Chanyeol berniat untuk mengantar temannya itu pulang. Namun dengan keras si gadis menolak. Chanyeol jelas khawatir, apalagi setelah mengetahui bahwa sang sahabat habis di pukuli oleh beberapa orang siswi yang tak ingin Jongin beritahu namanya.

"Aku akan mengantarmu pulang..."

"Tidak perlu Chan. Aku bisa pulang sendiri."

"Tapi ingat, jangan pergi bekerja dulu hari ini. Istirahatlah." Jongin mengangguk patuh. Sedari tadi Chanyeol terus saja melarang nya untuk pergi mengajar Sehun ataupun menjaga mini market hari ini. Chanyeol juga sudah minta izin pada Tuan Oh agar Jongin di perbolehkan untuk mengambil jatah libur hari ini.

"Baiklah. Kalau begitu pulanglah...aku akan melihatmu dari sini." Chanyeol mengusak rambut Jongin hingga gadis itu bersemu malu.

Jongin berjalan pelan menuju rumahnya, atau lebih tepatnya gedung apartement yang ia tinggali. Saat ia masuk ke dalam rumah, tampaklah sosok sang ibu yang tengah menonton di ruang keluarga.

"Kau pulang lebih awal?"

"Ya... aku sedikit tak enak badan hari ini." Sang ibu mengangguk.

"Baiklah. Kalau begitu kau yang akan memasak makan malam hari ini." Kalian berharap jika sang ibu akan mengasihaninya? Kalian salah besar. Tak perduli Jongin sakit atau sekarat pun, mereka tetap memperlakukan Jongin seperti budak mereka.

Bahkan setelah bekerja hingga larut malam pun Jongin masih harus mencuci piring bekas makan malam mereka padahal Jongin tidak pernah di beri makan saat di rumah. Jongin hanya makan saat di sekolah, itu pun dengan sarapan yang ia buat sendiri. Bahan yang ia gunakan pun berasal dari uang gaji pemberian paman Cha, walau terkadang bahan yang ia beli tersebut di gunakan oleh sang ibu tanpa izin darinya.

Jongin sebenarnya ingin keluar dari rumah ini, tapi biaya hidup di Seoul terlalu mahal. Apalagi ia hanya sebatang kara, tak ada yang akan mau menampungnya. Ia tak akan mau merepotkan Chanyeol walaupun keluarga pria itu dengan senang hati mau menampungnya.

Tapi syukurlah... Tuan Oh memberikan gaji yang lumayan besar untuk nya. Jadi Jongin bisa sedikit menabung untuk biaya hidupnya kelak.

Skip

"Mengapa kau sudah berada dirumah? Kau tak bekerja?" Seru sang kepala keluarga saat melihat Jongin yang tengah menata makanan di atas meja makan.

"Dia bilang sedang tak enak badan hari ini." Jawab ibunya. Seorang pemuda masuk tak lama setelah itu.

"Kris, sudah pulang?"

"Ya. Kenapa kau sudah ada di rumah jam segini?" Kris bertanya pada sang adik.

"Kurang enak badan."

"Kenapa wajahmu? Ibu kau memukuli nya lagi?"

"Ibu tidak memukul nya. Mungkin orang lain yang melakukannya. Hey Jongin jangan berulah yang tidak-tidak. Kau akan membuat keluarga ini bermasalah nanti nya."

"Ya bu. Kalau begitu aku masuk ke kamar." Tanpa Jongin sadari Kris mengikuti nya dari belakang.

Sreet

"Siapa yang memukuli mu?"

"Bukan urusan mu!" Jongin segera menepis cengkraman Kris.

"Kau seharus nya bisa menjaga sikap Jongin dan bukannya menjadi sok pahlawan di depan semua orang."

"Kenapa kau begitu perduli? Aku tak akan pernah meminta bantuan keluarga ini , bahkan jika aku terkena masalah sekali pun. Jadi tak usah ikut campur." Jongin segera masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu cukup keras.

Jongin sedikit terburu-buru karena ia telat bangun tadi pagi. Ibu angkatnya tidak membangunkannya sama sekali. Beruntung pintu gerbang belum di tutup, tapi-

"Yak kau yang disana, kemari!" Kenapa Jongin tidak tahu jika guru nya pasti mencegat murid yang terlambat di lapangan,bukannya di gerbang.

"Mengapa siswa seperti kalian ini sering sekali terlambat ,hah?! Sekarang bersihkan lapangan ini, dan jangan berhenti sebelum saja izinkan." Semua siswa terlambat segera mengerjakan perintah guru berkepala botak itu. Tapi tak lama kemudian semua orang memperhatikan sebuah mobil mewah berwarna merah. Jongin pun juga turut memperhatikannya.

Guru botak itu tak berbicara apapun saat melihat Oh Sehun turun dari mobil itu. Jongin mengerutkan keningnya karena tindakan gurunya itu.

"Bukan kah anda harus menghukum nya juga?" Tanya Jongin seraya menghampiri guru itu.

"Kau bicara apa,hah? Lakukan saja perintahku tadi." Tapi Jongin tidak peduli, dia malah mendatangi Sehun yang hanya menatapnya sambil menyender di kap mobilnya.

"Bersih kan lapangan ini." Semua orang terdiam, sebagian mengumpat karena keberanian nya ,sebagian nya hanya berdoa agar Jongin selamat dari Sehun.

"Tidak mau. Sekolah ini milikku. Kenapa aku harus melakukan apa yang kalian lakukan?" Sehun tahu Jongin pasti akan berdecak sebentar lagi. Dan benar. Gadis itu kembali berdecak tak suka pada Sehun.

Jongin pergi ke sisi lapangan dan mengambil beberapa tumpuk sampah dan melemparkan nya pada kap mobil Sehun. Beruntung Sehun sudah berdiri, jika tidak ia mungkin akan terkena kotoran sampah itu.

"Hey! Apa yang kau lakukan? Cepat bersihkan!" Jongin tersenyum remeh. "Mobil itu milik mu, dan untuk apa aku membersihkannya?" Tanya Jongin polos. "Kenapa, ingin memukul ku lagi?" Jongin melanjutkan.

"Aku sudah sabar Kim... Aku tak akan diam kali ini." Sehun mencengkram dagu Jongin kuat hingga membuat Jongin mendongakkan kepalanya.

Baru saja Sehun akan memukul Jongin, seseorang segera menahannya.

"Berhenti Oh Sehun. Atau aku yang akan menghajarmu sekarang juga?!." Pria itu berdesis pelan hingga semua orang bertanya-tanya dari kejahuan, tentang apa yang di katakan pemilik sekolah itu -ayah Sehun.

"Ayah membela nya?!" Sehun tak habis dengan jalan pikiran ayah nya yang malah membela gadis sialan itu.

"Lepaskan dia. Dan bersihkan mobil mu sendiri. Jangan coba-coba menyakiti nya, atau kau berhadapan dengan ku." Setelah itu Jongin hanya bisa bersyukur karena tuan Oh datang tepat waktu.

"Terima kasih tuan."

"Sialan!" Sehun pergi begitu saja tanpa membersihkan mobilnya. Dan Jongin tanpa merasa bersalah kembali meneruskan pekerjaannya untuk membersihkan sampah di lapangan.

Sehun sedang badmood karena kejadian pagi tadi, sehingga ia memutuskan untuk berlatih basket untuk pertandingan bulan depan. Ia sudah tidak bebas lagi untuk berlatih ketika pulang sekolah, karena ayahnya sudah mengetahui jika ia mengerjai Jongin dan bolos kemarin . Apalagi pertandingan basket sudah sebentar lagi. Makanya ia memutuskan untuk bolos pelajaran untuk berlatih.

Sementara di tempat lain,

Jongin baru saja dari ruang guru untuk mengantar tugas dari murid kelasnya, tapi saat ia melewati kelas Sehun ia tak dapat menemukan pria pucat itu, padahan jam pelajaran sedang berlangsung. Dengan inseng dia bertanya pada seorang laki-laki yang keluar dari kelas itu.

"Dimana Oh Sehun?" Si murid itu terlihat tak suka mendengar pertanyaan Jongin namun tetap menjawabnya. Setelah itu Jongin berterima kasih pada nya dan pamit ke lapangan indoor.

Jongin dapat melihat Sehun yang tengah berlatih di tengah lapangan. Tanpa menunggu lama ia langsung menghampiri pemuda pale itu.

"Kenapa membolos?"

"Aku sedang berlatih bodoh! Lomba tinggal sebulan lagi, sementara aku tak bisa leluasa lagi berlatih setelah pulang sekolah karena mu..." Sehun kembali mendribble bola basket.

"Kau bisa berlatih saat kita selesai belajar." Sehun melemparkan bola yang ia dribble ke sembarang arah, dan memfokuskan dirinya pada si gadis cerewet itu.

"Itu melelahkan. Lagi pula setiap malam aku tidak hanya akan tinggal diam di rumah. Aku juga butuh bersosialisasi, keluar, refreshing." Jongin tersenyum remeh. Ingin sekali Sehun memberikan bibir itu pelajaran untuk tidak selalu tersenyum remeh atau bahkan menggigit lidahnya yang terlalu sering berdecak itu.

"Lelah kau bilang? Jangan selalu mengeluh, kau harus bersikap dewasa Sehun." Jongin kembali melanjutkan perkataan nya. "Kembali lah ke kelas, aku akan meminta ayah mu untuk memberikan mu waktu libur agar kau bisa berlatih." Setelah itu Jongin pergi keluar ruangan.

.

"Kita ke kantin lagi oke. Kemarin kita kan tak jadi kesana." Jongin hanya mengangguk patuh . Kasian juga Chanyeol, kemarin ia tak sempat makan siang karena nya.

Mereka berdua sudah berada di kantin dan berniat untuk mencari kursi kosong yang tersisa. Jongin menuju ke sebuah deretan kursi yang terlihat kosong. Namun Chanyeol menariknya dan menggeleng pelan. Jongin ingin membuka mulutnya, namun ia malah di tarik menjauh oleh Chanyeol.

"Kenapa? Disana masih kosong kan?" Chanyeol sudah mendudukan Jongin di sebuah kursi di sudut kantin, sementara dirinya bersiap diri untuk mengantri makanan.

"Itu meja milik Oh Sehun dan teman-temannya." Jongin melirik meja tersebut, dan benar saja setelah itu Sehun beserta teman-temannya datang dan duduk di meja itu. Dia juga bisa melihat Kris di sana. Ya, Kris kakak nya.

"Jongin kau lihat wanita di sebelah Sehun itu?" Chanyeol sudah datang kembali dan membawa makanan mereka. Jongin berbalik untuk melihat meja Sehun, posisinya kini membelakangi meja Sehun sedangkan Chanyeol duduk di depannya.

"Wanita baru lagi? Hebat sekali dia itu!" Jongin sedikit kagum dengan Sehun yang bisa mendapatkan wanita dalam waktu secepat itu. "Aku menyukainya."

Byurr

Minuman yang di minum Jongin tersembur begitu saja saat Chanyeol mengatakan hal itu. 'jadi Chanyeol sudah menyukai seseorang?' racaunya dalam hati.

"Aku menyukainya sejak satu tahun lalu. Dia anak dari klub yang sama denganku. Di kelas dua, adik tingkat kita." Jongin hanya bisa tersenyum, berusaha memahami Chanyeol, padahal ia ingin sekali menangis saat Chanyeol mengatakan itu.

"Tapi ia terlalu cantik, terlebih ia memiliki standar seperti Sehun. Aku bisa apa?"

"Tapi ia murahan, Chan. Ia bahkan tahu jika Sehun hanya akan menidurinya seperti wanita kemarin." Chanyeol tersenyum sarkas. Jongin pasti sudah termakan omongan Irene kemarin.

"Tidak Jongin. Sehun tidak mungkin meniduri wanita sembarangan. Tapi karena semua wanita menyukainya, maka para wanita itu rela di perlakukan seperti itu oleh Sehun." Seru Chanyeol.

"Tapi aku tidak menyukainya," Jongin menunjuk dirinya sendiri, merasa Chanyeol tak menganggap ia sebagai wanita di sekolah ini, " iya, kecuali dirimu. Mungkin hanya kau yang tak tertarik dengan nya."

Akhirnya mereka menghentikan pembicaraan itu dan makan dengan tenang. Seharusnya Chanyeol mentraktirnya kemarin, namun karena aksi drama Irene dan Sehun itu ia tak jadi mentraktir Jongin yang terlihat lebih tertarik dengan merawat Irene di uks.

Ngomong-ngomong Chanyeol itu sudah mengenal Jongin sejak tahun pertama mereka, karena mereka di tempatkan di kelas unggulan bersama. Selama ini hanya Chanyeol saja yang benar-benar berteman dengan tulus pada Jongin, semua teman di kelasnya hanya menganggap Jongin ketika ada tugas kelompok saja.

"Aku kasihan jika harus melihatmu makan seperti ini Jongin." Chanyeol berseru tiba-tiba. Sementara Jongin hanya tersenyum menanggapinya.

"Kau ingin aku memakan udang dan jamur itu hah? Lalu melihatku terkapar disini,begitu?" Chanyeol tertawa mendengar penuturan Jongin. Jongin memang memiliki alergi beberapa jenis makanan. Wanita itu tak bisa memakan udang, jamur dan beberapa jenis kacang-kacangan.

Sementara di meja lain,

"Oppa, kau ada waktu malam ini?" satu-satunya wanita di meja itu bertanya.

"Tak tahu. Aku harus belajar nanti malam." Sehun menjawab tak minat.

"Kau belajar? " Kris bertanya, dan di angguki oleh Sehun.

"Ah sudah lah. Habiskan makanan kalian, aku ingin cepat-cepat kembali ke kelas." Sehun berujar sambil menatap Jongin di sudut kantin yang tengah bercanda dengan temannya. Sementara tanpa Sehun ketahui wanita di sebelahnya tengah memperhatikannya.

'Sehun...untuk apa mendudukanku di sampingmu, jika kau menatap orang lain di sudut sana.'

Hari ini Sehun cukup jinak, dari yang ia dengar sih ayah Sehun sudah mengancam pria ini untuk tidak menghindari sesi pengajarannya lagi. Ayah Sehun juga sudah mengetahui aksi penumpahan air itu, beliau bahkan mengancam akan menghentikan semua fasilitas milik Sehun jika pria itu tetap mangkir dari sesi tutornya.

"Siapa wanita yang di kantin tadi?" Jongin tiba-tiba berujar. Sehun menghentikan gerakan menulisnya sebentar, lalu melanjutkan nya lagi sambil berujar. "Kau cemburu?"

Jongin melebarkan matanya tak percaya. Ia memang cemburu namun bukan karena Sehun, melainkan Chanyeol. Lagi pula pria ini benar-benar percaya diri sekali.

"Tidak."

"Lalu kenapa?"

"Aku kan hanya ingin tahu..." Jongin mempoutkan bibirnya. Sehun terkekeh dan benar-benar menghentikan gerakan menulisnya.

"Apa kau memang se aneh ini?" -sehun.

"Tidak juga. Aku hanya mengatakan apa yang ingin ku katakan." Jongin menatap lurus Sehun.

"Kau aneh. " Jongin hanya menjulurkan lidahnya pada Sehun.

"Jongin, apa kau pernah berciuman?"

"Bajingan kau Oh Sehun!" Dan Sehun sukses membuat wajah Jongin semerah kepiting rebus.

Tbc

note: maaf telat. btw makasih buat review nya... trus buat hubungan antara Kris dan Jongin bakal keungkap di chap berikut nya... xie xie