Saat pulang sekolah Irene menghampiri Jongin untuk menanyakan perihal masalah saat di ruang BK tadi. Wanita itu bahkan rela menunggu di depan kelas Jongin yang sedikit pulang terlambat karena ada pelajaran tambahan.

"Irene?"

"Jongin~ kau tak apa?" Sesungguhnya Jongin benar-benar tak ingin melihat wajah Irene karena seketika rasa kesal nya kembali lagi. Dan Jongin benci saat dada nya kembali sesak karena wanita itu.

"Kau tak apa? Aku dan Chanyeol sebenarnya ingin menunggu lebih lama, namun bel masuk sudah berbunyi. Dan kami juga di usir oleh guru tadi." Ucapnya menyesal. Bibir nya bahkan sudah tertekuk sehingga membuat wajah Irene semakin imut.

'Pantas saja Sehun masih mendekati nya. Irene memang sangat cantik. Aku sebagai wanita saja iri padanya '

"Tak perlu khawatir aku baik-baik saja."

"Baiklah. Kalau begitu kau harus mau ku teraktir hari ini." Jongin sangat merutuki ketiadaan Chanyeol saat ini. Pria itu harusnya ada disini, dan bukan nya pergi ke suatu tempat yang Jongin tidak ketahui.

"Tapi aku harus mengajar Sehun. "

"Kalau begitu kita ajak saja Sehun. Kita bisa belajar bersama. Kebetulan aku tahu kafe yang nyaman untuk belajar di dekat sini. Ayo." Tanpa meminta persetujuan dari Jongin, Irene langsung menyeretnya kedalam mobil dan tak lupa memberitahu Sehun tentang rencana ini.

ㅡㅡ

Chanyeol sedikit merasa bersalah saat melihat Jongin ditarik paksa oleh Irene. Pria itu mungkin tak tau apa yang terjadi pada sahabatnya itu sehingga ia terlihat menjauhi Irene. Tapi sebagai sahabat dia tau jika Jongin sedang memiliki masalah dengan Irene.

Bibir Chanyeol otomatis terangkat saat melihat sosok perempuan yang berada di persimpangan jalan. Perempuan yang menggunakan seragam yang sama dengan nya. Dengan sedikit berlari Chanyeol pun menghampiri orang itu.

"Maaf lama menunggu. Ada pelajaran tambahan tadi."

"Tak apa." Perempuan itu tersenyum lalu menggeleng pelan.

"Kalau begitu kita pergi sekarang?"

"Eum!"

Skip

"Jadi bagaimana dengan masalah tadi? Apa Krystal di hukum?" Perempuan yang ternyata Baekhyun itu pun hanya mengidikkan bahu nya. "Aku juga tidak tau. Guru Cha mungkin hanya akan memberikan skors selama 3 hari untuk nya, kau tau kan siapa orang tua Krystal."

Chanyeol mengangguk. "Tapi apa hubungan mu dengan Krystal sebenarnya? Lalu mengapa kalian membawa-bawa nama Sehun tadi?"

Baekhyun menghela nafas nya, sebenarnya dia tak ingin ada orang lain yang tau akan hal ini. Tapi dia juga tak tega membiarkan Chanyeol penasaran seperti itu.

"Sebenarnya aku dan Krystal bersepupu. Beberapa waktu lalu dia menyuruhku untuk mendekati Sehun dengan alasan agar aku dapat mendekatkan Sehun dengan nya. Namun rencana itu gagal karena Sehun malah menjadikan aku sebagai kekasih nya. Lalu kami tidur bersama. Dan itu lah yang membuat Krystal marah padaku." Wajah penuh tanya Chanyeol kini berubah menjadi datar. Dia tau jika Sehun dan Baekhyun memang memiliki hubungan spesial. Namun mendengar fakta bahwa mereka sudah pernah tidur bersama membuat Chanyeol merasa tertampar oleh kenyataan.

Dia sempat berpikir bahwa ada kesempatan bagi nya untuk menjadikan Baekhyun miliknya, apalagi mereka menjadi dekat sekali dalam seminggu ini. Namun ternyata ia salah, Baekhyun pasti masih sangat mencintai Sehun karena ia bahkan memberikan kehormatannya pada pria itu.

"Tapi aku dan Sehun sudah tak memiliki hubungan apapun sekarang." Tangan Baekhyun dengan lancang meremas tangan Chayeol yang ada di hadapannya.

"Chanyeol sunbae... aku menyukaimu."

ㅡㅡ

"Bagaimana bagus bukan?" Ujar Irene saat mereka bertiga sudah berada di dalam kafe. Jongin hanya mengangguk kecil, sementara Sehun hanya menatapi Jongin dari belakang. Dalam benak nya terpikirkan cara untuk membuat Jongin semakin cemburu pada nya. Dan Sehun dapat memanfaatkan keberadaan Irene.

"Kita duduk di area sudut saja. Kita bisa duduk lesehan di sana." Mereka pun di seret Irene untuk duduk di tempat yang sudah Irene pilih itu.

"Kalian ingin pesan apa?"

"Aku ingin air putih saja. Aku sudah kenyang." Irene kembali mengerucutkan bibir nya. "Kau bahkan tak sempat makan saat di kantin tadi." Kini giliran Sehun yang bereaksi. Namun pria itu tidak menunjukan nya dengan jelas.

"Kau Sehun?"

"Sama kan dengan mu saja." Setelah itu Irene menyebutkan pesanan mereka pada sang pelayan.

"Kalian mulailah sesi belajar nya. Aku akan melihatnya dari sini."ujar Irene.

Jongin mengeluarkan setumpuk buku dan catatan nya. Tangan nya mulai membuka tiap lembaran buku tersebut. Hanya keheningan yang menyergapi mereka, sebelum Sehun mengeluarkan suara nya.

"Kau tak sekolah kemarin bukan?" Tanya Sehun pada Irene yang hanya di balas anggukan oleh si wanita.

"Kau sakit?" Jongin tak dapat menahan dirinya untuk tidak memutarkan bola matanya malas saat mendengar pertanyaan sok khawatir dari mulut buaya Oh Sehun itu.

"Aku yakin Irene pasti masih sakit hingga sekarang."

"Kau benar Jong. Tapi kau tahu dari mana?"

"Aku melihat betapa kasarnya Sehun saat malam itu. Ku sarankan, seharusnya kalian melakukannya di dalam kamar saja dari pada di jok mobil" Jawab Jongin yang masih menatap rentetan kalimat di buku nya. Sementara kedua orang tersebut terkejut akan ucapan Jongin , apalagi Sehun. Dia jadi mengerti mengapa Jongin sangat kesal dengannya dari kemarin.

"Sehun bisakah aku izin hari ini? Ku rasa aku juga sedang sakit sekarang." Jongin kembali memasukkan tumpukan buku nya ke dalam tas dan pergi dari kafe tersebut.

"Biar ku antar." Sehun berusaha menahan pergelangan tangan Jongin.

"Tak perlu. Antar saja Irene."

"Irene membawa mobil sendiri." Sehun sekarang sudah ikut berdiri di samping Jongin tanpa melepaskan pegangannya.

"Ku bilang Tak Perlu!" Awalnya Sehun ingin membujuk Jongin dengan sabar, namun melihat Jongin yang sepertinya tak akan pernah jinak pun membuat Sehun jadi sedikit lepas kendali. Tangan yang awalnya hanya menggenggam pun kini sudah menarik Jongin keluar dari tempat itu dan meninggal kan Irene sendirian.

"Aku bilang tak perlu, sialan!"

"Kau sedang emosi. Bagaimana mungkin aku membiarkan mu pulang sendirian dengan keadaan seperti ini." Sehun mendorong tubuh gadis itu agar bisa masuk ke dalam mobil nya. Saat sampai di bangku kemudi pun Sehun segera mengunci pintu mobil agar Jongin tidak dapat kabur. Saat mesin mobil di nyalakan, Sehun baru sadar jika Jongin belum memasang seatbelt nya sehingga sang pemuda berinisiatif untuk memasangkan nya meskipun Jongin tak kunjung merespon nya.

Skip

Kenyataan nya mereka tidak benar-benar pulang, karena sekarang mobil Sehun sudah terparkir di depan sebuah kedai terkenal di Seoul. Sehun adalah orang pertama yang turun dari mobil tersebut, namun tidak bagi Jongin. Karena gadis itu tetap duduk di dalam mobil dan itu membuat Sehun membukakan pintu mobil untuk nya.

"Turunlah..."

"Kalau begitu tunggulah disini." Sehun mengunci mobil untuk menghindari kaburnya Jongin.

Beberapa saat kemudian Sehun datang dengan membawa bungkus makanan. "Makan ini."

"Aku ingin pulang."

"Makan dulu. Kau belum makan sejak siang tadi."

"Aku bahkan tak mati saat tidak makan selama 2 hari. Jadi jangan berlebihan." Mendengar hal itu membuat Sehun ingin menghajar kedua orang tua angkat Jongin. Bagaimana bisa orang itu membiarkan Jongin kelaparan selama 2 hari?

"Kalau begitu makan lah sedikit, aku tak akan membiarkan mu pulang dengan perut kosong." Sehun membuka bungkus makanan tersebut.

"Aku tak bisa memakannya." Jongin membuat sang pria kembali kebingungan, entah mengapa setiap Sehun memberikannya makanan selalu ia tolak. Sebegitu bencinya kah ia pada Sehun?

"Kenapa kau menolak setiap makanan yang ku berikan?"

"Sebenarnya aku alergi dengan beberapa makanan. Itu sebabnya aku selalu menolak untuk memakan apapun dari orang asing."

"Kau seharusnya bilang. Kalau begitu kita cari makan di tempat lain-"

"Kita makan di tempat pilihanku saja." Sehun segera menyetujuinya sebelum si gadis kembali berubah pikiran.

Sehun janji pada dirinya sendiri, jika nanti Jongin sudah menjadi miliknya, dia tak akan membiarkan gadis itu untuk cemburu atau pun marah. Karena Jongin menjadi 100 kali lebih emosional dari biasanya.

ㅡㅡ

Sehun hanya menatap makanannya datar. Sungguh selera Jongin benar-benar aneh. Jangan tanya mengapa Sehun terus menggerutu saat ini, apalagi jika bukan karena tempat makan Jongin yang benar-benar di luar dugaan Sehun. Mini market. Dengan masing-masing satu ramen cup di depan mereka.

"Kau tak makan?" Tanya Jongin dengan mulut penuhnya. Tangan nya bahkan tak berhenti menggerakan sumpit nya, meskipun mulutnya masih penuh dengan makanan.

"Aku sudah kenyang melihatmu makan."

"Oke." Dengan tampang tak perdulinya Jongin melanjutkan acara - mari - makan - ramennya. Kalian tahu bukan jika dia belum makan dari pagi.

Tapi acara makan nya terganggu saat tangan Sehun dengan kurang ajarnya bermain-main di atas kepalanya.

"Jangan mengganggu ku!"

"Suapi aku..."

"Tak mau. Kau sudah memiliki makanan sendiri." Seru Jongin. Enak saja! Sehun kan sudah memiliki satu cup ramen di depannya. Kenapa dia malah ingin memakan milik Jongin? Jongin kan masih lapar.

"Kalau begitu aku tak akan menjauhkan tangan ku." Dasar keras kepala! Batin Jongin.

"Ya sudah, taruh saja tangan mu. Aku tak perduli. "

Tapi keputusan Jongin salah. Dan dia mulai menyesali kalimatnya tadi. Bahkan penjaga kasir mini market tempat mereka makan sekarang sudah menatap keduanya dengan mulut menahan tawa.

Bagaimana tidak?! Tangan Sehun yang berada di kepala Jongin yang tadinya hanya mengelus-elus berubah menjadi menepuk-nepuk. Apalagi jika posisi sumpit sudah akan masuk kedalam mulut nya.

Puk

Puk

"Yak!!" Hampir saja Jongin tersedak sumpit karena ulah Sehun.

"Apa? Bukan kah kau yang membolehkan tanganku berada di atas kepalamu dibandingkan menyuapiku?" Ujar Sehun sok polos.

"Kalau begitu mendekatlah..." dengan terpaksa Jongin menyuapi pria itu.

Slruuup

"Mmhh... ramen mu enak sekali. Kalau begitu suapi aku lagi."

"Merek nya sama dengan milikmu Sehun... makanlah milikmu." Sehun mengambil cup ramen milik nya, lalu menaruhnya ke depan Jongin.

"Kalau begitu suapi aku dengan ramen ku."

"Kau memiliki 2 tangan yang sama dengan ku. Jadi lakukan sendiri." Ujar Jongin kesal.

"Tak mau! Rasanya berbeda dengan jika kau yang menyuapi ku."

"Baiklah baiklah. Buka mulut mu!"

"Aaah..." bukannya menyuapi Sehun, Jongin malah membawa mie itu kedalam mulutnya sendiri dan membuat Sehun membelalak.

"Kau curang!"

"Hahaaha..." mendengar gerutuan Sehun membuat Jongin tertawa. Sungguh wajah Sehun sangat lucu saat ini. Namun bukan nya kesal karena sudah di tertawakan, Sehun malah ikut tersenyum.

"Ini baru Kim Jongin yang ku kenal. Jangan pernah perlihatkan wajah murung mu lagi padaku. Karena aku tak menyukainya." Jongin berhenti tertawa, ia membalas tatapan yang di berikan Sehun.

Chup

"Aku menyukaimu Jongin." Dan dengan seenak jidatnya Sehun mengecup pipi Jongin.

Tbc

Note: segini dulu. Thanks buat kamu yang udah review.

emang susah banget nulis di ffn ini, tapi aku juga cinta mati sama ffn hehe...

Dan Terima kasih udah mampir para silent readers...

See you.