"Kau mau kemana Kris?" Kris menghentikan langkahnya untuk menyahuti sang ibu. "Aku ingin ke mini market. Em... ibu..."
"Ya?"
"Bisa kah kau izin kan Jongin untuk memiliki ponsel?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku pikir kita terlalu mengekang nya selama ini. Setidaknya ia bisa melakukan hal-hal seperti anak remaja lainnya." Alis ibu nya bertaut, sedangkan Kris sudah mati-matian menahan kegugupannya.
"Apa dia yang memintamu untuk melakukan ini?"
"Tidak bu. Aku hanya kasihan pada nya." Kris tahu jika selama ini Ayah , Ibu nya bahkan dirinya sendiri sudah terlalu menyakiti Jongin. Setidaknya mereka bisa menebus nya mulai dari sekarang.
"Baiklah. Tapi bilang padanya agar tak pernah malas-malasan lagi, jika tidak aku akan mengambil ponselnya nanti." Kris berseru senang dalam hati. Ia tahu ibunya tak akan mungkin menolak permintaannya. Yah meskipun ibu nya terkadang bisa jadi begitu kolot.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
Cklek
"Dasar anak itu!"
.
.
.
"Kris?"
"Lihatlah apa yang ku bawa!?"
Tukk
"Ponsel? Darimana kau mendapatkan nya?" Kris merenggut kesal. Dapat ia bilang? Heol, tentu saja Kris membelinya.
"Aku membelinya. Untuk mu."
"Tapi aku sedang tidak ada uang. "
"Ambil saja. Ini hadiah untuk mu, lagipula ulang tahun mu seminggu lagi." Jongin tersenyum manis, dan Kris tak tahan untuk mencubit pipi sang adik hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Sakit! Tapi... terima kasih."
"Ya ya... kapan kau pulang?"
"Sebentar lagi."
"Baiklah aku akan menunggu mu di luar." Jongin hanya menganggukan kepalanya, sementara Kris pergi keluar untuk menunggu Jongin di sebuah kursi yang berada di luar mini market tersebut.
Skip
"Nomer ku ada di panggilan pertama. Lalu ada nomer Ibu dan juga Ayah, dan ini-
Ckrek
Foto ku, sebagai wallpaper mu." Jongin mendecak saat melihat betapa narsisnya sang kakak.
"Kau narsis sekali." Kris hanya memeletkan lidah nya pada Jongin. Jongin jadi kesal di buatnya, dan berakhirlah mereka dengan aksi saling kejar-kejaran.
"Berhenti kau! Hahaha..." Jongin memukul lengan Kris hingga pria itu mengaduh kesakitan. Dia tak menyangka jika tenaga Jongin ternyata lumayan juga.
Mereka menghentikan kegiatan mari-bercanda-di tengah- jalan itu, ketika seseorang yang mengendarai motor besar berhenti di depannya.
"Kris?!" Jongin segera menarik tangan nya dari lengan Kris, namun Kris menahannya.
"Hai Joon!"
"Kalian berpacaran?" Tanya pria itu bingung.
"Tidak. Dia adikku."
"Yak!" Jongin menyalak kecil. Bagaimana mungkin Kris mengatakan hal itu pada temannya, Kim Namjoon.
"Tak apa. Namjoon bisa menyimpan rahasia ini." Jawab Kris tenang.
"Kalian benar-benar bersaudara? Tapi mengapa kalian tak mirip sama sekali?"
"A-aku anak angkat keluarga Wu." Namjoon melebarkan mata nya terkejut. Dia tidak pernah menyangka jika Jongin dan Kris bersaudara. Tapi rahasia bahwa Jongin adalah anak angkat adalah yang membuatnya semakin tak habis pikir.
"Ku harap kau menyimpan rahasia ini Joon. Aku tak ingin hal ini sampai ke telinga orang lain."
"Tapi kenapa kalian bersikap seperti orang asing di sekolah?"
"Saat itu hubungan kami sedang tidak baik." Namjoon menganggukkan kepalanya, kurang mengerti sebenarnya. Tapi ia tahu bahwa lebih baik membicarakan hal ini lain waktu saja, lagi pula ada Jongin disini , gadis itu pasti kurang nyaman dengan pembicaraan ini.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Oh ya..."
Sreet
"Pakai ini Jongin. Cuaca malam ini sangat dingin." Namjoon memberikan jaket hitam yang ia kenakan kepada Jongin. Jongin yang masih dalam mode terkejutnya itu tanpa sadar menerima jaket itu. Dan Kris sudah mati-matian menahan diri untuk tidak mengumpat pada Namjoon.
"Sampai besok." Dan Namjoon mengakhiri aksi nya dengan mengusap kepala Jongin sebelum ia kembali melajukan motor nya.
'Sialan! Akan ku tendang kau besok!'
Tanpa memperdulikan raut sang kakak, Jongin pun mengenakan jaket pemberian Namjoon tersebut.
"Wah wangi nya maskulin sekali."
"Hey Namjoon itu jorok mana mungkin jaketnya wangi. Sudah, jangan mengendusi nya seperti itu!" Kris berjanji akan mengembalikan jaket itu dalam keadaan sobek esok hari.
.
.
.
Nyatanya Kris tidak benar-benar merobek jaket itu. Meskipun begitu ia tetap membalas dendam dengan cara mencelupkan jaket itu ke closet toilet sekolah, dan mendapatkan tatapan mematikan dari Namjoon.
"Sialan!" Namun Kris hanya mengedikkan bahu nya, masa bodo. Tak perlu khawatir jika Namjoon akan membeberkan rahasia nya, karena Namjoon bukan lah type pria seperti itu.
"Ku dengar hari ini guru Im tak akan masuk."
"Kalau begitu kebetulan sekali, aku ingin tidur." Sahut Namjoon, yang di hadiahi pukulan cukup keras dari Sehun.
"Bodoh. Guru itu pasti sudah menitipkan berlembar-lembar tugas untuk kita kerjakan bodoh!"
"Eyy Sehun, semenjak kau di tutori oleh Jongin kau berubah menjadi Sehun si anak rajin. Hahah..." kini giliran Kris yang memukul nya. Namjoon rasa Kris terkena virus Brother complex pada Jongin, dia menjadi begitu sensitif jika ada hal yang berhubungan dengan Jongin.
"Sialan. Aku tidak rajin, Joon. Aku hanya sedikit menggunakan otakku, tidak seperti mu." Sehun dan Kris tertawa begitu keras hingga seluruh penghuni kelas menatap mereka. Mereka memang begitu ramai jika sudah bersama. Dan tak akan ada seorang pun yang berani menegurnya.
"Brengsek kalian! Aku pergi dulu. Aku ingin tidur di ruang kesehatan." Namjoon pun akhirnya pergi meninggalkan kedua sahabat nya itu.
Sebenarnya sedari tadi mulut Sehun sudah gatal sekali untuk bertanya perihal hubungan Jongin dan Kris. Namun ia takut Kris malah balik curiga padanya.
"Ada yang sedang kau pikirkan?" Kris ternyata sudah mulai melihat gelagat aneh dari Sehun.
"Ah tidak. Aku hanya berpikir untuk menyusul Namjoon ke ruang kesehatan." Kris hanya mengangguk paham.
'Aku akan bertanya pada Jongin saja nanti.'
.
.
.
Jongin dan Irene hanya memutar bola mata nya malas saat melihat tingkah Chanyeol yang begitu aneh hari ini. Pria caplang itu sedari tadi hanya menatap ponsel nya tanpa memperdulikan makanan nya.
"Kenapa si bodoh ini?" Jongin bertanya pada Irene tanpa melepas pandangannya dari Chanyeol yang duduk di depan nya dan Irene.
"Entah lah... dia jadi semakin menyeramkan."
"Heheh..." Chanyeol terkekeh tiba-tiba, dan hal itu membuat Jongin dan Irene merinding.
"Jong... cepat kau tegur Chanyeol, sebelum jiwa nya di bawa oleh iblis!"
"Tidak mau! Bagaimana jika jiwa ku yang di bawa?! Biarkan saja Chanyeol yang pergi!" Sekarang Jongin dan Irene sudah saling berpelukan karena mereka ketakutan melihat tingkah Chanyeol yang semakin aneh itu.
"Kalian berdua kenapa?!"
"WOAH!/AKHH!" Jongin dan Irene berteriak ketakutan saat Chanyeol menegur mereka sehingga setiap pasang mata di kantin melihat ke arah mereka.
"Ampuni kami iblis! Ampun!!!" Jongin berseru seperti orang gila.
"Hey! Siapa yang kalian maksud iblis?!"
"Jongin, kau pasti sudah membuat iblis itu marah." Sahut Irene. Merek berdua bahkan mengeratkan pelukan mereka tanpa memandang ke arah Chanyeol yang sudah kesal dengan situasi ini.
"Kalian berdua ini kenapa? Iblis apa? Hey!!" Dengan ragu-ragu Jongin dan Irene mengintip ke arah Chanyeol.
"Chanyeol? Itu kah kau?"
"Jika bukan aku lalu siapa?"
Grep
"Syukurlah... kau kembali Chan!" Jongin memeluk Chanyeol dengan erat nya, dan pemandangan itu tak luput dari pengelihatan Sehun, Kris dan juga Namjoon.
"Sepertinya Jongin menyukai pria itu." Ujar Namjoon entah kepada siapa, yang jelas Kris dan Sehun merasa tercubit oleh kalimat nya itu.
"Sehun, mantan mu sepertinya bersahabat dengan mereka."
"Memang nya kenapa?" Tanya Kris.
Sebenarnya alasan Sehun memutuskan Irena bukan hanya karena dia bosan dengan wanita itu, tapi karena sifat licik wanita itu.
"Ya semoga saja dia tidak sedang merencanakan hal buruk kali ini."
Tbc
makasih buat review nya...hehe
