Aku akan mengingatkan kalian lagi untuk membaca ff ini dengan perlahan-lahan :)

.

.

.

.

TWO SIDES

by Gyoulight

.

.

.

.

.

HUNHAN FANFICTION

GENRE: Drama, Romance

RATING: T

.

.

.

.

.

Sehun baru saja keluar dari ruang ganti setelah mengganti pakaiannya dengan setelan rumah sakit. Pintu kaca itu ia buka lebar-lebar, bersama dengan Chanyeol yang membantunya berjalan menuju tempat pemeriksaan di ujung sana. Seorang berpakaian putih sudah mempersiapkan tempat berbaring seukuran tubuhnya, menggeser benda aneh itu sedikit menepi seperti mengendalikan lampu tidur.

Sehun tidak berpikir kekanak-kanakan. Ia pernah memiliki pengalaman menggunakan alat ini sesekali saat kecil. Rasanya pun tidak akan semengerikan bayangannya dulu, dimana ia berpikir saat ia selesai, kakinya akan berubah menjadi monster seperti di dalam film. Sederhananya, benda itu hanyalah alat rontgen untuk memotret tulang tungkainya.

Pria pucat itu akhirnya naik dan berbaring nyaman disana. Cahaya menyilaukan kemudian menerangi bagian kakinya. Bak sebuah laser, ada sepotong cahaya biru yang mulai bergerak ke tempat-tempat tertentu. Jauh disana, sebuah monitor besar menampilkan bagaimana potret keretakan tulang tungkainya. Chanyeol sendiri cukup serius menatap layar itu. Sedangkan seorang radiolog sibuk mengetik sesuatu di komputernya.

"Tulang anda mulai membaik. Retakan disini sudah mulai memudar─" Setelah melakukan banyak pemeriksaan, pria berjas putih itu menjelaskan banyak hal dengan cukup antusias. Jemarinya yang memegang sebuah pena menunjuk beberapa bagian tulang yang dipajang di papan kaca, menunjukkannya pada Sehun dan juga Chanyeol yang sejak tadi menatap ke arah layar itu. Mungkin ini berita bagus untuk Sehun, tapi entah mengapa ia tidak begitu bersemangat untuk merayakannya seperti Chanyeol.

"Kurasa anda akan sembuh lebih cepat."

Senyum lega Chanyeol mengembang. Sementara Sehun tetap memasang wajah datarnya sampai si dokter merasa kurang nyaman dengan penjelasannya. Dokter itu kemudian menyerahkan beberapa kertas hasil pemeriksaannya. Mengucapkan beberapa saran yang hanya didengar Chanyeol, hingga mereka akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan putih itu.

"Kau tidak senang dengan hasilnya?" tanya Chanyeol memburu adiknya dengan pertanyaan konyol. Tentu saja Sehun senang, hanya saja ia cukup bosan dengan ia yang masih disokong dua tongkat. Merasa tidak punya semangat untuk pergi kemanapun dengan kondisi seperti ini, atau yang lebih parahnya, ia tidak suka ditemani kemanapun oleh kakaknya.

"Sehun?" panggil Chanyeol yang nyatanya sudah menghentikan langkahnya. Tertinggal jauh pria itu dari langkahnya yang mulai memelan.

Sehun berbalik malas menemukan kakaknya yang cukup menyebalkan hari ini. Bagaimana tidak kesal, ia sendiri diperlakukan seperti tengah diteror minum obat oleh kakaknya. "Apa lagi?!" tanyanya ketus. Sedangkan kakaknya sudah menggelengkan kepala melihat tingkahnya yang masih acuh tak acuh.

"Kau tidak mau mengangkat ponselmu? Sejak tadi ponselmu meribut." Mendengar itu, Sehun segera mengecek sakunya. Ia pun menemukan getaran ponselnya yang cukup keras.

Nama Baekhyun kemudian tergantung jelas di layarnya, menerornya seakan tidak ada hari esok. Teror panggilan dari Baekhyun mungkin bukanlah hal yang asing baginya. Tapi jika sekertarisnya itu tengah berlibur dan mendialnya tanpa bosan, maka itu akan menjadi sesuatu yang sangat mengganggu.

"Ya?" jawab Sehun menempelkan ponselnya di telinga. Mengabaikan Chanyeol yang mendekat ingin tahu, tapi buru-buru Sehun menjauh dari Chanyeol. Alih-alih membutuhkan privasi dan meminta pengertian kakaknya sekali lagi.

"Aku sudah bilang padamu untuk menghubungiku sebelum melakukan apapun." Pola percakapan Sehun tiba-tiba berubah meninggi. Memancing tanda tanya besar di kepala Chanyeol tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi. "Kau lupa apa yang terjadi padamu kemarin? Bagaimana kalau dia juga akan mengalami hal buruk sepertimu?"

Sehun menjeda panjang. Ia memjit keningnya setelah mendengar pengakuan sekertarisnya di seberang sana. "Aku tidak perduli. Seret dia keluar dari sana!" Dan yang lebih menjengkelkan, sambungan itu diputus begitu saja. Menyisakan kekesalannya dan juga kesesalan Baekhyun yang sejak tadi hobi berteriak padanya. "Baekhyun!"

Pikir saja, bagaimana tidak kesal jika kedua orang yang tengah ia beri libur itu bergerak di luar kendalinya. Memutuskan banyak hal tanpanya. Tanpa persetujuannya, atau tanpa mendengarkan alasannya. Kemudian berakhir dengan Luhan yang dibawa Kris entah kemana. Sedangkan Baekhyun sendiri tidak mau disalahkan, karena pria itu sudah sangat sibuk menelponnya dan ia terlalu superior untuk mengabaikan ponselnya.

"Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol tepat pada intinya. Sehun kemudian hanya bisa menyesal karena tanpa sadar sudah menyebut nama orang yang paling berharga bagi kakaknya itu. Lantas ia mencoba terdiam melanjutkan langkahnya menuju pintu lift. Tidak perduli sedikitpun pada kerisauan kakaknya yang sudah menodong dengan berbagai pertanyaan.

"Sehun, jangan menguji kesabaranku." Lalu berakhirlah dengan Chanyeol yang kehilangan kesabarannya. Pria itu nyatanya punya sifat keras kepala yang sama dengannya, walaupun mungkin dialah yang lebih dominan. "Tidak cukupkah semua yang aku katakan kemarin?"

Sehun melirik kakaknya malas. Ia sendiri sudah mencoba menekan tombol lift dengan sangat tenang. Tidak ingin memuncakkan emosi, karena pikirannya kembali terbang ke segala arah tanpa ijinnya. "Pulanglah hyung, aku tidak suka hyung yang seperti ini."

"Sehun," cegah kakaknya ketika Sehun memutuskan masuk ke dalam pintu lift yang terbuka.

"Biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri." Sehun menghempas tangan Chanyeol. Sementara kakaknya itu sudah hendak melangkah menyusulnya. Tapi lebih dulu ia menghadang pria tinggi itu dengan tongkatnya. Mencegah Chanyeol menaiki lift yang sama dengannya. "Aku tidak ingin banyak orang yang terlibat dengan ini."

"Sehun!" Chanyeol menajamkan kedua matanya. Ia pun cukup tersinggung dengan perlakuan Sehun yang seolah tengah mencoba membangun pagar pembatas. Lantas mengetahui bahwa pria itu tidak mempercayainya adalah sesuatu yang lebih menyedihkan dibandingkan dengan tidak mengetahui kebenaran yang disembunyikan adiknya. "Kau pikir aku senang, diam saja seperti ini?!"

"Kembalilah ke Berlin," pinta Sehun menekan tombol pintu di dinding. Masih tidak membiarkan Chanyeol mengikutinya masuk.

Dan setelah pintu lift itu bergerak untuk menutup, sorot menusuk Sehun-lah yang didapatkan oleh Chanyeol. "Jangan lagi pulang ke rumahku."

e)(o

Luhan mengekori Kris yang semakin dalam memasuki rumah besarnya. Matanya terus terfokus pada salah satu lengan Kris yang masih kaku. Ada sedikit perban yang muncul dari ujung lengan kemejanya. Lalu Luhan menemukan sebuah kemungkinan mengapa Kris tidak pernah menggerakkan tangan kirinya untuk melakukan banyak hal. Apa lagi kalau bukan menyembunyikan lengannya yang patah.

Rumah Kris mungkin tidak sebesar rumah Sehun. Interiornya cukup modern dengan beberapa benda dan lukisan indah menggantung di tepi dinding. Ada beberapa yang berukir dengan huruf China. Dan juga tak banyak pelayan yang ia temukan mondar-mandir membungkuk pada tuannya.

"Kalau suatu hari kita memilih kembali ke Seoul, kita bisa tinggal disini," tutur Kris mengamit jemari Luhan. Pria itu bisa jadi cemas jika tunangannya tersesat atau tertinggal jauh karena matanya sibuk menyapu rumahnya.

Luhan otomatis mendongak menatap wajah Kris yang jauh berada di atasnya. "Kita tidak akan tinggal di Seoul?"

Kris tersenyum lembut. "Seluruh pekerjaanku ada disana. Aku akan sangat membutuhkanmu. Dan aku juga tidak mungkin meninggalkanmu sendiri di Seoul."

"Anda sudah pulang?" Seorang pelayan kemudian menghampiri keduanya. Tak lupa membungkuk penuh hormat. Beruntung Luhan sudah banyak belajar bahasa China, sehingga ia bisa cukup mengerti dengan pembicaraan seperti ini. Bisa dibilang Minseok benar perihal ia yang akan membutuhkan bahasa asing itu suatu hari.

Kris tidak kalah menggunakan aksen Chinanya. "Kau sudah menyiapkannya?"

"Tentu tuan," jawab pelayan itu bersiap undur diri. Tapi sebelumnya ia menyempatkan diri untuk menyapa Luhan. "Nona, selamat datang kembali."

Kembali? Luhan sedikit berpikir dengan otaknya. Fatalnya ia telah salah jika menganggap Sena tidak pernah datang ke rumah ini.

Untuk beberapa saat, Luhan menyadari ponselnya bergetar cukup lama. Sebuah pesan kemudian datang memenuhi ponselnya. Menyapu beberapa fokus Luhan, karena itu panggilan Baekhyun yang menyuruhnya untuk keluar dari sana.

Maka jantung Luhan berubah berdetak dengan keras. Ini mungkin sinyal yang tidak baik untuknya. Dan ia bisa menebak bagaimana Sehun sangat marah karena ia bergerak di luar batas. "Kris─"

"Tuan, mejanya sudah siap," perkataannya tiba-tiba dipotong dengan tega oleh pelayan yang lain. Dan tidak ada alasan lagi untuk Kris mengajaknya masuk ke dalam ruang makan. Tanpa mendengarnya berbicara terlebih dahulu atau mendengar penolakan darinya.

Kemudian disinilah Luhan yang terjebak di kursi yang berseberangan dengan milik Kris. Dengan makanan memenuhi meja, lilin dan bunga sebagai penengah mereka. Lalu tuangan minuman yang entah Luhan tidak tahu namanya di gelasnya.

Ragu-ragu Luhan menjuput hidangan di depannya. Hatinya meribut, otaknya pun terus bekerja untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan agar bisa keluar dari sini.

"Menurutmu Sehun orang yang seperti apa?" Kris bertanya sambil menyentuh gelasnya. Membuyarkan pikiran kusut Luhan tentang kabur, sampai membuatnya tertekan secara terang-terangan.

Luhan menelan ludahnya sendiri. Mengubur kegugupannya dalam-dalam sampai hilang dari jangkauannya. "Dia kakak yang baik."

"Hanya itu?" Kris terkekeh. Sedangkan Luhan tenggelam dalam bingung karena tidak ada yang terdengar lucu baginya. "Maksudku, ia mungkin saja orang yang luar biasa di matamu."

"A-apa?"

Senyum miring Kris kemudian menghentikan perkataan Luhan mentah-mentah. Ia tidak menemukan lagi Kris yang penuh pesona. Kris yang dinginlah yang ia temukan sekarang. "Kau lupa kalau Sena tidak makan kepiting."

"Huh?" Luhan sukses menghentikan gerakan garpunya. Ia hendak berharap ia salah dengar atau sesuatu yang lain, tapi nyatanya kalimat itu terlalu jelas menusuk di telinganya.

"Sena alergi dengan kepiting," ucap pria pirang itu santai sebelum meminum isi gelasnya. Tatapan teduhnya bahkan sudah menghilang ditelan masa. "Jangan terkejut begitu, Kim Luhan."

Mendadak tangan Luhan gemetar. Terpaku ia di kursinya sambil menatap isi piringnya.

"Berapa banyak yang Sehun berikan padamu?" Kris bersandar nyaman pada kursinya. Terlalu menikmati bagaimana kebekuan Luhan yang tidak bisa berkutik karena dirinya. "Sepuluh? Dua puluh? Lima puluh? Oh, atau mungkin kau menyukainya sehingga kau melakukan ini secara sukarela?"

"Sejak kapan─"

Kris terkekeh sambil membuang wajahnya. "Kalian lucu sekali." Kris kemudian beranjak dari sana. Mengitari meja, lalu mendekati Luhan yang sudah kehilangan nafas dengan berdiri di belakang kursinya. "Kenapa kau diam? Kau terlalu banyak bicara sebelumnya."

Luhan yang habis dimakan ketakutan, memilih hendak beranjak. Ia mungkin boleh menyesal karena tidak sempat mempertimbangkan banyak hal. Ia pikir, ia akan duduk tenang disini lalu pulang sebagaimana mestinya. Tapi nyatanya tidak. Malah lebih dulu bahunya ditahan dengan cengkraman.

Kris kemudian mendekatinya. Berbisik ia di telinga. "Kau tidak perlu terburu-buru. Adikmu pun tidak akan mencarimu."

Luhan semakin gemetar. Ia pun tidak akan menyangka jika Kris sudah mencari tahu tentang dirinya sejauh ini. "Darimana kau tahu aku─"

"Terjadi begitu saja," jawab Kris menyisir setiap helai rambutnya.

Pria pirang itu kemudian menepuk bahunya. "Mau bernegosiasi?"

e)(o

Mei 8, 2019 (flashback)

Sena tidak pernah tahu kalau hidupnya tidak akan menyenangkan sejak ia lahir. Dari yang ia pikir ia tidak akan punya ayah, memiliki ibu yang tidak pernah menginginkannya, sampai tenggelam dalam kisah ibu dan ayahnya yang tidak akan pernah bisa selesai. Ayahnya adalah seseorang yang akan menyesali kisahnya sendiri, sedangkan ibunya mati-matian menghindari kenyataan yang sebelumnya ia kejar. Tapi pada akhirnya, ibunya hanyalah manusia biasa yang ingin selalu dimengerti. Sehingga ibunya berakhir menjadi orang yang melakukan apapun demi kebahagiaan yang ia inginkan.

Sena tidak pernah bangga pada ibunya. Ia benci ibunya dan ia juga benci mengapa ia bisa terjebak dalam kisah tak berujung seperti ini. Saat usianya delapan tahun ia dibawa ke kediaman ayahnya. Dibebaskan dari ibunya yang selalu menganggapnya seolah tak pernah terlahir ke dunia. Tapi setelah ia datang ke rumah itu, ia menemukan dua orang kakak dan juga ayah yang selalu menyayanginya.

Awalnya mungkin Sehun bersikap buruk padanya. Kakaknya itu tidak suka kalau ia tinggal di rumah, mengurangi perhatian ayahnya atau tidak suka pembelaan Chanyeol yang selalu memenangkan dirinya. Ya, lagi pula Sena tidak butuh apapun. Ia hanya perlu hidup mengikuti arusnya sendiri. Jadi ia baik-baik saja soal itu.

Sedangkan Chanyeol adalah kakak yang luar biasa penyayang baginya. Sehun pun demikian, tapi dia adalah tipe orang yang selalu butuh waktu untuk menerima hal baru. Ia sendiri mendapatkan perhatian Sehun saat menginjak remaja. Dan kemudian mereka menjadi keluarga yang begitu dekat─yang mereka pikir akan membahagiakan sampai akhir. Lantas semuanya rusak karena pertemuannya dengan seorang pria asing di beberapa waktu sebelumnya.

Sena selalu bertemu Kris di pesta-pesta yang ia datangi. Wajah pria itu tegas dan dingin ketika mereka bertemu pandang. Tapi pria itu cukup tampan untuk memikat banyak tamu yang datang. Rambutnya pirang dan tubuhnya terlalu tinggi untuk menjadi seseorang yang penuh pesona. Tapi mau bagaimanapun, kakaknya akan selalu menang dalam hal bersikap. Lantas bagaimana mungkin suatu hari pria itu bisa menjadi tunangannya?

Jawabannya adalah, terjadi begitu saja.

Lalu anggaplah ini semua karena hidupnya yang tidak pernah berjalan dengan baik.

Kris sendiri selalu memujanya dengan banyak hal. Mencoba mendapatkan hatinya sampai melakukan apapun untuk mendapatkannya. Tidak perduli jika mereka sudah terikat oleh selingkar cincin di masing-masing tangan. Namun Kris nampaknya seseorang yang tidak akan pernah puas dalam hidupnya.

Pernah sesekali Kris mendapatkan perhatian Sena. Kris selalu mencoba menceritakannya banyak hal tentang hidupnya, tidak perduli jika Sena enggan mendengarnya atau malah tidak perduli sama sekali. Dan anehnya gadis itu mendengarkan tiap kisah pria itu. Menerima uluran tangannya, membiarkannya memuja, bahkan mengizinkan apapun yang ia ingin beri. Mungkin benar jika Sena menyerah dengan kehadiran Kris yang dipaksa masuk ke dalam hidupnya. Dan ia harusnya berpikir dengan bijak perihal masalah yang dibawa oleh kakaknya.

Sena pun akhirnya berbicara suatu hari. Dan ia sungguh ingat bertapa senangnya Kris hari itu. Tapi sayangnya, ia membicarakan Sehun, Sehun dan Sehun. Tidak ada hari tanpa membicarakan kakaknya itu, namun Kris tidak pernah marah padanya. Tidak membuatnya patah hati seperti kebanyakan orang, justru berbalik semakin membah mencintainya. Karena sesungguhnya Sena ingin melihat pria itu menyerah. Sedangkan Kris ingin bertahan untuk mengejar semua hal yang ia inginkan.

Disuatu sore, Sena memutuskan untuk pergi menemukan jawaban yang selalu ditanyakan oleh hatinya. Ia pergi tanpa berkata apapun pada ayah maupun kakaknya. Dan itu tidak terjadi hanya sekali, hanya sudah beberapa kali akhir-akhir ini. Lantas siapapun tidak akan mengerti mengapa ia menyetop sebuah taxi, meminta sang supir membawanya ke kediaman Kris yang hanya butuh 10 menit ia bisa sampai di depan pintunya.

Kris menyambutnya dengan suka cita. Memeluknya seperti orang gila, lalu mengabulkan apapun yang ia inginkan─termasuk jika ia ingin Kris membelikannya sebuah dunia. Maka sampai pada ia yang pergi ke taman bermain, bioskop, menaiki menara di atas lampu-lampu kota Seoul, lalu pulang dengan genggaman tangan Kris di tangannya. Dan lihatlah, ia mendapatkan apapun yang ia inginkan dengan sekali jentikan jari Kris. Tapi anehnya ia sangat yakin bahwa ia tidak menemukan sedikitpun tempat untuk pria itu di hatinya.

"Kau melihatnya?" tanya Kris masih berdiri di sampingnya. Mentapnya penuh antusiasme dengan wajah secerah bintang bertaburan di langit. Sedangkan Sena masih takjub dengan teropong bintang di tangannya. Melupakan waktu yang terus bergulir, dan ayahnya mungkin akan cemas tentang kemana ia pergi dengan tidak membawa ponselnya.

Sena mengangguk melepaskan fokusnya dari mata teropong itu. "Indah," komentarnya mengundang Kris untuk menepuk kepalanya. Pria itu rupanya tengah menunjukkan betapa ia memujanya seperti rasi-rasi bintang yang ia saksikan tiap malamnya.

Balkon Kris hari itu cukup dingin untuk menjamu angin malam. Tapi jiwa Sena seperti pergi pulang meninggalkannya. Menyisakannya berdiri sendiri disini bersama Kris yang begitu terang menyalakan api dalam jiwanya. Memberinya penerangan dalam kegelapan malam, hingga membuatnya mati rasa karena tak kunjung memutuskan untuk pulang. Sena sendiri tidak tahu mengapa ia bisa merasa sekosong ini. Lelahkah ia berkelana? Atau ia lelah dengan jawaban yang tidak kunjung ia dapatkan?

"Ayahmu tadi menelpon," beritahu Kris memasangkannya jaket yang ia ambil cepat di dalam kamarnya. Dan ternyata itu terlalu besar untuk memeluk bahunya meski Kris berpikir itu miliknya yang paling kecil. "aku bilang kau ada disini."

"Terima kasih," respon Sena kaku. Gadis itu pun segera memeluk dirinya yang dingin, lalu menatap jemarinya yang tenggelam dalam lengan jaket yang kebesaran.

"Kau punya masalah?" Kris nyatanya cukup perhatian padanya. Sena sendiri sudah lama bertanya kapan pria ini menyerah dalam pengejarannya. Sedangkan ia sudah melakukan banyak hal untuk menghancurkan hati pria ini, tapi tidak pernah ditemukannya keluhan yang selama ini selalu ingin ia dengar. "Kau bahkan tidak membawa ponselmu."

Melihatnya terdiam, Kris kembali bersuara. Seperti tiada lelah untuk membuatnya berbicara dengannya. "Ini tentang Sehun?"

Sena menggeleng pelan. Sekalipun tidak pernah ia menatap Kris sejak kepulangannya dari jalan-jalan malam mereka. "Aku hanya tidak mengerti diriku sendiri."

"Kau pasti sangat menyukainya." Kris tertawa kecil menyelipkan tangannya ke dalam saku celana. Membuatnya berkali-kali lipat terlihat keren dengan pakaian mahalnya.

Ada nada pedih yang didengar Sena dengan hatinya. Sedangkan Kris malah makin asyik bertahan dengan paku-paku yang ia tancapkan padanya. "Begitukah?"

"Kau tidak seharusnya menceritakan dia padaku. Kau tahu kenapa?" Pada akhirnya Sena mendongak menatap pria tinggi di sampingnya itu. Menangkap seberapa teduh kilauan matanya dan juga tiada gentar ketika Sena membalas tatapannya. Pria pirang itu malah meraih resleting jaket di tubuhnya lalu menariknya hingga ia benar-benar tenggelam di dalam sana. "Aku tidak akan pernah membantumu."

"Aku tahu." Senyum kecil Sena mengembang ketika jemarinya kembali menyentuh teropong bintang milik Kris. Seolah tidak tahu diri seperti seorang anak kecil yang meminjam mainan pada seorang teman yang ia buat menangis.

Orang bilang ia gadis paling beruntung di dunia karena Kris lebih memilihnya dibandingkan banyak wanita luar biasa di luar sana. Sebagaimana semua orang menganggap Kris terlalu superior, menawan dan juga terlalu sempurna untuk dimiliki. Kau akan bahagia dicintai olehnya, katanya begitu. Tapi apa arti semua hal itu jika ia sendiri tidak cinta. Jika kau tetap tidak merasakan getaran apapun di hatimu, sedangkan orang yang mencintaimu membanjiri dengan penuh cinta yang tak akan pernah bisa kau beri, bukankah itu kejam, baik diposisi sang pecinta dan sang dicinta. Bukankah keduanya tetap menjadi malam yang tidak diharapkan kedatangannya?

"Kenapa kau tidak mencintaiku saja? Sehun tidak mungkin mencintaimu."

Jemari Sena berhenti berkelana mendengarnya. Ia sendiri mengurungkan niat dalam-dalam untuk kembali melihat rasi bintang yang Kris perkenalkan padanya. Tapi mendengarkan frasa terakhir membuatnya seakan di dorong ke dasar jurang. Terlalu pedih dan sayangnya ia hanya bisa membenarkan hal itu. "Dia berbeda denganmu. Dia sangat tulus ketika─"

Kris menjilati bibirnya yang kering. Jauh ia membuang wajahnya sejenak ke atas sana. "Jadi menurutmu selama ini aku tidak tulus padamu? Kau pikir kenapa aku memberimu banyak hal? Kenapa pula aku mendengarmu membicarakan Sehun?"

Kata-kata itu terasa begitu menghunus hatinya. Bukan sebuah tekanan, tapi sebuah pengakuan dalam yang selama ini Kris pendam dalam hatinya. Membuat pria itu kehilangan kesabaran yang ia tahan, sekaligus membuatnya berubah menjadi monster, yang sebelumnya susah payah ia sembunyikan darinya.

Namun bukankah hal ini yang selalu Sena tunggu?

"Kau itu milikku," simpulannya memaku Sena di tempat dengan mencengkram lengannya. Tatapannya pun setajam ambisi yang siap menusuk siapa saja. Jadi Sena sepenuhnya salah jika menganggap Kris sudah putus asa untuk mendapatkannya. "Mau ku sadarkan kalau kau hanya milikku?"

Sena membuang cengkraman Kris padanya. Dan perlu Kris ketahui bahwa ia tidak suka kalimat seperti itu. Karena sebuah kalimat kepemilikan hanya akan membuatnya menjadi tidak berharga. Namun di sisi lain ia kesal sendiri, tidak tahu mengapa untuk mengerti dirinya sendiri saja bisa sesulit ini. "Ya, sadarkan aku. Bila perlu tampar aku sampai aku bisa sadar tentang apa yang sebenarnya ku cari sejak tadi. Tentang mengapa aku lebih mencarimu, dibandingkan dengan mencari Sehun yang sudah lama ku ceritakan kisahnya padamu. Tentang mengapa aku disini sekarang. Tentang─"

Kris menarik lengannya untuk masuk ke dalam kamarnya. Terseok-seok kakinya mencoba menyeimbangkan kaki jenjang Kris yang melangkah. Tapi semakin Sena memberontak semakin buruk cengkraman Kris padanya.

"Kau bodoh sekali. Kenapa kau masih mau mencintaiku?" Sena merapal dengan penuh penekanan ketika Kris menutup pintu kacanya lalu mendorongnya keras menempeli pintu. Menjebak kedua tangannya dengan lengan-lengan kokoh, kemudian semakin mendekat Kris padanya.

"Aku akan menyadarkanmu soal itu," bisik Kris sebelum memangut bibirnya. Menuntunnya menemukan jawaban yang dicarinya hingga ia terdiam sendiri dalam kekalutan. Kedua kakinya melemas. Dadanya sesak untuk menerima ini dengan akal sehatnya. Dan saat matanya terpejam, air matanya mengalir, menjadikannya lebih tidak mengerti lagi apakah kakinya masih di tempat yang sama atau malah sudah tenggelam ke dasar bumi.

e)(o

Perlu beberapa saat ketika Sena berhasil membuka kedua matanya. Menghilangkan blur yang menghiasi pengelihatannya sampai ia semakin tenggelam dalam selimut tebal yang membungkus dirinya. Sudah berkali-kali ia memeluk dirinya sendiri, tapi dingin terus saja menusuk tiap lapisan kulitnya. Maka ia terbangun, beranjak menemukan cahaya mentari yang menyusup dalam korden yang sepenuhnya belum disibak.

Perlahan ia menatap sepasang telapak tangannya, kemudian betapa terkejutnya ketika ia menyadari ia tidak memakai sehelai benang pun di dalam selimutnya. Ia lantas membungkam mulutnya sendiri. Mencari keberadaan pakaiannya yang masih berserakan di lantai.

Dadanya serasa dikoyak. Pening di kepalanya pun datang memalu. Tidak kenal tempat bagi linangan air matanya untuk meleleh. Sambil gemetar ia mengambil tiap pakaiannya. Mengenakannya kembali dalam hati yang hancur, lalu melangkah cepat-cepat untuk menghilang dari sana.

Ia sendiri kesal karena begitu ingat bagaimana kejadian buruk itu terjadi semalam. Ia gila karena tidak melarikan diri. Ia gila karena terlalu berantakan, penuh takdir buruk dan ia benci dirinya yang terlalu bodoh untuk hidupnya sendiri. Dan fakta bahwa Kris benar-benar menamparnya, menyadarkannya tentang siapa diri pria itu─yang telah membuatnya menjadi miliknya, telah menghancurkan dirinya menjadi kepingan-kepingan kecil yang tidak akan mungkin bisa ia perbaiki kembali.

Sena melewati tangga dengan tidak perduli pada para pelayan yang menatapnya berlari bodoh tanpa alas kaki. Ia terus melangkah sambil merapus air matanya, hingga ia mendapati sosok Kris berdiri di hadapannya sambil menghajar seseorang dengan tangan kosongnya. Sosok itu kemudian berkali-kali lipat terlihat sangat menyeramkan ketika merebut sebuah pistol dari seseorang yang berdiri di sampingnya. Lalu tiba saat sosok itu menembaki kaki orang itu dengan sangat tidak punya hati.

Suara teriakan pedih itu segera memenuhi ruangan. Sena bahkan terlalu gemetar ketika kakinya tersulut mundur hingga tanpa sengaja ia memecahkan sebuah guci di atas sebuah nakas. Matanya yang sembab menemukan tatapan Kris yang seolah memenjarakannya dalam sorot dingin miliknya. Lantas tiada sebuah alasan yang membuat gadis itu berlama-lama disana. Kakinya panjang-panjang segera berlari menjauh. Menemukan sebuah pintu yang lain, lalu benar-benar keluar dari kediaman itu.

Kakinya terus berlari turun ke jalan, menyetop sebuah taxi untuk pergi ke suatu tempat yang mungkin bisa membuatnya tenang.

(flashback end)

e)(o

Jalanan masih diisi dengan kekosongan. Menyisakan lampu-lampu jalanan yang menerangi kiri-kanan jalan hingga Luhan sendiri meliriknya seakan mampu menghitung jumlahnya. Baekhyun yang menjemputnya seperti orang sinting di kediaman Kris beberapa jam lalu masih terdiam menatap jendela di sebelahnya. Enggan berbicara karena Luhan tidak mau menceritakan apapun sejak ia keluar dari rumah besar itu. Jadi apa yang harus ia lakukan selain menunggu Luhan berbicara sendiri suatu hari?

Taxi yang mereka tumpangi kemudian berhenti tepat di depan rumah Luhan. Baekhyun pun ikut turun di sana tidak perduli dengan letak rumahnya yang sejauh lima rumah lagi. Ia dengan senang hati mengantar Luhan masuk ke dalam pagar rumahnya yang sepi, lalu merampas pakaian penyamarannya di dalam kantung.

"Biar aku yang bawa," tutur Baekhyun menyerah. Ia memutuskan untuk pulang saja malam ini dan tidak akan memaksa Luhan untuk berbicara. "Ibumu akan bertanya apa yang kau lakukan dengan baju ini kalau ia menemukannya."

Luhan mengangguk setuju. Tak lupa mengucapkan terima kasih pada sahabatnya itu dengan amat banyak. Tapi tak lama, keduanya malah membeku ketika mereka sampai di tengah halaman rumah Luhan.

"Kau pikir pukul berapa sekarang?" tanya seseorang berdiri di depan keduanya. Melayangkan tatapan tajam dengan kedua tongkat di kedua sisi tubuhnya. Lantas siapa lagi kalau bukan Sehun yang sudah menggila sejak sore tadi.

Baekhyun sendiri tidak bisa melakukan sesuatu seperti protes ketika melihat Sehun berada disini dengan ekspresi seperti itu. Ia mungkin jago dalam membangkangi bosnya, tapi entah mengapa malam ini untuk berbicara saja terasa amat sangat melelahkan baginya.

Luhan masih mematung. Menunduk ia melewati Sehun begitu saja. Kemudian mencari letak kunci pintunya dan menemukan sebuah note kecil yang menggantung di depan pintu. Pesan ibunya lalu tertulis jelas disana. Ibunya tidak akan berada di rumah selama dua hari lamanya untuk menemani neneknya yang sakit. Termasuk menyuruhnya menyusul ke Daegu jika ia sempat.

Belum Luhan sempat mengeluh dan menangis karena ia tidak menemukan ibunya di rumahnya sendiri, Sehun tahu-tahu sudah menarik leher jaketmya. Menariknya dalam satu tarikan untuk menemukan kedua matanya. Sehun menusukinya dalam-dalam dengan tatapan amarah yang berapi-api. Baekhyun sendiri mendekat untuk mencegah Sehun mengamuk, tapi Sehun sudah memberikan bentakan keras padanya.

"Aku tidak punya urusan denganmu," cegat Sehun tidak suka.

Baekhyun yang tidak terima tak kalah berteriak. Ia sendiri tidak suka Luhan diperlakukan seperti seorang yang tidak berharga seperti itu. "Kau tidak tahu apa yang dia alami seharian ini!"

"Itu semua karena kalian tidak mau mendengarku," bantah Sehun masih menarik Luhan dengan cengkraman tangannya.

Baekhyun semakin melotot. Memang sudah dasarnya sifat Sehun yang tidak suka disalahkan. "Kau sendiri tidak bisa dihubungi, kau pikir apa yang harus aku lakukan disaat seperti tadi?!"

"Pergi atau ku pindahkan kau ke Berlin besok pagi?!" Sehun tak kalah berteriak.

Luhan yang mendengar keduanya beteriak di depan matanya mau tak mau membuka suara. Ini sudah malam, dan ia mungkin harus merasa bersalah karena mengganggu tetangganya yang sudah pergi tidur. "Cukup, ini salahku."

"Kenapa kau bodoh sekali?!" tandas Sehun pada Luhan yang masih tidak bertenaga meladeninya. "Apa yang Kris katakan padamu?"

"Kami hanya membicarakan pernikahan adikmu," jawab Luhan mencoba melepaskan diri. Tapi Sehun tetap tidak melepaskannya sebagaimana amarahnya masih menumpuk di kepala.

"Apa sepenting itu sampai kau tidak bisa menolak?!" Luhan tergugu. Sorotnya bergetar karena mendapati bayangan dirinya di dalam manik hitam Sehun. "Sepenting itukah pernikahan Kris bagimu?"

"Kau menyukainya?!"

Kehilangan kesabaran, akhirnya Baekhyun merampas lengan Sehun dari Luhan. Menarik Luhan menjauh darinya, sampai Sehun terhuyung kalau saja ia tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya. "Kau tidak berhak membentaknya seperti itu!"

"Aku bilang, pergi! Aku tidak punya urusan denganmu," pekik Sehun sekali lagi. Tidak perduli pada kesunyian malam dan gonggongan anjing yang baru saja menemukan keributan mereka disini.

Baekhyun menatap Sehun dengan tatapan mematikan. Sedangkan Luhan sudah menepuk lengan sahabatnya itu, memberikan kode kalau ia akan baik-baik saja jika Baekhyun menuruti kemauan atasannya.

Baekhyun sempat ragu, tapi Luhan terus menekannya. Lantas tak butuh waktu lama sampai Baekhyun mengambil langkah yang panjang sebelum mengatakan, "Sampai kau membuatnya menangis akan ku patahkan kakimu, sialan!"

Kemudian bantingan pintu pagar menghiasi kesunyian keduanya. Terserah apakah tentangganya akan melaporkan mereka ke polisi atau menyeret mereka ramai-ramai untuk diusir. Yang jelas mereka tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Jadi segala pemikiran itu lenyap begitu saja digantikan oleh emosi.

"Sehun, bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk tetap menjadi adikmu?" Luhan berusaha berbicara dengan baik dengan Sehun. Ia sendiri kehilangan banyak energi, tidak punya waktu untuk mengurusi hal-hal semacam ini untuk sekarang, dan ia butuh mengistirahatkan kepalanya yang terus berputar sejak tadi.

"Kau tidak tahu seberapa takutnya aku," tutur Sehun penuh penekanan. Sedangkan Luhan hanya bisa mematung mendengarnya. Tidak dapat merasakan apapun karena seketika semua syarafnya membeku dengan sangat baik. "Sekarang ikut aku."

"Kemana?" tolak Luhan menarik lengannya. Tidak mau diseret sama sekali karena itu benar-benar tidak manusiawi baginya.

"Hari liburmu sudah habis, Kim Luhan. Jadi kau harus kembali."

Luhan menggeleng lalu menunduk dalam. Ia mengambil satu langkah jauh untuk menghindari Sehun yang mungkin akan memaksanya. "Maafkan aku, tapi aku ingin memikirkannya sekali lagi."

Sehun kembali memuncakkan emosinya. Ia sebenarnya tidak suka dibantah. Minimal tidak ada satu orang pun yang membantahnya malam ini. "Kau tidak mau kembali ke rumahku?!"

"Aku rasa aku tidak bisa kembali dalam waktu dekat."

"Kenapa kau tiba-tiba tidak bisa?!" Maka bentakan Sehun kembali terdengar. Dan itu menjadi berubah menyeramkan di telinga Luhan. "Ah, Gajimu tidak cukup?"

Tapi Luhan sedikit terluka ketika mendengar kalimat itu. Perihal gaji, ia sudah mendapatkannya dalam jumlah banyak. Ia tentu tidak butuh tambahan apapun saat ini, meski ia dipaksa. "Pergilah, Oh Sehun," ujarnya menekan keningnya sendiri.

Tapi sayangnya Sehun membuatnya semakin tidak berguna. Sekaligus tidak ada harganya di kedua matanya. "Aku bisa menambahkan gajimu. Katakan, berapa banyak yang kau inginkan?"

"Sehun─" Hati Luhan sesak. Panas di dadanya menyeruak, menggerogoti alam hatinya hingga menginvasi seluruh isi kepalanya.

"Katakan apapun yang kau inginkan. Aku akan mengabulkannya untukmu," sambungnya. "Kau ingin gajimu lima kali lipat? Sepuluh kali lipat? Rumah baru? Mobil? Atau kau mau─"

Sebuah tamparan keras kemudian mendarat di wajah Sehun. Membuat pria itu menekan wajahnya pedih dan juga kehilangan kata-katanya yang begitu pintar menusuk. Luhan sendiri berusaha meyakinkan dirinya agar tidak menyesal karena telah menampar wajah itu.

Perlu Sehun ketahui bahwa ia tidak serendah itu untuk menjadi seorang manusia. Ia mungkin suka uang, tapi dia tidak memeras. Ia hanya melakukan pekerjaan yang menurutnya bisa dilakukannya dan berusaha keras untuk membayarnya dengan seluruh kemampuannya. Tapi Sehun nyatanya memandang dirinya terlalu rendah. Menilainya seperti benda yang tidak ada harganya dan juga─

─murahan?

"Aku tidak serendah itu!"

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Aku telat, aku telat~

Gimana? Nangkep sama ceritanya Sena? Aku sengaja membuatnya ringkas begitu karena sesuatu. So, ku harap kalian paham dengan 'bagaimana' Sena kepada Kris :D

Terima kasih kepada kalian yang masih betah membaca ff ini.

Selamat hari sabtu ^^