"Ok Jay, try to control it." Saat ini Mark, Jaehyun dan Jeno sedang di dalam kelas ramuan. Dan mereka bertiga yang duduk di barisan paling belakang sedang mempersiapakan Jaehyun untuk ujian nanti sore.

Lust maker milik Jaehyun itu termasuk kekuatan pasif yang cukup kuat. Maka dari itu kekuatannya hanya bisa di kontrol oleh Jaehyun sendiri bukan di tahan oleh Mark atau apapun.

Sebenarnya ada beberapa orang yang bisa. Jeno misalnya. Namja dengan rambut biru dengan aksen putih di beberapa bagian itu bisa menahan bahkan mengacaukan kekuatan Jaehyun.

Jeno adalah Mind hancker. Ia bisa membaca bahkan memanipulasi apa yang ada di pikiran lawannya karena kekuatan pasif hanya bisa di lawan oleh kekutan pasif lainnya.

Dan satu orang lagi, tapi ia ada di tingkat tujuh. Berdiri satu angkatan dengan Taeyong sunbae incaran pria berlesung pipit dan warna kulit hampir menyerupai kaum Sehun Saem, yakni kaum Vampire. Yaitu, Jeonghan Sunbaenim. Namja cantik kekasih Seungchol Sunbaenim. Deputy asrama Mïsc yang paling di cintai para adik-adiknya itu juga memiliki kekuatan pasif. Missdirection. Senior cantik itu bisa membuat seseorang melihat apa yang dia mau. Termasuk membutakan siapapun lawannya.

Dan hanya dua kekuatan itulah yang bisa menahan Lust feel yang menikam LustMaker yang sedang jatuh cinta. Sebenarnya tidak jahat, hanya saja efeknya akan sangat berbahaya jika itu terjadi saat keadaan genting.

Jaehyun memejamkan matanya menarik nafasnya dalam-dalam. Sebenarnya ia sudah bisa bahkan sangat ahli dalam mengontrol kekuatanya. Tapi itu dalam mode Lust attack bukan Lust feel. Dua hal berbeda namun ada dalam dirinya.

Lust feel itu akan di rasakan Jaehyun pada orang yang akan menjadi takdirnya. Seperti ia akan merasakan panas yang sangat dan akan sangat menderita jika ia tidak di sentuh bahkan di puaskan, mereka harus mendapatkan pelampiasan secepat mungkin karena mereka bisa saja "menyerang" orang lain bahkan binatang terdekat. Itu riwayat yang di bilang ibunya pada jaehyun ketika pertama kali masuk ke Corvin Academy.

Mata Jaehyun terbuka, dalam sekejap warna coklat gelap pada matanya berubah menjadi hijau zamrud dengan kilau yang indah, namun efeknya tidak bisa di bilang indah. Suasana di sana berubah menjadi tegang bukan hanya melanda mereka bertiga tapi seluruh penghuni kelas. Ada beberapa yang menggeliat tak nyaman karena aura yang seketika berubah di ruang kelas. Bahkan Im Seongsaeng yang sedang menjelaskan bagaiman cara membuat ramuan pelebur mengalihkan perhatiannya. Mark dan Jeno akui pengaruh kekuatan pasif tidak penah boleh di remehkan, termasuk keuatan Jaehyun.

"Siapapun kalian di belakang sana, tolong bawa keluar temanmu sebelum ia mengacaukan kelasku dengan sesuatu yang tidak diinginkan... dan datang ke kantorku sejam sebelum kalian berkumpul di aula besar. Mengerti?" Siapapun tahu profesor Corvin yang di juluki peri hutan itu akan sangat mengerikaan saat terganggu.

"Baik Ssaem." Mark dan Jeno beringsut menarik Jaehyun keluar dari kelas.

Jaehyun?

Anak itu bahkan seperti tidak menyadari apapun sampai mereka tiba di toilet. Jeno melirik Mark dan memberi mengangguk sebagai isyarat satu sama lain dan mereka memukul punggung Jaehyun cukup keras. Jaehyun tersedak sebentar.

"Bagaiman? Apa aku berhasil menagkalnya?" Jaehyun melirik kedua shabatnya.

"Kau bahakan terlihat seperti orang sekarat Jae..." Jeno menggeleng dengan tampang priharin.

"And..." ketiganya melirik sesuatu di bawah sana yang membuat celana sekolah mereka menggembung.

"Shit Jae. You're the one who responsible for this." Mark masuk ke salah satu bilik kamar mandi.

"Kau berhutang padaku Jung sialan." Jeno mengikuti Mark dengan sama menggerutunya.

"Nikmati saja kawan, kapan lagi kalian bisa merasakan kekuatanku di luar arena?" Jaehyun masuk ke bilik kamar mandi yang bersebelahan dengan kedua temannya.

"Oh shut uphhh." "Fuck you Jaehhh." Jaehyun hanya cekikikan dengan membayangkan Taeyoung sunbaenya.

Tinggalkan mereka menyelesaikan urusannya. Ok!

"Dude, aku tidak tahu harus berterima kasih atau mengumpatimu tentang hal ini." Johnny menunjukan flying mailnya pada Taeil yang masih sibuk dengan buku ramalan. "Aku lebih memilih untuk tidak di selamatkan tahun lalu jika begini hasilnya."

"Sudahlah John, tingkahmu hampir sama dengan Doyoung." Johnny melirik sahabatnya, tuan muda Seo itu mengangkat sebelah alisnya.

"Kau ingin aku mentertawakanmu atau melemparimu Moon. Akhir-akhir ini kau semakin sering menyebut nama Dyrant langsing itu setahuku."

"Dyrant?"

"Ya, kekasihmu itu adalah seorang Dyrant. Atau lebih tepatnya pangeran dari bangsa Dyrant."

"Tapi, bukankah kaum Dyrant dilarang memasuki wilayah academy?"

"Itu untuk Dyrant murni, sedangkan milikmu itu darah campuran."

"Milikku heh?" Taeil menyeringai remeh, matanya menatap kosong buku di tangannya. "Aku bahkan tidak berani menatapnya sejak saat itu." Taeil menerawang jauh, yang ia pikirkan bukanlah perkara Doyoung adalah seorang Dyrant karena hampir semua mutan di Corvin Academy di sembunyikan identitas aslinya. Yang menghantui kepalanya saat ini adalah apa ia masih bisa menjadikan Doyoung miliknya walau hanya sesaat. Taeil rasa itu mustahil.

"Maybe this exam will be the chance. Aku bahkan sudah setengah jalan untuk mendapatkan milikku."

"Milikmu?"Taeil mengalihkan atensinya pada Johnnya dengan dahi berkerut. Johnny bersiul saat Hansol dengan sangat kebetulan melewati mereka ia berdiri lalu menghampiri Hansol di sebrang meja.

"Ada yang bisa kubantu manis?" Hansol menatap datar.

"Menjauh dariku!" Hansol menatap risih Johnny yang masih cengengesan.

"Ayolah sayang, kau tidak bicara denganku sejak zoology."

"Aku bukan kekasihmu. Dan berhenti memanggilku seperti itu atau aku akan memanggil Ten dan menggubahmu menjadi serbuk kayu."

"Dan aku akan menyeret Yuta untuk mengacaukan rencanamu." Hansol merapatkan rahangnya wajahnya memerah karna menahan diri untuk tidak mengayunkan tongkat sihirnya pada Johnny. Well, mereka adalah penghuni Sanctus yang bukan hanya pintar, tapi juga licik.

"Aku tidak punya banyak waktu untuk menanggapi—"

Johnny mengecup pipinya tersenyum kala mendapati si manis membeku seperti sedang melihat dementor. Lalu pergi menarik Taeil dengan paksa keluar dari perpustakaan.

Hansol menyentuh dadanya yang berpacu.

"Sial!"

"Kenapa aku mau jadi sahabat kalian ya?" Jeno memasukkan tangan kanannya ke saku celana berjalan beriringan dengan kedua sahabat pembuat onarnya.

"Kau belum saja bertemu orang yang harus kau kejar atau kau hindari Jeno-ya." Mereka baru saja selesai dari menghadap pada Im dan Oh Seongsaeng. Mujurnya guru Im hanya mengurangi point mereka sekalipun itu 50 untuk masing-masing. Tapi pangeran vampire sialan itu memberikan 99 buku sejarah sihir tingkat 6 yang satu bukunya saja sudah sama beratnya dengan sapu terbang untuk di kembalikan ke perpustakaan. Tanpa kekuatan sihir.

"No, He's not." Jaehyun dan Jeno mengikuti arah pandang Mark yang menatap lurus. Di sana ada Jaemin dan Haechan yang sepertinya menuju ke arah mereka.

Jaemin berlari kecil ketika berhasil menemukan orang yang ia cari. Lalu berhenti dan berdiri di hadapaan Jeno.

"Jeno-ssi." Jaemin menantikan respon orang yang ia panggil dengan mata yang berkilauan. Entahlah, mungkin hanya Jeno yang menganggapnya begitu.

Jaehyun menyikut sahabatnya yang berdiri diantara dirinya dan Mark. Well, seorang Mind hacker bisa kehilangan otaknya hanya karena melihat Na Jaemin.

"Eoh nee, ada apa Jaemin-ssi?" Mark ingin menertawakan sahabatnya karena suara yang ia keluarkan sangat aneh seperti baru saja tersedak segenggam biji apel, tapi ia tidak jadi tertawa karena seseorang datang dari arah belakang Jaemin dan menatapnya sinis seperti biasa.

"A-aku ingin mengembalikan ini." Jaemin menyerahkan sebuah buku atau lebih tepatnya kumpulan gulungan perkamen pada Jeno yang masih bertampang blank. Sikut Mark kembali menyenggol perutnya, temannya ini masih aja memasang tampang idiot padahal tangan Jaemin sudah menggantung seperti itu cukup lama.

"Ah, terima Kasih sudah mengembalikannya."

"Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih. Kalau begitu aku permisi." Jaemin menunduk, pipinya memerah dan berlalu pergi dari sana bersama Haechan yang masih menatap sinis Mark yang di balas seringai mengejek dari bocah itu.

"Sepertinya ada yang masih dendam padamu Mark." Mark mengubah seringainya menjadi senyum lebar.

"Dan tetap saja manis."

Mereka memang tiga idiot apalagi dalam urusan cinta. Jeno yang akan kehilangan kekuatannya bahkan mungkin otaknya saat berhadapan dengan Jaemin. Mark yang akan menjadi sangan jahil saat sudah bertarung dengan Haechan entah itu argumen atau bahkan kekuatan. Dan Jaehyun yang akan menjadi orang gila saat tau jika Taeyong yang akan jadi mentor mereka untuk Cröwn exam.

" WHAT!!!"

"Fuck Jung, kau menghancurkan gendang telingaku." Mark mengorek telinga kirinya yang berdenging karena ulah Jaehyun.

"Tae-Taeyoung Sunbaenim?"

"Ya, Taeyoung sunbae, Jonghan Sunbae, dan Yoongi Sunbae yang akan jadi mentor sekaligus pemberi kunci petunjuk tim kita selama 42 jam nanti." Jeno menjelaskan itu tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Mati aku.' Jaehyung mengutuk siapapun yang membuat pembagian ini.

Hello guys.

I'm feel so good to be back.

Aku mau maraton update semua ff ku neeh.

Seneng gak?

Seneng dooong.

Kangen tau, banget malah.

Tinggalkan review kalian yaah. Karena review kalian adalah hal terbesar buat jadi moodboaster acuuu.

Mian untuk segala typo manteman.