"Jongin... Jongin? Jongin kau bisa mendengarku?" Jongin bisa merasakan jika seseorang sedang menyebut namanya sambil menepuk-nepuk pipi nya.

Hingga akhirnya orang tersebut berhenti ketika Jongin sudah membuka kedua matanya.

"S-sehun?"

"Untunglah kau sadar..."

"Aku? Bukannya aku hanya sedang tidur di kamar mu tadi?" Jongin menatap sekelilingnya bingung.

"Apa kau bermimpi? Kau sudah pingsan selama lebih dari 8 jam Jongin." Jongin membelalakan matanya.

"Kepala mu sakit?" Tanya nya khawatir.

"Tidak. Kalau begitu aku pulang dulu..." Sehun ingin menahan Jongin, namun wanita itu dengan segera pergi keluar dari kamarnya tanpa membawa mantel dan tas punggung nya.

'Masalahnya...bagaimana aku harus menghadapi nenek sihir itu nanti? Mati aku!'

"Sialan... astaga jam berapa ini? Ibu pasti akan memarahi ku!"

Jongin tak perduli dengan tatapan aneh yang di berikan oleh orang-orang padanya karena terus saja berbicara sendiri di sepanjang jalan. Apa lagi dengan kondisi tubuhnya yang hanya memakai seragam sekolah nya , sedangkan suhu udara begitu dingin hari ini. Yang ia khawatirkan sekarang adalah nasib nya yang mungkin saja akan segera di habisi oleh sang ibu.

"Dari mana saja kau?" Jongin menundukan kepalanya. Firasatnya mungkin akan terjadi sebentar lagi. Ternyata ibu nya sudah menunggu ia di depan pintu rumah.

"Aku...dari rumah tuan Oh bu."

"Pembohong! Ini sudah pukul 5 subuh. Apakah mungkin kau mengajar selama itu?"

"..." Jongin tak menjawabnya, percuma saja. Orang-orang di rumah ini tak akan pernah mendengarnya.

"Tak bisa menjawab?!" Sang ibu kemudian berjalan mendekati nya, jangan lupa dengan sebuah rotan tipis yang ada di genggamannya.

"Berdiri dengan tegap!" Jongin meremas ujung seragam yang ia pakai.

Ctarrr

Ctarrr

Teriak minta ampun pun tak akan menghentikan ini semua. Jadi Jongin hanya terus meremat ujung seragamnya. Tubuhnya yang semula mulai membaik kini kembali lemas karena kedinginan selama perjalanan tadi, dan di tambah lagi dengan pukulan sang ibu. Jongin jadi ingin mati saja rasanya.

Setelah mengayunkan pukulan sebanyak puluhan kali, akhirnya sang ibu angkat berhenti dan segera pergi meninggalkan Jongin di sana. Dengan langkah tertatih Jongin pun berjalan masuk ke dalam rumah.

Di sekolah.

Ke esokan hari nya Jongin hampir saja terlambat ke sekolah karena badannya yang terasa akan remuk jika di gerakkan.

"Semoga saja...di masa depan, setelah aku berenkarnasi ibu akan terlahir kembali menjadi anak angkat ku. Aku akan menghajarnya seperti yang ia lakukan padaku saat ini." Dengan terseok-seok Jongin akhirnya berhasil mencapai kelas nya.

Terlihat seorang pria tengah menatapnya dengan raut khawatirnya.

"Kenapa dengan kaki mu?" Tanya nya dengan nada khawatir. Jongin sedikit lega, setidaknya ia masih memiliki Chanyeol di sisi nya .

"Nenek itu...sialan! Dia memukul kaki ku hingga biru." Chanyeol mengangguk. Pantas saja Jongin memakai celana olahraga di dalam rok nya.

"Guru Cha mungkin akan memarahi mu nanti." Ya Jongin tahu, jika guru wanita itu akan memarahinya karena berpakaian menyimpang dari aturan sekolah.

"Biarkan saja. Aku sudah kebal." Chanyeol mendengus mendengarnya. Tak lama kemudian bel berbunyi.

Tap

Tap

Tap

"Beri salam."

"Selamat pagi..."

"Selamat pagi. Semua nya di harapkan berdiri. Aku akan mengecek kerapihan kalian hari ini." Guru Cha berjalan ke penjuru kelas untuk mengecek pakaian para siswa.

"Nona Kim? Kenapa kau memakai celana olahraga di dalam rokmu?"

"Maaf bu..."

"Buka sekarang!" Semua murid terdiam karena seruan guru wanita itu .

"Maaf bu, tapi aku tak bisa..." perkataannya terputus karena sanggahan dari guru Cha.

"Aku tahu kau memang miskin Kim Jongin. Tapi bisakah berpakaian normal seperti siswi lainnya. Berpakaian seperti ini tak akan menarik simpati orang lain." Jongin segera melepas celana olahraga itu sehingga bekas luka kebiruan di kakinya terlihat. Semua murid menatapnya penuh kasihan.

"Aku memang miskin. Aku juga sadar terhadapa posisi ku di sekolah ini. Tapi tunjukan sikap mu seperti selayaknya seorang guru bu."

"Kau berani menasehati ku?" Jongin tak melepaskan kontak mata antara merek berdua.

"Kau ingin memukul ku? Maka pukul lah aku seperti yang di lakukan oleh siswa siswi di sekolah ini, jika itu akan membuatmu lega. Aku tahu orang tua ku tak bisa menjadi donatur di sekolah ini. Tapi sadarlah...kau seorang guru. Apakah pantas seorang guru memperlakukan muridnya seperti ini?"

Guru Cha tak mengucapkan balasan apapun. Ia hanya memberikan gesture seakan mengusir Jongin dari kelasnya. Tanpa banyak berpikir Jongin segera keluar dari kelas tersebut tanpa memperdulikan kaki nya yang sakit.

.

.

.

Jongin tengah duduk sendiri di atap sekolah, lebih tepatnya di pinggiran atap hingga kakinya menggantung bebas di udara.

"Haruskah aku lompat dari atas sini?" Jongin pikir menyusul orang tua kandungnya tidak buruk juga.

"Ey... kalian sangat egois. Hidup bersama di atas sana, dan meninggalkan ku bersama para monster itu." Jongin tahu ia tak mungkin lompat ke bawah sana, itu tak akan menyelesaikan masalah. Bagaimana jika mayat nya hanya di biarkan membusuk di bawah sana. Mana ada orang yang sudi membawanya.

"Membolos?" Suara bariton terdengar dari arah belakangnya. Jongin sedikit terkejut saat menemukan siapa orang yang telah menegurnya itu.

"Tuan Oh?" Tuan Oh hanya tersenyum dan menghampiri Jongin ,duduk di pinggiran atap namun dengan arah yang berlawanan dengan Jongin.

"Kenapa membolos?"

"Aku di usir dari kelas." Bukannya merasa sedih, Jongin malah menyengir lebar.

"Lalu mengapa datang kemari, bukannya kau lebih suka ke perpustakaan?" Cengiran Jongin lenyap. Kemudian ia memberikan tatapan datar pada tuan Oh.

"Aku ingin bunuh diri..." Tuan Oh terkisap. Ia tatap mata gadis itu.

"Aku bercanda, hehe... kaki ku sedang jelek sekali hari ini. Pasti orang-orang akan melihatku jijik." Tuan Oh sedikit bernafas lega. Ia pikir Jongin akan benar-benar bunuh diri.

"Memangnya kaki mu kenapa?" Jongin menggelengkan kepalanya. "Hanya memar, tapi itu membuatku sedikit malu."

"Bagaimana perkembangan Sehun?"

"Lumayan juga. Nilai ulangannya bahkan memenuhi standart."

"Terima kasih Jongin... aku tahu betapa menyusahkan nya Sehun."

"Tak apa. Ku kira ia hanya sedikit kelebihan hormon. Seperti nya masa pubertasnya masih belum berakhir."

Tuan Oh terkekeh saat mendengar candaan yang di berikan Jongin. Ia jadi ingat kejadian di masa lalu nya, ia menyesal karena sedikit terlambat waktu itu.

"Jongin... jangan terkejut." Jongin mengernyit bingung. "Aku mengenal orang tua kandung mu..."

"Benarkah?"

"Ya... dan melihat mu seperti ini membuat ku teringat akan sifat ibu mu."

"Apa dia cantik?"

"Ya...dia cantik seperti mu." Jongin mendengus. "Kalau begitu ia tak cantik." Tuan Oh kembali terkekeh, sungguh jika ia punya kesempatan untuk menukarkan anaknya, maka ia akan dengan senang hati menukar Sehun dengan Jongin.

"Kau ini! Aku akan menceritakan kisah ayah dan ibu mu lain waktu."

"Tak perlu..." ujar Jongin sendu. Mata nya sedikit berkaca-kaca.

"Jika kau menceritakan nya, aku mungkin akan sangat merindukan mereka. Dan itu akan membuatku semakin ingin bersama mereka di atas sana." Jongin menangkupkan wajahnya di balik telapak tangannya. Tuan Oh hanya dapat mengusap sayang kepala gadis itu.

.

.

.

"Jongin..."

"Chan..."

"Kau habis menangis?" Jongin hanya menundukkan kepala nya. Tuan Oh sudah turun dari beberapa menit yang lalu sehingga Jongin menghabiskan waktu menangis nya sendirian hingga Chanyeol datang.

"Ini celana mu. Pakailah..." Jongin menggeleng pelan.

"Aku tak butuh itu. Biarkan saja orang lain melihat nya. Aku sudah tak perduli..."

"Kenapa?"

"Tak apa... lagi pula ini tak begitu buruk." Ia mengakhiri kalimatnya dengan cengiran.

"Kalau begitu aku akan mentraktir mu makan sepuasnya hari ini."

"Call." Jongin berjalan mendekati Chanyeol kemudian menggandeng lengan pria itu.

Di kantin

Seperti yang sudah bisa di perkirakan... Jongin pasti akan menjadi pusat perhatian seluruh murid di sekolah. Tak terkecuali Sehun dan teman-teman nya. Sedangkan ia dan Chanyeol makan tanpa memperdulikan tatapan orang-orang tersebut.

Tukk

Perhatian keduanya teralihkan saat melihat Irene yang sudah duduk di hadapan mereka.

"Kenapa menatapku seperti itu? Bukan kah kita teman?" Jongin dan Chanyeol saling melemparkan pandangan kemudian berdiri secara tiba-tiba.

"Kalian mau kemana hah?!" Irene memekik sedikit keras. Sementara Jongin dan Chanyeol hanya tertawa melihat nya.

"Baiklah...kami akan kembali duduk." Setelahnya mereka makan sambil bercanda sesekali.

"Jongin kenapa kau hanya makan itu?" Irene menunjuk piring Jongin yang hanya berisi nasi dan sayur.

"Aku alergi terhadap beberapa makanan. Jadi aku tak bisa memakan lauk yang ada disini."

"Benarkah?" Jongin hanya mengangguk semangat. Senyum nya tak luntur semenjak tuan Oh menceritakan ia tentang ibunya tadi. Ia bahkan sudah tak perduli dengan Guru Cha itu. Dan hal itu pula yang menarik perhatian seorang pemuda dari kejauhan.

.

.

.

"Baiklah...aku rasa pelajaran hari ini sudah cukup. Kau boleh pergi." Seperti biasa Jongin memberikan pelajaran tambahan pada Sehun.

Namun hal yang tak biasa adalah, Sehun belum juga beranjak dari hadapannya. Biasanya pria itu akan segera bergegas untuk pergi ke suatu tempat setelah sesi belajar mereka.

"Ada yang ingin kau tanyakan? Masih ada yang belum kau pahami?" Sebenarnya Sehun ingin bertanya mengenai kaki Jongin. Tapi ia sedikit ragu.

"Tak ada."

"Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai jumpa besok." Saat berdiri Sehun dapat melihat Jongin yang sedikit kesulitan. Tangannya secara otomatis terulur, dan Jongin menerima ulurannya tersebut.

"Terima kasih. Selamat malam." Sehun tak membalas perkataan Jongin. Pikirannya tengah bertarung dengan hatinya saat ini.

"Ingin ku antar pulang?" Dan senyuman Jongin membuat jantung Sehun berhenti berdetak.

"Terima kasih, tapi aku tidak menerima tawaran dari orang asing." Sehun tahu ia mungkin sudah sedikit gila saat memikirkan betapa manisnya Jongin tadi, padahal gadis ini begitu menyebalkan.

"Sialan!" Jongin hanya menjulurkan lidah nya pada Sehun,lalu segera pergi dari kamar pria pucat itu.

.

.

.

Jongin pulang lebih awal dari biasanya, alasannya? Tentu saja karena paman Cha melarangnya untuk bekerja hari ini setelah melihat memar di kaki Jongin.

Cklek

Jongin membuka pintu rumah setelah memasukkan beberapa sandi. Ruang tengah nampak begitu sepi. Sepertinya sang ibu angkat pergi ke rumah mertuanya bersama dengan sang suami. Berarti Jongin bisa sedikit beristirahat lebih lama hari ini.

"Kau sudah pulang?" Ucap seseorang yang membuat Jongin menghentikan langkahnya menuju kamar. Tanpa melihat pun Jongin tau siapa orang itu.

"Seperti yang kau lihat. Kalau begitu aku masuk dulu." Dengan segera Jongin memasuki kamarnya dan menutup pintu tersebut .

Jongin duduk di pinggiran ranjang untuk melepas kaos kaki yang ia kenakan.

Cklekk

Jongin berhenti melakukan kegiatan nya dan hanya terdiam melihat sang pria yang kini sudah berada di kamarnya itu.

"Ada...apa?" Tanya nya sedikit kikuk.

"..." namun pria itu tidak berbicara sepatah kata pun, ia malah berlutut di hadapan Jongin dan memegang kaki Jongin .

"Maafkan ibu..." setelah itu Kris mengoleskan gel pereda nyeri pada kedua betis Jongin. Ia bahkan melakukannya dengan penuh perhatian dan itu membuat suasana kembali hening untuk kesekian kali nya.

Setelah selesai mengolesi betis Jongin, Kris bangkit untuk duduk tepat di samping sang adik angkat untuk mengobati sudut bibir sang adik luka karena tamparannya kemarin lusa.

"Maafkan aku..."

Jongin tak dapat menahan air matanya . Dan tangisan Jongin membuat Kris panik.

"Kau kenapa?" Jongin hanya menggelengkan kepalanya, dan mencoba untuk menghentikan tangis nya. Kris pun ia buat semakin bingung. Dan dengan spontanitas nya, Kris segera memeluk tubuh mungil itu walaupun pada akhirnya tangisan Jongin malah semakin kencang.

"Ku mohon...berhentilah menangis..."

"Hiks...hiks..." Jongin membalas pelukan Kris dengan erat. "Te- terima k kasih..."

Kris tak mampu menahan senyum nya. Ini adalah saat-saat yang selalu di impikan oleh nya. Bersikap layaknya kakak dan adik .

Flash back on

Di kantin

Kris menatap Sehun heran. Ia tak tahu mengapa sejak sedari tadi Sehun terus saja menatap adik nya di sudut kantin sana. Sangking penasarannya ia sampai bertanya pada pria itu.

"Kenapa kau menatapnya seperti itu?"

"Kau tahu... semalam ia pingsan selama 8 jam di rumahku."

"B-benarkah? " Kris terkejut bukan main. Apalagi setelah mengingat ucapan sang ibu yang katanya memberikan pelajaran pada Jongin subuh tadi.

"Memangnya dia kenapa?" Tanya Namjoon.

"Entah lah...dokter bilang dia hanya demam. Namun dokter menemukan luka lebam di tubuh nya. Dan sekarang kau lihat sendiri kondisi kaki nya." Kris sedikit tersedak dengan liurnya sendiri. Ia jadi teringat aksinya kemarin lusa saat menghajar Jongin, apa jangan-jangan dia lah penyebab Jongin pingsan selama itu.

"Siapapun yang melakukan hal tersebut pasti bukanlah manusia. Bagaimana mungkin ia menghajar seorang wanita seperti itu." Dan kalimat Namjoon membuat Kris seakan tertampar dengan keras nya. Mungkin ia sudah keterlaluan selama ini

Flasback off

"Aku tak akan melakukan hal seperti itu lagi padamu." Kris mengusap kepala Jongin dengan sayang. Sebenarnya ia tak pernah berniat untuk berlaku seperti itu pada Jongin. Namun salahkan perasaan nya.

Perasaan yang seharusnya tak pernah ada diantara hubungan kakak dan adik.

Tbc

Note: maaf jelek yah. aku tau kok kalo cerita nya udah pasaran banget dan kalian pasti rada bosen baca nya.