TWO SIDES

by Gyoulight

.

.

.

.

HUNHAN FANFICTION

GENRE: Drama, Romance

RATING: T

.

.

.

.

.

Sehun menggapai pintu kamarnya. Memasukkan lima digit kode di layar pintu sebelum mendengar suara televisi menggema hingga sampai di telinganya sendiri. Dengan langkah lunglainya, Sehun mencari letak jam di dinding sebelum ia teringat pukul berapa yang ia janjikan pada adik palsunya itu untuk kembali. Karena nyatanya ia kembali tepat pukul sebelas malam, dan ia sudah mendapati Luhan tertidur di sofa dengan posisi yang hampir terjatuh.

Sehun menggeleng merebut remote televisi dalam genggaman Luhan. Sangat berusaha untuk tidak membangunkan sosok itu karena Sehun tidak ingin pria rusa itu terbangun lalu mengoceh di telinganya malam ini. Ia pun terlalu lelah untuk menyadari sisa potongan pizza yang tergeletak di meja, atau membersihkan bungkus makanan yang berserakan di lantai. Semua itu bukanlah urusannya, tapi Sehun masih merasa tidak suka dengan kondisi berantakan seperti ini.

Berhasil mematikan televisi, akhirnya Sehun mengambil duduk di sofa seberang. Mengambil ponselnya yang sepi dari panggilan telpon, sampai harus terdiam menatap Luhan yang begitu pulas di hadapannya. Sehun tentu bukan seseorang yang ingin perduli dengan hal yang bukan tanggung jawabnya, tapi entah mengapa ketika ia menyaksikan Luhan dengan kaos putih kebesarannya, pikirannya kembali berfungsi dengan baik.

Sehun mendekat pada sosok yang menggelepar itu sambil menarik-narik lengan kaosnya. Ia kemudian memasang wajah lesu karena mengetahui kaos itu adalah kaos kesayangannya sendiri. Dan buruknya celananya juga direnggut dengan malang oleh si pria rusa itu.

Sehun menggenggam amarahnya ketika memasuki kamarnya sendiri. Tangannya baru saja ingin menjambak rambut Luhan ketika ia mendapati lipatan pakaiannya dibongkar tanpa dirapikan kembali ke tempatnya. "Aku sudah bilang jangan sentuh kamarku," keluh pria itu kembali ke sofa dengan menggertakkan gigi. Berniat menuntaskan amarahnya, tapi lebih dulu Luhan bergumam dalam tidurnya. Membuatnya berhenti mengoceh lalu terpaku pada sosok yang bernafas teratur itu.

Sehun mendengar Luhan menggumamkan sesuatu yang tidak ia mengerti. Masih menyaksikannya bergerak kecil untuk melengkungkan punggungnya─memeluk dirinya sendiri. Pandangannya lalu turun pada wajah kecil dengan bulu mata yang indah, bibir kecil yang sedikit terbuka atau helaian rambut yang hampir menutupi matanya. Membuatnya lebih mirip bocah lima tahun ketimbang pria pecicilan yang membuatnya selalu kesal.

Sehun tidak bodoh untuk mengetahui anak itu tengah kedinginan. Kaos miliknya tentu terlalu tipis jika dikenakan saat malam. Sampai pada Sehun dengan ingatannya tentang ia yang membawa beberapa selimut di dalam kopernya. Lalu yang paling tidak ia mengerti dari dirinya adalah, ketika ia bergegas kembali ke kamarnya. Meraih salah satu lipatan selimutnya, yang kemudian ia bawa untuk diberikan pada Luhan yang meringkuk lucu. Lantas pikirannya kembali terheran-heran, mengapa ia bisa memperdulikan Luhan sampai ia punya niat untuk berbaik hati menyelimutinya?

"Aku pasti sudah gila!" celoteh Sehun yang akhirnya melempar selimut miliknya pada Luhan. Setidaknya selimut itu sedikit benar untuk menutupi kaki kecil Luhan. Dan Sehun memutuskan untuk tidak bersikap lebih dari itu. Anggap saja ia tengah berterima kasih karena Luhan mau mendengarnya hari ini untuk tidak keluar dari hotel.

e)(o

Luhan terbangun dengan selimut yang menutupi seluruh kakinya. Ia sempat mengangkat selimut itu lalu memastikan bahwa semalam ia mungkin saja membongkar isi kopernya karena ia kedinginan. Tapi Luhan menepis pikiran rasionalnya ketika ia masih menemukkan kopernya berdiri tegak di tempatnya, tanpa pernah bergeser sedikitpun. Ia pun mendadak teringat sesuatu ketika memutuskan untuk mendekati pintu kamar Sehun.

Luhan memutar kenop pintu Sehun diam-diam. Memastikan pria pucat itu semalam pulang atau tidak, karena ia tidak suka diperhatikan saat tidur. Terlebih tidur dengan kondisi yang bisa dikatakan tidak elit. Karena Luhan ingin tenggelam di lautan jika Sehun melihatnya tertidur dengan acak-acakan, terlebih mendapati pakaiannya yang dicuri. Bersiap-siap saja untuk showtime.

"Kau menyentuh kamarku lagi?" tanya seseorang di pintu kamar mandi ketika Luhan berhasil memasuki pintu.

Luhan menelan ludahnya kasar ketika menyaksikan Sehun yang muncul dari pintu kamar mandinya. Berbalut bathdrobe putih sambil menentengi handuk kecil di tangannya. Rambut hitamnya masih meneteskan bulir air. Dan jangan lupakan wajah Sehun yang sudah begitu bersinar mengalahkan pagi di luar jendela. Melihat postur Sehun dari ujung ke ujung yang seperti itu membuat Luhan seketika berubah wujud menjadi batu. Tapi bukankah ini pemandangan pagi yang luar biasa?

"Kau bahkan memakai pakaianku tanpa izin," omel Sehun mengusak rambutnya dengan handuk. Pandangannya bahkan tidak sedikitpun pergi dari ketakukan Luhan yang sudah membuatnya membereskan kamarnya sendiri selepas bangun tidur.

Imajinasi Luhan tentang keindahan alam baru saja dirusak oleh si sumber imajinasi. Membuat Luhan otomatis melirik tubuhnya sendiri dan kembali teringat dengan kegilaannya yang meminjam barang Sehun tanpa izin. "A-aku tidak punya pilihan," cicitnya tertunduk dalam.

"Aku tidak suka seseorang menyentuh barang-barangku," komentar Sehun mendekati lemari. Memilih pakaiannya yang entah sejak kapan sudah bergantung rapi disana. "Jika kau tidak ingin meminta maaf, maka pergilah mandi. Kita harus bergegas."

Luhan berkedip beberapa kali. Bukankah ini aneh? Sehun tidak berteriak padanya. Bahkan pria pucat itu tidak mengamuk atau memaki karena ia melakukan kesalahan besar. "Kemana kita akan pergi?"

Sehun menghentikan kegiatannya untuk memilih setelan formalnya. Pria pucat itu melirik Luhan yang masih berdiri di belakangnya dengan wajah paling bodoh yang ia punya. "Haruskah kuberitahu jadwal bekerjamu setiap waktu?"

"Jadi aku harus ikut?" tunjuk Luhan pada wajahnya sendiri.

Sehun kembali mengacak-acak isi lemarinya demi menemukan pasangan pakainnya. "Jika kau tidak mau bertemu ayahku lalu dianggap aneh karena si adik tidak hadir di pencapaian kakaknya, maka lakukan."

Luhan mencebik, menggaruk rambutnya yang sudah berantakan. Mungkin efek bagun tidur membuat kepalanya tidak berfungsi dengan baik, sehingga ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain mengatakan, "Baiklah."

Sehun melepar pakaiannya ke atas ranjang. Berdiri melipat lengannya dengan sangat-sangat keren lalu menatap Luhan dengan tatapan tegasnya. "Kau tidak mau pergi? Aku harus bersiap-siap."

Luhan menepuk jidadnya sendiri. Matanya sendiri sudah beralih ke arah pintu sebelum Sehun membolongi sorotnya yang lugu. "Oh astaga, siapa pula yang ingin melihatmu mengganti pakaian?"

Sehun memiringkan kepalanya. "So?"

Luhan gugup sendiri ketika Sehun masih menatapnya tanpa berkedip. Jantungnya sendiri berpacu dengan sangat tidak normal ketika suara berat itu masuk ke telinganya. Lantas dengan kaki kecilnya, Luhan pun berlari menjauh dari sana, sebelum Sehun memburunya dengan tatapan paling mematikan.

e)(o

Pagi dimana matahari belum benar-benar meninggi, staff acara dengan masing-masing ID card berlalu-lalang membuka semua persiapan. Pelantara gedung convention sudah disulap menjadi lokasi event besar yang berisi kerumuman pemegang saham dan juga tamu undangan lainnya. Manusia berjas atau yang elegan dengan gaunnya sudah duduk manis di kursi. Menikmati pembicaraan dengan kenalan atau mungkin berbasa-basi karena mencari alasan untuk menghindari kesendirian.

Jongdae yang sibuk memandu timnya sudah berdiri dengan tenang di dekat pintu. Dua orang petugas bersiap di luar gedung. Termasuk Junmyeon yang sudah memasang headsetnya yang terhubung dengan komunikasi nirkabel. Pihak keamanan sudah mulai disebar di sekitar rute. Begitu juga dengan mobil ambulan yang mengambil posisi di tengah jalur test drive. Jongdae lantas melakukan tes operasi pada jalur komunikasi mereka. Mempersilahkan Junmyeon melakukan connecting dengan beberapa GPS dan kamera di laptopnya.

Baekhyun lebih dulu menyambut tuan Oh dengan sangat ramah. Ia dengan senang hati menuntun pria paruh baya itu menemukan kursi. Para tamu undangan dari berbagai departemen penting juga tak mau kalah untuk menyambutnya. Memberi senyum terbaik lalu memuji seberapa suksesnya pria itu menjadi founder besar dari perusahaan yang dipimpin putranya.

Sehun baru saja memasuki ruangan bersama Luhan yang sudah begitu cantik dengan senyumnya. Baekhyun menyempatkan diri untuk menyapa Luhan diam-diam, dan itu mengundang lambaian tangan kecilnya. Suasana kemudian berubah khidmat ketika nyala lampu meredup. Sampai pada pemandu acara membuka salam dan juga meminta sambutan hangat dari para petinggi. Tepukan tangan yang begitu meriah segera terdengar, mengundang awak media untuk menangkap setiap momen kecil yang terjadi, termasuk mengabadikan orang sepenting Sehun yang sudah dipanggil untuk naik ke podium.

Luhan yang duduk sebagai Sena sudah duduk manis di samping tuan Oh. Menemani ayah dalam sekenarionya itu dengan menanyakan kabar atau sedikit berkomunikasi perihal rindu antara keluarga. Nyatanya pria paruh baya itu masihlah hangat dengan putra dan putrinya. Ia jauh terlihat sehat, apalagi dengan melihat putranya berdiri dengan menawan di depan sana.

Sehun memulai penjelasannya dengan jelas dan juga tepat sasaran disuatu waktu. Ia mungkin berbicara tepat pada intinya, tapi tidak melupakan kelonggaran suasana yang dibangunnya. Senyumnya baru saja muncul ketika ia menjelaskan seberapa senangnya ia karena akhirnya bisa berdiri disana setelah melalui banyak hal. Dan semua penjelasannya sudah dicatat dengan baik oleh awak media di barisan belakang.

Sampai pada suatu ketika, pintu belakang terbuka dengan sangat lebar. Memunculkan pria tinggi berbalut setelan mahal miliknya. Rambut pirang pria itu kemudian bersinar diterangi lampu temaram. Memberikan sedikit atensi yang tajam ketika Sehun menatapnya. Baekhyun yang berdiri di sudut panggung sempat memberikan ekspresi keterkejutannya. Sementara awak media sudah mengarahkan kamera mereka pada sosok yang sejak tadi dinantinya.

Kris Wu datang dengan pesonanya. Mengambil kursi yang memang tersedia untuknya lalu tersenyum pada Sehun yang masih menatapnya tajam. Pria itu mungkin tidak diharapkan kedatangannya, namun berkat ia yang memegang kekuasaan pasar otomotif di negaranya membuatnya bisa datang dengan berbagai posisi. Dan kali ini Kris membawa posisi sebagai tamu penting yang telah lama bersekutu dengan Arion.

Luhan yang menyadari ketidak nyamanan Sehun di depan sana, segera mencari letak fokusnya. Mencari sesuatu yang aneh diam-diam meski duduk di meja utama. Ia pun sama terkejutnya dengan Baekhyun saat menemukan tatapan Kris membolongi sorotnya.

Kris tersenyum manis mengangkat gelas sampanyenya. Merapalkan suara angin dengan kode 'how are you?' sampai Luhan bergidik sendiri. Gema tepukan tangan kembali bergema saat Luhan memutuskan untuk memperbaiki posisinya. Sehun turun dari podium dan pemandu acara kembali membacakan rentetan acara yang ditunggu para tamu. Baekhyun lantas segera mendekat pada Sehun untuk membisikkan sesuatu yang tidak akan pernah Luhan dengar.

Layar besar di depan semua tamu kemudian menyala dengan menampilkan rute test drive yang akan dilaksanakan. Penampilan live itu akan menampilkan dua buah mobil yang bersiap di garis star. Namun sebelum itu, si pemandu acara menjelaskan dengan banyak hal tentang proyek mereka. Membedah setiap inci badan mobil dan spesifikasi yang ditawarkan hingga para tamu terkagum-kagum.

Sehun yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian pelindung kemudian keluar dari gedung menuju tempat dimana karyawannya sudah berkumpul di dekat area star. Seorang karyawan kemudian memasangkannya sebuah headset. Ia pun dapat mendengar suara Junmyeon yang entah tengah berada dimana lewat benda kecil itu.

Jongdae dengan langkah gusarnya tiba-tiba memenuhi keheningan. Memecah atensi timnya yang sudah berjalan bolak-balik di sekitar Sehun. "Aku tidak menemukan Jaehyun dimanapun."

Gina membuka headsetnya. "Kau serius?"

Tatapan Sehun kini beredar pada kepanikan karyawannya. Dengan nafas yang tertahan ia mendekat pada Jongdae. Membawakannya sebuah solusi yang bisa memerintahkan pria itu untuk segera berpikir dengan cepat. "Ganti dengan siapapun. Kita punya banyak tim."

"Tapi yang memiliki lisensi hanya Jaehyun. Sisanya mengambil peran penting dalam acara," jawab Jongdae gemetar setengah mati. Ia mungkin saja akan dipanggang hidup-hidup oleh Sehun setelah ini. Mengingat ia tidak pernah membuat pria itu bersantai sejak kemarin di Jeju. "Kita tidak bisa melakukan penggantian jika tidak memenuhi syarat departemen."

"Biar aku saja," seru seseorang berjalan di belakang Sehun. Sontak semua karyawan menunduk pada pria tinggi itu. Kecuali Sehun yang masih menatap tajam si rambut pirang.

"Apa yang membawamu tertarik untuk ini?" selidik Sehun tanpa rasa penghargaan sama sekali. Karena percaya atau tidak kehadiran Kris dalam acaranya bisa saja menjadi sebuah kode bencana bagi dirinya. Mengingat banyak yang terjadi antara ia dengan pria tinggi itu beberapa hari terakhir. Dan Kris tentu bukan seekor semut yang bersembunyi ketika hujan mengguyur sarangnya.

"Sebut saja aku tertarik dengan proyekmu─" puji Kris masih tersenyum tanpa dosa padanya. Pria pirang itu pun mendekat padanya. Membisikkan sesuatu seperti, "karena perusahaanku tidak ambil andil dalam hal ini. Dan aku penasaran bagaimana hasil pemikiranmu dengan Camolas itu."

Sehun menyunggingkan senyumnya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran pria konyol seperti Kris. Ayahnya mungkin memintanya datang, tapi entah pikiran dari mana sampai Kris tertarik untuk mengikuti rentetan acara menyebalkan seperti ini hanya karena undangan ayahnya.

e)(o

Mesin mobil mulai dinyalakan. Matahari di atas sana sudah naik terik-teriknya. Menyorot jalanan aspal hitam dan juga kuningnya bunga kanola di tiap pinggirnya. Sehun memeriksa sekali lagi bagian dalam mobil yang sudah lama ia ciptakan dengan ide-idenya. Mendengarkan suara mesin yang mengaung halus, mengaktifkan GPS dan melakukan tes sekali lagi pada jaringan komunikasinya dengan Junmyeon.

"Oke, it works," suara Junmyeon menggema setelah ia berhasil memberi kode dengan tangannya pada kamera kecil di atas dashboard. Lalu sisanya bekerja sama baiknya untuk kamera di depan kaca mobilnya. "Good luck," sambung Junmyeon cukup bersemangat.

Di arah sampingnya, mobil berwarna silver itu sudah diduduki Kris. Lewat jendelanya yang sedikit terbuka, ia bisa menyaksikan pria pirang itu menatapnya tak kalah datar. Entah apa arti sorot itu sampai Sehun tidak perduli sama sekali untuk mengetahuinya.

Sebuah kibaran bendera segera menarik atensi keduanya. Menandakan test akan segera dimulai. Sehun pun menggenggam dengan santai setirnya. Sampai pada suara tembakan pistol di luar sana, barulah mereka menginjak pedal gas mereka dengan bersamaan. Melaju dengan kecepatan konstan tapi berbeda dengan Kris.

Kris melaju dengan semangat yang tinggi. Menyalip sample yang digunakan Sehun, sedangkan Sehun sama sekali tidak perduli tentang itu. Toh ini bukan acara balapan mobil dengan hadiah berjuta-juta dolar di garis finish. Mereka hanya perlu berkendara dengan beberapa penasehat di telinga masing-masing. Dan nampaknya Kris mengabaikan itu, entah karena ia tidak perduli atau memang sudah mengetahui banyak hal soal mesin.

"Jun, katakan siapa yang mengontrol Kris?" tanya Sehun yang baru saja memasuki jalur dua.

Junmyeon berseru di telinganya. "Aku mengontrol kalian berdua."

"Oh, senang mendengar kalian," respon Kris ikut menggema di telinga keduanya. "Reuni yang sangat menyentuh bukan?"

Sehun menyernyit tak suka dengan sistem yang tengah Junmyeon pakai. Ia nampaknya kurang leluasa dalam berkeluh kesah jika Kris juga ikut terhubung dengannya. "Kris, kau tak perlu melakukan akrobat atau pertunjukan sulap dengan mobilku."

"Aku hanya menguji seberapa mulus mesinnya, dude. Kau sensitif sekali," komentar Kris tak kalah kesal. Ia tentu bukan pemain baru dalam hal berkendara. Ia punya lima mobil mahal di garasi pribadinya. Dan Sehun sepertinya lupa bahwa ia juga pemilik dari Wu Dragon yang menciptakan banyak mobil yang tak kalah kelas dengan induk Arion. "Lagipula kenapa kau payah sekali. Ini bukan sebuah tes untuk mendapatkan lisensi menyetir."

"Kau terlalu meremehkanku," tutur Sehun masih bersandar santai di dalam mobilnya. Entah mengapa ia ingin sekali menyalip mobil Kris sekarang. Menabrak bumpernya lalu membuat Kris terpental keluar dari mobilnya. Tapi Sehun tidak akan melakukan itu dihadapan para tamu, karena tamu pentingnya mungkin saja tengah menyaksikan mereka lewat layar besar dengan segenggam popcorn di tangan.

Junmyeon terdengar tengah berdecih di seberang sana. Sehun bahkan bisa menebak pria itu tidak suka dengan perangai Kris yang tidak familiar di telinganya. "Hei, ingatlah ini bukan sebuah pertandingan. Departemen tengah menilai seberapa baik mobil itu menjadi kuda kalian."

"Z0M, kau tidak boleh lupa jika mereka hanyalah sebongkah mesin," basa-basi Kris yang sukses membuat Junmyeon ingin segera memutus komunikasinya. Karena siapapun tahu seberapa sibuk Junmyeon dengan program di komputernya. Ia bahkan tidak punya waktu untuk diganggu dengan chaebol seperti keduanya.

"Itu mesin yang bisa membunuh siapa saja jika kau tidak melihat sebuah lubang besar di sebelah sana," geram Junmyeon menggertakkan giginya. Ia juga tidak menyangka darimana Kris mengetahui ID jaringan rahasianya.

Kris terkekeh. "Kupikir Arion sebagus itu sampai mereka tidak memeriksa ulang jalurnya."

Junmyeon menghela nafasnya. Ia mungkin sudah tidak bisa sabar lagi dalam menghadapi Kris yang begitu menyebalkan seperti ini. Lagi pula siapa yang tidak marah kalau hasil kerja kerasnya direndahkan? "Aku akan senang jika kau lebih jeli, karena kau akan tahu aku hanya memperingatkanmu."

"Bagaimana kalau aku tutup komunikasi kita?"

Sehun meningkatkan kecepatannya. Mensejajarkan mobilnya dengan mobil yang dikendalikan Kris. "Berhentilah berbicara, sialan."

Kris menyambut kedatangan Sehun dengan suka cita. "Kau baru saja berkata kasar pada rekanmu."

"Aku bukan rekanmu," sanggah Sehun semakin tajam.

"Ya, terlepas dari kau yang menghinatiku," Kris menginjak pedal gasnya semakin kuat hingga mobil Sehun kembali tertinggal jauh di belakangnya.

"Aku tidak pernah menghianati siapapun," sanggah Sehun ikut menginjak gasnya. Membuat mobilnya melaju dengan cepat mengejar sisi belakang Kris yang semakin dekat dengannya.

Kris terkekeh. "Kau terlalu lucu untuk mengatakan hal yang norak seperti itu."

"Tolong fokuslah pada tugas," tengah Junmyeon sangat memohon dengan hatinya. Ia benar-benar ingin membuat acara ini selesai─sesuai dengan bayangannya. "Turunkan kecepatan pada jalur tiga."

"Hanya saja kau yang tidak pernah mendapatkan hati Sena," Sehun akhirnya dapat menyalip mobil Kris dengan kecepatan mengerikan. Ia pun masih tidak mengindahkan Junmyeon yang sudah berteriak di telinganya.

"Setidaknya dia milikku dan tidak akan pernah menjadi milikmu," senyum Kris menurunkan kecepatannya. Ia berhasil mendengarkan Junmyeon yang sudah kewalahan berbicara. Berbeda dengan Sehun yang sudah menjauh dengan kecepatan gilanya.

"Bos, turunkan kecepatannya." Junmyeon semakin kalut. "Tolong dengarkan aku!"

Sehun terpaku pada mobilnya. Ia semakin merasa aneh dengan jalanan sepi yang terbang di sisi mobilnya. Seseorang sudah tampak melambaikan bendera di sisi kanan jalan. Menandakan jalur tiga sudah sudah sangat dekat. Tapi Sehun tetap tidak bisa menurunkan kecepatan seperti semua perintah Junmyeon di telinganya. "Jun, kau yakin Jongdae sudah memeriksa mobil yang kugunakan?"

"Tentu saja." Junmyeon lalu terdiam sebentar. Pikirannya tiba-tiba saja dipenuhi hal-hal hitam setelah menyaksikan rekaman perjalanan Sehun di komputer rekannya. "Kenapa? Ada apa?"

Sehun berkali-kali menginjak remnya. Tapi tidak ada satupun yang membuat mesin roda empat itu berhenti melesat. Sehun lalu menajamkan pandangannya pada jalanan. Ia dapat melihat sebuah tanda jalan berkelok di ujung sana. Lantas Sehun hanya bisa terdiam dengan setir yang berusaha dikendalikannya. "Remnya tidak berfungsi, Jun."

e)(o

"Remnya tidak berfungsi, Jun."

Junmyeon beranjak dari kursinya. Jantungnya berpacu tak kalah kuat dari deru nafasnya sendiri. Ia lalu menemukan Baekhyun yang berlari gusar padanya. Wajah pucatnya mungkin tak ada bedanya dengan wajahnya kali ini.

"Apa yang terjadi? Monitornya mati," celos Baekhyun dengan rasa paniknya. Ia bahkan sudah meninggalkan para tamu yang kebingungan. Termasuk Luhan yang masih menenangkan tuan Oh di dalam sana.

Junmyeon kemudian meminta rekan sebelahnya untuk membuka headsetnya. Ia pun segera berteriak dengan kalut ketika ia tersambung dengan Jongdae. "Jongdae, lepas semua badan keamanan dan jalankan ambulan ke titik utama!"

Baekhyun yang menyaksikan kepanikan Junmyeon, seketika langsung menatap kosong pria bersurai coklat itu. "A-apa maksudmu?!"

Junmyeon masih mengabaikan Baekhyun yang hampir mati kesal karena diabaikan. Tapi ini sangat urgen. Dan ia tidak bisa membiarkan waktunya terbuang, termasuk menceritakan detail kejadian ini pada Baekhyun sebelum ia bisa memerintahkan Jongdae untuk segera bergerak. "Jongdae, sekarang, atau CEO kita celaka!"

Junmyeon melempar headset rekannya ke atas meja. Ia kembali memasang headsetnya sendiri, mencoba tetap tersambung dengan Sehun yang entah kemana rimbanya. Jangkauan benda yang ia gunakan tentu saja terbatas, dan jika Sehun sudah berjalan melebihi garis finish yang telah ditentukan, maka tidak ada lagi alat komunikasi yang bisa menyambungkannya dengan atasannya itu.

Baekhyun mendekat pada Junmyeon. Ia meraih kerah kemeja pria itu dengan tatapan gemetar. Benar-benar seakan mengancam, namun takut pada kenyataan yang ingin ia dengar. "Apa yang terjadi, sialan?! Mengapa kau─"

Junmyeon menghempas tangan Baekhyun yang menghalangi pekerjaannya. Membuat pria itu semakin melotot, melubangi pandangannya. "Remnya blong. Rem mobil yang ditumpanginya blong─" jawab Junmyeon kosong. Ia menjambak rambut singanya sendiri. Mencoba untuk terus menangkap sinyal GPS mobil Sehun yang mulai terganggu dengan komputernya. Sibuk dengan itu semua kemudian membuatnya melupakan sesuatu. Dan sialnya, kini ia tak mendengar suara Sehun di telinganya. "dan koneksi kita terputus."

Baekhyun menyambar ponselnya di saku. Mendial nomer Sehun meski itu sia-sia karena Sehun mungkin lebih sibuk dengan bantingan setirnya. Seperti yang ia duga, ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari panggilannya. Hingga ia berpikir untuk mendial nomer Kris sebagai gantinya karena ia melihat pria itu sudah mencapai garis finish dalam layar monitor di depannya. Tentu, dengan kondisi yang baik-baik saja.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan, Kris?" tanya Baekhyun tanpa basa-basi. Ia seharusnya bisa menduga mengapa Kris meninggalkan kursinya lalu tiba-tiba menjadi relawan untuk Arion.

Pria di dalam telponnya lalu terkekeh. Mengundang amarah Baekhyun yang semakin menjadi-jadi. "Aku sudah mengatakannya pada kalian. Ini adalah hadiah yang ku bicarakan waktu itu."

Baekhyun menggertakkan giginya. Ia mungkin sudah menduga kekacauan ini akan terjadi ketika Kris tiba-tiba datang ke acara. Tapi ia sedikitpun tidak pernah memikirkan hal terburuk untuk hal seperti ini.

Baekhyun memutuskan panggilan yang dibuatnya. Terserah jika Kris ingin tertawa atau mengejeknya karena ia marah. Yang jelas, saat ini ia telah mengetahui siapa pelaku dibalik kekacauan ini. Pria brunette itu kembali mendekati Junmyeon yang masih sibuk menyambungkan sesuatu dengan laptopnya. "Kau bisa melakukan hacking pada mobilnya?"

"Akan kulakukan, tapi itu memakan banyak waktu. Dia mungkin akan keluar dari jalur yang seharusnya, dan aku tidak menjamin jika ada kendaraan lain yang lewat disana," cercau Junmyeon mengutak-atik keyboard di laptopnya. Jemarinya menari sebebas mungkin, tidak khawatir jika ia salah tekan saat dirinya sendiri lupa bernafas karena keringat dinginnya tiba-tiba saja keluar dari dahinya.

Dan Baekhyun hanya bisa berbalik dan mengusap wajahnya kesal. Ia bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk hal yang genting semacam ini.

e)(o

Sehun masih mengontrol mobilnya. Ia tak bisa fokus pada badan jalan yang cukup kecil itu. Ia telah menabrak beberapa pembatas jalan di beberapa pembelokan. Dan ia baru saja melewati garis finish dengan sebuah keributan. Membuat pihak media dan keamanan lari tunggang-langgang menyelamatkan diri. Hanya untuk menghindari kecepatan mobilnya yang telah menembus pembatas jalur.

Ponselnya berdering sangat nyaring dan ia tidak bisa bergerak sedikitpun atau berkedip saat ini. Ia seharusnya tahu perangai Kris sejak tadi. Seharusnya ia mendengarkan Junmyeon yang memintanya tenang. Tapi semua itu sudah terlambat, sia-sia saja mengoceh untuk sesuatu yang sudah terjadi. Lalu disinilah ia dengan jalanan sepi berbatas lautan. Berusaha mengendalikan setirnya untuk bertahan sampai Junmyeon, yang ia putus kontaknya, melakukan sesuatu dengan mobilnya.

Sebuah kejutan ketika jalanan di depannya sudah masuk pada jalur normal pengendara. Ia tiba-tiba menemukan sebuh mobil yang datang dari arah depan. Menekan klaksonnya keras-keras sampai Sehun mengutuk. Nyaris ia menabrak mobil itu jika ia tidak menghindar dengan sangat teliti.

Sehun mungkin merasa beruntung ketika jalanan sepi inilah yang dipilih Jongdae untuk tesnya. Jalanannya mulus dan tidak menanjak seperti yang ada di dalam kekhawatirannya. Jadi Sehun masih bisa berusaha memfungsikan remnya ketika ia menemui jalanan lurus. Tapi tetap sia-sia yang dilakukannya. Mobil itu masih melaju dengan kecepatan gila dan membuatnya segera berpikir nekat untuk melompat keluar dari mobil.

Namun sialnya─di sisi lain dirinya─ia masih sempat berpikir dengan sangat bijak perihal melepas tanggung jawab dan membiarkan mobil ini berjalan sendiri. Bagaimana jika di ujung sana ada pengendara lain yang melintas lalu menabrak mobil yang ia buang itu? Bukan hanya ia yang berdosa, perusahaannya juga akan termakan citra buruk.

Lama berpikir dengan akal sehatnya, Sehun baru saja menyadari sesuatu. Di belakangnya, mobil yang disetir oleh Kris tiba-tiba sudah melaju mencapainya. Pria pirang itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun ketika mencoba sejajar dengan mobilnya. Di sisi depan, sebuah mobil kembali datang, membunyikan klakson seakan tidak tahu diri. Mobil Kris mau tak mau mundur ke belakang membiarkannya lewat.

Ketika jalanan kembali sepi, Kris kembali menyalip mobilnya dengan kecepatan yang lebih gila dari padanya. Meninggalkannya jauh sampai Sehun sendiri kehilangan jejaknya. Sehun menyernyit. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa Kris tiba-tiba melakukan ini.

Sampai pada sebuah tikungan tajam yang mungkin saja Sehun tidak bisa mengendalikan kembali mobilnya, ia kembali melihat dengan jelas mobil Kris terparkir rapi di tengahnya. Seakan menantinya datang dengan menutup akses jalan. Kris nyatanya telah berbaik hati menghalangi jalannya.

"Bekerjalah, sialan!" Sehun semakin memekik pada remnya yang tidak berfungsi. Mobilnya semakin tidak terkendali ketika mendekati posisi Kris yang sama sekali tidak bergerak. Pria pucat itu lantas memejamkan kedua matanya. Menggenggam erat setirnya sampai ia sendiri merasakan sebuah hantaman yang cukup keras pada badan mobilnya.

Mobil hitam itu kemudian menyeret mobil Kris sampai menghancurkan pembatas jalan. Kedua mobil itu pun terseret ke areal laut penuh karang. Beruntung letak jalanan itu tidak cukup tinggi untuk membuat mobil itu jatuh terguling. Mobil Sehun pun baru dapat terhenti ketika berhasil menenggelamkan setengah badan mobilnya di lautan. Sedangkan mobil Kris sudah berantakan di tepian.

Sehun membuka kedua matanya ketika ia menyadari gumpalan bantal udara mobilnya sudah menenggelamkan wajahnya. Ia setidaknya masih bisa berpikir dengan jelas ketika ia menggenggam kedua tangannya yang gemetar. Merasakan kakinya yang mati rasa, lalu bahunya kaku untuk membuka sabuk pengaman yang mengikat tubuhnya.

Dengan terpincang-pincang Sehun keluar dari mobilnya yang berasap. Air laut lantas berbondong-bondong memasuki badan mobilnya. Kakinya pun ikut tenggelam ke dalam air. Ia sama sekali tak menyayangkan bagian depan mobilnya yang hancur dan tenggelam. Alih-alih pikirannya melayang pada kondisi badan mobil yang ditabraknya. Mobil yang menampung Kris itu hampir tak berbentuk, kacanya habis pecah dan juga mulai mengeluarkan asap. Sehun mau tak mau melawan ombak di kakinya untuk mendekati mobil setengah hancur itu. Hanya untuk memastikan Kris masih bernafas di dalam sana.

Kris akhirnya keluar dari sana dengan darah di sekitar lengan dan kepalanya. Kaki mereka kini sudah terdebur di dalam ombak. Pandangan mereka tidak saling lepas. Sorot Sehun lalu berubah tajam saat mendekati pria pirang itu. Dengan terpincang-pincang Sehun menggapai tubuh Kris. Memberinya satu pukulan keras sampai Kris terjatuh ke dalam ombak.

Kris terkekeh memegangi sudut bibirnya yang koyak. Namun Sehun kembali memukuli pria itu sampai keduanya terguling ke dalam air. "Apa yang sebenarnya kau lakukan?!"

Kris mengusap darah di sudut bibirnya. Masih terkekeh tanpa hal lucu sekalipun. "Ku rasa kau cukup terhibur," tuturnya pelan menyingkirkan tubuh Sehun darinya. "Berterima kasihlah karena aku tidak membunuhmu."

Sehun kembali memberikan pukulannya pada wajah Kris. Namun kali ini Kris melawannya. Menghantamkan punggung Sehun pada karang yang timbul di belakang pria itu. Sampai membuat Sehun meringis sakit dan kehilangan tenaga untuk membalas pria pirang di depannya.

"Kau sendiri yang mengingkari perjanjian kita. Sudah saatnya aku membunuh kalian semua," geram Kris menggenggam kerah kemeja Sehun yang basah. Masih menahan emosi dengan darah yang semakin merembes pada kemeja putihnya.

"Lalu mengapa kau tidak membunuhku sekarang?" tanya Sehun disisa kesadarannya.

Kris kemudian beranjak dari sana. Ia bahkan merasakan perih pada semua lukanya yang bercampur dengan lautan. Meninggalkan Sehun yang tidak berdaya lalu terjatuh dengan lututnya. "Bersabarlah sampai aku menemukan tanggal yang tepat untuk membunuhmu."

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Baik, aku datang lagi.

Sebenernya mau up tadi malem (seperti biasa), tapi ini semua karena mata tidak bisa dikondisikan. Dan buruknya, akhir-akhir ini aku sering banget ketiduran pas lagi ngerjain ff haha

Maap kalau part ini belum munculin rahasia yang kalian cari. Kita jalan pelan-pelan, okay? BTW ff ini udah mulai masuk tahap konflik, tinggal nanjak, turun terus selesai... Tapi tak semudah itu, baby.

anyway, selamat hari sabtu. Aku mau bilang makasih lagi untuk semuanya. Semoga kalian betah ngikutin ff ini ^^

Bye, bye...