"Jongin nanti temani aku ke kantin oke?" Chanyeol berusaha membujuk Jongin.
"Pergi dengan teman mu yang lain saja." Jongin tidak menggubris rengekan Chanyeol yang bahkan sudah menjadi pusat perhatian orang-orang di kelas.
Tubuh saja yang besar, kelakuan tidak lebih dewasa dari bocah taman kanak-kanak.
"Ini kan ulang tahun ku. Masa kau tak mau membahagiakan ku." Yang di hadiahi pekikan jijik dari Jongin, tapi wanita itu tetap mau saja di tarik Chanyeol.
Di kantin
"Apa kantin memang seramai ini?" Chanyeol hanya menggeleng pelan sambil berusaha mengintip apa yang di kerubungi oleh orang-orang.
"Apa kau akan disini selamanya?" Jongin berusaha melewati orang-orang yang menghalangi jalannya untuk duduk di salah satu meja.
"Jongin!" Jongin tak memperdulikan teriakan Chanyeol dan tetap menerobos kerumunan itu.
Hingga ia tak sadar jika ia sudah berada di tengah kerumunan atau lebih tepatnya di tempat yang sedang di kerubungi orang-orang itu. Dan ia melebarkan matanya saat melihat pemandangan mengerikan di depannya. Sedangkan orang yang menjadi tersangka utamanya balas menatap nya tak suka.
"Aku mohon Sehun maafkan aku. Aku akan melakukan apapun ,tapi aku mohon jangan akhiri hubungan kita." Di sana Jongin bisa melihat beberapa orang teman Sehun yang hanya memandang datar wanita tersebut.
"Aku sudah bilang padamu. Jangan berharap lebih jalang, aku bahkan tak pernah menganggapmu sebagai kekasih ku. Jadi jangan terlalu percaya diri." Pandangan Sehun tak lagi pada Jongin tapi beralih pada wanita yang berlutut di depannya.
"Tapi aku sudah mengorbankan semua nya Sehun. Ki-kita bahkan sudah tidur bersama..." Perempuan itu kembali berbicara dan itu membuat Jongin iba.
"Aku bahkan meniduri perempuan lain nya setelah itu jalang!" Perempuan malang itu mendongakkan wajahnya tak percaya dengan omongan Sehun. Karena muak dengan wanita itu, Sehun dengan sengaja menendang nya.
Jongin tidak diam saja ,ia mendatangi wanita itu dan menolongnya untuk kembali berdiri, tapi Sehun mencegahnya.
"Apa-apaan kau?! Menjauhlah dari urusan ku!" Perintah Sehun.
"Aku manusia bodoh, jadi aku menolongnya." Sehun tertawa sarkas. " Kau bodoh? Semua orang disini juga manusia. Tapi mereka semua tahu diri, tidak seperti mu." Sinis Sehun. Tapi Jongin tetap menolong wanita itu, ia menarik satu buah kursi dan mendudukkan wanita malang itu sedangkan ia berjongkok mengecek lutut si gadis yang lecet.
"Kau tak apa?" Tanya Jongin pada wanita itu. Dan si wanita hanya mengangguk sambil mencoba menghapus air mata nya. Sementara Sehun kesal, karena Jongin tidak merespon perkataannya. Di tarik nya tangan Jongin hingga wanita itu berdiri menghadapnya.
"Kenapa kau ikut campur dengan urusan ku?" Jongin hanya mendecakkan lidahnya. "Decakkan lidah mu sekali lagi maka aku akan benar-benar menamparmu!" Yang di lakukan Jongin selanjutnya benar-benar di luar perkiraan.
Cuih
"Kalau kau bisa melarang ku mendecakkan lidah, maka aku juga bisa muludahi wajahmu."
Plakk
Habis sudah kesabaran Sehun. Ia langsung menampar wanita itu hingga sudut bibirnya sedikit terluka. Semua orang menaham nafas mereka. Jongin hanya tersenyum remeh.
"Sudah selesai? Sudah mendapat apa yang kau inginkan bukan? Jadi bisakah aku pergi?" Jongin berkata santai tanpa mengalihkan pandangan nya dari mata Sehun yang sudah terlihat benar-benar marah.
"Ayo kita pergi. Kau harus mengobati lututmu yang lecet karena kau terlalu banyak berlutut." Jongin memapah wanita malang bersama dengan Chanyeol keluar dari kerumunan orang-orang.
Sehun terlihat akan mengejar Jongin, namun seseorang menepuk pundaknya segera. "Jangan Sehun. Kau hanya memperburuk keadaan."
'aku akan membalasnya nanti sore.'
...
"Lutut mu benar-benar baik?" Tanya Jongin untuk kesekian kalinya. Sedangkan wanita itu hanya menggeleng kan kepalanya.
"Tidak apa. Terima kasih sudah menolongku. Kenalkan, aku Irene." Wanita bernama Irene itu mengulurkan tangan kanannya.
"Jongin." Jongin membalas jabatan tangan wanita itu.
"Sabar lah...sebentar lagi pihak sekolah pasti akan menghukum laki-laki sialan itu." Kalimat Jongin hanya di balas kekehan dari Irene dan Chanyeol.
"Sekolah ini pasti sudah rata dengan tanah jika ada guru yang berani melakukan itu pada Sehun." Chanyeol menjawab kebingungan Jongin. "Ah kau benar...yah sudah kita ke kelas saja. Apa kami harus mengantarmu Irene?"
"Aku akan pulang saja. Aku sudah menelpon supir tadi ,jika aku kembali ke kelas semua orang pasti mengejekku." Jongin mengangguk membenarkan perkataan Irene.
"Baiklah. Kami duluan." Chanyeol segera merangkul Jongin untuk kembali ke kelas mereka karena bel sebentar lagi akan berbunyi.
"Jongin berhati-hatilah mulai sekarang. Aku tak ingin kau terluka seperti ini." Ujar Chanyeol sambil menyentuh sudut bibir Jongin yang terluka.
"Aku bahkan sudah terbiasa dengan pukulan ibuku Chan."
"Aku sudah bilang ratusan kali. Kau harus keluar dari sana, tapi kau juga tidak melakukan nya."
"Baiklah tuan Park!" Jongin memberi gerakan seperti seorang pelayan pada tuan nya. Chanyeol segera mengusak rambut kelam wanita itu.
Sore harinya.
"Ini rumah nya? Besar sekali." Jongin itu anak yang jujur, dia bahkan tak menutupi kekagumannya pada saat melihat rumah milik Sehun. "Pantas saja dia seperti itu. Orang kaya memang berbeda."
Tingg tongg
Seorang pria membuka gerbang besar itu dan membawanya ke dalam pekarangan rumah itu. Jongin sedikit di kejutkan dengan halaman depan rumah besar itu, sangat besar menyerupai lapangan golf. Namun bedanya lapangan ini tidak di penuhi rumput melainkan mobil-mobil mewah.
Saat Jongin masuk ke dalam rumah ia disambut oleh seorang pelayan wanita yang langsung mengantarkannya pada suatu ruang yang Jongin yakini adalah kamar milik Oh Sehun. Jongin kemudian membuka pintu kamar tersebut, dan-
Byurrr
Jongin terkejut saat seseorang menumpahkan atau lebih tepatnya melemparkan seember air tepat pada wajahnya. Tapi tidak hanya wajahnya, seragam hingga sepatunya juga ikut basah karena terkena percikan air itu.
"Welcome ,Kim!" Sehun tersenyum puas saat melihat kondisi menyedihkan Jongin. Ini balas dendam nya karena wanita itu sudah berani meludahinya di depan banyak orang.
"Ck orang kaya sialan!" Jongin mendesis, yang sialnya didengar oleh Sehun. Sehun semakin melebarkan senyumnya. Ia tahu ia bisa menyingkirkan Jongin dengan mudahnya.
"Haahh... Untunglah bawa baju olahraga. Aku akan mengganti bajuku dulu, kau bisa siapkan peralatan belajarmu." Sehun tercengang saat mendengar penuturan Jongin. Belum sempat ia membalas, Jongin sudah keluar dari kamarnya.
"Sialan wanita itu!"
Skip
Jongin kembali masuk kedalam kamar itu. Kali ini ia sedikit berhati-hati saat masuk, ia tak ingin basah kembali. Tapi hal yang membuatnya terkejut adalah Oh Sehun. Laki-laki itu malah berbaring di ranjang nya. Jongin pun menghampiri ranjang pemuda itu.
"Kenapa kau belum juga menyiapkan alat tulis mu?"
"Aku tak mau!" Jongin mendecakkan lidahnya lagi. Dengan segala kekuatannya wanita itu menarik kerah baju Sehun hingga posisi pria itu menjadi duduk.
"Sialan!" Sehun menepis kasar tangan kurus itu, hingga Jongin sedikit kehilangan keseimbangannya.
"Kalau begitu siapkan alat tulis mu! Waktu kita bahkan sudah terbuang sia-sia karena tingkah kekanakan mu." Sehun mendelik. Ia berdiri di depan wanita itu, hingga Jongin memundurkan tubuhnya, karena sungguh jarak Sehun dengan dirinya dekat sekali.
"Aku sudah bilang jika aku tidak mau!"
"Aku tidak peduli. Ini menyangkut hak dan kewajiban ku, maka aku akan melakukan apapun!" Jongin berujar tak kalah sengit.
"Brengsek!"
"Mengumpatlah... Jika kau tidak mematuhi ku, maka aku akan berlaku kasar padamu." Ancam Jongin. Sehun hanya tersenyum miring.
"Wanita pendek dan miskin seperti mu bisa melakukan apa,hah?!"
"Ck"
"Berdecak sekali lagi, maka aku akan menamparmu lagi!"
"Kau bisa menampar ku sesukamu. Tapi berjanjilah setelah itu kau harus mau ku ajar."
"Benar-benar wanita gila! Apa sebegitu miskinnya kau, hingga kau rela di perlakukam seperti itu?! Aku bahkan ragu jika kau masih perawan atau tidak."
Ini sudah keterlaluan. Sehun benar-benar sudah melewati batasnya. Jongin ingin sekali memukul wajah mengejek pria itu. Namun ia harus ingat, ayah Sehun adalah orang yang paling berkuasa di sekolah. Dan ia tak mungkin keluar dari sekolah karena ia siswa tingkat tiga, tidak akan ada sekolah manapun yang mau menerimanya.
"Kau mungkin terlalu lelah hari ini. Aku akan kembali besok. Permisi." Setelah mengatakan itu Jongin benar-benar pergi meninggal kan rumah itu.
"Lihatlah Kim Jongin, sampai mana kau mampu bertahan."
Setelah dari rumah Sehun, Jongin segera pergi ke mini market tempatnya bekerja. Untung saja bos nya sangat pengertian saat ia meminta izin untuk datang lebih lambat kemarin. Sebenarnya uang yang dijanjikan oleh tuan Oh sudah sangat cukup untuknya, namun ia tak tega dengan paman Cha pemilik mini market ini. Paman itu sudah sangat tua, sementara sang anak bekerja hingga larut malam sehingga ia tak tega membiarkan paman Cha untuk menjaga mini marketnya sendirian.
"Jongin tutuplah. Ini sudah pukul 12 malam." Paman Cha mencoba untuk mengingatkan Jongin.
"Aku baru memulai kerja pukul 8 paman. Ini baru 4 jam. Aku harus nya bekerja selama 6 jam."
"Tidak. Pulanglah. Mulai dari hari ini kau hanya perlu bekerja selama 4 jam. Ingat sekolahmu Jongin."
"Aku bahkan bersekolah selama 9 jam lamanya." Paman tua itu hanya terkekeh ringan. Ia tak dapat membantah kalimat Jongin. Ia kasihan pada Jongin, di umur semuda itu ia harus bekerja sekeras ini.
"Pulanglah. Aku tidak ingin anak perempuan pulang larut malam." Jongin tersenyum menanggapinya. Ia membantu paman Cha untuk merapihkan meja kasir dan mengunci pintu mini market. Kebetulan jalan rumah Jongin dan paman Cha searah sehingga paman Cha dapat mengawasinya sampai rumah.
"Terima kasih Jongin untuk hari ini." Jongin membungkuk kan badannya hormat. Dan segera masuk ke dalam rumahnya. Saat masuk kedalam rumah tak ada seorang pun yang menyambutnya, hanya ada kakak nya yang sedang merokok di ruang tamu
"Jangan campuri urusan Sehun. Jika kau ingin selamat." Jongin memutar matanya malas, Sehun bahkan bertingkah biasa saja padanya, mengapa kakak nya ini repot sekali.
"Tenanglah. Lagi pula dia tak akan tahu jika aku adik mu. Adik angkat lebih tepatnya." Pria itu mengepalkan tangan menahan amarah.
"Oh iya satu lagi, bisa kah kau berhenti menjadi salah satu penjilat laki-laki itu, Kris Wu?" Jongin segera memasuki kamar nya.
...
"Kau kenapa? Kau terlihat sangat kesal hari ini." Namjoon menegur Sehun yang terus saja memarahi juniornya yang terlihat melakukan sedikit kesalahan.
"Bagaimana orang tak berbakat sepertinya ada di club kita?! Sialan." Namjoon kembali mendengus. Sehun terlalu kekanakan menurutnya, pria pucat itu sering sekali mencampurkan masalah pribadi dengan masalah di sekolahnya.
"Stop it man! Kau sudah berlebihan." Kris menegur Sehun yang terlihat menendang junior tersebut.
"Keluar kau sekarang juga brengsek!" Sang junior segera lari terbirit setelah mendengar teriakan Sehun.
"Namjoon bawalah Sehun keluar dari sini. Bisa-bisa semua anggota junior disini mati ia tendangi." Kris mencoba untuk menenangkan Sehun dengan menyuruh Namjoon, meskipun Namjoon sudah memelototinya.
"Kita kekantin saja, okey?" Meskipun terpaksa Namjoon mencoba untuk 'menyeret' Sehun keluar. Dengan enggan Sehun mengikuti langkah Namjoon untuk ke kantin.
Sejak semalam pikirannya terus di penuhi oleh wanita miskin itu. Wanita kelewat gila yang sudah berani melawannya. Sehun benar-benar ingin memukul atau bahkan menendang wanita itu dari sekolah ini, tapi ayah nya pasti akan menghabisinya duluan.
"Lupakan soal kantin Joon, aku ingin ke atap saja." Namjoon hanya menganggukan kepalanya, ia tahu Sehun benar-benar dalam mood yang buruk. Pria itu pasti akan merokok di atap sekolah.
Sehun melangkahkan kakinya menuju atap sekolah. Di tangannya sudah terdapat satu bungkus rokok dan sekaleng bir yang entah ia dapat dari mana. Ia kemudian duduk di daerah sudut atap yang sedikit teduh dan tersembunyi.
Brukk
"Ku peringatkan kau Kim Jongin, jangan pernah berani melakukan hal itu lagi pada Sehun. Jika tidak aku akan benar-benar melemparmu dari atas sini."
Sehun memperhatikan segerombolan wanita yang terlihat sedang membully Jongin. Sudut bibirnya otomatis terangkat,ia kembali menengguk bir nya.
"Kenapa kau diam?! Apa mulutmu ini hanya berfungsi untuk menarik perhatian Oh Sehun?"
Plak
Sehun sedang bersorak dalam hati. Jongin pantas mendapatkan itu. Sehun kembali memusatkan perhatiannya saat salah satu wanita di sana menjambak rambut kelam Jongin hingga gadis itu memekik kesakitan.
"Akh..."
"Ingat ini Jongin. Jangan pernah kurang ajar lagi pada Sehun!"
Brukk
Wanita-wanita itu menendang tubuh Jongin yang sudah meringkuk di depan mereka, lalu pergi meninggalkan Jongin dalam kondisi mengenaskan. Dengan langkah riang Sehun mendekati Jongin, berniat untuk mengejek gadis itu.
"Wah Kim, betapa indah pemandangan ini,bukan?" Jongin bangkit dan ikut berdiri di hadapan Sehun.
"Ya. Sungguh indah."
"Kau lihat bukan, jika kau mengusik ku maka para penggemarku akan menghabisimu saat itu juga. Aku sangat beruntung memiliki mereka." Sehun tidak dapat menghentikan senyumnya, sementara Jongin sudah mendecakkan lidahnya.
"Ya... Jangan lupa sore ini. Aku akan datang untuk mengajar." Jongin berusaha meninggalkan Sehun untuk kembali kekelasnya, karena sungguh ia tak ingin menghabiskan waktu istirahatnya dengan melayani si tuan muda Oh ini.
Grebbb
Tangannya di tarik kasar oleh Sehun,hingga tubuhnya limbung kebelakang. Syukurlah Sehun segera menangkapnya. Dari jarak sedekat ini Sehun bisa melihat bibir Jongin yang sedikit luka karena tamparannya kemarin. Pipinya juga nampak merah karena tamparan wanita-wanita tadi. Dan... Mata itu. Mata kelam yang selalu menatap nya berani itu, kini nampak berair.
Sehun memandangi mata gadis itu hingga beberapa saat dengan posisi menahan tubuh Jongin. Sebenarnya ia ingin terus menatapi Jongin, namun entah mengapa ia merasa sesak saat melihatnya. Akhirnya ia melepaskan Jongin dan pergi meninggalkan Jongin sendirian.
Skip
Setelah insiden di atap tadi Jongin memilih untuk beristirahat di uks. Tubuhnya benar-benar terasa remuk karena ulah Krystal dan teman-temannya itu. Sungguh ia tak tahu jika fans Sehun senekat itu hanya untuk membela si brengsek itu.
Perawat uks sedikit terkejut saat Jongin masuk dengan luka-luka kecil yang memenuhi wajah nya. Perawat tersebut bahkan langsung memapah Jongin dan menidurkannya di ranjang.
"Ya ampun! Apakah kau baru saja di pukuli?! Siapa yang melakukannya? Oh Sehun?"
"Bukan. Bukan dia, tapi fans nya. Haahh..." perawat itu menatap Jongin khawatir.
"Apakah anda akan melihat ku terus seperti itu? Cepat bantu obati luka ku..." Jongin bangkit dan duduk di tepi ranjang dan dengan gerakan kilat, perawat itu pun akhirnya mengambil kapas, kain kasa , antiseptik dan juga salep.
"Pasti sakit bukan?" Jongin hanya menggeleng pelan. Perawat tersebut memekik pelan.
"Yak bagaimana mungkin ini tidak sakit?! Lihat lah wajahmu! Aku bahkan yakin jika mereka juga menyerang bagian tubuhmu yang lainnya. "
"Kau cerewet sekali. Diam saja." Si perawat memajukan bibir nya kesal. Tangan Jongin sudah selesai membersihkan luka di wajahnya dengan antiseptik, namun saat sang perawat akan mengoleskan salep pereda nyeri Jongin malah kembali berbaring.
"Bangunkan aku satu jam lagi."
"Tapi salep nya..."
"Aku tak perlu. Nanti juga sembuh sendiri." Sang perawat hanya menghela nafas pelan. Ini pertama kalinya ia melihat wanita seperti Jongin.
"Baiklah aku akan membangunkan mu nanti."
Tbc
Note:
1. Ini aku potong soalnya kepanjangan.
2.kalo bermasalah lagi ... terpaksa di unpublish lagi.
3.Btw...cerita nya gimana? Boring kah? Garing kah? Kalo jelek bakal ku delete ceritanya...
