CHAPTER 17
Kyuhyun masih merasa kesal. Sejak siang tadi, ia mengurung diri di dalam kamarnya. Bukankah ibunya juga yang menyuruhnya untuk diam di kamar dan bermeditasi. Merenungi kesalahannya.
Namun, hanya berdiam diri di kamar dan tak melakukan apa-apa justru membuat kekesalan semakin menumpuk dalam batinnya. Rasa amarahnya pada Han Kaisoo malah semakin menjadi-jadi. Rasanya belum cukup ia memukulnya tadi. Han Kaisoo perlu merasakan lebih dari itu. Seperti yang dulu pernah dilakukannya pada Kyuhyun melalui tangan Kim Chul Sik.
Hari sudah merangkak senja. Kyuhyun membiarkan saja kamarnya yang mulai gelap. Ia tak hendak menyalakan lampu untuk menerangi kamarnya yang suram tersapu malam. Kyuhyun akan melewatkan saja makan malamnya. Ia tak bernafsu untuk makan sekarang.
Kyuhyun bergelung di atas tempat tidurnya. Tadi ia bisa sejenak memejamkan matanya tenggelam kea lam mimpi dengan pikiran yang rusuh. Perasaannya sudah jauh lebih baik sekarang meskipun ada sedikit rasa kesal yang masih tertinggal.
Pintu kamar Kyuhyun terbuka pelan. Menampilkan sosok Siwon, hyungnya, yang harus memicingkan matanya saat melihat kamar Kyuhyun yang gelap.
"Kyu, Eomma memanggilmu untuk makan," kata Siwon sambil mencetekkan saklar lampu.
Kyuhyun masih saja bergeming. Ia tak mengindahkan Siwon dan tetap bergelung membelakangi huyungnya itu.
Siwon mengerti Kyuhyun sedang merajuk. Entah kenapa. Tadi sepulang kuliah, Siwon juga melihat wajah ibunya yang suram. Meskipun sempat tersenyum saat membalas sapaannya, namun Siwon tak menemukan sinar keceriaan dalam mata ibunya itu.
Kalau melihat Kyuhyun yang seperti ini, mungkin mereka tadi sempat berdebat tentang suatu hal. Kyuhyun memang penurut, namun dia juga ahli berdebat. Mungkin juga Kyuhyun merajuk meminta sesuatu dan ibunya tak mengabulkannya.
"Eoh, kau tak berganti baju sepulang sekolah?" tanya Siwon heran karena Kyuhyun berbaring tanpa mengganti baju seragamnya.
Siwon mendekati adiknya dan menempelkan punggung tangan ke dahi adiknya itu. Mungkin saja Kyuhyun sakit.
"Ck, Hyung!" sentak Kyuhyun sambil menepis tangan hyungnya yang mampir ke dahinya.
"Kau tak panas. Ada apa?" tanya Siwon heran.
Kyuhyun mengeluh malas. Tentu saja, ia tak sedang demam. Yang sakit bukan tubuhnya, melainkan hatinya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Kyuhyun pendek sambil tetap membelakangi Siwon.
Siwon langsung mengambil kesimpulan kalau adiknya itu memang sedang benar-benar merajuk. Entah untuk apa adiknya itu merajuk kali ini.
"Kau merajuk lagi, eoh?" tanya Siwon sambil berbaring di sisi Kyuhyun.
"Tidak."
"Lantas kenapa? Eomma juga kelihatan lesu. Kau pasti minta yang tidak-tidak," sambung Siwon lagi.
Kyuhyun memutar bola matanya malas. Kakaknya itu suka sekali membuat kesimpulan tanpa mengetahui dan mengerti masalahnya.
"Aku tidak merajuk. Aku hanya malas," jawab Kyuhyun.
"Huh, tumben sekali kau kenal kata malas!" kata Siwon.
"Memangnya aku tidak boleh merasa malas?"
"Tentu saja boleh. Tapi, itu bukan dirimu sekali. Kenapa kau malas?" tanya Siwon ingin tahu.
Kyuhyun tak menjawab pertanyaan Siwon itu. Ia membalikkan tubuhnya menghadap hyung-nya itu. Ia ingin mengusir Siwon yang dianggapnya pengganggu itu dari kamarnya karena ia hanya ingin sendirian saja saat ini.
"Eoh, kenapa dengan wajahmu?" tanya Siwon yang sudah menaikkan nada suaranya melihat wajah Kyuhyun yang sepertinya tergores di dahi, ujung hidung, dan dagunya.
"Jatuh waktu main basket nanti," ucap Kyuhyun.
"Jatuh sampai seperti itu?" tanya Siwon tak mudah percaya dengan yang Kyuhyun katakan.
"Aku tersandung tali sepatuku saat berlari membawa bola dan jatuh lumayan keras, puas?" kata Kyuhyun kasar lalu beranjak dari ranjangnya.
"Mau ke mana?" tanya Siwon.
"Mandi. Aku tak lapar, Hyung. Bilang saja pada Eomma, aku tak makan malam!" jawab Kyuhyun sambil menarik tangan Siwon supaya cepat berlalu dari kamarnya.
Kyuhyun benar-benar sedang tak ingin bicara dengan siapa pun, apalagi dengan Siwon yang selalu menanyainya ini itu. Ia hanya ingin sendiri.
"Tapi, kau bisa sakit kalau tidak makan malam," tolak Siwon bersikeras.
"Aku tak akan mati. Kalau aku kelaparan tengah malam nanti, aku bisa turun ke dapur mengambil makanan," tolak Kyuhyun lagi.
Kyuhyun bahkan sudah mendorong tubuh Siwon hingga melewati pintu kamar supaya cepat berlalu dari kamarnya.
"Lalu aku harus bilang apa pada Eomma? Eomma tak akan suka kalau kita melewatkan makan malam," kata Siwon bersikeras.
"Bilang saja yang kukatakan tadi. Sekarang cepat keluar!" kata Kyuhyun ketus sambil menggabrukkan pintu kamarnya hingga tertutup.
Siwon menghela napas panjang. Adiknya yang sedang merajuk memang susah ditaklukkan. Mungkin nanti ia menanyai eomma-nya tentang sikap Kyuhyun hari ini. Menayai Kyuhyun yang tampaknya sedang kesal seperti ini juga tak akan ada hasilnya.
Siwon pun turun dan kembali menemui ibunya. Ia juga menyuruh asisten rumah tangga untuk mengantarkan makanan ke kamar Kyuhyun.
Kim So Hyi terduduk lesu di dalam kamar. Ia memijit keningnya yang pening. Perempuan berusia 45 tahun itu mencerna kembali apa yang tadi dikatakan Kyuhyun, anaknya.
Ia sempat emosi tadi. Saat tiba-tiba menerima telepon dari pihak sekolah bahwa Kyuhyun berkelahi, bahkan sampai mengakibatkan temannya terluka cukup parah. Ia khawatir dengan Kyuhyun tentu saja, meskipun begitu Kim So Hyi lebih mengedepankan rasa marahnya terhadap apa yang sudah Kyuhyun lakukan.
Kim So Hyi kembali berpikir ulang dengan pikiran yang lebih jernih sekarang. Ia tahu betul bagaimana Kyuhyun. Selama ini Kyuhyun selalu bersikap baik. Meskipun suka berdebat, namun Kyuhyun adalah anak yang penurut. Ia tak pernah membantah apa yang dikatakan orang tuanya.
Baru kali ini Kyuhyun terlibat masalah. Itu pun bukan karena Kyuhyun nakal, namun karena temannya itu yang terlebih dahulu memprovokasinya. Kim So Hyi menyesal karena tidak bertindak lebih bijaksana pada Kyuhyun.
Mungkin sebaiknya tadi ia mendengarkan dulu apa yang membuat Kyuhyun sampai memukul temannya itu. Mungkin saja benar apa kata Kyuhyun kalau temannya itu sudah mengejek dan menghinanya. Bahkan penghinaan itu sampai di luar batas.
Kyuhyun masih remaja. Darahnya terlalu cepat panas melebihi logikanya. Sudah tugasnya sebagai orang tua untuk mengarahkan dan membimbingnya. Bukan hanya menyudutkan dan mencercanya.
Namun sebelum ia mendinginkan kepala Kyuhyun, ada baiknya Kim So Hyi mendinginkan perasaannya terlebih dulu. Menghadapi Kyuhyun yang seperti ini tak boleh melibatkan emosi, namun dengan kesabaran tanpa kehilangan ketegasan.
Malam ini Kyuhyun menolak makan malam. Ia tahu anaknya itu sedang kesal padanya. Emosinya tadi sudah menutupi mata hatinya. Kemarahannya menutupi mata batinnya dan langsung memvonis anaknya bersalah.
Ia maklum kalau Kyuhyun marah. Ia bisa mengerti kalau Kyuhyun kesal. Ia tak mendengarkan dulu alasan Kyuhyun. Selama ini Kyuhyun bukanlah anak yang suka membuat masalah. Kim So Hyi menyesal karena tidak mendengarkan penjelasan Kyuhyun terlebih dahulu.
"Kau tak tidur?" tegur suaminya saat memasuki kamar.
"Aku tidak bisa tidur," keluh Kim So Hyi.
"Tentang Kyuhyun?"
"Hhhh, aku menyesal sudah memarahinya tadi. Apalagi tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Ia pasti marah padaku. Kyuhyun bahkan tidak turun untuk makan malam. Apa menurutmu aku keterlaluan?" tanya Kim So Hyi muram.
"Tidak juga. Menegur anak memang kewajiban kita sebagai orang tua. Tapi, caramu itu memang keliru. Kyuhyun sudah besar. Ia sudah tahu mana yang salah dan benar, baik dan buruk. Apalagi menurut ceritamu tadi bukan Kyuhyun yang memulainya. Aku kira anak mana pun juga akan melakukan hal yang sama kalau dihina seperti itu."
Kim So Hyi terisak mendengar kata-kata suaminya itu.
"Aku tahu aku seharusnya bersikap lebih bijaksana. Saat menerima telepon dari sekolah tadi aku merasa takut kalau Kyuhyun terlibat masalah dan terluka. Aku sudah membayangkan yang tidak-tidak. Harabeoji-nya pasti tidak akan tinggal diam kalau sesuatu terjadi padanya. Saat Kyuhyun sakit dan koma, harabeoji-nya sudah menyalahkanku karena tidak bisa merawatnya dengan baik. Saat Kyuhyun kecelakaan, beliau bahkan sudah mengancam akan membawa Kyuhyun tinggal bersamanya. Aku tak mau Kyuhyun dibawa pergi dariku. Kalau harabeoji-nya tahu Kyuhyun berkelahi di sekolah, aku tak bisa membayangkan apa jadinya," isak Kim So Hyi.
"Sssh, itu tak mungkin terjadi. Kau adalah ibunya. Tak akan ada seorang pun yang bisa mengambil Kyuhyun darimu. Termasuk Tuan Cho, harabeoji-nya. Biar aku bicara dengan Kyuhyun. Pembicaraan antara laki-laki dengan laki-laki. Istirahatlah dulu dan berhenti mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi!" bujuk suaminya pada Kim So Hyi.
Kim So Hyi menyusut air matanya. Dalam hati ia bersyukur karena suaminya itu amat sabar dan bisa diajaknya berbagi beban.
Suaminya itu sangat sibuk, namun masih memiliki waktu untuk mendengar keluh-kesahnya dan berbagi peran sebagai orang tua bagi kedua anak mereka.
Suaminya tak pernah membedakan antar anak kandungnya dan anak tirinya. Semua sama di matanya.
Kyuhyun duduk termenung di balkon kamarnya yang remang-remang. Ia sengaja tak menyalakan lampu balkon dan menenggelamkan dirinya dalam gelap. Merenung dalam gelap memang yang disukainya. Ia bisa berpikir tentang banyak hal tanpa ada yang mengganggunya.
Perutnya terasa lapar, tapi ia enggan turun untuk makan. Ia tak berselera makan meski perutnya berontak minta diisi.
Kyuhyun asyik dengan lamunannya sampai-sampai ia tak memerhatikan bahwa ayahnya sudah berada di dalam kamar dan memperhatikannya. Kyuhyun mendongak saat aroma cokelat yang harum menyapa indra penciumannya.
"Minumlah!" kata ayahnya sambil mengangsurkan secangkir besar cokelat yang masih mengepulkan asap.
Kyuhyun menerima cokelat pemberian ayahnya itu dan menyesapnya, sedikit mengisi perutnya yang kosong.
"Merasa lebih baik?" tanya ayahnya.
Kyuhyun menggangguk. Aroma dan nikmat cokelat memang bisa membuat perasaannya sedikit lebih tenang.
"Eomma bilang apa?" taya Kyuhyun sambil menyesap lagi cokelat hangat itu yang ikut menghangatkan hatinya.
"Eomma bercerita tentang apa yang terjadi denganmu hari ini di sekolah. Kau marah karena Eomma-mu menyalahkanmu?"
"Eomma tak mau mendengar alasanku melakukannya. Di mata eomma aku yang bersalah. Ah, bukan maksudku, aku benar-benar tidak bersalah. Hanya saja aku punya alasan kenapa aku melakukannya. Aku tak mungkin melakukan sesuatu yang buruk kalau tidak ada yang menggangguku lebih dulu, Appa. Apakah Appa juga akan memarahiku seperti eomma?" tanya Kyuhyun.
"Apakah aku ke mari terlihat ingin memarahimu?" tanya balik ayahnya pada Kyuhyun.
Kyuhyun menggendikkan bahunya. Mengingat betapa penurutnya ayahnya itu pada ibunya, siapa tahu ayahnya juga akan berlaku sama seperti ibunya.
"Appa memang tak bisa membenarkan tindakanmu, namun Appa bisa memaklumi mengapa kau sampai lepas kontrol seperti itu. Apa yang dikatakannya tentangmu dan tentang ibumu memang bisa membuat telingamu panas. Appa pun mungkin akan melakukan hal yang sama. Namun, alangkah lebih baik kalau kau bisa menguasai emosimu. Apalagi kau juga yang harus menanggung akibatnya."
Appa Kyuhyun duduk di samping anaknya itu. Berbicara dari hati ke hati seperti ini memang diperlukan untuk membangun kedekatan antara orang tua dan anak.
"Dia sudah keterlaluan, Appa. Aku sudah mencoba berkali-kali menyabarkan diri, tapi Han Kaisoo tak pernah jera membuat masalah denganku. Aku diam dia makin seenaknya. Aku membalas perlakuannya pun, sepertinya aku juga yang salah," keluh Kyuhyun.
"Appa tahu perasaanmu. Appa mungkin juga akan melakukan hal yang sama andai berada di posisimu. Eomma-mu juga tahu perasaanmu tentang hal itu. Eomma juga tak ingin kau melakukan hal-hal yang akhirnya merugikan dirimu sendiri. Namun, lebih dari itu eomma-mu juga khawatir kalau sampai harabeoji-mu tahu tentang hal ini, beliau akan menimpakan semua kesalahanmu pada eomma-mu. Kau juga tahu kan bagaimana harabeoji-mu itu bukan?"
Kyuhyun mengangguk mendengar ucapan appa-nya itu. Ia tahu siapa dan seperti apa harabeoji-nya itu. Cho Soo Man, harabeoji dari ayah kandungnya memang tak pernah menyetujui eomma Kyuhyun untuk menikah lagi. Kyuhyun satu-satunya cucu keluarga Cho. Kyuhyun satu-satunya penerus generasi keluarga Cho.
Hal buruk apa pun yang terjadi pada Kyuhyun bisa membuat harabeoji-nya itu murka. Beliau juga tak akan segan-segan mengambil Kyuhyun dari ibunya kalau sampai tahu ada yang buruk terjadi padanya. Cho harabeoji sudah berulang kali memperingatkan keluarganya tentang hal itu. Dan Kyuhyun tak mau semua itu terjadi.
"Apakah Appa perlu ke sekolahmu untuk menyelesaikan masalah ini?" tawar appanya pada Kyuhyun.
"Tak perlu seperti itu, Appa. Aku tak mau dikatakan mengandalkan Appa untuk menyelesaikan masalahku," tolak Kyuhyun.
"Begitukah? Baiklah kalau itu maumu. Tapi, Appa harap kau bisa lebih menjaga emosimu. Jangan sampai emosi yang menguasaimu, kaulah yang harus bisa menguasai emosimu!" nasihat appa kyuhyun.
"Aku tak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha," sahut kyuhyun.
"Itu lebih baik daripada kau tak mencoba sama sekali. Cha, sudah larut, tidurlah! Besok kau sudah bisa sekolah lagi kan?"
"Iya, aku hanya tak boleh melanjutkan pelajaran hari ini. Besok aku sudah bisa masuk lagi. Terima kasih, Appa!" jawab Kyuhyun.
"Apa yang sudah kaulakukan pada Han Kaisoo, huh!"
Kyuhyun terkejut bukan main. Ia baru saja menjejakkan kakinya di atas tangga menuju ruang kelasnya, tapi seorang siswi yang merupakan teman sekelasnya menimpuknya dengan buku Sains yang tak bisa dibilang tipis. Buku itu hampir mengenai kepalanya kalau saja Choi Minho yang ada di belakangnya tak segera menariknya untuk menghindari timpukan itu.
Choi Minho juga buru-buru menyeret Kyuhyun ke lantai atas menghindari kejutan lain yang mungkin akan dialamatkan pada Kyuhyun.
Kyuhyun menurut saja saat Choi Minho mengejaknya naik ke atas. Bukan ke kelasnya, namun ke lantai paling atas yang sepi. Sepanjang jalan Kyuhyun sampai merinding saat melihat tatapan sinis dan geram yang mengarah padanya, bahkan dari orang-orang yang tidak Kyuhyun kenal.
"Dalam sehari kau jadi orang yang paling dibenci di seluruh sekolah, kau tahu?" kata Minho pada Kyuhyun yang masih termangu tak mengerti.
"Apa maksudmu?" tanya Kyuhyun heran.
"Lihat ini!"
Choi Minho menyalakan handphone-nya dan memberikannya pada Kyuhyun. Mata Kyuhyun sampai terbelalak lebar saat mengetahui apa yang terpampang di layar HP Minho.
Ada wajah Han Kaisoo di situ. Lengkap dengan wajahnya yang lebam dan berdarah. Kyuhyun tak menyangka pukulannya kemarin akan seperti itu akibatnya. Kyuhyun juga tak menyangka ada yang sempat mengambil foto Han Kaisoo seperti itu. Ia tak memperhatikan sekelilingnya sewaktu menghajar Han Kaisoo kemarin.
"Anak-anak sudah ramai membicarakannya sejak kemarin siang. Para siswi lebih parah lagi. Banyak dari mereka yang menyebutmu penjahat dan seharusnya dipenjara. Dalam sehari kau jadi orang yang paling dibenci di seluruh Sajon. Mereka tak akan mau tahu apa alasanmu. Mereka hanya tahu apa akibatnya pada Han Kaisoo. Dan percayalah tak ada satu pun yang mendukungmu melakukannya. Mereka malah menghujatmu dan memojokkanmu."
"Kau juga begitu?" tanya Kyuhyun miris.
"Kau kira aku seperti itu. Kalau kau mengajakku ikut menghajarnya kemarin, aku sudah dengan senang hati ikut melakukannya," ucap Choi Minho berapi-api.
"Dan kau akan dihujat juga sama sepertiku," sela Kyuhyun.
"Mereka tak tahu siapa Han Kaisoo sebenarnya. Mereka terlalu memujanya dan menganggapnya seperti pangeran yang tanpa cacat dan cela. Kalau mereka tahu kelakuan Han Kaisoo yang sebenarnya, mereka juga tak akan seperti itu."
"Dan sepertinya Sang Pangeran juga yang akan selalu dianggap benar, tak punya cacat dan dosa," keluh Kyuhyun.
Dalam hati Kyuhyun mengeluh. Apa gunanya kemarin ia berbangga diri memberi pelajaran Han Kaisoo kalau seperti ini hasilnya. Menjadi orang yang paling dibenci di seluruh sekolah bukanlah prestasi yang bisa dibanggakan.
"Sepertinya mulai hari ini aku harus berhati-hati. Siapa tahu ada yang ingin menimpukku lagi karena tidak terima aku membuat wajah pangeran mereka babak belur seperti itu," kata Kyuhyun sambil mengembalikan ponsel Minho pada pemiliknya.
"Hindari saja tempat yang ramai dengan anak-anak untuk sementara waktu. Cari tempat yang aman dulu. Aku yakin mereka tak akan merasa puas sampai kau menerima balasan yang setimpal, itu menurutku," kata Choi Minho.
"Aku bukan pengecut. Aku tak akan lari dan bersembunyi. Han Kaisoo akan bertepuk tangan menertawakanku kalau sampai aku bertingkah pengecut seperti itu. Lagipula hal itu juga semakin menunjukkan aku yang bersalah dan Han Kaisoo yang benar," tolak Kyuhyun pada ide yang dilontarkan Choi Minho padanya.
"Aku hanya menginginkan yang terbaik bagimu. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan padamu! Kau bisa mengandalkanku juga," kata Choi Minho lagi.
Kyuhyun mengangguk. Rasa-rasanya saat ini ia seperti berada pada posisi seperti Kim Ryeowook. Posisi di mana banyak orang yang tidak menginginkan keberadaannya. Namun, ia juga bersyukur masih ada kawan yang mau berjalan bersamanya dan mendukungnya.
Hari-hari yang dilewati Kyuhyun pasca peristiwa dengan Han kaisoo tak bisa dibilang baik. Kyuhyun harus rela menjadi bahan sindiran dan cemoohan. Ia juga harus merelakan sepeda kesayangannya ditempeli dengan berbagai macam ucapan pedas dari orang-orang yang tidak menyukainya.
Nasib Kyuhyun memang karena berani melukai Han Kaisoo, Pangeran Sajon. Ada kalanya Kyuhyun ingin meneriakkan sumpah serapah pada orang-orang yang selalu mencelanya. Ia ingin membuka mata mereka lebar-lebar supaya mereka tahu bagaimana Han Kaisoo sebenarnya.
Han Kaisoo bukan dewa yang harus selalu disembah dan dimuliakan. Ia manusia biasa sama seperti mereka, yang hidup bergelimang kesalahan. Han Kaisoo sama seperti mereka dan tidak berhak mendapatkan perlakuan dan perhatian istimewa.
Namun, apa mau dikata. Saat kau mengagumi seseorang secara berlebihan, kau akan menganggap orang itu serba sempurna. Kau tak akan menolerir siapa pun yang menilai sebaliknya.
Demikian pula dengan Kyuhyun. Ia hanya bisa menelan semua itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Toh, mereka hanya menyindirnya tak sampai melukainya.
Hari pertama Han Kaisoo kembali ke sekolah, adalah hari paling memuakkan dalam sejarah hidup Kyuhyun di Sajon. Bukan hanya teman-teman sekelasnya, Han Kaisoo juga mendapatkan perhatian lebih dari beberapa guru yang memang selalu membela Han Kaisoo.
Bisa dipastikan kepala anak itu semakin membesar dan dadanya pun lebih membusung karena menerima perlakuan istimewa seperti itu. Benar-benar memuakkan.
Para guru dan teman-temannya yang lain terlihat menanyakan keadaannya dengan nada khawatir. Kyuhyun melihat wajah Han Kaisoo baik-baik saja. Tak ada bedanya sebelum Kyuhyun memermaknya sedikit. Namun, tampang mengibanya membuat orang-orang di sekelilingnya merasa iba sambil sesekali menatap Kyuhyun dengan tatapan mencela.
"Tatapanmu seperti ingin meninju wajahnya sekali lagi," kata Shim Changmin sambil menyikut lengan Kyuhyun.
"Aku berharap ia lebih lama absen. Ekspresi wajahnya membuatku ingin muntah," ucap Kyuhyun kesal.
"Sayangnya harapanmu tidak sesuai dengan kenyataan. Idola sepertinya memang selalu mendapat pehatian lebih dari siapa saja. Tapi tidak semuanya seperti itu. Banyak juga yang senang kau berani melawannya bahkan menghajarnya," kata Shim Changmin.
"Tapi lebih banyak lagi yang menghujatku. Ada juga yang heran mengapa aku tak dikeluarkan dari sekolah. Heol, apa aku sudah sangat keterlaluan sampai harus dikeluarkan dari sekolah?" gerutu Kyuhyun sebal.
"Han Kaisoo memang membungkus dirinya dengan sangat apik. Orang lain mudah terpesona dengan kemasan yang menarik bukan? Isi merupakan hal kesekian yang akan dilihat orang. 'Don't jugde a book by its cover' itu tak berlaku dalam kehidupan sehari-hari," kata Shim Changmin.
"Dan saat mereka mengetahui isi yang sebenarnya mereka akan kecewa karena tak semenarik cover-nya," sambung Kyuhyun.
"Itu risikonya. Siapa suruh hanya melihat tampilan luarnya tanpa mau mengenal isinya. Aku yakin penilaian mereka akan berubah kalau tahu tabiat aslinya. Mereka yang membencimu sekarang mungkin akan berbalik memujamu kalau tahu siapa kau sebenarnya. Cho Kyuhyun, pewaris tunggal …."
Belum sempat Shim Changmin menyelesaikan kata-katanya, mulutnya sudah dibekap sedemikian rupa oleh tangan Kyuhyun. Changmin harus megap-megap mencari udara karena bekapan itu.
"Diam, Chwang!" kata Kyuhyun memperingatkan sahabatnya itu.
Mata Kyuhyun sampai mendelik mendengar ucapan Shim Changmin itu. Ia sebal karena Changmin sudah mengungkit-ungkit hal itu.
"Aku akan mengelem mulutmu kalau kau mengucapkan itu lagi!" ancam Kyuhyun.
"Untuk apa kausembunyikan? Suatu saat mereka akan tahu siapa kau sebenarnya. Saat umurmu 18 tahun nanti…."
"Aku bilang diam, Chwang!" kata Kyuhyun kesal.
Mulut Shim Changmin ini sekali-kali perlu diikutkan sekolah kepribadian supaya tidak seperti ember bocor. Untungnya Shim Changmin paham kalau Kyuhyun benar-benar merasa keberatan saat ia mengungkit-ungkit tentang siapa dirinya.
Shim Changmin pun menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tak mau dianggap suka menyebarkan kabar burung. Apalagi yang punya cerita tak mau semua itu sampai tersebar hingga seantero sekolah. Ia tak mau membuat Kyuhyun kehilangan kepercayaan padanya.
"Arraseo, aku akan menutup mulutku! Kalau ada yang tahu tentangmu, itu pasti bukan dari mulutku. Aku bisa jamin itu," kata Shim Changmin.
"Aku harap juga begitu. Semoga saja kau bisa menjaga mulutmu itu, untukku," balas Kyuhyun.
Namun, benarkah seperti itu? Saat dinding-dinding bisa mendengar dan semilir angin sepoi-sepoi bisa menebarkan warta bagi dunia, siapa yang bisa menjamin sebuah rahasia akan tetap menjadi rahasia. Apalagi ketika sebuah telinga juga ikut menangkap setiap kata yang keluar dari mulut seorang Shim Changmin saat itu.
TBC
Akhirnya bisa lanjut update Fighting hari ini. Maaf untuk readers yang sudah menunggu lama kelanjutan FF ini. Mau bagaimana lagi saat isi otak dipenuhi dengan silabus dan RPP, ide cerita pun sering menguap. Semoga puas dengan chapter ini ya yang diketik disela-sela bosan dengarkan ceramah waktu workshop. Jangan lupa review ya, guys. Gomawo.
