TWO SIDES

by Gyoulight

.

.

.

.

.

.

HUNHAN FANFICTION

GENRE: Drama, Romance

RATING: T

.

.

.

.

.

.

Jalanan melenggang ketika Zitao membanting setir. Diikuti dengan laju mobil hitam di belakangnya yang masih berusaha menyalip dengan aman. Baekhyun tidak tahu pasti bagaimana pria China itu bisa mengetahui banyak jalan tikus yang ada di Seoul. Cara dia menyetir bahkan bisa persis seperti pembalap kelas teri. Baekhyun sampai nyaris mengeluarkan seluruh isi perutnya jika ia tidak menggenggam sabuk pengaman dengan erat.

Mata Baekhyun masih terpejam kuat dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Jiwanya berteriak ingin turun dari mobil, tapi Zitao tentu tidak punya waktu untuk sekedar membuangnya ke jalanan.

Baekhyun terus medial Chanyeol tanpa kenal pegal. Sepuluh kali ia membuat panggilan, namun Chanyeol sama sekali tidak menjawabnya. "Chanyeol, angkat!" teriaknya putus asa. Sedangkan Zitao tidak bisa meladeninya dengan hati. Karena jiwa dan raganya telah terbang bersama jalanan sepi di depannya.

"Aku mungkin akan mati. Kau mencintaiku atau tidak?!" Bantingan ponsel Baekhyun kemudian membelah fokus Zitao. Membuat pria tinggi itu berdecak kesal karena ponsel itu berhasil menghantam kakinya.

"Apa kau bodoh?!"

Baekhyun menatapnya nyalang. Nyaris ia menjambak Zitao kalau saja ia tidak punya kendali dalam menggerakkan mobil barunya. "Percayalah, aku ingin muntah sekarang."

"Senang mengenalmu Baekhyun, tapi aku tidak punya waktu untuk mengurusi muntahanmu," balas Zitao cepat, ditambah dengan ia yang tidak bisa menoleh sedikitpun. Pria itu terus melirik kaca spion. Memperkirakan bentang jarak yang ia buat dengan mobil Yixing. "Kau tau pria yang tengah mengejar kita? Dia kebanggan Kris yang baru."

Baekhyun terus menekan punggungnya pada sandaran kursi. Memundurkan wajahnya jauh-jauh dari kaca mobil─karena ia bisa saja terantuk─kapanpun ia lengah. "Baiklah, setidaknya aku tahu sedikit informasi orang yang akan membunuhku. Jadi jika dikehidupanku yang selanjutnya aku menjadi hantu, aku bisa membalaskan dendamku."

Zitao terkekeh. Sedangkan Baekhyun terheran-heran mengapa pria beranting itu bisa tertawa dalam keadaan terjepit seperti ini. "Mereka tidak akan membunuhmu. Kris tidak pernah mengeksekusi seseorang yang bukan targetnya."

"Bagaimana bisa kau seyakin itu sementara mobil ini mungkin saja terguling, lalu meledak dan─ya!" Belum lama Baekhyun berkeluh kesah, mobil di belakangnya kini sudah mensejajarkan diri dengan mobilnya. Tak ada sesuatu yang bisa diterka Baekhyun ketika tiba-tiba Zitao membanting setirnya ke kiri. Mendorong mobil itu hingga terhantam dengan mobilnya.

"Kau apakan mobilku?!" protes si brunette. Ia terlihat keberatan dengan luka lecet yang sudah pasti menggores bagian mobilnya. Dan mungkin saja ada banyak penyok.

"Aku yakin kau punya asuransi," balas Zitao masih sibuk menginjak pedal gas. Meninggalkan jauh mobil yang diserempetnya, hingga menembus kepadatan jalan, kemudian mengambil jalan kecil di samping bangunan pertokoan.

Baekhyun mungkin cukup lega karena mobil itu bisa sedikit lepas dari pengawasan si pengejar. Tapi tetap saja ia tidak ingin mati hari ini. "Apa aku harus menelpon polisi?"

Zitao menatapnya sambil menggertakkan gigi. Ia kembali dirundung panik ketika mobil Hyundai itu kembali terlihat mengejarnya tanpa ampun. "Lakukan apapun yang kau mau!"

"Oke, dimana ponselku?" Baekhyun membuka sabuk pengamannya lalu menggeledah lantai mobilnya. Menyingkirkan kaki Tao yang hampir saja kehilangan kendali.

Pria itu kemudian berakhir dengan mengerang kesal. "Ya Tuhan. Kau benar-benar!"

Lantas suara tembakan menggelegar. Sebuah hentakan pada mobil yang ditumpangi Baekhyun kemudian membuatnya terlempar bersama sang supir yang kehilangan kendali. Mobil itu segera bergerak ke kiri dan kanan. Sedangkan Zitao berusaha untuk membangun keseimbangan mobil itu agar tidak menabrak pepohonan di sekitar jalan.

"Oh shit!" Zitao mengumpat seenaknya ketika ia menyadari bahwa salah satu ban mobil mereka pecah karena tembakan peluru. Mobil itu pun berputar, berhenti tepat di tengah jalan bersama dengan teriakan Baekhyun yang memecahkan telinga Zitao.

Baru saja Zitao nekat menginjak pedal gas mobil itu, suara tembakkan kedua kembali terdengar. Memecahkan kaca spion di dekat pengemudi. Dengan baik hati, si pelaku menyisakan dua roda depan yang baik-baik saja, sementara salah satu yang di belakang lumpuh total.

Baekhyun tidak bisa berkata-kata. Leher dan punggungnya terasa sakit akibat terbentur dasbord mobil. Wajahnya pun memucat, peluh dinginnya semakin membanjiri. Kedatangan seseorang yang lumayan tampan itu lantas membuat Zitao terhimpit. Baekhyun pun kembali memekik ketika tiba-tiba saja pria itu mengayunkan tongkat baseball pada kaca jendela di dekat Zitao hingga pecah.

Zitao otomatis mengerubungi dirinya dengan lengan-lengan kurusnya ketika leburan kaca itu menghujani kepalanya. Tak lupa ia mencari keberadaan pistol di sakunya. Tapi belum sempat Baekhyun membuka mata, pria itu sudah membuka pintu mobil dengan menyeret lengan Zitao keluar.

"Kau membuatku kerepotan!" komentar pria asing berdimple itu membuang tongkat baseballnya. Memukul lengan Zitao hingga pistolnya terlempar ke sisi jalan.

"Sialan!" Zitao mengamuk. Mencoba melawan, tapi Yixing sudah lebih dulu menendang kakinya sampai pria itu berlutut di atas aspal. Dan naasnya, kini tangannyalah yang dikunci dengan bogol.

Yixing tahu-tahu sudah memukul wajah Zitao keras-keras. Tergolek tak berdaya pria itu ke atas aspal. "Andai Kris tidak membiarkanmu hidup, aku mungkin sudah membuat mobil ini terguling sampai hancur!"

Setelah melumpuhkan Zitao, kini Yixing mendekat pada pintu mobil yang sudah dihancurkannya. Mencari sosok penumpang lain yang dilibatkan Zitao hari ini. "Tutup mulutmu kalau kau tidak mau berakhir sepertinya."

Baekhyun yang mendapatkan ancaman lain dari pria itu hanya bisa gemetar takut. Ia masih merasa terancam dengan banyak hal, meski pria marah bernama Yixing itu sudah menjauh dari mobilnya dengan menyeret Zitao yang tidak bergerak sama sekali.

Lalu tak butuh waktu lama sampai Baekhyun akhirnya mendapatkan panggilan Chanyeol yang memecahkan ketakutannya. Tanpa babibu ia langsung membungkuk meraih ponselnya. "Chanyeol, Chanyeol!" serunya menyeruak bersama dengan degup jantungnya yang sudah terdengar sampai ke telinga.

"Ada apa? Kau baik-baik saja?"

"Chanyeol, aku ingin pulang," lirihnya dengan air mata yang hampir tumpah.

"Apa yang terjadi?! Kau dimana?!" Orang yang mendengarnya kemudian ikut diserang panik. Sedetik kemudian Baekhyun dapat melihat mobil Hyundai itu pergi melewatinya begitu saja. Tanpa kata, serta tanpa mencelakainya sedikitpun. Dan ia seharusnya membenarkan perkataan Zitao, karena sekarang ia baik-baik saja.

Kelegaan kini membuatnya mendapatkan jalan bernafas karena ia masih hidup. Dan Tuhan masih berbaik hati memberikannya waktu untuk hidup. Bersyukur pria bernama Yixing itu mengabaikannya seperti seseorang yang tidak mau tahu.

"Baekhyun?!" Chanyeol kembali berteriak, dan itu sukses dalam membunuh lamunannya yang kusut.

Baekhyun sendiri menggigit kukunya. Menatap jalanan kosong di sekitarnya, dimana yang kiri dan kanannya dipenuhi pepohonan berbatang besar. Tidak ada bangunan apapun selain keheningan alam liar serta angin yang berhembus. "Aku tidak tahu aku ada dimana, Chanyeol. M-mobilku─a-ku─"

.

.

"aku─kecelakaan."

e)(o

Luhan mencoba mengetuk pintu rumahnya. Sadar kalau pintu rumahnya sudah diganti menjadi pintu yang lebih kokoh dari pintu lamanya, ia pun memutuskan untuk lebih berhati-hati. Sedangkan Chanyeol masih berdiri di belakangnya dengan memperhatikan setiap sudut rumah kecilnya.

Ini pertama kalinya Chanyeol berkunjung ke rumah Luhan, dan pria itu menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya di rumah itu. Ya, ada banyak tanaman hijau yang tumbuh di halaman rumah kecil Luhan. Mulai dari sayuran sampai aneka jenis bunga sekalipun.

"Jaemin!" teriak Luhan berubah tidak sabaran sampai pintunya lelah digedor. Ia tentu tidak nyaman dengan membiarkan Chanyeol yang berdiri lama di depan rumahnya tanpa dipersilahkan masuk. Lagipula tamu mana yang diperlakukan seperti itu.

Tak lama pintunya pun dibuka. Menampilkan wajah kusut adiknya yang menatap ujung demi ujung dirinya dengan earphone yang masih menggantung di telinganya.

"Apa yang kau lakukan─"

Belum perkataannya selesai, pintu itu kembali ditutup dengan sebuah bantingan. Membuat Luhan naik darah dan segera memekik dengan kemarahan besarnya. Terserah apakah Chanyeol akan menertawainya atau tidak di belakang sana. "Bocah sialan, buka pintunya!"

Chanyeol memutuskan untuk duduk di kursi kecil di dekat pagar. Sebuah tas besar berisi titipan Minseok segera ia letakkan di sampingnya. Tangannya kemudian memutuskan untuk mengusap dedaunan segar yang terlihat masih bertahan di musim gugur itu. Ya, sambil menahan tawa menyaksikan Luhan menggedor pintunya sendiri.

Tak lama seorang wanita paruh baya memasuki pagar rumahnya. Membuat Chanyeol segera berdiri dan memberi salam dengan membungkuk penuh hormat. Wanita itu pun tersenyum menerima salamnya kemudian memanggil Luhan yang masih sibuk menggedor pintu.

"Ibu, Jaemin sudah gila. Dia tidak mau membukakanku pintu," adu Luhan berlari memeluk ibunya. "Aku sangat merindukan ibu."

Ibunya mencubit pinggang Luhan. Sedikit gemas sebenarnya, karena putranya itu terlihat semakin bertambah berat. "Bagaimana mungkin kau baru pulang sekarang?"

Luhan mengaduh. Mengusap pinggangnya yang nyeri. "Ibu, ini sakit!"

"Kau sepertinya hidup lebih baik dari ibu. Padahal Baekhyun bilang kau selalu sibuk." Luhan terkekeh menggaruk kepala belakangnya. Bagaimana tidak hidup dengan baik, di rumah Sehun yang ia lakukan hanya tidur dan makan. Sisanya, ia menggunakan waktu luangnya untuk bersenang-senang dengan Minseok.

Wanita paruh baya itu tengah sibuk menatap putranya dari semua sisi. Memutar tubuh putranya sampai melupakan kehadiran Chanyeol di ujung sana. "Oh astaga, aku sampai lupa dengan dia." Chanyeol hanya bisa tertawa kecil menyambut ibu Luhan yang menariknya mendekati pintu. "Apa kau teman kerja Luhan?"

Luhan hampir memukul kepalanya sendiri karena melupakan kehadiran pria tinggi itu. Imejnya pasti sudah runtuh karena ia tanpa sadar bersikap kekanakan di depannya. "Ah─ya, dia teman kerjaku."

"Dia tampan sekali," puji ibunya. Chanyeol yang mendengarnya malah terkekeh karena malu-malu. Senyum Luhan lantas mengembang setelah melirik Chanyeol di samping ibunya. Merasa itu baik-baik saja, ia pun kembali mengekori ibunya yang sibuk memanggil adiknya.

Ironisnya, tak sampai satu menit untuk Jaemin kembali terlihat di muka pintu. Pemuda itu membuka pintu lebar-lebar dengan senyum manisnya. Pemuda dengan hoodienya itu kemudian menjulurkan kedua tangannya, sampai Luhan jijik sendiri pada adiknya yang suka berlaku sok manis pada ibunya.

"Aigoo, kenapa kau tidak membukakan pintu untuk hyungmu?" tanya ibu Luhan begitu lembut. Sangat berbeda dengan Luhan saat masih seusia adiknya yang malah lebih sering kena omelan ibunya.

Luhan pun mengerutkan keningnya ketika ibunya malah memberikan sekantong susu pada adiknya tanpa kata. Lantas setelah memastikan ibunya masuk dengan Chanyeol, Luhan kemudian menarik adiknya. Lengan-lengannya segera dikalungkan di leher adiknya, mencekik adik kecilnya itu dengan tidak manusiawi selama ibunya tidak tahu. "Berani-beraninya kau!"

"Kenapa kau pulang, eoh?! Kupikir kau sudah lupa pada ibu," semprot adiknya memberontak kesana-kemari. Tapi sayangnya Luhan sudah sangat marah dengan adiknya, maka ia menjewer telinga adiknya sampai pemuda itu memekik kesakitan.

"Apa yang kau tahu bocah?! Aku sibuk cari uang untukmu."

Tak lama ibunya muncul dari sana. Memukul kepala Luhan karena sudah menyakiti putra kesayangannya. "Kita punya tamu, kenapa kau tidak bisa berhenti membuat ibu malu?"

Luhan meringis. Segera melotot pada adiknya yang berhasil menjulurkan lidah padanya. "Kenapa ibu memukulku?"

"Jaemin, temani teman hyungmu," seru ibunya.

Jaemin merengut. Mengusap telinganya yang memerah. "Kenapa harus aku?"

Ibunya berdecak kesal. "Bersikap baiklah, kau sudah bukan anak kecil lagi."

"Rasakan!" Kini tiba pada Luhan yang menjulurkan lidahnya. Tidak percaya kalau ibunya kini berpihak padanya.

Jaemin mencebik. Dengan berat hati ia duduk di dekat Chanyeol. Memperkenalkan dirinya dengan kikuk, tanpa tahu kalau Chanyeol juga kikuk berada di dekatnya.

"Aku tidak tahu kalau kau punya adik." Chanyeol menemukan kembali moodnya ketika Luhan mengambil duduk di seberang meja. Menjuput beberapa cemilan yang dibawakan ibunya dan mendapatkan satu pukulan lagi dari ibunya karena berlaku tidak sopan.

Jaemin pun terlihat sangat bahagia ketika kakaknya tersiksa. Pemuda itu tanpa henti menertawakan kakaknya. Tak perduli bagaimana Luhan meraihnya lalu kembali mencekiknya tanpa ampun.

Lalu tiba pada ibunya yang kemudian mengambil atensi Chanyeol. Pria tinggi itu bahkan sampai urung meminum isi gelasnya. "Bagaimana Luhan di kantor?"

Chanyeol tertawa kaku. Ia melirik Luhan yang berkedip beberapa kali sebelum menjawab, "Dia bekerja dengan baik."

Ibu Luhan kemudian menemukan kelegaannya. "Dia tidak bisa melakukan apapun, aku sangat khawatir kalau dia mengacaukan pekerjaannya."

"Ibu, aku tidak sebodoh itu," protes Luhan sambil mencebik lucu.

Jaemin lantas mengambil cemilan di atas meja dengan bebas. Dan sayangnya ibunya tidak bereaksi apapun soal itu. "Kau kan memang bodoh."

"Ya!" Luhan pun menendang adiknya sampai ibunya bosan memprotes.

Tawa Chanyeol kembali menggelegar. Melihat keduanya bertengkar, mengingatkannya pada masa kecil, dimana ia dan Sehun dulu sering berdebat masalah pesta ulang tahun. Sehun akan menangis tapi ia selalu mendapatkan gelengan ayahnya karena terlalu cengeng.

Sadar akan waktu, Chanyeol pun segera menatap arlojinya. Perjalanan Seoul-Hongdae sebenarnya hanya memakan waktu 25 menit tapi ia tidak menyangka bisa menghabiskan waktu sampai satu jam hanya karena terjebak di rumah Luhan. "Ngomong-ngomong, sepertinya aku harus pergi."

"Kenapa cepat sekali?" tanya ibu Luhan menyayangkan. Dan Chanyeol kini mulai paham jika semua ibu sepertinya sangat gemar menahan tamu-tamunya.

"Aku harus pergi ke suatu tempat. Dan aku meninggalkan ponselku di mobil."

Luhan kemudian beranjak bersama semua orang. "Terima kasih karena sudah mau mengantarku."

"Sering-seringlah berkunjung." Wanita paruh baya itu kemudian memberikan tepukan pada punggung Chanyeol.

Mendapatkan tepukan pada punggungnya, Chanyeol pun segera membungkuk. Mengucapkan terima kasih, kemudian terburu-buru memasuki mobilnya.

Entah mengapa sejak tadi ia jadi sangat ingin mengecek isi ponselnya.

e)(o

Ruangan gelap pekat baru saja mendapatkan sinar temaram. Lampu gantung yang menyala merah sudah berayun ke kiri dan kanan, menyebabkan arah bayangan pria yang duduk di bawahnya memanjang dan memendek di lantai. Seember air baru saja disiram ke arahnya. Membuat Pria itu terbangun dengan kesadaran di awang-awang.

Yixing baru saja membuang embernya sembarangan. Segera mengambil jarak panjang di dekat pintu untuk memerintahkan timnya menutup pintu. Kris segera mendekat menarik kursi lipat dari arah yang berlawanan. Masih memandang pria yang tak lebih tinggi darinya itu dengan tatapan paling memuakan. Maka saat pria itu sudah mendapatkan kesadarannya, tatapan membunuhlah yang didapatkan pria pirang itu.

"Kenapa kau tidak mau mengaku?" tanya Kris tanpa embel-embel pembukaan. Ia lebih senang masuk pada intinya. Karena sudah lima jam ia menunggu Zitao membuka mulut, sampai ia bisa terbang sendiri ke korea. Hanya untuk menelik langsung bagaimana keteguhan mantan anak buahnya ini meski dipukuli sampai babak belur. "Apa yang Sehun berikan padamu sampai kau bisa menjilat kakinya?"

Zitao terkekeh. Wajahnya yang penuh lebam dan juga luka bahkan sangat terasa sakit ketika ia melakukannya. "Aku sudah bilang─sekarang aku tidak punya hubungan dengan siapapun."

Kris berdecih. Sebuah pisau lipat kini dikeluarkan dari sakunya. Mengusap benda itu sambil mencari bayangan dirinya di permukaan. "Kau tahu berapa harga sebuah penghianatan?"

"Lalu kau hargai berapa usahaku untuk membobol markasnya?," tutur Zitao merasakan tangannya pegal. Entah sudah berapa lama ia disekap di tempat ini. Ia pun tidak tahu menau apakah hari sudah berganti atau masih diam pada waktu yang sama. "Kami menembus pertahanan Jack yang tidak hanya satu. Bahkan timku tidak bisa menghadapinya dan berakhir mati konyol disana. Kau pikir berapa?"

"Kau terlalu kekanak-kanakan," lirik Kris tersenyum miring. Rambutnya yang pirang bahkan sudah memanjang, hampir menutupi matanya yang tajam.

"Jadi aku harus mati untukmu?" Zitao kembali terkikik. "Konyol sekali."

Kris memperbaiki posisi duduknya. Sepenuhnya menatap wajah berantakan itu dengan tatapan lelah. "Itu karena kau gagal merahasiakan identitasmu. Kau bahkan membuat salah satu anak perusahaanku jatuh. Dan sekarang Jack ingin kepalamu sebagai gantinya."

Zitao membuang wajahnya. Ia bosan menanggapi Kris yang selalu memikirkan dirinya sendiri. Lalu bagaimana mungkin nyawa tujuh manusia sama sekali tidak lebih berharga dari aset perusahaannya? "Itulah mengapa kau tidak pernah mendapatkan apa yang kau inginkan, Kris."

"Jangan berbelit-belit!" Kini Kris beranjak dari kursinya. Menodongnya dengan pisau lipat yang ditempelkan pada ujung leher Zitao. "Katakan, apa yang kau cari di belakangku?"

Zitao tak gentar menatap kedua iris coklat itu. Ia pun tak kalah melotot. Jika Kris ingin ia mati hari ini, maka mati saja. Ia sendiri sudah terlalu lelah dengan semua perlakuan Kris padanya. "Kau bukan apa-apa tanpa bayanganmu."

"Zitao!"

"Kau juga tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Tidak akan pernah." Zitao menekan tiap kalimatnya. Membuat mata Kris semakin menajam kemudian tidak ada ada waktu sampai pisau itu kini ditancapkan pada lengannya.

"Katakan atau ku bunuh kau?!"

Zitao setengah mati menahan perih di lengannya. Rasanya terlalu pedih sampai ia harus menggigit kosong tiap keping giginya. "Kau tidak bisa membunuhku?"

Kris menggertak, semakin memutar pisau itu untuk membuatnya masuk semakin dalam. "Siapa yang bilang?"

Zitao susah payah menelan teriakan sakitnya. "Kalau begitu kenapa kau tidak membunuhku sekarang?"

"Tidak akan seru," kekeh Kris mencabut pisaunya. Cucuran darah mantan anak buahnya kemudian mengalir pada pisau itu. "Bagaimana kalau kakakmu yang lebih dulu?"

Mendengar itu, mata Zitao menajam. Berapi-api jiwanya memberontak. "Jangan sentuh keluargaku!"

Detik berikutnya, Zitao menemukan Yixing mendekat. Sedikit membungkukkan punggungnya, lalu membisikkan sesuatu di telinga Kris. Entah apa, namun yang ia ketahui ialah bagaimana perubahan ekspresi Kris sebelum Yixing bergerak kembali ke posisinya. Sebut saja sebuah senyum licik yang tak kalah memuakkan bagi Zitao.

Kris yang tidak menyangka akan menggenggam kelemahan Zitao, akhirnya membuang pisau dari tangannya. "Aku akan memberimu pilihan. Kau mau membuka mulutmu ini, atau mulut kakakmu yang lebih dulu aku koyak?" Zitao menatapnya dengan tatapan menusuk. Sementara Kris mulai beranjak dari kursinya. Bersiap mengurungnya lagi dalam kegelapan gudang yang entah letaknya ada dimana. "Kau punya waktu 24 jam dari sekarang."

e)(o

Chanyeol tergopoh-gopoh keluar dari mobilnya. Setelah kakinya menapak pada aspal, ia langsung berlari ke dalam kerumunan. Para polisi nyatanya tetap memasang pembatas di sekitar lokasi, meskipun ada kemungkinan tidak ada mobil yang berminat melewati jalan ini. Ambulan sudah terparkir di tepian bersama sederet wartawan berita yang masih berusaha melewati batas yang sudah dibuat polisi. Melaporkan banyak hal dan sisanya mewawancarai pihak kepolisian.

Chanyeol tidak memikirkan apapun selain mencari Baekhyun di tiap celah. Membongkar keramaian sampai menemukan seorang pria yang terduduk kosong di balik mobil ambulan. Surai brunettenya terlihat berantakan, sibuk menekan kepalanya sendiri sampai mengabaikan seorang perawat yang menawarkannya pemeriksaan sederhana. Dan tanpa berpikir panjang Chanyeol langsung menghampiri pria itu. "Baek─"

Pria itu menatapnya lekat-lekat sebelum buru-buru beranjak meraih rengkuhannya. "Chanyeol!"

Chanyeol mendekapnya erat. Mencium puncak kepala pria itu hingga ia tidak bisa mengontrol, betapa ia sangat lega karena menemukan kekasihnya disini. Masih bernafas di dekatnya tanpa sesuatu yang kurang sedikitpun.

"Aku takut, Chanyeol," lirihnya menumpahkan tangisnya. Menenggelamkan kepalanya semakin dalam, tidak ingin membuka kedua matanya.

"Aku disini. Aku disini." Chanyeol mengelus surai kekasihnya. Melirik sesekali pada kemeja putih Baekhyun yang kusut. Dan ia lebih bersyukur menemukan Baekhyun tanpa noda darah sedikitpun.

"Aku harus mengatakan apa pada polisi?"

Chanyeol melepaskan pelukannya. Menangkup wajah Baekhyun, tak lupa merapus air matanya yang menganak sungai. "Aku akan mengurusnya. Sekarang kita harus ke rumah sakit."

Baekhyun menggeleng. Masih kosong tatapannya menarik kemeja yang Chanyeol kenakan. "Tapi aku baik-baik saja."

"Kau tidak terluka?" Baekhyun menggeleng. Namun Chanyeol masih mengabsen seluruh anggota tubuh Baekhyun yang utuh. "Kakimu tidak sakit? Tanganmu? Bagaimana dengan kepalamu?"

Untuk terakhir kalinya, kekasihnya itu menggeleng.

"Syukurlah," lega Chanyeol kembali menarik Baekhyun ke dalam pelukannya. Tak lupa merapikan surai brunette pria itu, lalu menggenggam tangan mungilnya.

Baekhyun kemudian berbalik. Jemarinya menunjuk ke arah mobilnya yang mulai dinaikkan ke dalam sebuah mobil pengangkut. "Kami dikejar, dia menembak rodanya. Memecahkan jendela dengan tongkat baseball, lalu─"

Chanyeol lantas menghentikan cerita berantakan dari Baekhyun. Ia paham betul bagaimana syok yang diderita kekasihnya ini. Sampai ia sendiri tidak tega menanyakan kebenaran buruk yang dilaluinya. "Sudah ya? Kita pulang sekarang."

"Aku pikir, aku akan mati─"

"Kau aman. Aku disini." Chanyeol kembali merapus air mata Baekhyun yang jatuh. Tak lupa memberikan kecupan kecil di pipi sembabnya. "Kita pulang, okay?"

Dan setelah ia menerima anggukan dari Baekhyun, Chanyeol pun mendial nomer seseorang di ponselnya.

e)(o

Selama kepergian Luhan di rumahnya, Sehun menyibukkan diri dengan berbagai macam urusan perusahaan. Pagi ini tepatnya, ia tak punya alasan untuk tidak membawa dirinya menghadiri rapat terakhir─dimana akhirnya semua proyeknya rampung dan siap untuk diresmikan. Sehun mau tak mau menyuruh Minseok untuk menyetir, menggantikan Baekhyun yang masih menjalankan hari pemulihannya. Walaupun sebelumnya ia ingin memaksakan sekertarisnya itu seperti biasanya, tapi nyatanya masalah ini juga bisa dituntut kakaknya habis-habisan. Dan itu adalah kali pertama Chanyeol berhasil menceramahinya banyak hal karena merahasiakan sesuatu di belakangnya. Ditambah dengan keterlibatan kekasih tersayangnya yang menjadi pemicu pria tinggi itu untuk sedikit memberinya ketegasan.

Well, Sehun harus mengerti karena tiada manusia yang ingin orang yang dikasihi mereka celaka. Tapi ia pun tidak berpikir ini terlalu berlebihan. Ia juga seseorang yang punya hak untuk memilih opsi. Bukan dari sudut pandang sikapnya dalam melakukan sesuatu, justru perlakuan Kris-lah yang membuatnya kehilangan akal dari waktu ke waktu. Jadi wajar saja kalau ia dikatai gila oleh kakaknya sendiri. Meski akhirnya Chanyeol setuju kalau Sena harus bersembunyi di suatu tempat yang ia pikir ia tidak mau tahu.

Seperti yang ia duga, ia bertemu dengan Jongin di atas meja rapat yang sama hari ini. Ada suatu waktu ketika Sehun atau Jongin bersitatap tapi semuanya hanya sebatas aktivitas kerja─yang tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi. Demikian pula saat Sehun bertandang ke ruangannya yang biasa, sementara Jongin mengantarkannya beberapa kertas yang harus ia tanda-tangani─dengan diam, bisu atau tidak ingin menatap satu sama lain lalu berlalu begitu saja. Sampai pada akhirnya Jongin yang bosan mencoba membuka bicara meski Sehun terlihat akan meresponnya dengan acuh tak acuh.

"Aku mendengar soal Baekhyun," ujar Jongin ketika Sehun terfokus pada tanda tangan yang dibuatnya. Jongin sendiri tidak tahu harus bagaimana ketika semua pembicaraan mereka terputus begitu saja selama ini. Ingin rasanya ia menyambung kembali tali konyol mereka seperti dahulu. Dimana hanya ada keributan Baekhyun, Sehun dan Jongin di balik pintu kantor yang cukup melelahkan.

"Aku tidak akan datang saat peresmian nanti." Respon itu memotong harapan Jongin. Terlebih ketika tumpukan kertas yang ia bawa sudah di geser ke arahnya. Lengkap dengan pena miliknya yang sudah diletakkan di atas kertas. Menandakan pekerjaan Sehun selesai, lalu hanya butuh masuk ke lift pribadinya untuk pulang.

Namun senelum Sehun beranjak dari sana, Jongin menunduk dalam. "Kau masih marah padaku?"

Sehun menjeda sebentar. "Perlu kau tahu bahwa aku tidak pernah marah padamu," jawab Sehun menjuput ponselnya. Merapikan sedikit mejanya sebelum beranjak dari sana. "lebih tepatnya aku kecewa."

"Maaf," mohon Jongin segera mengambil kertasnya. "aku tahu hal ini akan terjadi, tapi aku selalu memikirkan keadaannya. Dia mengalami stress berat dan ia tidak bisa memakan makanan yang ia inginkan."

Sehun akhirnya beranjak dari kursinya. Mengambil jasnya sambil membuang wajahnya dari Jongin. Entah mengapa ia selalu kesal saat mendapati Jongin monda-mandir di depannya. "Itu karena kesalahannya sendiri."

Jongin mengambil nafasnya dalam-dalam. Ia tentu butuh banyak kesabaran dalam menghadapi Sehun yang emosional. Kalau Jongin bukan ahlinya, pria itu tidak mungkin bisa membuang masa remajanya hanya untuk meladeni keanehan atasannya ini.

"Kau boleh tidak memaafkanku. Tapi aku mohon untuk jangan tidak memaafkannya." Jongin memasukkan penanya ke dalam saku. Hendak keluar meski sebenarnya ia sangat ingin punya waktu mengobrol yang panjang. "Saat seorang wanita hamil, mereka akan jadi sangat sensitif. Kau tidak seharusnya membuat dunia mereka menjadi sempit."

"Ini bukan urusanmu," cela Sehun melewatinya begitu saja. Tidak perduli sama sekali.

"Aku tahu." Jongin mengekorinya dari belakang. Berjaga-jaga kalau Sehun ingin mendapatkan bantuan atau sekedar ditemani sampai basement. Tapi nampaknya Sehun begitu tinggi membangun tembok penghalang antara batas harapan dan kenyataannya. "dan aku tahu kau bukan orang yang seperti itu."

Jongin kemudian menekan tombol lift sebelum Sehun kesusahan melakukannya. "Aku menyuruhnya untuk tinggal."

Tak sampai dua detik, Sehun sudah bisa melihat punggung Jongin melenggang menjauhinya. Sebuah senyum miring kemudian dihadiahkannya pada kesunyian. Mereka pun sama-sama melakukannya, tapi sebuah gengsi mengatakan bahwa mereka masih butuh waktu sampai damai menyusup dalam waktu yang tepat.

e)(o

Minseok repot-repot menjemputnya di basement. Pria berambut hitam itu membawakannya segelas kopi yang ia beli di café samping gedung. Sehun lantas merasa jenaka ketika berpikir bahwa Minseok benar-benar memperhatikannya saat Chanyeol tidak ada. Sehun pun bisa bertanya, apa yang akan dilakukannya kalau Minseok bukan orang kepercayaan ayahnya?

Sehun mungkin membenci Minseok sebelumnya─sama seperti ayahnya. Tapi lambat laun─entah kapan tepatnya─Minseok mulai membuatnya sadar bahwa ia berbeda dengan ayahnya yang suka mengatur. Ya, Minseok hanya menjadi seseorang yang paling sibuk me-managerial rumahnya. Selebihnya, pria itu suka di dapur, melaporkan banyak hal pada ayahnya─kecuali masalah Luhan yang ia sepakati─dan menikmati kesendiriannya di perpustakaan. Bisa dibilang, hanya ayahnyalah yang mengerti pekerjaan apa yang sebenarnya Minseok lakukan di rumahnya selama ini.

"Aku hampir membeli banyak ice cream, kalau saja aku tidak ingat Luhan tidak ada di rumah," kekeh pria itu memutar setirnya.

Mendengar nama Luhan, entah mengapa otaknya secara otomatis membatin dengan amat banyak soal pria itu. Mulai dari sarapan hingga makan malam mereka selalu akan melakukan hal itu bersama sampai menjadi sebuah kebiasaan. Tapi faktanya, pagi ini ia makan dengan enam kursi kosong. Mungkin sama seperti hari-hari sebelum Luhan datang ke dalam hidupnya, namun rasanya kini berbeda. Terlalu kosong seperti ia kehilangan sesuatu tanpa sadar. Dan ia berubah menjadi sedikit membencinya.

"Apa kau pernah menghubunginya?" Minseok menoleh sebentar padanya lalu terfokus kembali pada kemacetan yang ada di depannya. Pria itu kemudian berkeluh kesah karena jalanan yang biasanya ia lewati itu sebelumnya tidak pernah semacet ini.

"Untuk apa aku melakukannya? Toh, ia akan kembali ke rumah," jawab Sehun enteng sebelum menikmati kopinya. Menatap kembali bagaimana Minseok berusaha mengendalikan mobilnya untuk memutar arah, mencari jalan lain yang mungkin bisa mereka lewati untuk sampai ke rumah.

Minseok terkekeh. Mungkin benar jika Sehun punya harga diri yang sangat tinggi untuk sekedar menanyakan kabar pada orang asing. Dan hei, tapi bukankah Luhan sudah bukan orang asing lagi sekarang? "Aku jadi tidak terbiasa tidak mengerjakan sesuatu karena ia pergi. Lucunya aku tidak punya nomor ponselnya."

"Kau punya," Sehun meletakkan gelasnya pada suatu lubang gelas di ujung kursinya. Bersebelahan dengan gelas Minseok. "Sudah lama ia membawa ponsel Sena."

"Sungguh?" Berbinar mata Minseok. Ia pun tidak percaya bahwa ia akan senang hanya karena mendengar kabar sederhana seperti ini. "Kalau begitu aku akan menelponnya nanti."

"Jangan─" potong Sehun tanpa sadar. Sehun sendiri sudah menelan ludahnya sambil menatap ke luar jendela. Berusaha menyembunyikan kesalahannya dengan rapi, tapi sayangnya Minseok orang yang tidak mudah dibodohi.

"Huh? Apa?" tagih Minseok ingin mendengar sekali lagi perkataan tuan rumahnya ini. Dan kalau ia tidak salah dengar, maka sesuatu yang hebat mungkin saja telah terjadi.

Sehun berkedip beberapa kali sebelum merasa senang karena menemukan alasan yang logis di kepalanya. Dan ia segera bangga dengan dirinya yang begitu pintar dalam urusan mencari alasan. "Dia sedang menikmati liburannya."

Minseok segera meledak ke dalam tawa. Tak hanya merasa jenaka dengan alasan konyol Sehun, Minseok pun segera tahu mengapa Sehun terlihat aneh akhir-akhir ini. Maka saat ia mendapati Sehun lebih sering mengeluh ketika ia makan sendiri, kini ia mendapatkan jawabannya. "Kau pikir liburan itu seperti tugas kantor? Ia mungkin lebih sering berkencan karena tidak punya pekerjaan."

Sehun terdiam. Mendengar kata kencan tentu sesuatu yang paling tabu dihidupnya. Memang apa sih fungsinya berkencan? Bukankah membuang waktu? Ia juga tidak ingin menjadi orang seperti kakaknya yang tidak mengingat apapun selain pacarnya. Jadi biar saja Luhan berkencan, memangnya kenapa? Kenapa ia harus repot mengurusi Luhan yang berkencan? Toh, bukan ia yang jadi orang bodoh.

Sehun pun ingin segera mengutuk kondisi hatinya yang akhir-akhir ini mudah sekali kesal pada sesuatu. Terutama pada sesuatu yang tidak jelas seperti ini. "Aku bilang, jangan."

Bingo! Minseok tertawa keras dalam hatinya. Melihat Sehun yang salah tingkah, seru juga, pikirnya. "Lalu kau akan melakukannya?"

"Tidak," jawab Sehun datar.

"Kalian lucu sekali," kekeh Minseok. "Aku sering kasihan pada orang yang tidak mengerti hatinya sendiri."

"Maksudmu?" toleh Sehun tidak mengerti.

Minseok menggeleng. Membiarkan Sehun menebak-nebak perkataannya tanpa clue. Tentu ini akan menjadi hal yang menarik baginya. "Ada tempat yang ingin kau tuju selain rumah?"

Sehun menjuput gelas kopinya. Terpikirkan sesuatu di otaknya untuk melakukan perjalanan liburan juga seperti Luhan. Tapi selama ia menggantikan posisi kakaknya, ia sama sekali tidak pernah punya waktu seperti libur. "Sepertinya tidak."

Minseok tidak bisa menahan tawanya. Ia pun bergumam sendiri sampai Sehun tidak bisa mendengarnya. "Kasihan sekali. Padahal aku bisa membawanya ke Hongdae kalau dia ingin."

e)(o

Setelah memastikan Minseok pergi dari kamarnya, Sehun pun mencoba meraih ponselnya. Tanpa berpikir, ia mencari nomor adiknya di list kontak sambil membuka jasnya. Ide ini terlintas begitu saja, dan Sehun tidak keberatan jika sebelumnya memang Minseok-lah yang telah memberinya sedikit inspirasi untuk menjadi sedikit sinting.

Sehun kemudian berubah tidak tenang ketika panggilan yang ia buat tersambung dengan baik. Tinggal Luhan di seberang sana mengusap layar ponselnya untuk menemukan suaranya.

"Hallo?" Entah bagaimana suara lembut itu berhasil menghentikan detak jantungnya. Membuatnya mematung dalam beberapa detik seperti orang idiot yang tiba-tiba mendapatkan jackpot. "Sehun?" Suara itu perlahan memporak-porandakan isi pikirannya. Menghentikan semua detik waktunya yang berharga. Rasanya mungkin aneh, ketika ia mengakui kalau ia begitu senang mendengar suara itu.

Sehun berdehem sebentar. Menenangkan dirinya sendiri sebelum mengatakan, "Kau tahu tanggal berapa sekarang?"

Ada jeda yang panjang. Entah apa yang tengah Luhan lakukan di rumahnya sampai membuat Sehun menunggu dan berpikir jika sambungan mereka terputus akibat rumah Luhan yang terlalu jauh dari jangkauan jaringan Seoul. "T-tentu saja, memangnya kenapa?"

Sehun membuang punggungnya ke belakang. Tenggelam dalam empuknya tempat tidur yang ia rindukan sejak tadi. "Hari ini adalah hari terakhir liburmu," Sehun mengingatkan.

"Aku tahu," jawab orang itu malas.

"Aku hanya mengingatkanmu." Sehun menggaruk kepalanya. Merasa sangat konyol dengan apa yang tengah dilakukannya sekarang. Memangnya sejak kapan ia senang berbicara dengan orang seperti Luhan? "Dan satu lagi, kalau kau pergi ke suatu tempat kau harus menelponku."

"Bukankah ini hari liburku? Aku tidak sedang bekerja." Respon pria di telinganya itu kemudian tiba-tiba saja menyayat tiap sudut hatinya. Sehun sampai melongo sendiri lantaran heran─mengapa ia bisa mengatakan hal yang tidak pernah dipikirkannya terlebih dahulu. Minimal ia harus berpikir sebanyak dua kali setiap ia berbicara.

Sehun mendesis tak suka. "Jangan coba-coba membantahku."

"Baiklah," jawab Luhan lemah. Dan itu secara tidak langsung membuat Sehun sedikit lega karena harga dirinya tidak runtuh sama sekali. "Sehun?"

"Hm?"

"Aku senang bisa pulang, terima kasih."

Sehun berkedip. Baru kali ini Luhan berterima kasih padanya. Dan entah, itu bahkan terasa sangat-sangat spesial sampai Sehun beranjak dari posisinya. "Apa semenyenangkan itu?"

"Sebenarnya─" Sehun berkedip lagi menunggu jawaban pria itu. "Ah, aku sedang berbelanja. Boleh aku tutup?"

Sehun pun tiba-tiba kehilangan moodnya. Ia ingin mengatakan 'ya', tapi sebagian dari hatinya berteriak untuk menolak. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? "Ya, tentu saja." Lihat, ia bahkan mengatakan 'ya' dengan sangat lantang.

"Oh, aku melupakan sesuatu. Apa Minseok ada disana?" Tiba-tiba saja Luhan berseru dengan sangat bersemangat ketika menyebutkan nama Minseok.

"Kenapa kau selalu mencari Minseok?" protes Sehun.

"Aku merindukannya."

Sehun menyernyit. Ia merasakan sesak di dadanya ketika Luhan menyebutkan kata-kata seperti itu. Seperti ada sesuatu yang urgen mengganggunya dan ia harus segera menanganinya. Entah dengan cara apa, sampai ia berpikir akan menjauhkan Minseok dari Luhan secepatnya. "Kau tidak boleh rindu padanya. Kau bahkan tidak menyukainya."

"Siapa yang bilang?" Luhan kembali menemukan sifat aslinya. Sebut saja, pria itu tidak pernah suka kalau pendapatnya diremehkan. "Aku menyukainya."

Sehun memejamkan matanya sejenak. Menahan sesuatu berbentuk bom yang sebentar lagi ingin meledak di kepalanya. "Terserah!" jawabnya ketus. Ia pun memutus sambungannya kemudian membuang pandangannya ke arah jendela. Ia kemudian tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk mengatasi kesendiriannya. Ia bahkan tidak punya sesuatu yang ingin ia lakukan.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Baek, akhirnya kamu selamat. Maafkan aku yang membuatmu harus kena sial terus (Baek: kamu jahat!) :') Serah deh.

Aku gak tahu kalau chap ini bisa sepanjang ini. Dan HunHan on call/? hahaha

Selamat hari sabtu buat yang sekolah/kuliah/kerja semangat ya. Dan buat yang libur, selamat menikmati hari yang indah ini.

Makasih karena masih mau ngikutin two sides.

See ya!