TWO SIDES

by Gyoulight

.

.

.

.

.

.

HUNHAN FANFICTION

GENRE: Drama, Romance

RATING: T

.

.

.

.

.

.

Sehun terduduk dengan ekspresi kosongnya. Menatap piring kosong yang sisinya sudah ditata pisau, sendok dan garpu berselimut serbet. Tak lama, hidangan makan malam datang memenuhi meja. Diantar oleh pelayan khususnya yang entah sejak kapan sudah mengambil alih pekerjaan pelayan yang biasanya ia lihat. Kakaknya, Chanyeol, masih duduk di kursinya. Masih sibuk berbincang dengan ayahnya seperti dunia hanya dipijak oleh mereka berdua.

Sehun sebenarnya tidak keberatan dengan keributan di meja makannya. Terlebih dengan tambahan orang sepenting ayahnya yang masih saja terasa asing untuk makan semeja dengannya. Dan juga dengan ia yang benar-benar diabaikan. Seperti Luhan yang masih memainkan ujung taplak meja.

Baik, anggaplah mereka rekan kerja asing yang baru saja memenangkan tender lalu merayakannya dengan sebuah dinner. Kemudian menjadi sangat akrab karena sebuah pemikiran yang sejalan dan juga lelucon yang ikut dituang ke dalam gelas champagne. Tapi berbeda dengan Sehun yang sepertinya tidak berminat tenggelam dalam meja makan. Ia nyatanya sedang tidak bersemangat untuk makan di bawah keremangan yang bisa dikatakan romantis─ditambah dengan tatanan meja klasik yang melingkari kursi rekan makannya.

Menatapi meja, hidangan sudah tertata dengan sangat baik. Bersanding dengan kumpulan hydrangea violet dan juga lilin-lilin tinggi sebagai centerpiece. Lohikeitto, steak, pasta penne, olahan tiram dan berbagai hidangan lain sudah memenuhi meja. Gelas-gelas tinggi kemudian diisi dari botol yang sama. Tidak begitu penuh, mungkin hanya sepertiga gelasnya saja. Para pelayan pun mundur pergi ketika semua kebutuhan makan malam sudah tertata di atas meja.

Di bawah lampu, bayangan Sehun menyita perhatian ayahnya. Pria paruh baya itu lantas mempersilahkan seisi kursi menikmati makan malamnya. Dentingan piano kemudian dimainkan. Memainkan lagu sebagai pengantar, yang entah mengapa terlalu berlebihan menurut Sehun. Ini bahkan bukan perayaan ulang tahunnya, tapi ayahnya selalu menjadi berlebihan soal makan.

"Selamat atas proyekmu," ucap ayahnya sibuk memotong potongan steak dengan pisaunya. Tidak berminat meliriknya walau sedetik.

Sehun berkedip. Selama 24 tahun masa hidupnya, ini adalah kali pertamanya ia menerima kata selamat dari ayahnya. Tidak ingin pusing memikirkannya, ia pun tidak memberi respon berlebih selain meminum winenya. Kemudian mencoba menikmati hidangan salmon tanpa suara. Sebut saja, ia tengah berusaha untuk tidak membuat semua orang cemas karena hidangan ini mungkin bukan seleranya.

"Sehun butuh hiburan selama dua bulan." Sehun mendengar malas kalimat kakaknya. Tolehannya lalu dihadiahi sebuah senyum jenaka khas pria 26 tahun itu hingga membuat Sehun geli sendiri. "Dia tidak boleh pergi ke kantor selama kakinya belum sembuh."

Mendengar aduan kakaknya, ayahnya pun terkekeh. Sedangkan Luhan menegakkan kepalanya ketika mendengar pria itu tertawa. Luhan ternyata tengah mencari topik lucu di antara keduanya. Bertanya pada otaknya sendiri tentang dimana letak kelucuan dari kalimat Chanyeol barusan.

"Tiba-tiba ayah memikirkan sesuatu," seru ayahnya menatap satu persatu ketiga anaknya. "Bagaimana kalau pernikahan Sena kita adakan bulan oktober?"

"Huh?" Luhan menganga dengan sangat polos. Bersyukur pria itu tidak sedang menelan potongan steaknya. Kalau ya, maka itu akan jadi sangat tidak berkelas, seperti Chanyeol yang kini tersedak dengan minumannya sendiri.

Ayahnya masih tersenyum penuh harapan. Tidak masalah kalau saja anak sulungnya itu muntah dan berubah menjadi tidak tampan karena terbatuk-batuk. Yang jelas ia sudah tidak sabar dengan masa depan putrinya yang terus dipertanyakan Kris beberapa waktu lalu. Dan kini ia hanya butuh persetujuan dari Sena untuk memulai berbagai persiapan.

"Tidakkah ini begitu mendadak?" tanya Chanyeol yang sudah tenang dengan tenggorokannya. Nampaknya pria jangkung itu lebih paham masalah persiapan dan juga jalan acara menyangkut pernikahan, sampai ayahnya ikut bertanya-tanya kapan sebenarnya putra sulungnya itu akan menikah, sedangkan usia Chanyeol sendiri sudah mau merangkak 27.

"Ayah sudah berbicara dengannya?" Tiba pada Sehun yang akhirnya memutuskan untuk ikut berpartisipasi. Ia tentu keberatan dengan kejutan ayahnya. Proyeknya belum selesai dan ia belum merencanakan apapun tentang menguntungkan perjanjiannya dengan Kris.

Sang ayah mengambil gelasnya. Tak lupa mengangguk puas sebagai jawaban. "Dia bahkan sudah mencari restuku dari jauh-jauh hari."

Sehun meletakkan garpunya. Seperti yang ia duga, Kris sudah melangkah terlalu jauh dari perkiraannya. Dan siapapun tidak akan menduga jika ayahnya begitu mudah diambil hatinya oleh orang berengsek seperti Kris. "Dan ayah setuju untuk itu?"

"Kau sendiri bilang bahwa ini sudah selesai. Dan Kris nampaknya sangat mencintai putriku, kenapa tidak?" Tuan Oh mengendikkan bahunya. Ia pun tidak punya alasan khusus untuk keberatan.

Sehun memilih bergeming. Pikirannya terus melakukan persiapan gencatan senjata. Ia mungkin tidak perduli jika ia kehilangan ayahnya, tapi anehnya ia berubah menjadi sangat perduli melihat kesuksesan Kris dalam mencuci otak ayahnya. "Apa yang dia katakan?"

Chanyeol yang berada di antara keduanya kemudian merasa sedikit terabaikan. Ia hendak menengahi, tapi lebih dulu ia menegur adiknya yang mulai berbicara tidak sopan pada ayahnya sendiri.

Tuan Oh meletakkan gelasnya dengan tenang. Mulai menatap putranya dengan tatapan meyakinkan yang ia punya. "Ini tidak seperti yang ada di pikiranmu. Kris benar-benar mencintainya."

Sehun menarik nafasnya dalam. "Sejak awal ini adalah urusanku. Dan ayah tidak berhak untuk mengambil keputusan seperti ini."

"Kenapa aku tidak berhak untuk menyetujui urusan putriku?" tanya tuan Oh kehilangan kesabarannya. Ia tentu tersinggung dengan kalimat itu. Sementara ia punya kuasa sebagai orang tua yang berhak atas kehidupan anak-anaknya.

Chanyeol buru-buru menengahi. Ia tidak punya cukup waktu sampai piring-piring melayang, gelas-gelas pecah di lantai atau Sehun dengan kaki yang benar-benar patah sebagai pelampiasan kemarahan ayahnya. "Ayah, Sehun dalam kondisi yang tidak baik hari ini─"

"Aku ayahnya, seharusnya dia tidak mengatakan itu pada ayah." Tuan Oh menggenggam jemarinya sendiri. Melotot pada putra sulungnya, tidak perduli bagaimana gemetarnya meja karena Luhan masih disana. Hanya menyaksikan dan tidak bisa berbuat banyak, karena ia hanyalah seorang pemeran pengganti.

Sehun tersenyum miring menatap sisa hidangan yang mendingin di piringnya. Ia mungkin tidak benar-benar lapar sampai ia harus mengabaikan makanan mahal seperti ini. "Menurut ayah, apakah Sena mencintainya?"

"Sehun!" Kakaknya terus mencoba menghentikan aksi keluarganya yang memalukan ini. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa ia begitu malu pada Luhan yang masih bergeming. Menyaksikan keluarganya bertikai bagai menikmati alur sebuah drama.

"Pernahkah ayah bertanya mengapa Sena pergi?" Sehun melanjutkan.

Luhan semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Pria itu kembali menjadi sangat bingung ketika Sehun menolak keras rencana pernikahan adiknya, sementara ia ditugaskan untuk menerimanya. Lantas saat Luhan tidak ingin pusing dengan ketegangan yang membuat selera makannya hilang, ia pun mencoba memutuskan sesuatu.

"Aku menyetujuinya," tengah Luhan membuat semua orang menatapnya. Berharap sebuah ketegangan itu menghilang, lalu digantikan dengan malam-malam reuni yang membahagiakan. Tidakkah itu lebih menyenangkan, walaupun Luhan seorang pemeran pengganti dalam drama keluarga Oh? "kapan pun tidak masalah."

Chanyeol sudah menganga dengan pertanyaan yang tertahan di tenggorokan, tuan Oh tersenyum lega sedangkan Sehun menatapnya dengan raut tidak terbaca. Luhan mungkin bisa maklum dengan ekspresi keduanya. Kecuali sorot Sehun yang seakan menusuk kalbunya, menyelipkan sebuah debaran gila yang siang tadi mulai menemukan pawangnya. Namun kini semuanya runtuh hanya karena Sehun menembusnya.

e)(o

"Aku tidak menyuruhmu untuk setuju," protes Sehun meletakkan gelasnya yang kosong. Sedangkan matanya tetap menjurus ke depan. Kepada kursi kosong yang beberapa menit lalu masih diisi oleh ayahnya sendiri.

"Kau sendiri yang menyuruhku menikah dengannya," jawab Luhan kesal. Tidak mengerti mengapa mereka masih duduk disini dengan piring-piring kosong dan tak banyak dari mereka adalah makanan yang tersisa. Padahal Chanyeol sudah menghilang untuk mengantar ayahnya pulang. Dan para pelayan masih menunggu di posisi sampai Sehun memutuskan untuk beranjak dari kursinya─agar mereka bisa membereskan meja.

"Tapi tidak dua bulan dari sekarang," toleh Sehun akhirnya. Ia pun mulai tak paham pada dirinya sendiri karena sangat kesal dengan kecerobohan Luhan. Dan ia menjadi sangat yakin bahwa Luhan mungkin saja sudah banyak melakukan hal ceroboh di belakangnya selama ini.

Luhan sibuk menuang wine ke dalam gelasnya. Mengisinya rakus sebagai pelampiasan rasa tidak suka atas penilaian Sehun terhadapnya. "Memangnya kenapa?"

Melihat itu, Sehun kemudian merebut gelasnya. Ikut menjauhkan botol itu dari jangkauan Luhan dengan membawanya ke sisi kiri tangannya. "Kau sudah minum dua gelas."

Luhan mencebik. Tapi sialnya, ia sama sekali tidak bisa lama-lama menatap Sehun. "Aku tidak perduli," tandasnya kembali merebut gelas miliknya. Tanpa babibu ia kemudian menelan seluruh isi gelasnya. Sampai Sehun menatapnya dengan tatapan sedatar dinding setelah menyaksikan pria itu menyernyit karena tenggorokannya terasa dibakar.

"Kenapa kau selalu menyebalkan?" Sehun bergumam sendiri. Menjaga sisa wine dalam genggamannya agar tidak jatuh ke tangan siapapun. Termasuk Luhan yang kini sudah seperti kecanduan dalam hal minum.

"Kau lebih menyebalkan." Seperti dugaan Sehun, Luhan kini mencoba meraih botol yang digenggam Sehun. Ingin merebutnya, tapi pria pucat itu berhasil mempertahankannya di sisi lain. Sehingga ia kembali menatap sepasang manik bosnya yang begitu mudah menyelam dalam alam pikirannya. "Berikan padaku."

Sehun berkedip memiringkan kepalanya. Sangat menikmati bagaimana wajah gugup itu sibuk mencari sesuatu agar bisa lolos darinya. "Apa kau benar-benar menyukaiku?"

Luhan berubah panik. "Apa?!"

"Apa kau menyukaiku?" ulang Sehun dengan senang hati.

"Berikan!"

"Kau menyukaiku?"

Sial! Luhan berdecih. Ia mau tidak mau melepaskan botol yang sudah susah payah ditariknya. Dan itu mengundang senyum licik Sehun untuk menuangnya kembali ke dalam gelasnya yang kosong.

"Kau pasti sangat menyukaiku," kekehnya.

Luhan menghembuskan nafasnya dengan malas. Kembali pada kesibukannya menatap tiga lilin yang mulai menyusut di dalam gelas. Apinya meliuk kecil. Tidak seterang beberapa jam yang lalu. "Besok aku pulang."

"Aku tahu," jawab si pendengar.

"Kau tidak khawatir jika aku menghilang atau─" Sehun meletakkan gelasnya dengan tenang ketika Luhan meliriknya sekilas. Diam-diam ia mencari sesuatu pada sosok itu. Entah sesuatu seperti apa, yang jelas ia hanya ingin mengatakan sesuatu seperti ini pada bosnya. "kabur?"

Senyum pria itu kembali melemahkan detak jantungnya. Meredam semua aliran nafasnya yang teratur. Dan entah bagaimana semua itu berubah menjadi amat menenangkan bagi Luhan. "Kau tidak mungkin berani melakukannya."

Luhan beralih memainkan gelas kosongnya, seakan mencoba menemukan bayangannya sendiri di permukaan. "Kenapa tidak, sedangkan aku dipaksa menikah dengan orang berengsek?"

Sehun masih menatapnya. Tidak bergeser sedikitpun kedua manik itu berpendar padanya. "Aku percaya padamu."

Luhan terdiam. Kata-kata itu diterima dengan baik olehnya. Melewati berbagai untaian pesan di otaknya, lalu dikirim pada lamunannya sendiri. Sebuah melodi asing tak luput membanjiri. Begitu lembut jalinannya bersahutan, menuntun jantungnya untuk kembali bergerak dengan deru nafasnya yang diam-diam dihembus. Dan kini Luhan bisa merasakan kejujuran pria itu di hatinya.

Tapi buru-buru ia membuang wajahnya dari wajah itu. "Norak sekali."

"Aku tidak menyuruhmu menikah dengannya. Hanya lakukan apa yang memang seharusnya kau lakukan." Sehun beralih pada sisa potongan salmon di piringnya. Tangannya yang menganggur segera meraih pisau di sekitarnya. Menusuk-nusuk daging tak berdosa itu sampai terbelah beberapa bagian. "Kau hanya perlu kabur di pernikahannya. Setelah itu kau bebas─dan kontrakmu selesai."

Luhan mengerutkan keningnya. Sedikit heran karena merasa semua kalimat itu begitu mudah, bagai membalikkan telapak tangannya. "Begitu saja?"

"Kecuali kalau kau menyukainya." Sehun terkikik kecil menyayangkan malamnya yang berubah hening tanpa satu suara pun. Nyatanya pria itu terlalu menikmati kesunyiannya, sampai-sampai ingin meminta kembali permainan piano yang sudah selesai disuguhkan pelayannya. "Kau bisa melakukan apapun saat kontrak kita selesai."

"Lalu bagaimana dengan sisanya?"

Sehun menjemput tongkatnya di dekat dinding. Tidak ingin berlama-lama duduk di kursinya sementara pembicaraan mereka beralih pada hal-hal yang tidak pernah dipikirkannya. Dari pada ia pusing membahasnya, kenapa tidak pergi dulu menenangkan kondisi hatinya, bukan? "Kembalilah ke kamarmu."

Luhan masih duduk di kursinya ketika Sehun mulai beranjak di samping kursinya. Kedua matanya pun masih terfokus pada pemilik punggung tegap yang sibuk menata langkahnya itu. "Kris mencintai adikmu─"

Sehun menghentikan langkahnya. Menoleh pada Luhan yang sepertinya tidak berminat pergi dari kursinya. "Perlu kau tahu bahwa dia hanya menjadikan adikku sebagai jaminan."

Luhan menggeleng. Entah mengapa ia merasa harus mengatakannya, padahal ia sangat tahu jika Sehun tidak suka pembahasan semacam ini. "Aku bisa merasakannya."

Pria pucat itu segera membuang wajahnya. Segenggam benci kemudian hadir dalam jiwanya. Melesak sampai ke tulang tungkainya yang retak, sampai ia ngilu sendiri mendengar nama ajaib itu disebut. Dan ia tidak ingin membuang waktu karena berdebat soal pendapat, maka ia segera menggerakkan kakinya. Pergi dari sana sampai ia tidak bisa melihat Luhan dimanapun.

e)(o

Matahari yang mulai meninggi baru saja tertutup awan ketika pintu ruang kerja Sehun dibuka seenaknya tanpa permisi. Baekhyun yang sibuk mengetik sesuatu dengan laptopnya kini terpaku pada sosok baru dengan kaca mata hitamnya itu. Sama halnya dengan Sehun yang membuang lembaran laporan karyawannya ke tepian meja, demi menelanjangi pria yang sudah masuk tanpa permisi ke ruangannya.

Seorang pelayan kemudian terlihat berlari tergopoh-gopoh memasuki pintu. Segera menunduk 90 derajat, memohon ampun atas kelalaiannya dalam bekerja. "Maaf tuan, tapi pria ini tidak mau menunggu."

Seseorang dengan jaket kulit hitam itu kemudian tanpa babibu mengambil duduk di potongan sofa tunggal. Tidak menghiraukan Baekhyun yang masih menyernyit menatapnya atau mengabaikan wajah seorang pelayan yang sudah ketakukan karena tidak becus menjalankan tugasnya.

Sehun memberi kode 'keluar' untuk pelayan rumahnya. Berusaha memaklumi meski pikirannya sudah lebih dulu panas mendidih. Maka saat pelayan itu undur diri dengan menutup pintu, ia pun beralih menatap sosok asing itu dengan tatapan tersinggung.

Pria berambut karamel itu masih mengemut permen lollipopnya. Menyilangkan kaki berbalut jeans, sehingga siapapun bisa melihat sepatu kulit hitam berkelas yang dikenakannya. Tapi baik Baekhyun maupun Sehun tidak tertarik pada apapun yang pria itu kenakan, meski pria itu memiliki anting atau juga aksesoris mahal lainnya di tangan. Tepatnya mereka lebih perduli tentang mengapa ia bisa menerobos kediaman Sehun tanpa etika dan sopan santun.

"Kau tahu cara bertamu yang baik?" tanya Sehun bersandar pada kursi kerjanya. Mengistirahatkan syaraf-syarafnya yang tegang luar biasa, akibat emosi dan juga lelah dengan segala pekerjaannya.

Pria tinggi itu menurunkan kaca mata hitamnya. Menunjukkan mata tajamnya dengan senyum menyebalkan khas anak-anak. "Aku menghubungimu sejak kemarin, tapi kau terus mengabaikan panggilanku."

Baekhyun masih menatap pria itu dengan tatapan tidak bersahabat. Ia pun memilih menutup layar laptopnya lalu bersandar pada punggung kursi karena tidak mendapatkan konsentrasi yang ia inginkan. Lalu biarkan ia bertanya asal-usul pria tengil ini sampai berani berbicara informal pada semua orang.

"Aku Huang Zitao," toleh pria itu pada Baekhyun. Seakan mengerti ia membuka kaca matanya. Menunjukkan dirinya sebaik mungkin agar pria brunette itu juga tidak menendangnya dari ruangan agung. "Jangan bertanya aku berada di pihak siapa karena aku sudah bebas."

"Aku bertanya, mengapa kau datang kemari?" tegas Sehun meminta jawabannya. Tidak memikirkan apapun ketika sang musuh justru mendatanginya dengan sangat mudah. Bahkan ia sulit mengerti rencana apa yang Kris pikirkan sampai repot-repot mengirim anak buahnya kemari.

Pria itu merogoh saku jaketnya. Dari balik jaketnya ia menemukan tumpukan foto dan juga beberapa lembar kertas. "Aku menemukan orang yang kau cari." Segera foto-foto itu tergeletak di atas meja, dengan ia yang mengunyah habis permen di dalam mulutnya.

Sama dengan Baekhyun, Sehun pun sama terkejutnya karena menemukan sosok familiar pada beberapa foto yang pria itu bawa. Jarak pandang yang jauh membuat keduanya memicingkan kedua mata. Melihat dengan benar potongan-potongan foto yang cukup besar itu hanya untuk memastikan sesuatu.

Sehun ingin mengambil salah satunya, tapi tentu ia tahu jika Zitao bukanlah orang yang memberikan sesuatu secara cuma-cuma. Sama dengan Kris yang selalu bermain aturan pasang harga, karena mereka berasal dari koloni yang sama. "Apa yang sebenarnya kau inginkan?"

"Lucu bukan?" tunjuknya pada salah satu foto pria yang tengah menyeret seorang gadis dengan kursi roda. Seseorang yang keduanya kenal baik dan juga seseorang yang mereka tidak akan sangka untuk berhianat. Kim Jongin.

Baekhyun beranjak dari kursinya. Masa bodoh dengan asal-usul pria itu atau pria itu membawa senjata seperti yang ada di dalam benaknya. Ia tanpa ragu meraih kerah pria yang lebih tinggi darinya itu lalu menatapnya dengan gigi saling bergemeretak. "Omong kosong macam apa ini?"

Sehun masih tidak bergerak di kursinya. Membiarkan kemarahan Baekhyun memuncak sendiri karena ia tidak bisa berurusan dengan itu. Baginya ini bukanlah sesuatu yang mustahil. Bahkan jika dunia terbalik saat ini pun, masihlah sesuatu yang mungkin jika Tuhan menginginkannya. Tapi Jongin dan Baekhyun adalah dua orang yang sangat bisa ia percaya, maka ketika Jongin merusaknya, semua hal berubah menjadi buram di mata Sehun.

Jongin cukup naif sebagai orang yang bisa menipu atau berhianat, jadi Sehun tidak pernah berpikir akan menggeledah rumah pria itu hanya untuk mencari adiknya yang bersembunyi. Jika Jongin adalah benar sahabatnya, maka Jongin bisa mengatakan bahwa ia menemukan adiknya, bukan? Jongin bahkan bisa menenangkannya ketika pikirannya terbagi, lelah dengan segala pencarian konyol yang dilakukannya selama berbulan-bulan. Tidak ada hasil sama sekali walaupun ia berulang kali mengganti orang yang bisa ia percaya untuk menemukan adiknya. Tapi kali ini Jongin benar-benar melakukan kesalahan besar. Entah Sehun harus mengatakan apa pada pria itu nanti.

Pria asing bernama Zitao itu malah tertawa terbahak-bahak. Membuat Baekhyun semakin meledakkan emosinya yang tertahan di kepala. Maka ia menarik pria itu, menyeretnya turun ke lantai lalu memukulnya tanpa basa-basi. Namun sebuah keadaan cepat sekali berbalik saat pria itu berhasil menendang salah satu kaki Baekhyun. Menyeret tubuh kecil itu lalu mencekiknya dengan lengan kosong.

Baekhyun tak bisa bergerak ketika lengan Zitao sudah melingkari lehernya. Bahkan ketika pria itu sudah menodong pelipisnya dengan sebuah pistol. Sebuah déjà vu, ketika di kediaman Sehun pun Baekhyun ditodongi pistol oleh orang yang sama. Dan Baekhyun kemudian menjadi ingat bagaimana harga dirinya runtuh setelah menemui Kris saat itu. "Jadi kau orangnya?"

"Dasar tikus kecil," desis Zitao mengabaikan darah di ujung bibirnya. "Aku kemari ingin membantu, tapi lihat apa yang kalian lakukan?"

Sehun yang menyaksikan keduanya bertikai masih saja membisu. Tidak bergerak dari kusinya, bahkan tidak segera melaporkan seseorang yang memakai senjata api di kediamannya itu pada polisi. Karena percuma saja melaporkan kaki tangan Kris pada polisi, pun tidak akan ada gunanya. Tapi bukan karena Sehun tidak bisa melakukan apapun dan menjadi pecundang lemah yang terancam, hanya saja ia ingin melihat bagaimana usaha Zitao dalam meyakinkannya.

"Kau tahu apa yang paling tidak ku suka dari kalian?" Sehun akhirnya bersuara ketika melihat Baekhyun melotot padanya. Mengancamnya dengan gerakan bibirnya seakan mengatakan 'jangan diam saja, bodoh'. "Kalian selalu membawa pistol kemana-mana."

Zitao memandang Sehun remeh. "Katakan saja kalau kau takut padaku."

"Ruanganku bebas dari mata kamera," lanjut Sehun meraih tongkatnya. Memasangnya pada kedua sisi tubuhnya lalu berjalan ke tengah ladang pertikaian. "tembak saja kalau kau mau."

Baekhyun berdecih. Ia benar-benar kesal sampai ingin memiliki pistol pribadi juga di sakunya. Berjaga-jaga agar atasannya itu tidak berbicara bodoh, karena ia bisa menembaknya tanpa berpikir dua kali.

Zitao melepaskan Baekhyun. Membuang tubuh kecil itu menjuh dari jangkauannya sampai sang sekertaris itu ingin mengangkat vas bunga demi memecahkan kepalanya. Sehun pun buru-buru mencegah sekertarisnya berbuat gila. Menyuruhnya duduk dengan tenang, kalau bisa pergi dari ruangannya. Tapi sayangnya Baekhyun tidak suka sebuah rahasia.

"Aku tidak suka orang ini ikut campur," komentar Zitao mengantongi kembali pistolnya.

Sehun mengambil duduknya di sofa panjang. Cukup lelah sebenarnya meladeni orang seperti Zitao. "Aku sibuk. Katakan atau tidak sama sekali?"

Zitao merapus darah yang menggantung di sudut bibirnya. Tak lupa menatap seseorang yang baru saja mengacaukan penampilannya. "Aku sudah bilang aku tidak memihak pada siapapun. Statusku sudah dicabut dan aku bukan lagi kaki tangan Kris."

Baekhyun menyela, "Tapi kau punya pistol."

"Punya pistol atau tidak bukan berarti kau anak buahnya," jawabnya kesal.

Sehun kembali mengamati pertengkaran kecil keduanya. Terlalu malas sampai ia tidak perduli jika keduanya kembali beradu ketangkasan dalam hal ilmu bela diri. "Lalu kenapa satatusmu bisa dicabut?"

Zitao bersandar nyaman pada kursinya. Terlihat tidak begitu masalah sampai harus ditanyai masalah pekerjaan, dimana ia dipecat dengan tidak hormat karena sebuah kesalahan kecil. "Masalah pribadi."

Jawaban singkat itu membuat Baekhyun ingin tertawa jenaka. "Bagaimana kami bisa percaya padamu?"

Zitao kembali merogoh sakunya. Walaupun ia sebenarnya kesal dengan pribadi Baekhyun, ia tentu tidak mengambil keputusan bodoh untuk menarik kembali pistolnya keluar. "Ambil milikku. Kau bisa melaporkanku pada polisi." Tak tanggung-tanggung ia melempar potongan kartu tanda pengenalnya ke atas meja.

Baekhyun tercengang. Ingin mengatai benda kecil itu palsu, tapi Sehun sudah mengamatinya lebih dulu. "Lucu sekali, Kris punya penghianat sepertimu. Apa kau tidak takut?"

"Tidak ada di antara kami yang tidak takut dengan Kris," jawab pria itu asal.

"Kenapa kau melakukan ini?" Sehun akhirnya angkat bicara.

"Jangan menginterogasiku," ucapnya keberatan. "Aku melakukan ini karena aku butuh uang."

Baekhyun akhirnya benar-benar tertawa dengan keras. "Ini terlalu lucu."

"Aku harus melarikan diri," sambung Zitao benar-benar serius.

Baekhyun menyernyit. Ia sesungguhnya masih merasa abu-abu dengan pria di hadapannya ini. "Kenapa kau harus repot-repot melarikan diri?"

Sekali lagi Zitao menjawab, "Aku sudah bilang, ini masalah pribadi."

Baekhyun terkekeh. Tak tanggung-tanggung ia meminta pemikiran ulang pada atasannya perihal menyetujui penawaran seseorang yang mengaku penghianat ini. "Ada apa dengan orang ini?"

Sehun terdiam sebentar. Kepalanya menimbang banyak hal. Tapi entah mengapa memikirkan tawaran Zitao membuatnya merasa diuntungkan. "Berapa yang kau inginkan?"

"Tolong jangan bercanda soal ini," mohon Baekhyun mencegah Sehun untuk berbuat hal-hal di luar nalar. Tapi sayangnya, atasannya itu tidak cukup normal untuk mengabulkan permintaannya.

"Aku ingin terbang ke Jerman. Berikan aku akses dari perusahaanmu."

"Kau ingin terbang dengan nama perusahaanku?" Sehun cukup terkejut. Bagiamanapun ini bukanlah perkara mudah untuk menyeludupkan seseorang ke dalam pesawat. Terlebih perusahaannya sendiri tidak punya akses besar dalam melakukan hal-hal semacam ini. "Apa kau tahu jika dua persen sahamku dipegang oleh Kris?"

Zitao tersenyum miring. "Aku tahu kau sedang memikirkan cara untuk lepas dari WDC. Kau pasti punya cara untuk melakukannya."

"Tidak, tidak," cegah Baekhyun benar-benar tidak setuju. Ia tentu tidak ingin bosnya itu mengambil negosiasi yang salah untuk kedua kalinya. "Kau benar-benar sedang diperas."

Sehun mengabaikan sekertarisnya. Tidak perduli, walaupun Baekhyun marah padanya kali ini. Karena ia hanya memikirkan bagaimana masalahnya selesai dan ia bisa segera terbebas dari WDC─seperti yang Zitao katakan. "Asal kau memberiku akses untuk membongkar brangkas gelap Kris."

Baekhyun memekik tidak terima, "Oh Sehun!"

"Akan kulakukan ketika kau benar-benar memberiku kursi pesawat," tawar Zitao kembali memainkan triknya. Pria itu sudah tenggelam dalam senyum sumbringah. Mengabaikan Baekhyun yang terlihat ingin membunuhnya, ia pun sibuk membuka bungkus permen lollipop yang baru saja ia temukan di sakunya.

Sehun pun meraih ponselnya tanpa perduli pada Baekhyun yang masih bersih keras menyuruhnya berpikir dua kali. Mendial cepat salah seorang yang ia bisa percaya untuk mengurusi keberangkatan Zitao. "Kang, lakukan sesuatu untukku─"

e)(o

Senja yang mulai turun dari peradaban adalah hal yang menyenangkan bagi Jongin. Ia bisa pulang dengan tenang lalu melupakan banyak penat di kepalanya dengan meniti jalanan hitam. Jongdae sudah turun di depan rumahnya. Pria itu kebetulan memiliki tugas yang sama dengannya siang tadi. Bersama-sama meninjau ulang seluruh komponen proyek. Lalu team dengan jumlah tujuh orang itu nyatanya tidak cukup mampu menangani hal-hal seperti ini.

Jongin bahkan sudah menolak ajakan minum dari Jongdae. Ia mencoba untuk tidak terlalu berlebihan ketika Sena tinggal di rumahnya. Ia menjadi menghindari lembur, mabuk atau pulang terlambat. Tapi dengan begitu, ia juga menjadi semakin jauh dengan Sehun dan Baekhyun, yang sebelumnya ia hanya akan selalu terikat dengan keduanya. Bisa dibilang, ia jadi merindukan kedua sahabatnya itu.

Sesampainya di pintu rumahnya, ia menemukan sebuah note kecil di depan pintu. Sebuah pesan yang masih terlihat baru dan juga begitu familiar untuk ditebak siapa penulisnya. Kau harus membantunya makan. Sebagai bayarannya, aku juga memasakkanmu sesuatu. Sebuah senyum tanpa sadar sudah mengembang kala ia mencabut note itu.

Jongin kembali mengucapkan salam keras-keras ketika memasuki rumahnya. Berharap Sena mendengarnya, agar gadis itu tahu ia benar-benar sudah pulang. Tak lama pintu kamar atasnya terbuka. Sebuah sapaan selamat datang kemudian dihadiahkan Sena padanya.

"Kyungsoo baru saja pergi," serunya dari pembatas kayu.

"Aku menemukan pesannya di pintu," jawab Jongin mendongak. Menunjukkan sebuah note kecilnya pada Sena.

Jongin pun segera pergi ke dapur. Mengecek meja makan yang nyatanya sudah dipenuhi hidangan makan malam. Sena ikut turun menyusulnya. Mengecek sesuatu yang tidak ia ketahui seharian ini. Alih-alih gadis itu tersenyum luar biasa menemukan sup rumput laut yang dirindukannya.

"Aku tidak tahu kalau dia membawa ini," seru Sena begitu senang, hampir tidak tahu diri mencicipi beberapa hidangan.

Jongin menatapnya lamat-lamat. Menanti reaksi alamiah dari gadis itu setelah menelan makanannya. "Kau bisa makan itu?"

Sena kemudian terdiam. Merasakan perutnya mual setelah berhasil menelan potongan ikan. Gadis itu kemudian segera berlari ke kamar mandi terdekat. Buru-buru Jongin menyusul dengan terus mengingatkannya untuk berhati-hati agar tidak terjatuh.

Sena akhirnya memuntahkan seluruh isi perutnya hari ini. Ia baru saja berhasil meminum susu dan buah yang Kyungsoo sarankan. Dan sekarang semua itu menghilang dari perutnya sebelum benar-benar dicerna.

Jongin memijit tengkuk Sena dengan sabar. Menemani gadis itu sampai selesai dengan rasa nyeri yang ikut merayap di ulu hatinya. Ia juga sempat menyayangkan ketika melihat gadis itu semakin kurus karena tidak bisa menelan makanan yang ia inginkan. Ia bahkan tidak tahu kalau seorang wanita bisa sebegini repot menyangkut soal kehamilan. "Kau sudah makan siang?"

Sena mengangguk lemah. Mengontrol rasa mualnya yang sebentar lagi melesak keluar. "Hanya apel dan susu."

Jongin menyernyit. Tak tahu lagi harus melakukan apa. Ia bahkan bukan seorang ayah yang bisa mengurusi banyak hal. Ia hanyalah seorang workaholic yang sibuk mengurusi lembaran dokumen. "Mau kubuatkan susu?"

Sena menggeleng, bersiap dengan muntahannya. "Dia tidak menginginkannya."

"Lalu apa yang─"

Kali ini sebuah bel pintu berdengung di seluruh penjuru rumahnya. Sena pun terlalu sibuk dengan muntahnya sampai Jongin tak tega meninggalkan gadis itu tersiksa sendirian. Tapi ketika Sena menyentuh lengannya, mengatakan bahwa ia bisa menyelesaikannya sendiri, barulah ia meyakinkan diri untuk berlari tergopoh ke arah pintu.

Namun siapa yang sangka jika Jongin malah mendapati dua wajah datar dari dua orang yang dirindukannya? "Kalian?"

Jongin tidak sampai pada pikiran kacaunya, bagaimana terakhir kali Baekhyun menggeledah rumahnya lalu hampir menemukan Sena di kamarnya. Ia hanya begitu terkejut, alih-alih mematung menyaksikan dua orang itu memasuki pintunya, tanpa mau mendengar apakah ia mengizinkan keduanya masuk atau tidak.

"Ada sesuatu yang harus kita bicarakan," ucap Baekhyun menariknya ke ruang tengah.

Jongin menyuruh keduanya duduk dengan tenang di sofanya. Buru-buru mencari alasan untuk kembali ke kamar mandi hanya untuk memperingati Sena bahwa kakaknya ada disini. Tapi sayangnya ia lupa bagaimana seorang Oh Sehun dalam melakukan sesuatu.

"Dimana Sena?" tanyanya tepat pada intinya. Dan Jongin hanya bisa tercebur dalam kubangan dosanya sendiri. Tidak bisa menjawab atau berbohong seperti yang biasanya ia lakukan.

"Bawa adikku kemari," pinta Sehun sama sekali tidak memohon. Pria itu tengah berusaha mengontrol emosinya. Berharap ia tidak meledak, karena ia benar-benar menghargai hubungannya dengan Jongin.

Tapi sayangnya, Jongin kembali berbohong. "D-dia tidak ada disini."

Sehun menggenggam jemarinya. Mendekat pada sosok itu kemudian memberinya satu pukulan kasar. Tidak perduli bagaimana tongkatnya tergeletak di lantai atau kakinya tersandung kaki meja.

"Ya!" Baekhyun segera meraih Sehun yang terhuyung. Berusaha membawa pria itu menjauh dari Jongin yang terjatuh menekan pipinya.

Sehun kembali meraih Jongin. Menarik kerah kemejanya lalu menuntut sebuah jawaban atas luka di hatinya. "Kenapa kau berbohong padaku?!"

"Sehun, hentikan!" mohon Baekhyun terus menariknya. "Kita sudah berjanji akan membicarakan ini baik-baik."

Jongin tertunduk dalam penyesalannya. Ia tertangkap, dan ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan selain terdiam membiarkan Sehun menghakiminya. "Maafkan aku─"

"Apa kau temanku?" Jongin kembali terdiam. Ia tidak bisa memikirkan kata-kata lain yang tepat untuk ini. Karena ia sudah mengecewakan temannya, dan kesalahannya tidak akan bisa dibayar dengan sebuah kata maaf.

Sehun semakin melotot padanya. Masih menggenggam kerahnya dengan gemetar. "Kau tahu seberapa kerasnya aku mencarinya, tapi kau sama sekali tidak memberitahuku. Kau pikir siapa aku ini?"

Jongin semakin tertekan. Ia hanya bisa menyentuh lengan-lengan itu gemetar. Memohon sekali lagi, meyakinkannya bahwa yang ia lakukan ini adalah jalan yang terbaik. Namun berbeda dengan bayangan Jongin yang menginginkan Sena melarikan diri secepat mungkin di belakang sana. Gadis itu malah keluar dari persembunyiannya. Membuat semua orang tergugu. Hampir sama terkejutnya menyaksikan bagaimana Sena menghampiri mereka. Berlutut di hadapan Sehun dengan banjir air matanya sendiri.

"Ini bukan salahnya," lirihnya. "Ini salahku, jangan marah padanya."

Sehun lalu hanya bisa menggenggam kepalanya yang berat. Berucap lega, tapi api dalam dirinya terlalu sibuk memanggang emosi.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

Akhirnya, setelah 2 hari kena stuck, aku bisa lanjutin ini :')

Baru nyadar udah chap 12 aja. Padahal dulu aku lebih suka nulis oneshoot, ketimbang nulis sepanjang jalan kenangan kek gini #apaansih

Dan semoga kalian masih mau menunggu.

Sampai jumpa di hari sabtu berikutnya ^^