Meski hubungan nya dengan Kris sudah membaik bukan berarti dia bisa bersikap leluasa di rumah. Ingat hanya Kris yang berbaikan dengannya, ayah dan ibu nya tidak. Jadi jangan berharap keadaan mulai membaik. Ia bahkan tak berani menegur Kris selama di rumah.Mereka hanya melakukan kontak mata dengan sedikit senyuman canggung antar satu sama lain.
"Jong... ingin ke kantin?"
"Tidak Chan, aku ingin di kelas saja." Tanpa menanyakan alasan Jongin , Chanyeol segera pergi meninggalkan pria itu sendirian di kelas.
Jongin mengambil buku latihan soal nya dan mengerjakan soal tersebut. Karena terlalu fokus ,Jongin bahkan tak menyadari jika ada seseorang yang masuk ke dalam kelasnya dan duduk di kursi Chanyeol yang tepat di depan Jongin.
Tukk
"Eoh?" Mata Jongin membulat saat melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Kau terlalu fokus, eoh? Sampai-sampai mengabaikan ku..." si pria mengusak rambut Jongin sayang.
Plakk
"Bagaimana kau bisa kemari? Bagaimana jika teman-teman mu tahu?" Jongin memukul pundak pria itu.
"Sehun dan yang lainnya sedang ada di kantin. Tak perlu khawatir. Lagipula apa salah jika kakak mu datang kemari?" Jongin tersenyum mendengar penuturan Kris. Hati nya menghangat karena orang yang berada di sisi nya kini bertambah satu.
"Makan coklat itu." Tanpa di suruh dua kali Jongin segera membuka bungkus coklat itu dan memakannya.
"Nanti malam hubungi aku jika kau selesai bekerja di tempat paman Cha. Aku akan menjemputmu."
"Aku tak punya ponsel. Lagipula bagaimana jika ibu mengetahui nya?"
"Aku akan berpura-pura pergi ke supermarket. Dan soal ponsel aku akan bilang pada ibu agar dia mengizinkan mu untuk memiliki ponsel."
"Benarkah? Wah... kau yang terbaik Kak!" Kris terkekeh saat melihat Jongin yang menunjukan aegyeo nya.
"Kau jorok sekali!" Kris mengusap sudut bibir Jongin yang terdapat noda coklat. Namun tanpa mereka sadari Sehun telah melihat semua kontak fisik yang mereka lakukan dari luar kelas. Niatnya hanyalah ingin mengikuti Kris yang tiba-tiba menolak pergi ke kantin, tapi malah pemandangan ini yang ia lihat.
"Mereka berpacaran?" Gumam nya pelan. Ada sedikit rasa cemburu saat ia menggumamkan kata berpacaran dalam kalimatnya. Sedikit tak rela melihat Jongin dekat dengan pria lain.
"Sialan!"
.
.
.
Setelah sesi tutor berakhir Sehun memutuskan untuk pergi ke bar, sedikit melepas kan penat. Sudah hampir sebulan dia tak pernah kemari karena latihan basket dan juga karena larangan sang ayah.
"Seperti biasa?"
"Tidak. Hari ini aku tak ingin mabuk."
"Tumben sekali?" Setelah itu sang bartender membuatkan Sehun segelas cocktail tanpa alkohol.
"Jika hanya ingin minum lebih baik kau supermarket saja. Jangan membuang-buang uang mu dengan datang ke tempat ini. " si bartender kembali bersuara.
Asal tahu saja, bar ini biaya masuknya sangat mahal. Minuman yang di jual juga sangat mahal. Satu gelas cocktail bahkan di hargai dengan 400ribu won.
"Aku hanya ingin menjernihkan fikiran saja. Lusa aku kan bertanding basket."
Si bartender tersebut hanya memutar bola mata nya malas. Sungguh apa yang di ucapkan Sehun sangat tidak sinkron sekali. Apa hubungannya Fikiran dan basket.
"Apa kau sudah mabuk sebelum kemari?"
"Tidak."
"Lalu mengapa kau aneh seperti itu? Kau tidak terlihat seperti Oh Sehun."
"Aku pergi." Sehun menarik mundur kursinya dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Hey! Kau bahkan tak meminumnya!"
Skip
Sehun tak tahu apa yang terjadi padanya. Ia benar-benar merasa sangan kacau sekarang. Mungkin kah karena kejadian siang tadi?
Bagaimana bisa Kris sedekat itu dengan Jongin? Padahal mereka tak pernah berbicara atau terlihat dekat sebelumnya.
Tapi memangnya dia siapa? Kenapa ia mengurusi hidup Jongin? Terserah Jongin bukan, ia ingin dekat atau berkencan dengan siapapun. Itu bukan urusan Sehun.
"Sialan!" Dan lihatlah sudah berapa kali ia mengumpat hari ini. Apalagi saat sesi tutor tadi, ia bisa melihat Jongin tersenyum sepanjang waktu. Padahal wanita itu tak pernah seperti itu sebelumnnya.
Tanpa Sehun sadari , ia sudah memarikirkan mobil nya di depan sebuah supermarket ah bukan, mini market lebih tepatnya.Mungkin kata-kata bartender itu mempengaruhi pikirannya hingga ia sampai kemari.
Dia masuk kedalam mini market tersebut dan mengambil beberapa bir dingin dan juga beberapa snack.
"Satu bungkus rokok." Mata Sehun fokus dengan uang di dompetnya.
"Tanda pengenal mu?" Sang kasir menggerakkan telapak tamgannya ke hadapan Sehun. Tapi tunggu dulu... Sehun kenal dengan suara ini.
"J-jongin?"
"Iya tuan muda Oh. Ini aku Kim Jongin." Sahut Jongin dengan nada mengejek.
"Kenapa kau disini?"
"Bekerja."
"Bagaimana bisa? Maksudku kau baru saja mengajarku tadi. Dan sekarang kau ada disini?"
"Aku bekerja di sini sejak lama, jauh sebelum aku menjadi tutormu." Astaga. Sebenarnya semiskin apa Jongin ini hingga bekerja di berbagai tempat sekaligus?
"Dimana rokok ku?"
"Tanda pengenal mu?"
"Kita seumuran. Bagaimana mungkin kau lupa?" Sebenarnya Kris sudah memiliki kartu tanda pengenal. Namun ia meninggalkannya di rumah.
"Kalau begitu kau tak bisa membeli nya. Hanya orang yang memiliki ktp saja yang bisa membeli rokok."
"Kenapa kau kolot sekali? Cepat berikan!" Sehun hampir saja terkesan dengan perjuangan Jongin yang bekerja tiada hentinya, hingga ia lupa bagaimana sifat iblisnya wanita itu.
"Tak bisa. Semuanya 20ribu won."
"Aku tak akan membayar jika kau tak memberikan ku rokoknya." Ujar Sehun tak mau kalah.
"Baiklah. Kalau begitu kau bisa keluar dan membelinya di tempat lain." Jongin menjawabnya dengan nada datar. Sehun tak habis pikir, bagaimana Jongin bisa begitu keras kepala?
"Dasar keras kepala! Ini! Kemarikan belanjaan ku!" Dengan gerakan kilat Sehun meletakkan uang nya dan merebut plastik belanjaan nya.
"Terimakasih. Jangan datang lagi!" Jongin melambaikan tangan nya pada Sehun hingga Sehun berhasil masuk kedalam mobil nya dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Lucu sekali pria itu. Kkk~ astaga?! Aku memberikan bir nya?! Astaga seharusnya aku juga melarangnya membeli itu." Jongin memukul kening nya. Ia bahkan tak sadar jika Sehun juga membeli Bir kalengan tadi. Dan seharusnya ia bisa melarang pria itu karena ia khawatir jika pria itu akan mabuk nantinya. Apalagi sekarang banyak sekali kecelakaan akibat pengemudi yang mabuk.
.
.
.
"Dari mana saja kau?"
"Mini market." Sehun menunjukan plastik belanja nya pada sang ayah. Tenang saja, bir nya sudah ia habis kan saat perjalanan pulang tadi. Jadi yang tersisa hanyalah beberapa snack saja.
"Tumben sekali ?"
"Em... Ayah, aku boleh bertanya sesuatu?" Ayah nya mengerutkan kening. Merasa bingung karna anaknya tiba-tiba bertanya padanya, padahal Sehun dulu bahkan jarang menyahuti nya.
"Ayah...kau tahu jika Jongin bekerja di mini market?"
"Tentu saja. Ayah sudah tahu segala sesuatu tentang dia."
"Benarkah?" Eiyy Sehun jadi curiga jika sang ayah ternyata menyimpan hati pada Jongin.
"Apa lagi yang Ayah tahu tentang Jongin?"
"Fakta bahwa dia anak angkat."
"Jongin anak angkat?!"
"Memang nya ada apa? Kenapa kau tiba-tiba begitu penasaran dengan gadis itu?"
"Tak ada. Kalau begitu aku ke kamar dulu. Selamat malam Ayah."
Pantas saja Jongin begitu bekerja keras, ternyata dia anak angkat. Sehun sedikit merasa bersalah dengan perkataannya tempo hari.
"Apa mungkin jika orang tua angkat Jongin yang melakukan kekerasan itu? Astaga, kenapa aku jadi peduli padanya?! Sialan!"
Tbc
note: update yeay...wkwk
