CHAPTER 14
Siwon memacu mobilnya kencang-kencang menuju sekolah Kyuhyun. Ia sudah merasa khawatir sejak tadi. Sejak Kyuhyun, adiknya itu, tak juga menjawab panggilan teleponnya. Ia sudah cemas kalau ada sesuatu yang terjadi pada adiknya itu.
Kekhawatirannya menjadi kenyataan saat adiknya itu menyuruhnya menjemput di sekolah. Dari nada suaranya yang terputus-putus, Siwon sudah dapat membayangkan ada sesuatu yang tidak beres dengan Kyuhyun.
Apa adiknya itu terluka? Ataukah adiknya itu sakit di sekolah? Mengapa Kyuhyun tak memintanya menjemput di sekolah sejak tadi kalau memang adiknya itu jatuh sakit. Semoga saja Kyuhyun sanggup menunggunya hingga Siwon sampai di sekolah.
Siwon menurunkan kaca mobilnya saat ia hendak melalui pos jaga yang terletak di dekat pintu gerbang sekolah Kyuhyun. Ia mengatakan apa tujuannya datang ke sekolah malam-malam. Setelah diizinkan masuk ke halaman sekolah oleh petugas jaga itu, Siwon pun melajukan mobilnya ke dalam area sekolah.
Siwon melajukan mobilnya pelan-pelan sambil mencari keberadaan Kyuhyun. Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak menanyakan di mana Kyuhyun akan menunggunya.
Siwon mengedarkan pandangannya sambil melalui jalanan menuju bangunan utama sekolah Kyuhyun. Saat ia melintas di depan lobi, ia melihat sosok yang ia kenal tengah duduk di bangku panjang dan bersandar lemas pada dinding lobi. Kyuhyun terlihat sangat lemah dan memejamkan matanya.
Siwon cepat-cepat menghentikan mobilnya. Ia sampai berlari saat melihat keadaan Kyuhyun yang jauh dari kata baik itu.
"Kyu," panggilnya Siwon lembut.
Siwon berlutut di depan Kyuhyun. Wajah adiknya terlihat sangat pucat dan keringat dingin membasahi rambut dan wajahnya. Tangan Kyuhyun yang digenggamnya pun juga terasa dingin.
Kyuhyun membuka matanya saat kakaknya itu memanggil namanya. Tubuhnya sudah semakin lemah dan perutnya terasa melilit.
"Hyung," jawab Kyuhyun lemah.
Siwon cepat-cepat membalik tubuhnya dan menghadapkan punggungnya ke arah adiknya itu.
"Cepat naik! Hyung akan menggendongmu," perintah Siwon.
"Aku masih bisa berjalan," tolak Kyuhyun.
Kyuhyun berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan melewati Siwon yang masih berjongkok di tempatnya semula.
"Yak, Kyu, tunggu!" ucap Siwon saat melihat adiknya itu sudah mulai melangkah hendak meninggalkan lobi dengan langkah yang tersaruk-saruk.
"Begini kaubilang masih kuat, ck!" gerutu Siwon dengan gemas bercampur cemas.
Siwon cepat-cepat menggamit lengan adiknya itu dan menuntunnya ke tempat mobilnya diparkir. Pelan-pelan Siwon menuntun Kyuhyun menuruni undakan hingga sampai di pelataran.
"Ada apa denganmu sebenarnya? Tadi pagi kau terlihat sehat dan tak nampak sakit. Atau kau sengaja menyembunyikan dari kami semua kalau sejak pagi kau sudah merasa tak enak badan?" cecar Siwon sambil menuntun Kyuhyun.
Kyuhyun tak menjawab pertanyaan Siwon. Ia tak mau menjelaskan apa pun pada hyung-nya itu.
Sesampainya di mobil, Siwon membukakan pintu mobil untuk Kyuhyun dan membantu adiknya itu untuk duduk. Kyuhyun menyamankan dirinya di dalam mobil Siwon. Namun, pendingin dalam mobil membuat badanya yang berkeringat dingin mulai menggigil.
"Kecilkan AC-nya, Hyung!" pinta Kyuhyun pada Siwon yang sudah duduk di belakang kemudi.
Siwon menuruti permintaan adiknya itu. Ia juga melepas jaketnya dan menyelimutkannya pada Kyuhyun. Membuat adik kecilnya itu merasa nyaman dan hangat.
"Sudah tak kedinginan?" tanya Siwon.
Kyuhyun mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Siwon pun mulai menstarter mobilnya dan melajukannya meninggalkan sekolah Kyuhyun.
"Kau kenapa, Kyu?" tanya Siwon lagi pada Kyuhyun di dalam mobilnya yang melaju pelan.
"Aku tak apa-apa," jawab Kyuhyun singkat.
"Kau selalu menjawab 'tak apa-apa', padahal kenyataannya menunjukkan hal yang sebaliknya," ucap Siwon lagi.
Siwon melirik ke arah Kyuhyun yang tengah memejamkan matanya. Ia mendesah kecewa tatkala kyuhyun tak juga membuka mulutnya dan memberi penjelasan padanya.
"Mungkin appa perlu tahu hal ini," kata Siwon akhirnya.
Kyuhyun membuka matanya cepat dan menoleh ke arah Siwon. Matanya menatap sebal pada hyung-nya yang sering dipanggilnya kuda itu.
"Jangan bicara apa pun pada appa!" desis Kyuhyun tajam.
"Kenapa? Apa kau takut appa akan melarangmu ke sekolah sendirian lagi?" kata Siwon.
Kyuhyun menghempaskan punggungnya ke jok mobil Siwon dengan kesal. Namun, ia kembali meringis tatkala punggungnya beradu dengan jok.
"Atau mungkin harabeoji-mu juga perlu tahu tentang hal ini," lanjut Siwon sambil memerhatikan perubahan wajah Kyuhyun dari kaca spion mobilnya.
"Jangan bawa-bawa harabeoji! Ini masalahku. Aku bisa menyelesaikannya sendiri tanpa bantuan siapa pun," teriak Kyuhyun kesal.
"Jadi kau punya masalah? Dengan siapa?" kejar Siwon.
Kyuhyun menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tak mau sampai kelepasan bicara. Kyuhyun tahu bagaimana dan seperti apa hyung-nya itu. Kim Chul Sik bisa berakhir di dasar Sungai Han kalau Siwon sampai tahu.
Kyuhyun menatap keluar jendela mobil. Ia memerhatikan jalanan yang masih ramai. Memerhatikan kendaraan dan orang-orang yang bertebaran di sepanjang jalan.
"Kyu," panggil Siwon lagi.
Kyuhyun bergeming pada panggilan Siwon itu. Ia tahu Siwon sayang padanya. Namun, seringkali Siwon berbuat di luar nalar kalau itu menyangkut tentang dirinya. Siwon kakak yang bisa melakukan apa pun kalau itu menyangkut tentang kebaikan dan keselamatan Kyuhyun.
Kyuhyun masih ingat saat ia duduk di bangku sekolah dasar. Ketika ia sedang bermain ayunan di taman bermain dan seorang anak mendorongnya sampai terjatuh, Siwon yang melihatnya langsung memukul anak itu sampai hidungnya berdarah.
Anak itu masih seumuran dengan Kyuhyun dan mungkin juga ia tak melakukannya dengan sengaja. Namun, Siwon membalasnya tanpa pandang bulu.
Begitu juga saat Kyuhyun duduk di bangku junior high school. Changmin pernah kelepasan bicara di depan Siwon tentang seorang anak yang selalu mengganggu Kyuhyun di sekolah. Kyuhyun tak tahu apa yang dikatakan dan dilakukan Siwon padanya, yang jelas anak itu selalu ketakutan saat melihatnya. Anak itu juga selalu menghindar jika berpapasan dengan Kyuhyun.
Kyuhyun tak mau hal itu terjadi lagi. Kyuhyun bisa saja menceritakan pada Siwon siapa saja yang selalu mengganggunya di sekolah. Siwon tentu tak akan berpikir dua kali untuk membereskan orang-orang yang mengganggunya. Namun, Kyuhyun tak ingin seperti itu. Ia tak mau kakaknya itu melakukan sesuatu yang membahayakan orang lain.
"Kita sudah sampai," ucap Siwon menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya.
Kyuhyun menegakkan tubuhnya dan bersiap turun dari mobil. Ia meringis kesakitan saat bekas pukulan di perutnya membuatnya tak nyaman. Kyuhyun turun dari mobil dan berjalan memasuki rumahnya dengan Siwon yang masih menuntun langkahnya.
Suasana rumah sangat sepi saat Kyuhyun masuk ke dalam rumah. Mungkin appa dan eomma sudah tidur. Ini menguntungkannya. Kyuhyun tak harus memberi penjelasan pada kedua orang tuanya tentang apa yang terjadi, kecuali pada Siwon yang masih mengekorinya hingga ke dalam kamar.
"Kamarmu ada di sebelah kan, Hyung. Aku mau tidur," kata Kyuhyun saat Siwon tak juga keluar dari kamarnya.
"Buka bajumu!" perintah Siwon.
"Apa?"
"Buka bajumu! Kau selalu meringis kesakitan sambil memegangi perutmu. Jadi, buka bajumu! Aku ingin tahu," desak Siwon pada Kyuhyun.
"Aku tidak mau," tolak Kyuhyun.
Kyuhyun tahu mungkin perutnya sudah mulai membiru akibat pukulan Kim Chul Sik. Kalau sampai hyung-nya itu melihatnya, ia tentu akan memaksa Kyuhyun untuk bercerita.
"Buka kataku!" teriak Siwon yang mulai habis kesabarannya.
"Aku tidak mau. Keluar dari kamarku sekarang, Hyung, kalau kau hanya mau mengajakku bertengkar!" teriak Kyuhyun juga.
Siwon sudah kehilangan rasa sabarnya. Ia mendorong tubuh adiknya itu hingga terjatuh di atas tempat tidur. Siwon mencoba menarik kemeja Kyuhyun ke atas untuk melihat apa yang disembunyikan Kuhyun darinya.
"Yak, kuda mesum, apa yang kaulakukan?" teriak Kyuhyun sambil menahan rasa sakitnya.
Kyuhyun berontak. Ia mati-matian memegangi ujung kemejanya supaya Siwon tak melihat perutnya.
"Hyung, hentikan!" serunya lagi.
Sayangnya, Kyuhyun kalah kuat dari Siwon. Belum lagi tenaganya yang terkuras setelah dipukuli Kim Chul Sik. Siwon berhasil menarik kemeja Kyuhyun ke atas sampai melewati dadanya.
Rahang Siwon mengeras ketika melihat apa yang terpampang di depannya. Perut adiknya itu terlihat membiru, bahkan ada bagian yang berwarna keunguan.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Siwon ganas.
Kyuhyun menurunkan kembali pakaiannya yang tersingkap ke atas. Ia bangun dari atas pembaringannya dan berjalan menuju lemarinya untuk mengambil pakaian ganti.
"Cho Kyuhyun, aku bertanya padamu! Siapa yang melakukannya?" kata Siwon dengan suara keras.
"Aku tak mau mengatakannya. Aku tahu apa yang akan kaulakukan kalau aku menceritakannya," jawab kyuhyun tak kalah keras.
""Kau mau menyembunyikannya dariku?" tanya Siwon tak habis pikir dengan kebungkaman adiknya itu.
Kyuhyun tak menjawab pertanyaan Siwon itu. Ia tak perlu mengatakan apa pun yang ingin diketahui Siwon.
"Baiklah kalau kau tetap bungkam. Aku pasti akan tahu bagaimana pun caranya," ucap Siwon.
Siwon berbalik dan keluar dari kamar Kyuhyun. Ia membanting pintu kamar Kyuhyun dan kembali ke kamarnya sendiri.
Kyuhyun membuang napasnya yang terasa berat setelah Siwon berlalu dari kamarnya. Kyuhyun sudah menduga akan seperti ini akhirnya kalau Siwon sampai tahu. Untung saja tak ada yang tahu peristiwa ini selain dirinya. Siwon hanya bisa mengorek keterangan dari mulutnya yang tentu saja akan ia kunci rapat-rapat.
Kyuhyun mengganti baju seragamnya yang lembab karena keringat. Ia menggantinya dengan kaus yang nyaman. Kyuhyun memutuskan tidak membersihkan badannya malam ini. Ia ingin langsung tidur mengistirahatkan badannya yang rasanya sangat penat.
Kyuhyun berjalan pelan menyusuri lorong sekolahnya. Setelah tidur semalaman, ia merasa tubuhnya lebih baik. Perutnya yang memar memang masih terasa nyeri, tapi tak sampai mengganggu aktivitasnya.
Hari ini Siwon masih mendiamkan Kyuhyun. Saat mengantarnya ke sekolah pagi ini pun, Siwon sama sekali tak mengajak Kyuhyun bicara. Siwon juga menurunkan Kyuhyun di tikungan jalan seperti biasanya dan berlalu begitu saja meninggalkan Kyuhyun.
Kyuhyun merasa tak enak hati sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Kyuhyun yakin hyung-nya itu akan mengobrak-abrik seluruh isi sekolah hanya untuk mencari Kim Chul Sik. Siwon bisa menghajar Kim Chul Sik di tempat sampai anak itu tak bisa berdiri lagi kalau sampai kakaknya itu menemukannya.
Shim Changmin sudah duduk manis di tempatnya tatkala Kyuhyun sampai di kelas. Sahabatnya sejak di bangku SMP itu menatapnya dengan mata penuh tanya.
"Ada apa denganmu semalam?" tanya Shim Changmin penuh selidik sejenak setelah Kyuhyun duduk di kursi sebelahnya.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Kyuhyun malah menautkan alisnya heran. Ia tak mengerti apa maksud Shim Changmin dengan pertanyaannya itu.
"Memangnya kenapa?" tanya Kyuhyun balik bertanya.
"Siwon Hyung meneleponku tengah malam tadi. Bayangkan, tengah malam! Ia menanyakan segala hal tentangmu di sekolah. Ia bahkan mengancam akan terus menerorku kalau sampai aku menyembunyikan sesuatu darinya. Memangnya ada apa, Kyu?" tanya Shim Changmin.
Siapa orangnya yang tak kaget. Saat tengah malam, sewaktu Changmin sudah terbang ke alam mimpi, ia dikejutkan dengan bunyi ponselnya yang berbunyi tanpa henti. Siwon, hyung Kyuhyun, menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan. Mulai siapa saja teman Kyuhyun, musuhnya, orang yang tak menyukainya, perbuatan tidak menyenangkan apa yang pernah diterimanya, kejahilan apa yang pernah ia terima, dan masih banyak lagi.
Changmin hanya tahu satu nama yang selalu membuat masalah dengan Kyuhyun, yaitu Han Kaisoo. Meskipun Changmin tahu apa saja yang telah Han Kaisoo lakukan pada Kyuhyun, namun ia tak sembarangan kelepasan bicara pada Siwon. Changmin juga tahu tabiat kakak Kyuhyun yang satu itu.
"Lalu kaubilang apa?" tanya Kyuhyun was-was.
"Aku hanya bilang kalau kau memang punya masalah dengan beberapa orang. Tapi, bukan masalah yang besar dan kau bisa mengatasinya, hanya itu saja. Tapi, Hyung-mu itu malah banyak bertanya tentang Han Kaisoo padaku. Apa kau pernah bercerita tentangnya pada Siwon Hyung?" tanya Changmin.
"Aku memang pernah bercerita. Tapi tak banyak. Itu pun tak ada kaitannya denganku," ucap Kyuhyun.
Nampaknya masalah ini lebih panjang buntutnya daripada yang Kyuhyun kira. Kyuhyun mengumpati dirinya yang menyuruh Siwon menjemputnya di sekolah kemarin malam. Andai saja ia menelepon Paman Han untuk menjemputnya, hal ini tak perlu sampai berlarut-larut.
"Chwang, jangan katakan apa pun pada Siwon Hyung! Bilang saja kau tidak tahu," kata Kyuhyun pada Changmin.
"Aku sudah bilang begitu. Tapi, Siwon Hyung tak percaya. Ia malah mencelaku dan mengatakan teman macam aku ini yang tak tahu apa-apa tentang sahabatnya sendiri," kata Changmin lagi.
Kyuhyun mengalihkan tatapannya keluar jendela kelas dan membuang napasnya dengan berat. Tatapannya nanar memandang ruang terbuka di bawahnya. Kyuhyun nampak berpikir keras. Ia harus mencari cara agar hyung-nya itu tak lagi mendesaknya untuk mencari tahu kejadian semalam.
"Kyu, kunci sepedamu."
Lamunan Kyuhyun terpotong dan ia pun mengalihkan pandangannya ke arah orang yang bicara padanya barusan. Kim Ryeowook mengangsurkan kunci sepeda yang semalam diminta Kyuhyun untuk dibawanya pulang.
"Kaubawa saja sepedaku, Ryeowook. Hari ini aku belum membutuhkannya," jawab Kyuhyun.
Kyuhyun masih belum ingin membawa sepedanya pulang hari ini. Perutnya masih terasa nyeri apalagi kalau ditekuk.
"Oh, apakah kau masih merasa sakit?" tanya Kim Ryeowook lagi.
"Kau sakit?" tanya Changmin menyela percakapan Kyuhyun dan Ryeowook.
"Tadi malam sepulang sekolah ia sakit, Changmin. Kyuhyun bahkan hampir pingsan," jelas Ryeowook pada Changmin tanpa menyadari kalau orang yang mereka bicarakan mulai merengut kesal.
"Haahh, aku tahu sekarang mengapa ada yang sampai meneleponku saat tengah malam. Kenapa kau tiba-tiba sakit? Kemarin sewaktu sekolah bubar kau tampak sehat-sehat saja," kata Shim Changmin.
Kim Ryeowook menatap kedua temannya itu bergantian dengan pandangan tak mengerti. Masalah apa yang mereka bicarakan pun Ryeowook juga tak tahu. Ia hanya tahu semalam Kyuhyun terlihat lemah dan tak berdaya.
"Bukan urusanmu," jawab Kyuhyun.
"Tentu saja itu juga urusanku. Aku tak mau tengah malam nanti hyung-mu menerorku lagi," ujar Changmin.
"Itu tak akan terjadi lagi. Kau tak kembali ke bangkumu, Ryeowook? Bel sudah berbunyi," tegur Kyuhyun pada Ryeowook yang masih menatapnya penuh rasa ingin tahu.
Ryeowook mengangkat bahunya dan mengantongi lagi kunci sepeda Kyuhyun. Mungkin belum saatnya ia tahu atau mungkin juga Kyuhyun tak ingin Ryeowook tahu.
Kim Ryeowook pun berlalu dari tempat Kyuhyun duduk dan kembali ke tempat duduknya sendiri. Meninggalkan Kyuhyun dan Changmin yang masih meributkan hal-hal yang tak ia pahami.
"Kau masih hidup, Cho?" desis seseorang yang duduk di samping Kyuhyun meski Kyuhyun ingin sekali melempar orang itu ke dalam Sungai Han.
"Kenapa? Kau heran melihatku belum mati? Atau kau menyesal uangmu terbuang sia-sia karena hasilnya tak sesuai dengan harapanmu?" sindir Kyuhyun tajam.
Hari ini Kyuhyun tidak ikut pelajaran Olahraga. Ia belum sanggup melakukan kegiatan fisik, seperti olahraga. Kang Ho Dong, Guru Olahraga yang merangkap sebagai wali kelasnya, menyuruhnya duduk di tribun di tepi lapangan olahraga.
Sialnya, rivalnya yang sangat menyebalkan itu juga absen mengikuti pelajaran Olahraga. Mereka berdua harus menunggu di tepi lapangan hingga pelajaran Olahraga usai.
"Kau hanya beruntung kalau begitu," jawab Han Kaisoo kesal.
Tadi pagi Han Kaisoo merasa tercengang tatkala melihat Kyuhyun sudah duduk di bangkunya dan berbincang dengan Shin Changmin dan Kim Ryeowook. Ia mengira hari ini Kyuhyun tidak akan masuk sekolah. Mungkin bukan hanya hari ini namun sampai beberapa hari ke depan ia tak perlu melihat wajah Cho Kyuhyun.
Han Kaisoo merasa sia-sia mengeluarkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit untuk membayar Kim Chul Sik kalau hasilnya jauh dari yang ia harapkan. Sejak kemarin, Han Kaisoo merasa yakin setelah menerima pelajaran keras dari Kim Chul Sik, Cho Kyuhyun akan berubah sikap menjadi lebih hormat padanya. Nyatanya anak itu masih saja memasang wajah angkuh dan tersenyum sinis padanya.
"Hidupku memang penuh keberuntungan, Han Kaisoo. Satu-satunya yang membuatku merasa sial adalah sekelas denganmu. Mungkin aku harus memanggil cenayang agar aura sialmu itu tidak menular padaku," balas Kyuhyun.
Dalam hati Kyuhyun ingin tertawa melihat ekspresi Han Kaisoo. Bibir Han Kaisoo terkatup rapat dan matanya menatap nyalang pada Kyuhyun yang memasang smirk andalannya di depan Han Kaisoo.
"Mulutmu semakin berbisa, Cho!" desis Han Kaisoo tajam.
"Aku akan dengan senang hati menyemburkan bisaku padamu," balas Kyuhyun tak mau kalah.
Ingin sekali Han Kaisoo meremas mulut yang selalu berbantahan dengannya itu. Namun, bukan Han Kaisoo sekali kalau harus membereskannya sendiri. Ia punya uang untuk membuat orang lain melakukan apa pun yang ia minta.
"Lain kali jangan bersikap seperti pengecut, Han Kaisoo! Lempar batu sembunyi tangan dan menyuruh orang lain melakukan perintah kotormu. Kau salah kalau berpikir aku akan menyerah semudah itu," kata Kyuhyun memperingatkan lawannya itu.
Han Kaisoo hanya terdiam mendengar sindiran yang dilayangkan Kyuhyun padanya. Kalau tak ingat akan nama baiknya di Sajon, ia tak segan-segan mencekik leher anak yang masih duduk dengan santai di sebelahnya itu.
"Kalau begitu, kau mesti waspada mulai sekarang, Cho! Kau tahu aku bisa melakukan apa pun padamu," kata Han Kaisoo memberi peringatan pada Kyuhyun.
"Aku akan selalu siap. Jika suatu hari nanti ada yang mencelakaiku, kaulah tersangka utamanya. Berharap saja kau bisa melakukan kejahatan yang sempurna. Jadi, tak ada yang menjerat lehermu dan menyeretmu menjadi pesakitan," kata Kyuhyun tak mau kalah.
Kyuhyun berlalu dari tempatnya duduk. Dalam hati ia merasa senang karena sudah bisa mengaduk-aduk perasaan Han Kaisoo. Kyuhyun ingin menunjukkan pada Han Kaisoo ia bukan orang lemah yang takut dengan ancaman dan gertakan. Ia juga tak takut dengan intimidasi atau rencana jahat lain yang sudah musuhnya itu persiapkan untuknya.
Cho Kyuhyun bukanlah seperti yang terlihat. Ia jauh lebih kuat. Ia jauh lebih berani. Dan yang pasti, ia tak mudah menyerah dan ditundukkan.
Kim Chul Sik tengah asyik memandangi layar lebar yang ada di depannya. Tangannya sibuk memainkan game yang kelihatannya amat seru. Ia sedang berkonsentrasi menembaki para teroris untuk menjinakkan bom sebelum waktunya habis.
Sepulang sekolah ia tak langsung pulang ke rumah. Ia memang jarang langsung pulang setelah sekolah usai. Biasanya ia pergi ke tempat billiard atau ke bar bersama teman-temannya. Tak jarang juga ia menghabiskan waktunya bermain game online seperti sekarang ini.
Matanya tak beralih dari layar LCD itu. Ia sudah dua kali kalah hari ini. Ia bertekad tak akan pulang kalau belum memenangkan level ini. Ia tak peduli berapa banyak uang yang harus ia keluarkan. Uang di kantongnya masih lebih dari cukup untuk dihabiskannya di sini.
Uang yang diterimanya tempo hari memang sangat banyak. Ia sudah membaginya dengan kedua begundalnya yang langsung menghilang entah ke mana untuk menghabiskan jatahnya.
"Damn!" Kim Chul Sik mengumpat keras.
Kata 'Game Over" terpampang jelas pada layar monitor. Tokoh yang dimainkannya juga sudah tergeletak bersimbah darah. Sial, ia kalah lagi. Sudah berhari-hari ia ingin menyelesaikan permainan ini. Namun, ia selalu gagal.
Kim Chul Sik mencopot headset yang dipakai di telinganya. Ia lalu meletakkan headset itu sembarangan di atas meja. Ia merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan sebungkus rokok.
Wuffft, Kim Chul Sik meniupkan asap rokok ke atas. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil memejamkan matanya. Merokok satu-satunya hal yang bisa membuatnya rileks. Kim Chul Sik sudah mengenal dan ketagihan rokok sejak ia masih berusia belia.
"Hei, ada orang yang mencarimu!" kata pemilik tempat game online itu sambil menepuk bahu Kim Chul Sik.
"Nugu?" tanyanya.
"Aku tak tahu. Orang itu hanya mengatakan ada perlu penting denganmu," kata orang itu sambil berlalu dan kembali ke tempat duduknya di dekat pintu masuk.
Kim Chul Sik tak segera beranjak dari tempat duduknya. Ia masih menimbang-nimbang perlu tidaknya menemui orang itu. Hanya segelintir orang yang ingin bertemu dengannya. Orang yang membutuhkan jasa ototnya.
Kim Chul Sik tersenyum. Mungkin orang sejenis Han Kaisoo lagi yang ingin bertemu dengannya. Jenis orang yang suka menyingkirkan orang lain tanpa mau mengeluarkan keringat. Orang berduit yang rela mengeluarkan uang hanya untuk menyingkirkan orang yang tidak disukainya.
Kim Chul Sik bangkit dari tempat duduknya. Mungkin ia bisa memperoleh bonus malam ini. Uang dari Han Kaisoo masih cukup banyak, tapi ia tak akan menolak kalau ada yang menambahinya lagi.
"Jaga tempatku! Jangan sampai ada yang memakainya! Aku akan melanjutkan permainanku setelah urusanku selesai," kata Kim Chul Sik sambil meninggalkan beberapa lembar won di meja pemilik tempat itu.
Kim Chul Sik pun keluar. Jalanan di sekitarnya tampak sepi. Tak ada yang berlalu lalang di jalanan. Namun, suasana berbeda akan ditemui di bedak-bedak kecil seperti yang baru saja ia singgahi.
Kim Chul Sik mengedarkan pandangannya. Matanya tertumbuk pada seseorang yang sedang bersandar di mobilnya. Hanya orang itu yang ada di jalan ini. Tak ada lagi yang lain.
"Ck, chaebol lagi!" bisiknya sinis.
Ia menghampiri orang itu, yang tengah berdiri dan menatapnya dalam bingkaian kacamata hitamnya.
"Kau mencariku?" tanya Kim Chul Sik.
Orang itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Apa maumu?" tanya Kim Chul Sik tanpa basa-basi.
Kim Chul Sik tengah menilai orang yang ada di depannya itu. Kalau melihat pakaian dan mobilnya, orang itu pasti banyak uang. Tapi, Kim Chul Sik tak bisa menebak seperti apa orang itu karena sikapnya yang terlampau dingin.
Orang itu hendak membuka mulutnya untuk menjawab saat beberapa anak seusia Kim Chul Sik keluar dari gang suram di belakangnya sambil tertawa keras. Mereka berjalan menjauh kemudian memasuki salah satu tempat game online yang ada di sana.
"Aku tidak bisa bicara di sini," kata orang itu.
"Kenapa?" tanya Kim Chul Sik.
"Ada banyak mata dan telinga. Mereka mengganggu," jawab orang itu lagi.
Orang itu memandang gang di belakangnya sekali lagi. Gang itu sepi dan agak gelap.
"Kita bicara di sana saja."
Orang itu memberi isyarat pada Kim Chul Sik untuk mengikutinya. Kim Chul Sik menatap orang yang tidak dikenalnya itu dengan penuh curiga. Namun, akhirnya ia pun mengikuti langkah orang di depannya itu.
"Kau mau bicara apa?" tanya Kim Chul Sik," Lekas bicara! Aku tak punya waktu."
Orang di depan Kim Chul Sik membalikkan tubuhnya. Ia tersenyum sinis dan membuka kacamatanya. Ia melangkah mendekati Kim Chul Sik dengan tatapan matanya yang tajam mengancam.
Tanpa Kim Chul Sik sadari, bahaya sedang mengincarnya. Orang itu memang sengaja memancing Kim Chul Sik ke tempat itu agar ia lebih leluasa melakukan aksinya.
Tanpa banyak bicara orang itu meninju rahang Kim Chul Sik. Kim Chul Sik yang mendapat serangan tiba-tiba itu pun jatuh terjerembab.
"Apa-apaan ini!" teriaknya murka.
Kim Chul Sik segera berdiri agar dapat membalas lawannya itu. Namun, sebelum ia dapat berdiri tegak, orang itu menendang perutnya hingga ia terjengkang ke belakang. Kim Chul Sik merintih sambil memegangi perutnya. Lawannya itu sepertinya sangat tangguh dan tak kenal ampun.
Memang benar adanya. Lawan Kim Chul Sik itu bukan orang sembarangan. Ia bisa melakukan apa saja pada orang yang sudah mencelakai adiknya. Orang itu adalah Siwon.
Kim Chul Sik masih tergeletak di dasar gang, namun Siwon tak menunjukkan rasa belas kasihan sedikit pun. Ia maju mendekati Kim Chul Sik lalu menindih tubuhnya.
Tinjunya berulang kali ia hantamkan ke wajah Kim Chul Sik. Siwon tak peduli pada wajah Kim Chul Sik yang sudah lebam. Darah juga mengalir dari hidung dan sudut bibir Kim Chul Sik yang terluka.
"Jangan pernah menyentuh adikku lagi!" seru Siwon sambil mengarahkan pukulannya ke pipi Kim Chul Sik yang sudah membiru.
Kim Chul Sik mengerang kesakitan. Kepalanya serasa melayang. Matanya yang bengkak juga tak bisa dibukanya. Ia hanya pasrah menerima pukulan yang dilayangkan padanya bertubi-tubi.
"Jangan pernah melukai adikku!" ucap Siwon lagi sambil menghantam dagu Kim Chul Sik.
Kim Chul Sik merasa kepalanya hampir lepas menerima pukulan itu. Mulutnya rasanya sudah asin oleh darah.
Siwon menyudahi pukulannya saat dilihatnya Kim Chul Sik sudah tak berdaya. Ia menarik kerah Kim Chul Sik dan memaksanya untuk menatapnya.
"Ingat wajahku baik-baik! Aku akan menghajarmu jika kau sekali lagi mengerjai Kyuhyun. Kalau tanganmu berani memukulnya lagi, aku akan menariknya lepas dari tubuhmu. Kalau kau berani menendang adikku, aku yang akan menjamin kedua kakimu itu tak bisa kaupakai berjalan lagi. Camkan itu!"
Siwon mengempaskan tubuh Kim Chul Sik yang sudah kepayahan itu ke jalan. Ia melangkah meninggalkan gang suram itu dan kembali ke mobilnya. Hatinya puas sekarang. Ia puas karena bisa membalaskan rasa sakit Kyuhyun.
Ia yakin tak akan ada lagi orang yang akan mengganggu Kyuhyun. Tak akan ada lagi orang yang ingin mencelakai adik kesayangannya itu. Selama ia masih hidup, ia akan selalu melindungi Kyuhyun, adiknya.
TBC
Haaah, akhirnya selesai juga chapter 14 yang dibuat ngebut cuma 2 hari. Kyu tidak tersiksa lagi di chapter ini (iya lah masa tiap hari Kyuhyun harus kena masalah, kan ada juga masanya hidup itu flat tanpa masalah). Saya nggak mau hidup Kyu di ff ini terlalu banyak masalah. Kalau saya selipi masalah terus-menerus nanti kesannya malah mengada-ada dan nggak natural. Siwon juga sudah tahu tentang Kim Chul Sik kan. Dari siapa? (dari saya pastinya kan saya yang nulis kkkkkk….). Dari siapa dan bagaimana Siwon tahu akan ada di chapter depan. Next chapt akan update setelah Untouchable tamat, ya. Tamatnya kapan? Kapan-kapan…..hahahaha (evil laugh). Chapter ini untuk ghostreader09 dan ainadaysmn yang kekeuh banget pengen saya fast update (ini udah ngebut ya neng, jangan minta saya ngebut lagi ntar saya nubruk). Happy reading guys. Jangan lupa review ya. Gomawo.
