau punya sepatu wanita?" Jongin kembali menghentikan langkahnya. Ia benar-benar belum sampai di kamarnya untuk sebuah laptop ketika Baekhyun sudah mengangkat sepatu canvas berwarna putih di dekat rak sepatunya. Menunjukkannya pada Jongin yang masih melongo dari lantai dua.
"I-tu─" Buru-buru Jongin masuk ke kamarnya. Menarik laptopnya lalu keluar lagi dengan benda tipis itu─tanpa menoleh sedikitpun pada seseorang yang sudah menatapnya dengan kedipan polos.
"Kau membawa seseorang ke rumahmu?" tanya Baekhyun yang masih berlanjut menginspeksi seisi lantai satu rumahnya.
Jongin malah membuka laptopnya. Segera menyalakan benda lipat itu di atas meja tanpa menoleh pada Baekhyun sedikitpun. "Marsha datang kemari untuk meminjam sepatuku karena ia tidak suka sepatunya sendiri."
Baekhyun menajamkan ekor matanya. Alisnya mulai mengeriting dengan ia yang terus menatap Jongin dengan tatapan sensor kelas satunya. "Jadi kau benar-benar punya kekasih?"
Jongin menelan ludahnya kasar. Ia tidak menjawab pertanyaan itu dan segera membongkar banyak folder di laptop pribadinya. Menacapkan flash disk mungil berkapasitas besar yang ia miliki, lalu memastikan untuk mengkopi dokumen yang dicari Baekhyun sampai harus datang kemari. "Ini salinannya," ucap Jongin ketika proses kecil itu selesai. Ia sudah menjulurkan tangannya dengan benar, tapi ajaibnya Baekhyun sudah menghilang dari hadapannya.
Jongin ingin berteriak histeris karena Baekhyun sudah menaiki banyak anak tangga kediamannya. Hatinya kemudian bergemuruh bagai hujan petir disiang hari. Lantas kaki panjangnya segera mengejar pria brunette itu sebelum ia benar-benar mencapai lantai dua dan menemukan kamarnya. "Hyung, aku sudah menemukan filenya."
"Terima kasih," tutur Baekhyun mengabaikannya dan terus menaiki tangga kayunya.
"Hyung, bukankah kau harus segera pergi ke Jeju?" cegat Jongin berhasil menghalangi Baekhyun dengan tubuhnya.
"Kau jadi semakin aneh, Kim Jongin," tatap Baekhyun dengan banyak kecurigaan. "Kekasihmu pasti ada disini kan?"
"Ini tidak seperti yang ada di dalam bayanganmu," toleh Jongin bersih keras. Terserah jika ia terlihat sangat bodoh untuk ini.
"Aku tidak sebodoh itu, Kim Jongin. Aku tahu benar kapan kau berbohong dan kapan kau berpura-pura menyembunyikan kehidupanmu yang indah ini. Jadi sekarang, biarkan aku berkenalan dengan kekasih tercintamu." Baekhyun tersenyum menyingkirkan lengannya. Kembali meniti langkahnya menuju pintu kamar Jongin yang entah sejak kapan sudah berubah menjadi sangat jauh letaknya. "Kenapa kau tidak pernah menceritakan ini padaku?"
"Aku tidak menyembunyikan apapun." Kali ini Jongin menghadang pintu kamarnya sendiri dengan bentangan tangannya. Tidak membiarkan Baekhyun masuk dengan wajah terbodoh yang ia punya.
Baekhyun berdecih. "Jadi apa yang kau sembunyikan di kamarmu?"
"Tidak ada," jawab Jongin terlalu kentara.
Baekhyun kini menarik lengan Jongin seperti bermain perang anak-anak. "Tapi kau bersikap seperti itu ada disana."
Jongin mati-matian menahan lengannya untuk tidak lepas dari kusen pintunya. Tidak membiarkan dirinya kalah meski Baekhyun mungkin memiliki kekuatan yang lebih besar darinya. "Sehun pasti mencarimu!"
"Sehun menugaskanku mengambil dokumen hari ini," geram Baekhyun menggertakkan giginya ketika harus menarik Jongin dari pintu. Ia sudah mengambil ancang-ancang untuk menendang Jongin jika saja ia gagal mendapatkan jawaban yang dicarinya.
"Hyung, kau tidak harus melakukan ini." Mereka terus saling mendorong. Membuat keributan kecil, sampai Jongin berkali-kali terantuk di pintu.
Baekhyun buru-buru meraih leher Jongin, mencekik pria itu dengan lengan kecilnya. Pria itu mungkin sudah lama tidak belajar ilmu bela diri, tapi entah mengapa ia bisa melakukan ini pada temannya sendiri. "Katakan yang sebenarnya. Apa selama ini kau tinggal dengan kekasihmu?"
"Tidak!" tekan Jongin yang berusaha lepas dari Baekhyun. Ia sudah merasakan paru-parunya menyempit. Ia bisa saja mati kehilangan nafas jika Baekhyun terus mencekiknya seperti ini.
"Mengakulah atau aku benar-benar akan mematahkan lehermu?" ancam Baekhyun semakin mencekiknya.
Jongin kemudian tak punya pilihan. Ia sendiri lupa jika dulu Baekhyun adalah senior hapkido-nya di kampus. Tidak ada yang pernah menang melawan pria itu bahkan sampai saat ini Jongin masih tidak berdaya di hadapannya. "Ya, ya, ya. Aku tinggal dengannya. Tolong lepaskan aku."
Tak butuh waktu lama untuk Baekhyun melepaskannya. Pria mungil itu lantas tersenyum puas merapikan kemeja birunya. Ia sepenuhnya telah mengabaikan Jongin yang kini terduduk tak berdaya di depan pintu kamarnya. "Mana pesananku?" tagihnya dengan tangan mungilnya. Jongin mau tak mau memberikan benda kecil itu kemudian menatapnya dengan tatapan iritasi. Ia masih meraba lehernya yang mungkin saja sudah memerah karena tercekik.
"Good boy," puji Baekhyun lalu menepuk pundak Jongin. Senyumnya begitu merekah, tidak cocok dengan sikapnya barusan. Pria itu kemudian berbalik meninggalkannya. Memberinya lambaian tangan yang lucu menurut orang lain. "enjoy your holiday."
e)(o
Suara debur ombak sampai pada butiran pasir yang dipijak. Bulan masih bertengger cantik di atas sana bersama taburan bintang yang berkelap-kelip. Asap dan bau terbakar masih menyatu dengan asinnya angin lautan. Membawa keheningan sendiri bagi Sehun yang masih duduk menikmati kelamnya malam.
Karyawannya masih berkumpul di sekitar pemanggangan. Jongdae yang mengaku hampir pingsan dengan pekerjaannya, kini bisa tertawa lepas membalik ikan-ikan yang dipanggangnya. Persiapan mereka akhirnya selesai. Semua tim akhirnya bisa menikmati pesta meski besok adalah hari tersibuk yang mereka punya.
Baekhyun baru saja tiba dengan pakaian paling rapi. Menjadi yang paling segar di antara mereka semua sampai Jongdae yang lusuh mengiri dengan kekanak-kanakan. Pria brunette itu menjabat satu persatu rekan kerjanya, beradu tos dengan Junmyeon yang masih sibuk dengan laptopnya di meja, kemudian menemukan Sehun yang menyendiri di kursi.
"Kau terlihat menyedihkan," ejek Baekhyun menawarkan sekaleng cola padanya. Sehun pun menerima kaleng kecil itu dengan wajah datarnya. Masih memainkan ranting yang ia sulut ujungnya pada api unggun kecil di dekat kakinya.
"Bagaimana tugasmu?" tanya pria pucat itu membuka kalengnya. Meminumnya perlahan sambil menikmati musik yang mulai dimainkan oleh salah satu karyawannya di ujung sana.
"Done," jawab Baekhyun meminum colanya. Ia baru saja terlihat bangga dengan hasil kerja kerasnya. "Aku membuatnya mengaku dengan sedikit trik."
Sehun terkikik. Memutar isi kalengnya sambil membayangkan Jongin yang tidak berdaya karena ulah Baekhyun. "So?"
"Tentu saja Jongin punya sesuatu yang mencurigakan," lirik Baekhyun dengan senyum jailnya.
Sehun memutar kembali isi kalengnya. "Tapi kupikir lebih dari itu."
"Maksudmu?" Baekhyun menggenggam kalengnya. Mencegahnya habis sebelum ia mengetahui jalan pikiran bosnya yang rumit.
"Jongin tidak pernah menjadi ahli dalam menyembunyikan sesuatu," senyum pria pucat itu meletakkan kalengnya.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Aku kembaliiiii #gakpeduli #krikkrikkrik
Mari kita kembali ke jadwal awal dengan up di tengah malam yang sunyi. Maaf kalau part kali ini kependekan. Sebenernya chap 8 udah mau rampung sih, tapi masih aku simpan karena masih kasar/? Minggu depan aja ya chap 8 nya?
Baik, yang kemaren minta chanbaek momen, nugu? Chanbaek masih LDR ya, mari kita tunggu bapak pisiway pulang membawa oleh-oleh sebuah lemari dari Berlin. Mayan kan buat mas kawin haha
Terima kasih kepada mak doremi yang selalu nyemangatin buat update. Tanpa wejanganmu, aku mungkin gak pede terus.
Terima kasih atas reviewnya dan terima kasih juga buat yang baru follow ff ini. Semoga betah ya ^^
Akhir kata aku pamit, sampai jumpa lagi munggu depan!
