Hari minggu ini sepertinya akan menjadi hari terbaik untuk Jongin, karena orang tua angkatnya akan pergi untuk liburan selama beberapa hari di China.
Namun ia tak sendiri, karena Kris tak ikut pergi bersama mereka. Mengingat hubungan mereka yang sudah membaik pun membuat Jongin sedikit lega.
"Ingat, selama kami pergi jagalah rumah ini. Izin lah pada paman Cha untuk libur selama kami pergi, dan fokuslah untuk menjaga rumah."
"Baik bu."
"Jangan lupa beri makan Kris. Dan Kris, uang saku mu sudah ibu taruh di kamar mu. Jika kurang mintalah pada Jongin." Dasar semaunya! Bagaimana mungkin ia menyuruh Jongin memberikan uangnya pada Kris, sedangkan mereka bahkan tak pernah memberikan Jongin uang saku sepeser pun.
"Baik bu. Hati-hati di jalan." Kris dan Jongin mengantarkan kedua orang tua itu ke depan rumah dan masuk kembali saat orang tua mereka berbelok menuju lift.
"Hey, jika kau ingin tetap bekerja di tempat Paman Cha tak apa. Aku tidak akan mengadukannya pada ibu dan ayah."
"Tidak-tidak. Jika aku bekerja maka tidak ada yang memasakan mu makan malam. Aku akan izin pada paman Cha. Lagipula hanya seminggu saja."
"Kau yakin?" Jongin pun menganggukan kepalanya. Setelah percakapan singkat tersebut Jongin memutuskan untuk menemui Paman Cha sekaligus meminta izin.
Skip
To: Kris
'Aku akan pulang pukul 8 malam. Karena aku harus menjaga toko paman Cha. Saat pulang aku akan memasakan mu makan malam. '
Jongin memutuskan untuk menjaga minimarket hari ini. Lagipula tidak sampai larut malam seperti biasanya. Jongin juga baru tahu jika besok hingga 7 hari kedepan paman Cha akan pergi ke Busan untuk mengunjungi adiknya yang akan menikahkan anaknya, jadi Jongin tak perlu izin lagi.
Seorang pelanggan datang lalu memberikan keranjangnya ke meja kasir. "Totalnya 20.500 won." Ujar Jongin. Setelah itu sang pelanggan pun memberikan beberapa lembar won.
"Terima kasih."
.
.
.
From : Jongin
'Aku akan pulang pukul 8 malam. Karena aku harus menjaga toko paman Cha. Saat pulang aku akan memasakan mu makan malam. '
Kris baru membaca pesan itu jam 8 malam lewat karena sedari tadi ia sibuk bermain basket dengan teman-temannya. Ia pun segera mengetikkan pesan balasan bahwa ia akan makan malam diluar hari ini pada Jongin, agar gadis itu tak perlu repot-repot untuk memasak lagi.
"Cepatlah Kris, sebelum tuan Oh ini berubah pikiran dan membatalkan traktiran nya." Namjoon berujar nyaring pada Kris yang masih berdiri di pinggir lapangan basket.
"Sabar bodoh!"
Mereka pun akhirnya makan malam di sebuah restoran ramen yang sangat terkenal di daerah Hongdae. Saat berlatih basket tadi mereka bertaruh dengan melakukan shooting terbanyak. Dan berakhirlah dengan kekalahan seorang mvp sekolah, Oh Sehun.
"Pesan lah dulu. Aku akan keluar sebentar."
"Eyy...kau tak akan kabur bukan?" Ujar Namjoon bercanda.
"Kau gila? Ini! Peganglah kartu kreditku, sebagai jaminan jika aku kabur. " Namjoon mantap Sehun puas. Dimple nya bahkan terlihat lebih dalam dari biasanya.
"Memangnya kau mau kemana?" Tanya Kris.
"Aku harus bertemu dengan seseorang dulu. Tapi jika aku tak kembali dalam waktu sejam, kalian makan saja sendiri dan bayar lah dengan kartu kreditku itu."
"Lalu kau?"
"Tak perlu khawatir. Nanti pegang saja kartu kreditku. Aku akan mengambilnya besok saat di sekolah." Setelah berpamitan dengan kedua orang sahabatnya itu, Sehun segera keluar menuju mobil nya.
Drrt drrt
"Berhenti menelpon sialan! Aku kesana!"
.
.
.
"Sekarang apalagi?!"
"Aku ingin tidur dengan mu malam ini." Sehun tak salah dengar kan? Apa bilang nya? Tidur?
"Kau gila? Kita sudah putus Irene. Dan aku tak ingin menghabiskan tenaga ku karena besok aku harus sekolah."
"Kenapa kau jadi peduli sekali dengan sekolah? Dulu kau bahkan rela membolos untuk bercumbu dengan jalang-jalang mu itu! Lalu kenapa kau seperti ini? Apa karena Kim Jongin?"
Plak
"Jangan bawa Jongin dalam masalah ini! Apakah kau tak malu meminta seorang pria untuk meniduri mu? Kau murahan sekali!" Irene hanya tersenyum tipis. "Murahan? Aku bahkan seperti ini karena mu sialan!"
"Sadarlah Irene, dan terima kenyataan bahwa kita sudah berakhir."
Irene jatuh berlutut di hadapan Sehun. Tangan nya bahkan sudah menyentuh kaki Sehun. "Aku mohon. Untuk yang terakhir kali nya. Setelah ini aku janji akan menjauhi mu." Ujarnya penuh dengan keputus asaan.
"Tidak." Jawab Sehun tegas.
"Kalau begitu aku akan mencelakai Jongin-" dengan kasar Sehun menarik Irene untuk kembali berdiri di hadapannya. "Kau mengancamku?!"
"Aku tak main-main Sehun. Aku bahkan tak perduli jika harus membusuk di penjara, asalkan aku bisa menyingkirkan Jongin dari hidup mu."
"Kau gila Irene! Baiklah kau ingin tidur dengan ku bukan? Aku akan membuat mu jera dan menyesali permintaan mu ini." Sehun merobek pakaian yang Irene kenakan tanpa memperdulikan posisi mereka yang sedang berada di jalanan meskipun dengan kondisi yang gelap dan sepi karena mobil mereka berada di sudut jalan. Sehun membanting wanita itu ke dalam kursi penumpang mobil Irene yang berada tepat di belakang mereka.
"Akhh Sehun!" Sehun tak perlu repot-repot mencari kamar Hotel ataupun tempat nyaman lainnya karena Irene tak pantas di perlakukan seperti itu.
"Akhh Sehun! Ampun!"
Namun Sehun tak sadar, jika sesepi apapun jalanan itu tetap saja akan ada orang yang melewatinya. Ya... dan orang itu adalah Kim Jongin.
"Ku kira dia sudah dewasa. Ternyata kelakuan nya sama saja dengan binatang."
Tbc.
note: fast up!!
