TWO SIDES
by Gyoulight
.
.
.
.
HUNHAN FANFICTION
GENRE: Drama, Romance
RATING: T
.
.
.
.
.
Luhan hanya bisa diam di kursinya ketika taxi membawa mereka semakin jauh dari rumah sakit. Ia masih memegangi dadanya. Masih mendefinisikan banyak hal soal getaran di dadanya yang masih saja asing untuk awal paginya. Di sebelahnya Sehun terdiam menyaksikan pemandangan sepanjang jalan. Sepertinya, melihat laut lepas di tepian jalan membuat pria itu sedikit bernostalgia dengan kecelakaan yang dialaminya.
Luhan menoleh untuk memastikan Sehun baik-baik saja dengan kondisinya. Menatap wajah pucatnya dengan sendu, sambil mengabsen beberapa luka dan juga lebam di sekitar sana. Lalu pandangannya turun pada perban di lengan kirinya dan juga kakinya. Nyatanya Luhan masih bisa mengingat bagaimana simbah darah pria ini muncul dari luka-luka itu kemarin.
Sehun menoleh padanya, berkedip heran dengan pertanyaan di kepala. Tapi Luhan buru-buru memalingkan wajahnya. Merasakan kembali degupan aneh di dadanya yang kali ini sedikit lebih ekstrim.
"Aku yakin kau masih membawa kartu kreditku," tutur pria pucat yang semakin pucat itu. Tidak perduli bagaimana Luhan menghindarinya, ia tetap menginginkan Luhan menjawab pertanyaannya. Ia tidak mungkin menelpon Baekhyun untuk mengurusi anggaran belanja seperti membayar taxi di pagi buta. Tidak akan, atau taxi ini akan disetir untuk kembali ke rumah sakit karena Baekhyun tidak suka ia yang memaksakan diri.
Luhan merogoh dompetnya yang kosong. Ia mencoba mengeluarkan kartu tipis itu lalu menyerahkannya pada supir. Sehun pun baru bisa bersandar pada kursinya dengan nyaman setelah itu semua selesai. Ia mengabaikan kembali Luhan lalu menunggu sampai perjalanan mereka berujung.
Tak lama, taxi itu akhirnya berhenti dengan baik di depan lobi hotel. Sehun turun dari sana dengan terpincang-pincang. Susah payah ia menyeimbangkan dirinya sendiri agar dapat menggapai pintu. Luhan yang masih diam menyaksikan pemandangan memilukan itu akhirnya mendekat pada Sehun. Meraih tangan kanannya lalu mengalungkannya pada pundaknya sendiri. "Seharusnya kau bilang kalau kau butuh bantuan."
Sehun buru-buru menarik tangannya kembali. Dengan tatapan tak suka ia menyingkirkan tubuh Luhan yang menempel padanya. "Aku tidak butuh bantuan."
Luhan menautkan kedua alisnya. Ia cukup tersinggung dengan keras kepala pria di depannya itu. Lantas ia hanya bisa membiarkan Sehun mendahuluinya. Tentu saja ia tidak bisa memaksa seseorang untuk beberapa hal.
Luhan mengeratkan genggamannya pada tas berisi pakaian dan barang-barang Sehun di tangannya, padahal Sehun sudah menyuruhnya untuk membuang pakaian itu karena sudah kotor berlumur darah. Tapi ia juga tak kalah keras kepala karena Luhan yakin Sehun masih membutuhkan barang-barangnya.
Memasuki lift, mereka masih berada dalam keheningan yang panjang. Tidak ingin melihat satu sama lain sampai membuat jarak yang pasti di tiap sudut. Luhan menyaksikan pantulan dirinya di dinding. Diam-diam melirik bayangan milik Sehun yang masih terdiam menanti pintu lift terbuka.
Luhan ingin mencoba berbicara perihal hari liburnya. Ia ingin bersenang-senang sejak kemarin, tapi ia tidak pernah diizinkan untuk itu. Dan hari ini ia kembali dihadapkan dengan kondisi yang tidak mungkin untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Lalu apa artinya ia di Jeju kalau tidak mengambil kesempatan untuk berkeliling.
"Apa aku boleh jalan-jalan sebentar?" tanya Luhan akhirnya memberanikan diri.
"Tidak," jawab Sehun ketus. Pria itu tentu tahu benar apa yang terbaik untuk pria rusa itu. Berdiam di hotel sampai terbang ke Seoul adalah hal yang harus mereka lakukan sepanjang hari ini. Ia bukannya takut dengan Kris, hanya saja ia tidak ingin rencana penyamaran Luhan yang sudah susah payah disusunnya itu harus kandas di tengah jalan.
"Kalau hanya mengelilingi hotel?" Luhan kembali menawar. Sedikit tidak perduli pada pantulan wajah Sehun yang sudah berubah masam di pintu lift.
"Tidak boleh."
Luhan mencebik. Tapi ia tetap bersih keras. "Bagaimana kalau berenang di bawah?"
"Kita punya bathtup di kamar mandi," jawab Sehun sedatar lantai yang diinjaknya.
Itu sama sekali tidak lucu bagi Luhan. Bagaimana mungkin seorang CEO menyamakan fungsi kolam renang dengan bathtup? Ia bahkan yakin adiknya yang bodoh saja tahu perbedaan fungsi dari keduanya. "Kau pikir aku bayi ikan?"
Sehun berdecih. "Memangnya kau bisa berenang?"
"Aku bisa belajar," tandas Luhan berkacak pinggang.
Pintu lift kini sudah terbuka lebar. Meninggalkan Luhan, kaki Sehun kembali menapak ke luar. "Bagaimana kalau kau tenggelam dan tidak ada yang melihatmu?"
"Itu terlalu berlebihan." Luhan kembali mengejar langkah Sehun yang pincang. Dengan senang hati ia menyeimbangkan langkahnya dengan pria itu. Berjalan bersisian dengan Sehun sambil berjaga-jaga jika pria pucat itu tiba-tiba jatuh.
Sehun meraih kode pintunya. Menekan beberapa kode sebelum pintu mereka terbuka dengan sebuah bunyi familiar. "Ada sesuatu yang harus ku bicarakan denganmu."
e)(o
Sehun baru saja masuk ke dalam sebuah ruangan rapat yang mendadak dibentuk oleh timnya. Wajah lelah karyawannya kemudian menjadi sambutan hangat untuknya. Beberapa sempat terkejut melihat kondisinya berdiri dengan kedua tongkat. Menyernyit ngilu melihat wajah pucatnya yang masih dipenuhi luka yang baru saja kering.
Jongdae terdiam. Tidak tahu harus mengatakan apa soal kesalahannya. Ialah orang yang paling menyalahkan dirinya sendiri karena membuat atasannya itu terluka. Andai ia lebih teliti dalam bekerja. Atasannya itu tentu tidak akan terluka seperti ini.
"Mulai rapatnya," perintah Sehun pada Baekhyun yang masih termenung dengan kertas di hadapannya. Menyayangkan mengapa Sehun bisa sangat keras kepala untuk mengadakan rapat evaluasi, padahal atasannya itu masih butuh perawatan intensif lainnya di rumah sakit.
"Apakah ini baik untukmu?" tanya Baekhyun ragu. Lagi pula siapa yang tidak khawatir dengan kondisi orang yang baru saja kabur dari rumah sakit.
Sehun menatap tajam sekertarisnya. Tidak mau mendengar komentar meski kepalanya sendiri mulai pusing menghadapi karyawannya. "Aku tidak akan meminta kalian rapat kalau aku tidak baik-baik saja."
Jongdae akhirnya beranjak dari kursinya. Menghidupkan layar presentasi seadanya dan tentunya tanpa persiapan. Pria itu kemudian hanya bergantung pada apa yang diketahuinya sekarang. Tidak terlalu mengharapkan kesempurnaan seperti dalam rapat-rapat yang diisinya. "Hasil tes sudah keluar beberapa jam yang lalu. Proyek kita berhasil mendapatkan izin dari departemen, setelah beberapa keterangan polisi dirilis. Hanya saja, kita butuh beberapa perbaikan dalam fitur keselamatan."
Sehun masih terpaku pada layar presentasi. Memainkan putaran kursinya sambil berpikir dengan ide yang bersarang di otaknya. "Bagaimana respon media?"
"Media menyambut ini dengan hal yang positif. Beberapa persen menganggap kecelakaan berasal dari masalah internal. Tapi lebih banyak dari mereka yang menunggu proyek kita. Dan kabar baiknya, Solitare menawarkan berbagai tawaran penting untuk Star-S," jawab Jongdae sejelas-jelasnya.
Sehun mengangguk membuka lembaran di depannya. Mencari lampiran penawaran perusahaan mesin itu lalu membaca detailnya. "Gina, periksa seberapa banyak anggaran untuk perbaikan." Gadis berambut pendek itu segera mengangguk. Mencoba sibuk dengan laptopnya tanpa mau terusik dengan kesibukan karyawan lain di sampingnya.
"Susun beberapa rencana untuk penjualan proyek─"
Begitulah rapat mereka berjalan. Para karyawan habis mengusap wajahnya. Beberapa ada yang masih sibuk dengan laptopnya. Sedangkan Baekhyun masih berkutat dengan kertas dan pulpennya. Mencatat apapun yang didengarnya, lalu ikut berpikir. Berharap ia punya ide bagus sebagai solusi terbaik.
Baekhyun ikut beranjak ketika Sehun sudah kembali meraih tongkatnya. Menopang sendiri langkahnya jauh di depan Baekhyun yang sengaja berjalan pelan tidak ingin mengatakan banyak hal.
Sehun berhenti sebentar lalu meliriknya dengan ekor matanya. "Bisa kau antar aku sebentar?"
Baekhyun mendahului langkah Sehun. Menekan tombol lift seperti biasa sampai menunggu pintu lift itu terbuka. Sesungguhnya ia bukanlah orang yang gampang menolak. Ia bisa saja membantu atasannya itu menyetir hingga ke ujung dunia sekalipun. Namun melihat kondisi Sehun dari ujung kaki hingga ujung kepala, nyatanya tidak cocok untuk mengajak pria itu berkelana. "Kau harus kembali ke rumah sakit."
Sehun membuang wajahnya malas. Ia sudah menduga Baekhyun akan kembali menjadi ibu yang sangat cerewet untuknya. "Aku akan pulang besok sore."
"Kau terlalu memaksakan diri," komentar Baekhyun tidak berperasaan. Ia pun berubah kesal karena bukan hanya hasil rapat yang menugaskannya untuk banyak menulis laporan, tapi juga karena tidak punya waktu jalan-jalan sebentar.
"Aku hanya mengerjakan tugasku," sanggahnya mengendikkan bahu.
Baekhyun memutar matanya jengah. Sudah cukup ia menahan kepalanya yang pusing karena kurang tidur. "Ya, terlepas dari kau yang berhasil membuat kami berlari seperti orang sinting siang ini."
Pintu lift pun kini terbuka. Sehun diam-diam sudah memasuki pintu. Meninggalkan Baekhyun yang berusaha menenggelamkannya lewat lautan tatap-menatap. "Kau juga harus segera pulang."
"Kenapa? Aku bahkan belum jalan-jalan ke pantainya." Baekhyun mau tak mau harus memasuki pintu kecil itu. Mendampingin Sehun seperti biasa. Seperti sekertaris baik lainnya. Tapi Baekhyun menyayangkan pemandangan seperti ini, ketika bosnya memeluk tongkat sedangkan ia berdiri manis di sampingnya seperti seorang suster yang tidak perduli pada pasiennya.
"Ada sesuatu yang harus kau ambil," mulai Sehun memberinya tugas tambahan. Dan jangan lupakan jika atasannya itu merupakan orang sinting yang bisa menugaskan hal konyol padanya hanya demi kepentingan perusahaan. Baekhyun tak akan terkejut lagi jika Sehun kali ini memintanya untuk membobol rumah Jongin atau menculik kekasihnya yang bersantai di depan televisi. Oke, biarkan Baekhyun mencoba untuk bersikap baik-baik saja untuk mendengarnya.
"Aku tidak ingin lagi mendengar candaanmu tentang Jongin atau semacamnya. Jongin punya privasi yang harus kita hormati."
"Ini bukan tentang Jongin." Alis Sehun mengeriting. Tentu saja ia tidak perduli pada pria tan itu beberapa hari ini. Anggap saja tidak ada pekerjaan yang harus Jongin selesaikan untuk proyeknya. "Datanglah ke rumahku besok malam."
Baekhyun terkekeh. Merasa jenaka dengan ajakan tiba-tiba atasannya yang sinting. "Kau ingin mengajakku minum?"
"Anggap saja ajakan kencan," jawab Sehun mengedipkan sebelah matanya.
Baekhyun menganga dengan lucu. Ia sungguh tidak tertarik dengan sikap manis Sehun. Sehun bahkan tidak cocok untuk bermain sebagai perayu. "Terima kasih, tapi aku masih waras."
e)(o
Seorang bocah berseragam masih berkutat dengan ponselnya. Berdiri dengan beberapa temannya menunggu lampu penyebrangan menyala hijau. Dua temannya masih terlibat pembicaraan yang sama sekali tidak ia indahkan. Saling tertawa, memukul atau kini keduanya sudah saling dorong tanpa takut sebuah mobil mungkin saja menepi dan menabrak salah satunya.
Pemuda bersurai hitam itu kini melirik sahabatnya yang masih mengacuhkannya di dekat tiang lampu. Berusaha memperingatkan temannya untuk diam dan tidak mengganggu orang lain yang sudah memperhatikan mereka.
Pemuda itu melanjutkan duel gamenya. Melepas salah satu earphonenya untuk berjaga-jaga─hanya demi mendengar dengan baik dentingan bel tanda berjalan. Seketika ia merasakan lengannya ditarik oleh kedua temannya. Membuatnya kalah bermain dan hampir terpeleset oleh kakinya sendiri. Tawa temannya semakin memekakan telinganya. Ia pun hanya bisa pasrah jika ia kalah dalam duel di ponselnya.
Seseorang dengan mata tajamnya sudah duduk di tepian gang sempit. Wajah sangar dengan luka lecet di pipi membuatnya menjadi sorotan kecil. Tak jauh berbeda dengan keempat temannya yang menunggu sambil memainkan potongan kayu.
Pemuda dengan seragamnya itu tiba-tiba dihadang langkahnya. Kedua temannya yang penakut lebih dulu mundur di belakang punggungnya. Seorang pemuda berantakan dengan luka di pipinya kemudian maju mendekati ketiganya. Membiarkan temannya sibuk di belakang mengurusi kayu-kayu bekas. Entah apa yang mereka lakukan dengan kayu itu, yang jelas wajah mereka sudah sangat tidak bersahabat.
"Kurasa kau punya uang," tutur pemuda itu sambil mengunyah permen karetnya. Mata kucingnya mendekat pada pemuda yang mematung memunggungi temannya. Mencoba menyembunyikan ponsel mahalnya sebelum pria tengil itu merebutnya.
Tapi dengan cekatan pria berantakan itu sudah merampas ponselnya. Menatap layar ponselnya yang masih menyala dengan permaianan game yang masih utuh. "Ponselmu baru?"
"Kembalikan," pinta pemuda itu dengan tangannya. Wajahnya masih tenang, ia bahkan tidak takut dengan jumlah mereka yang tidak sepadan dengannya.
"Kusarankan kau pulang," ejek pemuda bersurai coklat yang berdiri di dekat tong sampah.
Si pemuda berpakaian rapi menghela nafasnya. Sedangkan kedua temannya sudah ingin mengompol di celana karena ketakutan. "Kakakku bilang aku harus berhemat. Kalau kalian mengambil ponselku juga, maka aku tidak akan punya uang untuk membeli gantinya."
Pemuda yang mengambil ponselnya kini membuang permen karetnya. Tak lupa meludah di depan wajahnya dengan tidak sopan. "Ya, Kim Jaemin. Kau terlalu banyak bicara."
"Kembalikan ponselku," pinta pemuda itu lagi. Namun semua pemuda dengan kayunya mulai mendekatinya. Memukul drum-drum kosong dengan potongan kayu dan beberapa sudah menggertakkan giginya. Teman-temannya sudah ingin berlari sekarang juga, tapi pemuda bersurai hitam itu masih bergeming dengan posisinya.
"Kalau kau mau ponselmu kembali, bayar dengan uangmu." Salah satu dari mereka kini menodong lehernya dengan kayu. Terkekeh panjang menyaksikan wajahnya yang sedatar aspal.
"Aku sudah bilang, aku harus berhemat─"
Buakkk
Sebuah pukulan mendarat di bahunya. Itu sakit sekali sampai ia meringis memegangi bahunya. Pemuda yang lebih tinggi darinya itu kemudian tertawa geli menatapnya. Memandang lemah dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan. Tapi sebelum pukulan kedua melayang, kini seorang pria berpakaian serba hitam muncul dari belakang. Menendang pria yang memukulnya itu sampai terjerembab ke aspal.
Kawanannya kemudian menatap pria itu garang. Mulai menyerangnya dengan pukulan kayu. Namun sepintar-pintarnya pemuda itu melompat padanya, pria itu malah kebih handal menangkisnya. Ia mulai meninju, menendang lalu memukul pemuda-pemuda tengil itu dengan tangan kosong. Membuat mereka bertekuk lutut lalu buru-buru pergi dari hadapannya.
Pria berdimple itu kemudian menjuput ponselnya. Membersihkan layarnya yang tergores dengan aspal, lalu dengan baik hati mengembalikan benda itu padanya. Kedua temannya hanya bertepuk tangan. Segera membungkuk untuk berterima kasih, tapi lain hal dengannya.
"Kau Kim Jaemin, benar?" tanya pria itu tersenyum membenarkan jaketnya.
Pemuda bersurai hitam legam itu mengangguk kosong. Mengantongi ponselnya sambil menyelidiki pria yang baru saja menjadi pahlawannya hari ini. "Dimana kau belajar semua itu?"
Konyol memang. Pria itu kini malah tertawa saking lucunya. "Aku Yixing. Senang bertemu denganmu. Seseorang di mobilku ingin berbicara denganmu."
Kedua temannya melongo menatap satu sama lain. Sedangkan pemuda bernama Jaemin itu malah semakin menyernyit tak mengerti. Lagipula mana ada orang asing yang tiba-tiba ingin berbicara dengannya. Terlebih seseorang itu terlalu berkelas sampai ia berpikir keras bagaimana orang-orang ini mengenalnya. "Apa aku mengenal kalian?"
"Hei berbicaralah yang sopan, dia baru saja menyelamatkan kita," senggol pemuda bertag name Jisung itu menyenggol bahunya. Senyum bodoh anak itu kemudian membuatnya berkedip dan berpikir bahwa 'itu benar'. Seharusnya ia berprilaku baik pada orang yang sudah menolongnya.
"Aku berjanji bahwa kami bukan orang jahat," tutur Yixing tersenyum manis. Pria itu kemudian merogoh sakunya. Mengambil potongan kertas kecil dari dompetnya, lalu menyerahkannya dengan cuma-cuma pada pemuda kecil itu. "Kau bisa mengambil kartu namaku."
Jaemin mengambil potongan kartu itu. Memeriksanya kembali dengan membaca setiap kata yang tertera disana. Zhang Yixing. General Manager, Wu Dragon Corporation.
Jaemin kemudian menatap kedua temannya bergantian. Jisung lantas menepuk bahunya. Pemuda itu kemudian meninggalkannya dengan menggandeng tangan Chenle. Tak butuh waktu lama sampai kedua temannya itu menjauh dari pandangannya. Menyisakannya yang terus menatap mobil hitam di persimpangan jalan, tidak bergerak atau menandakan ada seseorang di dalamnya.
"Baiklah," jawabnya kemudian.
e)(o
Sehun terduduk di depan televisi yang menyala dengan suara bisu. Tenggelam dalam sofa, sambil menatap manis laptop silvernya di meja. Luhan dengan wajah tertekuk duduk di lantai dengan berpangku tangan di seberang meja. Sedangkan tangan satunya sibuk mengganti chanel televisi yang sama sekali tidak bersuara sampai ia bosan sendiri. Sesekali ia melirik botol wine yang masih bertengger pada meja di dekat jendela. Kemudian mencuri tatap pada Sehun yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Dengan langkah pelan, ia mendekati botol yang menganggur itu. Mengangkat botolnya diam-diam lalu menggoyang isinya dengan tatapan ingin tahu. Luhan menerawang seberapa merah isi botol itu pada cahaya lampu. Ia kemudian teringat dengan perkataan Minseok perihal, wine yang berwarna merah dan disimpan dalam waktu yang lama akan sangat memabukkan─
"─tapi juga akan memiliki rasa yang luar biasa," bisik Luhan dengan dirinya sendiri. Ia menelan ludahnya sendiri. Ia bisa membayangkan bagaimana cairan merah itu melewati kerongkongannya yang kering. Luhan mungkin pernah mencicipi minuman itu sekali, dan ajaibnya ia langsung bisa menyukai rasanya saat pertama kali.
"Letakkan botol itu," tutur Sehun yang entah sejak kapan sudah mengetahui ketiadaannya. Luhan hanya bisa tersenyum kaku menyaksikan Sehun yang masih berkutat dengan laptopnya. Tidak berminat meliriknya sama sekali.
"Aku bosan, boleh aku─"
"Tidak," potong Sehun cepat seakan tahu maksud dari pria itu.
Luhan mencebik. Ia pun segera meletakkan botol itu kembali ke tempatnya. Melihat pria pucat itu kembali tidak bersuara, membuatnya semakin bosan karena tidak memiliki sesuatu yang ia kerjakan. Tangannya yang bebas kemudian memainkan korden panjang di jendela. Melilitkannya ke tubuhnya sendiri sambil bersiul santai.
Tak kunjung menemukan pekerjaan, Luhan akhirnya menggambar sesuatu di kaca jendela dengan uap dari tiupan mulutnya. Setelahnya ia menempelkan wajahnya disana, mencuri hawa dingin kaca itu dengan pipinya yang semakin berisi. "Katanya kau ingin membicarakan sesuatu."
Sehun sama sekali tidak bergerak. matanya benar-benar menacap pada layar mesin itu seperti seorang psikopat yang gila kerja. "Tunggu sebentar," jawabnya terlalu singkat.
Luhan mengembungkan pipinya. Bola matanya bergerak ke segala arah. Seakan mencari cacat atau retakan tembok yang tidak benar-benar berarti. "Boleh aku menonton Disney dengan sedikit suara?"
"Jangan menggangguku," jawabnya lagi.
"Boleh aku─"
"Bisakah kau diam?" potong Sehun yang akhirnya menatapnya tajam. Dan Luhan pun tahu jika pria itu mulai kesal karena diganggu.
"beli pizza?" sambung Luhan melanjutkan kata-katanya dengan nada berbisik. Ia jadi kikuk sendiri. Tapi entah bagaimana ia kadang bisa menciut menatap pria itu jika dalam mood yang buruk.
Sedetik setelahnya pria itu kembali mengabaikannya. Membuat Luhan mengisi kebosanannya dengan berkeliling kamar hotelnya sendiri, kecuali memasuki kamar Sehun yang terpagar dengan kekuatan sihir. Sebut saja kamar itu dilindungi dengan prajurit berkepala singa. Memegang pedang di masing-masing tangan. Dimana jika ia hendak masuk, ia harus bertarung dengan kekuatan sihir seperti di dunia game. Luhan pun terkikik sendiri membayangkan dirinya beradu pedang dalam imajinasinya.
"Sehun," panggil Luhan begitu iseng berlari-lari di hadapannya. Ia baru saja mendapatkan ide dengan mainan yang ditemukannya di dalam laci.
Sehun tidak menjawab. Pria itu terlalu serius sampai-sampai harus berpura-pura untuk tidak mendengarkannya. Tapi Luhan kepalang bosan. Ia harus menuntaskan kebosanannya sendiri karena ia tak kunjung mengantuk.
"Sehun?" Luhan melambaikan tangannya di depan Sehun. Melompat seperti kelinci, bahkan menari seperti orang yang tidak tahu malu di depannya. Tapi Sehun sama sekali tidak menaruh atensinya di tempat lain. Tidak melihatnya, seakan menganggap kehadirannya adalah sebuah pengecualian. "Hei, Oh Sehun," panggilnya lagi.
Sehun berdecih. "Jangan menggangguku."
Luhan mengangkat sekotak mainan yang ditemukannya. Pria rusa itu sampai berjongkok di depan bosnya. Sangat berusaha memecah fokusnya. "Ayo kita main jenga."
Sehun masih terdiam di tempatnya. Tidak ingin melihat sikap Luhan yang sudah sangat mirip dengan bocah TK. Dan Luhan hendaknya harus tahu kalau ia tidak pernah suka dengan anak-anak.
"Oh Sehun, Oh Sehun, Oh Sehun, Oh Sehun~" Luhan mulai menciptakan sebuah lagu dengan nama bosnya. Ia bertepuk tangan seperti anak balita, juga tidak lupa tersenyum kelebihan lebar sampai Sehun khawatir mulutnya akan berubah seperti Joker. Faktanya, Luhan kini sudah terdengar sangat merepotkan bagi Sehun.
Luhan berhenti bersenandung ketika Sehun mulai menggeser laptopnya. "Oke, oke. Aku akan berhenti melakukannya."
Sehun menghela nafas panjangnya. Ia bahkan mengusap wajahnya beberapa kali karena konsentrasinya yang pecah. Padahal ia harus mengumpulkan banyak informasi untuk kepentingan proyeknya. "Apa kau sebosan itu sampai harus membuatku kesal?"
"Aku ingin berkeliling." Luhan merajuk dangkal. Ia memainkan kotak jenga yang dibawanya sambil mengedipkan mata rusanya. Pria itu bahkan membuka tutup bungkusnya seperti anak kecil yang tidak punya kerjaan.
Sehun memutar matanya malas. Andai kata Luhan adalah sebuah patung ukir, ia mungkin sudah melelang pria itu dengan harga perusahaan. "Kau tidak bisa lakukan itu."
"Ayolah, aku bukan anak-anak," lirihnya memeluk kotak jenga. Sangat tidak cocok untuk mengatakan kalimat yang baru saja ia sematkan.
Sehun menyugar surainya. Entah mengapa dengan melihat sikap Luhan yang begitu menyebalkan ini membuat hati Sehun tiba-tiba melunak bagai bubur. "Kau bisa pulang ke rumahmu selama dua hari sebagai gantinya."
Mata luhan berubah berbinar-binar. Hatinya sudah tak kalah meletup bagai popcorn yang mengembang. Luhan pun tidak sadar jika dirinya kini sudah tersenyum kembali dengan sederet gigi putihnya. Ia tentu sangat merindukan ibunya, ini adalah hal yang paling ia tunggu dalam hidup. "Sungguh?"
Sehun kembali mengambil laptopnya. Pikirnya tidak akan masalah membiarkan Luhan berlibur sejenak dari tugas-tugasnya. "Jangan membuatku berubah pikiran."
"Aku suka kau yang baik seperti ini," gumam Luhan tanpa sadar. Hal itu membuat Sehun melirik padanya. Menghentikan ketikannya ketika ia kembali merasakan desir aneh di dalam rongga dadanya. Entah mengapa dadanya kembali bergetar mendengar kalimat itu. Padahal ia tidak bodoh untuk mengartikan maksudnya.
Sehun berdehem memecah atensi Luhan yang terus saja menatap wajahnya lucu. "Mari kita bicarakan rencana kita." Luhan dengan senang hati berubah menjadi pendengar yang baik. Ia mengangguk dengan baik seperti bocah yang disogok dengan sebungkus permen. Tapi setelah Sehun melanjutkan kalimatnya, "Menikahlah dengannya kemudian hancurkan pernikahannya."
Luhan menaikkan salah satu alisnya. "Aku tidak benar-benar paham jalan berpikirmu."
Sehun menekan tombol enternya keras-keras. Ia tentu tidak suka menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar. "Ini hanya sampai proyekku selesai."
"Memangnya kapan proyekmu selesai?" Sehun terdiam. Pria itu kembali berkutat dengan laptopnya. Membuat Luhan kembali mengganggunya tanpa perasaan peka. "Aku tidak suka sistem perusahaan. Waktu tunggu kalian selalu berbeda dengan dunia nyata. Bagaimana jika aku ketahuan?"
"Aku akan membantumu," jawabnya seenteng kertas yang baru saja digenggamnya. Entah bagaimana Sehun bisa sesantai ini menghadapi dunia. Pria pucat itu bahkan terlalu tenang seakan tidak punya beban. "Kita akan bicarakan ini dengan Baekhyun untuk masalah detailnya."
"Aku benar-benar menyukaimu," ucap Luhan menggeleng. Ia bahkan masih tidak percaya mengapa masih ada manusia seperti Sehun. Yang hidupnya seperti masa bodoh dengan masa depan, karena ia bebas melakukan apapun dengan kekuasaannya. Ya, cukup bisa dibilang beruntung karena Sehun punya segalanya. "Ayo kita lakukan sesuatu."
Sehun menyernyit menghentikan segala aktifitasnya. Ia lantas mulai bertanya-tanya kemana jalan berpikir Luhan malam ini. Apakah seperti ini sifat alaminya?
"Ayo lakukan sebuah permainan sebelum kita tidur." Luhan kemudian merampas laptopnya. Menyunggingkan senyum bodohnya pada Sehun yang menatapnya dengan pikiran penuh.
e)(o
Malam semakin sunyi. Korden jendela pun mulai bertiup pelan ketika aroma laut memasuki kamar mereka. Luhan masih duduk di depan Sehun dengan tangan memegangi gelas tinggi yang tidak diisi. Sedangkan Sehun masih bertarung dengan kekuatan tangannya untuk menyingkirkan salah satu potongan jenga yang dindingnya sudah mulai rapuh.
Luhan kemudian bersorak karena jenga itu akhirnya roboh. Wajah kesal Sehun lalu terpampang jelas di mata rusanya. Memberi efek geli pada kesadaran Luhan yang masih terjaga dengan sangat baik. "Yay, kemenangan ketigaku!" sorak Luhan mengangkat tangannya. Ia begitu senang karena akan menerima sebotol wine.
Sehun melempar potongan jenga yang tadinya berada dalam genggaman. Tak lupa mengutuki kayu tak berdosa itu dengan sangat lucu. "Aku mau berhenti main."
Luhan berubah merengut tak suka. "Tidak bisa. Kita sudah sepakat untuk menyelesaikan empat ronde."
Sehun merampas botol wine itu dari meja. "Aku tidak perduli."
"Kau curang," marah Luhan meletakkan gelasnya. Pria itu menggeser posisinya lebih dekat pada Sehun yang mulai bergerak mundur. "Mendapatkan botolnya adalah perjanjian ronde terakhir."
Sehun mengangkat botol itu tinggi-tinggi. Mencegah Luhan meraih botol itu dengan mudah karena ia tidak bisa berdiri dengan segera karena kondisi kakinya. "Kau tidak boleh mabuk. Aku tidak mau menjadi korban mabukmu lagi."
"Aku tidak akan mabuk," tandas Luhan bersih keras. Walaupun sebenarnya ia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya kalau ia terus-terusan menginginkan minuman itu.
"Tidak!" tolak Sehun bersih keras.
"Berikan padaku!"
"Tidak akan!"
Luhan tanpa sadar sudah mendekat pada Sehun. Hampir menabrak Sehun kalau saja tangannya tidak segera turun karena sibuk menggapai botol itu. "Kau mau melawanku?"
Sehun semakin tinggi membawa botol itu. Begitupun Luhan yang semakin memburunya. Tersulut mundur, ia semakin mundur hingga punggungnya menabrak ujung nakas. "Akhh!"
Rintihan itu membuat Luhan menatap wajah pucat itu. Ia segera mendudukkan dirinya dengan benar dan berhenti mendorong bahu Sehun. "M-maafkan aku, apa punggungmu sakit?" Luhan mengintip ke belakang punggung bosnya setelah pria itu menjauh dari nakas. Sibuk menggapai punggungnya meski tidak akan pernah sampai. "Astaga, lukamu berdarah. Kau harus mengganti perbanmu."
Sehun menyingkirkan lengan Luhan yang mulai memeganginya. Tapi belum sedetik dia lepas, pria itu kembali menangkapnya. Menyeretnya ke dalam kamarnya yang begitu luas sampai harus terpincang-pincang. "Ya, apa yang akan kau lakukan?!"
Luhan mendorongnya. Membuat tubuh Sehun terduduk tak berdaya di tepi ranjangnya. "Diam dan jangan banyak bicara," ancamnya cukup serius. Pria itu lalu tanpa aba-aba sudah menarik tiap kancing kemeja di tubuh Sehun. Membuat si bos panik menghentikannya sebelum seluruh kancing kemejanya benar-benar terlepas.
"Hei, kau tidak bisa melakukan─akhhh!" Sehun kembali merintih sakit. Mengambil kesempatan itu, Luhan kemudian menarik kemeja Sehun dengan tidak berperasaan. Membuat sebuah tekanan mengerikan pada lukanya, yang kemudian menciptakan sensasi sakit yang menusuk tiap ujung syarafnya.
"Kau terlalu banyak bicara," komentar Luhan yang kembali merebut kemejanya yang sudah setengah terbuka.
"Aku bisa melakukannya sendiri." Sehun tetap menolak untuk disentuh. Alhasil Luhan membiarkan Sehun membuka kemejanya sendiri. Sementara ia pergi berkelana ke kamarnya, membongkar isi kopernya yang seingatnya ia memang membawa kotak obat-obatan.
"Aku tidak suka melihat orang sakit. Ibuku bahkan harus dioperasi karena menahan sakit selama bertahun-tahun." Luhan kembali dengan kotak putih besar di tangannya. Dengan kesadarannya, ia menatap punggung Sehun yang sudah terlihat menyedihkan. Penuh luka dan juga kembali mengeluarkan darah. "Kau seharusnya tidak berada disini."
"Aku tidak punya waktu untuk itu," gumam Sehun menunduk memainkan kemeja tipisnya. Sementara Luhan sudah duduk di belakangnya dan mulai mencoba membuka perban di punggungnya.
"Kau bodoh sekali," omelnya. "Kau harusnya memukul wajahnya sampai jelek."
"Sudah ku pukul," jawab Sehun menahan ngilu saat kapas yang menempel pada lukanya itu ditarik perlahan-lahan.
"Tapi kau tetap kalah. Lihat apa yang Kris lakukan sampai punggungmu seperti ini." Luhan kemudian membuka tutup obat yang ia butuhkan lalu membubuhkannya pada kapas yang baru ia buka kemasannya. Ia menyampingkan perasaan ngerinya ketika menempelkan kapas itu pada luka bosnya. Membuang jauh-jauh pikiran tentang betapa sakitnya mendapatkan luka sebanyak itu dan juga lebam di sekitar tubuhnya yang lain.
"Kau pernah dengar kisah hantu?" mulai Luhan ingin memecah keheningan. Karena bagaimanapun ia gugup sendiri melihat punggung rapuh itu. "Hantu laut sering masuk ke hotel tepi pantai untuk mencari sesuatu."
Sehun terkekeh. "Aku tidak percaya hantu."
Luhan memutar matanya jengah. Ia baru saja merekatkan salah satu perekat pada kapas yang ditempelkannya. "Mereka ada, okay. Jika kau mulai merinding dan merasakan dingin di kakimu, itu tandanya mereka datang."
"Omong kosong macam apa itu?"
Luhan menahan tawanya diam-diam. Ia tentu saja ingin mengerjai Sehun malam ini. Paling tidak dia mengetahui kebenaran tentang cerita Jongin beberapa waktu lalu. Lumayan untuk mengisi kebosanannya bukan? "Kau akan menemukannya suatu hari nanti. Dan berhati-hatilah dengan dinding penuh jendela seperti kamarmu ini. Mungkin mereka akan mengetuk jendela dan menerobos masuk saat kau tidur."
Sehun hendak berbalik menemukan lelucon yang Luhan buat. Tapi lebih dulu tangan Luhan sudah melingkar padanya. Menyusupkan gulungan perban untuk menutup semua lukanya. "Ceritamu konyol sekali."
Luhan tersenyum licik. "Berbaliklah, wajahmu juga harus diobati."
Sehun membalikkan tubuhnya. Kedua matanya kemudian mendapati Luhan yang mengubrak-abrik kotak obatnya. Pria itu sibuk mengambil sebatang cotton bud dan mengolesinya dengan cairan bening yang sudah ditetesinya. Lalu akhirnya ia terkejut setengah mati mendapati Sehun yang sudah berada di hadapannya. Menatapnya tanpa mengerti sesuatu yang dikerjakannya, terlebih dengan kondisi yang sedikit─half naked?
"Ya Tuhan, pakai bajumu!" protes Luhan membuang wajahnya. Ia tiba-tiba saja merasakan jantungnya ingin segera melompat dari dadanya. Darahnya pun ikut memacu adrenalin seakan ia naik ribuan mil dari permukaan laut.
"Kau tidak mengatakan bahwa aku harus memakai pakaianku," komentar Sehun yang masa bodoh. Ia lantas meraih kemejanya. Memasangnya dengan perlahan sampai Luhan bosan menunggunya selesai.
Setelah selesai, Luhan kemudian mendekati wajah pucat bosnya. Mengolesi luka setengah kering itu dengan amat sangat berhati-hati. Namun walaupun begitu, Sehun masih bisa meringis ketika obat itu terserap oleh kulitnya.
Sehun bisa merasakan hembusan nafas orang di depannya ini pada kulit wajahnya. Memberinya sensasi aneh pada tiap ujung inderanya yang entah bagaimana semakin berfungsi dengan baik. Malamnya yang sepi membuatnya mendengar detakan jantungnya sendiri. Mengobrak-abrik tulang rusuknya seakan ingin bebas.
Mendadak tenggorokan Sehun kering saat harus menatap sepasang mata yang membayangi wajahnya. Ia berulang kali melempar pandangannya pada semua hal yang mungkin dilihatnya. Lampu tidur, dinding, lantai atau pintu yang masih menganga di belakang Luhan. Tapi itu semua tidaklah membantunya untuk beralih pada wajah sibuk di depannya ini. Ia lantas menyerah. Tidak menolak ketika menatap kedipan halus dari mata sayu itu. Mengabsen tiap lekuk wajahnya, hidung mungilnya, lalu bibir yang setengah terbuka atau kulit sehalus cahaya rembulan itu.
Sial! Sehun mengeratkan genggaman tangannya lalu mengutuki dirinya sendiri. Degupan di dadanya sudah semakin menggila. Jantungnya kian berubah menjadi tidak tahu diri, padahal pemiliknya tidak mau jantungnya berdetak dengan tidak normal.
"Ini aneh," Sehun menggumam tanpa sadar. Membuat sepasang manik hitam jelaga itu berpendar padanya. Begitu lembut sorot itu, bahkan ketika ia bisa melihat bayangannya sendiri disana.
Luhan menghentikan aktifitasnya. Ajaibnya ia kembali mendapati degupan aneh di dadanya ketika tatapan itu memaku seluruh atensinya. Tangannya kaku, otaknya pun ikut berhenti merotasikan banyak pikiran yang sejak tadi ia pikirkan. Ia selebihnya membeku pada seseorang yang hanya berjarak lima senti dari wajahnya itu. "M-maksudmu, kakimu mendingin?"
Sehun terdiam. Tenggelam dalam lautan kekosongannya. Kaki dalam pikirannya mulai berlari mencari jalan keluar. Mencari-cari pintu yang mungkin saja ada di suatu tempat. Kedua matanya masih tidak berkedip. Dan ia begitu tidak mengerti, apakah mereka ingin mengatakan sesuatu atau memang sudah kehilangan fungsi.
Luhan mengedipkan matanya. Bulu matanya yang panjang menyentuh satu sama lain, begitu pelan dan juga sehalus sayap kupu-kupu. "Atau kau mulai merinding?"
Sehun masih membeku. Masih berbicara dengan jantungnya yang berteriak minta dibebaskan. Pria pucat itu kini menggerakkan tangannya. Hendak meraih wajah itu, tapi lebih dulu sengatan listrik yang hebat menyerang tiap ujung syarafnya.
Luhan tak berkedip ketika merasakan tangan itu mulai mendekatinya. Ia masih belum bergerak sedikitpun. Kakinya mendingin, bulu tengkuknya meremang. Entah hantu laut yang ia ceritakan itu apakah benar-benar ada atau semua ini terjadi karena ia mengantuk, tapi satu hal yang Luhan sadari adalah, ini semua membuatnya semakin menggilai pahatan wajah di depannya.
Sepasang mata yang teduh, hidung yang terpahat sempurna, alis yang tebal, semua itu tak luput dari pemujaannya. Bagi Luhan, Sehun sebenarnya adalah sosok yang luar biasa menawan. Memabukkan tiap hati orang yang melihatnya, dan juga mungkin termasuk dirinya. Ia kemudian tanpa sengaja mengingat dengan benar bagaimana pria itu menciumnya. Membuat pipinya memanas sampai menjalar ke telinganya sendiri.
Refleks tangan Luhan bergerak mengenai luka yang paling besar di wajah indah itu.
"Akh," Sehun mengerang membunuh habis seluruh sisi lamunannya. Membuat Luhan menjauh lalu melongo tidak berdosa.
"M-maaf," ucap Luhan gugup luar biasa. "A-aku tidak bisa melakukannya dengan benar." Luhan buru-buru menyerahkan cotton bud yang dipegangnya kepada Sehun. "Ini, lakukan sendiri. Berhati-hatilah dengan hantu laut."
Sehun kemudian hanya bisa berkedip menerima benda kecil itu. Sebelum Luhan sibuk mengontrol dadanya yang tengah berlari maraton, Luhan segera berlari keluar dan menutup pintu kamar itu dengan rapat.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Baik, ini double update lagi. Kuotaku lagi minim, jaga-jaga minggu depan gak punya duit, makanya tak update sekalian haha
Semoga kalian suka dan pertayaan kalian bisa terjawab di dua chap ini.
Gimana, pertanyaan kalian sudah terjawab? Kalau belum, sabar lagi ya?
Makasih banget buat yang masih betah disini. Kuharap kalian tidak bosan.
Seperti biasa, review atau saran masih bisa ditampung disini (selama kolom reviewnya masih berfungsi dan tidak menghilang).
Sampai jumpa lagi minggu depan! ^^
