Examination

Doyoung mengumpat untuk kesekian kalinya pagi ini. Lelaki manis yang selalu di panggil 'Bunny' oleh Ten, sahabatnya tidak berhenti megumpati kepala sekolah dan juga peraturan ujian sialan yang akan mereka hadapi besok.

Pasalnya, pagi-pagi buta ia mendapatkan Flying mail yang sudah di pastikan itu dari Changmin Saem yang memintanya, tidak bukan meminta, tapi memaksanya dan 'orang-orang terpilih' lainnya untuk datang ke aula nanti sore setelah berakhirnya semua kelas.

"Sudahlah Bunny. Umpatanmu tidak akan mengubah apapun." Ten mengunyah sandwich untuk sarapan mereka menatap Doyoung dengan pandangan lelah.

"Tapi tetap sa—."

"Diam atau akan ku buat makanan yang ada di dalam perutmu berubah jadi batu." Ten manatap galak pada sahabatnya yang seketika diam dan menunduk takut.

Ten adalah Shape bander. Kemampuan yang bisa mengubah bentuk dan ukuran suatu benda dengan kekuatan inernya, dan Doyoung tidak merelakan perutnya meledak karena makananya berubah jadi batu.

Itu mengerikan.

"Sebenarnya aku juga tidak mau Doyoung-ah. Kau pikir saja, siapa yang mau ada di situasi antara hidup dan mati dua kali berturut-turut?" Ten mengeluarkan isi kepalanya.

"Tapi mau bagaimana lagi. Peraturan dan tradisi ini sudah ada bahkan sebelum kita lahir. Jadi terima saja, toh kita hanya akan jadi pembimbing dan pemberi petunjuk mereka."

"Hai, kalian sedang meributkan apa?" Ten dan Doyoung lantas menoleh, mendapati Hansol dan Taeyong yang berdiri menatap mereka.

"Seperti biasa. Si princess Bunny dan keluhan tentang ujian Cröwn besok." Doyoung memberikan Death glare pada ten yang menyebutnya Pincess. Taeyong dan Hansol terkekeh dan duduk di hadapan mereka, memulai makan siang.

Sebenarnya Hansol dan Taeyong berasal dari asrama Sanctus. Tempat dimana para pureblood berkumpul. Tapi, kedua pria manis itu lebih sering berkeliaran di area perkumpulan para Aspero yaitu para Halfblood atau Pureblood yang keluarganya tinggal di dunia manusia.

Taeyong pernah bilang pada suatu waktu ketika mereka ada di perpustakaan.

"Orang-orang Sanctus itu terlalu serius dalam mengerjakan sesuatu dan kami tidak terlalu suka dengan hal itu."

Mudah saja memang bagi Hansol dan Taeyong yang di takdirkan menjadi seorang Cleavere. Si pintar di dunia sihir. Yang kemampuan itu memudahkan mereka untuk membaca suatu hal yang hampir tidak mungkin menjadi keberhasilan yang luar biasa. Dan mereka juga memiliki intuisi yang kuat akan strategi apapun.

"Sudahlah Youngie. Aku dan Taeyong juga ikut lagi tahun ini."

"Kalau kalian memang sudah di pastikan akan ikut lagi, bahkan sejak ujian tahun lalu belum di mulai." Taeyong dan Hansol hanya tersenyum.

...

...

...

...

"Velle lacessere iniriguis." Bisik seseorang.

Ten menggerakkan kepalanya tak nyaman. Merasakan remang di lehernya. Dingin. Seakan ia sedang di sentuh sebuah tangan yang sedingin es di kutub. Namun ia mabuk akan hal itu dan ingin lebih dari sentuhannya.

Shit!

Ten mengmpat dalam hati.

"Nghhh." Doyoung, Taeyong, dan Hansol yang ada si sekelilingnya melebarkan mata mereka pada Ten yang baru saja mendesah tanpa ada siapapun yang menyentuhnya.

"Si keparathhh...ituhh...melakukannya lagihh." Ten menggeliat dalam duduknya. Ten tidak bisa mengeluarkan kekuatannya, saat akalnya tidak fokus seperti ini.

Sial!

Doyoung menoleh ke belakang, Hansol dan Taeyong menyiratkan tatapan membunuh pada seseorang yang sedang duduk menghadap mereka sambil melafalkan mantra kepada seseorang yang mereka yakin Ten adalah objeknya.

Orang itu di sikut oleh temannya yang Doyoung pastikan itu Jhonny karena ia juga melihat pria bulan duduk berdampingan di samping pria yang menyikut itu.

Oranag itu mengalihkan pandangannya dari Ten dan menyeringai licik pada ketiga orang yang menatap tajam padanya.

Taeyong bersiap mengambil tongkatnya, sampai...

BRAKK!

Pria itu seperti terdorong lebih tepatnya terlempar dengan punggung membentur tembok di belakangnya dengan sangat keras bahkan suarannya membuat hampir semua orang yang ada di ruang makan ini menoleh padanya.

Hansol dan Taeyong menoleh ke belakang dan mendapati Haechan dan Jaemin di sana.

"Annyeong hyungnim." Haechan melambaikan tangan yang tadi ia ulurkan untuk melempar Yuta ke dinding dengan ceria.

Haechan itu punya telekinesis ingat?

"Anyeonghaseyo hyungnimdeul." Jaemin membungkuk lalu tersenyum manis pada para kakak tingkatnya.

"YUTA SUNBAENIM. LAIN KALI JIKA INGIN MESUM JANGAN DI RUANG MAKAN." Dan ucapan haechan barusan. Ah tidak, maksudnya teriakan Haechan barusan berhasil memunculkan tawa orang-orang yang ada di ruang makan.

Terutama Jhonny yang sudah terpingkal di kursinya. Dan menyadari jika Hansol masih menatapnya, lalu ia mengedipakan sebelah matanya dan tersenyum tampan. Yang membuat Hansol mengalihkan pandangannya kemanapun asal tidak pada pria itu.

"Terima kasih Haechan-ah." Ten yang sudah terbebas dari mantra sialan itu menoleh pada yang pelaku yang masih duduk di lantai sambil tetap menyeringai padanya. "Pergilah kau ke neraka." Lalu kembali melanjutkan makannya.

Mark, Jaehyun dan Jeno baru saja memasuki ruang makan saat melihat tawa para penghuninya di sana.

"Kenapa ini?" Jeno melirik kedua sahabatnya yang mengedikkan bahu.

Mark baru saja menatap sekeliling ruang makan saat matanya menatap seseorang yang ia kenal atau mungkin, target empuk kejahilannya.

Pria berambut coklat madu itu, menampakkan seringainya saat terlintas pemikiran jahil di otaknya.

Mark berjalan setengah berlari menghampiri meja Haechan. Setelah dekat, ia mendekatkan tubuhnya pada pria manis itu. Lalu tersenyum dan—

Tak!

Mark menyentil pelipis Haechan cukup keras lalu berlari menjauh dari pria itu. Dan menjulurkn lidahnya mengejek.

"MARK LEE!" Haechan mengulurkan tangannya mengarahkan pada mark dengan jarak sekitar 2 meter darinya. Dengan tangan yang sebelah lagi mengelus pelipisnya yan di sentil oleh Mark.

"Seal." Mark berbisik lalu muncullah perisai transparan menyelimutinya.

Jeno, Jaehyun, Jaemin, Doyoung, Hansol, Teyong dan orang-orang yang ada di sana hanya menatap mereka dengan pandangan bosan.

Hampir semua orang terutama anak-anak tingkat enam tahu, jika Mark Lee menyukai Lee Haechan. Namun memang pada dasarnya kedua orang ini bodoh hingga hanya pertengkaran yang terjadi diantara kedua bander tersebut. Seperti Tom & Jerry.

Dan Mark selalu menjadi si Jerry, tikus jahil yang tak pernah berhenti mengerjai si kucing Tom, Haechan.

"Hentikan kalian berdua." Itu Sehun saem yang baru saja masuk ke ruang makan. "Ini ruang makan, bukan lapangan tanding." Sehun menatap datar dua orang yang sudah menatapnya panik.

Haechan sudah menurunkan tangannya, begitu pula Mark menghilangkan perisainya.

"Datang ke kantorku setelah kelas berakhir." Lalu perofesor mereka itu lalu pergi tanpa berkata apapun lagi. Mungkin keinginannya untuk makan musnah, setelah melihat mereka berdua.

"Dasar bedebah gila." Jaehyun memiting mark di ceruk lenganya. Jeno hanya menggeleng maklum pada kejahilan sahabatnya ini.

"Aww, sakit sialan. Aku... tidak bisa berna...fas." Mark memukul lengan Jaehyun yang tidak juga melepas pitingannya.

"Sudahlah kalian. Kita ke sini kan untuk makan." Jeno hanya berjalan santai mengikuti kedua teman rusuhnya.

Haechan?

Pria manis itu kembali ke kursinya di samping Jaemin sambil menggerutu.

"Awas saja kau Mark Lee. Kau tidak akan selamat di ujian besok." Haechan mengepalkan tangannya kesal.