TWO SIDES

by Gyoulight

.

.

.

.

.

HUNHAN FANFICTION

GENRE: Drama, Romance

RATING: T

.

.

.

.

.

Luhan dipersilahkan duduk setelah memasuki sebuah ruangan kerja dengan beberapa potong sofa di tengah. Lampu sudah menyala terang benderang dengan Luhan di bawahnya. Tapi nampaknya lampu-lampu itu tidak bisa mengisi kegelapan di hatinya. Terlebih Kris kini mengambil duduk di hadapannya. Menatapnya penuh selidik tanpa kedipan sedikitpun.

Ruang makan tak tersentuh sudah ditinggalkan begitu saja. Begitu juga dengan selera makan keduanya yang sudah terbang entah kemana. Padahal Luhan sebelumnya bisa mengeluh lapar, tapi secepat jantungnya memacu, secepat itulah laparnya hilang ditelan bumi.

"Kau pernah dibohongi dalam hidupmu?" Kris memainkan pisau yang dibawanya dari meja makan. Menjuput sebuah apel di mejan lalu mengupasnya asal tanpa takut tangannya tergores. "Aku biasanya memukul semua orang yang membohongiku. Dan juga─" Ia menjeda.

"membuatnya menyesal setengah mati."

Sebuah senyum kemudian terlukis di wajah dingin itu. Memancarkan wujud asli dirinya yang selalu ia sembunyikan di balik topeng. "Aku tidak akan melakukan apapun jika kau mau bekerja sama denganku. Bisa dibilang, kau beruntung karena memiliki wajah itu."

Luhan masih terdiam menatapi jemarinya. Pikirannya penuh dengan bayangan perjanjian kerjanya dengan Sehun. Bagaimana pria itu membuatnya menjadi adiknya, bagaimana pria itu mengajarinya banyak hal, serta membuatnya berdiri kembali. Melihat ibunya kembali ke rumah dan juga membuatnya tidak mengkhawatirkan sesuatu yang tidak bisa membuatnya hidup dengan tenang, walaupun dengan ia membohongi banyak orang karena menjadi orang lain.

Ia mungkin telah menyakiti hati banyak orang, hanya saja semua orang yang ia bohongi belum menemukan kesalahannya seperti Kris. Tentu, ini adalah resiko. Dan betapa bodohnya ia yang setuju untuk masuk ke dalam permainan semacam ini. Menjadikannya tidak berdaya, lalu ditekan sedemikian rupa pada posisi yang sulit. Jadi, haruskah ia menghianati Sehun hari ini?

"Apa yang kalian rencanakan?" Kris kembali bersuara. Hampir selesai ia mengupas apelnya di tangan. Lalu anggaplah setelah apel itu selesai dikupasnya, Luhan tidak punya waktu lagi untuk terus terdiam di kursinya.

Kris yang bosan kini membuang apel itu ke atas meja, lengkap dengan pisaunya. Dan itu sukses untuk mengejutkan Luhan soal apel yang menggelinding dengan pisau yang begitu cepat tergeletak di dekat kakinya. "Kau tidak bisa diam saja seperti ini. Aku sudah terlalu baik, jadi jangan buat aku kehilangan kesabaran," ujarnya menggertakkan rahangnya.

Mendengar itu Luhan tidak punya pilihan selain menatap kedua mata yang berkilat tajam itu. Ia pun seakan tidak bisa bergerak ketika dipalu dengan tatapan milik Kris. "Sebelumnya, aku ingin menanyakan satu hal," mulainya gugup, sedangkan paru-parunya mulai kesulitan untuk memasok banyak oksigen.

Benar, Luhan tidak punya pilihan. Ia tentu bukan orang sebaik malaikat yang rela berkorban untuk orang lain. Bukankah, ia orang yang cukup egois untuk memikirkan dirinya sendiri? Memangnya sejak kapan ia perduli pada orang-orang ini, terlebih menanyakan pertanyaan konyol semacam, "Apa kau mencintai Sena?"

Alis Kris bertaut. Mendapati pertanyaan konyol semacam ini tentu membuatnya bertambah marah. Apalagi jika disinggung masalah hati. Entah mengapa semua orang mempertanyakan hal ini, kalau ia sendiri sudah membuat coretan yang jelas atas jawabannya? "Haruskah aku menjawabnya, sementara aku sudah menunjukkan padamu semua hal yang aku lakukan untuknya?"

Luhan menatap pria itu dengan kepercayaan yang sudah ia dapatkan sejak dahulu. Ia tahu itu, dan ia sudah melihat bagaimana Kris memperlakukan Sena dengan sangat manis─sampai ia iri kalau boleh jujur. Tapi mengingat Sena yang membenci pria pirang ini membuatnya sedikit ragu, terutama pada masalah apa yang sebenarnya menimpa keduanya hingga menjadi seperti ini. Dan ia menjadi semakin yakin, bahwa bukan hanya Sehun yang membuat mereka dipertemukan dalam takdir sebegini rupa. Ada tali yang lain yang tidak seorang pun tahu tentang keduanya.

"Dimana dia?" Kris akhirnya bertanya dengan ramah. Ia sendiri terlihat benar-benar putus asa memikirkan kemana perginya orang yang selalu ia nantikan.

Luhan bukan habis terbakar oleh simpati. Hanya saja sangat disayangkan tentang ia yang tidak tahu pasti keberadaan Sena saat ini. "Aku tidak diberitahu dia ada dimana. Itu di luar pekerjaanku," jawab Luhan kembali menunduk. Yang jelas, ia tidak ingin menyeret Jongin ke dalam masalah ini karena pria itu menyembunyikan Sena dengan baik. Jadi biarlah Luhan sedikit bermain peran dengan tokohnya.

"Benar begitu?" selidik Kris sedikit memiringkan wajahnya. Ia sendiri mengaku, memang sulit mempercayai orang lain dalam hidupnya. "Lalu apa yang sebenarnya kalian rencanakan?"

Luhan berkedip. Entah mengapa rasanya ia sangat salah untuk menghianati kontraknya dengan Sehun. Ia pun akan menjadi orang yang paling berdosa jika setelah ini hidup Sehun tak akan setenang kemarin. "Berjanjilah untuk tidak melakukan hal buruk, Kris. Sudah cukup dengan semua hal yang mereka dapatkan. Aku ingin kau terfokus pada sesuatu yang kau cari."

Kris menyilangkan kakinya. Duduk nyaman meski kepalanya ingin pecah karena terlalu lama menahan emosi. "Aku punya hak untuk memutuskan. Ini bukan urusanmu."

"Baiklah, aku pun tidak bisa memaksamu untuk itu," ujar Luhan menghela nafasnya. "Tugasku hanya untuk menggantikan posisi Sena dan menggagalkan pernikahanmu. Itu saja."

Tiba pada Kris yang terkekeh sambil menekan kepala beratnya. Ia sebenarnya tidak tahu dimana letak kelucuan dari kalimat Luhan. Hanya saja menurutnya semua ini terlalu layak untuk ditertawakan. Karena ia mungkin tidak akan pernah menyangka jika Sehun berani merusak kesepakatan mereka. Lantas Kris pun sadar mengapa perusahaannya seakan dilupakan dan diasingkan Arion baru-baru ini.

"Kau bisa lanjutkan tugasmu."

"A-apa?" Luhan tak percaya akan mendapatkan hal ini di hidupnya. Ia masih duduk dan bernafas dengan baik disini. Tidak mendapatkan luka atau apapun yang membuatnya menjadi orang yang paling menyesal seperti pria pirang ini katakan sejak awal. Jadi sehatkah Kris ketika menyuruhnya untuk tetap melakukan tugasnya untuk Sehun?

"Anggap ini tidak pernah terjadi dan tetap lakukan tugasmu," jelasnya.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Luhan polos. Sepolos dinding putih di belakangnya. Tapi ia tidak bisa berbohong jika ia sedikit khawatir dengan rencana Kris di depan sana. Lagi pula siapa yang bisa menebak pergerakan Kris? Pria itu bahkan terlalu pintar bergerak di belakang bayangannya sendiri.

Kris lalu beranjak dari kursinya. Tidak merasa perlu untuk menjawab pertanyaan yang jawabannya ingin ia simpan sendiri. Ia pun mengeluarkan ponselnya dari saku untuk menelpon seseorang yang bisa mengantar Luhan pulang ke rumahnya. "Kau bisa pergi dari sini."

Tak lama pintu terbuka lebar. Menyisakan Baekhyun yang kehilangan nafas bersama dua orang pria berpakaian serba hitam yang menyusul di belakangnya. "Aku datang untuk menjemputnya."

Kris menatap sebentar kedua anak buahnya yang kewalahan mengejar seorang Baekhyun. Panggilannya yang baru saja tersambung pun batal ia raih. "Hai, Baekhyun," sapanya kemudian. Sedangkan Luhan sudah begitu takjub dengan perubahan ekspresi Kris yang begitu cepat untuk mengendalikan sebuah keadaan.

e)(o

Luhan berhasil membanting pintunya ketika memutuskan untuk masuk. Kemarahannya teredam, matanya memerah. Jantungnya bahkan sudah dua kali lipat berpacu dari sebelumnya. Kepalanya yang pusing kemudian membawanya berlari menaiki tangga kayu. Tidak berpikir bagaimana Sehun di luar pintu rumahnya, alih-alih menemukan pintu kamar Jaemin yang tidak terkunci. Lalu masuk begitu saja menyalakan saklar lampu.

"Jaemin?" panggilnya sedikit kasar menarik selimut di atas ranjang kecil itu. Membuat adiknya yang terlalu pulas mengeliat dan memunggunginya seakan tidak perduli pada keributan kecil di kamarnya.

Luhan segera melompat untuk memeluk adiknya. Merapalkan kata syukur yang banyak karena adiknya baik-baik saja di rumah. Tidak mengalami hal-hal buruk seperti ancaman Kris padanya. Jaemin sendiri sudah berteriak dengan keras karena terkejut. Memukulinya dengan tangan kosong sampai menarik rambutnya agar ia menyingkir. Tapi Luhan tidak perduli dan semakin mengeratkan pelukannya sampai adiknya sesak nafas.

"Siapa kau?!" pekik adiknya menyerah.

Luhan merengek seperti anak kecil. Bagaimana jika ia menangis saja malam ini? "Walaupun aku sangat membencimu, tapi aku sangat menyayangimu. Kau harus ingat itu!"

Jaemin kembali mendorong kakaknya agar menjauh darinya. Keningnya berkerut, tanpa henti ia mengusap kedua matanya untuk memastikan jika ia tidak sedang bermimpi atau tidak membenarkan perihal orang gila─yang sering ia temui di gang ketika ia pulang sekolah itu─berhasil memasuki rumahnya. Dan nyatanya, orang bodoh di hadapannya ini benar-benar kakaknya. Oh, betapa bersyukurnya ia dalam hidup. "Ada apa denganmu?"

Luhan kemudian bangkit dari posisinya. Merapus air matanya yang mulai meleleh sebelum adiknya benar-benar menertawakannya. "Ibu pergi."

Tercengang Jaemin menatapnya. "Kau sedih karena ibu pergi? Astaga, yang benar saja."

"Akan ku pastikan kau makan omelet buatanku." Luhan meraih tangan adiknya. Hendak menggenggamnya dengan mata berbinar, tapi buru-buru adiknya itu merebutnya kembali.

"Tidak, tidak. Kau tidak boleh membuatnya. Kita punya banyak ramen."

"Ramen itu tidak baik untuk otakmu. Kau akan bodoh jika terus memakannya," omel Luhan yang kemudian dibalas masam oleh Jaemin.

"Tapi aku tidak mau muntah di pagi hari." Adiknya kembali melakukan protes.

Luhan berubah kecewa karenanya. Sedangkan Jaemin sudah menarik kembali selimutnya untuk menyambung mimpiya yang terputus. "Jaemin?"

Jaemin mengusak rambutnya malas. Sungguh, kehadiran kakaknya ditengah malam seperti ini sangat tidak baik untuknya. "Wae?!"

"Kau kenal seseorang bernama Kris?"

Jaemin segera bangkit dari tidurnya. Matanya yang mengantuk segera berkedip untuk mengingat sesuatu. "Aku pernah bertemu dengannya satu kali."

Luhan membuang nafasnya. Memberi satu pukulan di kepala pemuda itu hingga menerima sebuah kelegaan di dadanya. "Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"

"Kau tidak harus memukul kepalaku!" ringis Jaemin memegangi kepalanya. "Dia bilang kau itu temannya. Kau bahkan menitipkan hadiah untukku padanya."

"Hadiah?" Luhan memiringkan kepalanya. Seingatnya ia tidak pernah mengirimkan sesuatu selain uang pada rekening ibunya. Kalaupun ia ingin membelikan Jaemin hadiah, tentu tidak mungkin sampai harus dititipkan pada orang lain. Toh, ia bisa melakukannya sendiri.

"Kau membelikanku baju ini. Kau tidak ingat?" tunjuk adiknya pada hoodie abu-abu yang tengah dipakainya. "Dia orang yang baik sampai mau repot-repot mengantarkan titipanmu padaku."

Lalu yang ada di kepala Luhan saat ini adalah Kris benar-benar pintar melakukan banyak trik. Tidak heran jika ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun ia bisa bersyukur karena tidak ada yang terjadi setelah itu. "Apa yang dia katakan padamu?"

"Kami tidak membicarakan banyak hal. Tapi dia sempat menanyakan banyak hal tentangmu, termasuk pekerjaanmu di kantor. Dia juga mengantarku pulang dengan mobilnya." Jaemin kembali mengambil posisi tidurnya. Kantuknya pun benar-benar tidak bisa ditoleransi. Dan sialnya besok ia harus pergi ke sekolah pagi-pagi sekali. "Aku hanya tidak percaya kau bisa punya teman sekaya dia."

"Hanya itu?" selidik Luhan lagi.

Jaemin kemudian berubah kesal karena tidurnya terganggu. Ia pun menendang udara dengan kedua kakinya sampai harus merengek seperti bayi. "Memangnya apa lagi? Dia itu hanya mengantar titipanmu." Sungguh betapa Jaemin ingin kakaknya ini pergi dari rumahnya sesegera mungkin.

e)(o

Sehun baru saja membalik halaman bukunya ketika lemparan amplop mendarat tepat di atas buku yang dipegangnya. Ia pun mau tak mau mendongak menyaksikan sosok yang masih berdiri di hadapannya itu.

Seorang pria dengan pakaian santai tampaknya masih tidak ingin duduk untuk kepentingan sopan santun, membuang wajahnya ke halaman dan jangan lupakan rambutnya yang sudah dicat menjadi hitam. Cukup familiar sebenarnya, tapi bukankah Baekhyun terlalu normal untuk mengubah penampilannya dikala stress?

"Aku mengundurkan diri." Pria itu berujar, sekalipun tidak menatapnya dengan benar.

Halaman belakang yang hijau itu seketika berubah menjadi tidak menyenangkan. Desau angin pun berubah menjadi semakin dingin. Buku yang ia pegang malah tidak lagi jadi bacaan yang menarik bagi Sehun. "Kau akan pergi kencan?" balasnya bertanya. Ia berakhir dengan menutup habis bukunya. Lebih tertarik untuk melirik isi amplop yang baru saja didapatkannya.

Baekhyun akhirnya mengambil duduk di kursi yang kosong. Menjuput cemilan di atas meja tanpa izin, lalu menatapnya penuh teliti. "Sesuai perkataanku, aku berhenti saat proyek kita selesai."

"Jadi kau akan menikah?"

Baekhyun menajamkan ekor matanya. Cemilan di tangannya itu akhirnya terlempar pada Sehun sampai pria itu merengut kesal. "Aku tidak akan menikah, kau puas?!"

Sehun membuang bukunya ke atas meja. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok tinggi kakaknya yang sudah berdiri di belakang Baekhyun. Hendak mengejutkan keduanya tapi lebih dahulu mematung mendengar kalimat kekasihnya. "Kuharap hyungku tidak terkejut."

"Baekhyun?" panggil Chanyeol lembut sambil melipat kedua lengannya.

Mata Baekhyun membola seketika. Pria itu pun tidak berani menoleh ke belakang hingga Sehun lelah menahan tawanya. "Terima kasih. Kau membuat kencanku berantakan," tekannya pelan. Tidak perduli jika Chanyeol akan mendengarnya atau tidak di belakang sana.

"Lagi pula surat pengunduran dirimu terlalu berantakan." Sehun melempar kertas itu ke atas meja sekaligus dengan amplopnya sebagai pelengkap.

"Apa?!"

Sehun akhirnya menggeleng sambil menunjukkan letak kesalahan penulisan sekertarisnya itu dengan sabar. "Kau salah mengetik nama perusahaan. Kau pikir kau bekerja dimana?"

Baekhyun menyernyit tak percaya. Ia tidak pernah salah dalam mengetik sebelumnya. "Tapi ini hanya satu huruf," protesnya.

"Pengunduran dirimu ditunda sampai tahun depan," tutur Sehun kemudian beranjak dengan tongkatnya. Meninggalkan keduanya dalam keheningan panjang, karena ia tentu tidak ingin terlibat dengan masalah yang bukan urusannya.

"Sehun, kau benar-benar─" Baekhyun mengerang frustasi. Ia sesekali menoleh pada kekasihnya yang masih berdiri di belakangnya. Tidak bergerak ataupun membantu untuk memenangkannya. Padahal Chanyeol sendiri yang ngotot memintanya untuk mengundurkan diri.

Sebuah senyum kemenangan kemudian terlukis di wajah Sehun. Seolah tengah mengejek Baekhyun yang sudah mati kutu, kehilangan akal untuk membela dirinya sendiri. Ya, anggap saja Sehun telah melakukan aksi balas dendam soal semalam.

Baekhyun lantas hanya bisa menggigit bibirnya sendiri. Ia tentu harus memohon pada kekasihnya untuk tidak terlalu menanggapi perkataan asal-asalan yang ia ucapkan.

e)(o

Sehun terus menelusuri rumahnya yang sepi. Langkahnya kemudian tertarik mendekati mini bar dimana Minseok selalu bergelut dengan kopinya. Mini bar itu hari ini kosong, masih tertata rapi dan juga bersih. Ia pun memutuskan untuk duduk di salah satu kursinya. Menarik sebuah toples yang berisi biji kopi, sambil menatapnya dengan teliti seakan tengah menghitung jumlahnya.

"Kau pasti sedang bosan," tutur seseorang mengejutkannya. Sehun sendiri melirik sosok itu sampai berhasil memasuki tempat favoritnya. Memasang apron hitamnya kemudian mencoba menyalakan mesin kopi. "Kau mau kopi?"

"Dimana Luhan?" Tiada pertanyaan lain di kepala Sehun selain menanyakan Luhan. Entah sadar atau tidak, tapi Sehun tidak membantah kalau ia begitu ingin tahu banyak hal tentang orang itu.

Minseok berubah diam. Ia meraih toples di dekat Sehun lalu membawanya masuk. "Aku sudah membujuknya. Tapi dia tetap tidak mau kembali."

Raut Sehun kemudian berubah kesal. "Yang benar saja."

"Apa sebelumnya ada sesuatu yang terjadi?" Minseok sibuk menyendok biji kopi ke dalam mesin kopinya. Kemudian menekan sebuah tombol yang membuat biji-biji kopi itu turun ke dalam mesin. "Maksudku, apakah ada sesuatu yang mungkin membuatnya marah atau─"

"Kurasa─" Sehun menerawang. Pikirannya jatuh pada kejadian semalam, dimana ia ditampar amat keras sampai rasanya benar-benar membekas dengan baik di otaknya.

Minseok menggaruk kepalanya. Ia pun sebenarnya turut berpikir keras untuk membuat Luhan kembali ke rumah ini. "Ini aneh, Luhan tidak pernah seperti ini sebelumnya."

"Apa yang itu?" gumam Sehun yang kemudian tak sengaja didengar oleh Minseok.

"Apanya?"

"Dia sempat marah padaku semalam," jawab Sehun ragu. "Padahal aku hanya menawarkannya gaji tambahan untuk membujuknya."

Minseok kemudian memberi respon 'ah' dengan mulutnya. Ia buru-buru menekan sebuah tombol untuk menghentikan mesinnya terlalu lama bekerja. "Kau seharusnya tidak membahas hal itu."

Sehun mengerutkan keningnya. Menerka kembali tentang apa yang salah dari topik gaji yang diangkatnya semalam. Tapi ia benar-benar tidak menemukan jawaban yang tepat, seakan kepalanya sudah membeku terlalu lama. "Memangnya kenapa?"

"Pokoknya jangan bicarakan soal uang. Itu topik yang sangat sensitif bagi beberapa orang."

Sehun memilih menangkup dagunya. Masih tidak percaya jika hal itu menjadi penyebab mengapa Luhan tidak mau kembali ke rumahnya. "Tapi karyawanku senang ketika aku membahasnya."

Minseok terkekeh. Terlalu sering baginya menemukan kepolosan Sehun akhir-akhir ini. "Luhan itu berbeda dengan karyawanmu. Dia kan tidak bekerja di kantormu."

"Lalu apa yang harus aku lakukan?"

Minseok ingin tertawa lagi tapi Sehun terlalu serius bertanya. Entah bagaimana ia harus berhadapan dengan orang yang sama sekali tidak peka pada masalah hatinya sendiri. Seperti Sehun ini misalnya. "Minta maaflah padanya."

"Hey, aku tidak salah. Dialah yang seharusnya minta maaf padaku," protes pria pucat itu mengetuk meja. "Akan jauh lebih baik jika ia mendengarku."

"Itulah yang membuatnya tidak mau kembali. Kau terlalu keras padanya." Minseok menjeda sebentar. Ia kemudian mengambil salah satu set cangkir di lemari. "Sekali-kali mengalahlah untuknya. Biarkan dia melakukan apapun yang ia inginkan."

Sehun kemudian hanya bisa membuka isi kepalanya. Mencoba merenunginya kembali sambil mengoreksi perlakuannya semalam.

e)(o

Jalanan masih panjang membentang. Sedangkan matahari semakin membumbung tinggi. Memberikan cahaya menyilaukan pada kaca depan mobil, tapi tidak sepenuhnya sampai pada mata si pengendara. Satu, dua mobil baru saja menyalip mobil Chanyeol dengan kecepatan normal. Entah, apa karena mobil yang dibawanya terlalu pelan atau memang Chanyeol yang tidak suka melangar aturan mengemudi. Jadi dia hanya menstabilkan kecepatan mesinnya meski tahu bahwa tempat tujuannya mungkin akan memakan waktu dua kali lipat lamanya.

Chanyeol masih awas menatap jalanan di depannya meski keadaannya sudah mulai menyepi. Sedangkan seseorang di sampingnya, Baekhyun, masih terdiam menatap jemarinya kosong. Tidak bergerak atau pun berbicara seperti yang selalu ia lakukan di mobilnya.

"Aku bercanda soal itu," gumamnya, entah yang keberapa kalinya. Ia sendiri bosan mengatakan banyak hal yang sama. Terlebih tidak ditanggapi sama sekali oleh orang yang ia harapkan mendengar seluruh perkataannya. "Kau tahu sendiri aku orang yang seperti apa."

Sedikit tenang, Chanyeol akhirnya menyahut. "Kau mengatakannya dengan sangat jelas─"

"Aku hanya bosan pada orang yang selalu menanyaiku soal pernikahan," potong Baekhyun telak. Sudah cukup ia merasa disalahkan disini. Walaupun ia tahu ini memang murni kesalahannya, tapi apakah akan benar jika dibesar-besarkan? Mereka sendiri sudah sangat dewasa untuk menimbang banyak masalah. Jadi seharusnya Chanyeol lebih mengerti dirinya. "Aku heran mengapa semua orang meributkan hal ini. Sepenting itukah menikah?"

Chanyeol sedikit terhenyuh dengan pertanyaan sederhana itu. Ia bukannya marah. Tidak sama sekali. Hanya saja ketika Baekhyun mengatakan sesuatu seperti 'tidak ingin menikah', membuatnya merasa sedikit sedih. "Menurutmu menikah itu apa?"

Baekhyun menyandarkan kepalanya pada kursi. Melepas penatnya sedikit demi sedikit, karena ia tidak mau bertengkar seperti anak remaja yang kurang pengetahuan. "Sesuatu yang harus ku lakukan di dalam hidup," jawabnya asal.

"Menikah tidak hanya soal itu, Baek." Ada jeda panjang ketika jawaban itu dilayangkan. Maka Baekhyun memejamkan kedua matanya. Berusaha untuk memaklumi jika pendapatnya mungkin dianggap salah besar.

"Menikah itu tentang komitmen," sambung Chanyeol dengan sorot kosongnya. "dan tidak semua orang mampu melakukannya. Itulah mengapa aku tidak memaksamu soal ini, karena aku tidak ingin menekanmu."

Baekhyun melirik kekasihnya itu sebentar. Ia sebenarnya bukan menolak ingin menikah dengan kekasihnya ini. Salah, jika Chanyeol mulai berpikir kalau ia tidak diinginkan. "Aku hanya belum siap."

"Aku paham itu," lirik Chanyeol masih memutar kemudi.

"Aku juga bukan orang yang baik. Ada banyak hal yang harus aku perbaiki agar kau tidak menyesal karena memilihku." Baekhyun kemudian memperbaiki posisinya. "Aku ingin kita baik-baik saja dimasa depan."

Tanpa sebab, tiba-tiba mata Baekhyun terasa begitu panas. Berlinang tanpa izinnya sendiri. "Kita mungkin akan bertengkar, saling kecewa dan akan saling menyakiti karena tidak ada pernikahan yang sempurna. Tapi saat itu terjadi, setidaknya aku bisa membuatmu memilihku kembali. Memikirkannya kembali, sampai kau berpikir bahwa akulah satu-satunya yang mencintaimu di dunia."

Chanyeol membawa mobilnya menepi ke samping jalan. Menginjak remnya dengan tidak mendadak, karena ia tiba-tiba merasa amat sangat bersalah karena membuat Baekhyun memikirkannya sampai sejauh ini. "Baek─"

"Maafkan aku, aku selalu tidak berpikir saat bicara," ujarnya mengusap ujung matanya. Mencegah ia menangis sambil membuang wajahnya ke luar jendela. "Begini saja aku sudah melukaimu, bagaimana nanti?"

Chanyeol kemudian tersenyum pedih. Tangannya meraih jemari mungil itu, lalu ia bawa pada jemarinya yang lain. Pria itu lantas mengelus surai hitam Baekhyun yang baru saja ia sadari kalau warnanya sudah berubah. Kalau saja Chanyeol tidak bersikap ceroboh, mungkin ia sudah sibuk memuji betapa menawannya seorang Baekhyun dengan penampilan barunya. "Kau mungkin penuh kurang. Aku pun banyak kurangnya. Lagi pula manusia mana yang tidak punya kekurangan? Tapi kekurangan itulah yang menjadikan diri kita berbeda dari yang lain."

Baekhyun masih menahan wajahnya di jendela. Tidak mau menatap Chanyeol yang sudah susah payah membujuknya. "Kau tidak tahu betapa takutnya aku saat kau marah begitu."

"Aku tidak marah. Aku hanya merasa sedih soal itu," tuturnya sebisa mungkin untuk tidak menyinggung Baekhyun. Ia sendiri menyesal. Menyesal karena membawa ini ke dalam suatu masalah yang serius.

Dan Baekhyun masih sibuk mengusap air matanya. "Lalu kau masih mau menungguku?"

"Kenapa tidak?" Baekhyun akhirnya memutuskan untuk menatap manik kekasihnya. Dan sebuah senyum kemudian dihadiahkan Chanyeol untuknya. "Kita tidak perlu terburu-buru soal itu."

"Tidak─" Baekhyun melepaskan tangan Chanyeol dari tangannya. Mendengar bahwa Chanyeol begitu sabar menghadapinya, membuat hatinya terasa begitu menyakitkan. Seharusnya dia tidak membuat Chanyeol menunggu untuk waktu yang lama. Seharusnya─

"Kau bisa meninggalkanku kalau kau tidak bisa menunggu."

e)(o

Luhan memasukkan semua makanan yang dibuatnya. Termasuk dengan sisa makanan tadi pagi yang membuatnya harus mendapatkan komentar adiknya. Pada akhirnya, Jaemin tetap melewatkan sarapannya dengan susu. Tak jauh berbeda dengannya yang sudah menyerah soal memasak. Mungkin ia tidak pernah paham cara memasak, menuang bumbu atau sekedar menggoreng telur. Faktanya, ialah orang yang tidak berguna jika jauh dari ibunya.

Luhan menyuap ramen yang dibuatnya. Memakannya dengan lapar sebelum membuang wadahnya ke dalam plastik sampah. Ia bukannya pelit. Ia mungkin bisa membeli banyak makanan dengan uangnya, tapi ia kembali teringat dengan bahan-bahan makanan yang kemarin dibelinya.

Di luar, matahari sedang tinggi terik-teriknya. Apalagi di sekitar lingkungan rumah Luhan yang begitu padat penduduk. Rasanya terlalu mencekik karena tidak mendapatkan angin segar. Namun walaupun begitu, lingkungan rumahnya cukup tentram dan damai. Tidak ada sedikitpun sesuatu yang mengganggu seperti keramaian di Seoul.

Luhan susah payah membuka pintu rumahnya. Kedua tangannya penuh dengan kantung sampah hitam berukuran besar. Tak sengaja matanya bergulir pada sosok tinggi di depan pintunya. Memasang wajah sedatar dinding sambil menopang diri dengan dua tongkatnya.

Luhan nyaris melepaskan kantung sampahnya karena terkejut. Tapi dengan segera kekesalannya soal semalam membutakannya soal tata krama. Ia pun pura-pura tidak melihat pria itu dengan terus melewatinya.

"Kenapa kau tidak mau kembali?" tanya pria itu menatap punggungnya.

Luhan membuang nafasnya berat. "Aku sudah bilang aku tidak bisa kembali dalam waktu dekat." Ia pun menendang pintu pagarnya, sesegera mungkin keluar untuk mencari keberadaan bak sampah besar yang diletakkan di bawah lampu jalan.

Dua dari tiga bak sampah di depannya telah dibuka. Ia kemudian memasukkan isi kantung sampahnya masing-masing ke tempat yang seharusnya. Luhan pun sudah memisahkan dua jenis sampah sebelumnya, sehingga ia kini hanya akan membuangnya dengan cepat tanpa perlu mengacak-acak isi kantungnya.

Kembali memasuki pagarnya, Luhan kembali mendesah lelah. Ia pun segera membuka sarung tangannya, lalu mengantongi keduanya pada kantung apron hitam yang masih ia kenakan sejak tadi. Sedangkan Sehun masih berdiri di dekat pintu. Menunggunya seperti sebuah patung taman atau mungkin orang tolol yang terus menunggu bus terakhir di halte.

"Apa yang terjadi denganmu?" tanyanya setelah Luhan sampai di pintunya. Namun Luhan berusaha untuk tidak mendengarnya. Lantas ia terus menimbang, apakah ia harus memasukkan Sehun ke dalam rumahnya atau menyuruhnya pulang dengan baik-baik?

"Luhan?" Sehun kembali meminta penjelasan. Dan kali ini pria pucat itu kesal karena diabaikan.

"Menurutmu kenapa aku harus kembali?" tanya Luhan menurunkan lipatan lengan bajunya. "Bukankah sama saja? Kau juga bisa menghubungiku saat kau membutuhkanku."

Sehun membuang nafasnya lelah. Luhan pikir selama apa dia di depan rumahnya, saat ia lelah mengetuk pintunya lalu tidak mendapati seorang pun yang mau membuka pintunya? "Kau marah padaku?"

"Aku selalu marah padamu!" tandas Luhan kesal. Ia sendiri bingung mengapa Sehun tidak pernah memikirkan kesalahannya. Minimal pria itu minta maaf padanya, sesederhana itu─sebenarnya─untuk mengembalikan mood Luhan yang kacau seperti ini. "Kenapa kau tidak pulang saja?"

"Aku baru saja naik taxi," sanggah Sehun begitu polos, meski itu tidak akan jadi lucu di mata Luhan.

"Kau bisa memanggil taxi itu kembali."

Maka Sehun sedikit merentangkan kedua tangannya. "Aku tidak membawa ponselku."

"Ada halte bus di dekat minimarket," tunjuk Luhan dengan lengannya. Tapi Sehun sama sekali tidak melihat kemana telunjukknya mengawang. Pria itu hanya ingin terfokus padanya. Tidak pernah hilang sorot itu mengkap kedua maniknya.

"Itu membutuhkan waktu tujuh menit untuk sampai di halte," jawabnya begitu lembut di telinga Luhan.

Luhan berdecak kesal. Tak habis pikir kalau Sehun sangat pintar memberi alasan. "Akan ku telpon Minseok untuk menjemputmu."

Tapi belum Luhan menjuput ponselnya di saku, Sehun sudah menahannya. "Minseok pergi ke Busan hari ini."

Luhan membuang wajahnya. Ia sendiri mendesah sambil memijit kepalanya yang berdenyut. "Masuk," tuturnya yang akhirnya menyerah. Ia pun membuka pintunya lebar-lebar untuk Sehun. "Aku tidak bisa memasak. Kau mau roti bakar?"

"Tidak," tolak Sehun yang kemudian memasuki rumah Luhan yang tampak kecil itu. Matanya mengedar pada seluruh dinding. Mengabsen beberapa frame potret keluarga Luhan. Dan juga deretan penghargaan semasa sekolah Luhan dan juga adiknya di lemari kaca.

Melihat Sehun yang terus menginspeksi rumahnya, Luhan pun menjadi tidak enak sendiri. Karena bagaimana pun ia belum melakukan beres-beres, sebab terlalu sibuk memikirkan apa yang harus ia makan malam ini. "Kalau kau kemari hanya untuk membuatku berubah pikiran, maka pulanglah. Tempat ini tidak layak untukmu."

Sehun beralih menatapnya dengan senyum kecil. "Kalau kau senang berada di rumahmu, maka aku juga akan senang."

Luhan berdecak memasuki dapurnya. Bergegas membuka pintu kulkas lalu mengambil sekotak susu disana. Masa bodoh dengan perkataan pria pucat yang aneh itu sampai membuat jantungnya berdegup di dalam sana. "Jangan bersikap seperti itu."

"Kenapa?"

Luhan sendiri tidak tahu pasti jawabannya. Ia hanya merasa kalau semua yang dilakukan Sehun ini tidak layak diterimanya. Kalaupun Sehun tengah mencoba membuatnya senang, maka itu semata-mata hanya karena ia ingin membujuknya kembali ke rumahnya. Jadi ia harus meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak bahagia karena sebuah hal yang tidak pasti. "Duduklah disini," tunjuknya pada sebuah sofa.

Luhan akhirnya hanya bisa meletakkan sekotak susu yang dibawanya ke atas meja. Tidak bisa lama-lama diam menemani Sehun. Karena ia harus segera mengepel seluruh lantai rumahnya, membersihkan kamar mandi dan juga mengantar pakaiannya ke tempat laundry.

Tapi sayangnya, Sehun kembali membuatnya jengkel. "Aku tidak minum itu," ujarnya.

"Jangan sok dewasa, semua orang suka susu," hardik Luhan tidak terima kalau minuman favoritnya disepelekan. Pria dengan hoodie putih itu kemudian hanya bisa menjauh dari sana untuk menjemput alat pelnya─sebelum kekesalannya memuncak. "Bermimpilah kalau disini ada kopi."

Sehun mau tidak mau menjuput kotak susu itu. Memperhatikannya dengan amat sangat detail, sampai sempat memeriksa masa expired minuman itu. Otaknya sebenarnya tengah menimbang banyak hal. Ingin memberanikan diri untuk melakukan hal yang sebelumnya Minseok sarankan. Tapi entah mengapa rasanya begitu sulit untuk melakukannya.

Luhan sendiri sudah mulai meletakkan embernya di lantai. Mencelupkan alat pelnya ke dalam ember, lalu mulai mengepel lantai dapurnya tanpa memerdulikan Sehun di sofa. Terserah apakah Sehun akan menikmati susu yang diberikannya atau tidak. Bukankah setidaknya ia sudah mencoba menjamu tamunya dengan baik?

"Maaf," gumam Sehun begitu pelan. Nyaris Luhan tidak mendengarnya.

Pria bersurai coklat itu lantas menegakkan punggungnya. "Huh?"

"Kau mendengarnya," sambung Sehun tidak begitu jelas.

Yang mendengarnya kemudian lebih tercengang. Merasa takjub dengan permintaan maaf Sehun, sampai melupakan alat pelnya. Bukan apa-apa, hanya saja Luhan tidak pernah tahu pria itu bisa meminta maaf untuk menyesali sesuatu yang dilakukannya.

Sehun akhirnya membuka kotak susu itu. Terlihat mencicipinya sedikit, sebagai penghargaan besarnya pada si tuan rumah.

Luhan sendiri mulai membuang nafasnya pelan. Anggap saja membuang rasa kesalnya karena begitu mudah luluh dengan permintaan maaf pria itu. Ia sendiri merasa bersalah karena sudah membuat kesepakatan diam-diam dengan Kris. Jadi bukankah harusnya ia tidak sejahat ini padanya?

"Kau seperti bukan Sehun."

Sehun menangkap maniknya. Terlalu datar wajah itu menatapnya untuk menanyakan sesuatu seperti, "Lalu seperti apa Sehun yang kau kenal?"

Luhan berkedip. Ia tersadar karena jantungnya kembali meribut. Ia pun kembali melarikan diri dengan melanjutkan pekerjaannya dalam keheningan.

"Bagimu aku orang yang seperti apa?" ulang pria pucat itu kembali membuat dadanya bergemuruh.

"Orang yang menyebalkan, pemarah dan juga─tidak sabaran," jawab Luhan sangat berusaha meringkasnya. Ia pun sama sekali tidak memandang Sehun saat mengatakannya. Ia terus mengepel lantainya sampai tidak sadar kalau ia sudah sampai pada sofa tempat Sehun duduk.

Sehun memandangi kotak susu di jemarinya. "Tapi kau menyukaiku."

Mendengar itu Luhan langsung melotot pada si pembicara. Tapi tidak lama matanya kembali berpaling untuk menghindari senyum Sehun yang sangat tidak baik untuk jantungnya. "Aku tidak menyukaimu."

"Kau bahkan tidak bisa menatap mataku saat mengatakannya."

Luhan memejamkan kedua matanya sejenak. Sangat berusaha untuk tidak memukul sosok aneh itu dengan alat pelnya. Ia lantas berbalik, memasukan alat pelnya kasar ke dalam ember. "Pergilah dari rumahku jika kau sudah selesai."

e)(o

Seorang pria dengan kemeja hitamnya masih menunggu di tepi jendela. Rambutnya yang pirang bersinar ditempa malam. Ia tidak berbalik sedikitpun ketika seseorang diam-diam membuka pintunya. Menatap bayangannya dari jendela kaca, sampai pria tinggi itu terkekeh sendiri.

Segelas minuman kemudian berhasil ia telan dengan tenang sebelum pria yang ia percaya menutup pintunya rapat-rapat. Meninggalkannya hanya berdua dengan sosok yang sudah 24 jam ini ia tunggu. "Jadi kau sudah memutuskan?"

Pria penuh luka itu kemudian membuang sebuah kertas di atas mejanya. "Kau mendapatkannya."

Pria pirang itu berbalik menemukan sosok menyedihkan itu. Untuk sekali lagi, ia mendapatkan apa yang ia inginkan. "Seperti yang kukatakan, aku akan mengirimkan kepalamu pada Jack─"

"Lakukan apapun yang kau inginkan, Kris," potong pria itu menyerah. Ia sendiri sudah berdiri penuh luka, seperti tidak berdaya pada hidupnya sendiri.

"Tapi bukan kepala Huang Zitao di depanku ini." Pria itu tersenyum miring meletakkan gelas kosongnya di atas meja. "Aku masih membutuhkanmu untuk sesuatu yang lain."

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Happy Sehun Day! Yey! #tiupterompet

Semoga sehat selalu dan lebih bahagia tahun ini ya, Hun. Jangan tambah ganteng, aku gak sanggup. Nanti malah khilaf mau nikung :') #dijambakLulu

Awalnya mau aku up tengah malem nanti, tapi karena hari ini anak ayam ultah, ya udah aku up sekarang aja. Biar napa coba?

Oke wess, Terima kasih atas reviewnya.

See you next chap~