CHAPTER 18

Mengendap-endap seperti pencuri di rumah sendiri. Itu yang sedang dilakukannya saat ini. Lima belas menit yang lalu kedua orang tuanya sudah pergi untuk menghadiri jamuan makan malam dengan koleganya entah yang mana.

Rumah sedang dalam keadaan sepi. Hanya ada dirinya dan asisten rumah tangga yang masih bergumul untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang tersisa di ruang bawah.

Ruang kerja ayahnya untung saja tidak pernah terkunci. Ia bisa masuk dengan leluasa dan mencari apa yang ia inginkan.

Tak akan ada yang mengganggu. Asisten rumah tangga tak ada yang berani naik ke lantai atas saat malam hari. Kedua orang tuanya pun biasanya paling cepat dua jam lagi baru kembali. Ia harus mendapatkan data yang akurat malam ini. Harus.

Dibukanya pintu ruang kerja itu dengan hati-hati dan buru-buru masuk ke dalamnya. Diselotnya pintu ruang kerja agar ia benar-benar merasa aman dan tak ketahuan karena memasuki ruang kerja ayahnya tanpa izin.

Tak ada yang boleh tahu apa yang dilakukannya malam ini. Ia bisa terkena masalah kalau sampai ada yang melihat dan melaporkannya pada ayahnya.

Ia melangkah menuju meja kerja ayahnya yang penuh dengan tumpukan berkas-berkas dan laptop. Meja kayu besar dan berukir itu terletak di seberang jendela. Di samping kirinya berdiri angkuh sebuah lemari kaca yang di dalamnya terdapat berbagai macam buku milik ayahnya.

Ia menyalakan laptop hitam yang terletak di atas meja. Ia sudah sering kali mencuri tahu apa yang ia atau pun teman-temannya ingin ketahui. Ia sudah berulang kali mengintip hal-hal penting yang ada dalam laptop itu meskipun sebenanya terlarang.

Ia membuka setiap folder dan menelusuri file-file yang ada di dalamnya. Matanya terhenti saat menemukan data yang dicarinya. Data tentang seseorang yang menyimpan banyak hal yang tidak dianggapnya penting sebelumnya, namun sekarang dirasanya begitu penting dan menggelitik rasa penasarannya. Data orang yang sebelumnya dipandangnya sebelah mata, namun tampaknya menyimpan sesuatu yang berharga.

Sayangnya hanya data secara umum yang didapatnya dari laptop ayahnya malam itu. Hanya ada tempat tanggal lahir, nama orang tua, alamat, data kesehatan, prestasi, serta data-data umum lain yang lazim dimiliki setiap siswa sekolah.

Nampaknya malam ini ia harus bergadang. Kalau benar orang itu termasuk orang penting, maka tak akan sulit menemukannya melalui internet. Kita bisa mengintip apa saja melalui jendela internet. Tak ada yang tersembunyi di dunia ini semenjak internet mulai menjamah seluruh pelosok dunia.

Ia menyalin data-data yang ia perlukan, kemudian mencetaknya. Kali ini cukup ia sendiri saja yang tahu. Kedua companion-nya tak perlu tahu dulu hal yang satu ini.

Kyuhyun mengunci ruang kelas yang sejak dua jam terakhir dipakainya bersama beberapa orang siswa yang terpilih mengikuti Olimpiade Matematika tahun ini. Lee seonsaengnim yang meminta Kyuhyun membantu melatih anak-anak itu untuk nantinya dipilih yang terbaik menjelang olimpiade nanti.

Kyuhyun pun membantu dengan senang hati. Waktu istirahatnya banyak tersita memang, tapi ia senang melakukannya. Kyuhyun suka Matematika di saat jutaan anak di seluruh dunia membencinya.

Kyuhyun menganggap Matematika pelajaran yang mudah ia mengerti. Kyuhyun malah benci pelajaran Bahasa Inggris karena lidahnya suka berbelit saat mengucapkan kalimat-kalimat berbahasa Inggris yang terasa asing di lidahnya.

Hari sudah gelap. Sudah pukul delapan lebih saat Kyuhyun melirik arlojinya. Masih ada beberapa anak yang terlihat di sekolah, termasuk Kyuhyun. Namun, suasana sekolah sudah mulai senyap.

Kyuhyun melangkah menyusuri lorong di lantai tiga tempat ruang kelasnya berada. Ia harus mengambil bukunya yang tertinggal di dalam loker. Kalau tak ingat ada tugas yang harus dikumpulkannya esok pagi, Kyuhyun tak akan pernah mau menyambangi lantai tiga hanya untuk mengambil bukunya.

Suasana di lantai tiga sudah sangat sepi. Tak ada seorang pun yang terlihat di sana. Kyuhyun cepat-cepat menuju tempat lokernya berada. Suasana yang sangat sepi membuat bulu kuduknya meremang.

Kyuhyun mengira ia hanya seorang diri di sana sebelum ia mendengar suara berisik dari ujung lorong. Suara dua orang atau lebih yang kelihatannya sedang bercakap-cakap.

Tapi tunggu, mereka bukan bercakap-cakap, tapi sepertinya sedang berdebat atau bertengkar. Ada suara-suara bernada tinggi dan terdengar mengancam yang entah milik siapa.

Kyuhyun kemudian mendengar ada suara kertas terobek dan barang-barang yang berjatuhan. Karena curiga, Kyuhyun pun mendekati tempat itu. Kyuhyun melihat ke ujung lorong lantai tiga, namun tak tampak seorang pun ada di sana. Kyuhyun pun naik melalui tangga yang menghubungkan lantai tiga dengan lantai empat.

Betapa terkejutnya Kyuhyun saat melihat kertas-kertas, buku, dan alat tulis berserakan di tengah tangga. Kyuhyun semakin mempercepat langkahnya dan mendapati seseorang yang tengah berjongkok memunguti barang-barangnya yang berserakan di lantai. Kyuhyun tak melihat ada orang lain lagi yang ada di sana, hanya dia seorang. Seseorang itu adalah Kim Ryeowook.

"Apa yang terjadi denganmu, Kim Ryeowook?" seru Kyuhyun terkejut.

Kim Ryeowook cepat-cepat menghapus pipinya yang basah oleh air mata. Ia tak mengharapkan ada orang yang tahu tentangnya dalam keadaan seperti ini. Terlebih lagi jika orang itu adalah Kyuhyun.

Kim Ryeowook tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun itu. Ia juga menepis tangan Kyuhyun yang hendak membantunya berdiri. Kim Ryeowook masih saja berjongkok memunguti buku-bukunya yang berserakan. Yang keadaannya sama menyedihkan dengan pemiliknya, bahkan ada yang terlihat dirobek secara paksa.

"Siapa yang melakukannya?" tanya Kyuhyun kesal.

Dalam benak Kyuhyun sudah terlintas satu nama yang selalu mengganggu Ryeowook, namun ia juga tak yakin karena tak hanya orang itu yang memperlakukan Ryeowook seenaknya.

Melihat Kim Ryeowook yang masih tetap bungkam, Kyuhyun pun menghembuskan napasnya kasar dan membantu Ryeowook membereskan barang-barangnya. Kertas-kertas dari buku Ryeowook yang robek pun dikumpulkannya dengan hati-hati.

"Kau masih tak menjawab pertanyaanku, Ryeowook," kejar Kyuhyun lagi sambil menyerahkan kertas-kertas itu pada Ryeowook.

Kim Ryeowook menerima kertas-kertas dari tangan Kyuhyun itu, lalu menatapnya tajam tanpa kedip.

"Siapa kau?" Ryeowook balik bertanya sambil tetap menatap Kyuhyun tajam.

Kyuhyun menatap Ryeowook tak mengerti mendengar pertanyaan yang dilontarkan padanya itu. Apalagi melihat Ryeowook yang menatapnya nyalang seperti itu.

"Apa maksudmu?" tanya Kyuhyun.

"Aku yang seharusnya bertanya. Siapa dirimu sebenarnya, Cho Kyuhyun?"

"Aku tak mengerti arah pertanyaanmu itu, Ryeo. Apa maksudmu menanyakan siapa aku? Ada apa sebenarnya?" tanya Kyuhyun yang tak juga bisa mengerti.

"Aku tak pernah tahu apa-apa tentangmu, tapi mereka terus memaksaku untuk menceritakan tentang dirimu yang sebenarnya. Aku tak pernah tahu semua tentang dirimu, tapi aku juga yang harus menanggung akibat dari sesuatu yang bahkan tidak sedikit pun aku ketahui," teriak Kim Ryeowook mulai marah.

"Kim Ryeowook, bisakah kau sedikit tenang dan menceritakan padaku apa yang terjadi? Aku sungguh-sungguh tak tahu apa yang kaubicarakan," kata Kyuhyun.

"Mana bisa aku tenang sekarang kalau keselamatanku pun terancam dan itu semua karena dirimu. Kau yang selalu menyembunyikan banyak hal dariku. Dan sekarang saat kedokmu hampir terbongkar, aku yang menjadi sasaran utama. Kenapa mereka tak bertanya langsung padamu? Kenapa harus selalu aku yang yang jadi objek penderita?" teriak Kim Ryeowook yang tak bisa membendung lagi emosinya.

Kyuhyun mencoba menyabarkan dirinya. Ia tahu Ryeowook sedang meluapkan kekesalannya hatinya. Mungkin ia yang menjadi penyebabnya meskipun Kyuhyun tak tahu apa yang membuat Kim Ryeowook terlihat begitu marah padanya.

"Ryeowook-ah, maafkan aku kalau sering membuatmu berada di posisi yang tidak menguntungkan. Tapi, sekarang aku benar-benar tidak tahu apa yang membuatmu begitu marah. Selain itu siapa yang kaubilang selalu membuatmu menderita dan kedok seperti apa yang hampir terbongkar? Aku benar-benar tak mengerti," ucap Kyuhyun.

Kim Ryowook kembali menatap Kyuhyun. Dadanya naik turun mencoba menetralkan napasnya yang tak beraturan. Saat melihat wajah Kyuhyun yang penuh kebingungan itu, membuat Ryeowook sadar anak itu memang tak mengerti apa yang ia maksud.

"Ah, sudahlah! Kau memang tak mau menceritakan apa pun tentang dirimu padaku. Aku bukan bagian dari kelompokmu. Aku bukan teman baikmu yang bisa kaupercaya. Aku tak berguna untukmu dan hanya menjadi bebanmu. Selama ini kau banyak membantuku, namun aku tak pernah bisa membalasnya dengan cara yang layak. Lupakan saja. Itu tak penting. Aku hanya teman yang selalu merepotkan dan tak berharga," ucap Ryeowook lalu beranjak meninggalkan Kyuhyun.

Kyuhyun termangu mendengar ucapan Ryeowook itu. Kyuhyun akui ia memang tak dekat lagi dengan Ryeowook. Namun, bukan berarti Kyuhyun berhenti peduli.

Ia akan selalu ada kapan saja Ryeowook membutuhkannya. Ia juga dengan suka hati membantu Ryeowook kapan pun Ryeowook memerlukannya.

Kim Ryeowook tetap teman baiknya. Ia setara dengan Shim Changmin dan Choi Minho. Jarang berkomunikasi dan bermain bersama, bukan berarti mereka tak bisa lagi disebut sebagai sahabat.

"Ryeowook, tunggu!" teriak Kyuhyun sambil mengejar langkah Ryeowook yang semakin menjauh.

"Maaf, mungkin aku terlihat tak memperhatikanmu. Namun, bukan begitu maksudku. Well, kita memang tidak sering bercakap-cakap seperti dulu. Namun, bukan berarti kita berhenti berteman. Kau bisa bercerita padaku tentang apa saja. Kalau kau membutuhkan bantuanku, kau bisa mengatakannya padaku," kata Kyuhyun lagi.

Kim Ryeowook menghentikan langkahnya dan menatap Kyuhyun dalam-dalam. Banyak hal sebenarnya yang ingin ia katakan pada Kyuhyun. Apalagi setelah kejadian hari ini. Setelah seseorang memaksanya, bahkan mengancamnya, untuk menceritakan siapa Kyuhyun sebenarnya.

Ia tak mengenal semua tentang Kyuhyun. Kyuhyun tak memperbolehkannya mengetahui banyak hal tentang dirinya. Hanya teman-teman tertentu saja yang ia perbolehkan mengetahui semua tentang kehidupannya.

Apa yang tadi ingin diketahui orang itu tentang Kyuhyun, mau tak mau membuat Ryeowook merasa kecewa pada Kyuhyun.

Kyuhyun seperti tak menganggap kehadirannya sebagai teman yang layak untuk dipercaya.

"Ikut aku kalau begitu!" ajak Kyuhyun sambil menarik tangan Ryeowook.

"Eoh, ke mana?" tanya Ryeowook terkesiap.

Ryeowook tak menyangka Kyuhyun akhirnya mau memberitahukan segala sesuatu tentang dirinya. Mungkin Kyuhyun akhirnya sadar bahwa sebagai sahabat, mereka memang harus saling terbuka, tak boleh ada yang disembunyikan.

Kim Ryeowook pun menurut pada ajakan Kyuhyun. Rasa ingin tahunya membuatnya melupakan sedikit rasa kesalnya pada Kyuhyun.

"Jadi, kau menyeretku untuk ikut hanya untuk makan?" tanya Ryeowook tak percaya.

Semula Ryeowook menyangka Kyuhyun akan mengajak ke rumahnya dan mau mulai terbuka tentang dirinya. Namun, anak itu malah mengajaknya ke kedai ramyeon yang terletak tak jauh dari sekolah.

Mereka duduk di sudut dekat jendela. Kedai itu sangat ramai karena ini memang sudah waktunya makan malam dan banyak orang sepulang kerja yang mampir di kedai itu sekadar untuk makan atau bersenda gurau dengan sesama rekan kerjanya.

Di meja mereka masing-masing ada semangkuk besar ramyeon dan seporsi mandu yang masih mengepulkan asap.

"Eomma-ku bilang perut yang kenyang bisa meredakan rasa sedih dan amarah. Jadi, aku mengajakmu ke sini supaya kau tidak marah-marah terus padaku," ucap Kyuhyun sambil mengambil mandu dengan sumpitnya.

Ryeowook memutar bola matanya malas. Ia belum mendapatkan apa yang ia inginkan, namun anak pucat kurus yang duduk di depannya itu malah asyik melahap makanan.

"Cepat makan! Tak akan enak rasanya kalau sudah dingin," kata Kyuhyun tatkala melihat Ryeowook yang hanya diam saja memandangnya.

Kim Ryeowook pun memakan bagiannya. Perut kosongnya pun sudah mulai terisi dengan mandu dan ramyeon itu. Ryeowook merasa suasana hatinya sedikit lebih baik.

"Siapa yang tadi bersamamu?" tanya Kyuhyun setelah beberapa saat.

"Siapa yang mana?" tanya Ryeowook balik bertanya.

"Yang ada bersamamu di ujung tangga. Yang membuat isi tasmu berhamburan," jelas Kyuhyun.

"Bukan siapa-siapa," jawab Ryeowook pendek.

"Ck, pasti salah satu dari mereka kan? Atau malah tiga-tiganya?" desak Kyuhyun lagi.

Kim Ryeowook tak menjawab pertanyaan Kyuhyun itu. Tak ada gunanya juga. Ia sudah telanjur terbiasa diperlakukan seenaknya. Tak ada bedanya Kyuhyun tahu atau tidak siapa yang mengancamnya.

"Dugaanku benar. Pasti Han Kaisoo," cecar Kyuhyun.

"Bukan dia," sahut Ryeowook cepat.

"Oh, ya? Kalau begitu siapa?" tanya Kyuhyun ingin tahu.

"Aku tak mau membahas itu, Kyu. Sekarang katakan padaku, siapa kau sebenarnya!" tantang Ryeowook.

"Huh? Aku seperti yang kaulihat dan kaukenal, Ryeowook. Ini aku yang sebenarnya," kata Kyuhyun.

"Kata orang itu kau punya sesuatu yang kausembunyikan. Dia bilang kau akan mewarisi sesuatu. Apa yang kauwarisi?" tanya Ryeowook semakin mendesak.

"Siapa yang bertanya seperti itu padamu?" tanya Kyuhyun kaget.

"Kau kelihatan terkejut. Jadi, benar kan kalau kau sebenarnya juga sama seperti Han Kaisoo?" tanya Ryeowook lagi.

"Aku tak sama dengannya. Tak ada satu pun yang ada dalam dirinya yang ingin kusamai. Aku berbeda jauh dengannya. Aku tak mau disamakan dengan orang yang paling kubenci," sahut Kyuhyun tersinggung.

"Perilaku kalian memang jauh berbeda. Tapi aku yakin kalian memiliki latar belakang dan kehidupan yang sama. Kehidupan sebagai chaebol. Aku benar kan?" tanya Ryeowook.

"Jadi, kau hanya ingin tahu apakah aku chaebol atau bukan? Lalu apa yang akan kaulakukan kalau ternyata aku benar-benar chaebol?" tanya Kyuhyun.

Kim Ryeowook terdiam. Ia tak mampu menjawabnya. Apa yang akan ia lakukan seandainya Kyuhyun juga chaebol sama seperti Han Kaisoo? Apakah Ryeowook akan merasa tersanjung? Apakah ia akan merasa bangga karena berteman dengan chaebol? Ataukah Ryeowook akan berharap kehidupannya di Sajon akan lebih baik karena bisa mengandalkan Kyuhyun? Ryeowook malah merasa seperti benalu kalau sempat berpikiran seperti.

"Aku hanya ingin tahu saja," jawab Ryeowook akhirnya.

"Aku seperti yang ada di hadapanmu sekarang, Ryeowook. Aku adalah aku. Apa pun yang kumiliki atau yang tadi kaukatakan akan kuwarisi, itu bukan milikku. Jadi, beritahu padaku, siapa yang menanyakan hal bodoh itu padamu!" ucap Kyuhyun.

Kim Ryeowook tertunduk lesu. Ia belum mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Sekarang ia malah yang harus menjawab pertanyaan Kyuhyun siapa orang yang ingin tahu semua tentang Kyuhyun.

"Lee Kwang So, ia yang menyakan hal itu padaku," jawab Ryeowook akhirnya.

Lee Kwang So masih berkutat dengan laptopnya. Ia membuka-buka website yang sudah tiga hari ini ia kunjungi, namun ia tak juga menemukan apa yang ia cari.

Tak ada informasi tentang nama-nama yang telah ia dapatkan dan ia cetak dari data di laptop ayahnya. Nama-nama itu sebenarnya bukan nama yang asing atau unik, namun tak ada penjelasan akurat yang ia dapatkan perihal orang-orang itu.

Nama Kim So Hyi banyak ia temukan, namun tak ada yang mendekati spesifikasi yang ia inginkan. Nama Cho Young Han juga begitu. Ada banyak orang dengan nama itu, namun hanya orang-orang tak penting yang ditemukannya.

Nama itu tampaknya bukan nama orang populer. Tak ada artis, politikus, perwira militer, ilmuwan, atau bahkan pebisnis dengan nama itu. Nama Kim So Hyi yang terkenal pun juga seorang anggota girlband, yang tentu saja umurnya masih sangat muda.

Lee Kwang So sudah mencoba bertanya pada Kim Ryeowook. Namun, hasilnya nihil. Anak itu benar-benar tak tahu siapa Cho Kyuhyun sebenarnya. Cho Kyuhyun menyembunyikan identitasnya rapat-rapat dari teman tak berharganya itu.

Mungkin benar kata Shin Dong Min kalau Cho Kyuhyun itu memang bukan orang penting. Ia tinggal di kawasan elite karena ibunya itu simpanan seorang chaebol, entah siapa. Kalau ayahnya seorang chaebol, tentu akan mudah mencari asal usulnya melalui internet.

Ada banyak chaebol bermarga Cho di seluruh Korea. Namun mereka bukan yang Lee Kwang So cari.

Awalnya, Lee Kwang So juga tak menaruh perhatian pada seorang Cho Kyuhyun. Selama ini Lee Kwang So juga menganggap Kyuhyun sama seperti Ryeowook. Ia juga menganggap Kyuhyun sebagai sampah yang tak berguna. Anggapan yang sama dengan yang ada di pikiran Han Kaisoo dan Shin Dong Min.

Namun, telinganya yang tanpa sengaja mendengar perkataan Shim Changmin, mau tak mau membuatnya penasaran. Kelihatannya Shim Changmin tahu banyak tentang Cho Kyuhyun. Tapi, Lee Kwang So yakin ia tak akan memperoleh apa-apa dari seorang Shim Changmin.

Sebagai seorang anak kepala sekolah di Sajon, Lee Kwang So memiliki dendam tersendiri pada Cho Kyuhyun. Anak itu sudah menghancurkan mimpinya dan mimpi ayahnya untuk mengikuti Olimpiade Matematika tahun lalu. Saat seleksi terakhir, Cho Kyuhyun bisa mengalahkannya dengan telak.

Lee Kwang So sudah mempersiapkan diri sejak junior high school untuk mengikuti Olimpiade Matematika tingkat SMA. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah sering mengikuti berbagai lomba Matematika dan berhasil meraih juara. Begitu pun di tingkat sekolah menengah.

Sayangnya, mimpinya harus kandas hanya karena seorang Cho Kyuhyun, anak yang juga pintar Matematika, namun dengan asal-usul dan catatan prestasi tidak jelas. Lee Kwang So dengan terpaksa harus mengakui keunggulannya dan tentu saja harus menelan segala macam sumpah serapah dari ayahnya.

Ayahnya sangat berambisi menjadikannya anak yang selalu juara di bidang akademik. Matematika adalah mata pelajaran utama yang harus membuat Lee Kwang So unggul dari teman-temannya yang lain.

Ambisi orang tuanya itulah yang membuatnya tekun mempelajari pelajaran paling sulit di muka bumi ini. Ia rela belajar berjam-jam setiap hari dan mengikuti les hanya supaya kemampuan Matematikanya semakin terasah.

Hanya satu kegagalan itu yang membuat ayahnya murka dan memandangnya sebelah mata. Semua prestasinya di masa lalu seolah tak ada harganya lagi di mata ayahnya. Ia, anak kepala sekolah, namun tak mampu berbuat apa-apa saat berhadapan dengan Cho Kyuhyun, yang ia ketahui bukan siapa-siapa.

Sejak saat itu, Lee Kwang So melihat sosok Cho Kyuhyun sebagai seorang saingan. Cho Kyuhyun adalah duri dalam dagingnya. Ia kotoran di pelupuk matanya yang sangat menjijikkan dan harus ia singkirkan.

Lee Kwang So hampir saja menyerah, saat tiba-tiba matanya terpaku pada satu nama yang beberapa hari terakhir ini menjadi pusat perhatiannya. Ada sebuah berita lama yang terjadi tujuh belas tahun yang lalu. Saat yang sama dengan tahun kelahiran Cho Kyuhyun.

Dalam berita itu tertulis tentang seseorang bernama Cho Young Han, soorang petani sukses di Gangwon-do, yang meracuni seluruh anggota keluarga petani lain yang menjadi saingannya karena dendam. Selain itu Cho Young Han juga memiliki riwayat sakit jiwa ketika masih berusia muda.

Cho Young Han yang ini juga diberitakan telah meninggal karena bunuh diri tak lama setelah ia dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Mata Lee Kwang So membaca berita itu dengan saksama. Mungkinkah Cho Young Han yang ini adalah ayah Cho Kyuhyun?

Lalu apa yang akan diwarisi Cho Kyuhyun kalau ayahnya memang sakit jiwa. Apakah Cho Kyuhyun nantinya akan mewarisi ratusan hektar lahan pertanian seperti yang dilansir sumber berita itu? Ataukah jangan-jangan Cho Kyuhyun mewarisi penyakit yang sama? Apakah Cho Kyuhyun sebenarnya juga memiliki bakat gila?

Lee Kang So tersenyum sinis. Andaikan semua yang ada dalam pikirannya saat ini benar adanya, tentu akan menjadi sebuah skandal besar.

Tak akan ada yang mengira kalau ayah Kyuhyun memiliki kelainan jiwa dan mungkin akan diturunkannya pada Kyuhyun.

Lee Kwang So tertawa dalam hati. Pasti akan menarik sekali seandainya hal itu benar. Cho Kyuhyun sebentar lagi akan tamat riwayatnya kalau hal ini nyata.

Lee Kwang So cepat-cepat mencetak berita itu pada selembar kertas. Dia bisa mencari tahu sendiri. Esok pagi ia akan segera tahu hasilnya.

Kyuhyun mengernyitkan dahinya saat membuka lokernya pagi itu. Ada selembar kertas berukuran A4 yang terselip di sela-sela pintu lokernya.

Sebenarnya ia tak perlu merasa heran atau terkejut karena lokernya itu tak pernah sepi dari tempelan-tempelan bernada hinaan dan hujatan. Sejak ia menghajar wajah Han Kaisoo dan membuatnya seperti pesakitan yang teraniaya, hal-hal seperti itu sudah biasa diterimanya.

Bukan hanya lokernya, bahkan sepeda dan di laci mejanya juga menjadi sasaran. Sekarang memang tak banyak yang mengiriminya catatan-catatan penuh hujatan seperti itu, namun masih ada beberapa tulisan yang penuh dengan kecaman yang ditujukan padanya. Sasaran paling utama memang lokernya.

Cho Kyuhyun membalik halaman kertas itu dan tanda tanya besar semakin bergelayut dalam kepalanya. Ada cetakan berupa dari sebuah berita lama di situ. Berita tentang pembunuhan sadis yang terjadi tujuh belas tahun yang lalu.

Kyuhyun tak mengerti apa maksud seseorang mengiriminya berita itu. Toh, tak ada hubungannya dengannya.

Kyuhyun melipat kertas itu lalu membuangnya ke tempat sampah terdekat berikut dengan memo-memo sarkas lain yang tiap hari menghiasi lokernya.

Ia tak mau memusingkan kepalanya dengan hal-hal tidak penting yang hanya menambah kegundahannya saja. Sudah cukup otaknya dipenuhi dengan materi-materi pelajaran yang tak bisa dibilang sedikit. Ia tak mau memenuhi otaknya dengan hal-hal yang tak perlu.

Sementara itu, di bagian lain dari lorong yang sama, Lee Kwang So yang seolah-olah sedang menunggu kedatangan kedua temannya, tengah mengawasi Kyuhyun.

Tadi ia mengira bahwa Kyuhyun akan terkejut dengan lembaran berita yang sengaja ia selipkan di loker Kyuhyun pagi tadi. Nyatanya anak itu berlalu begitu saja dan tak kelihatan terkejut atau cemas.

Kyuhyun tampak tak peduli dengan lembaran berita itu. Seolah-olah ia tak pernah tahu tentang hal itu atau pura-pura tak tahu.

Segudang tanya kembali bergelayut di benak Lee Kwang So. Kyuhyun terlihat santai dengan hal itu. Apakah berita itu memang ada hubungannya dengan Kyuhyun? Ataukah Kyuhyun memang pandai menyembunyikan rahasia dirinya rapat-rapat? Atau sebenarnya berita itu tak ada hubungannya sama sekali dengan Kyuhyun?

Ah, Lee Kwang So dibuat pusing dengan hal penuh misteri itu. Namun, ia bertekad untuk mencari tahu semuanya. Cepat atau lambat ia pasti akan tahu kebenarannya.

"Shim Changmin, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Ryeowook saat jam istirahat di dalam kelas.

Saat itu Kyuhyun tidak ada di dalam kelas. Sebelum bel istirahat berbunyi Lee Seonsaengnim sudah memanggilnya ke ruang guru.

"Tetang apa?" tanya Shim Changmin.

Tumben Kim Ryeowook ingin menanyakan sesuatu padanya. Hal yang langka sekali karena Kim Ryeowook mau bertanya padanya. Biasanya anak itu menghilang sesaat setelah bel istirahat berbunyi dan kembali pada saat jam istirahat berakhir, entah ke mana.

"Tentang Kyuhyun."

Shim Changmin kembali mengerutkan keningnya. Kenapa Ryeowook tidak bertanya langsung pada yang bersangkutan? Kenapa malah melalui dirinya?

"Ada apa dengan Kyuhyun?"

"Bagaimana latar belakang keluarganya? Kau pasti tahu, kan?" tanya Ryeowook penuh ingin tahu.

"Aku tahu, tapi bukan hakku untuk memberi tahumu. Tanyakan sendiri pada Kyuhyun kalau dia kembali nanti," kata Shim Changmin.

"Dia tak mau memberi tahuku," keluh Ryeowook.

"Kenapa kau ingin tahu sekali?" tanya Shim Changmin.

"Aku penasaran seperti apa keluarganya. Kemarin ada yang menanyakannya padaku juga, tapi aku tak bisa menjawabnya karena benar-benar tidak tahu. Kau sungguh tak mau menceritakannya padaku?" kejar Ryeowook.

"Aku tak bisa mengatakannya padamu, Ryeowook, maaf!" ucap Changmin penuh sesal.

Sebenarnya Kim Ryeowook juga ragu Shim Changmin mau menceritakan perihal Kyuhyun padanya. Mau tak mau Ryeowook merasa kecewa juga saat Shim Changmin menolak memberitahunya.

"Siapa yang menanyaimu tentang keluarga Kyuhyun?" tanya balik Shim Changmin ingin tahu.

"Lee Kwang So," jawab Ryeowook singkat.

"Oh, ya? Apa yang dia tanyakan?" tanya Shim Shim Changmin lagi.

"Dia bertanya padaku siapa dan bagaiman keluarganya juga apa yang akan diwarisinya saat Kyuhyun berumur 18 tahun. Aku tentu saja tak tahu. Kyuhyun tak pernah mengatakannya padaku," keluh Ryeowook.

Shim Changmin menelan ludahnya pahit. Gawat, ia tak menyangka apa yang dikatakannya tempo hari ada yang ikut mendengar. Kyuhyun benar-benar akan mengelem, bahkan mungkin akan menjahit mulutnya kalau sampai Lee Kwang So, apalagi Han Kaisoo tahu apa yang sebenarnya.

"Ryeowook-ah, sebaiknya kau menunggu hingga Kyuhyun akhirnya siap menceritakan siapa dirinya padamu. Aku tak bisa memberitahumu apa-apa. Kalau Lee Kwang So atau siapa pun bertanya lagi padamu, bilang saja kau benar-benar tak tahu apa-apa," kata Shim Changmin.

"Aku sudah bilang seperti itu, tapi Lee Kwang So tak percaya. Ah, sudahlah, ini toh bukan masalahku. Terima kasih, Changmin. Maaf, kalau pertanyaanku tadi mengganggumu."

Kim Ryeowook pun berlalu dari bangku Shim Changmin. Meninggalkan Shim Changmin yang merasa bersalah karena tak bisa menjaga mulutnya sendiri waktu itu.

TBC

Annyeong, readerdeul, saya update cepat kan? Di Wattpad dan ffn, cerita ini udah tembus 10k viewers. Maka dari itu, untuk berterima kasih, saya update Fighting chapter 18 hari ini. Fyi…jangan terlalu percaya dengan apa yang kaudengar dan kaubaca, seringkali itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Waspada dengan hoax. Terima kasih untuk review kalian. Itu semua sangat berharga untuk saya. Tetap tunggu cerita ini, ya. Kalau ada saran Kyu mau diapain boleh juga kok (asal gak disiksa sampai mati aja ya hehehe). Happy reading guys. I hope you like it. Deep bow.