CHAPTER 12

Cho Kyuhyun, anak keras kepala dan suka sekali berdebat itu, tersenyum lebar tatkala appa-nya hari ini membolehkannya ke sekolah naik sepeda. Kyuhyun senang tentu saja karena tak harus merayu appa-nya lagi supaya tak usah diantar sampai ke halaman sekolah.

Kyuhyun pun tak perlu memaksa hyung-nya untuk menurunkannya lagi di ujung jalan. Setelah sebulan diperlakukan bak anak kecil nan manja, akhirnya hari ini ia mendapatkan kebebasannya lagi. Kyuhyun tak pernah tahu apa alasan appa-nya begitu protektif terhadapnya karena appa-nya tak pernah seperti itu sebelum ini.

Pagi ini, ia harus cepat-cepat mengayuh sepedanya sampai ke sekolah. Ia bangun kesiangan tadi. Well, memang salahnya sendiri tadi. Eomma dan hyungnya sudah menyuruhnya untuk bangun, tapi ia malah menarik selimutnya dan kembali tidur. Kyuhyun baru benar-benar bangun saat eomma mengancam akan mengguyurnya dengan air di tempat tidur.

Kyuhyun hanya punya waktu dua puluh menit untuk sampai ke sekolah. Kyuhyun menambah kecepatan pada kayuhan sepedanya itu supaya ia tak terlambat sampai ke sekolah. Ia bisa menunggu di luar gerbang sekolah selama satu jam kalau sampai hal itu terjadi.

Kyuhyun tak menghiraukan keringat yang mulai membasahi wajah dan rambutnya. Seragam sekolahnya pun rasanya sudah menempel di badannya. Semoga saja hyungnya selama ini tak berbohong kalau bau badanya seperti bayi. Jadi, ia tak perlu khawatir dengan bau badannya yang sudah terkontaminasi dengan peluh.

Tinggal beberapa ratus meter lagi Kyuhyun sampai. Gedung tinggi sekolahnya sudah mulai terlihat dari tempatnya sekarang. Tinggal satu tikungan lagi dan Kyuhyun sudah sampai di sekolah. Ia hampir sampai meskipun nanti ia masih perlu berlari untuk mencapai kelasnya yang terletak di lantai tiga.

Kyuhyun memutuskan tak akan masuk lewat gerbang utama hari ini. Ia bisa masuk melalui pintu samping yang lebih dekat dengan tempat parkir sepeda. Kalau masuk melalui pintu samping ia tak harus naik tangga lagi untuk memasuki lobi sekolahnya.

Kyuhyun mengayuh sepedanya lebih cepat. Lima menit lagi bel masuk berbunyi. Ia terus melajukan sepedanya ke arah selatan menuju gerbang samping yang ukurannya tidak ada sepertiga dari gerbang utama.

Namun, saat ia hendak lurus ke arah tujuannya sebuah mobil membelok ke gerbang utama secara tiba-tiba dan memotong arah jalannya. Kyuhyun terkejut bukan main karena mobil itu tiba-tiba saja sudah ada di depannya.

Kyuhyun yang panik segera mengerem sepedanya mendadak. Namun, karena jaraknya yang sudah dekat, mau tak mau ban sepedanya menghantam bodi samping mobil itu. Kyuhyun mengumpat marah. Meskipun tak sampai membuatnya terjatuh, namun kejadian itu berhasil membuat jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat.

Pengemudi mobil itu turun. Namun bukannya menanyai keadaan Kyuhyun, ia malah memeriksa bodi mobil yang memang sedikit tergores sepeda Kyuhyun. Jejak ban sepeda dan goresan memanjang tampak jelas di pintu belakang sebelah kiri mobil itu.

"Apa yang rusak?" tanya penumpang yang duduk di kursi belakang dari jendela mobil yang diturunkannya separuh.

Kyuhyun mengumpat jengkel. Pagi-pagi ia harus berurusan dengan orang paling menyebalkan di seluruh Sajon. Sungguh hari yang amat sial.

"Pintu sebelah kiri tergores, Doryeonim," jawab pengemudi mobil itu.

Han Kaisoo menatap Kyuhyun tajam. Raut kebencian terlihat jelas di wajah tampannya itu.

"Kau! Kau harus mengganti kerusakan mobilku, Cho Kyuhyun!" kata Han Kaisoo, penumpang mobil yang menyebalkan itu.

"Aku tidak mau!" jawab Kyuhyun," bukan aku yang sengaja menabrak mobilmu. Sopirmu itu yang memotong jalanku seenaknya."

"Aku tidak mau tahu. Kau sudah merusak cat mobiku. Harga cat mobilku setara dengan uang sekolahmu, kau tahu!" kata Han Kaisoo.

Kyuhyun geram mendengar perkataan Han Kaisoo itu. Bukannya ia tak mampu membayar, tapi Kyuhyun tak mau bertanggung jawab pada suatu hal yang bukan kesalahannya.

"Aku sudah bilang kan kalau bukan aku yang salah. Enak saja kau menyuruhku mengganti cat mobilmu," kata Kyuhyun jengkel.

"Aku akan kirimkan tagihannya nanti, Cho Kyuhyun. Pastikan kausiapkan uangnya!" kata Han Kaisoo menulikan telinganya pada umpatan Kyuhyun.

Han Kaisoo menutup jendela mobilnya. Ia menyuruh sopirnya menjalankan mobil meninggalkan Kyuhyun yang masih berdiri mematung dengan sepeda yang teronggok di dekat kakinya.

"Kau tak mau masuk? Bel sudah berbunyi beberapa menit yang lalu," tegur penjaga sekolah pada Kyuhyun yang masih berdiri di tempatnya.

Kyuhyun membuang napas gusar. Pagi hari yang sial. Berurusan dengan orang yang paling dibencinya dan terlambat masuk ke dalam kelas. Untung saja ahjussi penjaga pintu gerbang masih berbaik hati padanya dan tidak mengunci pintu gerbang.

"Terima kasih, Ahjussi!" kata Kyuhyun pada penjaga itu.

Kyuhyun menuntun sepedanya ke tempat parkir. Percuma saja ia berlari ke kelasnya yang ada di lantai tiga. Ia tak akan diperbolehkan mengikuti pelajaran pertama. Ia juga harus mengambil surat keterangan terlambat di ruang BP sebelum bisa mengikuti pelajaran berikutnya. Bener-benar hari yang sangat sial.

Istirahat pertama pagi itu masih saja menyisakan mendung di benak Cho Kyuhyun. Suasana hatinya masih saja buruk setelah kejadian menyebalkan pagi tadi. Waktu istirahat ini, Kyuhyun hanya duduk-duduk di tepi lapangan futsal. Menyaksikan Shin Changmin dan Choi Minho yang sedang bermain bola.

Biasanya Kyuhyun paling semangat kalau diajak bermain. Tapi kali ini ia malas melakukan apa pun. Ia juga segan saat diajak bercanda atau berbincang seru dengan kedua temannya itu.

"Kau benar-benar tak mau ikut main?" tawar Shim Changmin yang menghampiri Kyuhyun di tepi lapangan.

Kyuhyun menggeleng. Ia tak sedang ingin bermain. Ia hanya mau duduk. Merutuki dan mengumpati Han Kaisoo dalam hatinya sampai puas.

"Mau sampai kapan kau merengut seperti itu?" tanya Shim Changmin sambil duduk di sebelah Kyuhyun.

Kyuhyun mengangkat bahunya. Kebiasaan Kyuhyun kalau sedang kesal, ia susah diajak bicara.

Pagi tadi Shim Changmin sudah disuguhi pemandangan kelam. Cho Kyuhyun yang tidak biasanya datang terlambat hampir saja membanting tasnya ke atas meja kalau saja tidak ada guru di dalam kelas.

Kawannya itu terus saja menunjukkan raut wajah kesal yang bercampur geram sambil beberapa kali melirik ke arah Han Kaisoo yang hanya berjarak beberapa bangku dari tempat duduk mereka.

Shim Changmin baru tahu apa masalahnya setelah Kyuhyun bercerita tentang Han Kaisoo padanya. Tentu saja sambil mengumpat-umpat, khas seorang Cho Kyuhyun bila sedang marah.

"Cari saja Han Kaisoo lalu pukul wajahnya!" kata Choi Minho sambil melemparkan bola yang dipegangnya ke arah Kyuhyun.

Shim Changmin melemparkan tatapan tajamnya pada Choi Minho. Anak ini seperti tak tahu saja kalau saat ini setan sedang menari-nari di atas kepala Cho Kyuhyun.

"Jangan dengarkan omongannya, Kyu. Anggap saja Minho sedang mabuk," kata Shim Changmin.

"Aku suka idemu itu, Min. Sayangnya aku tak suka akibatnya," keluh Kyuhyun.

"Dia hanya ingin membuatmu kesal saja, Kyu. Tidak usah diladeni," kata Shim Changmin.

"Tapi tetap saja ia membuat mood-ku buruk hari ini. Si Brengsek itu tak perlu bersusah payah untuk mendapatkan semua yang ia inginkan. Tadi pagi ia juga bisa masuk ke kelas dengan mudah kan?" kata Kyuhyun.

Kyuhyun harus merelakan pelajaran pertamanya terlewatkan pagi itu. Belum lagi ia harus mengambil surat keterangan terlambat di ruang BP.

Bukan hanya surat yang ia terima, tapi juga ceramah pagi dari Guru BP-nya. Selain itu, Kyuhyun harus rela mendapat tambahan ceramah gratis di depan kelas dari Jung Min Saem, Guru Matematikanya. Dan terakhir, ia melihat Han Kaisoo yang sudah duduk manis di bangkunya. Melihatnya sambil tersenyum mengejek.

Entah mantra apa yang dirapalkan Han Kaisoo sampai ia bisa dengan sukses masuk ke dalam kelas dan mengikuti pelajaran pertama, sedangkan Kyuhyun harus melewati berbagai rintangan supaya dapat masuk ke dalam kelas.

"Dia memang mendapat perlakuan yang istimewa," balas Shim Changmin.

"Kenapa kau tak minta diperlakukan seperti Han Kaisoo?" tanya Cho Minho,"kau pun bisa mendapatkan perlakuan yang istimewa kalau kau mau."

"Itu bukan gayaku dan aku tidak mau menjadi seperti Han Kaisoo," jawab Kyuhyun sebal.

"Dia akan selalu mengganggumu, Kyu. Ia akan mencobaimu sampai akhirnya kau akan kehilangan batas kesabaranmu. Kalau kau melakukan sesuatu padanya kau akan menerima hukuman dan dia akan merasa puas kalau melihatmu dihukum. Kau seharusnya tahu hal itu. Meladeninya hanya akan membuatnya merasa di atas angin," nasihat Shim Changmin.

"Hhhh, kenapa aku harus bertemu dengan orang seperti dia dalam hidupku? Menyebalkan!" rutuk Kyuhyun.

"Ada banyak orang yang setipe dengan Han Kaisoo di dunia ini. Mau tidak mau suka tidak suka kita memang akan selalu berurusan dengan orang seperti itu," kata Choi Minho menambahkan.

"Ngomong-ngomong, apa kabar dengan Ryeowook?" tanya Shim Changmin pada Kyuhyun, mencoba mengalihkan perhatian Kyuhyun dari Han Kaisoo.

Kyuhyun terdiam memandang Changmin. Ya, benar, apa kabar dengan Ryeowook. Kyuhyun baru sadar kalau ia tak pernah berkomunikasi lagi dengan Ryeowook.

Sejak ia sekelas dengan Changmin, ia melupakan Ryeowook. Semua waktunya ia habiskan bersama Changmin. Kyuhyun bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia menyapa dan berbicara dengan Ryeowook.

"Aku tak tahu," jawab Kyuhyun akhirnya.

Dalam hati ia merasa bersalah karena tak lagi menghiraukan Ryeowook sejak ada Changmin di dekatnya. Di kelas Kyuhyun hanya tahu, Ryeowook sekarang duduk sebangku dengan anak perempuan gemuk yang berkaca mata tebal seperti Ryeowook. Selebihnya, Kyuhyun tidak tahu apa-apa lagi.

Kyuhyun juga tidak tahu apa Ryeowook masih diperlakukan semena-mena oleh Han Kaisoo dan teman-temannya. Apakah Ryeowook masih suka mengerjakan tugas-tugas sekolah yang dipaksakan oleh Han Kaisoo untuk diselesaikannya. Apa Ryeowook masih suka menyendiri di ruang piala yang sepi saat istirahat begini.

"Pergilah menemuinya kalau begitu," kata Changmin,"siapa tahu kau akan merasa lebih baik daripada hanya duduk dan mengumpati Han Kaisoo sepanjang hari."

"Kau benar. Kalian teruskan saja bermain! Aku akan menemui Ryeowook," kata Kyuhyun pada kedua temannya.

Kyuhyun bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan lapangan. Lebih baik ia mencari Kim Ryeowook, teman yang sedikit terlupakan olehnya.

Kim Ryeowook menghabiskan istirahatnya di perpustakaan sekolah. Ia tak pernah lagi menyendiri di ruang piala yang sunyi. Sejak kejadian mengerikan di ruang piala, Ryeowook takut sendirian di tempat yang sepi.

Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kelas jika kelasnya kebetulan masih ada anak-anak yang tinggal. Kalau kelas sudah mulai sepi, seperti saat istirahat, Ryeowook lebih memilih di perpustakaan.

Ia juga tak mencari tempat di pojok ruangan seperti biasanya. Ryeowook sekarang lebih suka duduk di dekat meja besar Gong Saem, petugas perpustakaan sekolahnya.

Ryeowook sekarang tidak mencari tempat yang nyaman. Ia lebih memilih tempat yang aman. Ia tak mau pelecehan yang pernah dialaminya terulang lagi.

Peristiwa pelecehan yang menimpanya hampir dua bulan yang lalu membuat Ryeowook lebih mawas diri. Ryeowook malu setiap kali mengingat kejadian itu. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri kalau mengingat peristiwa itu.

Ryeowook tak berani bercerita pada siapa pun mengenai hal itu. Ia takut orang lain tidak memercayainya. Bukannya menerima hiburan atau dukungan, bisa-bisa ia harus menerima ejekan dan cemoohan.

Kim Ryeowook juga seringkali harus menghindar jika berpapasan dengan Han Kaisoo dan teman-temannya. Memang mustahil bagi Ryeowook untuk terus menghindar, namun paling tidak Ryeowook tidak terlalu sering bersirobok dan Han Kaisoo.

Di saat-saat seperti inilah, Ryeowook menginginkan ada seseorang yang ada di sampingnya. Orang yang bisa ia jadikan sandaran. Orang yang bisa diajaknya berbagi duka. Meskipun orang itu tak berbuat apa-apa untuk membelanya, namun cukuplah kehadirannya bisa meringankan beban hatinya.

Sayangnya Ryeowook tak punya sahabat yang ada di sampinya saat ia membutuhkan. Satu-satunya orang yang pernah dianggapnya sebagai sahabat lebih memilih orang lain yang tentunya lebih menyenangkan daripada dirinya.

Ryeowook sadar ia tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Shim Changmin. Changmin periang dan tidak membosankan, sedangkan dirinya sangat jauh berbeda. Shim Changmin juga lebih lama mengenal Kyuhyun. Jadi, wajar saja kalau Kyuhyun lebih suka berteman dengan Shim Changmin daripada dengan dirinya.

Seringkali Ryeowook berpikir Kyuhyun sudah melupakannya. Meskipun mereka masih satu kelas, namun Kyuhyun tak menganggapnya ada.

Ryeowook seringkali menatap jengkel saat Kyuhyun asyik bercanda dan bercerita dengan Shim Changmin, namun Ryeowook tak punya cukup nyali untuk ikut bergabung. Mungkin akan lain cerita kalau Kyuhyun yang mengajaknya bergabung. Ryeowook tentu akan menerima ajakan itu dengan suka hati. Namun Ryeowook tak mau berkhayal yang bukan-bukan. Ia tak mau merasa kecewa.

Ryeowook terkesiap tatkala ada tangan yang melambai-lambai di depan matanya. Ah, rupanya ia terlalu banyak melamun tadi sampai tak sadar kalau ada orang lain yang mendekatinya. Namun, ia merasa lebih terkejut lagi saat orang yang ada dalam lamunannya itu menarik kursi di sampingnya dan duduk di dekatnya.

"Pagi-pagi apa yang kaulamunkan, Kim Ryeowook?" tanya Kyuhyun pelan.

Ryeowook duduk dekat dengan meja Gong Saem. Kyuhyun harus bisa menjaga mulutnya. Bisa-bisa Kyuhyun disuruh keluar dengan tidak hormat dari perpustakaan kalau ia membuat kebisingan di sana.

"Aku tadi mencarimu di ruang piala, tapi kau tak ada di sana. Tumben kau duduk di sini biasanya kau duduk di ujung ruangan sana," kata Kyuhyun lagi saat Ryeowook hanya diam tak menjawab pertanyaannya.

Kyuhyun menyambar salah satu buku yang ada di depan Ryeowook dan pura-pura membaca, padahal mulutnya tak dapat diam. Ryeowook hanya melirik tajam pada Kyuhyun yang datang tiba-tiba menemuinya.

"Apa?" tanya Kyuhyun saat melihat tatapan Ryeowook yang terlihat kurang senang padanya.

Ryeowook melengos menghindari tatapan Kyuhyun. Ia pun ikut mengambil salah satu buku dan pura-pura membaca.

"Kau kenapa?" tanya Kyuhyun lagi.

"Tak apa-apa," jawab Ryeowook singkat.

"Mengapa melirikku seperti itu?" tanya Kyuhyun lagi.

Ryeowook tak menjawab. Ia asyik menenggelamkan matanya dalam deretan kalimat-kalimat yang tersusun pada bukunya meskipun ia sebenarnya tak tahu apa yang ia baca.

"Yak, Kim Ryeowook, ada apa denganmu? Jangan membuatku tambah kesal hari ini! Hariku sedang tidak baik," kata Kyuhyun jengkel

Ia hanya ingin mengobrol santai dengan Kim Ryeowook hari ini. Tapi anak itu malah mengacuhkannya, terlihat tak suka ia ada di sana.

Kim Ryeowook menutup bukunya dan meletakkannya ke atas meja. Ia menatap Kyuhyun yang masih menatapnya dengan jengkel. Damn, tanpa disadari, Ryeowook bergidik menatap sorot mata Kyuhyun yang tajam. Sorot mata itu sama dengan yang dimiliki orang yang paling Ryeowook takuti di seluruh Sajon.

"Kau hanya mencariku kalau sedang jengkel. Kalau kau sedang senang kau bahkan tidak ingat untuk membaginya denganku," sembur Ryeowook akhirnya.

"Aku mengingatmu," kilah Kyuhyun cepat meski dalam batinnya ia meragukan perkataannya sendiri.

"Oh, ya? Hanya hari ini kan kau ingat padaku. Kemarin ingatanmu ada di mana?" tanya Ryeowook tajam.

Kyuhyun merasa tersindir dengan pernyataan Ryeowook barusan. Kemarin ia memang tak memedulikan Ryeowook. Hari ini pun ia juga tak peduli kalau bukan Changmin yang mengingatkannya tentang Ryeowook.

Kyuhyun menghembuskan napasnya dengan kasar. Kyuhyun tahu ia acuh tak acuh pada Ryeowook sejak ia duduk di bangku kelas 2, bahkan mungkin menyapa Ryeowook pun tak pernah ia lakukan.

"Maaf!" kata Kyuhyun akhirnya,"Aku terlalu asyik dengan Changmin," akunya pelan.

"Seharusnya aku mengajakmu ikut bergabung bersama kami bukannya tak memedulikanmu. Tapi kulihat kau juga akrab dengan teman sebangkumu," imbuh Kyuhyun lagi.

"Akrab apanya. Lee Sun Ah hanya mengajakku berdebat tentang pelajaran. Ia juga sering memperingatkanku agar waspada dengannya karena dia yang akan mengambil posisi pertamaku tahun ini," kata Ryeowook jengkel.

Kalau bisa Ryeowook ingin bertukar tempat duduk dengan siapa pun yang mau atau lebih baik duduk sendiri seperti ia di kelas satu dulu. Sayangnya, tahun ini tak ada bangku yang kosong dan kelihatannya tak ada yang mau duduk sebangku dengannya.

Ryeowook pun pasrah harus sebangku dengan Lee Sun Ah, anak yang juga cerdas dan menganggap siapa saja sebagai saingan, terutama mereka yang memiliki otak yang cerdas seperti Kim Ryeowook.

Kyuhyun menatap Ryeowook. Anak itu tampaknya benar-benar marah padanya. Salah Kyuhyun juga yang melupakan Ryeowook untuk beberapa lama. Kyuhyun terdiam cukup lama. Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi orang lain yang tengah merajuk. Biasanya Kyuhyun yang suka merajuk dan membuat hyung-nya repot membujuknya.

"Cho Kyuhyun-ssi, Kang Ho Dong Seonsaengnim memanggilmu di ruang guru," kata seorang gadis berkuncir ekor kuda pada Kyuhyun yang tengah sibuk dengan pikirannya.

Kyuhyun menatap gadis yang tak dikenalnya itu dan mengerutkan keningnya.

"Sekarang?" tanya Kyuhyun pada gadis itu.

Gadis itu mengangguk dan berlalu dari ruang perpustakaan. Kyuhyun beranjak dari ruang perpustakaan. Ditatapnya Ryeowook yang seolah tak peduli padanya.

"Kita bicara lagi nanti," kata Kyuhyun.

Kim Ryeowook masih tak menatap Kyuhyun tapi ia menganggukkan kepalanya pelan. Kyuhyun meninggalkan ruang perpustakaan dan beranjak menuju ruang guru. Pasti sesuatu yang sangat penting sampai-sampai wali kelasnya itu harus memanggilnya di tengah-tengah jam istirahat.

"Saya tak melakukannya dengan sengaja, Saem!" kata Kyuhyun kukuh dengan pendiriannya.

"Tapi, begitulah yang kudengar dari Han Kaisoo, makanya aku memanggilmu ke mari. Dia baru saja melapor padaku bahwa kau menabrak mobilnya hingga mobilnya rusak. Ia minta kau bertanggung jawab," jelas Kang Ho Dong, wali kelas Kyuhyun.

"Sopirnya yang bodoh karena memotong jalan saya seenaknya, Saem," kata Kyuhyun membela dirinya.

"Bicara dengan sopan, Cho Kyuhyun, kau sedang bicara denganku sekarang!" tukas Kang Ho Dong.

"Maaf, Saem. Tapi, saya tidak bersalah dengan kejadian tadi pagi. Han Kaisoo memang minta saya mengganti kerusakan cat mobilnya tapi saya menolak karena memang bukan saya yang bersalah," jelas Kyuhyun.

"Kesalahan bisa terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja, Cho Kyuhyun. Apa pun bentuknya kau harus tetap bertanggung jawab," kata Kang Ho Dong.

Kyuhyun terdiam menatap lantai. Hatinya bertambah panas dengan kelakuan Han Kaisoo. Kyuhyun tetap merasa tidak bersalah. Tapi, membantah apa yang dikatakan gurunya tak akan membuatnya menjadi lebih baik.

"Bicarakan dengan orang tuamu dulu. Mengganti kerusakan mobil meskipun hanya catnya saja pastilah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kalau orang tuamu keberatan, mereka bisa datang ke sekolah dan menemuiku. Kita akan bicarakan baik-baik dengan orang tua Han Kaisoo," kata Kang Ho Dong lagi.

Kyuhyun menggangguk mendengar keputusan Kang Ho Dong itu. Bagaimana pun juga ia harus mengganti kerugian Han Kaisoo. Ingin sekali rasanya Kyuhyun mencakar muka Han Kaisoo yang menyebalkan itu.

"Kau boleh kembali ke kelasmu!" perintah Kang Ho Dong pada Kyuhyun.

"Saya permisi, Saem," kata Kyuhyun pelan seraya meninggalkan ruang guru.

Kyuhyun membuang napasnya dengan kasar sekeluarnya ia dari ruang guru. 'Han Kaisoo yang menyebalkan itu mulai membuat hidupku susah' rutuk Kyuhyun dalam hati. Kyuhyun menyeringai kesal. Han Kaisoo pikir akan mudah menyetirnya. Han Kaisoo kira akan mudah memperlakukannya seenaknya. Lihat saja nanti apa yang bisa Kyuhyun lakukan padanya. Kalau Han Kaisoo membuat hidupnya susah, Kyuhyun pun bisa melakukannya.

TBC

Hallo readers, Chapter 12 update. Maaf nggak bisa fast update karena sedang banyak pekerjaan untuk persiapan ujian. Ini juga chapter ala kadarnya (menurutku). Mianhe, kalau ada yang kurang puas dengan hasilnya. Chapter 12 ini pun bisa selesai setelah lihat video di YT saat Wookie yang kayaknya ngambek waktu Kyu lebih asyik main sama Donghae. Apalagi lihat tatapan mata Wookie yang kelihatan sadis (entah siapa yang pengen dicakar, Kyu atau Hae atau dua-duanya). Review, please, and happy reading.