CHAPTER 13
Cho Kyuhyun melangkahkan kakinya menjauhi ruang guru dengan gusar. Kegusarannya semakin memuncak saat mengingat Han Kaisoo mengadu pada Kang Ho Dong Seonsaengnim tentang kejadian tadi pagi. Anak itu perlu sesekali diberi pelajaran biar tahu diri.
Dicarinya musuh besarnya itu ke ruang kelas. Sayangnya Han Kaisoo tak ada di sana. Cho Kyuhyun turun ke kantin untuk mencari Han Kaisoo dan sialnya ia tidak menemukan yang dicarinya. Kyuhyun kesal dengan keadaan seperti in, saat semua hal berjalan tidak sesuai dengan yang ia harapkan.
Kyuhyun melangkahkan kakinya melintasi taman sekolah saat didengarnya suara tawa seseorang yang amat akrab di telinganya. Tawa yang sama sekali tak terdengar merdu di telinganya. Tawa dari seseorang yang amat dibencinya, Han Kaisoo dan teman-temannya.
Kyuhyun yang tak bisa lagi membendung emosinya mendekati Han Kaisoo. Orang yang dituju pun sontak menghentikan tawanya saat seseorang yang penuh tatapan mengancam itu berjalan cepat ke arahnya.
"Apa yang kaukatakan pada Kang Ho Dong Seonsaengnim, dasar pengadu!" sembur Kyuhyun di depan wajah Han Kaisoo.
Han Kaisoo tersenyum sisnis mendengar kegusaran Cho kyuhyun yang dialamatkan padanya. Kang Ho Dong Seonsaengnim bergerak cepat juga setelah ia mengeluhkan tentang apa yang dilakukan Kyuhyun tadi pagi pada mobilnya.
"Kang Ho Dong Saem sudah memanggilmu, ya? Seharusnya ini tak perlu terjadi kalau kau mau bertanggung jawab," jawab Han Kaisoo enteng.
"Apa yang harus kupertanggungjawabkan? Itu bukan salahku dan kau tahu itu," kata Kyuhyun kesal.
"Mataku tidak buta, Cho Kyuhyun! Kau yang menabrak mobilku. Kurasa siapa pun harus bertanggung jawab jika memiliki kesalahan. Atau kau mau mengelak dari tanggung jawabmu?" tanya Han Kaisoo dengan nada yang meremehkan.
Siapa yang tidak bertambah kesal disebut tidak bertanggung jawab. Kyuhyun pun demikian. Dengan susah payah Kyuhyun berusaha menguasai emosinya supaya tangannya tidak mengacak-acak muka sombong dan menyebalkan di depannya itu.
"Kaukira kau bisa berlaku seenaknya padaku dan aku akan diam saja? Jangan mimpi, Han Kaisoo, aku bukan budakmu!" seru Kyuhyun tajam.
"Jangan buat perkara, Cho Kyuhyun! Apa kau sadar sedang berhadapan dengan siapa sekarang?" kata Shin Dong Min membela Han Kaisoo.
"Tutup mulutmu! Aku tak punya masalah denganmu sekarang. Masalahku hanya dengan orang ini, tak ada hubungannya denganmu," sela Kyuhyun marah.
"Lalu apa maumu, Cho? Kau mau aku memberimu kelongggaran? Kurasa kau bisa mencicilnya kalau kau tak punya uang," ucap Han Kaisoo santai sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
"Kaupikir aku tak punya uang? Bukan uang yang kupermasalahkan, tapi kelakuanmu itu yang menjadi masalahnya. Untuk apa kau mengadu pada Kang Ho Dong Seonsaengnim?" kata Kyuhyun habis sabar.
"Aku tak mengadu. Aku hanya berbagi masalahku. Lagipula kau juga tak memiliki niat yang baik untuk menyelesaikan masalah ini," jawab Han Kaisoo.
"Kalau niat baik yang kaumaksud itu aku harus mengganti kerugianmu, aku tidak mau. Sudah aku katakan berulang kali bahwa aku tidak bersalah. Apa telingamu tuli Han Kaisoo-ssi?" kata Kyuhyun sengit.
"Jaga ucapanmu, Cho!" sentak Han Kaisoo.
"Kau yang seharusnya menjaga ucapanmu. Anni, bukan hanya ucapan, tapi kelakuanmu juga perlu dijaga. Kau memang kaya, tapi bukan berarti kau bisa berbuat seenaknya," kata Kyuhyun tak mau kalah.
Han Kaisoo mulai tersulut emosinya. Ia meraih kerah seragam Kyuhyun dan menyentakknya kasar.
"Cho Kyuhyun, kau harus hati-hati dengan ucapanmu. Aku tak akan tinggal diam dengan semua ucapanmu itu," desis Han Kaisoo di depan muka Kyuhyun.
Kyuhyun menepis tangan Han Kaisoo kasar. Ia tak takut dengan semua ancaman Han Kaisoo padanya. Selama ini anak itu hanya bisa mengancamnya tanpa berbuat apa-apa. Jadi, buat apa Kyuhyun harus merasa takut padanya.
"Aku tidak takut. Jangan pernah mengancamku lagi karena ancamanmu itu tak akan mempan buatku!" desis Kyuhyun tak mau kalah,"dan satu lagi, Han Kaisoo-ssi. Aku tak akan mengeluarkan sepeser pun uangku untukmu. Kalau kau mau mengemis, mengemislah di tempat lain!"
Kyuhyun menatap angkuh lawan bicaranya itu. Ia cukup senang melihat kening Han Kaisoo yang berkedut menahan amarahnya. Kyuhyun tahu Han Kaisoo tak akan berani melakukan apa-apa padanya.
Han Kaisoo hanya besar mulut dengan menebarkan ancaman di sana sini. Han Kaisoo masih menjaga reputasinya sebagai Pangeran Sajon. Ia tak akan melakukan sesuatu yang akan merusak reputasinya sendiri.
Memang benar, Han Kaisoo tidak akan langsung menghajar Cho Kyuhyun. Han Kaisoo tahu apa resikonya. Ia tak mau mengotori tangannya sendiri hanya untuk menundukkan Cho Kyuhyun. Han Kaisoo hanya bisa meluapkan amarahnya dalam hati, mengepalkan tangannya kuat-kuat, dan memandang Kyuhyun yang berlalu menjauh darinya dengan tatapan murka.
"Aku yakin kau tak akan tinggal diam disepelekan seperti itu," kata Shin Dong Min mencoba memancing di air keruh.
"Kau benar. Anak itu semakin kurang ajar. Semakin lama kau diam, dia akan semakin bertingkah seenaknya. Suatu hari nanti ia akan mencoba menaiki kepalamu," timpal Lee Kwang So menambahi.
"Hihhh, aku memang tak akan tinggal diam! Anak seperti itu memang harus diberi pelajaran biar lebih tahu diri. Beritahu Kim Chul Sik! Katakan padanya ada sansak hidup sebagai sparring partner-nya hari ini. Cho Kyuhyun sialan itu harus tahu apa akibatnya kalau melawanku!" ucap Han Kaisoo geram.
Cho Kyuhyun berkacak pinggang di depan sepedanya yang tergolek naas di tempat parkir. Ini hari pertamanya ke sekolah naik sepeda, namun kesialan bertubi-tubi malah menimpanya.
Sepedanya teronggok menyedihkan dan terlempar jauh dari tempatnya terparkir semula. Tak ada sepeda lain yang masih tinggal di tempat parkir. Sepeda Kyuhyun satu-satunya yang masih ada di sana.
Sejak pagi Dewi Fortuna tampaknya enggan mendekat padanya. Kyuhyun merasa hari ini penuh dengan kutukan-kutukan. Ketidakmujuran selalu mengiringi setiap langkahnya sepanjang hari ini.
Kyuhyun terlambat pulang hari ini. Lee Seonsangnim memintanya menyeleksi anak kelas satu yang akan diikutkan Olimpiade Matematika tahun ini. Ia pulang paling akhir setelah mengumpulkan lembaran kerja hasil seleksi di meja ruang guru yang sudah sepi.
Tak ada seorang pun yang tinggal selain penjaga keamanan sekolah yang berjaga di pos dekat gerbang utama. Sekolah terlihat meyeramkan saat sepi, ditambah lagi beberapa lampu juga sudah dimatikan.
Suara dering telepon genggamnya terdengar nyaring di telinga Kyuhyun. Kyuhyun melepas tas ransel yang tergantung dipunggungnya untuk mengambil telepon genggam yang disimpannya di dalam tas.
Nama 'Hyung Kuda' tertera di layar ponselnya. Hyungnya itu selalu saja menghubunginya kalau Kyuhyun terlambat pulang. Dengan jengkel Kyuhyun mengarahkan ibu jarinya pada tombol hijau yang terdapat pada layar ponsel hitamnya.
Namun, belum sempat Kyuhyun mengangkat panggilan telepon itu, sebuah lengan kekar mengalung kuat di lehernya. Kyuhyun sangat terkejut dan menjatuhkan ponselnya.
"Aku dengar ada yang perlu diberi pelajaran, dan itu adalah kau, Cho Kyuhyun," kata suara yang serak dan berat di telinganya.
Kyuhyun yang merasa kesakitan mencoba untuk memberontak. Tapi lengan itu malah lebih erat mencekik lehernya. Orang yang menyerang Kyuhyun itu bahkan juga memelintir tangan kanan Kyuhyun di belakang punggungnya.
Kyuhyun melihat ada dua orang lagi di depannya yang menatap dengan seringaian lebar. Ia tak mengenal mereka dan mereka juga tak sekelas dengan Kyuhyun.
"Siapa kalian?" tanya Kyuhyun tercekat. Leher dan lengannya mulai terasa sakit sekarang.
Dua orang yang ada di depannya tertawa mengejek. Melihat pemandangan seperti itu memang rasanya menyenangkan untuk orang-orang semacam mereka.
"Bos, anak ini tampaknya tidak berbahaya. Mengapa Bos Besar memerlukan tenagamu untuk menjinakkannya?" tanya salah seorang yang paling pendek di antara mereka.
"Kita akan memberinya pelajaran di sini, Bos? Nampaknya tempat ini kurang mendukung. Ahjussi di pintu gerbang akan mudah mendengarnya menjerit-jerit ketakutan nanti," ujar yang satunya lagi.
Orang yang dipanggil bos itu nampaknya setuju dengan ucapan kedua rekannya itu. Ia pun menyeret Kyuhyun ke kebun belakang sekolah yang gelap dan selalu sepi.
Sesampainya di kebun belakang sekolah, orang yang memiting leher Kyuhyun itu mengempaskan tubuh kurusnya ke tanah. Kyuhyun sampai mengernyit saat tubuhnya menghantam tanah berbatu yang keras.
Sekarang ia bisa melihat siapa yang memitingnya itu. Ternyata Kim Chul Sik, orang yang tahun lalu juga membuatnya seperti ini. Yang pernah membuat perut dan lengannya memar saat ia menjadi murid baru di Sajon.
Bedanya tahun lalu ia tak sendirian. Ada beberapa anak lain yang berdiri berjajar dan mendapat 'sambutan selamat datang' dari Kim Chul Sik. Sekarang Kyuhyun hanya seorang diri dikelilingi tiga orang yang wajahnya sangat tidak bersahabat.
Kyuhyun berdiri dari tempatnya terjerembab. Ia merasa dirinya seperti pesakitan sekarang. Ia hanya sendirian, sedangkan lawannya berjumlah tiga orang. Mirip seperti seorang terdakwa di depan para algojo.
"Apa maumu?" tanya Kyuhyun pada Kim Chul Sik yang hanya dibalas dengan tawa yang terdengar menyeramkan.
"Aku tak mau apa-apa darimu. Hanya memastikan saja kalau bayaran yang kuterima setimpal dengan hasilnya," kata Kim Chul Sik.
Kim Chul Sik berjalan mendekati Kyuhyun. Melihat lawannya yang ukuran tubuhnya dua kali lipat lebih besar dari dirinya, mau tak mau membuat Kyuhyun merasa gentar.
"Bayaran apa?" tanya Kyuhyun sambil memandang waspada lawannya.
Kim Chul Sik meraih dagu Kyuhyun dan menariknya dekat padanya. Kyuhyun dapat merasakan embusan napas beraroma tembakau yang menjijikkan menguar dari mulut Kim Chul Sik.
"Aku tadi sempat heran ada orang yang rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk membereskanmu. Sekali pukul kupastikan kau akan tertidur sampai besok pagi. Namun, orang itu bilang bahwa kau adalah musuh yang berbahaya," kata Kim Chul Sik tanpa melepaskan tangannya yang mencengkeram erat dagu Kyuhyun.
"Siapa yang membayarmu?" tanya Kyuhyun terbata-bata.
"Kau tak perlu tahu. Itu bukan urusanmu," jawab Kim Chul Sik sambil mendorong keras tubuh Kyuhyun hingga punggungnya beradu dengan dinding pagar belakang yang memisahkan area sekolah dengan jalan raya di belakangnya.
Kyuhyun meringis kesakitan. Punggung kurus Kyuhyun yang menghantam dinding batu di belakangnya terasa ngilu.
"Aku tak punya masalah denganmu Kim Chul Sik. Jadi, lepaskan aku!" kata Kyuhyun.
Kim Chul Sik dan teman-temannya tertawa mendengar ucapan Kyuhyun itu. Mereka mengganggap permintaan Kyuhyun untuk melepaskannya seperti humor garing di telinga mereka.
"Aku tak mau. Melepaskanmu sama artinya melepaskan lima puluh ribu won terbang di depan mataku. Lima puluh ribu won, Cho, dan uang sebanyak itu hanya untuk memberimu pelajaran. Ah, dan dia juga bilang kalau ia ingin melihat lima puluh ribu won-nya tidak terbuang percuma. Kalau aku melepaskanmu, bukankah itu artinya aku membuang lima puluh ribu won begitu saja?" kata Kim Chul Sik.
Cho Kyuhyun terkesiap mendengar tuturan Kim Chul Sik itu. Lima puluh ribu won bukanlah jumlah yang sedikit. Orang seperti apa yang rela mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk menyuruh seseorang memukulinya.
Orang yang menyuruh Kim Chul Sik pastilah orang berada. Yang memiliki uang lebih untuk dihambur-hamburkannya.
"Bos, tak usah banyak bicara lagi! Bereskan saja secepatnya. Aku sudah ingin menikmati uangnya," ujar salah satu di antara mereka.
Salah satu anak buah Kim Chul Sik bergerak cepat ke belakang Kyuhyun. Ia memelintir kedua tangan Kyuhyun di belakang punggungnya. Kyuhyun berontak untuk melepaskan cengkeraman yang terasa menyakitkan itu. Namun, tak lama usaha Kyuhyun untuk memberontak terhenti saat pukulan keras mendarat di perutnya.
"Ukh…!"
Kyuhyun sampai harus membungkukkan badannya karena pukulan itu. Pukulan yang tiba-tiba bersarang di perutnya membuat Kyuhyun mengerang kesakitan. Kyuhyun bahkan terbatuk-batuk setelah menerima serangan yang tiba-tiba itu.
Kim Chul Sik mendorong bahu Kyuhyun, sedangkan teman Kim Chul Sik yang menahan tangan Kyuhyun di belakangnya, menarik kasar tangan Kyuhyun, membuat tubuhnya tegak kembali. Namun, setelah itu Kim Chul Sik kembali menghantamkan pukulannya pada perut Kyuhyun.
Kyuhyun kembali mengerang setelah pukulan Kim Chul Sik membuat perutnya terasa sakit luar biasa. Matanya sampai berkunang-kunang menerima dua pukulan di tempat yang sama. Kyuhyun merasa tak berdaya dan ia benci ketika tak bisa berbuat apa-apa seperti sekarang ini.
"Kau harus bisa menjaga mulutmu, Cho!" kata Kim Chul Sik sambil memukul perut Kyuhyun untuk yang ketiga kalinya.
""Akh…!" Kyuhyun kembali mengerang kesakitan.
Kim Chul Sik sangat tahu bagian tubuh mana yang akan dia pukul. Ia sengaja tak melukai wajah atau bagian tubuh Kyuhyun yang terlihat. Maka dari itu, ia hanya menyerang bagian perut yang tersembunyi.
Cho kyuhyun merasa dadanya sesak. Pandangannya mulai mengabur tatkala ia kesulitan bernapas. Pukulan tadi membuat tubuhnya tak bisa berfungsi dengan baik.
"Jaga kelakuanmu!" kata Kim Chul Sik lagi sambil menjambak rambut Kyuhyun dan memaksanya untuk menatapnya.
Kim Chul Sik kembali menyarangkan pukulannya yang membuat napas Kyuhyun tersengal. Perutnya rasanya seperti diaduk. Dadanya juga sesak seakan-akan udara di sekitarnya tiba-tiba menipis.
Kyuhyun tak kuat lagi. Kakinya sudah tak kuat untuk menopang tubuhnya yang lemah. Ia bisa berdiri tegak hanya karena masih ada orang yang memegangi dan menarik tubuhnya ke belakang, memaksanya untuk tetap berdiri.
"Pelajaran keduamu akan lebih menyakitkan dari ini, Cho. Ingat itu baik-baik!" kata Kim Chul Sik sambil menendang perut Kyuhyun dengan lututnya.
Kyuhyun mengerang keras saat tendangan Kim Chul Sik mengenai ulu hatinya. Lehernya terasa tercekik dan napasnya tersendat-sendat. Ia membuka mulutnya agar dapat meraup udara lebih banyak.
Teman Kim Chul Sik yang sejak tadi memegangi tangan Kyuhyun pun melepaskan pegangannya. Kyuhyun ambruk ke dapan dan merasakan tubuhnya sakit tak terkira.
"Itu pesan yang harus kusampaikan, Cho. Dengar baik-baik pesan tadi agar kau tidak perlu merasakan pukulanku lagi!" seringai Kim Chul Sik pada Kyuhyun.
Kyuhyun meringis kesakitan saat tangan Kim Chul Sik sekali lagi menjambak rambutnya supaya Kyuhyun menatap ke arahnya dan mendengarkan apa yang dikatakan Kim Chul Sik padanya.
"Ayo, pergi! Kita sudah selesai," kata Kim Chul Sik lagi mengajak kedua rekannya meninggalkan tempat itu.
"Tunggu aku belum mendapatkan bagianku," sela salah satu teman Kim Chul Sik yang dari tadi hanya menonton.
Orang itu mendekati Kyuhyun yang masih tergolek lemah di atas tanah sambil memegangi perutnya.
"Aku juga mendapat bagian uang itu. Jadi, aku juga harus ikut serta memberi pelajaran pada bocah ini."
Setelah berkata demikian, teman Kim Chul Sik itu menendang keras dada Kyuhyun. Tendangan keras itu membuat Kyuhyun sampai terbatuk hebat. Dadanya yang sudah sesak semakin terasa terimpit.
Kyuhyun melenguh pelan. Merasakan bagian-bagian tubuhnya yang terasa sangat sakit. Ia tak punya tenaga lagi bahkan hanya untuk menopang tubuhnya sendiri. Ia hanya bisa mengerang kesakitan dan memejamkan matanya, berharap agar rasa sakit itu dapat berkurang.
Ketiga orang yang menghajar Cho Kyuhyun itu pun berlalu dan meninggalkannya tergolek di atas tanah di kebun belakang sekolah. Mereka tak merasa khawatir akan ketahuan karena tempat itu tak akan dikunjungi siapa pun apalagi di waktu malam.
Kim Ryeowook meregangkan otot lengannya yang kaku. Ia sampai lupa waktu berada di perpustakaan. Ia baru sadar kalau sekolah sudah sepi saat Gong Saem menegurnya dan menyuruhnya pulang.
Kim Ryeowook menyusuri halaman sekolah yang sudah sepi. Bangunan tinggi sekolahnya itu terlihat suram karena hanya beberapa lampu yang dinyalakan di tiap lorong. Tak ada satu orang pun yang masih tinggal. Mungkin hanya ada beberapa guru yang tinggal karena lembur. Tapi mereka biasanya mengurung diri di ruang guru.
Telinga Kim Ryeowook lamat-lamat mendengar suara musik. Ia menatap sekelilingnya, tapi tak terlihat siapa pun di sana. Suara musik itu sempat menghilang namun beberapa saat kemudian kembali terdengar.
Kim Ryeowook celingukan mengedarkan pandangannya ke seluruh halaman dan juga tempat parkir yang ada di ujung halaman. Ada cahaya samar berkelap-kelip di lantai tempat parkir yang tertangkap mata Kim Ryeowook.
Kim Ryeowook mendekati tempat parkir. Ternyata masih ada sebuah sepeda yang tergolek di sana, entah milik siapa. Di dekatnya ada sebuah ponsel yang menyala. Kim Ryeowook akhirnya tahu dari mana asal suara musik yang ia dengar tadi.
Ck, apa anak-anak di Sajon sudah sangat kelebihan uang sampai-sampai ponsel pun ditelantarkan seperti ini. Kim Ryeowook mengambil ponsel itu. Mungkin saja pemiliknya baru menyadari ponselnya terjatuh. Jadi, ia menguhubungi nomornya dan berharap orang yang menemukan mau mengembalikannya.
Dahi Ryeowook berkerut saat membaca nama yang tertera di layar ponsel yang ditemukannya. Siapa orang yang kurang kerjaan dengan memberi nama kontaknya 'Hyung Kuda'. Ponsel yang dipegang Ryeowook berhenti berdering, namun sebentar kemudian ponsel itu kembali menyala dengan nama penelepon yang sama.
Telinga Kim Ryeowook mendengar suara orang yang tengah berbicara sambil bercanda dari arah kebun belakang. Kim Ryeowook cepat-cepat menyembunyikan tubuhnya di balik tempat sampah besar yang ada di ujung tempat parkir. Ryeowook juga menjejalkan ponsel yang masih menyala itu ke dalam tasnya dan menyelipkan di antara buku-buku tebalnya.
Kim Ryeowook melihat Kim Chul Sik dan teman-temannya berjalan melewatinya. Ia semakin menempelkan tubuhnya agar tidak ketahuan. Ryeowook tahu siapa dan seperti apa Kim Chul Sik. Ia tak mau menjadi bulan-bulanan di sini karena tak sengaja bertemu muka dengan Kim Chul Sik.
Kim Ryeowook menarik napas lega saat tubuh Kim Chul Sik dan teman-temannya menjauh dan menghilang dari pandangannya. Ia merutuki ponsel dalam tasnya yang masih meraung-raung tanpa henti. Kuda satu ini gigih sekali dengan menelepon terus-menerus, padahal tak ada yang mau menjawab panggilannya.
Kim Ryeowook akhirnya menggeser tombol hijau yang berkedip pada layar ponsel itu. Kim Ryeowook merasa kasihan pada si penelepon yang terus menunggu untuk dijawab, mungkin ini panggilan darurat.
"Yeobseyo," kata Kim Ryeowook menjawab panggilan si penelepon.
"Yeoseyo, Kyuhyunie?" jawab suara di seberang sana dengan nada penuh tanya.
"Bukan, ini Ryeowook," jawab Kim Ryeowook.
"Ini siapa? Di mana Kyuhyun?" tanya orang itu lagi.
"Kyuhyun? Ini ponsel Kyuhyun?" tanya Ryeowook yang tak menjawab pertanyaan itu, malah balik bertanya.
"Iya, di mana dia?" tanya orang itu dari seberang sambungan.
"Aku tidak tahu. Ponselnya terjatuh di sekolah. Dan Kyuhyun tak ada di sini," jelas Kim Ryeowook.
Si penelepon terdengar menghela napas gusar mendengar penjelasan Ryeowook. Mungkin kesal dengan Kyuhyun yang begitu ceroboh sampai ponselnya terjatuh pun ia tidak tahu.
"Apa aku perlu mengantar telepon ini? Bisakah Anda beri tahu alamatnya?" tanya Kim Ryeowook lagi.
"Kurasa tidak perlu. Kau bisa…..,"
Kim Ryeowook terkejut saat ponsel yang menempel di telinganya ditarik paksa oleh seseorang.
"Hyung, jemput aku!" ucap Kyuhyun dengan suara tersengal.
"Kyuhyunie, Kyuhyunie ada apa? Kau baik-baik saja?" ucap Siwon, Hyung Kyuhyun.
Siwon menelepon adiknya itu karena cemas Kyuhyun belum juga pulang hingga larut.
"Tidak begitu baik," jawab Kyuhyun.
Tubuh Kyuhyun merosot dan bersandar pada salah satu tiang di tempat parkir itu, perut dan dadanya masih terasa sakit. Keringat dingin juga membanjiri kening dan tubuhnya.
Kyuhyun memaksakan dirinya keluar dari kebun belakang sekolah. Kyuhyun berjalan terhuyung-huyung menuju bagian depan gedung sekolah, berniat meminta bantuan dari siapa pun yang ia temui. Beruntung ia melihat Kim Ryeowook yang sedang sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Kyu!" teriak Ryeowook panik ketika melihat keadaan Kyuhyun yang jauh dari kata baik.
"Kyu, Kyu, halo, apa kau mendengarku? Hyung segera menjemputmu. Jangan ke mana-mana! Bertahanlah!" teriak Siwon yang tak kalah paniknya.
Kyuhyun mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku jas sekolahnya.
"Bantu aku, Ryeowook!" pinta Kyuhyun pada Ryeowook yang berjongkok di sampingnya.
Kyuhyun mencoba berdiri dengan tenaganya yang tersisa. Kim Ryeowook segera memapah Kyuhyun dengan memegangi lengannya. Mereka berjalan pelan menuju lobi sekolah.
"Kau mau menunggu di sini? Bukankah lebih enak kalau menunggu di pos penjagaan?" tanya Ryeowook.
Kyuhyun menggeleng. Kyuhyun berpikir ia akan menghadapi berbagai pertanyaan dari petugas jaga kalau ia menunggu di sana dengan keadaannya yang seperti ini.
"Ryeowook, kaubisa membawa sepedaku pulang?" tanya Kyuhyun pada Ryeowook.
"Tentu saja. Sepeda yang tergeletak di tempat parkir itu sepedamukah?" kata Ryeowook yang juga berpikir tak mungkin Kyuhyun kuat membawa pulang sepedanya.
Kyuhyun mengangguk lalu menyerahkan kunci sepedanya pada Ryeowook.
"Ada apa denganmu, Kyu?" tanya Ryeowook pada Kyuhyun.
"Aku tidak apa-apa. Cuma sedikit sakit dan kelelahan," jawab Kyuhyun pelan.
Ia tak mau menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Ryeowook. Cerita tentang hal tragis seperti yang dialaminya barusan bukanlah hal yang bisa didengar Ryeowook dengan tenang. Anak itu bisa dua kali lebih panik daripada dirinya.
"Tidak apa-apa bagaimana? Aku tak pernah melihatmu selemah ini sebelumnya," ujar Ryeowook.
"Sudah malam, Ryeowook, cepatlah pulang!" kata Kyuhyun yang tak menanggapi ucapan Ryeowook sebelumnya.
"Aku akan menunggu di sini sampai kau dijemput," kata Ryeowook.
"Pulanglah dulu. Ini sudah terlalu malam. Orang tuamu pasti menunggumu di rumah," kata Kyuhyun lagi.
"Tidak," jawab Ryeowook ngotot.
"Kim Ryeowook, cepat pulang! Hyungku sebentar lagi juga tiba," seru Kyuhyun yang mulai merasa kesal dengan Ryeowook yang keras kepala.
Kim Ryeowook menatap Kyuhyun lagi. Anak itu masih saja bisa marah-marah meskipun tubuhnya lemah.
"Arra, aku pulang. Kau tak apa-apa kalau kutinggal?" tanya Ryeowook yang masih sangsi dengan ketahanan tubuh Kyuhyun.
"Aku tak akan pingsan," tukas Kyuhyun kesal,"Sudah cepat pulang sana!"
Kim Ryeowook berdiri dan mulai meninggalkan Kyuhyun. Sesekali Ryeowook menengok ke arah Kyuhyun, siapa tahu anak itu pingsan kalau ia tinggalkan. Namun, Kyuhyun nampaknya masih punya cukup tenaga yang tersisa meski ia menyandarkan tubuh dan kepalanya ke dinding lobi.
Di tempat parkir, Ryeowook merasa gundah. Ia masih menimbang-nimbang apakah ia harus meninggalkan Kyuhyun atau menungguinya. Kondisi Kyuhyun begitu mengkhawatirkan meskipun anak itu berkata tidak apa-apa, namun Ryeowook yakin Kyuhyun tidak seperti itu. Kyuhyun tak mau terlihat lemah dan tak berdaya di depan siapa pun.
Kim Ryeowook memutuskan mengamati Kyuhyun dari tempat parkir. Ia harus yakin Kyuhyun benar-benar sudah dijemput. Ia tak mau pulang ke rumah dengan membawa perasaan khawatir.
Beberapa saat kemudian, dari jauh, Ryeowook melihat sebuah mobil berhenti di depan lobi. Pengemudinya turun dari mobilnya dan berlari menuju lobi. Tak lama kemudian, Ryeowook melihat orang itu keluar dari lobi sambil memapah Kyuhyun. Ryeowook mulai menarik napas lega saat mobil itu melaju meninggalkan area sekolah dengan membawa serta Kyuhyun di dalamnya.
Dahi Ryeowook berkerut. Jika Kyuhyun memiliki hyung yang sigap menjemputnya dengan mobil, kenapa ia memilih naik sepeda ke sekolah setiap hari. Mobil yang menjemputnya tadi juga bukan mobil biasa, malah bisa dikategorikan mewah.
Kepala Kim Ryeowook semakin penuh dengan tanda tanya. Ia merasa banyak hal yang tersembunyi dari seorang Cho Kyuhyun. Kyuhyun yang ia kenal tampaknya tak sama dengan yang ia lihat. Cho Kyuhyun siapa dirimu sebenarnya?
TBC
Chapter 13 update. Siapa yang kemarin minta Kyuhyun dipukuli? Harapan Anda sudah terkabul. Untung saja situasi amat mendukung untuk bikin Kyu tersiksa. Tanggal 25 Mei nanti dia berangkat wamil kan dan Kyu sekarang seolah-olah sudah menghilang. Ok, fix, pergi saja tanpa ucapan selamat tinggal kalau begitu. Jangana lupa review ya guys. Terima kasih dan selamat membaca.
