CHAPTER 15

Setelah membereskan urusannya, Siwon cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Ia tak menengok lagi pada Kim Chul Sik yang masih terkapar di gang itu. Siwon tak peduli apakah anak itu masih hidup atau sudah sekarat.

Butuh perjuangan bagi Siwon untuk mengetahui keberadaan Kim Chul Sik. Malam itu, saat ia tak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Kyuhyun, Siwon langsung menghubungi Shim Changmin. Sialnya, Shim Changmin pun seiya sekata dengan Kyuhyun. Changmin tidak mau memberitahukan apa-apa pada Siwon.

Siwon sangat tahu ia tak akan bisa mengorek keterangan dari mulut Kyuhyun. Sekali anak itu bungkam, ia tak akan pernah mau membuka mulutnya. Siwon tak menyangka ia cukup beruntung mendapatkan informasi yang sangat akurat tentang siapa yang telah melukai Kyuhyun.

Untungnya pagi itu, setelah ia menurunkan Kyuhyun di tikungan jalan seperti biasanya, Siwon melihat anak kurus berkacamata dengan membawa sepeda yang sama persis dengan milik Kyuhyun. Anak itu memakai seragam yang sama dengan Kyuhyun. Mereka pasti satu sekolah, bahkan bisa saja sekelas.

Siwon tak merasa ragu kalau itu sepeda Kyuhyun karena Kyuhyun selalu menempelkan stiker bertuliskan STARCRAFT pada barang-barang miliknya. Stiker mencolok berwarna biru metalik itu tertempel di bagian depan stang sepedanya.

Siwon segera memutar balik arah mobilnya dan menghentikan sepeda itu. Siwon melihat anak itu, yang berhenti mendadak di belakang mobilnya, terlihat mengerut penuh tanya.

"Itu sepeda Kyuhyun kan?" tanya Siwon tanpa basa-basi.

Anak yang ditanyai Siwon menatap horor ke arahnya, mungkin anak itu ketakutan. Well, siapa juga yang tidak takut dengan penampilan Siwon pagi itu yang mirip mafia lengkap dengan kaca mata hitamnya.

"Anda siapa?" tanya anak itu takut-takut.

"Aku kakaknya. Kau siapa? Mengapa sepeda Kyuhyun ada padamu?" kejar Siwon.

"Kyuhyun menyuruhku membawanya puang. Dia sakit semalam," jelas Ryeowook pada Siwon.

'Jadi, ini kakak Kyuhyun yang semalam menjemput' pikir Ryeowook. Melihat penampilannya, sama sekali tak mirip kuda. Semalam Ryeowook tak bisa melihat dengan jelas wajah kakak Kyuhyun karena tempat mereka yang cukup jauh dari pandangan matanya.

"Siapa namamu?" tanya Siwon ingin tahu.

Siwon menurunkan kacamatanya dan menatap anak yang ada di depannya itu. Mungkin saja ia bisa mengorek keterangan yang ia inginkan.

"Kim Ryeowook," jawabnya singkat.

"Ah, kau yang mengangkat telepon semalam?" tanya Siwon.

Kim Ryeowook mengangguk. Ia masih bertanya-tanya dalam hati. Sepertinya Ryeowook pernah melihat kakak Kyuhyun ini, tapi ia lupa kapan dan di mana. Ingatan Ryeowook tentang seseorang memang sangat payah.

"Kau ada bersama Kyuhyun semalam kalau begitu. Apa yang terjadi dengannya?" tanya Siwon lagi.

"Tidak tahu. Sepulang sekolah saya menghabiskan waktu di perpustakaan. Saat melewati tempat parkir saya menemukan telepon genggam Kyuhyun tergeletak di sana, tapi Kyuhyun tidak ada," jelas Ryeowook.

"Apa ada orang lain yang bersama Kyuhyun waktu itu?"

"Saya juga tidak tahu. Tapi, sebelum Kyuhyun mengambil telepon genggamnya ada Kim Chul Sik dan teman-temannya yang melewati tempat parkir," kata Ryeowook.

"Siapa Kim Chul Sik?" tanya Siwon mencoba mengorek keterangan lebih banyak dari Ryeowook.

"Kim Chul Sik terkenal sebagai preman sekolah. Tak ada yang berani melawannya," jawab Ryeowook.

"Kyuhyun punya masalah dengannya?" tanya Siwon lagi.

"Sepertinya tidak. Tapi, awal masuk sekolah Kyuhyun pernah dipukul Kim Chul Sik. Bukan hanya Kyuhyun, sebenarnya. Ada beberapa anak lain yang juga dipukul Kim Chul Sik," ujar Ryeowook.

Ryeowook masih ingat betul peristiwa itu. Saat beberapa anak menerima salam perkenalan dari Kim Chul Sik. Ryeowook sampai muntah-muntah saat perutnya menerima pukulan dari Kim Chul Sik.

"Begitukah? Kyuhyun tak pernah mengatakan apa pun tentang hal itu. Di mana aku bisa bertemu Kim Chul Sik?"

"Biasanya kalau di sekolah, ia dan teman-temannya menghabiskan waktu di kebun belakang sekolah. Tapi, kalau di luar sekolah, saya tidak tahu," kata Ryeowook.

"Kau bisa menunjukkan padaku yang mana Kim Chul Sik?" tanya Siwon penuh harap.

Kim Ryeowook membelalakkan matanya mendengar permintaan Siwon itu. Menunjukkan Kim Chul Sik pada Siwon sama saja bunuh diri. Ryeowook masih ingin hidup tenang dan panjang umur.

"Aku tidak berani," kata Ryeowook ketakutan.

Berurusan dengan Han Kaisoo saja sudah membuatnya hendak mati berdiri apalagi jika harus berurusan dengan Kim Chul Sik. Ryeowook tak berani membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti.

"Kenapa?"

"Saya tidak mau berurusan dengannya. Anda bisa menanyakan pada yang lain tentang Kim Chul Sik," sergah Ryeowook.

"Begitu, ya. Sayang sekali," kata Siwon sambil mendesah kecewa.

"Ah, barangkali Anda bisa menayai anak yang baru saja turun dari bus itu. Yang pakai tas hitam itu. Dia teman Kim Chul Sik. Jangan bilang padanya kalau Anda tahu dari saya, ya?" pinta Ryeowook dengan wajah memelas.

Siwon mengarahkan pandangannya pada seorang anak yang memakai ransel hitam, yang baru saja turun dari bus. Anak pendek dan agak gemuk yang terlihat melangkah dengan ogah-ogahan.

"Arraseo, aku tak akan bicara tentangmu padanya. Terima kasih. Kau boleh pergi sekarang!" kata Siwon pada Ryeowook.

Kim Ryeowook cepat-cepat meninggalkan Siwon dan mengayuh sepedanya lagi menuju sekolah. Sementara itu, Siwon dengan senyum sinisnya terus menatap anak yang baru ditunjukkan Ryeowook padanya. Hari ini, Siwon nampaknya harus bolos kuliah hanya untuk menunggu mangsanya keluar.

Siwon memasuki rumahya yang sudah sepi. Sudah pukul 11 malam. Semua orang pasti sudah terlelap dan terbuai mimpi malam ini. Siwon melangkahkan kakinya menuju lantai atas. Di depan pintu kamar Kyuhyun ia berdiri mematung untuk beberapa saat.

Siwon membuka pintu kamar yang tak pernah dikunci pemiliknya. Ruangan itu nampak remang-remang. Lampu di dalam kamar memang tak menyala, namun cahaya lampu dari balkon kamar Kyuhyun masih dapat menerobos masuk melalui ventilasi.

Kyuhyun sudah tertidur lelap rupanya. Selimut menutupi tubuhnya hingga sebatas leher. Siwon duduk di sisi ranjang adiknya itu. Ia suka melihat saat Kyuhyun tidur seperti itu. Wajahnya nampak damai. Kontras sekali kalau anak itu sedang terjaga.

Siwon sangat menyayangi adiknya itu. Kyuhyun satu-satunya adik yang ia miliki. Siwon mendapatkan adik saat ia berumur 12 tahun. Dulu saat Siwon berumur 7 tahun, ia hampir mendapatkan seorang adik. Sayangnya, adiknya hanya beberapa saat menghirup udara dunia. Tuhan lebih menyayangi adiknya itu dan memanggilnya kembali ke pangkuan-Nya.

Dua tahun berselang, Ibu Siwon juga meninggal karena sakit. Saat itu Siwon masih berumur 9 tahun. Setelah Siwon kehilangan adiknya, ia pun harus merelakan ibunya pergi. Siwon semakin terpuruk dalam kesedihan dan kesunyian.

Siwon sangat kesepian. Ia tak punya saudara. Ayahnya pun sangat sibuk bekerja. Sehari-hari, ia hanya ditemani asisten rumah tangga. Sebagian besar waktunya dihabiskan di luar rumah mengikuti banyak les dan kursus.

Siwon merindukan kehadiran seorang adik. Ia ingin memiliki seseorang yang dapat diajaknya bermain dan mengisi hari-harinya yang sepi. Ia ingin seperti teman-temannya yang lain yang sering menceritakan tentang kelucuan atau kenakalan adik-adiknya.

Siwon ingin seperti itu. Ia ingin seperti Jung Yunho, teman sekelasnya, yang selalu bercerita tentang adiknya. Setiap kali Siwon bermain di rumahnya, adik Yunho yang baru berumur 5 tahun selalu mengikuti mereka dan bergelayut manja pada kakaknya. Siwon sampai merasa iri dibuatnya.

Bertahun-tahun ia menghabiskan waktunya seorang diri. Meratapi dunianya yang sepi. Namun, semua itu terbayarkan saat ia mendapatkan Kyuhyun sebagai adiknya. Kyuhyun memang bukan adik kandungnya. Kyuhyun menjadi bagian dari keluarganya saat berumur 6 tahun. Saat ayahnya menikah dengan ibu Kyuhyun.

Kyuhyun pun sama seperti Siwon. Kyuhyun tak punya ayah. Kalau Siwon masih sempat mengecap kasih sayang ibunya selama 9 tahun, Kyuhyun malah tak pernah mengenal ayahnya.

Ayah Kyuhyun meninggal dua bulan sebelum ia lahir karena kecelakaan pesawat terbang. Jika Siwon mendapatkan ibu dan seorang adik yang selalu diidam-idamkannya, Kyuhyun pun mendapat seorang kakak dan ayah yang tak pernah ia kenal.

Meskipun bukan saudara kandung, namun kasih sayang ayah dan ibunya tak pernah berbeda. Mereka mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang sama besarnya. Setiap saat, ayahnya selalu mengingatkan bahwa mereka bersaudara. Mereka harus saling menyayangi dan saling menjaga.

Siwon sadar ia memperlakukan adiknya itu dengan sangat ketat. Ia bukan ingin mengekang Kyuhyun, namun ia ingin melindungi adik satu-satunya itu. Kyuhyun pernah hampir meninggalkan mereka saat berumur 10 tahun karena meningitis. Ia bahkan tertidur selama tiga hari. Siwon sangat takut kalau adiknya itu tak bisa bangun lagi dari tidur panjangnya.

Meningitis penyakit yang mengerikan. Dari yang Siwon ketahui kemungkinan sembuh total sangat kecil. Haya sekian persen penderita meningitis yang dapat sembuh tanpa terkena risiko komplikasi yang permanen. Beruntung Kyuhyun dapat melalui itu semua dan tetap sehat sampai saat ini.

Seringkali Kyuhyun mengeluhkan sikap Siwon yang dirasa sangat keterlaluan itu. Kyuhyun merasa ia sudah cukup besar untuk dapat berdiri di atas kakinya sendiri. Kyuhyun merasa ia sudah mulai besar untuk dapat menjalani hidupnya sendiri, tanpa bergantung pada siapa pun.

Namun, di mata Siwon, Kyuhyun tetaplah adik kecilnya. Sebesar apa pun Kyuhyun, ia selalu menjadi adik kecil Siwon. Kyuhyun yang sekarang masih sama seperti Kyuhyun yang berumur 6 tahun. Yang harus selalu ia jaga dan ia lindungi. Hanya Kyuhyun satu-satunya saudara yang ia punya.

"Be good, be happy, and be healthy, Kyu," ucap Siwon lirih sambil mengusap rambut Kyuhyun.

Siwon tak ingin mengganggu tidur adiknya itu. Pelan-pelan Siwon pun keluar dari kamar Kyuhyun. Ia menatap buku jari-jarinya yang masih terdapat noda darah. Ah, rupanya Siwon belum sempat membersihkan noda darah Kim Chul Sik yang mengotori tangannya itu.

Kyuhyun menggeliat malas pagi itu. Kyuhyun memang selalu mengeluh kalau harus bangun pagi. Ia masih ingin bergelung dalam selimut tebalnya yang hangat. Kyuhyun melihat jam digital yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Masih jam enam pagi. Masih ada banyak waktu sebelum ia berangkat sekolah pagi itu. Sekolah baru dimulai pukul delapan.

Kyuhyun duduk di kepala ranjangnya sambil menguap lebar-lebar. Semalam ia tidur cepat karena sangat mengantuk. Tapi ada baiknya juga ia tidur cepat karena pagi ini ia bisa bangun lebih cepat sebelum ibunya membangunkannya.

Ibunya yang mengomel saat Kyuhyun susah bangun adalah rutinitas pagi yang selalu terjadi di rumah itu. Kadang Siwon yang membangunkannya. Jika Siwon tidak mempan, baru ibunya yang turun tangan membangunkannya.

Kyuhyun masih enggan bangun dari ranjangnya. Ia masih duduk bersandar dengan malasnya. Mungkin saat ibunya masuk ke kamarnya nanti, baru ia akan beranjak untuk mandi.

Kyuhyun menguap sekali lagi. Ia mengambil telepon genggam yang ada di meja dekat tempat tidurnya.

Hanya ada notifikasi tidak penting yang masuk. Kyuhyun malas membukanya pagi-pagi. Nanti saja di sekolah, Kyuhyun akan membukanya satu per satu dan menghapusnya jika benar-benar tidak penting.

Kyuhyun meletakkan kembali telepon genggamnya di atas meja. Namun sedetik kemudian ia buru-buru menyapu hidungnya dan melihat punggung tangannya.

Kyuhyun buru-buru bangun dan mengaca pada cermin besar di atas wastafel. Ia memerhatikan hidungnya, namun tak ada yang aneh. Hidungnya baik-baik saja.

Kyuhyun kembali ke ranjangnya dan memerhatikan selimutnya. Ada bercak merah di salah satu bagian selimutnya, seperti bercak darah. Tidak banyak memang, tapi tetap saja membuatnya resah. Mulanya Kyuhyun mengira ia mimisan lagi, namun setelah ia melihat dirinya dalam keadaan baik-baik saja, mau tak mau ia merasa heran.

Pintu kamar Kyuhyun terbuka. Ibunya yang berdiri di depan pintu menatapnya heran saat melihat anaknya itu sudah bangun.

"Kau sudah bangun, eoh?" tanya eomma Kyuhyun heran.

"Eomma masuk ke kamarku semalam?" tanya Kyuhyun.

"Tidak. Semalam Eomma hanya melihatmu dari ambang pintu karena kau sudah tidur," jawan eomma Kyuhyun, "ada apa?"

Kyuhyun memperlihatkan selimutnya yang bernoda pada eommanya itu. Eomma Kyuhyun pun mendekat supaya dapat melihat lebih jelas.

"Apa ini? Kau mimisan lagi atau terluka?" tanya eomma Kyuhyun pada anaknya itu.

"Aku tidak apa-apa. Makanya aku merasa heran karena ada noda seperti ini. Eomma yakin tak menyentuh selimutku?" tanya Kyuhyun merasa ganjil.

Eomma Kyuhyun menggeleng. Beliau juga sama herannya dengan Kyuhyun.

"Coba tanyakan pada hyung-mu. Siwon juga sering masuk ke kamarmu kan?" kata eomma Kyuhyun sebelum berlalu dari kamar Kyuhyun.

Kyuhyun terdiam. Di rumah ini memang tak ada yang bisa masuk ke kamarnya tanpa sepengetahuannya, kecuali orang tua dan kakaknya itu. Tapi Kyuhyun merasa ragu. Hyungnya itu memang seringkali masuk ke kamarnya tanpa izin. Mungkin saat Kyuhyun tidur pun hyung-nya itu juga sering memasuki kamarnya tanpa izin. Tapi, melihat bercak merah itu, Kyuhyun tak yakin kalau itu hyung-nya.

Kyuhyun mengayunkan langkahnya menuju kamar Siwon yang terletak persis di sebelah kamarnya. Tanpa permisi ia langsung membuka pintu kamar hyung-nya itu. Siwon baru saja selesai mandi. Ia yang sedang mengeringkan rambutnya mengernyit heran saat Kyuhyun membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Semalam kau masuk ke kamarku, Hyung?" tanya Kyuhyun tanpa basa-basi.

"Iya, kenapa" tanya Siwon tak mengerti.

Kyuhyun menunjukkan selimut yang diseretnya dari kamar pada Siwon. Ia menunjukkan bercak merah yang mengotori selimutnya itu.

"Ini apa?" kata Kyuhyun balik bertanya.

Mulut Siwon terkatup menatap selimut yang bernoda darah itu. Semalam Siwon lupa membersihkan tangannya terlebih dahulu sebelum memasuki kamar adiknya itu.

"Bukan darahku," jawab Siwon.

"Dari mana kau tahu ini darah? Kau belum melihatnya dengan teliti. Apa yang sudah kaulakukan?" kejar Kyuhyun.

Kyuhyun merasa khawatir. Ia takut Siwon sudah melakukan sesuatu yang ia khawatirkan selama ini.

"Hanya darah dari orang yang tidak berguna," jawab Siwon santai seolah-olah apa yang dilakukannya semalam bukanlah sesuatu yang harus diributkan.

"Siapa?" tanya Kyuhyun gamang.

"Orang yang sudah memukulimu. Siapa lagi?" jawab Siwon.

"Dari mana kautahu siapa yang memukuliku? Kau tidak salah menghajar orang kan?" tanya Kyuhyun bertambah cemas.

Kyuhyun terkejut karena hyung-nya itu bisa sampai tahu siapa orang yang sudah memukulinya. Hanya Kyuhyun yang tahu peristiwa itu dan Kyuhyun juga yakin ia tak pernah memberi tahu apa-apa pada Siwon.

"Kim Ryeowook. Dia memberitahukan semuanya padaku," ucap Siwon sambil menatap Kyuhyun.

Kyuhyun terpaku. Satu orang yang lagi-lagi ia lupakan. Ia terlalu sibuk menyuruh Changmin untuk bungkam sampai-sampai ia lupa bahwa Kim Ryeowook ada di tempat yang sama dengannya malam itu. Kyuhyun bahkan menyuruh Ryeowook membawa sepedanya pulang.

"Apa yang sudah kaulakukan?" tanya Kyuhyun lagi.

"Hanya melakukan tugasku. Memberi pelajaran pada orang yang sudah mengganggumu. Namanya Kim Chul Sik kan? Sekarang orang itu tak akan berani lagi mencari masalah denganmu," terang Siwon tenang.

"Apa yang kaulakukan padanya?" kejar Kyuhyun.

"Hanya sedikit memukulnya. Sama seperti yang sudah ia lakukan padamu," kata Siwon lagi.

"Hanya sedikit katamu? Hanya sedikit tapi hasilnya seperti ini?" teriak Kyuhyun gusar.

Kyuhyun benci jika Siwon sudah melampaui batas seperti ini. Untuk alasan apa pun, Kyuhyun tak pernah setuju jika kakaknya itu menggunakan kekerasan untuk membelanya.

"Itu sepadan dengan apa yang sudah ia lakukan padamu," jawab Siwon.

Siwon tahu adiknya itu akan sangat marah kalau mengetahui apa yang sudah dilakukannya pada Kim Chul Sik. Mereka berdua memang tak pernah sepaham jika sudah menyangkut hal yang satu ini.

"Aku tak suka kalau kau sudah keterlaluan, Hyung. Apa pun alasannya aku tak pernah menyukainya. Bisakah kau berhenti mencampuri hidupku. Aku bisa mengurus masalahku sendiri," teriak Kyuhyun geram.

"Pulang sekolah dengan perut memar, itu yang kaubilang bisa mengurus masalahmu sendiri. Aku tak tahu sudah seberapa sering kau diperlakukan seperti itu. Tapi aku yakin itu bukan yang pertama. Aku hanya memastikan itu terakhir kaliya Kim Chul Sik berbuat seenaknya padamu," ucap Siwon tegas.

Kyuhyun menatap hyung-nya itu dengan gusar. Kyuhyun tak pernah menyukai kekerasan. Semua hal tak harus diselesaikan dengan kekerasan. Masih banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan suatu masalah.

Kyuhyun tak mau hyung-nya seperti Han Kaisoo yang hanya bisa mengandalkan uangnya untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak disukainya. Ia tak mau seperti Han Kaisoo yang hanya bisa menindas orang lain. Kyuhyun juga tak mau hyung-nya itu menghalalkan segala cara hanya untuk membalaskan rasa sakitnya.

"Ini terakhir kalinya kau ikut campur urusanku, Hyung. Aku tidak mau kau mengulanginya lagi. Aku akan sangat membencimu kalau sampai terjadi lagi. Aku sungguh-sungguh kali ini," ancam Kyuhyun pada kakaknya itu.

Kyuhyun membanting pintu kamar Siwon kasar dan meninggalkan Siwon yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Siwon mengusap wajahnya kasar dan membuang napasnya yang terasa berat.

Siwon hanya ingin melakukan tugasnya sebagai kakak. Seorang kakak yang baik pasti akan selalu melindungi adiknya. Siwon merasa ia sudah melakukan hal yang benar. Sayangnya, Kyuhyun tidak menyukai apa yang telah dilakukannya untuk membela adiknya itu.

"Kyuhyunie, aku hanya ingin melindungimu," keluh Siwon lirih.

Kyuhyun masih memandangi mobil putih yang diparkir di ujung jalan sekolahnya itu. Ini sudah hari kesekian mobil itu ada di sana, mengamati dan mengawasinya. Kyuhyun tahu siapa dan alasan apa yang membuat pemilik mobil itu mengawasinya dari kejauhan.

Kyuhyun sudah berhari-hari mendiamkan pemilik mobil itu. Hanya untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar marah dan tidak menyukai apa yang sudah dilakukan pemilik mobil itu untuknya. Namun, tampaknya pemilik mobil itu malah menguntitnya ke mana pun ia pergi.

Hari ini, Kyuhyun kembali meminta Kim Ryeowook membawa pulang sepedanya. Bukan tanpa alasan Kyuhyun melakukan hal itu. Hari ini ia memutuskan untuk menyelesaikan masalahnya dengan orang yang setia menunggunya di dalam mobil.

Kyuhyun menunggu suasana sekolah agak sepi sebelum ia melangkahkan kakinya menuju mobil putih itu. Kyuhyun mengetuk kaca mobil itu dan menunggu pengemudinya membuka pintu otomatis untuknya.

"Aku lapar," kata Kyuhyun sambil mengaitkan seat belt-nya setelah duduk di dalam mobil.

"Kalau begitu kita langsung pulang. Di mana sepedamu?" kata Siwon, pemilik mobil putih itu sambil menyalakan mesin mobilnya.

"Kim Ryeowook membawanya pulang. Aku tak mau makan di rumah hari ini," jawab Kyuhyun.

"Kau ingin ke mana?" tanya Siwon lagi.

"Sienseon," jawab Kyuhyun singkat.

Siwon melajukan mobilnya menuju tempat yang ditunjuk Kyuhyun. Sienseon adalah rumah makan tradisional langganan keluarga mereka. Tempatnya nyaman dan makanannya pun enak. Kyuhyun sangat suka makan di sana karena suasananya seperti rumah yang tenang.

Tak ada percakapan yang terjadi di antara mereka berdua. Kyuhyun hanya melihat keluar jendela dan tak melirik pada hyung-nya yang membawa mobil. Ia terlalu kalut dengan pikirannya.

Siwon pun tampaknya juga tak mau mengganggu kegiatan adiknya itu. Siwon tahu Kyuhyun masih marah padanya. Ia pun menyetir dengan tenang ke arah tujuannya.

Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikendarai Siwon berhenti di pelataran parkir yang cukup luas. Di depannya berdiri bangunan rumah tradisional Korea yang gemerlap dengan cahaya lampu. Ada banyak kendaraan lain di tempat parkir itu. Sienseon memang tak pernah sepi pengunjung.

Pelayan Sienseon mengantar mereka ke salah satu bilik yang tersedia di sana. Pelayan itu juga menunggu kedua tamunya itu memesan makanan yang ingin mereka nikmati.

"Jjigae?" tawar Siwon pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk. Kakaknya itu sudah tahu makanan apa saja yang ia sukai maupun yang tidak ia sukai. Kyuhyun tak akan menolak makanan apa pun yang disodorkan padanya, asalkan bukan sayuran.

Siwon menyebutkan pesanannya yang dicatat pelayan itu dengan cepat. Selain jjigae, Siwon juga memesan bulgogi, yangyeom galbi, dan dwaejigul mari untuk mereka berdua.

"Aku ingin makgeolli," kata Kyuhyun sebelum pelayan itu berlalu.

"Tidak terlalu banyak," ucap Siwon mengingatkan.

Makgeolli termasuk minuman beralkohol. Meskipun Kyuhyun berulang kali mencicipi wine milik appa secara diam-diam, namun Siwon tak ingin adiknya itu terlalu banyak mengonsumsi alkohol.

Pelayan itu berlalu meninggalkan ruangan Siwon dan Kyuhyun, namun tak lama kemudia ia kembali sambil membawa beberapa kudapan dan makgeolli. Kyuhyun pun tak menyia-nyiakan apa yang tersaji di atas meja. Kudapan di atas meja pun cepat berpindah ke dalam perutnya.

"Makan dulu," kata Siwon sambil menjauhkan botol makgeolli dari jangkauan Kyuhyun.

Yang ditegur pun mengerutkan bibirnya sebal. Hyung-nya itu sering sekali mengganggu kesenangannya. Kyuhyun menatap kakaknya itu. Ia masih berpikir keras kalimat apa yang akan ia katakan agar kakaknya itu berhenti memata-matainya.

"Berhenti mengawasiku, Hyung!" kata Kyuhyun akhirnya setelah ia tak menemukan kalimat yang pas untuk berbasa-basi.

Kyuhyun tak pandai berbasa-basi. Ia terbiasa mengatakan apa yang ada di pikirannya secara langsung, bahkan seringkali tanpa memikirkannya terlebih dulu.

"Beri alasan yang masuk akal padaku!" jawab Siwon sambil meletakkan sumpitnya.

"Karena aku sudah besar," kata Kyuhyun asal.

"Kau tak cukup besar bagiku."

"Aku bisa menjaga diriku sendiri," tambah Kyuhyun.

"Aku tak melihat kenyataannya seperti itu," kata Siwon.

"Hyung!"

"Kau tak menjelaskan padaku tentang peristiwa terakhir. Changmin pun nampaknya juga sudah bersekongkol denganmu. Hyung mana pun di dunia ini pasti juga akan melakukan hal yang sama denganku," ucap Siwon yang kukuh dengan pendiriannya.

"Aku tahu apa yang akan kaulakukan. Itu sebabnya aku tak mau bercerita," dalih Kyuhyun.

"Sampai kapan, Kyu? Sampai kapan kau akan melindungi orang lain yang justru ingin mencelakaimu? Orang yang melukaimu tak memerlukan itu," kata Siwon.

Kyuhyun membuang napasnya kasar. Hyung-nya itu keras kepala, sama seperti dirinya. Bedanya hyung-nya itu kadang kehilangan akal sehat jika ototnya sudah mulai bekerja.

"Mari sepakat meskipun kau tidak sepakat, Hyung!" kata Kyuhyun akhirnya.

Siwon menautkan alisnya. Sepakat meskipun tidak sepakat bukanlah suatu kesepakatan menurutnya.

"Aku menolaknya," ucap siwon.

"Hyung, dengarkan penjelasanku dulu!" desak Kyuhyun.

Kyuhyun menatap Siwon mantap. Sekaranglah saat yang tepat untukya untuk membuka mata dan pikiran Siwon tentang dirinya.

"Aku tahu kau sangat menyayangiku. Appa dan eomma mendidik kita sejak kecil untuk selalu menyayangi dan melindungi. Kau kakak terbaik untukku dan dan aku berterima kasih untuk itu. Aku pernah memintamu untuk memberiku kepercayaan. Kepercayaan untuk dapat menjaga diriku sendiri. Kadang kala aku memang mengalami hal menyedihkan dan menyulitkan. Hidupku tak selamanya akan selalu baik-baik saja kan, Hyung?" kata Kyuhyun panjang lebar.

"Hyung yang akan memastikan kau baik-baik saja. Tak usah khawatir," kata Siwon.

"Tapi, aku ingin mengalaminya."

"Huh, maksudmu?" tanya Siwon tak mengerti.

"Aku ingin mengalami semua hal dalam hidupku, Hyung. Aku ingin merasakan bahagia, senang, nyaman, sedih, susah, kecewa, sakit, celaka. Aku ingin merasakan semuanya itu."

"Coret kata terakhir dari daftar keinginanmu. Hyung tak pernah ingin itu terjadi padamu."

"Hyung, kau dan appa seringkali mengingatkanku untuk selalu waspada dengan orang-orang di sekitarku. Aku harus jeli menilai siapa saja yang bisa kupercaya dan mana yang tidak. Aku juga harus mampu berdiri di atas kakiku sendiri, betapa pun sulitnya. Kalau aku tak memulainya dari sekarang, kapan lagi? Aku tidak meminta semua kebasanku aku hanya minta sedikit saja. Aku juga ingin tumbuh seperti remaja lain. Hidup normal tanpa dibayangi ketakutan-ketakutanku atau pun kekhawatiranmu yang berlebihan. Percaya padaku, aku pasti bisa melaluinya. Adikmu ini lebih kuat dari yang kaubayangkan," pinta Kyuhyun.

"Benarkah? Lalu kejadian kemarin?"

"Anggap saja aku sedang lengah atau sial. Seringkali hal seperti itu terjadi tanpa bisa kita prediksi kan? Aku bisa saja celaka saat ada di dekatmu kalau memang kemalangan itu sudah saatnya menimpaku."

Siwon mengembuskan napasnya dan menatap langit-langit ruangan yang ditempatinya itu. Memang benar ia tak bisa mengawasi Kyuhyun terus-menerus. Ia tak bisa memastikan hidup Kyuhyun akan selamanya menyenangkan.

Ada kalanya adiknya itu akan menghadapi kerasnya hidup. Kyuhyun tak akan sanggup melewati badai kalau Siwon selalu menyembunyikannya dalam cangkang emas. Adiknya itu perlu merasakan berbagai pengalaman hidup.

"Arraseo, aku mengerti keinginanmu itu. Hanya saja Hyung ingin kau tahu bahwa kau bisa mengandalkan Hyung. Sesulit apa pun masalah yang kauhadapi kau tahu Hyung akan selalu mendukungmu. Cha, sudah cukup kita membahas hal ini. Aku sudah lapar," kata Siwon pada Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum mendengar jawaban Siwon itu. Ia cukup senang kakaknya itu mau mengerti keinginannya, meskipun belum dapat menerima semua kehendaknya. Tapi paling tidak Siwon mau memberinya sedikit kepercayaan. Kyuhyun hanya berharap Siwon mampu menahan dirinya terhadap apa pun atau siapa pun yang berniat buruk padanya.

TBC

Today is the day. Akhirnya, uri magnae wamil juga. Sedih harus melepas dia pergi. Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Apa pun itu aku berharap yang terbaik untuk Kyuhyun. Jaga kesehatan dan jaga diri baik-baik. Kami akan selalu menunggumu untuk kembali. Sampai jumpa dua tahun lagi dengan suara indahmu. See u in two years, uri Kyuhyunie. We will waiting for you.