Jongin tak tahu jika apa yang ia lihat tadi membuat hatinya berdenyut tak nyaman. Ia bahkan belum tidur, padahal jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Dia sungguh menyesali keputusannya untuk pergi membeli makanan yang bahkan ia tak sentuh sama sekali sejak ia sampai di rumah.
Seandainya saja Kris tak mengirimi nya pesan tadi. Seandainya saja dia tak pergi keluar untuk membeli makanan... Dia mungkin tak akan melihat kejadian itu.
"Hahh..."
Tes
Tes
"Sialan! Hiks..." Jongin memukul dada nya pelan, berharap jika denyutan itu berkurang. Namun yang ia dapati hanyalah isakan nya yang semakin keras. Mengapa ia harus sakit hati saat melihat Irene dan Sehun melakukan hubungan intim di mobil tadi.
"Hiks..."
ㅡㅡ
Sehun baru pulang saat jarum panjang menunjukan pukul 2 subuh. Setelah melakukan 'itu' dengan Irene dia langsung pulang tanpa memperdulikan keadaan Irene yang seperti habis di perkosa oleh preman jalanan. Tapi mana Sehun peduli, itu salah wanita itu sendiri. Sehun sudah memperingatkan nya di awal bukan?
"Sialan! Ponselku tertukar." Sehun menghembuskan nafas kasar saat melihat ponsel yang ia genggam ternyata bukan miliknya, melainkan milik Irene. Karena sudah terlalu lelah baik fisik maupun pikiran, Sehun memilih untuk menukarnya saat di sekolah saja.
Namun esok pagi nya, saat Sehun pergi ke kelas Irene ternyata wanita itu tidak turun dengan alasan sakit. Saat di berbalik menuju kelasnya ia menemukan Jongin yang berjalan sendirian.
"Jongin!" Jongin memundurkan langkahnya saat Sehun mendekatinya, namun Sehun tidak menyadari nya.
"Nanti sore aku mungkin akan terlambat pulang. Karena aku harus ke rumah Irene sebentar."
"Baiklah." Setelah memberikan jawabannya, Jongin langsung pergi kembali ke kelasnya tanpa memperdulikan Sehun yang menatapnya heran.
ㅡㅡ
Ada yang berbeda dengan Jongin hari ini menurut Sehun,setelah kejadian di lorong sekolah tadi sekarang wajah gadis itu lebih kusut ditambah dengan mata yang sedikit sembab. Sehun awal nya ingin bertanya, namun kembali mengurungkan niatnya karena Jongin terlihat seakan-akan ingin membunuh nya jika ia mengeluarkan sapatah kata pun.
"Ini semua rangkuman yang ku buat. Kau bisa mempelajarinya. Semua materi dan catatan penting ada di dalamnya. Anggap saja ini sebagai hadiah perpisahan kita."
"Perpisahan apa maksudmu?"
"Aku sudah memutuskan untuk berhenti menjadi tutor mu."
"Mengapa tiba-tiba kau ingin berhenti?"
"Nilai mu sudah membaik dan stabil. Aku sudah tak punya urusan lagi disini." Sehun dapat melihat gelagat aneh dari Jongin. Gadis itu bahkan tak sedikit pun menatap nya.
"Hey... kau ada masalah dengan ku? Katakan saja!" Jongin mengambil tas nya dan beranjak pergi dari sana, namun Sehun berhasil menahannya sehingga Jongin kembali duduk di sebelahnya.
"Jongin..."
"Hiks..." melihat Jongin yang menangis tiba-tiba membuat Sehun kebingungan. Jongin bahkan sudah menangis dengan keras sehingga membuat Sehun berinisiatif untuk menenangkannya dengan cara memeluk gadis itu. Namun Jongin menolaknya.
"Lihat aku Jongin! Katakan siapa yang membuatmu menangis seperti ini?"
"Hiks..."
"Jawab aku! Kau membuatku sangat khawatir Jong..." Sehun meraih wajah Jongin untuk menghapus air mata gadis itu. Saat mendengar Sehun menyebutkan nama nya Jongin merasa hati nya kembali berdenyut, apalagi kilatan kejadian semalam terus berputar di otaknya.
"Aku mohon jangan pergi Jongin. Aku membutuhkan mu..." Sehun kembali mencoba untuk merengkuh Jongin ke dalam pelukan nya, dan akhirnya berhasil. Sehun mengusap punggung wanita itu, meskipun tangis nya tak kunjung reda.
Skip
Setelah 2 jam tangis Jongin pun berhenti, posisi Sehun yang merengkuhnya pun belum berubah. Sehun menunduk untuk melihat wajah Jongin yang ternyata sudah terlelap di dalam dekapan nya.
Ponsel yang ada di saku Jongin berdering dan Sehun memutuskan untuk mengambilnya, tanpa ada niatan menyentuh bagian lain tentu nya. Namun Sehun malah di kejutkan dengan nama sang penelpon.
"Kris?"
Pip
'Jongin kau dimana?'
"Dia ada di rumahku."
'Sehun? Kalau begitu bisa kah kau tanya pada Jongin kapan ia akan pulang? Hari sudah semakin larut.'
"Dia akan menginap di rumahku." Setelah berucap seperti itu Sehun segera memutuskan panggilan nya dan mematikan daya ponsel Jongin.
"Kau bahkan tak pernah bilang jika sudah memiliki ponsel. Dan malah memiliki kontak Kris. Sejauh apa hubungan kalian,hah?" Sehun berucap sambil mengusap rambut Jongin yang masih tertidur di dekapannya.
ㅡㅡ
Jongin terbangun setelah tidur selama lebih dari 10 jam. Badan nya terasa kaku dan pegal karena tidur di posisi yang tak nyaman. Mata nya membola setelah sadar bahwa dia tidak tidur di kamarnya.
"Astaga dimana ini?" Dan Jongin kembali terkejut saat melihat baju apa yang ia kenakan. Sebuah dress tidur dengan panjang selutut berwarna putih. Setahu nya ia tak memiliki pakaian seperti ini di rumah.
Cklek
"Kau sudah bangun?"
"S-sehun?!" Jongin tersentak saat melihat Sehun keluar dari kamar mandi. Jongin segera melilitkan selimut pada tubuhnya.
"Kit-a... tidak t-tidak tidur bersama bukan?"
"Tentu saja kita tidur bersama."
"Apa?!"
"Aku bercanda. Sekarang mandilah, baju seragam mu sudah aku siapkan." Jongin menghembuskan nafasnya lega. Di pikir Sehun dan dia benar-benar sudah tidur bersama. Tapi ngomong-ngomong...
"Sehun siapa yang menggantikan baju ku?"
"Tentu saja aku, memangnya mau siapa lagi? Hahh... kau itu datar sekali Jong, aku bahkan tak bisa membedakan antara dada dan perut mu..."
Brukk
Tak lama terdengar bunyi petemuan antara bantal dengan wajah Sehun, lalu di susul dengan teriakan "Oh Sehun sialan!!" Dari Jongin.
Sehun tak memberikan reaksi apapun. Dan kembali menggoda Jongin. "Kau ingin cepat mandi, atau melihatku telanjang,eoh?" Saat Sehun berniat menarik handuk nya,dan dengan kecepatan kilat Jongin pergi ke kamar mandi.
Sejenak Jongin bisa sedikit melupakan kejadian tempo hari. Ya. Sejenak.
Skip
Setelah sudah berpakaian rapih, Jongin meminta penjelasan lebih dari Sehun tentang siapa yang sudah menggantikan baju nya semalam. Sehun menjelaskan bahwa sebenarnya pembantunya lah yang menggantikan baju Jongin. Jongin menjadi lega dan juga kesal. Lega karena bukan Sehun yang mengganti baju nya, tapi juga kesal lantaran Sehun sudah membohongi nya.
Maka dari itu, saat Sehun ingin menumpangi nya ke sekolah ,Jongin menolak. Gadis itu lebih memilih naik angkutan umum dari pada semobil dengan Sehun. Sehun awalnya menolak gagasan itu, namun saat Jongin mengatakan "Mengapa kau khawatir? Kau bahkan pernah menamparku di hadapan seluruh murid." Sehun langsung terdiam. Dan akhirnya membiarkan Jongin pergi dengan naik bus.
Di sekolah
Saat Jongin sampai di gerbang sekolah, ia melihat sosok Kris sedang berdiri di sana.
"Astaga! Kris pasti akan marah karena aku tak menghubungi nya." Dengan kaki di seret Jongin pun menghampiri Kris.
"Aku minta-"
"Kau tak apa? Apa Sehun melakukan hal yang buruk padamu?"
'Di melukai hati ku' Ingin rasa nya Jongin membalas seperti itu, namun yang ia lakukan hanya mengangguk dan memberikan sang kakak senyum kecil nya.
"Syukurlah. Aku bahkan tak bisa tidur semalaman." Kris mengusak rambut sang gadis.
"Kau seharusnya tak perlu khawatir. Aku pasti bisa menjaga diri. Lagi pula aku hanya ketiduran di sana, lalu Sehun menyuruhku untuk menginap di rumahnya." Karang Jongin. Bisa habis Sehun jika Jongin mengatakan hal yang sebenarnya.
"Kalau begitu hari ini saat selesai mengajar aku akan menjemput mu,okey?" Jongin mengangguk sebagai jawaban.
"Baiklah. Ayo masuk!" Kris merangkul bahu sempit itu untuk menuju kelas mereka.
ㅡㅡ
"Kumpulkan tugas ini minggu depan. Jika ada yang belum paham, bisa menemui ku saat istirahat ke 2 nanti. Selamat siang."
"Siang Ssaem." Tak lama setelah itu bel pun berbunyi. Seluruh siswa bergegas merapihkan alat tulisnya untuk ke kantin, namun ada pula yang cuek membiarkan nya berantakan dan langsung pergi ke kantin.
"Ayo Jong! Kau berhutang cerita pada ku." Chanyeol langsung menarik Jongin untuk pergi ke kantin setelah melihat adegan Kris dan Jongin yang jalan bersama tadi pagi.
Mereka pun mengantri untuk mengambil jatah makanan mereka. Jongin sekarang sudah bebas untuk makan di kantin, karena Tuan Oh memberikan gaji yang cukup banyak, sehingga Jongin tak perlu mengambil uang makan nya lagi. Setelah selesai mereka pun pergi ke salah satu meja di barisan kedua.
"Sekarang jelaskan padaku tentang kejadian tadi pagi!"
"Tenang lah Chan... makan saja dulu."
"Tidak bisa. Aku harus mendengarkan penjelasan mu dulu." Ujar Chanyeol bersemangat.
"Baiklah. Kami sudah berbaikan." Chanyeol tentu tahu siapa yang Jongin maksud 'kami' di sini.
"Tapi, bagaimana mungkin?"
"Dia sudah minta maaf padaku beberapa waktu lalu. Sebenarnya ia ingin minta maaf dari dulu, tapi dia ragu karena sikap orang tua nya." Chanyeol mengangguk-anggukkan kepalanya. Chanyeol memang pernah berpikir, bahwa selama ini Kris sebenarnya ingin bersikap baik pada Jongin. Hal itu terbukti saat melihat sikap Kris saat di sekolah yang terkesan biasa saja kepada Jongin.
"Lalu orang tua mu?"
"Mereka masih tetap sama. Tak apa lah... setidaknya ada kau dan dia sekarang."
"Dan juga aku! Hey jangan lupakan aku!" Ujar seorang wanita tiba-tiba, wanita itu bahkan langsung duduk di sebelah Jongin.
Berbeda dengan reaksi Chanyeol yang tertawa kecil, Jongin hanya bisa diam di tempat nya. Pikiran nya kembali pada kejadian tempo hari lalu.
"Hey...kenapa diam saja?Jongin~" Irene- wanita itu mencubit kedua pipi Jongin.
"Tak apa." Jongin yang sudah sadar pun, langsung menunjukkan wajah cerah nya.
"Memangnya kalian sedang membicarakan apa?"
"Hanya mengenang masa lalu, benarkan Jongin." Chanyeol mengedipkan sebelah mata nya pada Jongin, yang hanya di balas dengusan malas oleh si gadis.
"Irene..." wanita yang di panggil itu pun menolehkan kepalanya ke arah si pemanggil. "Sehun, ada apa?"
"Kemarilah..." Irene pun pergi setelah berpamitan pada Jongin dan Chanyeol. Jongin bahkan sudah mengepalkan tangannya di bawah meja menahan amarahnya. Ia merasa begitu kesal saat melihat keakraban Sehun dan Irene, yang seakan pamer kemesraan yang mereka pamerkan di hadapan seluruh siswa. Bahkan banyak siswi yang berbisik, jika Sehun dan Irene sudah kembali bersama.
"Kemarin Sehun bahkan mencari Irene ke kelas ku..."
"Waktu itu aku juga melihat mereka sedang berkencan."
"Mereka memang sangat serasi."
"Sayang sekali mereka berpisah. Ku dengar perpisahan mereka karena si Byun Baekhyun itu."
Oke! Cukup sudah. Telinga Jongin rasanya ingin mengeluarkan asap karena ocehan para gadis itu. Apalagi dia tahu jika Baekhyun hanya di manfaatkan oleh Sehun saja. Kasihan wanita itu, pasti setelah ini ia akan kena bully-an dari para penggemar Oh Sehun.
Brakk
"Bagaimana rasanya tidur dengan Oh Sehun hah!" Semua atensi siswa yang awalnya ditujukan kepada pasangan Irene-Sehun itu seketika berbalik ke arah dua orang wanita yang tengah bertengkar.
"Apa maksud mu?"
"Bagus. Sekarang kau pura-pura lupa ingatan,eoh?"
Plak
Krystal menampar Baekhyun dengan beberapa foto di tangannya. Saat melihat foto-foto tersebut mata Baekhyun terbelalak.
"Sialan!"
Sret
Kaki Jongin tergerak untuk menghampiri kedua wanita itu saat melihat Krystal menarik rambut coklat milik Baekhyun.
"Hentikan!" Jongin berusaha untuk meraih lengan Krystal agar wanita itu dapat melepaskan jambakannya. Namun Krystal tak perduli, sebelah tangannya kini bahkan sudah menarik kerah Baekhyun.
"Chan bantu aku!" Chanyeol segera menahan Krystal sedangkan Jongin menarik Baekhyun. Sehun sebenarnya ingin menyusul Jongin dan Chanyeol, namun Irene menahan pergelangan tangannya. "Kau akan membuat segalanya menjadi lebih runyam." Seru nya. Lalu Sehun pun kembali diam, dan menatap Jongin dari jauh.
"Lepaskan aku! Biar ku habisi jalang ini!"
"Hentikan. Kalian hanya akan menyakiti diri satu sama lain." Jongin berseru. "Orang yang kalian ributkan bahkan tak melirik kalian sedikitpun." Lanjutnya. Tak lama kemudian seorang guru kesiswaan pun akhirnya datang.
"Kalian berempat ikutlah ke ruangan ku!" Jongin, Chanyeol, Krystal dan Baekhyun pun mengekori guru tersebut untuk menuju ke ruangan kesiswaan.
ㅡㅡ
"Tapi aku dan Jongin hanya melerai mereka Ssaem." Interupsi Chanyeol.
"Benarkah?" Tanya sang guru kepada Baekhyun dan Krystal. "Chanyeol memang tidak terlibat. Tapi Jongin terlibat." Ujar Krystal yang di hadiahi tatapan tajam dari Chanyeol.
"Bukan begitu ssaem!"
"Kalau begitu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi Park Chanyeol."
"Kami hanya makan biasa di kantin. Lalu Krstal datang mengampiri Baekhyun. Kemudian mereka ribut hingga Krystal menarik rambut Baekhyun dan saat itu lah aku dan Jongin melerainya."
"Bohong! Jongin tidak melerai kami. Dia membela Baekhyun lalu menarik lengan ku dengan kasar." Ujar Krystal makin gencar berbohong. Jongin hanya bisa menghela nafas saja, tak ada yang dapat ia lakukan sekarang. Membalas pun tak akan ada guna nya. Apalagi jika orang tua Krystal datang, habis lah Kim Jongin.
"Kalau begitu suruh wali kalian datang sekarang. Jika tidak, kalian tidak boleh keluar dari ruangan ini." Jongin memberikan kode pada Chanyeol, menyuruh pria itu untuk tetap diam.
"Dan Chanyeol kau boleh keluar sekarang." dengan terpaksa Chanyeol keluar dari ruangan itu karena sang guru menyuruh nya untuk keluar ruangan. Di depan pintu ia melihat Irene dan juga Sehun.
"Bagaimana Chan?" Tanya Irene.
"Krystal memfitnah Jongin. Jadi tidak ada jalan keluar."
"Bukankah ada kamera cctv?" Tanya Irene lagi. Sejujurnya dia tak rela jika Jongin di fitnah oleh makhluk ular itu.
"Orang tua Krystal akan datang sebentar lagi. Guru pasti akan tutup mata soal itu."
"Kalau begitu biar aku yang memberitahu Guru Cha." Chanyeol menatap Sehun sinis. "Jika kau ingin membantu seharusnya kau lakukan sejak di kantin tadi. Dan bukan nya menjadi sok pahlawan di hadapan guru Cha."
"Sebenarnya Sehun mau membantu tadi, namun aku menahannya karena aku takut Krystal akan semakin marah." Irene mencoba untuk menjelaskan situasi tadi pada Chanyeol, namun secara tiba-tiba Sehun masuk ke dalam ruang kesiswaan itu.
Cklek
"Permisi."
"Ya, ada apa Oh Sehun?"
"Ssaem aku ingin menjelaskan kejadian di kantin tadi." Krystal, Baekhyun bahkan Jongin di kagetkan dengan perkataan Sehun tersebut.
"Aku ingin kau melihat cctv kantin Ssaem."
Skip
Mereka pun akhirnya menyaksikan rekaman kamera cctv yang terpasang di kantin. Tapi posisi kamera yang berada di sudut ruangan membuat gambar terlihat tidak begitu jelas karena hanya memperlihatkan punggung Jongin dan Krystal.
"Nah lihat itu ssaem. Di situlah Jongin menarik tanganku dengan kasar." Tunjuk Krystal saat video menunjukan adegan Jongin menarik tangan nya.
"Aku hanya ingin menjauhkan tangan mu."
"Tapi kau menariknya dengan kasar." Balas Krystal. "Kemarikan tangan mu." Dengan kecepatan kilat Krystal mematuhi perintah Sehun. Mungkin Sehun sedang khawatir pada nya, pikir Krystal.
"Jika Jongin menariknya dengan kasar, pasti tangan mu sudah memar. Lihat! Tangan mu bahkan tak merah sedikitpun." Guru Cha mengerti apa yang Sehun maksud, ia tahu sekarang jika Krystal telah berbohong.
"Baiklah. Kim Jongin kau boleh keluar sekarang. Dan Oh Sehun, terima kasih akan kesaksianmu." Jongin keluar dari ruangan tersebut dengan muka masam.
Ia tak terima karena Sehun membela nya. Lebih baik dia tak keluar dari ruangan itu sama sekali, dari pada harus berutang budi dengan Sehun. Dia kan masih kesal dengan Sehun. Sehun yang melihat Jongin pergi pun segera menyusul nya.
Grep
"Tak ingin berterima kasih?" Ujar Sehun bercanda, namun Jongin segera menghempas tangan pria itu dan berbalik tanpa berbicara apapun.
Grep
"Hey! Kau ini kenapa? Kenapa kau malah marah padaku?!" Sehun kembali menggenggam tangan Jongin, namun lebih erat.
"Seharusnya kau tidak membela ku tadi. Biarkan saja aku di hukum!" Sahut Jongin ketus.
"Kenapa kau sangat aneh akhir-akhir ini?!"
"Pergilah! Sana datangi saja Irene!" Inner Sehun bersorak sorai saat Jongin menyebutkan nama Irene. "Kau cemburu?" Tanya Sehun penuh harap.
"Iya! Lalu kenapa? Itu bukan urusan mu!" Karena terlalu senang dengan balasan Jongin, Sehun sedikit melonggarkan genggaman nya sehingga Jongin dapat melarikan diri.
'Kim Jongin sepertinya jatuh cinta padaku.' Sehun tidak dapat menahan senyum nya saat memikirkan ucapan Jongin tadi.
"Akan ku goda dia habis-habisan saat di rumah nanti."
Tbc
kalo yang komen lebih dari 3, aku langsung update chap 9 nya saat itu juga. oke see you
