TWO SIDES

by Gyoulight

.

.

.

.

.

HUNHAN FANFICTION

GENRE: Drama, Romance

RATING: T

.

.

.

.

.

Luhan hanya bisa membuang nafasnya ketika menatap dua orang yang masih memandangi piringnya. Mungkin sudah setengah menit keduanya tidak bergerak dari kursinya. Minimal mereka bergerak untuk menjuput hidangan makan malamnya, tapi sepertinya sampai langit terbelah pun itu semua mustahil terjadi.

Jaemin sendiri sangat tahu bagaimana hambarnya rasa sup atau asinnya mie tumis buatan Luhan. Ia sendiri pening menatap meja makannya yang begitu sepi dari masakan ibunya. Lantas ia hanya bisa menjuput kimchi sebagai teman nasinya. Memilih diam, sebelum Luhan memukul kepalanya dengan mangkuk.

"Makan supnya," saran Luhan tidak perduli sudah mengunyah masakannya yang buruk. Lidahnya sendiri seakan sudah mati rasa dengan hasil masakannya. Maka otaknya selalu berteriak 'itu bisa dimakan' selama perutnya meraung lapar.

Sehun masih menyelidiki sup taoge itu dengan mata bulan sabitnya. Dipikirnya sebuah sup adalah selalu campuran daging atau sayur. Tapi hari ini ia menemukan makanan yang disebut sup tapi hanya berisi taoge, terlebih taoge yang masih mentah. "Kau sebut ini sup?"

"Kalau tidak mau kau bisa makan mienya," jawab Luhan yang masa bodoh dengan mereka yang membenci masakannya.

Pria pucat itu kemudian secara otomatis menatap mie tumis di sebelah mangkuk supnya. Mienya sampai kering dan sayurannya overcook karena terlalu lama ditumis. Lalu jangan lupakan warnanya yang berubah menghitam karena kebanyakan dituang saus tiram. "Kau mau bilang ini makanan manusia?"

"Aku sudah bilang dia hanya tidak bisa memasak," celetuk Jaemin yang meraih gelasnya. Walaupun ia tidak suka masakan kakaknya, entah mengapa ia lebih tidak suka kalau kakaknya itu direndahkan oleh orang lain.

"Lalu jangan dimakan!" larang Luhan dengan amat sangat tidak suka. Bukankah sudah seharusnya mereka sedikit menghargai hasil jerih payahnya? Setidaknya tidak berkomentar kejam atau minimal berpura-pura menjadi romantis seperti di film, dimana pemerannya tetap makan dengan senang hati dan tidak perduli bagaimana tidak enaknya hasil masakan orang yang pujanya. Tapi sayang itu hanyalah hayalan banyak orang, jadi Luhan tidak akan mendapatkannya dimanapun.

Sehun meliriknya dengan tatapan datarnya. Nasi pria itu mulai mendingin tak tersentuh dan itu menjadi sangat menyebalkan bagi Luhan karena mungkin ia harus mengembalikan nasi itu kembali ke dalam alat penanak nasi. "Kenapa kau tidak membeli sesuatu kalau kau tidak bisa memasak?"

"Kau pikir berapa yang akan kuhabiskan jika bocah ini makan tiga kali sehari dengan makanan yang ia suka?" Luhan menunjuk wajah Jaemin yang sibuk mengunyah makanannya.

Berkedip pemuda itu menatap kakaknya. "Aku jadi merindukan ibu," keluh Jaemin menunduk dalam. Inilah yang paling ia tidak sukai jika ibunya pergi. Ia akan memakan masakan kakaknya yang tidak normal sekaligus mendapatkan penjara hidup di rumahnya dengan ribuan omelan.

Luhan berdecak kesal. Ia sendiri sudah cukup kenyang dengan hidangan makan malamnya. Jadi biarkan ia minum dengan tenang malam ini. "Pergilah ke Daegu dan jangan pernah kembali lagi ke rumah!"

"Aku tidak bisa memakan ini." Kali ini Sehun yang mengeluh. Pria itu tahu-tahu sudah bersandar pada kursi, kemudian meminum air mineralnya sampai habis. "Aku harus memesan sesuatu."

Sehun kemudian mendapati ponsel menganggur di sebelahnya. Ia pun segera mengambilnya, tanpa perduli siapa pemiliknya. Jaemin, si pemilik, pun hanya bisa melirik ponselnya yang dibongkar tanpa izin. Selama orang lain tidak mengacaukan gamenya, Jaemin sebenarnya tidak keberatan soal itu.

Jaemin dengan mata berbinarnya melirik Sehun yang menyibukkan diri dengan mengutak atik ponselnya. Pria itu rupanya sudah melacak berbagai menu restoran yang tersedia di website. "Boleh aku memesan juga?" tanyanya akhirnya.

"Tentu saja. Aku kan sudah bilang, aku ini bos kakakmu," jawab Sehun tidak melirik Jaemin yang sudah ikut melihat berbagai menu. Sedangkan Luhan sudah memasang wajah tak sukanya pada Sehun yang mengabaikan seluruh hasil jerih payahnya.

"Tapi kau tidak terlihat kaya," celetuk Jaemin tanpa sadar diri.

Sehun sendiri sudah meliriknya kesal. Lantas ia menjauhkan ponsel itu dari pemiliknya. Tidak perduli bagaimana pemuda itu kini mencebik lucu. "Pesan saja apa yang kau inginkan!"

"Jangan mengajarkannya sesuatu seperti itu," celetuk Luhan yang kemudian membereskan alat makannya. Meninggalkan meja kemudian memindahkan benda-benda rentan pecah itu ke dalam wastafel.

"Aku hanya mentraktirnya makan," tak terima Sehun. Ia kemudian mengembalikan ponsel itu pada Jaemin. Membiarkan pemuda itu memilih menu yang ia inginkan.

Luhan kembali ke meja. Mengambil mangkuk Sehun yang tidak tersentuh lalu mengembalikannya ke tempat semula. "Kau baru saja mengajarkannya bagaimana kehidupanmu."

"K-kau mau juga?" Jaemin melirik kakaknya dengan ragu. Ia pun merasa kakaknya terlalu aneh pada hal kecil semacam ini. Padahal Luhan tidak sesensitif ini sebelumnya.

Ada jeda panjang ketika Luhan terdiam dengan kesibukan beres-beresnya. "Aku sudah kenyang," jawabnya kemudian.

Sehun lalu hanya bisa mengedipkan matanya. Merasa sedikit kosong ia menatap punggung Luhan yang semakin hilang di balik tembok.

e)(o

Jongin masih sibuk berbicara dengan telponnya ketika ia mendongak menyaksikan langit yang semakin menggelap. Angin malam begitu tumpah menerpa kemeja tipisnya. Dedaunan gugur pun baru saja mendarat di jalan. Membuat Jongin menendangnya halus, lalu hanya bisa menjawab 'ya' dengan apapun pesan yang pembicaranya sampaikan di telpon.

Jongin sebenarnya cukup malas berbicara dengan orang sepenting kepala-kepala yang menelponnya hanya untuk memuji atau mengucapkan selamat seperti barusan. Untungnya dia hanya Kim Jongin, bukan orang sepenting Sehun yang harus mendengarkan ini setiap waktu. Jadi dia tidak perlu repot untuk menghardik atau mengumpat untuk menghentikan mereka mencari perhatian.

Pria berkulit tan itu akhirnya bisa memasuki restoran dimana rekan-rekannya sudah tumpah di meja. Menegak bergelas-gelas minuman sampai sempoyongan, lalu meribut dengan banyak hal tanpa dirinya. Mereka bilang ini adalah pesta, tapi mereka nyatanya menyakiti diri sendiri karena terlalu senang. Jongdae jadi satu-satunya yang yakin dirinya masih sadar meski pria itu mengaku kepalanya sudah pening karena dikerumuni bau minuman.

Di seberang meja, sudah ada Junmyeon yang mulai bosan dengan pestanya. Ini pertama kalinya pria itu ikut bergabung dengan acara menyebalkan. Dan Jongin sudah menebak bagaimana pria itu akan bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak ikut ke pesta berikutnya.

Jongin mau tak mau harus membawa langkahnya menuju kasir. Ia tentu akan bertanggung jawab untuk biaya, maupun keselamatan rekannya untuk pulang. Maka ia membayar semua bill, lalu kembali duduk ke kursinya sambil mengecek arloji.

"Kau berhenti minum?" tanya Jongdae yang sudah repot menyingkirkan kepala Jaehyun yang menempel pada bahunya.

"Menurutmu kenapa seseorang tidak minum?" Jongin balik bertanya sampai Jongdae tertawa terbahak-bahak. Maka biarkan Jongin menduga kalau pria berwajah kotak itu sudah mabuk sampai gila.

"Kau harus menyetir?" kekehnya menunjuk wajah Jongin. Lantas pertanyaan tadi pun serasa sangat tidak penting lagi untuk diluruskan. Jawabannya saja sudah pasti begitu.

"Bisa aku pulang sekarang?" Tidak ada alasan untuk keduanya melirik Junmyeon yang mulai bosan di kursinya. Jongdae pun sempat memukul lengan Junmyeon dengan sendok saking kesalnya.

"Kau tidak boleh kabur. Setidaknya bantu aku mengurusi mereka."

Junmyeon berubah tidak suka. Apalagi dengan orang di sampingnya yang sudah mulai meribut dengan gelas kosongnya. "Dengar dinosaurus, aku tidak punya waktu untuk mengurusi orang mabuk."

"Lalu siapa lagi yang akan mengurus mereka, huh? Hanya kita yang sadar disini," protes Jongdae yang tidak perduli apakah Jumyeon lebih tua darinya atau tidak. Yang jelas ia merasa harus mengatakan ini sebagai rekan kerja satu kantor. Ya, meski keduanya bekerja pada ruang divisi yang berbeda.

Junmyeon mengeluh dengan membuang nafasnya. Ia kemudian memijit pangkal hidungnya karena terlalu ditekan oleh ganggang kaca mata tebalnya. "Aku harusnya tidak ikut dengan kalian."

"Aku paham kalau kau seorang introvert, tapi setidaknya kau harus punya rasa kepedulian."

Junmyeon berdecih. "Aku bukan seorang introvert!"

"Apa kalian berdua juga mabuk?" potong Jongin yang mulai bosan mendengar pertengkaran mereka.

"Aku tidak mabuk seratus persen!" Jongdae pun tersenyum kelebihan lebar. Tidak perduli seberapa jijiknya Junmyeon menatapnya.

"Ya, tapi tujuh puluh. Kau tetap tidak akan bisa menyetir," ejek Junmyeon memasang kembali jaketnya. Sedangkan Jongdae sudah menyiapkan berbagai umpatan untuk melawannya.

Jongin hanya bisa menertawakan keduanya. Melihat adu mulut kedua rekannya itu membuatnya teringat akan Sehun dan Baekhyun yang selalu bertengkar. Jongin pun bisa bertaruh kalau mereka tidak akan percaya, saat tanpa mereka pun Jongin selalu menjadi penengah di antara pertengkaran. Tidak bisa ia pungkiri lagi, kalau-kalau ia jadi rindu kedua sahabatnya itu.

Jongin akhirnya memutuskan untuk mengajak rekan-rekannya membubarkan diri. Membantu mencarikan mereka taxi atau menelpon supir panggilan, bersama Junmyeon yang sudah memapah dua rekannya untuk masuk ke dalam mobilnya. Pria itu kemudian dua kali menjadi lebih sibuk ketika harus mengurusi kemabukan Jongdae yang tetap ngotot untuk menyetir. Sampai pada Jongin yang menemukan sosok familiar yang baru saja keluar dari restoran.

Sosok Kyungsoo terlihat dari balik keramaian. Pria mungil itu masih terlihat rapi dengan kaca matanya, meski sedikit kerepotan dengan seseorang yang dipapahnya. Sayangnya, wajah yang penuh kebosanan itu harus ikut membantu rekan kerjanya. Tak jauh berbeda dengan Jongin yang terus membantu rekannya menaiki taxi.

Mata bulat itu kemudian menemukan tatapan Jongin yang selalu terpaku padanya. Seakan waktu terhenti, keduanya tetap di posisi. Dengan jarak cukup jauh, tapi dengan degupan hati yang masih bisa didengar di telinga masing-masing. Maka tidak butuh waktu lama sampai senyum Kyungsoo mengembang untuknya. Seakan menyapa dengan ramah dan juga menanyakan kabar karena lama tidak berjumpa.

Jongin akhirnya mendekat pada Kyungsoo dengan kikikan lucunya. Jongin sendiri sempat menggaruk kikuk kepalanya karena berhasil menyapa. "Aku tidak tahu kalau kau juga berada disini."

"Itu karena kita memesan layanan VIP," balasnya sedikit melirik kesibukan rekan Jongin di belakang sana. "Pantas saja di sebelah ruanganku ribut sekali."

Jongin tertawa kecil dibuatnya. Ia sendiri jadi merasa tidak enak hati karena sudah mengganggu kedamaian dokter itu. "Oh, maafkan aku."

"Kalian melakukan perayaan?" Untuk kesekian kalinya Jongin kembali gugup mendapati manik bulat itu menangkapnya. Terlebih bagaimana senyum itu terulas begitu lembut pada diri Kyungsoo.

Jongin mengangguk. "Kami baru saja menyelesaikan pekerjaan yang rumit."

Lantas ekspresi 'oh' pun menghiasi wajah lelah pria itu. Membuatnya berkali-kali lipat lebih manis sampai Jongin tidak bisa mengontrol detak jantungnya.

"Kau tidak bawa mobil?" tanya Jongin yang berusaha menemukan keberadaan mobil Kyungsoo di pelantara parkir.

Kyungsoo sendiri sudah menggaruk kepalanya. Sedikit kikuk ia kembali tersenyum. "Mobilku rusak pagi tadi."

Lantas Jongin tak kalah senang saat menawarkan, "Mau pulang bersama?"

"Kalau kau tidak keberatan," jawabnya mengendikkan bahu. Dan tidak akan ada yang tahu kalau Jongin sangat ingin berteriak senang mendengarnya.

e)(o

Kegelapan menyisir tiap sudut dinding. Sunyian pun mencoba untuk mengantarkan kantuk pada si pemimpi. Tapi dinginnya malam malah merembet sampai tulang. Membuat Luhan yang baru saja hendak terlelap dalam selimut tebalnya membuka mata lebar-lebar. Suara tetesan air dari dapurnya masih mengiang di telinga. Menghapus gelap, meski dari tempatnya berbaring, ia bisa melihat dengan jelas garis cahaya lampu dapurnya.

Luhan tidak bisa berbohong kalau ia tidak nyaman tidur di sofa. Ruang geraknya menyempit dan kakinya bosan jika terus ditekuk. Luhan lantas menurunkan kedua kakinya ke lantai. Mendudukkan dirinya lalu merubah posisi dengan cara yang lain. Namun tetap saja kantuknya tidak kembali sebagaimana ia sangat ingin beristirahat dengan tenang.

Memutuskan untuk duduk, Luhan pun menatap layar ponselnya yang sepi. Menyempatkan diri untuk menangkap angka jam yang berotasi, tak lupa mengusap habis wajah lelahnya. Luhan sendiri merasakan pegal yang luar biasa di tiap sendinya. Membuatnya sedikit malas bergerak, walaupun sekedar untuk minum air.

Kaki Luhan susah payah menggapai kulkas di dapurnya yang sempit. Meraih botol air mineral besar di rak bagian bawahnya, kemudian meneguknya dengan tenang. Mata rusanya tak sengaja menatap piring-piring makanan yang menumpuk di tempat cuci. Berusaha untuk tidak mengutuk adiknya dan Sehun yang sudah tidak tahu diri karena tidak membersihkannya, alih-alih meninggalkannya tidur dengan tenang entah dimana.

Menutup pintu kulkas, akhirnya Luhan memutuskan untuk mencuci wadah-wadah kotor itu. Ia mengambil sarung tangan karetnya. Memasangnya dengan damai sebelum kedua matanya mengantuk lalu tidak jadi melakukannya.

Suara piring dan air kemudian menggema dalam petakan dapurnya. Tidak perduli apakah Sehun yang sudah terlelap di kamar miliknya akan mendengarnya atau tidak karena letak kamarnya berada di bawah. Bisa dibilang sangat dekat dengan dapur dibandingkan dengan kamar adiknya di atas sana.

Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar sampai ke telinga Luhan. Melirik kegelapan pekat di ruang tengahnya yang sepi sampai membuatnya sedikit berpikir hal-hal yang mustahil. Ia pribadi tidak percaya hantu sebelumnya. Tapi entah mengapa untuk sekarang semua keberaniannya sudah luluh pada semua cerita horror.

Sosok hitam pekat yang mendekat membuat mata Luhan semakin melotot. Mangkuk yang berada digenggamannya pun terlepas begitu saja. Menghantam piring-piring di bawahnya hingga menimbulkan suara ribut. Semakin dekat, semakin besar bayangan itu bertransformasi.

Kemudian─

"Sehun?" Sosok Sehun kemudian muncul menginjak lantai dapurnya yang terang benderang. Wajahnya masih sedatar siang tadi. Gurat kantuknya bahkan tidak terlihat dimana pun. Nyaris saja Luhan memecahkan jantungnya sendiri karena ketakutan. Ia lega karena bayangan itu hanyalah seorang Sehun, bukan hantu laut yang selama ini menghantuinya.

"Aku tidak bisa tidur di kamarmu," keluh pria pucat itu membuka kulkas tanpa izin. Ia lantas mencari air mineral di rak bawah. Menjuputnya dengan bebas seakan tidak butuh meminta pada si pemilik.

Luhan yang masih tidak percaya air minumnya direbut, malah mematung tanpa perduli air kerannya mengalir dengan sangat ribut. "Pulang saja kalau begitu," omelnya yang kemudian mau tidak mau harus melanjutkan pekerjaannya. Memunggungi Sehun yang sudah mengoceh tentang keluhannya pada sebuah ranjang yang tidak akan muat untuknya.

"Bisa kau bantu aku kesana lagi?" tanyanya kemudian. "Chanyeol akan menjemputku sebentar lagi."

"Ya─" Luhan membuka sarung tangannya. Seakan paham dengan apa yang dikatakan Sehun, ia langsung menerima kedua tongkat pria itu. Menyandarkan benda itu di sembarang tempat lalu meraih tangan Sehun untuk ia kalungkan pada bahunya.

Luhan menyeimbangkan langkahnya dengan langkah pelan Sehun. Membantu pria itu mencapai tangga sebelum ia benar-benar membawanya naik ke lantai atas. Kalau saja kamar mandinya di pojok sana tidak bermasalah, mungkin Sehun tidak akan kesulitan untuk pergi sendiri.

Luhan pun paham bagaimana pria itu menghindari tangga sejak kecelakaannya. Dan kali ini ia harus menaiki tangga untuk sekedar pergi ke kamar mandi. Malangnya seorang Sehun itu tentu membuatnya merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu.

"Soal kemarin, aku minta maaf," ujar Sehun mengejutkan Luhan yang sejak tadi terdiam menatap pijakan mereka. Ia akhirnya bisa melakukan permintaan maafnya. Sungguh bodoh, kalau ia bisa mengkritik dirinya sendiri.

"Jangan membahasnya," respon Luhan tidak mau dengar. Ia sendiri sudah tidak ingin mengingat hal yang menyebalkan seperti itu. Jadi sejak Sehun berada di rumahnya, ia sudah susah payah mencoba untuk tidak mengingat kekesalannya. Karena tentu sangat sulit mendapati orang yang menyakiti hati berada di tempat yang sama denganmu tanpa minta maaf.

Mereka kemudian sampai pada anak tangga pertama. Sehun pun memulai langkahnya dengan mengeratkan pegangannya pada Luhan. Susah payah ia menggerakkan kedua kakinya. Hitung-hitung ia melatih kakinya bergerak setelah melepas gipsnya.

Sehun meringis menahan rasa ngilu di kakinya. Ia terus melanjutkan langkahnya sampai Luhan ngeri sendiri menyaksikannya. "Kau benar-benar tidak ingin kembali ke rumahku?" tanya Sehun tidak kenal waktu. Bukannya fokus pada langkahnya, ia malah membicarakan sesuatu yang Luhan kesalkan.

Luhan sukses terdiam. Ia tidak punya kata-kata lagi kalau sudah menyangkut hal ini. Ia pun hanya bisa mendengar detak jantungnya yang kembali menggila. Merasakan dinginnya kulit sehun yang menyentuh kulit tengkuknya. Sampai membuat wajahnya memanas ketika ia bisa melihat wajah Sehun dalam jarak sedekat ini. "Menurutmu kenapa aku harus kembali?"

"Minseok merindukanmu," jawab Sehun terlalu singkat. Masih sibuk dirinya menyisir anak tangga yang luar biasa banyaknya. Tapi senyum kecilnya diam-diam terpatri, merasa senang sendiri karena mendapati Luhan berbicara di sampingnya.

Luhan berkedip menurunkan wajahnya, seakan kecewa dengan jawaban itu. Padahal ia senang luar biasa kalau Minseok merindukannya. Tapi anehnya, ia terus merasa seperti menginginkan jawaban yang lain.

Kembali menatap kaki mereka yang saling menari di muka tangga. Luhan pun sebenarnya takut, kalau-kalau langkahnya salah lalu berubah mencelakai Sehun. "Aku bisa berkunjung kapan-kapan," tuturnya kemudian.

Sehun menghentikan langkahnya. Ia ingin beristirahat sejenak sambil mengambil nafas tenang. Karena sungguh itu benar-benar terasa menyakitkan baginya. Padahal mereka belum sampai setengah jalan. "Aku juga ingin kau kembali."

Luhan yang mendapati Sehun tidak melanjutkan langkahnya, akhirnya mendongak untuk menemukan wajah itu dengan raut khawatirnya. Ia mungkin bukan takjub dengan kalimat yang Sehun berikan, tapi sekedar untuk memeriksa apakah orang yang dipapahnya itu baik-baik saja.

Sehun balik menatapnya. Menangkap maniknya yang bergitu pekat menatap kepingan hazel itu. Alih-alih Luhan terpaku seakan menemukan bayangannya sendiri di dalam sana.

"Aku ingin melihatmu makan di meja makanku. Aku ingin kau mengganggu pagi-pagiku, aku ingin menemukanmu di perpustakaanku, meributkan sesuatu denganmu dan─" Sehun menjeda. Beralih ia menatap kaki-kakinya di bawah, seakan ingin mengatakan pada kakinya kalau ia tiba-tiba saja berubah gugup. Jadi kakinya tidak boleh menjadi dingin untuk mencegah semuanya menjadi berantakan.

Luhan tidak tahu mengapa pipinya berubah menghangat. Ia seperti mendapatkan cubitan manis pada hatinya. Memberinya sebuah kebekuan sekaligus sebuah tarikan aneh pada wajahnya. "Aku merindukanmu─" Senyum kecilnya pun terlukis kembali dalam tundukannya. "seharusnya kau bilang begitu."

Sehun menelan ludahnya sendiri. Pun jantungnya semakin kuat memberontak. Kegugupan hatinya semakin menjadi-jadi, tidak perduli bagaimana ia sangat ingin membasuh wajahnya sebelumnya. "Aku ingin memastikan satu hal sebelum aku pergi," sambungnya. Lantas saat degupan keenamnya, Sehun akhirnya memutuskan untuk bertanya, "Apa kau menyukaiku?"

Luhan kemudian hanya bisa membola menatapnya. Kakinya tiba-tiba mendingin, jantungnya tak luput dari berpacu dengan sangat ribut.

"Aku bertanya padamu, apa kau menyukaiku?" ulang Sehun sangat jelas di telinganya. Tapi lagi, syaraf Luhan membeku. Sama sekali tidak bisa menjawab apapun.

"Luhan?"

"Tidak," tegas Luhan. Ia sendiri terpaku dalam dirinya. Kembali menatap kedua kakinya yang masih bersejajar dengan milik pria itu.

Sehun lantas menarik tangannya dari bahu kecil itu. Membiarkan Luhan terus diam dalam tundukan sampai ia bosan sendiri─menunggu─untuk menemukan sepasang mata jujur yang ia cari. "Tatap aku ketika kau mengatakannya."

Luhan semakin membatu di tempatnya. Masih mencengkram kuat jantungnya, yang mungkin sebentar lagi akan segera melesak keluar. Ia pun heran sendiri mengapa ia tidak bisa menatap sepasang mata itu. Kenapa sangat sulit baginya untuk menatap mata Sehun seperti dulu?

Ia kembali mengeratkan genggaman jemarinya. Meyakinkan dirinya untuk mencoba menatap mata bulan sabit itu dengan sorot tak fokusnya. "A-aku tidak menyukaimu."

"Kenapa kau tidak menyukaiku?" Sehun kembali bertanya. Suara beratnya bahkan sudah membongkar habis sistem syarafnya. Menjadikannya gugup setengah mati, sekaligus menghantam ulu hatinya yang berdenyut. Tapi entah mengapa ia merasa harus bersih keras untuk menemukan alasannya.

"Aku takut." Jawabnya kembali menunduk. "Aku selalu takut ketika kau berada di sekitarku. Rasanya menyesakkan, sampai aku tidak bisa bernafas─"

Sehun menatapnya lekat-lekat. Menarik ujung dagunya sampai ia bisa menatap kedua mata gelisah itu. Tanpa kata, Sehun mendekat satu langkah. Mengikis jarak mereka yang sudah terasa sangat dekat. Pria tinggi itu kemudian menurunkan wajahnya, meraih belah bibirnya yang kering sebelum Luhan kehilangan seluruh nafasnya.

Luhan membatu merasakan dinginnya gelenyar itu di bibirnya. Darahnya dua kali lipat berdesir kuat di antara bungkus nadinya. Ia terus membeku, tidak tahu harus melakukan apa sampai kedua bola matanya melebar ingin terjatuh. Sebelum panas di wajahnya semakin menjadi, ia pun mendorong pria itu untuk menjauhinya. Mencegahnya untuk membuat kakinya lemas karena itu tidak akan baik untuk keseimbangan tubuhnya.

"K-kenapa kau melakukan ini?" tanya Luhan nyaris tak terdengar. Nafasnya sendiri memendek. Menjadikan kalimatnya bergetar tanpa ketegasan.

Sehun hanya terdiam menatapnya. Memenjarakan kedua matanya untuk tidak membiarkannya berlari walau hanya sedetik.

Luhan menarik nafasnya dalam-dalam. Menelan ludahnya kasar sampai ia menggigit bibirnya sendiri. Sempat mengecap hangatnya jejak Sehun disana, sementara ia menapakkan kembali segala pikirannya yang terbang. "Kita harus punya alasan untuk melakukan─"

Sehun beralih menyingkirkan tangan Luhan yang menekan bahunya. Memotong seluruh perkataannya dengan tega. Sedangkan jemarinya kini sudah menangkup rahangnya, kembali menciumnya dalam keheningan yang mengendap. Memangut bibirnya lembut namun lebih dalam dari sebelumnya.

Jiwa Luhan sendiri sudah terbang ke angkasa. Merasakan perutnya dipenuhi kupu-kupu terbang, lalu susah payah ia mencari segenggam oksigen untuk pasokan paru-parunya. Lengan-lengan kecilnya kemudian mencari pegangan. Menarik kemeja Sehun yang kusut, lalu terpejam ia dalam kumparannya.

"Aku menginginkannya," bisik Sehun di sela pagutannya. Nafas mereka kemudian saling bertukar. Saling beradu dalam jalinan imajiner. Tidak berbatas dan juga besekat seperti dahi mereka yang kini bersandar satu sama lain. "Apa itu cukup sebagai alasan?"

Luhan yang sudah mendengar alasannya, kemudian mengalungkan lengannya pada leher Sehun. Meraih pria itu mendekat kemudian balas menciumnya seperti kehilangan kesadaran diri. Tidak perduli bagaimana Sehun kembali mengeratkan belitan di pinggangnya. Melanjutkan peraduan mereka yang sudah terlanjur membumbung tinggi.

e)(o

Luhan merasakan kakinya seakan tidak lagi bertulang. Nafasnya masih terseok-seok mencari bongkahan udara yang menguap. Matanya yang sayu masih menatap kedua kakinya dan kaki Sehun di depannya. Ia pun akhirnya merosot duduk di anak tangga. Mengabaikan Sehun yang masih berdiri membatu di dekatnya.

Hening, tiada yang ingin berbicara. Menembus malam yang remang dengan cahaya lampu dapur yang membayang di lantai. Luhan masih memeluk lututnya, mencoba menghilangkan panas di pipi yang masih saja membakar wajahnya.

Sehun ikut duduk di dekat pembatas. Membuat jarak yang cukup berarti, termasuk membisu untuk sekian menit lamanya. Menghilangkan buncahan di dadanya, sambil melirik kosong lantai dapur yang disinari lampu. Anehnya ia tidak bisa berbicara, padahal hatinya senang luar biasa karena menemukan pria di sampingnya ini menyukainya.

"Aku tidak bisa mengantarmu kesana," gumam Luhan tidak menatapnya sekalipun. Kakinya sangat terbaca ingin sekali berlari pergi. Jauh-jauh, bila perlu keluar dari rumahnya. Tapi tenaganya seakan tidak tersisa. Entah, lenyap pergi kemana.

"Aku juga tidak jadi pergi kesana." Sehun tak kalah menggumam. Jiwanya sibuk mengkonfirmasi, bahwa yang ia lakukan barusan adalah nyata. Bukan mimpi seperti yang ia pikirkan sebelumnya.

"Aku─" Luhan mengeratkan genggaman tangannya. Semakin sulit baginya menelan ludahnya sendiri. Ia gugup, ia malu atau ia kacau, ia tidak tahu pasti yang mana yang mengambarkan dirinya.

Sehun kemudian meraih salah satu jemarinya. Menggenggamnya lembut tanpa perlu menariknya. "Kau boleh menyukaiku," bisiknya menerpa malam. Luhan sendiri sudah meliriknya dalam genangan keterkejutan. Matanya berkedip polos, begitu halus sampai Sehun diserang gugup. "Kau juga boleh marah padaku. Lakukan apapun yang kau inginkan─"

"tapi jangan pergi dariku."

Luhan tergugu. Ia tidak tahu mengapa hatinya berubah begitu lega ketika mendengar perkataan pria di depannya ini. Ia pun tidak bisa berbohong bahwa ia merasa hangat ketika genggaman kecil itu melingkupi jemarinya. Tidak paham mengapa ia tidak bisa marah ketika pria itu menciumnya, alih-alih ia juga tak kalah menginginkannya. Pikir kenapa?

Kau sedang jatuh cinta.

Sekarang perkataan Minseok terngiang di kepalanya. Menembus kesadarannya, sampai ia sendiri tersadar jika ia terlalu lama menatap pahatan wajah di depannya ini. Tapi jauh di lubuk hatinya ia begitu senang karena Sehun ada disini. Menghabiskan waktu bersamanya sejak siang, hingga ia sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa di dekatnya.

"Jadi, aku─" jatuh cinta padamu?

"Aku tidak akan memaksamu kembali ke rumahku." Sehun kembali membuatnya tidak berkutik. Sorotnya yang begitu teduh menautkan sejuta melodi indah di hatinya. Dan tidak ada satu alasan pun yang bisa membuat Luhan berpaling. "Tak apa jika kau ingin disini."

"Sehun─"

Benar, Luhan menyukainya. Luhan jatuh cinta padanya. Tidak ada alasan logis lain yang membuatnya sepadan dengan itu.

"Apa kau menyukaiku?"

Jadi apa salahnya menanyakan sesuatu yang membuatnya lebih lega? Ia juga berhak tahu, apakah dia diizinkan si pemilik hati untuk jatuh cinta padanya? "Kau tidak bisa melakukan itu jika kau hanya menginginkannya."

Namun Sehun tak kalah membuatnya bingung. "Lalu mengapa kau juga melakukannya?"

Luhan terpekur dalam. Ia menggali keyakinannya kembali ketika menatap lepas genggaman tangan itu. Dengan keberaniannya yang tenggelam, ia dengan jujur mengatakan sesuatu yang membuat Sehun menariknya ke dalam sebuah pelukan.

"Karena aku menyukaimu."

Sehun tanpa sadar menarik senyum di wajahnya. Hatinya bergulung-gulung di awan. Jiwanya melayang-layang di udara. Alunan dawai kembali mengusik dadanya. Membawanya menjadi orang yang paling tidak waras, karena berpikir bahwa kalimat itu adalah segala yang ingin didengarnya.

e)(o

Keduanya tak lama memutuskan untuk turun dari sana. Luhan dengan wajah penuh kaku menuntun Sehun duduk di sofa. Menjemput tongkat pria itu, lalu ikut duduk disana. Menemani Sehun, meski kantuknya sudah mulai mengajaknya menguap. Sehun sendiri menceritakan banyak hal padanya. Cerita tentang Baekhyun dan Chanyeol yang salah paham, Minseok yang kesepian dan juga cerita tentang adiknya yang malang.

Sehun yang terduduk di sofa, kembali menatap arlojinya tanpa bosan. Sudah pukul dua malam dan kakaknya tak kunjung datang. Sejenak ia melirik Luhan yang sudah jatuh tertidur di bahunya. Tangannya pun beralih menyentuh helaian rambutnya yang begitu coklat. Bahunya mungkin terasa kebas tapi melihat dengkuran halus Luhan membuatnya tidak tega untuk bergerak.

Sebuah senyum terlukis jelas di wajahnya ketika ia menyentuh pipi lembut itu. Keheningan damai dalam kegelapan lantas membuatnya semakin jelas melihat sosok sinarnya. Ya, hanya Luhan yang bisa merubahnya menjadi orang bodoh dalam semalam, atau mungkin mengubrak-abrik isi jantungnya ketika ia hanya menatapnya.

Andai Sehun tahu kalau ia telah jatuh cinta.

Perlahan Sehun beranjak, menurunkan kepala Luhan dengan amat pelan untuk mengubah posisinya. Tubuh itu kemudian mengeliat kecil, merasa terganggu dengan perubahannya. Lantas Sehun terkikik gemas menahannya untuk tidak terguling ke lantai. Ia pun mengambil selimut yang berserakan di lantai. Menyelimuti tubuh itu sebelum mengelus surainya.

"Aku pergi," bisik Sehun kemudian mengambil tongkatnya. Meninggalkannya diam-diam lalu berjalan mendekati pintu.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.