CHAPTER 19

Kyuhyun mendelik sebal pada segerombolan siswi yang sedang asyik bergosip. Ia tak akan mempermasalahkan apa gosip mereka pagi ini, andai saja para siswi itu tak bergosip sambil menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, seperti pandangan meremehkan bahkan mungkin juga merendahkan.

Sudah beberapa hari ini Kyuhyun menyaksikan hal itu. Awalnya ia merasa cuek dan tak peduli. Tapi, lama-lama ia merasa jengah juga. Kyuhyun merasa dialah yang menjadi topik gosip anak-anak. Dan percayalah tak ada enaknya menjadi bahan pergunjingan orang lain.

"Kau tahu apa yang mereka bicarakan?" tanya Kyuhyun pada Changmin yang berjalan bersamanya pagi itu.

"Molla, aku tak pernah mau tahu dengan gosip tidak penting," jawab Shim Changmin.

"Kenapa mereka menatapku seperti itu? Aku juga tak pernah mau tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi, cara mereka menatapku sambil bergosip benar-benar mengganggu," kata Kyuhyun kemudian.

"Eoh, biasanya kau tak pernah peduli!" ujar Changmin.

"Tapi, kali ini berbeda," jawab Kyuhyun.

"Tanyakan saja pada Minho. Mungkin saja ia tahu. Anak itu tak pernah jauh dari media sosial, bahkan yang isinya tidak bermutu sekalipun dia tahu," usul Changmin.

"Nanti sajalah. Aku malas mencarinya di kelasnya. Apalagi kalau harus melewati gerombolan penggosip itu," kata Kyuhyun.

"Kirimi pesan kalau begitu. Anak itu suka menghilang saat istirahat bersama teman-teman barunya," ujar Shim Changmin.

Kyuhyun mengangguk setuju. Sekarang mereka memang jarang bersama Choi Minho. Anak itu sudah mendapatkan teman-teman baru yang sekelas dengannya. Mereka seringkali berkumpul di taman atau di lobi sekolah.

Choi Minho juga jarang bergabung dengan Kyuhyun dan Changmin saat di sekolah. Anak itu tampaknya sudah punya dunia yang baru.

Ada baiknya juga karena mereka sekarang jarang mendengar keluhan Minho yang mengatakan kalau ia sendirian dan tak punya teman. Heol, memangnya selama ini Minho menganggap Kyuhyun dan Changmin seperti apa.

Namun, lama-lama mereka berdua juga merindukan Minho. Choi Minho yang cerewet dan banyak tingkah, yang bisa membuat mereka tertawa dengan tingkah kekanak-kanakannya. Bagaimana pun juga mereka bertiga adalah sahabat.

"Kau tak tahu gosip tentangmu sendiri?" tanya Choi Minho siang itu saat istirahat.

Cho Kyuhyun, Shim Changmin, dan Choi Minho duduk bertiga di kantin untuk makan siang. Shim Changmin sudah berhasil mengusir Lee Taemin dan Lee Jinki secara tidak hormat untuk memonopoli Minho.

Mereka duduk bertiga di memilih duduk di ujung ruang kantin yang besar itu. Kantin sangat ramai saat jam makan siang. Mereka sengaja mencari tempat duduk yang strategis supaya bisa bicara dengan santai.

"Kalau aku tahu aku tak akan bertanya padamu," kata Kyuhyun.

"Memangnya apa yang mereka gosipkan?" tanya Changmin lebih lanjut.

"Apa saja sih yang kalian berdua lakukan sampai-sampai gosip penting seperti ini pun kalian tidak tahu? Apa gunanya punya ponsel mahal kalau tidak digunakan untuk semestinya?" kecam Choi Minho sengit.

"Mana ada gosip yang penting, bodoh!" balas Kyuhyun tak kalah sengitnya.

"Lalu kenapa sekarang kau ingin tahu gosip yang kaubilang tak penting itu?" balas Choi Minho pada Kyuhyun.

"Aku tak akan mau tahu kalau mereka tak menunjuk-nunjuk mukaku dan melihatku seolah-olah aku serangga yang menjijikkan," kata Kyuhyun gusar.

"Kau pasti tahu apa yang mereka bicarakan Minho-ya. Hidupmu tak penah lepas dari media sosial," ucap Shim Changmin.

"Aku malah mengira kau sudah tahu. Tapi, aku juga tahu bgaimana dirimu yang suka tak peduli dengan apa pun yang orang lain katakan dan lakukan padamu, makanya aku diam saja. Kenapa kau sekarang jadi ingin tahu?" tanya Choi Minho penasaran.

Wajar saja Choi Minho sekarang ingin tahu. Cho Kyuhyun yang ia kenal adalah anak yang seakan tak peduli dengan pendapat orang lain tentangnya. Selama ia tak melanggar hukum atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma, ia akan menganggap semuanya bak angin lalu. Orang lain mau berkomentar apa pun tentangnya Kyuhyun tak akan pernah ambil peduli.

Cho Kyuhyun mengangkat bahunya. Ia juga tidak tahu mengapa ia sekarang seperti ini. Mungkin suasana akhir-akhir ini yang membuatnya semakin tidak nyaman. Hal itu membuatnya semakin sensitif dengan hal-hal yang terjadi di sekitarnya.

"Entahlah, tapi akhir-akhir ini suasana semakin tidak menyenangkan," keluh Kyuhyun.

Choi Minho menatap Kyuhyun. Beberapa minggu terakhir ia memang tak terlalu dekat dengan kedua temannya itu. Selain berbeda kelas, sekarang ia juga mendapatkan teman baru yang tak kalah menyenangkannya dengan kedua teman baiknya itu.

"Kau yakin mau tahu apa yang mereka bicarakan tentangmu?" tanya Choi Minho khawatir.

"Jadi, benar kan mereka membicarkanku? Apa yang mereka bicarakan?" tanya Kyuhyun ingin tahu.

Choi Minho tak menjawab langsung pertanyaan Kyuhyun itu. Ia malah mengeluarkan ponsel dari dalam saku jas sekolahnya dan membukanya. Tak lama kemudian ia menyerahkan ponsel itu pada Kyuhyun.

Kyuhyun menerima ponsel yang diberikan Minho padanya itu dan mulai membaca apa yang tertulis dalam ponsel itu. Tangannya sibuk men-scroll dari atas sampai ke bawah. Shim Changmin pun menggeser tempat duduknya mendakat supaya tahu apa yang tengah dibaca Kyuhyun.

Kening Cho Kyuhyun mengernyit saat matanya menyusuri kata demi kata yang ada dalam ponsel Minho itu. Setiap percakapan dan komentar dibacanya dengan saksama supaya tak ada yang terlewat.

Shim Changmin juga demikian. Kedua matanya sampai membola saat matanya membaca deretan kalimat yang ia rasanya sangat tak masuk akal itu.

"Apa-apaan ini?" ujar Changmin kesal lalu menatap Choi Minho.

"Makanya aku tak memberi tahu kalian. Benar-benar tidak masuk akal kan?" jawab Minho.

"Siapa yang pertama kali menyebarkannya?" tanya Shim Changmin gusar.

"Aku tidak tahu. Awalnya mereka menggosipkannya dari mulut ke mulut, lalu lama-lama mulai menyebar lewat media sosial. Aku pertama kali tahu dari line anak-anak sekelasku," kata Choi Minho lagi.

"Dan kau tidak menyangkalnya?" tanya Shim Changmin.

"Sudah kulakukan, tapi mereka bilang karena aku temannya makanya aku akan terus membelanya. Kalau saja Kyuhyun tak keberatan, aku sudah akan membeberkan siapa dia sebenarnya. Biar semua orang tahu dan tidak memandanganya ebelah mata lagi," ucap Choi Minho.

"Jangan sampai itu terjadi. Aku tak mau mereka berbalik menjilatku karena apa yang kumiliki," kata Kyuhyun.

"Tapi kau harus terus menahan kesabaran karena itu. Kenapa tak kausumpal saja mulut mereka dengan mengatakan siapa kau sebenarnya. Biar mereka lebih tahu diri sedikit," kata Choi Minho ketus.

"Apa menurutmu Han Kaisoo di balik semua ini?" tanya Shim Changmin pada Kyuhyun.

"Mana aku tahu," jawab Kyuhyun.

"Siapa tahu dia ingin membalas dendam padamu setelah kau memukul wajahnya dan membuatnya seperti kehilangan muka," kata Shim Changmin menegaskan.

"Kurasa dia tak akan membalasku dengan cara murahan seperti ini," jawab Kyuhyun.

"Bisa saja begitu. Dia akan menghalalkan segala cara untuk membalasmu. Mungkin saja dia ingin menghasut sebanyak mungkin orang untuk membencimu. Lagipula kalau dengan cara seperti ini dia tak akan rugi apa-apa. Tak akan ada yang menunjuknya sebagai biang kerok karena tak ada yang tahu dari mana berita ini berasal," kata Choi Minho.

Kyuhyun menggeram dalam hati. Kalau benar Han Kaisoo yang menyebar berita bohong ini tentangnya, mungkin ia akan mempertimbangkan untuk menghajarnya sekali lagi. Kali ini Kyuhyun cukup sepakat dengan apa yang pernah dikatakan Siwon, hyung-nya, Kyuhyun merasa ia tak perlu lagi berbaik hati pada orang yang terus-terusan ingin membuat perkara dengannya.

"Orang yang menyebarkan berita bohong tentang ayahmu sudah pantas diberi sedikit pelajaran. Perlukah aku menyebarkan berita bagaimana kehidupanmu sebenarnya? Aku yakin saat ini juga mereka akan menunduk hormat padamu," kata Choi Minho kemudian.

"Tak perlu. Hidupku baik-baik saja tanpa ada orang lain yang tahu seperti apa hidupku. Hidupku yang sebenarnya juga menyebalkan," kata Kyuhyun ketus.

"Hidupmu tidak menyebalkan, tahu! Kau seharusnya bersyukur karena hidupmu adalah impian jutaan anak di dunia ini," kecam Minho.

"Begitukah? Tapi aku tak merasa seperti itu."

Percakapan mereka terhenti tatkala posel Kyuhyun berbunyi. Kyuhyun melihat siapa yang menghubunginya siang-siang begini di sekolah. Kyuhyun mengeluh pelan saat melihat nama orang yang menghubunginya. Panggilan dari seseorang yang tidak diharapkannya untuk ditemui saat-saat ini.

Hari sudah menjelang malam saat Kyuhyun tiba di depan pintu gerbang rumah bercat cokelat di pinggiran Seoul. Gerbang tinggi yang terbuat dari besi dan kayu tebal itu terlihat megah.

Pemilik rumah ini siang tadi meneleponnya dan menyuruhnya menginap. Besok hari libur. Saat Kyuhyun lebih kecil dia biasanya menginap di rumah ini setiap akhir pekan. Setelah Kyuhyun beranjak besar, Kyuhyun bisa memberikan berbagai alasan sehingga ia tidak sering-sering menginap di rumah ini.

Pemilik rumah ini sebenarnya sangat menyenangkan. Beliau sangat menyayangi dan akan mengusahakan apa pun agar Kyuhyun merasa betah tinggal di sini. Namun, tentu saja Kyuhyun lebih betah tinggal di rumahnya sendiri dan dekat dengan keluarganya, terutama ibunya.

"Tuan Cho sudah menunggu Anda sejak beberapa minggu yang lalu, Doryeonim! Beliau seringkali mengeluh mengapa Anda jarang berkunjung ke mari," kata Paman Kim yang menjemputnya di sekolah.

Pintu gerbang terbuka lebar secara otomatis dan mobil yang dikemudikan Paman Kim melaju pelan memasuki halaman besar rumah itu. Rumah itu terlihat megah, tapi juga sunyi di saat yang sama. Tak banyak yang tinggal di dalamnya memang. Lebih banyak pekerja rumah tangga yang tinggal daripada yang empunya rumah.

Paman Kim menghentikan mobilnya di depan pintu masuk utama, lalu keluar untuk membukakan pintu bagi Kyuhyun. Paman Kim orang yang sangat mematuhi tata krama. Dulu Kyuhyun seringkali menolak diperlakukan berlebihan, tapi saat pemilik rumah ini menegur keras Paman Kim, mau tak mau Kyuhyun pun juga ikut mematuhi apa yang menjadi aturan di rumah ini, mau tidak mau suka tidak suka.

Kyuhyun sudah menapakkan kakinya di undakan terakhir, saat pintu rumah terbuka lebar. Seorang yang amat dikenalnya menyambutnya dengan senyum sinis di depan pintu.

"Selamat malam, Samchon!" sapa Kyuhyun sambil membungkukkan badannya dengan hormat.

"Jadi, kau datang lagi. Untuk mengecek apakah harta milikmu tidak berkurang sesen pun?" sambut laki-laki yang dipanggil Kyuhyun samchon itu dengan ketus.

Kyuhyun tersenyum pahit. Ia sudah terbiasa menerima sindiran dan kata-kata ketus seperti ini. Sejak kecil pamannya itu memang sering memperlakukannya demikian. Saat ia dan ibunya tinggal di sini, pamannya itu tak pernah menunjukkan raut muka manis padanya, terutama pada ibunya.

Paman Kyuhyun itu, Cho Young Min, adalah adik kandung ayahnya. Setelah ayahnya meninggal, pamannya itu menjadi anak satu-satunya yang dimiliki Cho Soo Man, kakeknya.

Sayangnya, pamannya itu tak bisa diharapkan. Ia seringkali berdebat dengan kakeknya. Kehidupannya pun tak bisa dibilang baik. Pamannya tidak memiliki insting bisnis yang baik. Karena Kyuhyun adalah penerus satu-satunya keluarga Cho, maka dari itu kakeknya menaruh harapan besar padanya.

"Harabeoji yang menyuruhku untuk menginap, Samchon," jelas Kyuhyun yang dengan susah payah harus menarik kedua ujung bibirnya agar bisa tersenyum di depan pria ini.

"Huh, apa tak cukup kau menjadi bagian dari keluarga Choi? Seharusnya kau mulai menanggalkan nama Cho yang masih kaupakai itu. Kau tidak membutuhkan nama keluarga ini lagi," kata Cho Yung Min semakin tajam.

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya kuat-kuat supaya mulutnya tak kurang ajar dengan mengeluarkan kata-kata kasar pada samchon-nya. Bagaimana pun juga laki-laki ini adalah adik ayahnya.

"Abeoji yang memberikanku nama itu. Jadi akan kupakai nama itu sampai kapan pun, Samchon," ucap Kyuhyun tegas.

"Kau bahkan tak mengenalnya, namun kau masih serakah dengan menggunakan namanya. Kau juga mengharapkan warisannya jatuh ke tanganmu juga. Apakah keluarga Choi tidak memberimu sedikit bagian. Kau juga anaknya meskipun hanya anak tiri. Hubunganmu dengan keluarga ini sudah berakhir. Bukankah setelah ibumu keluar dari rumah ini berarti ia juga memutuskan hubungan dengan keluarga ini, termasuk juga dirimu," ujar Cho Young Min semakin meyakitkan hati.

Ingin sekali Kyuhyun meneriakkan pada pamannya itu betapa ia juga tidak menginginkan semua itu. Ia bahagia tinggal dengan keluaga barunya, demikian juga dengan ibunya. Namun, ia juga punya alasan mengapa ia harus tetap menjadi bagian dari keluarga Cho.

"Harabeoji yang akan memutuskan semuanya, Samchon. Layak atau tidaknya aku menjadi bagian dari keluarga Cho, semuanya tergantung dari penilaian harabeoji. Kalau harabeoji masih menganggapku bagian dari keluarga ini, berarti aku masih cukup berharga menyandang nama besar keluarga Cho," ucap Kyuhyun tegas.

Cho Young Min berdecih mendengar jawaban Kyuhyun itu. Anak itu semakin lama semakin menjadi batu sandungan baginya. Selama Kyuhyun ada, ia tak akan mendapatkan apa-apa. Bahkan rasa simpati dari ayahnya sendiri pun tidak ia dapatkan.

"Tuan Cho sudah menunggu Anda di ruang tengah, Doryeonim!"

Suara seorang asisten rumah tangga menginterupsi percakapan tidak mengenakkan yang terjadi antara Kyuhyun dengan pamannya itu. Kyuhyun menarik napas lega karena pembicaraan itu berakhir. Ia tahu pamannya itu tak pernah menganggap kehadirannya.

Setiap tingkah laku dan kata-kata pamannya, secara tersirat selalu menunjukkan ketidaksukaan, bahkan kebencian. Hal itu jugalah yang membuat Kyuhyun merasa tidak nyaman setiap kali berkunjung ke rumah ini.

Kyuhyun melangkahkan kakinya melewati pamannya yang masih berdiri di depan pintu dan menatapnya dengan penuh kebencian. Ia mengikuti asisten rumah tangga yang mengantarnya untuk menemui harabeoji-nya.

"Jeez, kenapa anak itu tak mati saat kecelakaan waktu itu. Benar-benar menyebalkan!" gerutu Cho Young Min kesal.

Kyuhyun menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang jauh. Setelah makan malam yang sebagian besar didominasi oleh harabeoji-nya dan percakapan singkatnya berdua dengan Sang Haraboeji setelah makan malam di ruang kerjanya, hatinya semakin gundah.

Ia hanya punya waktu kurang dari setahun. Ibunya yang menjanjikan akan menyerahkan kembali Kyuhyun pada harabeoji-nya setelah ia berusia delapan belas tahun. Waktu rasanya melompat begitu cepat. Hingga tak terasa waktunya akan tiba.

Kyuhyun tahu perjanjian antara harabeoji dengan ibunya saat ia berumur sepuluh tahun. Saat meningitis membuatnya koma, harabeoji-ya sudah ingin membawanya tinggal bersama secara paksa. Keluarga Choi juga harus menerima kata-kata pedas dari harabeoji-nya itu karena membuatnya sakit, bahkan koma.

Saat itu, ibunya masih bisa menahannya untuk tinggal. Namun, ibunya harus membuat perjanjian dengan harabeoji-nya, bahwa Kyuhyun harus tinggal dengan keluarga Cho setelah berusia delapan belas tahun.

Ia harus meninggalkan rumah keluarga Choi dan tinggal di kediaman keluarga Cho. Tinggal beberapa bulan lagi Kyuhyun akan berusia delapan belas tahun. Itu artinya hanya tinggal sesaat ia akan bersama-sama dengan keluarganya.

Ia akan kehilangan sosok ibu, ayah, dan hyung yang selama ini selalu melimpahinya dengan perhatian dan kasih sayang. Kyuhyun tak ingin kehilangan semuanya itu, namun ia juga tak mungkin membuat ibunya melanggar janjinya. Kyuhyun harus bisa menempatkan diri.

Tinggal di rumah keluarga Cho berarti ia setiap hari harus bertemu muka dengan pamannya. Pamannya tak pernah menyukainya. Sejak lama kakeknya itu mencoret nama pamannya dari daftar penerusnya. Pamannya hanya memperoleh seperlunya saja. Ia tak bisa menguasai semua harta milik keluarga Cho untuk dirinya sendiri.

Mungkin mulai sekarang Kyuhyun harus mulai menebalkan telinga dan menguatkan hatinya terhadap semua sikap pamannya kepadanya. Ia juga harus mulai bisa meneguhkan pendiriannya tentang yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk. Bukankah sebentar lagi mereka akan tinggal dalam satu atap.

Kyuhyun mengingat lagi semua yang dikatakan harabeoji padanya setelah makan malam tadi. Semua yang harus diingatnya baik-baik dan harus dilakukannya.

"Kau sudah semakin jarang menginap di sini. Apa ibumu melarangmu?" tanya harabeoji pada Kyuhyun.

"Eomma tak pernah melarang. Hanya saja sekolahku semakin banyak menyita waktuku," ralat Kyuhyun tentang tuduhan harabeoji pada ibunya.

"Begitukah? Bahkan sekolahmu juga menyita hari liburmu?" tanya harabeoji lagi.

"Aku sekolah mulai pagi hingga malam, Harabeoji. Enam hari dalam seminggu. Aku hanya punya sehari untuk libur. Itu pun jarang kugunakan untuk bersenang-senang karena aku harus mengerjakan banyak PR dan tugas," ucap Kyuhyun.

"Sekolah zaman sekarang memang sangat melelahkan berbeda dengan zaman kakekmu ini sekolah dulu. Lebih baik kau ikut home schooling. Jadi kau bisa mengatur waktu sekolahmu sendiri. Aku bisa mencarikan guru terbaik untukmu," saran harabeoji yang membuat Kyuhyun hampir memuntahkan cokelat yang belum sampai melewati kerongkongannya.

Kyuhyun terbatuk keras saat tersedak karena terkejut dengan usul harabeoji-nya itu. Haraboeji pun ikut panic saat batuk Kyuhyun tak kunjung reda. Beliau membantu menepuk-nepuk punggung Kyuhyun agar batuknya reda.

Kyuhyun cukup terkejut dengan usul kakeknya itu. Ia tidak mau meninggalkan sekolahnya. Ia tak bisa lagi bertemu dan berkumpul dengan teman-temannya. Meskipun suasana sekolah saat ini sangat menyebalkan, tapi Kyuhyun lebih suka bersekolah daripada terpenjara dalam rumah.

"Andwee, aku tidak mau! Aku tak suka hanya berdiam diri di rumah. Aku suka sekolahku. Memang melelahkan, tapi aku suka," kata Kyuhyun cepat-cepat setelah batuknya reda.

"Pikirkan sekali lagi! Kau bisa belajar pelajaran layaknya di sekolah sambil mempelajari seluk-beluk perusahaan. Kau bisa belajar keduanya dalam satu waktu, bukankah lebih efektif. Kau tentunya tak mau turun langsung dalam perusahaan tanpa mengetahui seluk-beluknya terlebih dahulu bukan?" kejar harabeoji Kyuhyun sekali lagi.

"Kalau begitu tunda dulu keinginan Harabeoji untuk memaksaku masuk dalam perusahaan. Harabeoji masih punya Young Min samchon untuk membantu mengurus perusahaan," elak Kyuhyun.

"Mengharapkan pamanmu mengurus perusahaan? Kurang dari setahun semua perusahaan yang kumiliki akan gulung tikar! Kau tahu betapa tidak becusnya pamanmu itu. Dia hanya pandai membuang uang dan menghabiskannya untuk hal yang sia-sia. Dia sudah menerima bagiannya dan langsung lenyap begitu saja. Aku tidak sebodoh itu dengan mempercayakan tanggung jawab sebesar ini padanya. Tapi, kau, kau adalah anak ayahmu. Kau satu-satunya yang bisa kuandalkan. Aku sudah mengizinkan keluarga Choi membawamu tinggal selama sebelas tahun ini dan sekarang giliranku. Kau akan tinggal di sini setelah kau berumur delapan belas tahun," kata kakeknya tegas.

Kyuhyun menatap kakeknya lama. Matanya sendu memandang wajah kakeknya. Raut wajahnya jelas menunjukkan kesedihan. Apa yang diucapkan kakeknya itu seolah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.

Semula Kyuhyun ingin membujuk kakeknya itu agar membiarkannya tinggal bersama keluarganya lebih lama, setidaknya hingga ia benar-benar siap jauh dari ibunya. Mungkin setelah lulus kuliah, ia akan benar-benar tinggal bersama kakeknya itu, namun ucapan kakeknya barusan seolah membuyarkan harapannya.

"Tak bisakah ditunda sedikit lebih lama, Harabeoji?" tanya Kyuhyun mengharap.

"Ibumu sudah berjanji padaku. Ia bahkan menandatangani surat itu dengan kesadarannya sendiri. Kau pun juga seharusnya memegang janji itu. Menundanya sama artinya dengan mengingkarinya," sahut kakeknya itu.

Kyuhyun membuang napasnya yang terasa sesak. Ia tahu jalan hidupnya telah diatur sejak ia masih sangat belia. Sejak kecil, atau mungkin sejak ia masih berada dalam kandungan, takdir untuknya telah tertulis. Sekuat apa pun usahanya untuk mengubah takdir, suratan nasib akan selalu menjerat hidupnya. Hidupnya bukan hanya miliknya seorang. Ia bukan orang yang merdeka untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

"Aku hanya akan menginap malam ini, Harabeoji. Besok siang aku akan pulang. Aku tak akan mengingkari janjiku, tapi biarkan aku menikmati masa hidupku yang tersisa selama beberapa bulan ini. Hidup seperti yang kuinginkan. Setelah itu, aku akan kembali untuk menjalani hidup yang Harabeoji inginkan," kata Kyuhyun akhirnya.

"Jangan bicara seolah-olah hidupmu akan berakhir! Harabeoji juga ingin kau hidup bahagia. Kalau aku boleh memilih, aku akan memberi kebebasan padamu untuk menentukan hidupmu sendiri. Tapi, aku tak punya pilihan lain. Hanya kau satu-satunya yang bisa kuharapkan. Baiklah, kau boleh tetap bersekolah dan tinggal bersama ibumu. Tapi, berjanjilah kau akan sering-sering berkunjung ke sini. Rumah ini rasanya semakin sepi," kata Tuan Cho.

Kyuhyun mengangguk pelan. Ia kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang kerja kakeknya itu. Meninggalkan harabeoji-nya yang masih duduk sendiri dengan segelas wine di tangannya.

"Kenapa tak pulang?" tanya Siwon malam itu pada adiknya.

Kyuhyun mendongak dan melihat Siwon dengan wajah cemas seperti biasanya berdiri di sampingnya. Semalam ia memang menginap di rumah kakeknya, siang tadi ia sudah meninggalkan rumah kakeknya. Tapi Kyuhyun tak langsung pulang ke rumah. Ia malah menghabiskan waktu hingga malam menjelang di Seonyudo Park, taman yang serupa pulau kecil di Sungai Han.

Kyuhyun suka duduk-duduk di sana, apalagi kalau suasana hatiya sedang rusuh seperti saat ini. Ia suka memandangi Sungai Han yang tenang yang airnya memantulkan kerlip cahaya lampu warna-warni.

Suasana taman itu cukup sepi pada malam hari, namun luar biasa ramai saat siang hari. Jembatan lengkung dari kayu yang menghubungkan pulau kecil itu dengan tepi Sungai Han dihiasi dengan lampu warna-warni. Jembatan yang juga dikenal dengan Rainbow Bridge itu memberikan cahaya eksotis yang memesona.

Di kejauhan terlihat gedung-gedung tinggi yang penuh dengan gemerlap cahaya lampu. Suasana Seoul pada malam hari memang semarak, seperti tak pernah tertidur.

Seonyudo Park juga terlihat semarak, bahkan pada malam hari, namun suasana tenang dan damai dapat terasa. Ada banyak gazebo yang tersebar di seluruh taman itu. Siapa pun dapat duduk di sana sambil menikmati pemandangan Sungai Han dan Seoul tentunya.

Kyuhyun duduk di salah satu gazebo yang ada di sekitar Seonyudo Park. Gazebo itu dinaungi sebuah pohon besar. Meskipun lampu-lampu penerangan menerangi hampir di setiap sudut taman, namun gazebo tempat Kyuhyun duduk terlihat temaram karena rimbunnya dedaunan pohon yang menghalangi cahaya.

"Hanya ingin menyendiri," jawab Kyuhyun pada kakaknya itu.

Siwon tahu tempat ini. Kyuhyun sering melarikan diri ke sini kalau ia sedang banyak masalah. Kyuhyun sering ke mari hanya untuk menenangkan dirinya.

Siwon duduk di sebelah Kyuhyun. Ia ikut memandangi Sungai Han yang tenang. Beberapa orang berlalu-lalang di jalan setapak sepanjang taman, namun tak mengurangi ketenangan yang ditawarkan Seonyudo Park di waktu malam.

"Eomma sudah cemas karena kau tak juga pulang. Kau tak pernah menginap lebih dari semalam di rumah harabeoji-mu. Apalagi besok kau juga harus sekolah," kata Siwon lagi.

"Eomma menelepon harabeoji?" tanya Kyuhyun.

"Tentu saja tidak. Paman Kim tadi menelepon eomma dan bilang kalau kau tak mau diantar sampai ke rumah. Kau membuat banyak orang cemas hari ini. Ada apa?" tanya Siwon.

"Tak ada apa-apa. Hanya ingin menyendiri saja," jawab Kyuhyun.

"Kenapa tak berbagi kalau kau punya masalah? Kau selalu begini setiap kalu pulang dari rumah Tuan Cho. Kami memang tidak bisa menahanmu untuk tidak pergi ke sana. Tapi, setiap kali kau seperti ini kau membuat semua orang khawatir, bahkan appa juga merasa begitu," kata Siwon.

"Aku harus bagaimana, Hyung?" tanya Kyuhyun memelas.

"Bertahanlah!" kata Siwon.

"Huh?" tanya Kyuhyun tak mengerti.

"Bertahanlah sekuat yang kaubisa. Jangan menjadi orang yang lemah! Kau harus bisa mengatasi masalahmu dan menerima apa pun hasilnya dan berbagilah saat pundakmu tak sanggup lagi menahan bebanmu," kata Siwon.

"Termasuk harus meninggalkan rumah?" tanya Kyuhyun lagi.

Siwon mengembuskan napas kasar. Berat memang kalau itu hasilnya. Ia pun tidak bisa menerima keputusan keluarga Cho dengan mudah. Kalau bisa, ia akan mempertahankan Kyuhyun agar tetap tinggal bersama keluarganya.

"Apa yang sudah ditetapkan untukku tak ada yang bisa mengubahnya kan, Hyung? Bahkan eomma dan appa juga tak bisa berbuat apa-apa. Kurang dari setahun aku sudah harus angkat kaki dari rumah. Aku tak mau cengeng, tapi aku juga sedih kalau harus pergi," kata Kyuhyun.

"Memang benar. Seringkali kita terpaksa harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan kita. Seringkali kita dipaksa menerima apa saja yang disodorkan tanpa bisa menolaknya," kata Siwon lesu.

Siwon tahu seperti apa dan bagaimana Kyuhyun. Adiknya itu tampak kuat dan ceria, namun ia juga seringkali merasa lemah terhadap dirinya sendiri.

"My life is sucks!" umpat Kyuhyun.

Siwon memeluk adiknya itu. Dia tahu Kyuhyun sedang merasa kecewa, sedih, dan marah. Kyuhyun merasatak punya orang lain yang bisa mendukungnya. Orang-orang di sekitarnya yang diharapkan bisa melindunginya tak bisa berbuat apa-apa untuknya.

"Menangislah dan berbagilah beban denganku! Mungkin kau akan merasa lebih baik. Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu saat ini," kata Siwon sambil mengusap punggung Kyuhyun lembut.

Siwon merasa bahunya basah. Meskipun tak bersuara, ia tahu Kyuhyun sedang menumpahkan air matanya. Kyuhyun selama ini pantang mengeluarkan air mata. Ia hanya melakukannya di depan Siwon dan keluarganya.

"Ayo, pulang! Eomma bisa lebih cemas kalau kau tak juga pulang. Masalah hari ini biarkan untuk hari ini, masalah esok hari pikirkan lagi esok hari. Hidupmu masih panjang. Sebenci apa pun kau pada hidupmu cobalah untuk menerimanya! Kami tak akan pernah meninggalkanmu sendirian," ucap Siwon sambil menepuk bahu adiknya itu.

Kyuhyun memejamkan matanya sesaat dan menghapus air matanya. Hidupnya memang bukan miliknya sendiri. Namun, ia tetap harus menjalaninya. Ia harus mulai berdamai dengan dirinya dan menerima semuanya itu. Ia mesti mulai belajar menyukainya. Jika nanti ia merasa tak mampu, ia bisa berlari pada keluarganya, hanya untuk memperoleh sedikit kekuatan.

Siwon menarik tangan adiknya dan mengajaknya berdiri. Mereka beriringan melangkah meninggalkan Seonyudo Park. Berjalan dalam diam tenggelam dalam pikiran dan perasaan masing-masing.

TBC

Hallo, readers, terima kasih sudah nunggu ff ini update. Minggu kemarin update Untouchable malah ditagih kapan update Fighting. Kali ini ada sedikit cerita tentang latar belakang hidup Kyuhyun. Sedikit demi sedikit siapa Kyuhyun akan terungkap. Terima kasih semua saran dan masukan, tapi yang ingin Kyuhyun sakit masih belum bisa direalisasikan. Bingung milih penyakit apa yang kelihatannya parah tapi nggak berbahaya (nah lho). Maaf untuk readers ffn yang chapter 18 kemarin comment-nya nggak dibales (susah bales lewat HP), chapter ini janji deh review-nya dibales. Jangan lupa review ya, guys. Happy reading.