CHAPTER 21

Kyuhyun muak. Semua hal yang terjadi pada hidupnya membuatnya muak. Semua itu sudah melampaui batas toleransinya. Ia bosan hanya menjadi wayang yang menurut pada keinginan dalangnya.

Kyuhyun juga ingin bebas. Ia ingin merdeka menjalani hidupnya. Ini hidupnya, milik pribadinya. Terserah ia ingin mengisi hidupnya dengan apa saja yang ia mau. Ia ingin melakukan apa saja yang ia mau selama masih hidup.

Kyuhyun ingin menjalani hidupnya seturut keinginannya. Ada saat-saat tertentu ia merasa benci dengan dirinya sendiri. Ia ingin melarikan diri dari jerat yang membelenggunya. Ia ingin menukar apa pun yang dimilikinya dengan sebuah kebebasan.

Ironis memang. Di saat ada berjuta-juta orang yang menyandarkan hidupnya pada uang dan kekuasaan, Kyuhyun malah merasa sebaliknya. Uang hanya sebuah jerat baginya. Harta bagaikan simpul mati dari sebuah tali yang mengikat erat hidupnya.

Tapi, tak selamanya Kyuhyun seperti itu. Banyak yang ia syukuri dari hidupnya, meski tak sedikit pula yang dibencinya. Seiring usianya yang bertambah dewasa, ia juga mulai berpikir logis dan realistis.

Sedikit demi sedikit Kyuhyun mulai menerima jalan hidupnya, meski tak jarang ia bergulat dengan batinnya sendiri. Merutuki hidupnya yang tak sejalan dengan keinginannya.

"Melamun lagi," kata Siwon membuyarkan pikiran Kyuhyun yang berkelana jauh.

Kyuhyun menatap kakaknya itu sekilas lalu mengalihkan pandangannya lagi ke luar jendela kamarnya.

"Kau semakin sering melamun sekarang. Kau semakin suka menyendiri," lanjut Siwon.

Siwon melangkah mendekati adiknya itu, lalu duduk di samping Kyuhyun yang masih asyik memandang ke luar jendela.

"Tinggal berapa bulan lagi, Hyung?" tanya Kyuhyun.

"Huh, apa?" tanya Siwon.

"Aku tinggal di sini kurang berapa lama? Tak ada setengah tahun kan? Aku belum siap," ucap Kyuhyun.

"Kalau begitu jangan pergi," kata Siwon.

"Apa mungkin?" balas Kyuhyun penuh harap.

"Apa yang tidak mungkin di dunia ini? Semua bisa terjadi walaupun kadang di luar akal sehat kita," kata Siwon lagi.

"Maksud, Hyung?" tanya Kyuhyun tak mengerti.

"Setiap ada kemauan pasti ada jalan. Kalau kau masih mau tinggal di sini, maka berjuanglah. Kau bisa mengharap, meratap, merengek, menangis, mengemis… apa pun yang kau bisa. Atau kau bisa mengatakannya dengan tegas di depan harabeoji-mu kalau kau tidak mau tinggal dengannya. Aku yakin harabeoji-mu bukan seorang diktator. Well, meskipun beliau keras kemauannya, namun ia bukan jenis orang yang suka memaksakan kehendaknya. Mintalah, maka kau akan diberi," jelas Siwon.

"Apa bisa?" tanya Kyuhyun menerawang.

"Adikku orang yang sangat bersemangat dan punya prinsip hidup. Adikku bukan orang yang cengeng dan pasrah pada keadaan. Adikku adalah seorang pejuang bukan pecundang," tutur Siwon pada Kyuhyun.

Kyuhyun menatap kakaknya itu. Benar kata Siwon. Ia bukan orang yang lemah dan mudah menyerah. Ia orang yang punya daya untuk memperjuangkan hidupnya.

Ia punya mulut untuk bicara, ia punya nalar untuk berpikir. Kalau ia mau bicara dan bisa mempertahankan pendapatnya, kakeknya mungkin akan mengabulkan permintaannya. Kyuhyun tak akan pernah tahu hasilnya kalau ia belum mencobanya.

"Terima kasih, Hyung!" kata Kyuhyun.

"Untuk?"

"Untuk membuatku lebih kuat setiap hari. Kau memang yang terbaik," ucap Kyuhyun sambil tersenyum manis.

"Aku memang yang terbaik. Kau tak akan menemukan hyung sebaik aku di dunia ini," balas Siwon sambil memamerkan senyumnya yang paling manis.

"Aku menarik kata-kataku kembali, Hyung. Kau menyebalkan!" sungut Kyuhyun.

Siwon tertawa mendengar ucapan Kyuhyun itu. Ia tahu Kyuhyun tidak bersungguh-sunnguh dengan ucapannya.

"Aku tidak keberatan. Aku tahu dalam hatimu aku tetap nomor satu," sahut Siwon yakin.

Kyuhyun mengeluh dalam hati. Ia merasa menyesal memberi hyung kudanya itu pujian yang akhirnya membuatnya semakin besar kepala.

"Kim Ryeowook memang payah. Dia benar-benar tak bisa diandalkan," gerutu Han Kaisoo sebal kepada kedua temannya.

"Benar. Ia mungkin benar-benar tidak tahu atau Cho Kyuhyun memaksanya untuk pura-pura tidak tahu," imbuh Shin Dong Min.

"Aku sudah bilang kan kalau Kim Ryeowook itu tidak mau buka mulut. Aku memaksa dan mengancam pun ia tetap tidak mau cerita," tukas Lee Kwang So.

"Hahhh, padahal aku sudah ingin melihat Cho Kyuhyun itu kehilangan harga diri. Aku sudah tak sabar melihatnya menjadi bahan cemoohan anak-anak satu sekolah. Aku bahkan sudah memimpikan hal itu terjadi. Tapi, nyatanya sia-sia saja. Kenapa kau tak tanyakan pada Shim Changmin saja? Ia kan dekat dengan Kyuhyun," kata Han Kaisoo kesal.

"Bertanya pada Shim Changmin? Kaukira itu lebih mudah daripada menyuruh Kim Ryeowook? Kau tahu seperti apa Shim Changmin dengan Cho Kyuhyun. Mereka berdua sangat dekat seperti lintah. Mendapat informasi tentang Cho Kyuhyun dari Shim Changmin itu adalah sesuatu yang sangat mustahil," ucap Lee Kwang So menukasi perkataan Han Kaisoo.

"Menyebalkan, benar-benar menyebalkan! Semua tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Cho Kyuhyun tetap saja berjalan dengan sombongnya dan Kim Ryeowook tetap dengan kebodohannya. Mereka membuatku muak. Ingin sekali aku membuat mereka berdua hidup sengsara, sampai mereka tak ingin lagi melanjutkan hidup," teriak Han Kaisoo sambil mengepalkan tinjunya erat-erat.

"Kenapa tak kaukerjai Cho Kyuhyun lagi? Kau bisa menyuruh Kim Chul Sik melakukannya seperti dulu. Hanya dengan sedikit uang, kau bisa memuaskan hasratmu menghancurkan Cho Kyuhyun," bisik Shin Dong Min dengan culasnya.

Shin Dong Min tersenyum culas dengan semua pikiran liciknya. Ia suka menyiramkan bensin ke atas bara amarah yang menyala.

"Kim Chul Sik sama tak bergunanya dengan Kim Ryeowook. Ia pernah bilang padaku tak mau berurusan lagi dengan Cho Kyuhyun. Ada orang yang mengancamnya untuk menjauh dari Cho Kyuhyun, tapi ia tak mau bilang siapa orangnya," sahut Han Kaisoo.

"Huh, begitukah? Itu kedengarannya aneh. Orang macam apa yang berani membuat Kim Chul Sik tidak berkutik?" kata Shin Dong Min.

"Aku tidak tahu dan tak mau tahu. Haahh, bosan rasanya kalau seperti ini. Aku berharap ada skandal besar, namun ternyata tidak seperti itu. Sekolah ini rasanya sepi kalau tidak ada drama yang menarik," keluh Han Kaisoo.

"Sekolah ini memang kurang hiburan. Hanya aturan ketatnya saja yang nomor satu, lainnya tak ada yang menarik. Kita bisa saja membuat hiburan sebenarnya, tapi kita harus hati-hati agar nama kita tidak terseret," kata Shin Dong Min.

"Kau tak punya ide lagi?" tanya Han Kaisoo pada Shin Dong Min.

Shin Dong Min mengangkat bahunya. Mempermainkan siswa lain dan membuat mereka terlibat masalah adalah hiburan tersendiri bagi mereka bertiga.

"Apa kalian sudah bosan bermain-main dengan Kim Ryeowook?" tanya Lee Kwang So.

"Tidak seru lagi kalau anak tak berguna itu tetap dengan sikap bodohnya. Aku lebih tertarik membuat Kyuhyun menderita daripada Kim Ryeowook itu sekarang. Banyak yang tidak kuketahui tentangnya dan itu membuatku penasaran," balas Han Kaisoo.

"Bagaimana kalau kita membuat Kim Ryoewook melakukan sesuatu dan Kyuhyun mau tidak mau merasa bersalah karenanya?" tanya Lee Kwang So.

"Maksudmu?" tanya Han Kaisoo tak mengerti.

"Kau tahu kan kalau sekolah kita bermasalah dengan sekolah sebelah. Apalagi setelah sekolah kita kalah telak saat turnamen basket bulan lalu. Kudengar Kim Chul Sik sudah mulai mengumpulkan anak-anak untuk balas dendam. Bagaimana kalau kita memaksa Kim Ryeowook ikut dalam rencana itu. Kim Chul Sik hanya takut pada Kyuhyun kan bukan pada Ryeowook? Aku yakin Kyuhyun akan berusaha menyelamatkan Kim Ryeowook, dia selalu bertingkah seperti pahlawan kesiangan. Aku yakin dengnan sedikit hasutan pasti berhasil," jelas Lee Kwang So.

"Kau yakin akan berhasil?" tanya Han Kaisoo ragu.

"Serahkan padaku dan kita tinggal menonton hiburan paling menyenangkan yang pernah kita lihat," ucap Lee Kwang So yakin.

"Jangan sampai meleset kali ini! Aku benar-benar ingin membuat Cho Kyuhyun bertekuk lutut kali ini," kata Han Kaisoo menegaskan.

"Kau tinggal tunggu hasilnya. Aku yakin kali ini kita akan berhasil," kata Lee Kwang So.

Han Kaisoo tersenyum senang. Kalau rencana Lee Kwang So kali ini berhasil, ia akan menjadi orang pertama yang akan berteriak kegirangan dan bertepuk tangan. Tinggal bersabar dan menunggu waktu yang tepat, kejatuhan seorang Cho Kyuhyun sudah ada di depan mata.

Kim Ryeowook menggigil ketakutan. Ini hari kesekian ia dipaksa berkumpul dengan anak-anak yang sebagian besar tidak dikenalnya. Sejak beberapa hari yang lalu, sepulang sekolah, Han Kaisoo sudah mengancamnya untuk ikut pertemuan ilegal di atap sekolah.

Pertemuan yang tidak penting buat Kim Ryeowook. Namun, karena paksaan yang tidak penah bisa ditolaknya, mau tak mau Kim Ryeowook harus ikut.

Pertemuan itu dikoordinir oleh Kim Chul Sik. Secara diam-diam orang-orang yang sudah dikumpulakn oleh Kim Chul Sik dan Han Kaisoo naik ke atap sekolah yang sudah sepi. Tak ada seorang guru pun yang tahu tentang pertemuan terlarang itu. Inti pertemuan itu hanya satu, menyerang Pyonae High School yang sejak lama menjadi rival abadi sekolah mereka.

Masalah itu bermula dari kekalahan tim Sajon di lapangan basket melawan tim Pyonae. Hal itu tak akan jadi masalah besar kalau saja kedua sekolah tak saling melempar dan membalas ejekan. Setelah ramai saling serang dan menjatuhkan di media sosial, siswa-siswa Sajon akhirnya sepakat memberi pelajaran pada siswa-siswa Pyonae.

Tak banyak anak yang mau bergabung memang, namun anak-anak Sajon yang berpengaruh tampaknya juga memberikan dukungan pada aksi premanisme seperti itu. Alhasil, semakin besar pengaruhnya, semakin mudah pula mereka menemukan pengikut, baik yang secara sukarela maupun terpaksa.

Setelah beberapa hari mengikuti pertemuan itu, ada satu poin penting yang harus diingat oleh Kim Ryeowook. Ia termasuk salah satu siswa yang ikut menyerang Pyonae sepuluh hari dari sekarang.

Waktu dan tempat sudah ditetapkan. Mereka akan menyerang Pyonae saat sekolah mereka disibukkan dengan persiapan festival sekolah. Banyak siswa Pyonae yang terlibat sebagai panitia dalam festival seperti itu dan biasanya, menjelang persiapan, mereka akan berada di sekolah dan pulang larut malam.

Anak-anak Sajon tak akan memilih target mereka. Mereka akan menyerang siswa Pyonae yang mereka jumpai saat itu, terutama yang laki-laki. Mereka akan menyerang secara acak. Mereka akan menyerang secara tiba-tiba dan pergi secepatnya setelah urusan mereka selesai dan sebelum pihak yang berwajib datang.

Mereka tak peduli lagi sanksi yang akan mereka terima. Toh, selama ini sanksi terberat yang diterima oleh siapa saja yang terlibat perkelahian dan tawuran hanyalah sanksi administratif dan skorsing. Tak sampai ada yang dikeluarkan dari sekolah hanya karena terlibat perkelahian.

"Jadi, seperti yang telah aku katakan kemarin, sepuluh hari lagi kita akan melakukan aksi. Jangan sampai ada orang lain, terutama para guru, yang tahu rencana kita. Tidak ada seorang pun yang boleh mengatakan hal ini pada siapa pun juga yang tidak ikut pertemuan ini. Kalau sampai bocor, aku akan cari tahu siapa pelakunya dan kupastikan hidupnya akan berakhir saat itu juga!" ancam Kim Chul Sik sambil menatap siswa lain yang ada di depannya satu per satu.

Kim Ryeowook menundukkan kepalanya dalam-dalam saat matanya bertatapan dengan mata Kim Chul Sik. Dalam hati ia berharap semoga Kim Chul Sik tidak tahu ia ikut ke tempat itu karena terpaksa. Kalau sampai rencana mereka bocor, ia bisa menjadi orang pertama yang dicurigai.

"Kita akan berkumpul lagi besok sepulang sekolah. Jangan sampai ada yang buka mulut tentang hal ini!" seru Kim Chul Sik mengakhiri pertemuan hari itu.

Satu per satu siswa yang lain meninggalkan tempat itu. Mereka sengaja tidak turun dari atap sekolah secara bersamaan untuk menghindari kecurigaan.

Kim Ryeowook termasuk salah satu anak yang turun paling akhir. Ada Shin Dong Min yang turun bersamanya. Han Kaisoo dan teman-temannya memang jarang membiarkannya seorang diri sekarang. Apalagi setelah mereka berhasil memaksa Kim Ryeowook menuruti kemauan rahasia mereka, Han Kaisoo dan teman-temannya perlu bersikap lebih waspada.

Kegelapan dan kesunyian melingkupi gedung dan pelataran sekolah saat Kim Ryeowook menjejakkan kakinya di tangga terakhir. Selama menuruni tangga teratas hingga kakinya menginjak tangga terakhir, Shin Dong Min tak henti-hentinya memberi ancaman.

Kim Ryeowook sampai hafal apa saja yang dikatakan oleh Shin Donng Min, bahkan Han Kaisoo padanya. Ia takut tentu saja, maka dari itu, Kim Ryeowook tak mampu menolak.

Kim Ryeowook terpaksa mengikuti kemauan mereka. Ia tak bisa memikirkan menolak permintaan mereka, meskipun menyetujui permintaan mereka juga membuatnya takut dengan posisinya dan beasiswanya di Sajon.

Kim Ryeowook takut ia akan dikeluarkan dari Sajon jika pihak sekolah tahu apa yang akan mereka lakukan. Mereka akan menyerang sekolah lain dan Kim Ryeowook seumur hidupnya tak pernah terlibat perkelahian dengan siapa pun.

Ia tak pernah mengeluarkan tenaganya untuk kekerasan fisik seperti itu. Ia sudah terbiasa dipukul tapi tak pernah sekali pun Kim Ryeowook punya keberanian untuk membalas.

Kim Chul Sik sudah memperingatkan mereka, senjata apa saja yang akan mereka pakai, bagian tubuh mana saja yang akan mereka serang, dan seberapa parah luka yang akan mereka berikan pada sasaran mereka. Tidak boleh terlalu parah atau mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan kalau mereka tak mau berurusan dengan pihak yang berwajib.

Kim Ryeowook tak yakin ia bisa membawa senjatanya dengan benar meskipun itu hanya berupa ranting kayu kecil. Ia juga tak yakinkan tangannya mampu ia gunakan untuk melukai orang lain. Ia tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya.

Kim Ryeowook melangkah pelan meninggalkan halaman sekolah seorang diri. Gerimis sudah mulai turun, tapi Kim Ryeowook enggan mencari tempat berteduh. Ia hanya berharap hujan tak bertambah deras sebelum ia sampai di rumah.

Kim Ryeowook tiba-tiba menghentikan langkahnya saat sebuah mobil berhenti di depannya dan membuat langkahnya terhenti. Ia langsung bersikap waspada dan berharap dalam hati semoga saja itu bukan orang-orang yang ingin membuatnya sengsara.

"Kim Ryeowook, naik!" seru seseorang yang menyembulkan kepalanya dari dalam mobil.

Kim Ryeowook menarik napas lega saat melihat siapa yang ada di dalam mobil itu namun ia juga ragu untuk menerima tawaran itu.

"Aku pulang jalan kaki saja," tolak Kim Ryeowook.

"Jangan bodoh! Gerimis mulai turun. Cepat naik!" perintah Kyuhyun, lalu membuka pintu mobilnya untuk Ryeowook.

Kim Ryeowook pun naik. Ia duduk di sebelah Kyuhyun yang meggeser tempat duduknya lebih ke samping.

"Dari mana saja kau?" tanya Kyuhyun sesaat setelah Kim Ryeowook duduk di sebelahnya.

"Aku ke perpustakaan dulu seperti biasanya," jawab Kim Ryeowook berbohong.

"Jangan bohong! Aku menghabiskan waktuku di perpustakaan sepulang sekolah tadi dan kau tidak ada di sana," ucap Kyuhyun tajam.

Kim Ryeowook meneguk ludahnya dengan susah payah. Ia sudah ketahuan berbohong dan ia yakin Kyuhyun akan mencercanya dengan pertanyaan-pertanyaan sampai ia puas mendapatkan jawabannya.

"Dari mana saja kau?" ulang Kyuhyun.

"Sebenarnya ada urusan yang harus kuselesaikan tadi. Jadi, aku tidak bisa langsung pulang," jawab Kim Ryeowook.

"Urusan apa yang harus kauselesaikan? Aku yakin kau tak pernah menunda-nunda tugasmu lagipula kita juga tidak ada tugas dari guru untuk diselesaikan. Jadi, urusan apa yang membuatmu harus berbohong padaku?" kejar Kyuhyun menyudutkan Kim Ryeowook.

"Aku tak harus bercerita semua padamu, kan?" balas Ryeowook yang sudah habis akal.

"Kenapa? Apa ada kaitannya dengan Han Kaisoo dan teman-temannya. Urusan yang tidak mau kaceritakan padaku pasti berkaitan dengannya. Aku benar kan?" tanya Kyuhyun langsung.

Kim Ryeowook terdiam. Ia tak punya alibi lain yang masuk akal untuk meyakinkan Kyuhyun.

"Jadi, benar itu ada kaitannya dengan Han Kaisoo? Apa lagi yang ia inginkan darimu? Apa ia masih penasaran dengan hidupku dan menyuruhmu mencari tahu?" tanya Kyuhyun kesal.

"Bukan tentangmu," jawab Ryeowook.

'Tapi lebih parah dari itu,' lanjut Kim Ryeowook dalam hati.

Kyuhyun menatap Kim Ryeowook lama. Ia masih menunggu jawaban apa yang diberikan Kim Ryeowook padanya.

"Lalu?" tanya Kyuhyun akhirnya.

"Kyu, bisakah kau tidak memaksaku bicara tentang hal ini?" tanya Kim Ryeowook memelas.

Ryeowook sudah lelah. Pikirannya, perasaannya, hidupnya, semua membuatnya lelah.

"Arasseo, tapi aku tidak akan berhenti untuk cari tahu. Kau harus menyiapkan jawaban yang masuk akal untukku besok!" kata Kyuhyun.

Kim Ryeowook mengeluh. Kyuhyun memang begitu. Dia tidak akan mudah menyerah. Ia akan mencari tahu sesuatu sampai ia benar-benar dapat penjelasan yang bisa ia terima.

"Aku hanya bisa mengantarmu sampai di depan gangmu, Ryeowook. Gang menuju rumahmmu terlalu sempit," kata Kyuhyun.

"Tak apa. Aku sudah sangat berterima kasih kau mengantarku pulang," ucap Ryeowook singkat.

Kim Ryeowook bisa sedikit lega sekarang karena tidak harus dicerca Kyuhyun dengan berbagai pertanyaan yang tak bisa ia jawab.

Mobil berhenti di tepi jalan besar yang ditunjukkan Kyuhyun. Kim Ryeowook bersiap-siap turun meski saat itu hujan sudah turun deras.

Kyuhyun mengangsurkan payung lipat yang selalu tersedia di dalam mobilnya pada Kim Ryeowook. Meskipun tinggal beberapa meter, air hujan bisa membuat Kim Ryeowook basah kuyub.

"Pakailah, biar kau tak basah kuyub," ucap Kyuhyun.

"Terima kasih lagi. Aku akan kembalikan payungmu besok," kata Kim Ryeowook sambil tersenyum sebelum membuka pintu mobil itu.

"Tak perlu. Kau boleh memakainya kalau masih perlu," balas Kyuhyun.

Kim Ryeowook keluar dari mobil Kyuhyun, namun masih belum beranjak dari tepi jalan besar itu. Kim Ryeowook baru meninggalkan tempat itu saat mobil Kyuhyun mulai menjauh dan hilang di tikungan jalan.

'Kau selalu baik, Kyu. Meskipun banyak yang benci padamu, tapi kau selalu tegak berdiri dan tak pernah merasa takut. Aku iri denganmu' kata Kim Ryeowook dalam hati.

"Apa yang kaudapat?" tanya Kyuhyun pada Choi Minho siang itu di rumahnya.

Cho Kyuhyun berharap Choi Minho bisa memberinya titik terang. Kyuhyun tahu Minho anak yang punya banyak teman dan koneksi di sekolah. Berita apa pun yang Kyuhyun tak tahu, Minho pasti tahu.

"Selama beberapa hari terakhir ini beberapa siswa melakukan pertemuan tertutup sepulang sekolah. Mereka merencanakan sesuatu untuk menyerang Pyonae," jawab Choi Minho yakin.

"Kau dapat info dari mana?" tanya Kyuhyun.

"Aku pernah diajak teman sekelasku, tapi aku tolak. Hal tidak penting seperti itu tidak menarik bagiku," jawab Choi Minho.

"Untuk apa mereka menyerang Pyonae?"

"Well, kau tahu kan rivalitas Sajon dengan Pyonae. Kekalahan sekolah kita dari Pyonae di turnamen basket terakhir menjadi pemicu kali ini. Ada beberapa anak yang tidak terima dan merencanakan membalas Pyonae. Tapi, detilnya aku tidak terlalu tahu. Teman sekelasku tak mau menceritakannya lebih detail. Ia takut pada Kim Chul Sik," terang Choi Minho.

"Kim Chul Sik? Dia yang mengumpulkan anak-anak? Tak heran kalau banyak yang ikut. Siapa juga yang mau berurusan dengan preman sekolah seperti dia," dengus Kyuhyun.

"Mereka juga tak punya rasa takut. Mereka sudah terbiasa menggunakan otot dan kekerasan," sahut Choi Minho.

"Huh, dan selama ini pihak sekolah juga tak pernah menghukum mereka dengan keras. Mereka seperti merasa kebal," kata Kyuhyun kesal.

"Mereka terbiasa hidup dengan kekerasan. Jadi, hal seperti itu bukanlah hal yang baru bagi mereka," ucap Choi Minho.

"Apa mereka setiap hari bertemu?" tanya Kyuhyun lagi.

"Kelihatannya tidak setiap hari. Mereka bertemu kalau Kim Chul Sik menginginkannya. Mereka hanya boleh mengajak anak-anak yang mereka percayai dan tentu saja mendukung apa yang mereka rencanakan. Mereka merencanakannya dengan hati-hati supaya tidak bocor pada siapa pun. Aku dengar siapa pun yang ketahuan membocorkan akan berurusan langsung dengan Kim Chul Sik," jelas Choi Minho.

Kyuhyun mengangguk-angguk paham dengan penjelasan Choi Minho itu. Namun satu hal yang tak ia pahami adalah alasan apa yang membuat Kim Ryeowook mau ikut serta dengan urusan seperti itu.

Kim Ryeowook penakut. Ia bahkan tak bisa membela dirinya sendiri. Sangat mencurigakan kalau Kim Ryeowook ikut-ikutan rencana gila seperti itu. Pasti ada biang keladi yang membuat Kim Ryeowook mau mempetaruhkan hidupnya seperti itu.

"Sebenarnya ada masalah apa? Kau biasanya tak pernah mau tahu dengan urusan seperti itu, Kyu," tanya Choi Minho heran.

"Minho-ya, kalau ada seseorang yang biasanya penakut lalu tiba-tiba kau merasa punya nyali untuk ikut berperang, bagaimana menurutmu?" tanya Kyuhyun.

"Itu hampir mustahil. Well, aku tidak bilang tidak mungkin, mungkin ada satu di antara seribu. Ada apa?" tanya Choi Minho.

"Bukan apa-apa. Aku hanya mengkhawatirkan seseorang," jawab Kyuhyun sambil menggigit bibirnya dan berpikir keras.

"Siapa yang ku khawatirkan? Aku yakin itu bukan aku," kata Choi Minho ingin tahu.

"Aku belum bisa mengatakannya sekarang, Minho-ya. Aku akan ceritakan padamu nanti kalau aku sudah benar-benar yakin apa alasannya. Aku pulang dulu. Aku akan menghubungimu nanti kalau ada yang perlu aku ketahui lagi," kata Kyuhyun.

"Baiklah, kau bisa mengandalkanku kapan saja," ucap Choi Minho.

Cho Kyuhyun tersenyum. Ia tahu ia bisa mengandalkan teman-teman baiknya. Namun, dalam hatinya terselib sebuah kekhawatiran. Kekhawatiran tentang apa yang dilakukan oleh Kim Ryeowook.

TBC

Akhirnya…kelar juga chapter 21. Sempat stuck dan hilang ide untuk melanjutkan cerita. Kata orang-orang yang sudah paham dengan dunia kepenulisan (ceile…) banyak baca atau nonton bisa buat nyari ide. Tapi nyatanya baca (manga) dan nonton (anime) malah bikin saya males nulis karena keasyikan…hehehe mianhe. Akhirnya dipaksain nulis aja meski gak mood. Semoga puas dengan hasilnya. Jangan lupa review ya, guys. Happy reading.