CHAPTER 16
Kyuhyun mengumpat kesal. Untuk kesekian kalinya ia terjatuh. Orang yang baru saja menyenggolnya sampai terjatuh malah tersenyum sinis padanya.
"Jatuh lagi, Cho? Perhatikan langkahmu lain kali!" ejek orang yang sudah membuat Kyuhyun terjatuh dua kali pagi itu.
Pelajaran Olah Raga pagi ini dihabiskan siswa laki-laki di kelas Cho Kyuhyun untuk bertanding basket. Tim Kyuhyun harus bertanding melawan tim Han Kaisoo yang di dalamnya juga terdapat Shin Dong Min dan Lee Kwang So.
Sudah dua kali Shin Dong Min menyenggolnya kasar hingga membuat Kyuhyun terjatuh. Shin Dong Min memang hanya menerima peringatan dari wasit karena personal foul yang dilakukannya dan itu semakin menambah kegeraman Kyuhyun karena tindakannya yang tidak sportif itu.
Sialnya lagi tim Kyuhyun hanya dihuni oleh anak-anak yang payah dalam urusan olah raga. Mereka hanya mengandalkan Kyuhyun untuk menghasilkan poin. Ahn Jaehyun yang tingginya menjulang tak bisa diharapkan. Ia berulang kali gagal menangkap bola yang dioperkan Kyuhyun padanya. Tubuh tingginya ternyata sangat tidak cocok untuk kegiatan fisik seperti ini.
Kim Ryeowook lebih parah lagi. Setiap kali disergap pemain lawan, ia malah berjongkok di lapangan seperti orang yang ketakutan karena mau dikeroyok. Kelakuannya itu sukses membuat anak-anak lain tertawa terpingkal-pingkal.
Kang Ho Dong Seonsaengnim, yang bertindak sebagai wasit, malah sudah meneriakinya dari tadi supaya bermain dengan lebih baik. Andai saja ada anak lain yang bisa menggantikan Kim Ryeowook, Kyuhyun sudah melempar Ryeowook keluar lapangan sejak tadi.
Di saat seperti ini Kyuhyun ingin sekali mengutuk Si Rakus Shim Changmin yang dengan bodohya harus menginap beberapa hari di rumah sakit. Kerakusannya terhadap makanan itulah yang mengantarnya menjadi tamun istimewa selama beberapa hari di rumah sakit.
Kyuhyun sudah merasa lelah. Ia seperti bermain sendirian menghadapi lima anggota tim lawan. Ia seperti dijadikan sasaran tembak yang setiap saat bisa dieksekusi. Ke mana pun ia berlari, tim lawan sudah memblokadenya. Saat Kyuhyun memegang bola pun juga sering ditundukkan lawan karena taka da anggota tim yang bisa menyokong pergerakannya.
Tim lawan sudah unggul delapan bola dari tim Kyuhyun. Sekuat apa pun tim Kyuhyun mengejar, tak mungkin dapat mengalahkan tim Han Kaisoo.
Tinggal beberapa menit lagi pertandingan usai. Kyuhyun masih berlari sambil men-dribble bola. Anggota timnya malah berlari mengikuti di belakangnya, membuat Kyuhyun ingin menyumpahi mereka keras-keras. Bagaimana bisa ia mengoper bola pada anggota timnya kalau cara bermain mereka seperti itu, benar-benar menyebalkan.
Kyuhyun bisa menghindari pemain lawan yang berusaha menghalangi langkahnya. Ia siap melompat menembakkan bola. Namun seseorang yang datang dari arah kiri tiba-tiba menerjangnya untuk menghentikan langkah Kyuhyun dan membuatnya jatuh tersungkur. Kyuhyun pun kembali terjatuh, bahkan lebih keras daripada sebelumnya. Mukanya beradu dengan lapangan basket yang tak bisa dibilang mulus.
Kepala Kyuhyun pening sekali rasanya karena jatuh dengan cara yang tidak berperikemanusiaan seperti itu. Kang Ho Dong Seonsaengnim langsung menghentikan permainan dan berlari ke arah Kyuhyun.
Kyuhyun masih duduk di bawah ring. Wajahnya dia sembunyikan di lekuk lengannya sedikit mengurangi kepalanya yang masih berkunang-kunang.
"Kau tidak apa-apa, Cho?" tanya Kang Ho Dong Seonsaengnim sambil melihat keadaan Kyuhyun.
Kang Ho Dong Seonsaengnim mengeluh keras saat melihat wajah Kyuhyun yang tampak tergores di beberapa tempat, seperti di ujung hidung dan dagunya. Dahi dan pelipisnya juga tampak kemerahan.
"Segera ke ruang kesehatan biar salah satu anak menemanimu!" ujar Kang Ho Dong Seonsaengnim.
Anggota tim Kyuhyun yang lain juga mengerumuninya. Mereka ingin memastikan apakah Kyuhyun masih dalam keadaan yang baik setelah terjatuh dengan tidak elitnya seperti itu.
Kyuhyun mengangguk lalu mulai beranjak dari tengah lapangan untuk menuju ruang kesehatan. Namun bukan hanya satu anak yang mengikuti langkahnya menuju ruang kesehatan, seluruh anggota timnya juga berbondong-bondong mengikutinya. Seperti anak ayam yang mengikuti ke mana pun induknya melangkah.
"Tak perlu berombongan kan?" tanya Kyuhyun gusar saat anggota timnya berbondong-bondong mengikuti langkahnya menuju ruang kesehatan.
Mereka serentak menghentikan langkahnya saat melihat aura menyeramkan menguar dari tatapan mata Cho Kyuhyun. Mereka beringsut pergi menyisakan Ahn Jaehyun dan Kim Ryeowook.
"Biar Kim Ryeowook saja yang ikut denganku, Jaehyun-ah. Kau bisa ke ruang ganti," kata Kyuhyun pada Ahn Jaehyun yang masih memegang lengan kirinya.
"Arraseo, hati-hati di jalan! Cepat cari aku kalau terjadi sesuatu di tengah jalan nanti!" kata Ahn Jaehyun mencoba melucu.
Kyuhyun memutar bola matanya malas pada gurauan Ahn Jaehyun yang terdengar garing di telinganya. Ia mengajak Kim Ryeowook berjalan bersamanya menuju ruang kesehatan.
Telinga Kyuhyun mendengar suara Kang Ho Dong Seonsaengnim mengomeli anak yang telah berbuat tidak sportif selama pertandingan pagi itu saat ia meninggalkan lapangan basket. Suaranya yang menggelegar bahkan terdengar jelas hingga ke pinggir lapangan.
"Dia menabrakmu dengan sengaja kan? Aku lihat sendiri tadi," kata Kim Ryeowook pada Kyuhyun yang berjalan di sebelahnya.
"Mana aku tahu. Konsentrasiku hanya pada bola dan ring," jawab kyuhyun.
Kalau mengingat jalannya pertandingan hari ini ingin sekali Kyuhyun memgumpati Kim Ryeowook dengan kumpulan kata-kata pedas yang ada dalam kamus kosakata umpatan miliknya.
"Tapi, syukurlah Kang Ho Dong Seonsaengnim sudah memarahinya tadi. Aku kira Ho Dong Saem hanya diam saja," ucap Ryeowook.
"Apa maksudmu?" tanya Kyuhyun tak mengerti.
"Aku kira Kang Ho Dong Saem seperti beberapa guru yang lain yang hanya diam tak melakukan apa-apa kalau kita terkena masalah. Bukannya membela, malah kita yang justru kena marah. Shin Dong Min bahkan tak berani mengangkat mukanya saat Kang Ho Dong Saem memarahinya," kata Ryeowook.
"Syukurlah dia masih tahu diri. Masih bisa menaruh hormat pada guru," balas Kyuhyun.
Kyuhyun berbelok ke toilet yang ada di sebelah kiri lorong. Ia tak melanjutkan tujuannya ke ruang kesehatan yang terletak di ujung lorong lantai satu.
"Kau mau ke mana, Kyu?" tanya Ryeowook heran tapi masih mengekori ke mana Kyuhyun melangkah.
"Mencuci mukaku," jawab Kyuhyun singkat.
"Apa tidak sebaiknya kita ke ruang kesehatan dulu?" taya Ryeowook.
"Aku tidak mau. Bukan luka besar," kata Kyuhyun lagi.
Ck. Kim Ryeowook mendecak sebal dengan jawaban Kyuhyun yang lagi-lagi terkesan meremehkan dirinya sendiri. Anak itu tak pernah menganggap serius keadaannya sendiri.
Kyuhyun masuk ke dalam toilet dan membasuh mukanya di wastafel yang ada di toilet. Beberapa bagian mukanya masih terlihat jelas memerah. Kyuhyun tak peduli, hatinya masih kesal pada siapa pun yang sengaja melanggarnya tadi.
Kim Ryeowook menunggui Kyuhyun yang sedang mencuci mukanya. Ia mengangsurkan tisu agar Kyuhyun dapat mengeringkan mukanya yang basah.
Selepas itu Kyuhyun malah duduk-duduk di bangku yang terletak tak jauh dari ruang kesehatan. Ia mengabaikan paksaan Ryeowook untuk menemui uisa yang bertugas di ruang kesehatan sekolah mereka.
Kyuhyun terdiam cukup lama, memikirkan semua yang terjadi padanya belakangan ini. Han Kaisoo dan teman-temannya semakin menjadi-jadi untuk mengusik ketenangan Kyuhyun.
Mereka semakin sering menyulut api emosi dalam diri Kyuhyun, baik secara verbal maupun fisik. Di kelas, lapangan, maupun kantin Han Kaisoo melalui Shin Dong Min dan Lee Kwang So, selalu saja membuatnya hampir lepas kendali.
Berulang kali Kyuhyun mencoba menyabarkan diri. Berulang kali pula Shim Changmin harus memegangi Kyuhyun atau menyeretnya menjauh dari mereka bertiga agar ia bisa mengendalikan amarahnya. Namun kelakuan mereka bertiga tak kunjung berkurang malah semakin menjadi-jadi.
Hari ini adalah kesekian kalinya mereka mencobai Kyuhyun. Untunglah kali ini Kang Ho Dong Saem tahu dengan mata kepalanya sendiri. Jadi, teguran keras bisa dilayangkan pada yang membuat perkara.
Yang mereka lakukan hari ini juga belumlah seberapa dibandingkan dengan yang mereka lakukan sebelumnya jika tak ada guru atau orang lain yang tahu. Kyuhyun sudah pernah kehilangan kesabarannya tentu saja dan hampir meninju wajah Han Kaisoo kalau saja Shim Changmin atau Choi Minho tak buru-buru meyeretnya menjauh.
"Ini," kata Ryeowook sambil menyerahkan sebotol air mineral pada Kyuhyun.
Kyuhyun menerima botol itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hatinya masih amat dongkol. Entah sampai kapan Han Kaisoo dan kawan-kawannya akan selalu memancing perkara dengannya.
"Mereka masih suka mengganggumu?" tanya Kyuhyun pada Ryeowook yang duduk di sampingnya.
"Huh, siapa?" tanya Ryeowook kurang paham.
"Han Kaisoo dan teman-temannya, siapa lagi?" terang Kyuhyun gusar.
Kim Ryeowook tak menyahuti perkataan Kyuhyun itu. Apa juga yang mau dikatakannya. Toh, Kyuhyun juga tahu siapa dan bagaimana Han Kaisoo. Kyuhyun juga tahu Ryeowook tak akan berani melawan semua perlakuan Han Kaisoo padanya.
"Kau pasti tak pernah menolak apa pun yang menjadi keinginannya," kata Kyuhyun lagi.
"Kau pun tahu, tak ada gunanya melawannya," ucap Ryeowook.
"Apa maksudmu?" tanya Kyuhyun.
"Aku sering melihat mereka mengganggumu. Di kelas mereka pun juga sering mengolok-olok dan menyindirmu. Kau memang berani melawannya tapi itu tak membuat mereka jera mengganggumu. Apa untungnya?" kata Kim Ryeowook.
"Paling tidak aku tak jadi boneka mainannya," cela Kyuhyun pada kata-kata Ryeowook yang baru saja dilontarkan padanya.
"Aku hanya ingin kenyamanan, Kyu. Dan itu caraku mendapatkan kenyamanan itu. Tak ada yang gratis di dunia ini kau tahu? Aku tak punya uang untuk memperolah kenyamanan. Aku hanya punya sedikit pikiran dan tenaga," kilah Ryeowook.
Kyuhyun mendecih mendengar perkataan Ryeowook itu. Ryeowook yang ia kenal setahun yang lalu masih sama dengan Ryeowook yang kini duduk di sebelahnya.
"Kau tak pernah berubah. Apa pun yang pernah kukatakan tak akan membuatmu berubah kan, Kim Ryeowook?" sungut Kyuhyun.
Kyuhyun berdiri dari tempatnya duduk. Dibuangnya botol air mineral yang sudah kosong itu ke dalam tempat sampah. Suara kelontangnya terdengar nyaring karena Kyuhyun melemparkan botol itu dengan penuh kekesalan.
"Kau mau ke mana?" sergah Ryeowook.
"Ruang ganti," jawab Kyuhyun singkat.
Kim Ryeowook mengekori langkah Kyuhyun yang menjauh dari lorong ruang kesehatan itu. Tak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka berdua. Ryeowook masih membiarkan Kyuhyun yang merengut kesal, entah padanya atau pada Han Kaisoo dan teman-temannya.
"Dari mana saja kalian? Melampiaskan hasrat terpendam?" tanya seseorang penuh cemooh sesaat setelah Kyuhyun dan Ryeowook masuk ke dalam ruang ganti.
Kyuhyun menyumpah-nyumpah dalam hati saat sapaan tak mengenakkan itu ditujukan padnya dan Ryeowook. Suasana hatinya masih belum membaik sejak kejadian di lapangan tadi ditambah lagi dengan ini membuatnya benar-benar ingin melampiaskan kekesalannya.
"Jangan berucap apa pun. Tutup saja mulut sampahmu itu!" kata Kyuhyun yang tak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya.
"Apa kaubilang?"
"Tutup mulut sampahmu, Han Kaisoo-ssi! Aku tak butuh komentarmu hari ini," ucap Kyuhyun sambil membuka lokernya kasar.
Kyuhyun sudah bosan berurusan dengan Han Kaisoo dan teman-temannya. Sudah cukup batas toleransi dan kesabaran Kyuhyun pada semua yang sudah dilakukan Han Kaisoo padanya.
"Kau berani berkata seperti itu padaku? Kau pikir siapa dirimu? Manusia menjijikkan. Gay yang tak tahu malu," cecar Han Kaisoo lagi.
Kyuhyun membanting pintu lokernya dan menatap Han Kaisoo tajam. Manusia satu ini sudah sangat keterlaluan padanya. Mengatainya seenak perutnya dan membuat darahnya naik ke ubun-ubun.
"Mulutmu sepertinya tak pernah diajari sopan santun. Siapa yang kaubilang gay? Jangan bicara sembarangan!" sergah Kyuhyun dengan mata menatap nyalang pada Han Kaisoo.
"Kyuhyun, sudah. Ayo, kita pergi!" cegah Ryeowook yang takut kalau Kyuhyun benar-benar lepas kendali kali ini.
"Yang kumaksud itu kalian berdua. Jangan kira aku tak tahu apa-apa tentang kalian berdua. Tentang ketidaknormalanmu dan Kim Ryeowook," ejek Han Kaisoo lagi.
Kyuhyun menepis tangan Ryeowook yang masih mencengkeran lengannya dan mengajaknya meninggalkan tempat itu. Han Kaisoo sudah sangat melampaui batas. Kyuhyun tak bisa lagi hanya berdiam diri dan bersabar menerima semua perlakuannya.
"Jangan bicara sembarangan! Aku bukan orang seperti itu. Kim Ryeowook juga tidak. Mulutmu sudah sangat keterlaluan," teriak Kyuhyun marah dan mencengkeram kerah seragam Han Kaisoo.
"Kyuhyun, Hentikan. Sudah cukup!" teriak Ryeowook yang mulai panik.
Keadaan akan bertambah parah kalau Kyuhyun benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya kali ini. Di ruang ganti hanya ada mereka berempat sekarang, Cho Kyuhyun, Kim Ryeowook, Han Kaisoo, dan Lee Kwang So. Tak akan ada yang membantu melerai kalau Kyuhyun dan Han Kaisoo sampai lepas kontrol karena emosi.
"Yak, apa yang kau lakukan? Lepaskan!" sergah Lee Kwang So sambil menahan tangan Kyuhyun yang sudah bergerak ingin meninju mulut Han Kaisoo.
"Jangan ikut campur! Kau pun sama dengannya. Suka menindas dan menyebar fitnah. Seharusnya kau lebih tahu diri karena kau anak kepala sekolah," gertak Kyuhyun pada Lee Kwang So.
"Hoo, coba saja kalau berani, Cho! Seujung jarimu saja menyentuh kulitku akan aku pastikan hidupmu akan berakhir di Sajon," ejek Han Kaisoo pada Kyuhyun lagi.
"Kaukira aku takut padamu, hah! Apa orang tuamu tak pernah mengajarimu cara menghormati orang lain? Apa mereka tak pernah mengajarimu sopan santun? Mulut dan kelakuanmu tak menunjukkan sebagai orang yang terhormat dan terpelajar," jawab Kyuhyun sambil mendorong tubuh Han Kaisoo sampai membentur loker di belakangnya.
"Jangan bawa-bawa orang tuaku. Apa anak pelacur sepertimu juga pernah diajari sopan santun?" kata Han Kaisoo dengan marah.
Sudah. Cukup sudah Cho Kyuhyun menyabarkan hatinya. Ia sudah tak bisa lagi membendung emosinya. Perkataan Han Kaisoo barusan sudah amat menginjak-injak harga dirinya.
Tangan kanan Kyuhyun dengan cepat meninju wajah Han Kaisoo. Han Kaisoo yang sebelumnya tersenyun mengejek tak menyangka Kyuhyun akan benar-benar memukul wajahnya.
Ia mengaduh keras saat tinju Kyuhyun bersarang di pipi kirinya. Rasanya pedih. Han Kaisoo terhuyung dan jatuh ke samping. Namun, Kyuhyun tak berhenti sampai di situ. Ia terus memukul dan meninju wajah Han Kaisoo.
Matanya sudah gelap. Emosi dan amarah sudah menguasai akal sehatnya. Ia tak peduli pada Ryeowook yang berteriak dan mencoba menyeretnya menjauh dari tubuh Han Kaisoo yang terkapar di lantai.
Kyuhyun hanya ingin melukai sebanyak mungkin wajah Han Kaisoo. Ia sudah muak dengan semua ucapannya. Kyuhyun sudah muak dengan sikap Han Kaisoo yang semena-mena.
Tinju Kyuhyun tak berhenti meski Han Kaisoo mengaduh-aduh. Tinjunya bersarang di tiap bagian wajah dan tubuh Han Kaisoo yang bisa ia jangkau. Masa bodoh dengan akibatnya nanti. Kyuhyun hanya ingin Han Kaisoo terluka parah dan berhenti mengganggu hidupnya.
Kyuhyun duduk bak terdakwa di ruang BP. Selama setengah jam terakhir ia menjadi seorang tersangka kejahatan karena merusak wajah Han Kaisoo. Kyuhyun bahkan tak ingat bagaimana ia bisa sampai ke mari.
Ia tak tahu siapa yang berhasil menghentikannya setelah ia murka dan memukul Han Kaisoo membabi buta. Mungkin teman-temannya yang lain, mungkin juga para guru. Yang Kyuhyun ingat sejak setengah jam ia dicecar dan dibentak bergantian oleh Kang Ho Dong dan Nam Hoon Seonsaengnim.
Wajah besar Kang Ho Dong bahkan sampai memerah karena marah. Apa pun alasannya tindakan Kyuhyun memang tak bisa dibenarkan. Berkelahi walaupun untuk membela diri tetap tidak diperbolehkan. Terlebih lagi di lingkungan sekolah.
Nam Hoon Seonsaengnim sudah menelepon ke rumahnya. Meminta orang tua Kyuhyun untuk datang ke sekolah. Kyuhyun yakin ibunya yang akan datang. Mungkin ibunya akan langsung memarahinya atau bahkan memukulnya kalau beliau tahu Kyuhyun berkelahi di sekolah.
Kang Ho Dong Seonsaengnim mengantar Han Kaisoo ke rumah sakit. Pukulan Kyuhyun memang tak bisa dibilang ringan. Han Kaisoo harus memermak beberapa bagian wajahnya akibat pukulan Kyuhyun tadi.
Saat sendiri seperti ini, Kyuhyun mulai menyesali semua tindakannya tadi. Ia terbawa emosi. Seharusnya ia bisa mengendalikan amarahnya. Meskipun Kyuhyun bersikeras Han kaisoo yang sudah memancing perkara, namun hasilnya tetap saja Kyuhyun yang bersalah. Apalagi ia juga membuat Han Kaisoo terluka secara fisik.
Kyuhyun hanya bisa pasrah sekarang. Paling berat ia akan mendapatkan surat peringatan atau skorsing selama beberapa hari. Mungkin ibunya akan memberikan hukuman tambahan saat di rumah nanti. Yah, apa lagi yang bisa Kyuhyun lakukan sekarang selain meratapi dan menyesali kelakuannya.
Pintu ruang BP terbuka lebar. Nam Hoon Seonsaengnim memasuki ruangan itu bersama dengan ibunya. Wajah ibunya terlihat murka dan menatap sinis ke arahnya. Membuat Kyuhyun menundukkan kepalanya dalam-dalam menghindari tatapan mematikan ibunya.
Kyuhyun menyembunyikan wajahnya. Ia tak akan berani melawan ibunya apalagi saat ini ia tahu ia bersalah. Kyuhyun tak hendak membela dirinya di depan guru dan ibunya. Wajah ibunya sudah cukup memberinya tanda untuk diam.
"Silakan duduk!" kata Nam Hoon Saem pada ibu Kyuhyun.
Ibu Kyuhyun pun duduk di samping anaknya dan menatap Kyuhyun dengan penuh kemarahan. Kyuhyun menunggu dalam diam. Menantikan apa yang akan diucapkan dua orang dewasa yang seruangan dengannya itu.
"Seperti yang sudah saya sampaikan melalui telepon tadi, hari ini Kyuhyun memukul salah seorang teman sekelasnya. Lukanya cukup parah sampai harus dibawa ke rumah sakit. Menurut keterangan Kyuhyun, ia tak bisa menahan diri karena diejek oleh temannya itu. Meskipun demikian, memukul dan berkelahi sangat tidak diperkenankan di sekolah ini. Apalagi sampai menimbulkan luka dan trauma," ucap guru BP Kyuhyun tersebut.
"Saya mengerti, Saem. Maafkan kelakuan anak saya. Saya akan lebih memperhatikannya," jawab ibu Kyuhyun.
"Untuk hari ini Kyuhyun tidak kami perbolehkan untuk melanjutkan pelajaran. Sebagai peringatan keras untuknya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Namun, besok pagi Kyuhyun boleh masuk lagi dengan satu syarat, ia harus bisa lebih mengontrol emosinya," jelas Nam Hoon Saem lagi.
"Terima kasih, Saem. Saya akan membawa Kyuhyun pulang sekarang. Apakah saya boleh meminta nomor telepon orang tua teman yang dipukul Kyuhyun tadi? Saya harus memitakan maaf dan bertanggung jawab juga," kata ibu Kyuhyun.
"Tentu saja boleh. Sebentar akan saya tanyakan pada bagian tata usaha," jawab Nam Hoon Saem dan berlalu meninggalkan ruangannya.
Kini Kyuhyun sekarang hanya berdua dengan ibunya. Aura ruangan itu semakin gelap. Kyuhyun tak berani memandang wajah ibunya itu.
"Kenapa sekarang kau diam? Menyesali kelakuanmu hari ini?" tanya ibu Kyuhyun tajam.
Kyuhyun menelan ludahnya pahit. Ibunya yang marah memang selalu menyeramkan di mata Kyuhyun.
"Maaf, Eomma," kata Kyuhyun lirih.
"Maaf, maaf, percuma maafmu itu! Semua sudah terjadi. Tak bisakah kau bersikap lebih baik lain kali. Jangan hanya menuruti emosimu saja!" kata ibu Kyuhyun jengkel.
Well, orang tua mana pun juga akan bersikap seperti itu. Mereka menyekolahkan anaknya supaya pandai dan berkelakuan baik, bukannya berkelahi dan membuat masalah.
Kyuhyun terdiam. Ia tahu ia bersalah, namun bagian hatinya yang lain juga ingin berteriak. Ia tak bersalah sepenuhnya. Ia tak bisa tinggal diam begitu saja saat harga dirinya diinjak-injak seperti itu.
Nam Hoon Saem kembali ke ruangannya sambil membawa kertas kecil berisi nomor telepon dan alamat Han Kaisoo. Kyuhyun mengeluh dalam hati. Ibunya pasti akan memaksanya meminta maaf pada Han Kaisoo. Dan demi setan mana pun yang masih berkeliaran di dunia, Kyuhyun tak akan pernah mau menurutinya.
Mau ditaruh di mana harga dirinya kalau harus menunduk-nunduk meminta maaf pada orang yang sudah menghinanya sedemikian rupa. Han Kaisoo akan semakin jumawa kalau Kyuhyun sampai meminta maaf padanya.
"Kalau begitu kami permisi, Saem. Sekali lagi saya minta maaf atas kelakuan anak saya," ucap ibu Kyuhyun menginterupsi lamuman Kyuhyun.
Ibu Kyuhyun langsung menggandeng, atau lebih tepatnya menyeret, tangan anaknya itu melewati lorong sekolah menuju halaman depan. Tak ada sepatah kata pun yang terucap. Bahkan di sepanjang perjalanan menuju rumah pun tak ada yang mengucapkan apa-apa. Semuanya terdiam, sibuk berkutat dengan pikirannya masing-masing.
"Naik ke kamarmu dan diam di sana! Letakkan telepon genggam dan mainanmu di meja ruang tengah! Pikirkan semua yang sudah kaulakukan hari ini. Nanti sore kita ke rumah Han Kaisoo dan kau harus minta maaf padanya," suruh ibu Kyuhyun dengan nada tegas dan tak mau dibantah.
"Aku tidak mau," sergah Kyuhyun.
Membayangkan dirinya harus memohon-mohon pada Han Kaisoo terasa sangat mengerikan. Han Kaisoo akan semakin besar kepala dan merasa di atas angin kalau sampai Kyuhyun melakukan hal itu.
"Apa kau bilang?"
"Aku tak mau minta maaf padanya, Eomma. Itu bukan salahku. Dia yang mulai duluan," jawab Kyuhyun penuh emosi.
"Kaupikir apa yang sudah kau lakukan hari ini bisa dibenarkan? Dilihat dari sisi mana pun kau tetap bersalah. Lihat apa yang kaulakukan padanya. Kau bahkan mematahkan giginya dengan pukulanmu itu, kau tahu! Dan kau tak mau minta maaf dengan apa yang sudah kaulakukan? Apa aku pernah mengajarimu seperti itu?" murka ibu Kyuhyun lantang saat mendengar penolakan Kyuhyun.
"Dia pantas mendapatkannya. Eomma tak tahu apa saja yang sudah dilakukannya padaku. Kalau Eomma tahu, Eomma pasti tak akan menyuruhku minta maaf padanya," jawab kyuhyun tak kalah lantang.
"Cho Kyuhyun, berani sekali kau berteriak seperti itu padaku! Aku ini masih eomma-mu. Apa kurangnya aku mengajarimu untuk bersikap baik? Meminta maaf untuk hal seperti itu saja kau masih membantahku," ucap ibu Kyuhyun yang bertambah marah.
"Aku tetap tak mau, Eomma. Aku tak malu meminta maaf kalau aku memang bersalah. Tapi kali ini, aku tidak mau melakukannya. Dia mengataiku gay, Eomma. Dia juga menyebut Eomma pelacur. Aku tak berharap Eomma mengerti, tapi setidaknya Eomma tahu kenapa aku melakukannya," jawab Kyuhyun sedih.
Kyuhyun melangkah naik ke lantai atas menuju ke kamarnya. Hatinya sakit. Tapi, lebih sakit lagi saat ia mengatakan apa yang Han Kaisoo tentang ibunya. Ibunya perempuan baik-baik dan terhormat. Anak mana pun di dunia ini pasti akan melakukan hal yang sama kalau ibunya dihina seperti itu.
Sayangnya, ibunya tak mau mengerti. Ibunya lebih melihat hasil kesalahannya daripada mencari tahu apa penyebabnya. Dan itu membuat hatinya semakin perih.
TBC
Akhirnya bisa update Fighting juga. Sempat sulit bikin lanjutan ceritanya. Apalagi pekerjaan yang menumpuk-numpuk bikin ide cerita lari entah ke mana. Moga-moga setelah ini bisa rajin update, yah minimal sebulan sekali lah kayak telur ungu yang maunya nongol sebulan sekali tiap Sabtu pertama di awal bulan (Ceileh…). Happy reading, guys. Jangan sungkan-sungkan untuk review ya. Gomawo.
