TWO SIDES

by Gyoulight

.

.

.

.

.

.

HUNHAN FANFICTION

GENRE: Drama, Romance

RATING: T

.

.

.

.

.

.

Detik demi detik jarum waktu berputar begitu saja. Sedangkan angin di luar sudah berhembus, meniupkan dingin teruntuk hiruk-pikuk kota Seoul. Lampu di langit-langit pun menawarkan kesunyian pada keempat jiwa yang masih sama-sama diam di posisi.

Jongin terduduk di tangga bersama Baekhyun yang sudah mengambilkannya sekantung es untuk memar di pipinya. Membantunya mengompres dengan benar sampai menenangkannya perihal Sehun yang kecewa padanya.

"Dia butuh waktu," bisik Baekhyun kemudian melirik atasannya masih berurusan dengan adiknya di sofa. Dan Jongin mau tak mau ikut memperhatikan keduanya dengan banyak harapan.

Lantas pada detik berikutnya, kesunyian mereka kembali pecah berkeping-keping.

"Kau tahu apa yang kau lakukan?" Sehun masih terduduk di kursinya. Memandang kosong adiknya yang masih berlutut sedih di hadapannya.

Adiknya itu hanya bisa menangis. Masih mengusap air matanya yang berjatuhan membasahi pakaiannya. "Maaf─" hanya itu yang bisa ia ucapkan.

Sehun memejamkan kedua matanya sejenak. Mencoba berpikir jernih meski emosinya penuh sampai kedua sahabatnya repot-repot berdoa di ujung sana. Berharap semuanya baik-baik saja, agar ia bisa memikirkan hal terbaik yang bisa ia lakukan selain marah. Tapi semua hal nampaknya sudah sangat melelahkan bagi Sehun. Dan ia benar-benar tidak butuh tangisan adiknya untuk menyelesaikan banyak masalah.

"Aku bahkan menjerumuskan seseorang ke dalam masalah ini. Kau pikir karena siapa?" Sehun memberi jeda pada kalimatnya. Menarik nafasnya dalam-dalam demi ketenangan jiwanya yang koyak. Pikirannya telah penuh dengan lubang dosanya sendiri, sampai bayangan Luhan mondar-mandir disana tanpa kenal tempat. "Aku bilang aku punya cara, tapi kau pergi seenaknya. Memusingkan ayah, dan sekarang kau bilang, kau─"

Pria pucat itu kembali kehilangan kata-katanya. Tidak habis pikir pada sederet keterangan kertas yang digenggamnya. Ia lantas mendekat pada adiknya. Menunjukkan kertas yang diberikan Zitao padanya siang tadi, tepat di hadapan adiknya yang semakin menggigit bibir menahan pilu. "Siapa yang melakukan ini padamu?"

Sena terdiam, tidak punya nyali untuk menatap kepingan hazel kakaknya. Alih-alih hatinya pedih mendapati kertas kusut itu dilepas di hadapannya. Sebuah kertas hasil pemeriksaannya yang entah darimana kakaknya itu dapatkan. Padahal Jongin dan Kyungsoo sudah sangat sibuk dalam merahasiakan hal ini.

"Jawab aku!" tuntut Sehun mengejutkan seisi rumah Jongin. Tak terkecuali pemiliknya yang sudah berubah cemas di samping Baekhyun. "Benar Kris?!" Gadis itu tidak bisa menjawab. Semakin mengundang emosi kakaknya yang sudah semirip ayahnya ketika marah.

"Baik, tinggal kau lihat bagaimana aku membunuhnya dengan tanganku sendiri."

"Jangan!" Sena menggeleng. Buru-buru ia meraih tangan kakaknya yang masih gemetar menahan emosi. "Aku tidak ingin─dia tumbuh tanpa ayah. Jangan membunuhnya."

Sehun menarik tangannya. Tidak habis pikir dengan pikiran konyol adiknya yang bahkan rela membiarkan Kris menang. Hanya karena segenggam nyawa yang entah darimana datangnya. "Lalu kau mencintainya?"

Sena menggeleng kuat. Ia kembali mengusap air matanya yang semakin deras membasahi pipi tirusnya. "Aku takut. Aku takut padanya. Aku tidak ingin bertemu dengannya."

"Lalu kenapa─"

"Sehun, hentikan. Kau membuatnya tertekan," saran Jongin di seberang sofa. Pria tan itu nyatanya sudah berdiri mendekat. Bersiap menjadi penengah karena ia sangat paham kondisi Sena dibandingkan semua orang yang ada di rumahnya.

"Diam!" perintah Sehun pada temannya sendiri. Ia sepenuhnya telah melarang siapapun mendekat atau ikut campur dalam masalahnya. Tidak terkecuali teman yang paling ia percaya. "Aku tidak ingin berbicara denganmu."

"Oppa─"

"Dengar! Setakut apapun kau padanya, masih lebih menakutkan posisi orang yang menggantikan posisimu." Sena menelan ludahnya kasar. "Apa kau mau bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padanya?"

Tidak mendapatkan jawaban dari adiknya, Sehun pun kembali menekan. "Sekarang terserah padamu, apakah kau mau tetap disini dengan Jongin atau kau pergi jauh dari sini. Terserah. Pernikahanmu dua bulan lagi dan aku tidak mau pusing."

Sena buru-buru menatap kakaknya yang mulai beranjak meninggalkannya. Menahan pria itu sekali lagi, meminta sesuatu yang bisa membuatnya baik-baik saja. "Oppa sudah berjanji akan menyelamatkanku," lirihnya. Membuat Sehun kembali berbalik, menatapnya penuh nyalang.

"Tapi kau sudah menghancurkan semuanya," tekan Sehun pada tiap frasanya. Kesabarannya habis. Ia sesungguhnya tidak tahu lagi harus bagaimana menangani adiknya. Ia sudah melakukan apapun, tapi semua seakan tidak berjalan dengan baik. Dan itu sama saja dengan apa yang dilakukannya sekarang. Tidak ada hasil.

Tapi Sehun masih yakin, ia bukanlah orang yang akan tega membuang adiknya. Ia paham bagaimana ketakutan adiknya pada Kris. Lagi pula semua ini adalah salahnya. Semua berawal dari dirinya. Kesalahan besarnya.

Andai ia memilih mati di tangan Kris saat itu, apa mungkin semuanya tidak akan serumit ini?

"Pergilah. Jangan sampai Kris menemukanmu."

e)(o

Pekatnya malam semakin merangkak. Daun-daun terus berjatuhan, mengotori jalanan kecil yang mobil itu lewati. Di depan pintu sudah berdiri Chanyeol yang memeluk dirinya sendiri. Masih enggan masuk sampai adiknya benar-benar sampai di hadapannya.

Baekhyun baru saja mematikan mesin mobilnya. Menoleh sekali lagi pada Sehun yang masih terdiam dalam alamnya sendiri. Tak butuh waktu lama sampai pria itu beranjak turun dari mobilnya meninggalkan kesunyian Baekhyun yang menatapnya.

Chanyeol sempat bertanya mengapa adiknya itu bisa mengabaikannya. Menolak dibantu lalu masuk begitu saja menggantung pertanyaannya. Tapi Baekhyun tidak bisa membantu apapun malam ini. Pikirannya terlalu penat dan ia bingung hendak mengatakan apa sebagai jawaban yang benar untuk Chanyeol.

Melihat Chanyeol yang kebingungan, Baekhyun akhirnya mencari pelukan menenangkan dari kekasihnya. Terus mengatakan bahwa mereka baik-baik saja. Tak lupa memohon untuk membiarkan Sehun sendirian malam ini. Dan untungnya, Chanyeol setuju untuk itu lalu membiarkan adiknya semakin dalam memasuki rumah.

e)(o

Sehun meniti koridor rumahnya yang sepi. Sinar temaram menyinari langkahnya yang beradu dengan pikiran kacaunya. Sedangkan separuh jiwanya sudah menghilang, berkelana untuk mencari segenggam ketenangan yang entah harus ia cari dimana.

Pria dengan mantel coklatnya itu baru saja hendak menemukan pintu kamar barunya, tapi ia lebih dulu menemukan Luhan yang membawa sebotol air di tangan. Pria itu mungkin baru kembali dari dapur dengan piama birunya. Masih dengan wajah kusut dan juga mata yang memerah seperti baru habis menangis.

Sehun terdiam sebentar ketika Luhan semakin mendekat padanya. Memeriksa sosok itu seperti ingin tahu mengapa penampilannya begitu menyedihkan.

"Kau baru pulang?" tanya Luhan hampir tak terdengar.

Sehun menatapnya dengan sorot membeku. Ia pikir, ia tidak akan menemukan Luhan di rumahnya malam ini. Tapi entah bagaimana pria itu masih berkeliaran di rumahnya seperti bayangan yang selalu menghantui alam pikirannya. Sampai ia sendiri lelah meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang dihadapannya kini adalah Luhan yang sebenarnya. "Kenapa kau masih disini?"

"Aku menunggumu," jawab Luhan menemukan kerapuhan hatinya. Menatapnya sedih dengan sejuta pertanyaan di dalam otaknya. Dan Sehun segera tahu sosok itu telah lama menunggunya. Menunggunya pulang, hanya untuk mendapatkan sebuah izin agar ia bisa kembali pulang ke rumah.

Menatap kedua mata yang sembab itu membuat Sehun mendekat. Merengkuh tubuh itu ke dalam dekapannya yang rapuh. Ia pun terdiam, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher orang yang didekapnya─sambil menyuarakan hatinya yang retak. Sehun hampir ingin menangis, entah karena apa. Tapi yang tidak ia mengerti adalah prihal ia yang bisa begitu lega karena menemukan Luhan disini. Masih bisa digenggamnya. Masih bisa ia lihat dengan kedua matanya.

Luhan membatu. Ia tanpa sengaja menjatuhkan botol airnya. Membiarkan botol itu menggelinding menjauhi kakinya dengan sangat tega. Jantungnya kembali berdebar sembarangan. Nafasnya pun terasa menyesakkan ketika ia menemukan nafas Sehun menerpa kulitnya. Tapi lambat laun sebuah ketegangan di dalam jiwanya berubah membisu. Menetralkan hatinya, kemudian membuatnya berubah begitu nyaman berada dalam kumparan magnetik yang diciptakan Sehun untuknya.

"Bantu aku," bisik Sehun semakin mendekap erat sosok itu. Ia sendiri sampai lupa kemana perginya tongkat yang sejak tadi menopangnya. "Aku akan membiayai sekolah adikmu, merenovasi rumahmu, atau memberimu uang sampai kau bingung dimana kau harus meletakkan uang-uangmu, ambil semuanya─"

"asalkan kau mau menjadi dia."

Luhan tergugu. Ia sebelumnya sangat membenci perkataan Sehun yang seperti ini. Ia mungkin mendambakan uang untuk hidupnya, karena pada kenyatannya ia memang membutuhkan uang. Tidak bisa dipungkiri jika ia memang menerima pekerjaan ini semata-mata hanya karena uang. Tapi apa sebegitu rendahkah ia di mata Sehun, sampai pria itu memohon bantuannya dengan imbalan uang?

Menyedihkan memang. Ia pun tidak punya alasan untuk marah karena kenyataannya memang seperti itu. Toh, ia memang akan melakukan apapun demi uang.

"Aku mohon, bantu aku," Sehun kembali memohon. Entah apa yang terjadi padanya, sampai ia rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon pada orang seperti Luhan. Yang sebelumnya hanya ia anggap pengacau rencananya dan juga seorang pemeran pengganti dalam kisah yang ditulisnya. Tidak lebih berarti dari apapun.

Namun ada sesuatu yang mengganjal di hati Luhan ketika pria itu kembali membenamkan kepalanya di sisinya. Seakan pria itu mencari sebuah pegangan. Mencari sesuatu yang bisa menopangnya untuk tetap berdiri. Seakan ia memiliki masalah yang harus ia lalui tapi tidak punya cukup amunisi untuk menyelesaikannya.

"Jangan menghilang," lirihnya terdengar cukup sedih.

Luhan pun berubah iba. Ia tahu-tahu sudah menggerakkan lengannya. Mengusap punggung lebar itu lembut seolah menyingkirkan debu dari porselen yang retak. Berharap hal kecil yang ia lakukan bisa sedikit meringankan bebannya.

"Kau─baik-baik saja?" tanya Luhan ragu.

Sehun tidak bergerak. Masih betah memeluknya dengan mata terpejam. "Diam─"

"Huh?"

"tunggu sebentar," bisiknya lagi.

Hening kemudian menyelimuti Luhan. Ia bisa merasakan seluruh desiran darahnya mengalir dengan normal. Jantungnya pun tidak berpacu dengan gila seperti sebelumnya. Malah ada sesuatu yang membuat hatinya berubah hangat. Sesuatu yang tiba-tiba menenangkannya seakan baru saja mendapatkan kedamaian jiwa. "S-sehun?"

"Hm?" suara berat itu kembali memporak-porandakan kedamaian nafasnya.

"S-sebenarnya, aku haus," tuturnya pelan. Masih menikmati bagimana aroma Sehun menari-nari di dalam paru-parunya. "Aku tadi bermimpi buruk sekali."

"Kau menjatuhkan botol airmu." Sehun kembali membuat lehernya terserang geli. Dingin kulit pria itu pun segera membuat bulu kuduknya meremang. Mengantarkannya pada perasaan aneh soal kakinya yang mendingin. Kemudian membuatnya berubah menjadi takut untuk melihat seisi koridor sepi dari sela bahu bosnya.

"B-baekhyun melihat kita," gumam Luhan yang sebenarnya sedikit berbohong. Bagaimanapun ia harus segera pergi dari sana sebelum ketakutannya pada sesuatu yang ganjil semakin menyerangnya.

Sehun buru-buru membuka matanya lebar-lebar. Reflek mendorong tubuh itu untuk segera menjauh darinya. "Apa?!"

"Baekhyun dan Chanyeol melihat kita," sambung Luhan menjuput botol airnya di lantai. Sedangkan Sehun mencari-cari keberadaan dua orang yang Luhan sebutkan. Tapi nihil, tidak ada seorang pun selain mereka berdua.

Merasa dibohongi, Sehun akhirnya berbalik dan ingin segera membuat komplain pada Luhan. Namun ia malah mendapati Luhan sudah berlari menjauhinya. "Selamat malam, bos," pamitnya tersenyum dengan lambaian tangan yang lucu.

e)(o

Kris masih bergulat dengan meja kantornya. Menulis sesuatu dengan pulpennya di tepian kertas, tak perduli jika itu memanjang atau berantakan. Pada lembaran berikutnya ia menemukan sebuah design dalam bentuk kerangka dan juga beberapa keterangan yang entah sejak kapan menjadi amat sangat kecil─sampai kepalanya pusing sendiri. Merasa kehilangan minat membacanya, ia pun memutuskan untuk melepas lembaran itu lalu membuka kaca matanya.

Sesaat, sekertarisnya kemudian masuk dengan amat sopan. Berjalan dengan sangat anggun sambil membawakannya secangkir kopi sebagai penghilang penat. Tapi mungkin itu semua tidak benar-benar membantunya untuk berhenti pusing. Tidak perduli seberapa enaknya kopi dan betapa sempurnanya sekertaris yang ia punya.

"Bisa kau panggilkan Taeyong?" ucapnya memijit sedikit keningnya. "Aku ingin dia membawakanku beberapa file."

Sekertarisnya itu kemudian tersenyum lembut setelah benar-benar melepas kopinya di atas meja. "Anda baru saja menyuruh Ten dan Taeyong untuk pergi menemui klien."

Kris akhirnya hanya bisa memejamkan kedua matanya. Ini bukan kali pertamanya ia kehilangan fokus. Tidak setelah salah satu anak buahnya gagal menyingkirkan salah satu kepala casino di Macau. Alih-alih perusahaannya mendadak dilanda gangguan. Walaupun tidak berdampak besar, karena ia punya team pembersih. Tapi entah sejak kapan pembalasan seorang bos besar itu menjadi tidak main-main. Alhasil ia harus terbang ke China, bolak-balik Guangzhou-Macau untuk menyelesaikan semua pekerjaan serta masalahnya yang menumpuk.

Kris mengaku bukanlah orang yang seceroboh ini sebelumnya. Ia selalu menyelesaikan masalahnya dengan sesuatu yang clear. Tidak berbekas dan juga impas. Sayangnya Zitao terlalu ceroboh untuk bermain-main dengan tugasnya. Mencoreng namanya tanpa ampun. Dan tidak seharusnya ia mempercayakan tugas vital untuk pria berantakan itu.

"Katakan pada Yixing untuk segera menghubungiku," perintahnya kemudian mengambil ponselnya yang bergetar. Ia pun menjawab panggilan itu dengan sebuah keheningan sampai orang di seberang sana berbicara terlebih dahulu.

"Bos, Zitao menghilang," lapor salah satu anak buahnya di seberang sana. Membuat Kris mendegus tidak sabaran, sampai ingin melempar kopi dari tangannya.

"Baik, saya permisi," hormat sekertarisnya kemudian segera pergi dari sana. Terburu-buru, tidak ingin mendengar pembicaraan atasannya.

Pria pirang itu memutar kursinya. Menatap dinding kaca di depannya yang merefleksikan gedung-gedung metropolis Guangzhou. "Aku sudah mengatakan untuk menyingkirkannya setelah ia sampai di rumah!"

Anak buahnya di seberang sana kemudian berubah menjadi ketakutan. "Zitao tidak pulang selama dua hari, bos. Kami─"

"Itu masalah kalian! Apa aku harus memerintahkan sesuatu yang sudah jelas?!" Kris menarik ikatan dasinya. Tak lupa membuka dua kancing kemeja atasnya sampai ia bisa bernafas dengan benar. "Segera temukan dia, bagaimana pun caranya."

"Tapi bos, ada sesuatu yang aneh. Sinyalnya terakhir kali terlihat di Seoul."

Kris berdecih, tidak percaya pada dirinya sendiri, mengapa ia bisa merekrut banyak orang idiot untuk bisnis bayangannya. "Segera temukan lokasinya. Sampai 24 jam kau tidak bisa menemukan jejaknya, maka kepalamu yang akan jadi gantinya."

Kemudian sambungan itu diputus. Menyisakan dering telpon kantornya di sudut meja─hasil terusan panggilan sekertarisnya yang bekerja di luar sana. Tanpa ragu ia menjemput ganggang telpon itu. Berusaha berbicara dengan jelas, demi menghindari anak buahnya kembali gagal dalam bekerja hanya karena ia yang kurang tegas. "Yixing bergabunglah dengan Lion, temukan Zitao bagaimanapun caranya─"

"Dan ingat, jangan sampai membunuhnya."

e)(o

Minseok memeluk tubuh Luhan ketika pria itu sampai di pintu. Ia sampai repot-repot membawakannya satu tas besar hasil masakannya sendiri untuk Luhan. Sedangkan Luhan yang dipeluk temannya itu lantas kehabisan nafas. Buru-buru menepuk pundak Minseok untuk segera melepaskannya.

"Minseok, aku tidak pergi untuk selamanya," protes Luhan yang mengundang tawa Baekhyun di sampingnya.

"Sampaikan salamku untuk bibi," pesan Baekhyun kemudian memeluk sahabatnya. "Maaf tidak bisa mengantarmu pulang. Kau tahu dia sangat sensitif akhir-akhir ini. Aku bahkan bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus saat dia marah."

Luhan mengangguk paham. Ia sudah kenal betul dengan sahabat brunettenya itu. Meski mereka tidak punya waktu untuk bermain bersama seperti dulu, Baekhyun tetaplah Baekhyun yang ia kenal. Tidak berubah satu pun hal yang menjadi ciri khasnya.

Chanyeol kemudian berjalan memasuki mobil. Menghidupkan mesin dan buru-buru mengecek mobilnya sebelum memutuskan untuk berangkat dengan Luhan. "Kau punya sesuatu yang kau inginkan?" Pria jangkung itu kemudian menurunkan kaca mobilnya. Memburu kekasihnya dengan sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak penting.

Baekhyun melipat lengannya di dada. Mendekati sisi mobil sambil menatap kekasihnya dengan tatapan sangat konyol. "Jangan mampir ke rumah atau ibuku akan menahanmu sampai besok."

Luhan lalu membawa tasnya masuk ke mobil. Menggeleng pelan sambil berusaha mengabaikan dua sejoli yang tengah memainkan drama picisan di depannya. Tapi tiba-tiba saja matanya mendapati kehampaan ketika ia menoleh kembali ke rumah besar itu.

"Jangan mampir ke sembarang tempat. Kau benar-benar harus mengantarnya sampai di depan pintu rumahnya." Baekhyun tanpa henti mengoceh seenaknya. Melupakan semua orang yang sudah berdiri di bawah terik matahari, sampai ia sendiri lupa kalau ia juga harus segera pergi ke bandara.

"Aku tahu, baby," jawab Chanyeol sabar. Tak lupa tersenyum manis pada sikap kekasihnya yang selalu menjadi cerewet ketika mereka berpisah. "Ngomong-ngomong, kau melupakan sesuatu pagi ini."

"Apa?" Baekhyun mengerutkan dahi. Menatap kekasihnya dari luar dengan sangat tidak mengerti. Alih-alih Chanyeol sudah menunjuk pipinya. Meminta ciuman selamat jalan seperti biasanya. Tapi─

"Tidak sekarang, Chanyeol," tolak Baekhyun mentah-mentah.

Chanyeol berubah mencebik. Menutup kaca jendela mobilnya sampai Baekhyun kesal sendiri karena ia belum selesai bicara. Sedangkan Minseok sudah menggeleng ria menatap keduanya yang semakin hari semakin berubah menjadi kekanak-kanakan.

"Luhan masuklah," tutur Minseok membangunkan lamunan Luhan yang masih menatap jendela besar di dekat air mancur. Tidak lain dan tidak bukan adalah jendela ruangan kerja Sehun yang terlihat tidak bertuan. Entah kemana perginya pria Oh itu sejak ia bangun pagi ini.

"Jangan menghilang,"

Luhan kembali terdiam dalam lamunannya. Bayangan tentang semalam membuatnya terus memikirkan Sehun. Pegangannya pada ujung pintu mobil pun semakin mengerat ketika ia mengingat dengan benar untaian kalimat pria itu. Meratakan seluruh kerinduannya pada rumah. Hingga tiba-tiba ada sesuatu yang membuat hatinya meragu untuk masuk. Entah apa, yang jelas perasaannya memberat. Seakan tidak ingin pergi untuk hari ini.

Tapi di sisi lain ia merindukan ibunya. Dan ia harus benar-benar memakai kesempatan ini untuk menjelaskan banyak hal pada ibu dan adiknya. Termasuk tentang kemana ia selama ini atau menjelaskan apa yang dilakukannya, agar ibunya tidak cemas.

Luhan pun tanpa ragu memasuki mobil. Mengambil sabuk pengamannya, tak lupa menoleh pada Baekhyun dan Minseok yang masih berdiri di luar. "Sampai jumpa hari kamis."

Minseok mengedipkan salah satu matanya. Mendekat ke arah jendela mobil hanya untuk membisikkannya sesuatu. "Saat kau pulang nanti, akan ku traktir pizza."

Dan Luhan pun segera terkekeh. Tak lupa melambaikan tangannya sebelum mobil itu melesat─keluar dari gerbang kediaman Sehun yang besar.

e)(o

Lama berselang, aktifitas Luhan di dalam mobil kembali menjadi sepi. Ia terus terdiam menatap keluar jendela. Mengabaikan Chanyeol yang mulai bersenandung atau meribut dengan musik rock di playlistnya. Luhan pun mengaku jika mereka sebenarnya tidak begitu dekat untuk membicarakan banyak hal. Terlepas dari Baekhyun yang selalu mengoceh, membicarakan kekasihnya sehari tiga kali pun tidak akan membuat Luhan menjadi akrab dengan pria kelebihan kalsium ini.

"Sehun terlalu bekerja keras," tutur Chanyeol masih berkonsentrasi dengan jalanan di depannya. Luhan pun menoleh pada kekasih temannya itu ketika nama Sehun disebut. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa sedikit lega karena mendengar kabar pria itu pagi ini. "Pagi buta dia sudah duduk di ruangannya."

"Semalam apa kau bertemu dengannya?" Chanyeol kini menawarkannya sekaleng cola. Mengajaknya menikmati minuman kaleng itu karena sama-sama menunggu giliran lampu hijau. Ya, sebut saja ingin membunuh kecanggungan yang mendera.

Luhan segera mengambil kaleng minuman itu. Ia tiba-tiba terserang gugup saat teringat kembali tentang bagaimana Sehun memeluknya semalam. "Ya─"

Chanyeol membuka kaleng minumannya. Menegak colanya dengan buru-buru karena tidak ingin terkejut jika lampu hijau tiba-tiba menyala, kemudian mobilnya diteriaki klakson para mobil di belakang. Terlalu memalukan, bukan? "Aku selalu cemas padanya."

"Dia akan baik-baik saja," tutur Luhan yang kemudian menegak colanya dalam kedamaian.

Chanyeol diam-diam tersenyum kecil. Kembali memutar setirnya ketika lampu kini sudah menyala hijau. "Kalian pasti sangat akrab."

"Tidak juga," kikik Luhan.

Chanyeol terkekeh. Melihat Luhan tertawa seperti itu membuatnya menerawang pada acara makan malam mereka kemarin malam. "Kau terlalu mirip dengan Sena─terutama kemarin malam. Itu pertama kalinya aku melihatmu dengan penampilan seperti itu."

Luhan berubah kikuk. Ia pun segera mencari topik lain untuk menghindari pembicaraan tentang dirinya yang memalukan. "Kau pasti tidak akan percaya jika Baekhyun juga pernah memakai gaun pesta."

"Benarkah?" Chanyeol sedikit terkejut. Luhan pun tidak akan menyesal jika suatu hari Baekhyun marah padanya karena tega membocorkan rahasia kecil ini pada Chanyeol. "Aku selalu marah padanya ketika dia melakukan itu."

Luhan kemudian tertawa sambil menahan colanya yang beriak. "Kenapa?"

"Entahlah, aku hanya suka dirinya yang biasa."

Luhan kemudian berdecak kagum. "Kau pacar yang baik."

Chanyeol pun hanya bisa terkekeh mendengar leluconnya.

e)(o

Sehun masih terduduk di kursinya. Membolak-balik halaman dokumennya, sambil memainkan pulpen di tangan. Pria itu kembali memutar kursinya. Mengisi pikirannya dengan banyak hal, tapi semua yang ia baca tidaklah benar-benar masuk ke dalam pikirannya.

Matanya tanpa bisa dicegah mengarah ke luar jendela. Menatap kakaknya yang masuk ke mobil, tawa pagi Minseok, Baekhyun dan sebagai bonusnya adalah Luhan. Sehun bahkan tidak mengerti bagaimana ajaibnya seorang Luhan yang bisa menghantui malam-malamnya. Membuatnya tidak bisa terpejam, dan terakhir ia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk keluar ke halaman rumahnya. Hanya karena ia sangat ingin mengingatkan pria itu untuk pulang sesuai dengan jadwal yang mereka sepakati. Sesepele itu.

Tapi disinilah Sehun sekarang. Berhasil menghindari pemikiran tak logisnya untuk keluar dari ruangannya, atau bergabung dengan mereka yang tengah mengatakan 'sampai jumpa'. Toh Luhan juga akan kembali ke rumahnya, kenapa semua orang akan sedih saat dia pulang?

Sehun akhirnya mencari keberadaan kopinya. Melepas dokumen membosankan itu ke mejanya lalu menjuput cangkir kopi yang sudah lama mendingin terabaikan. Dan ia kemudian menemukan Luhan menatap jendela ruangannya. Sehun pun urung menyesap kopinya. Lantas terdiam menangkap sosok yang seolah menatapnya sendu itu.

Bayangan tentang semalam pun kembali bergerilya membangku hantam kesadarannya. Ia pun terserang gugup. Mau tidak mau menepis bayangan itu dari benaknya. Karena percaya atau tidak, Sehun masih tidak percaya bahwa ia bisa memeluk pria aneh itu semalam.

Akhirnya, Sehun pun membalik kursinya. Tidak ingin berlarut-larut dalam lamunannya sendiri, terutama dalam hal mencari tahu tentang sesuatu yang tidak ia pahami.

e)(o

Baekhyun mengembungkan pipinya beberapa kali sambil memeluk lengan-lengannya yang dingin. Ia kemudian memutuskan untuk masuk kembali ke dalam mobil. Merasa kesal hingga repot mendial seseorang yang membuatnya menjadi patung di depan sebuah penginapan kecil. Ditambah dengan ia yang sudah kerepotan menelusuri gang-gang sempit dengan mobilnya. Salahkan gedung pinggiran yang begitu padat serta ditata dengan serupa ini, hingga pria itu bingung kemana ia harus memarkir mobilnya.

"Aku menunggumu hampir setengah jam," protes Baekhyun menghujam pria tinggi itu dengan tatapan pisaunya. Jasnya pun ia lempar begitu saja ketika melihat Zitao berhasil memasuki mobil.

Zitao menatapnya dengan tatapan keberatan. Ia tidak ingin disalahkan begitu saja, ketika semua yang membuatnya terlambat dikarenakan usahanya dalam memenuhi syarat pria Byun ini. "Aku bahkan harus mewarnai rambutku menjadi hitam karenamu, jadi diamlah."

Baekhyun kemudian tercengang dengan penampilan pria di sampingnya itu. "Kau harusnya mewarnai penampilanmu juga. Arion tidak pernah punya karyawan berpenampilan preman sepertimu."

Zitao berdecih. Keberatan kalau cincin dan kalungnya ikut dikomentari. "Aku tidak bisa memenuhi yang satu ini," tuturnya membenarkan letak topinya. Tidak perduli bagaimana Baekhyun terus menatapnya seperti mesin scanner.

Baekhyun dengan berat hati menghidupkan mesin mobilnya. Segera membawa mobilnya melesat keluar ke jalan besar sebelum pesawat benar-benar lepas landas. "Jangan pakai masker, kau bukan seorang idol."

"Demi Tuhan, kenapa kau cerewet sekali," balas Zitao tetap memakai maskernya. Mengeratkan mantel tebalnya sambil mengabaikan Baekhyun yang menatapnya jijik. "Aku sudah memberikan ID aksesku."

Baekhyun meliriknya tajam. "Itu saja tidak cukup, bodoh. Bagaimana jika mereka menemukanmu?"

"Aku punya pistol," jawab pria itu enteng. Seenteng ia mengatakan punya banyak permen dalam saku mantelnya.

"Pistolmu kecil. Apa yang akan kau lakukan kalau mereka terlalu banyak?"

"Aku bisa berkelahi."

"Kalau mereka melawanmu dengan pistol?"

Zitao mengusap wajahnya frustasi. Ia nyatanya masih tidak bisa bergaul dengan masyarakat pribumi. Percaya atau tidak ia baru saja dipandang tidak nyaman oleh penyewa penginapannya pagi ini. Entah karena sikapnya atau mungkin perkataannya, yang jelas Zitao tidak suka berurusan dengan orang lain selain sebagai kebutuhan misi. "Menyetirlah dengan cepat. Kris tidak mungkin menugaskan banyak orang untuk mencariku."

Baekhyun menaikkan salah satu alisnya. Sebenarnya ia sedikit penasaran bagaimana sistem perusahaan bayangan Kris itu berjalan. Baikkah? Cukup kriminalkah? Atau mungkin tidak sesuai dengan dugaannya? "Kenapa begitu?"

"Aku seharusnya sudah dibunuh."

Dan jawaban dari Zitao itu sukses membuat Baekhyun kehilangan kendali dalam menyetirnya. Ia reflek menekan remnya keras-keras sampai membuat aspal berdecit dengan roda mobilnya. "Jadi kau mau bilang bahwa aku tengah menyelamatkan seorang buronan?" Zitao mendegus. Ia lalu membuang punggungnya pada sandaran kursi. Tak lupa menurunkan kaca jendela, sampai ia bisa membuang keterkejutannya atas pemberhentian yang mendadak seperti ini. "Bodoh, seharusnya aku mengantar temanku saja hari ini. Benar-benar sialan!"

"Tenanglah, aku punya pistol," tekan Zitao sekali lagi. Matanya kemudian tak sengaja terpaku pada kaca spion. Mendapati mobil yang tidak asing membuat Zitao dirundung kesal. "Seseorang mengikuti kita."

Mendengar Zitao yang masih berceloteh, Baekhyun pun melotot. Gemetar tangannya kembali menggenggam setir. "Apa?!"

Zitao mengeluarkan pistolnya. Menaruhnya tepat di balik saku mantelnya sebelum memeriksa siapa yang sebenarnya Kris tugaskan untuk mengeksekusinya "Hyundai hitam, arah jam empat. Naikkan kecepatan."

Zitao terus berceloteh aneh. Mengawasi sisi belakang mobil dengan mata elangnya sambil bersikap awas jika tau-tau mereka melepas tembakan. Bodohnya Zitao yang seharusnya lebih peka pada mobil familiar itu. Bahkan sejak mereka turun ke jalan, mobil itu terus saja mengikuti mereka. Termasuk saat mereka berhenti mendadak.

"Aku bahkan tidak mengerti dengan perkataanmu, sialan!" Baekhyun berubah panik. Ia pun bersiap mengeluarkan sumpah serapahnya dengan bebas sekarang juga. Kalau bisa ia mengutuk hidupnya sendiri, yang entah sejak kapan sudah berlangganan dengan kesialan. "Apa maksudnya dengan─kita diikuti?"

"Zhang Yixing." Zitao masih beredar di dekat jendela. Masih mengamati badan mobil yang mengejarnya, sampai ia sendiri melihat dengan jelas ciri-ciri sang supir. Dimana seseorang itu adalah milik Kris yang paling kompeten. "Kris benar-benar berengsek!"

Baekhyun menggeleng sambil menaikkan kecepatan mobilnya. Ia bisa bersumpah bahwa ia bukanlah siapa-siapa dalam masalah mereka. Tapi mengapa ia bisa terlibat begitu banyak seperti ini? Bagaimana jika ia juga akan dibunuh? "Aku bersumpah aku belum siap untuk mati."

Zitao meremas tangannya sendiri. Bosan dengan paranoid Baekhyun yang sangat payah untuk didengar siapa saja. Zitao bahkan mengaku pernah meratakan banyak musuh untuk Kris, apalagi adu kejar-kejaran seperti ini. Jadi ini bukanlah apa-apa baginya selama ia masih bisa membaca pergerakan lawan. "Naikkan kecepatannya!"

Tapi Baekhyun lebih frustasi ketika menyaksikan barisan mobil di depannya mulai menunggu lampu hijau. Begitu ramai dan padat seperti yang ada di dalam benaknya. Lagi pula tidak pernah sekalipun ia ingin mencoba menerobos lampu lalu lintas. Apalagi dengan mobil barunya yang masih suci dari catatan kepolisian. "What the hell, itu lampu merah!"

"Aku bilang jalan!" bantah pria beranting itu. Tidak perduli bagaimana kebingungan yang melanda Baekhyun. Sampai harus meneriakinya seperti orang idiot.

"Tidak!" Baekhyun menginjak remnya. Mengambil barisan di antara banyak mobil yang menumpuk di sepanjang garis. "Aku tidak mau jadi orang sinting yang menembus lampu merah. Itu beresiko!"

Maka Zitao melotot padanya. "Kita tidak punya waktu!"

"Aku bahkan baru membeli mobil ini," tekan Baekhyun tak mau kalah. Sebagai warga sipil yang baik sudah seharusnya ia menaati banyak aturan bukan? "Aku tidak ingin mati. Apa yang akan dia katakan jika menemukanku mati kecelakaan karena ulah orang-orang ini? Dia pasti akan jadi orang paling gila sejagat raya. Oh Tuhan."

Baekhyun yang frustasi kemudian menjadi ribut sendiri dengan kalimat-kalimatnya. "Ini semua adalah salahmu!"

Zitao yang lelah dengan sikap Baekhyun, mau tidak mau memerintahkan pria brunette itu untuk mengambil opsi lainnya. "Belok kiri."

Sekali lagi Baekhyun tidak memiliki pikiran yang sama dengannya. Lagi pula bagaimana mau sepikiran, sedangkan pertemuan mereka saja dimulai dengan kisah yang buruk. "Kenapa kita harus belok kiri?! Kita akan mengambil arah yang salah."

"Menyingkir!" titah Zitao membuka sabuk pengaman Baekhyun. Berusaha bertukar posisi dengannya, tidak perduli dengan hitungan angka mundur yang masih menggantung di atas sana.

"Kau gila?!" Baekhyun meneriakinya. Tidak setuju dengan pemikiran gila Zitao.

"Biar aku yang menyetir. Tukar posisi," perintahnya sekali lagi.

"Bagaimana bisa─ya!" Tanpa aba-aba, lengan Baekhyun sudah ditarik paksa dari kursinya. Membuat tubuhnya oleng ke sisi lain, sementara Zitao sudah melangkahinya untuk merebut kursi kemudi.

Lantas Baekhyun hanya bisa mengumpat seenaknya. Melepaskan kekesalannya pada orang sinting yang sudah membanting setirnya. Nyaris ia hanya bisa diam menyaksikan Zitao mengambil arah kiri dengan kecepatan paling gila yang pernah ada. "Berengsek!"

Baekhyun kemudian mencoba mendial seseorang dengan ponselnya. Matanya pun berkabut tanpa dikomando. Ia mungkin akan benar-benar menangis, tidak perduli lagi kemana Zitao akan membawanya pergi.

"Chanyeol─"

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

Chap 13, yehet!

Btw akhir-akhir ini banyak yang terjadi ya? Mulai dari kasus anu (itu aku kepo banget sumpah endingnya gimana), sampai soal 'Basic-Ace' ciptaan agensi pink yang seolah mengatakan 'kalau kau cinta, maka buktikan' :')

Duh lupain, lupain…

Kalian apa kabar? Buat yang baru datang, welcome ya. Makasih karena udah mau baca ff berantakan kayak gini. Makasih juga atas reviewnya ^^

Sampai jumpa minggu depan.