A/N:
Sebelum baca, aku mau pesan sama kalian.
Mohon baca dengan perlahan-lahan. Bukan apa-apa (bukan berarti di part ini ada apa-apanya loh ya) :D Cuman, aku kadang nyelipin sesuatu yang penting, entah di dialog atau di diskripsi.
So, happy reading dan semoga kalian paham dengan alur yang ku tulis.
.
.
.
.
TWO SIDES
by Gyoulight
.
.
.
.
.
HUNHAN FANFICTION
GENRE: Drama, Romance
RATING: T
.
.
.
.
.
"Ada apa dengannya?" Luhan masih menyernyit heran memandangi ponselnya di tangan. Sedangkan tangan satunya masih sibuk memegangi troli yang penuh dengan banyak barang. Dan bodohnya ia yang sampai tidak fokus dengan segala yang adiknya itu masukkan ke dalam sana. Ya, terima kasih, semua ini berkat Sehun yang membuat fokusnya terganggu.
Jaemin masih mengambil banyak snack di rak pojok dengan wajah datarnya. Ia bahkan melupakan panggilan Luhan yang sudah ingin menendang troli di depannya ini. Padahal ibunya menyuruhnya untuk berbelanja kebutuhan hidup, tapi nampaknya Jaemin tidak akan perduli dengan apapun.
"Apa yang kau masukkan ke dalam sini, huh?" Buru-buru Luhan menghampiri adiknya. menyuruh pemuda itu meletakkan kembali tumpukan snack yang ada di pelukannya.
"Kita akan butuh ini." Jaemin melakukan protes. Pemuda itu dengan cekatan mencegah kakaknya mengembalikan seluruh snack yang sudah susah payah dikumpulkannya. Luhan bahkan tidak akan percaya jika adiknya itu sudah 16 tahun, sedangkan sifatnya masih saja seperti anak kecil yang suka membuat onar.
"Kita tidak membutuhkannya!" Luhan merampas semua snack yang dipeluk adiknya. Mengembalikannya kembali ke dalam rak tanpa menghiraukan adiknya yang sudah berdiri mencebik. "Berhematlah sedikit."
Jaemin melempar kembali snack kesukaannya ke dalam troli. Terserah jika kakaknya itu akan mematahkan lehernya atau menggilasnya dengan troli. "Kau selalu mengatakan hal yang sama sejak dulu. Aku lelah berhemat."
"Jaemin!" Bosan dengan sikap adiknya, Luhan pun berteriak sampai semua orang yang ada disana menatap keduanya seperti menonton acara reality yang dibintangi anak-anak tujuh tahun.
"Wae?!" Jaemin pun tak kalah tidak perduli. Kali ini pemuda itu berteriak jauh lebih keras dari kakaknya.
Luhan segera menunjuk snack-snack tidak berguna adiknya itu di dalam troli. Melotot ia menatap adiknya yang sekarang sudah bertambah tinggi. "Kembalikan itu ke rak!"
"Aku menginginkannya!"
"Kau memasukkan terlalu banyak makanan tidak berguna!"
Menyadari sekitarnya sudah seperti ladang pertengkaran, akhirnya seseorang mendekati keduanya dengan keranjang belanjaan yang cukup besar di tangan. "Luhan?"
Kedua orang yang tidak punya malu itu akhirnya menoleh bersamaan.
"Baek?"
"Baekhyun hyung!" Jaemin pun menjadi satu-satunya yang terlihat amat sangat senang mendapati kehadiran Baekhyun di tempat seperti ini. Bagaimana tidak, pemuda itu dulu sering menghabiskan seluruh masa kecilnya untuk bermain dengan Baekhyun ketimbang dengan kakaknya sendiri.
"Astaga, apa yang kalian lakukan?!" bisik Baekhyun menarik keduanya keluar dari banyak pasang mata yang memperhatikan. Dan jujur saja, Baekhyun malah menjadi lebih malu tiga kali lipat karena mengenali keduanya. "Kalian benar-benar seperti anak puber yang sedang memperebutkan seorang pacar."
"Kau tidak bekerja?" Luhan yang benar-benar tidak percaya jika Baekhyun terlihat di supermarket siang bolong seperti ini masih membutuhkan banyak jawaban pasti. Bukankah Baekhyun sendiri yang kemarin mengatakan bahwa perusahaan sedang sibuk-sibuknya?
"Aku akhirnya dapat hari libur. Bisa dibilang, sesuatu yang buruk terjadi," jawab Baekhyun mengalihkan pandangannya dari Luhan. Ia kemudian sibuk menatap Jaemin yang semakin banyak berubah. "Aigoo, Jaeminie, kau semakin tinggi saja. Padahal baru kemarin aku melihatmu mengompol."
Segera, senyum Jaemin sirna begitu cepat. Sedangkan Luhan sudah tertawa terbahak-bahak sambil mendorong trolinya. "Apa yang terjadi?"
Baekhyun menawarkan satu snack besar pada Jaemin. Dan pemuda itu langsung tersenyum riang kembali. "Ceritanya panjang. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat setelah ini?"
"Boleh aku ikut?"
Luhan segera melotot pada adiknya. "Kau tidak boleh ikut!"
Menyaksikan Jaemin merengut akhirnya Baekhyun pun bersuara. "Oke. Akan sangat menyenangkan kalau dia ikut."
Dan semua orang kini bisa melihat, bagaimana pemuda sinting itu merayakan keberhasilannya dengan bertepuk tangan.
e)(o
Sudut resto siang ini terlihat ramai dengan karyawan kantor. Ada beberapa pegawai yang mengikis waktu makan siang, mengantri untuk memesan, sampai ada beberapa orang yang memang tengah mampir untuk makan siang. Termasuk Jongin yang masih menunggu di meja depan. Dengan jendela sepanjang dinding menempeli ujung meja dan sebuah kursi kosong di depannya. Ia bukannya menunggu pesanannya selesai dibuat, melainkan menunggu seseorang yang─beruntungnya─baru saja tiba memasuki pintu.
Jongin meletakkan ponselnya ketika seorang pria tinggi itu menghampiri mejanya. Mengurungkan niatnya untuk menghubungi yang ditunggu agar lebih cepat, tapi yang ingin ia hubungi malah sudah duduk di depannya. Maka ia mengambil buku menu dan mulai ingin memesan sebelum perutnya meraung lapar.
Jam dinding yang didengarnya pun masih menari-nari di dinding coklat. Sepotong kaca merefleksikan kegiatan resto di setiap sudut. Lalu jangan lupa dengan beberapa hiasan atau lukisan yang melekat di dinding, dan jangan lupakan tiap tiang ukir yang mereka punya. Menjadikannya terlalu pas jika mereka akan buka sampai malam. Tapi interior resto sebenarnya tidak penting bagi Jongin. Asal ia bisa kembali dalam 5 sampai 8 menit ke kantor, itu sudah menjadi ukuran ideal.
"Maaf, aku sedikit terlambat," tutur pria itu setelah melirik arlojinya. "Aku baru saja kembali dari penyelidikan kepolisian. Dan ya, kau pasti tau apa yang aku urus sampai harus selama ini."
Jongin mengangguk mengerti. Menatap daftar menu di tangannya sambil menimbang apa yang harus ia makan agar ia tidak terlambat untuk kembali ke kantor. Selebihnya, ia tidak keberatan karena ia paham bagaimana kesibukan Chanyeol di Seoul. Walaupun ia mungkin dikatakan tengah berlibur, direktur sepertinya masih harus bekerja dalam jarak jauh. Termasuk mengurusi sesuatu yang vital untuk kepentingan Arial. "Kurasa kau akan naik jabatan."
Chanyeol terkekeh begitu renyah, sampai Jongin kehilangan pemikiran tentang sesuatu yang harus ia pesan. "Aku sudah menolak jadi CEO, jadi itu tidak mungkin."
"Mungkin saja kalau pamanmu bosan." Jongin ikut terkekeh. Ia pun memanggil seorang waiters untuk memenuhi pesanannya. "Beef Noodle," pintanya pada seorang waiters.
"Cappuccino Ice," Chanyeol tak kalah buru-buru. Jika Jongin harus kembali ke kantor, ia sendiri harus pergi mengurus sesuatu dengan seorang perwakilan dari Hongkong.
"Kau yakin cuma kopi?" respon Jongin menaikkan salah satu alisnya setelah waiters itu pergi. Ia nampaknya cukup prihatin pada keluarga Oh yang gila kerja ini. Untuk makan saja kadang mereka tidak punya selera karena isi pikiran terlalu menumpuk.
"Aku ada pertemuan hari ini." Chanyeol membuka jasnya. Menggaruk keningnya sedikit, kemudian memandangi Jongin yang masih bertanya mengapa ia sangat ingin bertemu. "Aku punya sesuatu untuk membantunya."
Jongin memiringkan wajahnya. "Jadi ini soal Sehun?"
"Aku sudah sangat bosan untuk tidak ikut campur. Dia akan marah kalau tahu aku yang mengurusi ini. Jadi kau tahu persis maksudku mendatangimu seperti ini," ujarnya cukup serius. Meski sebenarnya Jongin sendiri sudah punya nyali yang ciut untuk mengurusi urusan Sehun. Sedangkan tentang masalah kemarin saja atasannya itu masih tidak ingin berbicara padanya.
Chanyeol mengangguk dangkal. Segera mengeluarkan kartu nama seseorang bermarga Lee pada Jongin yang masih kebingungan. "Aku ingin kau memberikan sisanya kepada mereka. Dia seseorang yang ku kenal baik. Jadi kita bisa mengurusnya dengan diam-diam." Chanyeol mau tak mau menjeda kalimatnya karena kopinya datang lebih cepat. "Selama di Berlin aku mengumpulkan banyak hal untuk menggugat Kris. Sehun juga sudah mendapatkan salinan brangkas hitamnya dari Junmyeon."
Jongin sedikit mencondongkan kepalanya pada Chanyeol. Mengecilkan suaranya, meski kecil kemungkinan ia bertemu dengan kaki tangan Kris di tempat seperti ini. "Kau mau bilang kalau kita akan melaporkan Kris ke pengadilan tanpa izin Sehun?"
Chanyeol bersandar pada kursinya. "Kita tidak punya jalan lain. Kris sudah bergerak di luar batas."
"Aku setuju," respon Jongin yang kemudian menyimpan kartu nama itu ke dalam sakunya. Jiwanya kemudian mendapatkan sedikit semangat. Ia tidak lagi memikirkan resiko Sehun yang mungkin tidak ingin lagi menjadi temannya. Lagi pula ini masalah yang sangat serius, dan ia tidak ingin banyak orang yang berlari ketakutan karenanya. "Arion juga sudah menyelesaikan proyek, jadi tidak ada alasan untuk mengakhiri kerja sama dengan WDC."
"Aku juga sudah melaporkan kecelakaan Baekhyun untuk memancingnya. Jadi aku bisa yakin kalau polisi akan segera menyelidiki ini."
Jongin mengangguk kecil. "Kau juga harus menjaga Baekhyun mulai sekarang."
"Aku yang menyuruhnya bicara. Jadi─ya, aku akan melindunginya," jawab Chanyeol mengigit bibirnya. Ia sendiri mengkhawatirkan banyak orang di kepalanya akibat mengambil tindakan sedikit hero seperti ini. "Bagaimana dengan Sena?"
Jongin berkedip beberapa kali. Ia harusnya ingat bagaimana pria ini dengan masalah kepribadiannya yang sangat menyayangi adik-adiknya. "Dia masih di rumahku." Jongin kemudian mendapati Chanyeol yang bernafas dengan lega. Pria berambut hitam itu akhirnya bisa meminum kopinya dengan senyum manis. "Kau ingin bertemu dengannya?"
"Sebenarnya, ya. Tapi mungkin dia akan tertekan," gumamnya. "Terima kasih karena sudah mau menjaganya."
Jongin terkekeh. Kikuk sendiri dengan kata terima kasih pria itu. "Dia sudah ku anggap sebagai adikku juga."
e)(o
Sore memancarkan cahaya cerah di tiap sudut Hongdae. Itu pandangan semua orang jika mereka berdiri mendongak di luar. Menemukan jalanan semakin padat karena banyak yang memutuskan untuk kembali pulang, sisanya dipenuhi oleh mereka yang keluar untuk melakukan acara yang sibuk untuk nanti malam.
Berbeda dengan Luhan yang terjebak dengan kepala mau pecah di dalam petakan sempit. Lantai dua ruang karaoke dengan lampu kelap-kelip di atas kepala. Luhan tidak pesan minuman. Mejanya bersih, hanya berisi cola, taco dan juga kentang goreng. Baekhyun mungkin sengaja membawa Jaemin bersamanya untuk menghindari minum-minum seperti kebanyakan orang di ruangan lainnya. Pun Luhan takut pada ibunya, ia mana mungkin punya nyali kalau ia bilang sudah mulai pandai soal minum.
Suara cempreng Baekhyun masih memekik di telinganya, ditambah dengan rap adiknya yang belepotan. Luhan mau protes saja kalau ia sedikit terganggu. Tapi ia sangat menghargai stress yang Baekhyun rasakan. Jadi ia hanya bisa menikmati kehancuran kolaborasi keduanya dengan lesu. Ya, paling tidak suara Baekhyun cukup baik dalam menyanyikan lagu dengan nada tinggi.
Trek kembali diganti. Mereka memilih lagu Eyes, Nose, Lips, yang membuat kepala Luhan semakin pecah. Jaemin sendiri bernyanyi tanpa tahu diri. Walaupun ia melakukannya dengan sepenuh hati, entah mengapa pemuda itu malah dilabeli tidak pantas olehnya.
"Aku butuh minum," rengek Baekhyun kemudian membuang dirinya ke sebelah Luhan. Membiarkan Jaemin melanjutkan aksinya di depan sana dengan beberapa tarian aneh.
"Salahmu yang membawa bocah itu," kata Luhan menyingkirkan kepala Baekhyun dari bahunya. Tapi pria itu sedikitpun tidak mau pindah, alih-alih semakin erat memeluk Luhan.
"Haruskah aku menikah saja?" keluh Baekhyun memejamkan matanya. "Chanyeol menyuruhku berhenti bekerja."
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Luhan menaikkan sebelah alisnya. Tidak biasanya Baekhyun akan bercerita tentang keluhannya soal Chanyeol.
"Seseorang menemukan Sena," mulai Baekhyun membenarkan posisinya. Jemarinya yang lentik malah mengambil potongan kentang goreng yang sudah mendingin terabaikan. "Kau pasti tidak tahu kalau Sena sudah di temukan."
Kedua mata Luhan tiba-tiba saja berubah membola. "Apa?"
Baekhyun mengunyah kentang itu sambil bersemangat bercerita. Tidak perduli dengan ekspresi Luhan yang seperti baru saja menemukan serangga di belakang bajunya. "Selama ini dia bersembunyi di rumah Jongin. Dan kau pasti bisa menebak bagaimana marahnya Sehun pada kedua orang itu."
Luhan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia mungkin bisa kehilangan kata-kata, tapi sebagian dari dirinya mengingat dengan benar bagaimana malam itu Sehun memintanya untuk tinggal. Lantas apa lagi yang Sehun tunggu, sedangkan Sena sudah ditemukan seperti perjanjian kontrak mereka. Bukankah kontrak mereka akhirnya selesai? "Tapi dia menyuruhku untuk tetap menjadi Sena─"
Baekhyun menunduk. "Maafkan aku, kita tidak bisa membuatmu mengakhiri pekerjaan ini dengan cepat. Keadaannya menjadi tidak baik. Sena mengalami stress dan itu tidak baik untuk kandungannya."
"Apa?!" Luhan kembali memasang ekspresi terkejutnya. Ia kini tidak bisa membayangkan bagaimana pusingnya kepala Sehun memikirkan banyak kejadian buruk di dalam hidupnya.
"Ceritanya panjang," Baekhyun melirik sedikit ke arah Jaemin yang masih menggila dengan lagunya. Berjaga-jaga, jangan sampai pemuda itu menguping pembicaraan seserius ini. Apalagi sampai tahu pekerjaan konyol yang dilakukan kakaknya. "Dan seseorang yang menemukan Sena adalah mantan kepercayaan Kris. Aku hendak mengantarnya kemarin. Tapi kami dikejar sampai mobilku rusak. Dan ya, Kris mendapatkannya."
"Kenapa kau harus mengantarnya?"
Baekhyun membuka jemarinya. Menunjuk garis tangannya seperti menemukan sesuatu yang aneh disana. Tapi sama dengan Luhan, ia pun tidak melihat apapun di tangannya. "Dia menjual informasi keberadaan Sena, jadi dia harus mendapatkan bayarannya."
"Ya Tuhan," Luhan kembali menutup mulutnya. Matanya terus memberikan sorot keterkejutan dan juga ngeri di suatu sisi. "Chanyeol benar, kau harus berhenti bekerja."
Baekhyun menggeleng. "Kaulah yang harus berhenti bekerja."
"Tapi─" Luhan terganggu seolah melakukan pekerjaan sukarela. Entah sadar atau tidak, namun Luhan mengaku sadar dalam memikirkan kalimat ini dengan benar. Baekhyun sendiri sampai berkedip heran menatapnya. "Sehun membutuhkanku."
Baekhyun membuang nafasnya. Meraih kaleng colanya untuk meredakan dirinya yang tercengang. Karena semakin hari, nampaknya ia akan semakin khawatir dengan keputusan sahabatnya ini. Kalau saja Luhan mau berpikir sedikit tentang posisinya, mana mungkin ia mau bertahan dengan orang seperti Sehun. "Aku tidak akan berhenti jika kau tidak berhenti."
"Baek─"
"Sudah kubilang, ini juga berawal dariku. Sehun sudah menyelamatkanku dan aku tidak boleh meninggalkannya," potong Baekhyun.
Tak ada beberapa menit, ponsel Luhan kemudian memekik. Mengalahkan nyanyian yang dibawakan Jaemin, sampai pemuda itu menghentikan nyanyiannya. Ia pun bersikap awas jika saja kakaknya itu mendapatkan panggilan dari ibunya yang dengan tegas menyuruh keduanya pulang.
Luhan yang sibuk menatap panggilan itu kosong, membuat Baekhyun berinisiatif untuk membangunkan lamunannya. "Angkat lebih dahulu. Kita akan pikirkan sisanya."
Maka dengan ragu Luhan mengusap layar tipis itu. Sedangkan musik sudah berhenti mengalun. Menyisakan kedua pasang mata yang menatapnya dengan penasaran dan juga penuh harap.
"Lama tidak bertemu. Kau masih ingat dengan tanggal pernikahan kita?" Suara berat dari saluran robot kecil itu kemudian begitu halus menyentuh hatinya. Menyusup ke dalam syaraf-syarafnya untuk segera mengubur kegugupannya dalam hal bicara.
Luhan terus menatap Baekhyun yang tak kalah terdiam menatapnya. Pria itu rupanya tengah meyakinkannya jika semuanya akan berakhir baik-baik saja. "Ya."
"Kita harus bertemu untuk memilih dekorasi dan membicarakan banyak hal," mulai Kris membuka maksudnya. Berbicara dengan manis, tanpa tahu kalau Luhan sudah krisis keberanian dalam menghadapinya sekarang.
Luhan beralih memutar bola matanya. Pikirnya ini terlalu cepat untuk mendiskusikan rentetan acara pernikahan, sedangkan pernikahan ini sendiri akan dilakukan dua bulan kemudian. Dan yang lebih penting, ini bukanlah acara pernikahannya. "Tidakkah ini terlalu cepat?"
"Dua bulan itu waktu yang singkat, darling. Kita tidak punya banyak waktu." Kris terdengar terkekeh di seberang sana. Tawanya terasa lembut dan juga terlalu berkelas untuk ukuran pria yang ingin memohon. "Mau ku jemput?"
Luhan menggigit bibirnya. Ragu ia menjawab untuk setuju, sedangkan ia belum siap dengan semuanya. Termasuk soal pakaian dan juga strategi kecil untuk terlihat sebagai pemeran utama dalam cerita. Ia bahkan tidak membawa pakaian menyamarnya ke rumah. Dan ia mungkin butuh waktu yang sangat lama untuk memulai penyamarannya yang konyol. "Aku akan menemuimu. Dimana kita akan bertemu?"
"W-Flow."
"Baiklah," jawab Luhan untuk yang terakhir kalinya. Panggilan pribadi itu kemudian selesai dengan baik. Disusul dengan kelegaan Baekhyun yang sudah bersiap dengan ponselnya. Pria itu rupanya hendak mengirim pesan pada Sehun untuk urusan mendadak seperti ini.
"Apa katanya?"
Luhan merasakan jantungnya akan melompat keluar. "Kris ingin bertemu."
"Aku akan menghubungi Sehun soal ini," Baekhyun kembali mengutak-atik ponselnya. Jauh dari itu, pikirannya kosong melompong. Ia juga tidak punya ide apapun untuk masalah seperti ini. Jadi ia harus melaporkan ini pada atasannya demi sebuah sekenario yang hebat.
Luhan buru-buru merampas ponsel Baekhyun. Pikirnya ia tidak punya waktu yang banyak. Sedangkan ia harus pulang mencari alasan yang logis untuk keluar dari rumah, pergi ke Seoul dengan buru-buru dan menemui Kris dengan kehabisan nafas? Ia tentu tidak ingin kehilangan banyak waktu. "Kita tidak punya waktu. Lakukan itu nanti."
"Kau akan melakukannya?" Baekhyun masih menatap Luhan dengan tatapan ragu. Ia sendiri tidak yakin membiarkan Luhan pergi dengan Kris tanpa pengawasan siapapun.
Luhan beranjak dari kursinya. Tidak perduli bagaimana kebingungan Jaemin sudah melanda bagai badai petir di siang hari. "Lalu aku harus bagaimana? Kita tidak mungkin membuat Sena melakukannya."
"Tapi─" Baekhyun hendak keberatan. Pikirannya pun penuh dengan apa yang akan terjadi jika Luhan memutuskan untuk melakukan ini.
"Kau punya pakaiannya?"
Baekhyun mau tak mau mengambil jaketnya. Menarik Jaemin keluar dari sana tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu. "Kita bisa membelinya. Sekarang kita harus mengantar adikmu pulang terlebih dahulu."
e)(o
Sebuah petakan ruangan yang cukup besar itu masih diisi dengan sebuah tempat tidur kecil dan satu buah meja lengkap dengan komputer di dekat pintu. Dindingnya masih bercat putih. Letak lemarinya juga tidak pernah berubah sejak pertama kali Sena datang kemari. Jongin yang menyisakan senyum padanya buru-buru menghilang di balik pintu. Tidak bisa lama-lama menyapa Kyungsoo yang sudah kepalang riang bertemu dengannya.
"Bagaimana pola makanmu?" Kyungsoo bertanya sambil menyuruhnya berjalan menuju ranjang kecil di ujung sana. Membantunya naik untuk berbaring nyaman di atas bantal.
"Aku berhasil makan roti dengan keju pagi ini," jawab Sena penuh senyum seakan ia menemukan sebuah harta karun yang tak ternilai harganya. Namun sayang, wajahnya masih pucat dan tirus. Kyungsoo pun sampai pedih sendiri melihatnya.
"Itu baik," puji Kyungsoo memasang stetoskopnya. Mengarahkan benda kecil itu di sekitar perutnya kemudian berlanjut mencari detak jantungnya. "Kau harus mencoba memakan banyak makanan. Dia kuat, dia baik-baik saja disini." Pria itu kemudian menjuput tensi darah di atas nakas. Membuka ikatan kain lengannya lalu mengarahkannya pada Sena dengan pikiran penuhnya. "Kau siap untuk pemeriksaan yang lain?"
Sena pun mengangguk antusias. Sangsi ia menyambut lengan-lengan Kyungsoo yang membantunya merapikan lengan baju. Sedikit canggung sebenarnya. Karena mau bagaimana pun Kyungsoo adalah seorang pria. "Tidakkah kau berpikir jika aku selalu merepotkan?"
Kyungsoo terkekeh. Ia terus fokus pada alat tensinya sambil mengatakan, "Tentu saja tidak. Apalagi Jongin yang tidak bisa mengurus rumahnya dengan baik. Akan sangat bagus baginya menemukan sesuatu yang membutuhkan tanggung jawabnya. Dengan begitu ia akan belajar menata hidupnya." Kyungsoo mulai memompa alat tensinya sambil meraba letak nadi Sena di pergelangan tangan. Sedangkan Sena sudah tersenyum penuh arti menatap pria berkaca mata itu. "Jangan memikirkan banyak hal. Fokuslah untuk mengatur pola makan."
"Kyungsoo," panggil Sena kosong. "menurutmu, apakah cinta itu baik?"
Kyungsoo kembali terkikik tapi Sena bertanya cukup serius padanya. Jadi ia merasa amat sangat bersalah jika tidak menanggapinya dengan serius. "Mengapa kau bertanya hal aneh seperti ini?"
Sena mengadah ke langit-langit. Mendengarkan detak jantungnya sendiri dalam keheningan ruangan Kyungsoo yang sepi. Terserah apakah ia dianggap aneh atau gila, baik Jongin maupun dirinya entah kapan sudah terbiasa dengan sikapnya yang seperti ini. "Aku hanya tidak mengerti tentang sesuatu."
Si dokter akhirnya mengangguk kecil sambil membuka rekatan alat tensinya. "Kau tahu? Cinta itu semacam penyakit. Kau akan diserang virusnya tanpa henti, sampai kau tidak sadar jika kau telah meletakkan orang lain di atas segala-galanya. Mereka juga akan merubahmu menjadi orang yang paling bodoh di muka bumi." Kyungsoo tak lupa menjuput pena di saku putihnya. Mencatat sesuatu di kertasnya, lalu menaruhnya kembali ke atas nakas.
"Lalu, apa mungkin bagimu mencintai orang yang kau benci?"
Kyungsoo lantas melirik gadis itu bingung. Ia mungkin sudah bertemu dengan banyak wanita hamil yang aneh sepertinya. Tapi entah mengapa semua terasa menyenangkan ketika ia bisa menemukan orang yang ia tangani menjadikannya tempat berkeluh kesah. Tak terkecuali orang di depannya ini. "Mereka itu penyakit. Mereka akan menggerogoti hatimu, tanpa kenal benci atau segan. Cinta tidak pernah perduli pada apapun."
Sena sebenarnya tidak yakin apakah tepat untuk berbicara dengan Kyungsoo yang setiap hari bergelut dengan diagnosis. Pria itu cukup rasional sebagai seseorang yang dikenalnya. Seseorang yang satu-satunya memahami bagaimana kondisinya secara medis, dan sisanya Sena tidak bisa membaca bagaimana suasana hati si dokter setiap kali ia mengatakan hal-hal konyol. Namun sejauh yang ia tahu, Kyungsoo adalah pendegar yang baik. Dan ia harap pria itu bisa membantunya menemukan banyak solusi untuk memutuskan sesuatu.
"Ini bukan seperti diriku."
"Kau punya masalah lagi dengannya?" tanya pria berkaca mata itu mengerutkan dahinya. Meliriknya dalam-dalam untuk mencari sebuah arti yang ia sembunyikan.
Mungkin di mata Kyungsoo, ia hanyalah seorang wanita yang malang dengan Jongin sebagai pemeran antagonisnya. Entah apa yang terbesit di pikiran pria ini ketika Jongin memanggilnya 'seorang kekasih yang mengandung anaknya'. Marahkah ia? "Sepertinya akulah yang bermasalah disini."
"Aku akan berbicara dengan Jongin." Kyungsoo tahu-tahu sudah menepuk lengan Sena. Mencoba meredakan kecemasan impulsif yang menyerang gadis itu, tapi nampaknya Sena hanya akan semakin dirundung banyak kesalahan.
"Bukan Jongin─" geleng Sena pelan. Ia sebenarnya ragu untuk melakukan kejujuran disini. Hanya saja ia semakin tertekan jika terus membohongi Kyungsoo seperti ini. Sedangkan Kyungsoo terlalu kentara untuk menyembunyikan diri bahwa ia menyukai Jongin. "Ayahnya bukan Jongin. Aku hanya seseorang yang selalu merepotkannya."
"A-apa?" Pria itu tercengang. Makin membola matanya menemani kebekuannya.
"Jongin melakukannya untuk menjadi waliku," tutur gadis itu meraih jemari Kyungsoo yang mendingin. "Maafkan aku, Kyungsoo. Aku seharusnya mengatakan ini sejak awal."
"Jadi─" Kyungsoo terus berkedip. Sedangkan Sena sudah mengangguk mengiyakan seluruh pikirannya yang bergema.
"Aku sudah sangat merepotkannya dan sepertinya aku harus segera pergi─" Sena beralih memainkan jemarinya. "Oh, apa yang harus aku lakukan?"
"Sena─"
"Apa aku salah jika suatu hari aku memisahkannya dengan─" lirih gadis itu dengan mata berlinang. Pikirannya tiba-tiba manjadi kacau. Ia mungkin terlalu sering menjadi aneh, lalu cepat atau lambat ia mungkin akan membenci dirinya yang seperti ini. "tapi aku seolah merindukannya."
Kyungsoo akhirnya mendapatkan kembali fokusnya. Otaknya yang terlalu banyak bekerja tiba-tiba saja mendapatkan banyak alur dari pembicaraan semacam ini. "Janinmulah yang menginginkannya. Dia yang memberitahumu bahwa dia menginginkannya," Kyungsoo beralih meyakinkannya. "Sebutlah kau sedang mengalami fase dimana kau memiliki banyak keinginan. Ada beberapa keinginan yang kau rasa kau harus memenenuhinya dan juga beberapa keinginan lain yang kau rasa tidak mungkin untuk kau penuhi. Itu normal. Tapi jika kau benar-benar menginginkannya dan itu akan membuatmu menjadi lebih baik, maka lakukan."
"Tapi aku membencinya, Kyungsoo."
"Kau akan menjadi seorang ibu. Seorang ibu yang akan selalu tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Dengarkan hatimu, apakah ini adalah sesuatu yang kalian inginkan?" Sena meneteskan air matanya. Sedangkan Kyungsoo semakin bersimpati. Karena dari sudut manapun orang melihatnya, Sena tetaplah seseorang yang membutuhkan banyak dukungan. "Jika ya, maka semuanya adalah benar. Hatimulah yang paling benar dibandingkan dengan ego di kepala─"
"Hanya hatimu yang tahu jawabannya."
Kyungsoo buru-buru mencari letak kotak tisunya. Memberikannya kepada Sena sebelum Jongin datang dan bertanya apa yang terjadi. Walaupun besar kemungkinan bahwa pria tan itu akan bertanya macam-macam karena melihat wajah sesedih ini. "Aku paham kondisimu yang seperti ini. Jangan menahan banyak hal. Sering-seringlah menumpahkannya."
Sena merapus habis air matanya. "Kau mau mendengar ceritaku kapan-kapan?"
"Saat aku tidak sibuk, aku selalu punya telinga." Senyum Kyungsoo mengembang. Begitu hangat bagai sapuan mentari pagi. "Kau juga bisa membaginya dengan Jongin. Jangan pernah sungkan, dia benar-benar pria yang baik."
e)(o
Luhan buru-buru membuka pintu kaca di depannya setelah turun dari taxi yang membawanya bersama Baekhyun. Baekhyun sendiri sudah turun di seberang gedung. Memasuki café seberang lalu mengambil duduk di dekat jendela. Bukan tanpa alasan, hanya untuk memudahkan pria itu dalam mengawasi. Alih-alih kembali menghubungi Sehun yang tidak bisa dihubungi sejak tadi.
Luhan dengan degup jantung yang luluh lantah masih mencari keberadaan Kris di dalam sana. Dan tak butuh waktu lama sampai sosok tinggi dengan rambut pirangnya datang menghampiri. Tersenyum penuh pesona sambil merangkul pundaknya.
"Aku terlambat," sesal Luhan meredakan deru nafasnya yang saling berkejaran.
"Tidak masalah," bisik Kris menggenggam tangannya. Pria itu kemudian menunjukkannya sebuah potongan sofa. Mempersilahkannya duduk dengan nyaman sambil memperkenalkannya dengan seorang pegawai yang pernah mengurusi banyak event besar. "Dia calon istriku."
"Pilihan anda tidak pernah salah, tuan. Dia cantik," kekeh si pegawai memuji bagaimana keanggunan Luhan dengan dressnya. Luhan sendiri kikuk ketika diperkenalkan sedemikian rupa. Sedangkan Kris sepenuhnya bangga atas kehadirannya disini. "Kami punya beberapa tema disini," mulai pria itu menyerahkan sebuah buku tebal─yang juga besar─seukuran album foto.
Kris malah mengoper buku tebal itu pada Luhan. Menunjukkannya berbagai macam dekorasi cantik penggelaran pernikahan. Dengan tatanan penuh bunga, lengkap dengan bagaimana meja ditata menyesuaikan dengan lokasi. "Kau ingin yang bagaimana?"
Luhan terlalu bingung untuk melakukan hal-hal semacam ini. Ia tidak punya pengalaman bekerja sebagai W.O, apalagi mendatangi pesta pernikahan. Perlu digaris bawahi, bahwa ia sama sekali tidak pernah membayangkan bagaimana pesta pernikahan impiannya sendiri. Ia mungkin suka bunga, tapi bukan berarti semua pesta pernikahan akan dipenuhi bunga seperti ini. Atau mungkin karena ia bukan wanita, jadi selera miliknya terlalu kolot untuk dipertimbangkan? "Aku lebih suka yang sederhana."
Kris tersenyum lembut. "Darling, ini pesta sekali seumur hidup," ujarnya. Memberinya sebuah alasan untuk menata pikiran sederhananya sekali lagi. Dan sialnya, Kris terlalu tampan untuk melakukan hal-hal manis seperti ini. Luhan bahkan sukses mematung di posisinya. "Aku malah punya ide untuk melakukan pesta di kapal pesiar."
Luhan tercengang. Keterlaluan menurutnya. Tapi ini mungkin bukan apa-apa bagi Kris. Pria pirang ini bisa saja meminjam menara Eiffel untuk dekorasi pestanya kalau ia mau. "Itu sedikit─"
"Pilihlah yang kau suka," potongnya kemudian.
Luhan berkedip beberapa kali. Ia kembali membolak-balik halaman buku itu dengan perasaan bingung luar biasa. Sampai ia melihat dekorasi outdoor yang begitu indah dengan tatanan bunga soft pink di tiap sudut. "Ini bagus."
"Kau mau pesta taman?" Kris beralih meneliknya lebih dekat. Cukup serius pria itu memperhatikan tiap detail. Mulai dari mempertimbangkan jumlah tamu, suasana dan juga beberapa yang sebenarnya tidak begitu penting.
Luhan akhirnya teringat akan sesuatu. Bukankah ia harus kabur dari pernikahan Kris? Apa untungnya ia susah-susah memilih? Toh, sesuatu yang ia pusingkan ini akan menjadi memori terburuk Kris. "Oh, tidak, tidak. Pasti akan sangat dingin."
Kris tertawa dibuatnya. Pria itu kemudian membalik halaman selanjutnya. Memberi ruang kepada yang terkasih untuk memilih, walaupun sebenarnya ia punya pilihannya sendiri di beberapa halaman belakang. "Bagaimana kalau yang ini?"
"Laut?" Luhan menaikkan sebelah alisnya. Ia bahkan tidak tahu seberapa elegannya otak Kris untuk memilih sesuatu yang benar-benar pas untuknya. Dan itu sangat mudah ditebak, sebagaimana untuk penampilannya pun Kris selalu bisa menemukan yang cocok untuknya. "Kau suka laut?"
"Sebenarnya tidak," gelengnya pelan.
Luhan menahan bukunya ketika Kris mulai membalik halamannya lagi. "Tunggu, aku harus tahu dimana kita akan melakukannya."
Kris menggaruk tengkuknya. "Sebenarnya, ayahmu menyarankan The R. Hall. Tapi itu kalau kau setuju."
"Baiklah, itu akan sangat tertutup," tutur Luhan memutar habis otaknya. Ia kembali membuka tiap halaman itu dengan teliti, sebelum menemukan dekorasi indah dengan banyak bunga putih dan juga karpet merah. Terlihat bagus sebenarnya. Sederhana dan juga berkelas, mungkin akan cocok untuk Sena yang asli. "Mungkin ini bagus."
Kris tersenyum puas menatap seluruh halaman itu. Cukup bagus pikirnya. "Kau mau yang ini?"
Luhan menggaruk hidungnya. "Bagaimana menurutmu?"
"Itu bagus," puji Kris mengambil bukunya. Tak lama, ia pun menyerahkannya pada si pegawai yang ternyata masih tidak bergerak di posisinya. Duduk manis, menunggu dengan setia. "Bisa kulihat yang seperti ini?"
Si pegawai tersenyum lembut menerima bukunya. Ia lantas beranjak sebelum mengatakan, "Tentu saja, tuan. Tunggu sebentar."
Setelah kepergian si pegawai suasana berubah sunyi. Hanya menyisakan pemandangan luar jendela yang dipenuhi kegiatan jalanan Seoul yang ramai. Beruntung ruangan itu kendap suara, jadi mereka tidak perlu mendengar kebisingan dan kepadatan jalan di bawah sana.
Kris memilih bersandar pada sandaran sofa. Mengecek arlojinya untuk mengukur waktu yang dimilikinya hingga meregangkan banyak penat di tengkuknya. Ia mungkin terlihat benar-benar seperti tengah dikejar waktu, walaupun sebenarnya memang tidak begitu. "Ngomong-ngomong kita belum melihat pakaian."
Luhan yang duduk di samping pria luar biasa itu hanya bisa mengontrol rasa gugupnya. Ia masih saja merasa asing, atau mungkin merasa takut pada seorang Kris. Padahal sikap dan penampilan Kris sangat jauh dari kata kriminal. Walaupun Luhan sendiri tidak pernah tahu kehidupan Kris yang sesungguhnya, tapi dengan mendengar banyak cerita tentang pria itu siapa yang tidak tertekan? "Jangan terburu-buru. Itu bisa kita lakukan kapan-kapan."
"Bagi orang-orang, mempersiapkan pernikahan itu empat sampai lima bulan. Lucunya kita hanya punya waktu dua bulan." Kris terkikik. Begitu hangat suasana yang dibangunnya. Sampai Luhan tanpa sadar sudah tenggelam ke dalam pesona itu. "Aku senang kau setuju. Walaupun aku bertanya-tanya, mengapa kau bisa setuju untuk menikah denganku?"
Luhan kembali diserang gugup. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, sedangkan ia bukanlah seseorang yang berhak berada disini. Karena ia tak lebih dari disebut orang asing, seorang pemeran pengganti dalam kehidupan orang-orang seperti Kris. "Aku─"
"Aku tidak perduli. Asal kau menjadi milikku, itu sudah cukup," lanjut pria pirang itu menggenggam tangannya. Mengusap jemarinya lembut, sambil memasangkannya cincin yang dulu sempat Luhan kembalikan pada pemiliknya.
"Maafkan aku─" Luhan memandangi jemarinya. Membebaskan diri dari kejaran Kris yang sudah menenggelamkannya dalam lautan biru penuh canggung.
"Tidak masalah," tuturnya. "Kita telah melalui banyak hal. Wajar jika kau marah padaku." Kris menjeda sebentar. "Kau punya waktu malam ini?" Luhan menggeleng pelan. Ia pun tidak mengerti mengapa ia bisa sebegitu jujur pada orang seperti Kris. Ia harusnya bisa bersikap awas, memikirkan sekenario terburuk dan mencari solusi yang baik untuk menyelesaikannya diam-diam.
Tapi nyatanya Kris terlalu pintar mengambil hatinya. "Mau makan malam denganku? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan."
Dan Luhan sepertinya kelewat bodoh untuk mengangguk sekali lagi. Mengiyakan banyak ajakan manis Kris padanya. Tanpa tahu di seberang sana Baekhyun sudah menatapnya cemas. Ingin cepat-cepat membawa Luhan kembali ke rumahnya sebelum Sehun mengamuk karena merasa dihianati perintahnya.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
