TWO SIDES

by Gyoulight

.

.

.

.

.

HUNHAN FANFICTION

GENRE: Drama, Romance

RATING: T

.

.

.

.

.

.

Sehun tidak mengerti mengapa ia bisa ikut membisu begitu lama di samping adik palsunya. Padahal ia sudah turun dari badan pesawat satu jam yang lalu, kemudian terpaku pada kursi mobil Jongin yang sudah membawanya meniti jalan. Mengikuti atmosfir, Jongin meresapi keheningan bersama Baekhyun yang lebih dulu jatuh terlelap di samping kursinya. Sedangkan Luhan masih menatap keluar jendela, menikmati sisa hujan yang masih membasahi kaca mobil.

Sehun tidak menoleh sedikitpun pada Luhan. Begitu pula dengan Luhan yang hanya bersandar pada kaca mobil. Membelakangi Sehun dengan punggungnya, terlebih memunggungunginya dengan tidak bergerak sama sekali. Pria dengan wignya itu pun tidak akan perduli jika kepalanya terantuk beberapa kali karena permukaan aspal yang tidak rata. Singkatnya, keduanya masih membisu sejak sama-sama terbangun di Jeju. Kemudian diawali dengan makan tanpa kata, dan tentunya makan di tempat yang berbeda. Sangat aneh mungkin, tapi entah mengapa Luhan lega jika melakukan hal demikian.

Jongin melirik keduanya dari kaca kecil yang menggantung di atas kepala. Sengaja berdehem sebentar, tapi keduanya masih sama-sama tenggelam dalam lamunan. Terlihat tidak perduli dengan sekitarnya, meski Jongin mulai meribut dengan musik di dalam mobil.

"Kalian baik-baik saja?" tanya pria tan itu sambil mematikan musiknya. Takut menjadi orang aneh yang menikmati kesendirian, atau mungkin takut jika Baekhyun akan terganggu lalu bangun mencekiknya karena sudah memutus alur mimpinya.

Kedua orang yang dipanggilnya hanya melirik dengan kompak. Sekilas, dan nyaris sangat tidak perduli. "Oh, baiklah. Kalian terlihat tidak baik-baik saja." Luhan lalu berkedip malas. Sama sekali tidak mau meluruskan posisinya. "Luhan, bagaimana harimu di Jeju?"

"Membosankan," jawab pria itu pelan.

Jongin terkikik geli. Ia pun sudah bisa menebak seberapa bosannya Luhan yang harus terjebak dengan Sehun selama di Jeju. "Apa dia mengekangmu?"

Luhan memejamkan matanya. Mencoba tertidur sebisanya seperti Baekhyun. Tapi semua itu tidak semudah yang ia bayangkan. Bahkan sejak kemarin, ketika ia keluar dari pintu kamar Oh Sehun, matanya tidak mau terpejam dengan benar. Sehingga yang ia dapati sekarang adalah kantung mata yang sedikit menghitam di bawah matanya. "Kau bisa tanyakan itu padanya."

Jongin menggaruk tengkuknya kikuk. Sudah lama ia tidak berbicara atau bertemu dengan sosok atasannya itu. Pria berkulit tan itu lantas hanya bisa menerima jika Sehun tidak ingin berbicara padanya. "Sehun~ah, bagaimana kondisimu?"

Sehun tidak bergerak. Wajahnya pun terlalu kusut dengan luka-luka kecil di sekitar pipi. Pria pucat itu nyatanya masih menaruh fokus pada kaca jendela, meski Jongin mungkin memutuskan untuk melakukan akrobat dengan mobilnya. "Diam dan menyetirlah dengan benar," sarannya kosong.

Jongin kemudian hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Otaknya kemudian berpikir dengan keras tentang apa yang telah terjadi pada keduanya. Menimbang segala kemungkinan, sampai ia menyesal sendiri karena tidak bisa ikut dengan mereka. Ada apa sebenarnya?

Jongin diam-diam melirik Baekhyun yang masih tertidur di sampingnya. Mengharapkan pria itu terbangun demi membantunya menyegarkan suasana. Tapi nampaknya Baekhyun terlalu lelah untuk melewati harinya─dengan delay pesawat yang mereka keluhkan beberapa menit yang lalu. Andai Jongin bisa tertidur saat ini juga, ia mungkin tidak perlu berada dalam kesunyian mengerikan dari belakang kursinya.

Mobil Jongin kini sudah berbelok pada sisi jalan kecil, dimana mereka dapat melihat barisan pohon-pohon besar di kiri dan kanan jalan. Melesat pada jalan yang sedikit basah, mobil itu pun sampai pada pagar yang secara otomastis terbuka lebar menyambut kedatangannya. Jongin kembali menginjak pedal gasnya untuk memasuki pekarangan luas itu. Para pelayan sudah menunggu, mengambil barisan terapi di depan rumah yang menyala temaram. Bersiap dengan tugas masing-masing untuk menyambut tuannya turun dari mobil.

Seseorang yang terlalu mencolok di antara mereka kemudian membuat Jongin tertegun. Keremangan malam membuat tingkat visibilitasnya terbatas. Ia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum ia turun untuk memastikan siapa yang kini tersenyum sangat manis padanya. "Oh astaga, kapan kau pulang?"

Siapa lagi kalau bukan Chanyeol.

Pria jangkung itu menyambutnya. Membalas pelukannya lalu menepuk bahunya dengan sangat bersahabat. "Pagi tadi tepatnya. Dan aku sedih tidak menemukan seseorang yang kucari di rumah."

"Apa itu dia?" tanya pria bermata bulat itu melirik ke dalam mobilnya. Melupakan para pelayan yang sibuk membongkar bagasi dan juga membantu Sehun untuk keluar dari mobil. Dan Jongin segera tahu maksud pria itu hanya dengan melihat tidur lelap seorang Byun Baekhyun.

"Dia tertidur," kekeh Jongin berkacak pinggang. "Aku berniat mengantarnya pulang setelah ini."

Senyum Chanyeol lalu mengembang. Langkahnya bahkan tampak begitu senang saat meninggalkan Jongin. "Aku akan mengantarnya besok," jawab pria itu berjalan mundur mejauhinya. Mendengar Jongin begitu mudah mengiyakan keputusannya, ia pun berbalik mendekati mobil sambil mengusak surai Sehun yang lewat di depannya. "Sudah lama sekali, dan kini kau sudah berubah menjadi seorang jagoan?"

Sehun melirik tak suka pada kakaknya yang sibuk mengabsen luka-luka di tubuhnya. Pria itu sesungguhnya tidak pernah suka diperlakukan seperti anak kecil, bahkan oleh kakaknya sendiri. "Kenapa kau bisa pulang cepat sekali?"

Chanyeol membuka pintu mobil Jongin. Meraih tubuh Baekhyun dengan pelan lalu menggendongnya di lengan. Menatap adiknya yang berdiri dengan tongkat, membuatnya memiringkan kepala pada tubuh yang bernafas teratur di lengannya. Tidak ingin mengganggu tidur kekasihnya, sekaligus memberikan jawaban yang sudah jelas bisa ditebak oleh siapa saja.

Luhan kemudian mendekat pada kerumunan. Sedikit tersenyum pada Chanyeol yang tidak sempat menyapanya. Tapi Chanyeol masih bisa menyapanya dengan senyuman bisu. Sama sekali tidak bisa berbicara dan harus segera membawa Baekhyun masuk.

"Boleh aku pulang sekarang?" ijin Jongin yang sudah menyadari kekosongan angkutan di mobilnya. Bagaimana pun ia masih punya sesuatu yang harus ia selesaikan di rumah.

"Kau selalu ingin pulang cepat," komentar Sehun menggerakkan tongkatnya. Ia baru saja menolak untuk dibantu siapapun, termasuk Jongin. "Apa begitu menyenangkan tinggal dengan seorang kekasih?"

Jongin terkekeh. Ia tidak cukup bodoh untuk mengetahui bahwa kedatangan Baekhyun di kediamannya saat itu adalah segelintir ide dari atasannya. "Apa kau begitu ingin bertemu dengannya?"

"Tentu saja." Sehun menghentikan langkahnya. Membiarkan Luhan lebih dulu memasuki pintu rumah besarnya tanpa harus menguping pembicaraan. Ia pun sedikit menoleh pada Jongin. "Kalau perlu aku bisa memberinya sedikit nasihat. Dia harus tahu, sebodoh apa kekasihnya menyimpan sebuah rahasia."

Raut Jongin mendadak berubah kaku. Ia dapat merasakan sorot Sehun yang begitu sangat ingin menembusnya. Menyentuh jiwanya yang gelap, hingga menyadarkannya tentang sesuatu yang mengejutkan mungkin sudah dimulai.

"Terima kasih karena sudah mau menjemputku," ucapnya yang kemudian kembali meninggalkannya. Memasuki pintu dengan sisa senyuman kecil di sudut bibirnya.

e)(o

Luhan membuka pintu kamarnya dengan lelah yang begitu menghantam kepala. Ia baru saja menemukan para pelayan yang mulai membongkar kopernya. Memindahkan isi kopernya lalu membawa pergi semua baju ke ruang cuci, tidak perduli apakah pakaian itu pernah dipakainya tau tidak. Sedangkan salah satu dari mereka masih berdiam disana, mengembalikan barang-barang lainnya ke tempat yang seharusnya.

Luhan tidak perduli dengan apapun yang mereka lakukan ditengah malam seperti ini. Ia terlalu lelah, tapi anehnya kantuknya tak kunjung datang. Ia pun memutuskan untuk menjemput mimpi meski dengan tidak melepas pakaian dan juga wig yang masih melekat di tubuhnya.

Minseok yang baru saja lewat di depan pintunya, kini memutuskan untuk memasuki kamarnya. Pria itu baru kembali dari sisi kamar Sehun, membantu tuannya itu kembali ke kamar karena Sehun tidak pernah suka pelayan rumahnya yang begitu ramai. "Kau harus membersihkan diri sebelum tidur," tuturnya menggeleng menyaksikan Luhan yang melungkup di atas tempat tidur, tentu dengan sepatu yang belum dilepas.

Luhan terdiam. Matanya masih mencoba untuk terpejam. Demi apapun dia tidak punya tenaga yang cukup untuk sekedar bergerak ke kamar mandi.

"Setidaknya lepas sepatumu," tutur Minseok terduduk di tepi ranjangnya. Mengganggu Luhan dengan menarik-narik sepatunya.

Luhan beranjak dari sana. Pria itu segera meraih sepatunya. Melepasnya dengan cepat lalu melepasnya ke lantai sampai Minseok menaikkan salah satu alisnya. Terserah apakah sikapnya tidak pantas atau apa. Bukannya tidak masalah bagi Minseok jika ia merajuk seperti ini? "Minseok, sepertinya aku sakit."

Seorang pelayan segera mengambil sepatu yang tergeletak itu. Segera membawanya keluar dari sana bersama dua pelayan yang lain. Luhan yang melihat itu tiba-tiba saja merasa bersalah. Tapi ketika tangan minseok memegangi keningnya, ia sudah melihat kamarnya berubah menjadi sepi tidak bersuara. "Kau mabuk kendaraan?"

Luhan menggeleng. Ia tidak pernah mabuk kendaraan sebelumnya. Dan ia yakin, ia tidak pernah akan menjadi mual walaupun menaiki roller coaster terpanjang di dunia sekalipun. "Aku tidak bisa tidur sejak kemarin. Dadaku sering bergemuruh," kata Luhan memegangi dadanya yang masih menyisakan degupan aneh, sejak ia duduk di pesawat.

Minseok memiringkan kepalanya. Mata kucingnya berkedip beberapa kali saat menatap keluguan Luhan. Pria di depannya ini mungkin mengalami kelelahan dalam perjalanannya. Dan Luhan tentu terlalu sehat untuk mengalami hal-hal seperti insomnia atau gagal jantung.

Luhan tiba-tiba meraih kedua lengan Minseok. Wajah polos itu berubah sangat cemas seakan tidak punya harapan untuk hidup. "Minseok, apa aku punya penyakit jantung?"

"Maksudmu─jantungmu tiba-tiba saja berdebar tanpa sebab?" Luhan mengangguk mengiyakan. Minseok yang terdiam kemudian menyingkirkan tangan kecil itu dari lengannya. Ia tentu tidak ingin Luhan berpikir hal-hal random seperti ini sampai tidak bisa tidur. "Kapan kau mulai menyadari jantungmu mulai aneh?"

Luhan memiringkan kepalanya. Mengawang ia mengingat kapan terakhir kali jantungnya berdetak dengan tidak normal. "Tidak pasti. Mereka tiba-tiba saja menjadi aneh saat─"

"Saat?" selidik Minseok melipat lengannya di dada.

Luhan teringat ketika ia merasakan hal-hal aneh lebih sering ketika ia berdekatan dengan Sehun. Dan terakhir kali ia menjadi lebih aneh setelah bercerita tentang hantu laut di Jeju. Bukankah lucu jika Luhan berpikir hantu laut mengikuti mereka sampai ke Seoul? "Tunggu, apa disini ada hantu?"

Minseok terkekeh. Untuk ukuran pria yang seumuran dengannya, memikirkan hal-hal yang tidak logis tentu menjadi hal lucu baginya. Minseok sama sekali tidak percaya pada hantu, ia bahkan pernah tinggal di tempat yang menyeramkan saat mengikuti klub pecinta alam. Dan ia tidak menemukan makhluk apapun yang bernama hantu. Karena bagi Minseok, hantu itu tidak ada, manusia hanya terlalu repot menakut-nakuti diri sendiri.

"Hantu itu tidak ada, okay?"

"Tapi ini aneh." Luhan bersih keras bahwa ia benar. Pria itu terus menangkup wajahnya. Meresapi kegelisahannya sendiri sampai ia berulang kali memperhatikan seisi kamar.

Minseok menggeleng pelan. Ia pun menahan tawanya ketika ia mendapatkan pikiran aneh dari dalam dirinya. Ya, sebuah pikiran yang mungkin saja bisa menjadi jawaban dari kebingungan Luhan perihal jantungnya. "Apa kau merasakannya saat kau dekat dengan seseorang atau saat memikirkan seseorang?"

Luhan memutar matanya. Ia baru saja ingat jika ia selalu merasa aneh jika dekat dengan Sehun. Apa ia, Sehun diikuti hantu laut seperti di dalam legenda? "Kurasa─ya?"

Minseok terkikik geli. Kali ini ia sungguh ingin tertawa terpingkal mendengar cerita temannya itu. Lagi pula mana ada seseorang yang begitu polos untuk menyadari dirinya tengah jatuh cinta? Bahkan kucing lucunya pun tahu kapan mereka merasa jatuh cinta. "Kau benar-benar sedang sakit─sungguh."

Luhan menutup mulutnya. Kedua matanya pun sudah membola mendengar kalimat luar biasa Minseok. "Haruskah aku pergi ke dokter jantung?"

Minseok semakin tidak bisa mengontrol tawanya. Pria bermata kucing itu pun memegangi perutnya yang mulai sakit melihat kepolosan Luhan yang berbicara soal jatuh cinta. "Kau tidak pernah jatuh cinta?"

Luhan menaikkan salah satu alisnya. Ia sama sekali terlihat tidak keberatan jika Minseok tertawa sampai pingsan, asal pria itu bisa membuatnya mengerti, apa yang sebenarnya terjadi padanya. "Jatuh cinta? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan ini?"

"Ya Tuhan, pasti tidak pernah," tutur Minseok di sela tawanya. "Pergilah ke kamar mandi dan segera ganti bajumu."

Luhan mencengkram bahu Minseok. Wajahnya pun tak luput dari wajah serius. Ia nyatanya tengah menuntut keseriusan pria yang sudah terpingkal itu. Setidaknya ia mendapatkan jawaban yang bisa membuatnya tertidur dengan nyenyak malam ini. "Apa yang terjadi sebenarnya?!"

Minseok mengusap air matanya yang tiba-tiba meleleh karena lelah tertawa. Ia bahkan khawatir akan berubah menjadi orang gila karena tertawa di tengah malam seperti ini. "Kau sedang jatuh cinta, deer. Kenapa kau lucu sekali?"

"Jatuh cinta?!" Luhan terkejut. Sangat terkejut sampai ia kembali membekap mulutnya sendiri. "Yang benar saja."

"Katakan padaku, siapa yang membuatmu jadi selucu ini?"

Luhan sibuk menepis pikiran bodohnya. Tidak mungkin kan ia jatuh cinta pada hantu laut? Itu tidak akan pernah mungkin, walaupun ada sebuah quote yang menyatakan 'tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini'. "Tidak mungkin, ini terlalu bodoh."

Minseok berubah serius. Ia segera membenarkan posisi duduknya. Sedikit mendekat pada Luhan untuk membisikkan sesuatu. "Apa Oh Sehun?"

Merasa dibuang ke dasar lautan, Luhan kemudian melongo dengan sangat kebingungan. Kalau ia saja tidak mungkin jatuh cinta pada hantu laut, bukankah akan lebih mustahil lagi jika ia jatuh cinta pada Oh Sehun? Ia mungkin tidak menyalahkan dirinya jika ia jatuh cinta pada makhluk yang sama sepertinya. Dalam arti, ia tidak mempermasalahkan sesuatu seperti─apakah ia menyukai wanita atau pria. Hanya saja untuk ukuran makhluk seperti Oh Sehun, apakah mungkin?

"Oh astaga yang benar saja. Mana mungkin aku jatuh cinta pada manusia tembok sepertinya. Dia itu sangat-sangat menyebalkan." Pria itu memegangi kepalanya. Menjambak rambut panjangnya sendiri sampai wignya terlepas. "Aku pasti lebih memilih sakit jantung dari pada jatuh cinta padanya."

Minseok tertawa lagi. Entah mengapa selera humornya terjatuh dengan sangat tidak elit malam ini. Tapi mau bagaimanapun, baginya cinta tetaplah sesuatu yang ajaib. Mereka datang dengan cerita unik berkemasan romansa, alih-alih membuat banyak orang mengagungkan sebuah rasa yang berasal dari hati. Dan jikalaupun benar temannya itu menyukai tuannya, bisa apa dia selain mengharapkan sesuatu yang baik untuk segera datang? "Ganti pakaianmu lalu pergilah tidur."

"Aku bersumpah akan pergi ke dokter jantung sebelum pulang nanti," tekad Luhan beranjak dari ranjangnya. Meringsut menjauh, memasuki kamar mandinya yang tenang. Sedangkan Minseok sudah kembali jatuh terpingkal memegangi perutnya.

e)(o

Pagi yang dingin menyapa. Cahaya pagi dengan langit abu-abu masih bertengger di langit, mengawali matahari yang belum juga naik menginvasi dunia. Tapi lebih dulu suara burung bercicit di dekat jendela. Mengetuk-ngetuk jendela bersama dengan embun yang menempel pada denaunan gugur.

Pepohonan kembali berguguran, menyambut musim gugur yang sebentar lagi menghiasi hari. Pelan-pelan para pelayan rumah sudah mengitari halaman dengan sapu mereka. Menyisir halaman penuh dedaunan, lalu sisanya mengerjakan sesuatu yang lain di dalam rumah.

Baekhyun tak kunjung terbangun dari tidurnya. Bantalnya terlalu empuk dan selimutnya terlalu hangat untuk ditinggalkan. Aroma segar kemudian masuk ke dalam paru-parunya. Membuatnya mengeliat dan berbalik mendekati aroma itu. Mencoba meraihnya seakan menggapai lautan lepas di dekat kaki.

Sesuatu baru saja ia sentuh dengan jemari tangannya. Sesuatu yang begitu dingin sampai Baekhyun membuka kedua matanya. Bayangan buram kemudian menghias rentinanya. Ia pun berkedip beberapa kali sampai mengusap pelan kedua matanya demi mengatur fokus. Dan betapa terkejutnya ia menemukan sosok yang lain di sampingnya. Sosok yang tidak asing dan juga begitu ia rindukan kehadirannya.

"Astaga, aku bermimpi lagi," kikiknya lucu memejamkan kembali matanya. Ia kembali mengeliat, mencoba memeluk guling di sampingnya. Tapi tiba-tiba saja tangannya digenggam. Diraih dengan begitu lembut, sampai Baekhyun ingin terbuai lagi ke alam mimpinya sendiri.

"Ini sudah pagi." Sebuah suara berat mengisi telinganya. Sayup-sayup menyusup ke dalam rongga dadanya yang sepi. Membuatnya kembali membuka mata dan sangat menginginkan mimpinya berubah menjadi nyata. "Kau sudah tertidur selama enam jam."

Betapa indahnya pagi Baekhyun menemukan senyum cerah itu menyambut dirinya. Ditambah dengan sebuah kecupan pada jemarinya yang mengundang rasa manis sampai relung hatinya. Dan semua itu sudah membunuh dingin pada lengannya yang sudah keluar dari lindungan selimut.

"Sekarang aku melihatmu, Chanyeol," gumamnya kembali mengusak kedua matanya.

Sebuah belaian di kepalanya datang. Baekhyun pun semakin berenang ke dalam kantuknya karena terlalu nyaman. Suara familiar itu kembali membelah tiap inderanya, mengundang senyum indah yang pagi ini belum ia bagi pada siapapun. "Selamat pagi, baby. Ingin kubuatkan sarapan?"

Baekhyun kembali terkikik di tengah kantuknya. "Aku tidak bisa bangun dari mimpi. Ini lucu sekali."

Sosok itu kemudian menarik pipinya gemas. Menyisakan rasa sakit yang membuatnya sedikit sadar. Benar-benar sadar. Dan anehnya sosok itu tidak menghilang atau tidak berubah seperti mimpi-mimpinya yang lain─meski ia sendiri sudah mengusak matanya berkali-kali. "Sekarang apa itu mimpi, hm?"

Pria mirip kekasihnya itu tertawa renyah, sedangkan ia membelalak di hadapannya. "T-tidak mungkin."

"Kau tidak rindu padaku?" tanyanya menopang kepalanya di atas bantal. Menatapnya penuh cinta dengan senyum lebar pagi harinya.

Baekhyun menggigit jemarinya. Benar-benar tidak percaya jika pria yang di hadapannya ini adalah Chanyeol, kekasihnya. Tapi bukankah pria itu masih sibuk di Berlin? "Chanyeol, ini benar-benar kau?"

Pria bermata bulat itu tidak bisa berhenti gemas melihat tingkah kekasihnya. Ia bahkan sudah kepalang bosan menahan jemarinya untuk tidak menarik tubuh itu ke dalam rengkuhannya. "Tentu saja."

"Sungguh?"

"Haruskah aku mencubit pipimu lagi?" Baekhyun segera menyeret selimutnya. Menyembunyikan wajahnya disana sampai ingin berteriak histeris. Ia luar biasa malu pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa sangat bodoh di depan kekasihnya ini? Sangat memalukan!

"Aku malu sekali," lirihnya samar. "Aku ingin menangis."

Chanyeol menarik selimutnya. Sangat berusaha mengeluarkan Baekhyun dari sana sebelum paginya berubah menjadi siang. "Kenapa kau harus menangis?"

Baekhyun semakin menarik selimutnya. Pria itu bahkan sudah bergulung dengan selimut untuk melindungi diri. Sebut saja, semakin mempersulit dirinya untuk keluar dari lilitan selimut. "Aku jelek saat tidur."

Chanyeol semakin terkikik dengan tingkah kekasihnya. Ia pun beranjak dari sana, menyeret tubuh kepompong itu mendekat padanya. Mencegahnya jatuh terguling ke lantai karena sebuah kecerobohan konyol.

"Pergi Chanyeol," berontaknya bagai ulat yang mengeliat kesana kemari.

Chanyeol tidak menyerah untuk menarik ujung selimut itu. Sangat berusaha untuk membuka jalan bernafas untuknya. Karena ia bisa saja khawatir jika Baekhyun tidak bisa bernafas di dalam sana. "Aku baru saja pulang, kenapa kau tidak mau memelukku?"

Untuk beberapa saat, akhirnya kepala Baekhyun mulai mengembul keluar. Mengundang senyum gemas kekasihnya yang ternyata sudah berada di hadapannya. "Aku belum mandi."

"Aku juga belum mandi. Jadi tidak masalah." Chanyeol kembali memberikan belaian di surai brunettenya. Dengan sabar pria itu membuka lilitan selimut Baekhyun. "Ayo, kita harus sarapan."

Baekhyun berkedip beberapa kali. Ia menggigit bibirnya sendiri sebelum mengatakan, "Aku sangat merindukanmu."

Lantas Chanyeol menghadiahkannya sebuah pelukan. "Aku juga," bisiknya di telinga.

e)(o

Sehun masih bersandar pada sandaran ranjangnya ketika seorang dokter terus memeriksa kondisinya. Di dekat jendela, kakaknya, Chanyeol, masih duduk dengan manis menyaksikan pemeriksaannya. Enggan mendekat karena ia bukanlah apa-apa perihal memeriksa kondisi. Jadi pria itu hanya bisa mempercayakan kekhawatiannya pada pria paruh baya yang sudah lama menangani ayahnya itu.

Sehun hanya menjawab apapun yang dokter itu tanyakan padanya. Melakukan beberapa gerakan kecil di kakinya dan juga bagian tubuh lainnya. Ia kemudian menjadi pendengar yang baik ketika dokter itu memberinya saran untuk tidak terlalu banyak berjalan selama pemulihannya.

"Berapa lama?"

Pria paruh baya itu kemudian mengemasi barang-barangnya. Meninggalkannya secarik kertas resep yang bisa ia tukar dengan beberapa obat nanti. "Mungkin dua bulan. Pergilah ke rumah sakit seminggu sekali untuk melihat kemajuannya."

Sehun lalu hanya bisa terdiam dalam lamunannya. Dua bulan bukanlah waktu yang singkat. Ia tidak mungkin menelantarkan pekerjaannya selama itu demi menyembuhkan kakinya.

Tiba pada Chanyeol yang beranjak dari sana untuk mengantar pria paruh baya itu sampai di depan pintu. Tak lupa mengucapkan terima kasih yang tulus dan juga melakukan obrolan kecil sebelum berpisah. Anggap saja lelucon penyegar suasana setelah lima belas menit terjebak dalam kekakuan adiknya.

"Dengar apa kata dokter? Kau harus banyak istirahat, jagoan," tutur pria tinggi itu melipat lengannya di dada. Sedangkan tubuhnya sudah bersandar pada kusen jendela.

Sehun memutar matanya jengah. Melihat kakaknya yang begitu repot memanggilkannya dokter, hanya karena mendengarnya kabur dari rumah sakit. Ia pun kembali merasa diperlakukan seperti anak-anak karena kekhawatiran berlebih milik kakaknya. "Aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku."

Chanyeol terkekeh. Ia rupanya bangga pada adiknya yang kini sudah berubah menjadi seorang pria gila kerja sepertinya. "Kau punya sekertaris. Kau bisa memberinya tugas."

Sehun berdecih. Ia merasa geli sendiri mendengar kakaknya memberikan ide brilliant semacam 'pengalihan tugas'. Mungkin Sehun bisa melakukannya kalau ia mau, tapi entah mengapa ia selalu merasa pekerjaannya akan berjalan dengan baik jika ia sendiri yang menanganinya. Bukan karena tidak percaya dengan Baekhyun. Tidak benar-benar begitu.

"Kenapa hyung tidak pulang ke rumah?"

Chanyeol tersenyum lucu mendengar pertanyaan polos itu. Ia tentu sangat kenal dengan Sehun yang tidak suka dikhawatirkan. Apalagi mendapatkan perlakuan tidak terduga seperti yang tengah ia lakukan untuknya ini. "Kau tidak suka hyung disini?"

Sehun bergerak menjuput ponselnya di atas nakas. Ia baru saja menerima sebuah email dari salah satu karyawan yang tidak bisa menemuinya di kantor. "Aku menugaskan Baekhyun untuk membawa hyung pergi dari rumah ini, tapi dia malah tertidur seperti orang pingsan semalam."

"Itu karena kau memberinya banyak tugas tambahan." Chanyeol mendekat pada adiknya. Mengambil duduk di tepi ranjang, lalu memeriksa diam-diam luka yang sudah mulai mengering di wajah adiknya itu. Sebuah lebam yang terlalu mencolok di kulit pucat itu kemudian mengalihkan perhatiannya. "Kalian berkelahi?"

Sehun menyingkirkan tangan kakaknya yang terus menarik-narik wajahnya. Ia sepenuhnya tidak ingin membahas masalah kecelakaan konyolnya dengan Kris. Setidaknya tidak sekarang, karena kakaknya itu akan berubah menjadi sangat cerewet. "Jadi kapan hyung menikah dan pergi dari sini?"

Chanyeol akhirnya menyerah dengan sikap keras kepala adiknya. Ia hanya bisa menghela nafasnya, kemudian berubah cemas dengan masalah rumit yang terus menimpa adiknya. "Pemkiranmu terlalu sempit, Sehunie. Kita tidak perlu terburu-buru untuk itu."

"Baekhyun ingin berhenti bekerja karena lelah denganku. Kalau hyung khawatir, mengapa hyung tidak membawanya ke Berlin?"

Chanyeol tersenyum kecil. "Dia tidak berkenan untuk itu," jawabnya berubah serius. Ia sangat mengerti bagaimana pemikiran pribadi Baekhyun. Kekasihnya itu tidak mungkin membiarkan Sehun melalui masalah ini sendiri, sedangkan ia telah menjerumuskan Luhan ke dalam masalah. "Kita pun tidak bisa memaksakan sesuatu. Tapi kalau keinginan itu akan menjadi milik kita, maka mereka tidak akan pernah pergi kemana-mana."

Sehun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sesungguhnya terlalu bosan untuk mendengarkan banyak petuah semacam ini. Walaupun sebenarnya ia sangat senang karena bisa berbicara dengan kakaknya yang gemar membicarakan hal-hal aneh. "Seperti biasa, hyung terlalu tua untuk berbicara denganku."

Chanyeol terkikik. Ia baru saja puas mengusak surai adiknya. Baginya, mau sebanyak apapun Sehun berubah menjadi dewasa, dia tetaplah adiknya yang manis. "Ayah akan datang besok malam."

Raut Sehun berubah malas. Entah bagaimana, mendengar kata 'ayah' selalu membuatnya kehilangan selera untuk melewati hari. "Aku lapar," keluhnya begitu datar. Sangat tidak cocok untuk berakting merengek seperti anak kecil.

"Kau pasti sedang mengalihkan pembicaraan." Chanyeol menggeleng tidak percaya. "Apa yang ingin kau makan?"

"Tidak rumit, hanya sesuatu yang ku suka."

Sekan mengerti Chanyeol beranjak dari sana. Meninggalkannya segera untuk memerintah banyak hal kepada pelayan rumahnya. "Baiklah. Tunggu sebentar."

Belum sampai di pintu, Sehun tiba-tiba kembali bersuara. Membuat Chanyeol berhenti melangkah dan berbalik hanya untuk mendengarkannya. "Hyung apa semua orang sudah makan?"

Salah satu alis Chanyeol naik karena sempat bingung dengan pertanyaan semacam itu. Karena Chanyeol begitu yakin bahwa sebelumnya Sehun tidak pernah perduli pada siapapun yang ada di rumahnya, termasuk perihal 'sudah makan atau belum'. "Maksudmu semua orang yang ada di rumah?"

Adiknya malah menggaruk kepalanya. "Maksudku, kita."

Chanyeol semakin bingung. Sempat terpikir kalau adiknya itu tengah berbicara omong kosong padanya. "Aku, Baekhyun dan kau?"

"Lupakan," sanggahnya menyerah.

"Ah, maksudmu Luhan?" Chanyeol kemudian berubah senang karena berhasil menerka dengan benar tebakannya. "Kami sudah makan dengannya sebelum kau bangun. Kenapa?"

Sehun mulai tidak mengerti dirinya. Entah mengapa ia bisa sangat penasaran dengan apa yang dilakukan adik palsunya itu selama ia berdiam diri di kamar. Ia tidak mungkin seperduli ini pada Luhan, bukan? Sebelumnya ia bahkan sangat tidak perduli jika Luhan tidak makan atau tidak keluar dari kamarnya. Tapi kenapa sekarang ia membutuhkan untuk melihat Luhan seakan segala hal yang dilakukannya itu penting baginya?

"Kita harus membicarakan sesuatu untuk besok malam." Ya, mungkin karena ia harus membicarakan sesuatu dengan pria itu. Sepertinya begitu.

"Hyung akan melakukannya," tawar kakaknya itu padanya. Chanyeol pasti begitu mengerti kondisi dirinya yang tidak begitu baik untuk memusingkan hal-hal lain selain lukanya.

Dan Sehun berhasil menolaknya. "Tidak, aku harus bicara dengannya."

e)(o

Luhan menuruni anak tangga dengan hati yang membuncah. Kakinya gemetar lebih dulu ketika hendak melewati lorong panjang di sisi kanan. Sebuah pintu besar ruang perpustakaan kini ia pegang salah satu ganggangnya. Ia menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum kemudian meyakinkan dirinya sendiri untuk segera membuka pintu.

Luhan tidak ingat kapan terakhir kali ia setegang ini saat ujian. Yang jelas tidak ada yang semendebarkan ini sebelumnya. Padahal ia hanya harus mendatangi ruang belajarnya seperti biasa. Namun kali ini sangat berbeda, karena bukan Baekhyun atau Minseok yang duduk di kursi itu, melainkan bosnya sendiri.

Ia kembali merasakan keanehan di dadanya ketika matanya mendapati manik hitam itu berpendar padanya. Duduk manis di kursinya dengan sebuah kertas di tangan. Entah apa yang sejak tadi dibacanya sampai ia melepas kertas itu dengan tidak berharga, alih-alih meyuruhnya duduk di kursi yang tersedia─tepat di hadapannya.

Luhan mulai gelisah dengan sekelilingnya. Ia tidak benar-benar bisa menatap bosnya itu seperti kemarin-kemarin. Ia tak lagi bisa mendengar suara Sehun seperti di telpon beberapa saat yang lalu, maupun menatap wajahnya yang begitu bersinar di dekat jendela. Lantas ia menyibukkan diri dengan menatap kedua tangannya di bawah meja. Tidak ingin menatap lurus seperti yang Sehun lakukan padanya sekarang.

"Ini mengenai acara makan malam," mulai pria itu bersandar pada kursi. "Kau harus mempelajari banyak hal dan juga sesuatu yang lain."

"Aku tahu," jawabnya pelan. Membuat Sehun semakin bertanya-tanya mengapa pria di hadapannya ini selalu menghindarinya.

"Kau tahu apa yang harus kau pelajari?" Luhan menggeleng pelan. Masih tidak mau menatap bosnya. "Kau baik-baik saja?"

"A-aku mungkin sedang tidak baik," ucap Luhan semakin menggenggam jemarinya. Ia sepenuhnya sudah merasa gugup setengah mati karena Sehun berbicara di hadapannya. "Ini semua karena hantu laut yang kuceritakan padamu."

"Tegakkan kepalamu," perintah Sehun. Dan pria itu sebenarnya tidak tertarik dengan cerita hantu yang Luhan ceritakan padanya.

"Sepertinya hantu laut mengikutimu," sambung Luhan dengan ceritanya yang masih berkutat pada tempat yang sama. Masih tidak ingin mendengar perintah bosnya meski sudah terjepit.

Sehun sekali lagi mengeluarkan perintahnya. Menegaskan Luhan akan sebuah perintah absolute─yang tidak boleh ia langgar. "Kau tahu adab berbicara yang baik, bukan? Tegakkan kepalamu."

"A-aku tidak bisa," jawab Luhan menggigit bibir bawahnya.

Sehun semakin tak mengerti dengan sikap adik palsunya itu. Membuat emosinya memuncak sendiri karena ia bosan menunggu kejelasan yang tidak ia mengerti. "Kenapa kau tidak bisa?"

"Hantu laut membuatku tidak baik-baik saja." Jawaban itu kembali membuat Sehun mendegus kesal.

"Berhenti berbicara tentang hantu, okay? Aku juga tidak bisa tidur karena ceritamu waktu itu."

Dan saat itu juga, akhirnya kepala Luhan berhasil tegak menatapnya. "Apa jantungmu juga berdetak? Kau merasakan sesuatu yang aneh seperti hatimu direbus? Atau kau mulai merasakan perutmu melilit tanpa sebab?"

Sehun menekan pelipisnya sendiri. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya berbicara dengan benar pada Luhan. Pria itu bahkan semakin terlihat aneh di kepalanya sekarang. "Apa yang sebenarnya kau bicarakan?"

"Aku selalu merasa aneh jika berada di dekatmu. Apa yang harus aku lakukan? Hantu laut mungkin saja mengikutimu." Luhan berubah merengek. Ia menjadi lebih frustasi ketika memikirkan keanehan dirinya sendiri.

Sehun menajamkan ekor matanya. Pikirannya diam-diam berpikir, mencari celah yang luas demi sebuah fakta yang ia cari. "Jadi ini alasan kau menghindariku?"

"Aku─"

Sehun kembali memegangi pelipisnya. Ia cukup lelah menghadapi keabu-abuan Luhan yang semakin membingungkan dirinya. "Kau tidak akan siap jika kau terus merasa seperti ini. Ayahku mungkin akan memintamu menikah dengan Kris. Dia akan mengorbankan adikku sebagai rasa terima kasihnya karena Kris sudah menyelamatkanku."

Entah darimana, terbesit di pikiran Sehun ide untuk beranjak dari kursinya. Berjalan ke depan Luhan dengan tongkatnya. Kemudian membuang tongkatnya ke lantai setelah berhasil mengambil atensi pria itu. Kedua tangannya kemudian meraih tiap pegangan kursi yang diduduki Luhan. Menggesernya dengan enteng lalu menurunkan tatapannya pada pria itu.

Terlalu terkejut, Luhan kini membelalakkan kedua matanya. Jantungnya pun mencengkram kuat-kuat. Setidaknya ia beruntung karena dadanya tidak berlubang. Karena jika ya, maka jantungnya mungkin sudah meloncat keluar meninggalkannya. "K-kenapa kau─"

"Kita harus menyelesaikan ini," tegas Sehun tidak mau dibantah. Ia pun tidak bisa berbohong jika jantungnya mendadak berdetak tidak normal ketika berada sedekat ini dengan Luhan. Entah apa yang terjadi, yang jelas Sehun ingin terus mengetahui penyebabnya. "Sekarang apa yang kau rasakan?"

Luhan tidak menjawab pertanyaannya. Gemetar sorot pria itu membayang di kedua maniknya. "Apa jantungmu berdetak? Wajahmu panas? Atau kau tidak bisa bergerak?" Sehun tidak tahu mengapa pertanyaan itu begitu pas dengan kondisinya saat ini. Ia lantas semakin menerka. Menerka banyak hal mustahil yang kemudian ia ciptakan sendiri kesimpulannya.

"A-aku takut," gugu pria itu menurunkan pandangannya.

Sehun meraih dagu sempit itu. Membawa wajah itu ke hadapannya, hingga Luhan mendongak dengan sorot gugupnya. "Kau tidak takut. Aku tahu kau bisa merasakan perbedaannya."

Degup jantung keduanya semakin terdengar. Berlomba memacu ketukan kasar, seakan berlomba untuk siapa yang lebih dulu melesak keluar. Sedangkan Sehun masih tidak memahami dirinya tentang mengapa ia begitu memuja wajah polos itu menatapnya. Menghias isi kepalanya sampai ia menginginkannya untuk berpindah ke dalam genggamannya sendiri. "Kau bisa menamparku kalau kau mau."

Luhan semakin ingin menggulingkan kedua bola matanya ketika menemukan wajah pucat itu semakin mendekat padanya. Ia begitu sukses dalam menelan ludahnya kasar. Tangannya bahkan tidak bisa bergerak. Dan ia bisa merasakan jantungnya memompa, wajahnya panas dan juga kebekuan panjang pada syaraf motoriknya.

Tepat ketika Sehun hendak memiringkan wajahnya, semburat hangat sudah menjalar di pipi Luhan. Nafasnya pun penuh sesak saat ia merasakan hembusan nafas pada bibirnya yang kering. Luhan sepenuhnya ingin menggerakkan tangannya. Ingin menampar pria itu atau minimal mendorongnya untuk menjauh. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Bodohnya ia yang bisa terkunci pada sosok di depannya ini.

Tidak kunjung mendapatkan tamparan, Sehun pun akhirnya berhenti mendekat. "Kau menyukaiku?" bisiknya membuyarkan atensi pria di depannya.

Luhan melemas, ia tidak mampu melakukan apapun setelah menerima ini semua. Namun setidaknya ia lega karena Sehun tidak menciumnya. "T-tidak," lirih Luhan setelah dagunya dilepas.

Sehun tersenyum miring. Ada sebuah kelegaan tersendiri ketika ia meyakini kesimpulannya yang menemukan titik terang. "Kau gugup, jadi itu benar?"

Namun Luhan tetap bersih keras, "Tidak."

Sehun memundurkan wajahnya. Menegakkan kembali punggungnya yang melengkung. Ia sebenarnya hampir memecahkan jantungnya sendiri karena bergerak seperti tadi. "Aku bisa melihatnya di wajahmu."

"Kau salah, itu tidak mungkin," geleng Luhan tidak mau menerima kesimpulan yang dibuatnya.

Sehun menyentuh ujung kepala Luhan. Bergerak pelan, menelusurinya sampai turun ke pipi yang memerah menatapnya. Hatinya kemudian berubah sendu. Mulai tenang mendengar degupan jantungnya di telinga. "Benar, jangan menyukaiku. Sudah sepantasnya─

─kita tidak saling jatuh cinta."

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari ini sepertinya aku tidak punya kata-kata untuk disampaikan #duliamat Jadi aku mau ngomong aja sama kalian.

Oke yang pertama, buat Guest217, bapak Chanyeol sudah pulang. Dan Chanbaek sudah keluar dari ruang LDR-nya. Semoga kamu suka ya. Buat seluhundeer dan Luhan204, aku sampe hafal nama kalian loh. Review kalian adalah semangatku. Kemudian dokyuul, aku no komen aja boleh gak sama kamu? Kamu dabest pokoknya. MintBerry1220, apakah kamu orang yang kukenal? :D Bagaimanapun terima kasih karena sudah mampir dan memberikan review.

Untuk kalian yang baca two sides, terima kasih, kuharap kalian tidak bosan.

See you,

#maafjikaadakesalahannama