TWO SIDES
by Gyoulight
.
.
.
.
.
HUNHAN FANFICTION
GENRE: Drama, Romance
RATING: T
.
.
.
.
.
Luhan terus mematung di depan kompor. Spatula di tangannya seakan menempel kuat pada telapak tangannya. Tidak bergerak sedikit pun meski telur di dalam teflon itu semakin menghitam. Asap hitam mulai mengepul tipis di depan hidungnya. Tapi Luhan sama sekali belum menyadari itu dengan benar.
Pikirannya melayang pada bayangannya semalam. Teringat kembali bagaimana kehadiran Sehun yang membuatnya menggila. Menyisakan desiran halus di dadanya dan juga rona merah di kedua pipinya. Ia berkali-kali meyakinkan dirinya untuk menganggap hal itu adalah sesuatu yang sederhana. Tapi nyatanya tidak. Ini sesuatu yang besar, yang bahkan untuk alasan Sehun semalam saja masih tidak cukup untuk membayarnya.
Lantas yang ia pikirkan sekarang adalah, mengapa hal ini bisa terjadi begitu saja?
Seseorang nyatanya sudah berteriak ke arahnya. Membuyarkan lamunannya, lalu hanya bisa melongo ketika adiknya sudah bergegas mematikan kompor. "Kau hampir membakar rumah kita!" pekik Jaemin kehilangan nafas.
Sedangkan Luhan masih menatap kosong teflonnya. Menyaksikan telur yang digorengnya hangus sampai ia sesak karena asapnya. Ia kemudian menjauh dari sana lalu membuang teflonnya ke wastafel. Mengalirinya dengan air sambil memijit kening.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Jaemin masih terheran-heran padanya. Tidak habis pikir setelah menemukan Luhan terbangun dengan kesadaran nol, ia kembali menemukan kebodohan kakaknya sekali lagi. Dan ini adalah yang terparah selama sejarahnya menuang banyak garam ke dalam telur-telur yang digorengnya.
Luhan menggeleng. Mengusap wajahnya lalu membuka apronnya. Ia sendiri telah memutuskan untuk tidak melakukan apapun hari ini. Karena jika ya, maka rumahnya mungkin akan segera roboh sebelum ibunya pulang. "Kau bisa sarapan di sekolah, kan?" Ia kemudian merogoh sakunya. Mengambil uang cukup banyak─tanpa menghitungnya─untuk adiknya. "Kau harus bergegas."
"Kau aneh," komentar Jaemin mengerutkan keningnya. Pemuda itu pun menjadi sedikit khawatir dengan kakaknya. Bukan apa-apa, hanya saja jika kakaknya itu berubah menjadi orang aneh, siapa yang akan mengurusnya? Kemarin saja orang itu sudah cukup gila karena terlalu sering marah-marah di depan bosnya sendiri. "Perlu ku panggil Baekhyun hyung untukmu?"
"Dia mungkin akan bekerja pagi ini. Kau harus berangkat."
Jaemin dengan berat hati berbalik meninggalkannya. Meliriknya sekali lagi, kemudian benar-benar pergi membuka pintu.
Luhan berakhir dengan menjambak rambutnya sendiri. Meraih botol air di kulkasnya kemudian menegaknya kasar. "Sadarlah─" gumamnya menggenggam botol itu kuat-kuat.
"Luhan!" Nyaris Luhan terkena serangan jantung mendadak. Untuk sepersekian detik ia menemukan pintunya terbuka lebar. Hampir mengomel Luhan pada seseorang yang terlalu keras menghantam pintunya itu. "Kau baik-baik saja?!"
Luhan sibuk mengambil nafasnya. Meyakinkan dirinya masih di atas bumi dan sama sekali belum ditarik nyawanya ke akhirat.
Sosok berambut hitam itu lantas berlari padanya, memeriksa dirinya dari ujung ke ujung sampai harus memeriksa dahinya dengan jemari lentiknya. "Jaemin bilang kau sakit."
"Aku baik-baik saja," protes Luhan menurunkan tangan Baekhyun.
"Apa kau demam?" tanya Baekhyun lagi. Kali ini ia menangkup wajah Luhan. memeriksa apakah wajahnya memanas atau sudah dipenuhi pukulan karena, "Wajahmu merah sekali."
Oh, tidak! Luhan kemudian hanya bisa berdiri kosong. Meraba tiap pipinya untuk memastikan. Tapi itu sama sekali tidak membantunya untuk tahu seberapa parah itu.
"Aku harusnya datang lebih pagi." Tiba pada Baekhyun yang membongkar isi tas bekalnya. Ia mengambil duduk di kursi makan, terlalu fokus dalam mengeluarkan isi tasnya. "Ibuku membuatkan kalian sarapan."
"Kenapa banyak sekali?" tanya Luhan tak enak hati. Baekhyun pun hanya bisa terkekeh. Sayang sekali bukan, kalau Luhan akan memakan ini sendirian? "Kau mau susu?"
Baekhyun pun menganguk antusias. "Aku akan sangat menyukainya."
Luhan mengambil sekotak susu di dalam kulkas. Meletakkannya di depan Baekhyun, kemudian ragu-ragu mencicipi sarapan yang dibawa pria itu untuknya. Sedangkan Baekhyun sudah sibuk membuka sudut kotak susu, lalu meneguknya dengan damai.
Ada jeda untuk keterdiaman mereka. Terlalu fokus dalam keheningan, malah membuat Luhan semakin tidak baik-baik saja. Ia sendiri kehilangan nafsu makannya. Bukan karena masakan ibu Baekhyun itu tidak enak. Ia sendiri heran mengapa pagi ini ia tidak kunjung lapar.
"Kenapa? Apa tidak enak?" tanya Baekhyun membuyarkan lamunannya. Tahu-tahu pria itu sudah menjuput potongan telur gulung buatan ibunya. Mata bulan sabitnya terus mengerjab, memakannya dengan penuh penyelidikan. Tidak ada yang aneh sebenarnya.
Luhan cepat-cepat menggeleng. "Masakan ibumu selalu enak. Aku menyukainya."
Baekhyun akhirnya bisa tersenyum lega karena itu. Ia pun sependapat dengan Luhan kalau masakan ibunya itu baik-baik saja. Meminum kembali susunya, Baekhyun diam-diam sibuk menerawang. Mendapati dapur Luhan yang super berantakan. Terlebih dengan sampah-sampah yang berserakan di lantai. Belum lagi sisa bau gosong dari kompor dan juga wastafel yang penuh dengan piring-piring kotor.
Belum Baekhyun sempat bertanya ada apa dengan dapur itu, Luhan malah lebih dulu menembaknya dengan pertanyaan seperti, "Baek, menurutmu apakah dua orang yang tidak saling menyukai bisa bersama?"
Kening Baekhyun berkerut. Sedikit heran sebenarnya dengan pertanyaan konyol sahabatnya ini. Bukan apa-apa, hanya saja Luhan bukan tipe orang yang akan membicarakan masalah hati dengannya. Karena jauh yang ia tahu, pria berambut coklat itu tidak pernah memperdulikan masalah hati. Terlalu sibuk dengan hidupnya dan juga sedikit realistis, kalau menurut Baekhyun. "Tentu saja bisa."
"Kalau berciuman?"
Baekhyun berubah lebih tercengang. Tangannya pun sudah terbang di udara karena kepolosan Luhan. "Mana bisa begitu. Memangnya ada yang mau melakukan itu tanpa perasaan?" Ia kemudian melanjutkan, "Kenapa kau bisa menanyakan sesuatu seperti ini?"
"Benar, itu aneh kan?" Luhan berubah menggigit jemarinya. Sedangkan Baekhyun hanya mengangguk. Terus meneguk susunya yang belum habis, sambil membiarkan Luhan memutar otaknya sampai pria itu lupa jika ia harus menyantap sarapannya.
"Apa kau pernah mencium Chanyeol?" tanya Luhan lagi.
Baekhyun memundurkan punggungnya. Menutup mulutnya sendiri dalam tundukan penuh keterkejutan. Nyaris ia menyemburkan semua susu yang lewat di kerongkongannya. Ia tersedak tak tertahankan, mulai sibuk terbatuk-batuk karena merasa tercekik di lehernya. Sedangkan Luhan masih melongo menunggunya menjawab. Tidak melakukan apapun sampai Baekhyun melotot karena hidungnya terasa perih. "Ada apa denganmu?!"
"Aku hanya ingin tahu," ujarnya kelebihan polos. Baekhyun sediri sudah tercengang dengan sangat tidak elit.
"Ini bukan sesuatu yang pas untuk dibicarakan di pagi hari," tutur Baekhyun membersihkan sudut bibirnya. Memeriksa seluruh pakaiannya demi berjaga-jaga supaya ia tidak menjadi memalukan jika ia keluar dengan noda aneh di bajunya. Ia sendiri sudah terserang gugup bukan main dengan pertanyaan sahabatnya itu.
"Kau menyukai Chanyeol, kan?"
"Tidak," geleng Baekhyun meletakkan kotak susu di depannya. Pria berambut hitam itu pun berubah sedikit sedih. Begitu ingat dengan pertengkaran kecil mereka kemarin. "Tapi sialnya aku mencintainya."
Namun Luhan kembali melontarkan pertanyaan konyol yang sangat perlu untuk ditertawakan. "Jadi kau tidak suka Chanyeol?"
Baekhyun benar-benar terkekeh. "Luhan, menyukai dan mencintai itu dua hal yang berbeda. Kalau kau cinta, kau akan sangat menyukainya, ingin memilikinya dan menyayanginya. Kalau kau suka, kau hanya sekedar senang mengahabiskan waktu dengannya."
"Aku setuju soal itu," timpal Luhan yang akhirnya kembali melanjutkan acara makannya. Kepalanya terus mengangguk paham, sementara pipinya mengembung mengunyah makanan di mulutnya.
"Tentu saja," angguk Baekhyun bangga. Ia pun jadi berubah sangat bersemangat ketika Luhan mengerti dengan pemikiran sederhananya. Padahal Chanyeol saja tidak pernah mengerti kalau ia berbicara demikian. "Jadi, jika suatu saat kau menyukai seseorang, jangan buru-buru memberikan apapun."
Luhan berubah melongo. Kembali melupakan kunyahannya. "Termasuk menciumnya?"
"Termasuk menciumnya, eh─apa─tunggu!" Baekhyun berubah terkejut setengah mati. Mata bulan sabitnya tak kalah membola. Dengan cepat ia mendekat pada Luhan yang masih saja terlihat bodoh. "Kau mencium seseorang ya?" bisiknya.
"Tidak!" tegas Luhan. Tapi sayangnya, Baekhyun tetap menatapnya penuh curiga. "Tentu saja tidak."
"Serius?"
"Ya."
"Eyy~" goda Baekhyun yang sudah merubah raut wajahnya menjadi sangat lucu. Senyumnya terukir begitu lebar sampai kulit pipinya hampir robek karena menahannya.
"Itu─" Sialnya Luhan berubah gugup. Wajahnya pun berubah menghangat karena teringat hal lain. "Sebenarnya─"
Baekhyun tiba-tiba tertawa sambil menunjuk pipinya. "Lihat, pipimu jadi merah begitu."
e)(o
Sehun baru saja keluar dari kamarnya ketika dua orang pelayannya sibuk memindahkan sesuatu yang besar. Sesuatu yang aneh, sampai harus dibopong dengan dua orang. Satu yang lain membawa sebuah gaun pajang penuh renda yang terbungkus rapi dengan plastik. Kemudian Minseok sedikit mendekat padanya, seakan mengerti sebuah kebingungan kecil dari dalam dirinya.
Minseok sendiri membawa satu kotak berukuran sedang di tangannya. Kotak itu tak jauh-jauh dari merk sepatu. Dan Sehun dapat menebak apa yang baru saja terjadi di rumahnya.
"Kris melakukannya?"
Minseok mengangguk tenang. "Dia terlalu bekerja keras untuk pernikahannya."
Tak lama seseorang masuk ke kediamannya. Ikut menyaksikan kesibukan pelayan-pelayannya sampai lupa mendekat pada Sehun yang sudah menunggunya sampai mau gila. "Kau memesan sesuatu?" tanyanya tanpa dosa.
Sehun menghela nafasnya. Sedangkan Minseok buru-buru pamit dengan senyum mengikuti yang lainnya. Membantu semua orang membereskan apapun yang berantakan, sebelum mengirim laporan mingguannya pada Tuan Oh.
"Kau kemana saja? Mereka sudah sangat sibuk menelpon untuk dokumen yang kau bawa itu," hardiknya dingin.
Baekhyun mendesah. Bukannya dipersilahkan duduk, ia malah mendapati omelan yang tidak manusiawi. Harusnya bosnya ini sedikit mengerti, kalau jarak yang dilaluinya tidaklah sependek yang ada di peta. Belum lagi dengan ia yang harus mengambil dokumen di kantor, lalu dengan sabar hati membawanya ke kediaman Sehun yang merepotkan. "Aku mengurus Luhan pagi ini."
"Kau bertemu dengannya?" Alis Sehun naik. Terlalu kentara untuk mengubah sebuah ekspresi.
Dasar orang kasmaran! Kalau saja Baekhyun tahu Luhan akan terjebak dengan atasannya ini, ia bersumpah tidak akan pernah membiarkan Luhan bekerja dengan orang seperti Sehun. Kenapa pula harus Sehun yang disukai temannya itu? Padahal sikap Sehun sendiri tidak pernah ada manis-manisnya. "Memangnya kenapa kalau aku bertemu dengannya?"
Sehun lantas berdecih kesal. Ia merampas dokumen yang digenggam Baekhyun lalu membukanya tidak sabaran. Lagi pula ia sudah kehilangan banyak waktu. Dan ia harus segera mengecek seluruh laporan karyawannya pagi ini. Kalau ia menunda, bisa-bisa ia kehilangan waktu santainya.
Mengerang kesal, Baekhyun pun hanya bisa bertanya, "Chanyeol sudah pergi?"
"Dia belum turun," jawab Sehun ketus.
"Cepatlah kalau begitu." Baekhyun menyodorkan sebuah pena padanya. Buru-buru mendekat untuk membantu Sehun mencari lembaran pengesahannya. "Aku harus pergi sebelum dia turun."
"Kenapa kau harus setakut ini?" Sehun mengerang frustasi. Sedikit pusing kepalanya melihat isi lembaran itu.
"Aku tidak takut, okay? Aku hanya sedang tidak ingin bertemu dengannya."
"Kalian rumit sekali." Tiba pada Sehun yang menggores tinta pada tempatnya. Membuka kembali tiap lembarannya, lalu melakukan hal yang sama. "Kris bahkan sudah segila itu dengan cinta."
"Memangnya ada apa dengan Kris?" tanya Baekhyun iseng. Ia pun heran mengapa Sehun bisa berubah sebaik ini untuk mengurusi cinta orang lain. Padahal ia sendiri bukanlah tipe orang yang akan senang mencampuri urusan orang lain.
"Dia mengurus pernikahannya dengan sangat bar-bar," jawab pria pucat itu mengembalikan kasar lembaran dan juga pena pada pemiliknya.
Baekhyun pun berubah malas meladeni atasannya. Bagaimana tidak, orang yang mengatakan 'cinta itu gila' itu sendiri pun ikut terserang gila. Seperti tidak gila karena cintanya sendiri saja. Bahkan menurut Baekhyun, Sehun terlalu gila karena tidak mengerti dirinya sendiri.
"Aku tidak akan pernah membiarkannya mendapatkan apa yang ia inginkan," kutuknya sebelum kembali ke ruang kerjanya.
e)(o
Sabtu pagi, Chanyeol memarkir mobilnya tepat di depan pagar putih. Matahari di atas kepalanya mulai nampak tinggi, namun belum sangat terik untuk mengukir bayangannya di atas aspal. Sebuah rumah bertingkat di depannya baru saja ditinggal seorang pria berkaca mata dengan pakaian rapi. Tersenyum pria itu sedikit menunduk padanya. Sedangkan di depan pintu, muncullah sosok Jongin dengan setelan kaos dan celana trainingnya. Rambutnya pun naik belum ditata, terlihat baru habis membuka mata.
Saat mendapatinya memasuki pagar rumahnya, pria itu langsung tersenyum riang. Jongin mempersilahkannya masuk terlebih dahulu. Menerima barang bawaannya yang cukup banyak sampai harus dibantu. Tidak banyak sebenarnya, hanya beberapa buah-buahan dan juga makanan. Chanyeol pun tak lupa bertanya siapa pria yang baru saja pergi dari pintunya.
"Dokter," jawab Jongin membongkar plastik buah di tangannya. Menaruhnya pada sebuah wadah kemudian membawanya ke meja dimana Chanyeol duduk. "Dia drop lagi pagi ini."
Raut Chanyeol berubah khawatir. "Apa seburuk itu?"
"Kyungsoo bilang, dia akan baik-baik saja setelah istirahat," jawab Jongin ikut duduk di seberangnya. Menggigit apel yang sempat dibawanya sambil menggaruk kepala. Ya, begitulah pemandangan akhir pekan Jongin sebagai orang kantoran. "Kau ingin bertemu dengannya?"
"Ya," Chanyeol buru-buru membongkar isi tasnya. Mengambil satu map coklat yang isinya cukup tebal di dalam sana. Kemudian menyerahkannya pada pria dengan lensa kantuknya. "tapi sebelumnya aku ingin memberimu ini."
"Apa ini?" Jongin ragu-ragu menerimanya. Namun tepat ketika dokumen itu sampai padanya, Chanyeol menyunggingkan senyum lega. Membuatnya tidak memikirkan hal lain selain sesuatu yang penting sebagai kode pencapaian.
"Brangkas hitam Kris yang sebelumnya ku katakan," tuturnya pelan. Masih saja takut didengar telinga yang lain, padahal tidak ada siapapun yang akan mendengar, kecuali mereka berdua. "Sehun memberikannya padaku. Dia setuju untuk memproses ini."
Lantas Jongin bisa tahu, seberapa senangnya seorang Chanyeol yang berhasil membujuk adiknya yang luar biasa keras kepala itu. "Kenapa tidak kau berikan langsung pada detektif Lee?"
Pria berambut hitam legam itu menggeleng kecil. Tidak lepas dari senyum khasnya, meski dirinya sendiri diluputi banyak permasalahan yang tidak kunjung selesai. "Ini akhir pekan. Aku mendadak harus kembali ke Berlin selasa pagi."
"Kau serius?" Kini biarlah Jongin yang terkejut dengan berita ini. Ia tidak akan menyangka jika Chanyeol sesibuk itu untuk mengurusi banyak hal.
Chanyeol melirik arlojinya sebentar. Memastikan ia punya cukup waktu sebelum ia pergi mengurus banyak persiapan keberangkatannya. "Untuk itu aku harus berbicara padanya. Aku harap Sena mau ikut denganku."
Jongin meletakkan map itu di meja. Sedikit setuju dengan pemikian Chanyeol sebenarnya. Tentu akan jadi pilihan terbaik jika menyampingkan urusan Sehun yang akan memutar otak untuk mengendalikan keadaan, sekaligus akan sangat beresiko bagi Luhan jika tetap memainkan perannya. Hanya saja Jongin bukan orang yang berhak untuk mengutus. Dia tak lebih dari seorang penonton yang tidak punya kebebasan untuk berkomentar.
"Lalu kapan kau akan kembali?"
"Kami sedang mengerjakan proyek besar. Aku tidak tahu pastinya, tapi aku akan berusaha untuk sering pulang," jawab Chanyeol menggaruk alisnya. Ia sendiri ragu pada kalimatnya. Karena mau bagaimana pun, kondisinya selalu tidak memungkinkan. Pulang ke rumah saja ia harus berkutat dengan setumpuk pekerjaan. Menemui klien atau berkutat sendiri dengan berbagai peninjauan. Apalagi dengan ia yang benar-benar kembali ke kantor. "Ku harap kau bisa mengurus sisanya."
Jongin mengangguk paham. Sedikit berpikir kalau ia lebih beruntung karena masih bisa menikmati akhir pekan dengan bermalas-malasan. Ya, walaupun akhir-akhir ini ia jadi lebih sering memperhatikan kebersihan rumah dan memilih mengurusnya, dibandingkan dengan mandi terlebih dahulu setelah membuka mata. "Serahkan padaku. Aku akan mengurusnya."
"Apa tidak apa-apa jika aku mengganggu istirahatnya?"
"Tentu saja tidak masalah," kekeh Jongin batal menggigit apelnya. Sebenarnya ia cukup canggung menerima tamu dalam kondisi dirinya yang masih berantakan seperti ini. Tanpa terkecuali Kyungsoo yang saat pagi buta pun sudah melakukan kunjungan ke rumahnya. "Dia akan senang bertemu denganmu."
Chanyeol ikut terkekeh. Merasa jenaka dengan kehidupan Jongin yang selalu tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Terlebih dengan adanya Sena disini, entah apa yang terjadi kalau gadis itu juga mengganggu hidupnya yang tentram. Namun pointnya adalah Jongin terlalu baik sebagai seorang pria.
Jongin kemudian mempersilahkannya untuk naik seorang diri. Pria bersurai eboni itu nampaknya masih sibuk dengan acara beres-beres. Jadi Chanyeol mau tidak mau menyampingkan tata karma dan menaiki anak tangga sesuka hati. Mencari pintu kamar Jongin, namun bisa ragu-ragu mengetuknya.
"Hey─" sapa Chanyeol pelan setelah mengetahui pintu itu tidak terkunci. Dan ia mendapati adiknya berbaring disana dengan mata yang tak kunjung terpejam.
"Oppa?" yang dipanggil malah terkejut. Beranjak gadis itu berlari menggapainya.
Chanyeol mengusak rambut adiknya yang rupanya sudah dipotong. Menyisakan helaian hitamnya menyentuh bahu dan itu membuatnya terlihat semakin kurus. "Bagaimana kabarmu?"
"Jongin memberitahumu?" Sena menatapnya penuh riang seperti biasanya. Matanya yang dulunya begitu cerah kini mulai meredup dalam kantung mata yang mulai menghitam. Chanyeol bahkan tidak pernah tahu kalau sebegini malang adiknya meladeni masa-masa sulit. "Kapan oppa pulang?"
"Belum lama ini," jawab Chanyeol membawanya duduk.
"Aku senang oppa pulang." Sena kembali memeluknya. Sungguh gadis itu amat merindukan kakaknya ini. Sudah lama sekali sejak Chanyeol pergi dan telinganya tidak mendengar cerita-cerita ajaibnya.
"Selasa pagi aku harus kembali," aku Chanyeol sedikit ragu untuk mengatakannya. Tapi mau bagaimana lagi jika ia harus terburu-buru dan melakukan ini dengan cepat tanpa basa-basi seperti bukan pribadinya.
Sena berubah sedih. Ia mungkin baru saja bertemu dengan kakaknya itu. Belum sempat menghabiskan waktu dan juga mendengar seluruh ceritanya tentang Berlin. Kalau perlu menanyainya banyak kabar. "Kenapa cepat sekali? Kita baru saja bertemu."
"Ikutlah denganku," tawar Chanyeol tanpa basa-basi. "kau akan aman disana."
Gadis itu kemudian menunduk. Sulit baginya memutuskan untuk ikut. Walaupun ia disini sudah sangat merepotkan Jongin, tapi ia masih memikirkan banyak hal kalau ia akan memilih pergi. Termasuk memikirkan bagaimana caranya kembali dan meluruskan benang kusut yang sudah diburai. "Aku hanya belum siap untuk pulang."
Mendengar itu, Chanyeol tiba-tiba merasakan kepedihan lain di hatinya. Ia jauh merasa menjadi orang yang paling tidak berguna. Begitu bodoh karena tidak melakukan apapun untuk adik-adiknya. "Maafkan aku. Aku meninggalkan kalian disaat─"
"Ini salahku," potong adiknya telak. Tidak membiarkannya menyalahkan diri sendiri. "Seharusnya aku tidak pergi. Semua hal bertambah buruk setelah aku pergi."
Chanyeol mengusap punggung rapuh itu pelan. Tidak setuju jika semua hal terjadi karena gadis di depannya ini. "Oppa akan bicara dengan ayah."
"Ayah tidak boleh tahu. Dia akan marah padaku." Sena balas menggeleng. Meredam dalam kerinduannya pada sang ayah. "Berjanjilah untuk merahasiakan ini."
"Sena─"
Sekali lagi Sena menggeleng ketika Chanyeol masih bersih keras untuk membujuknya ikut. "Aku tidak bisa ikut. Aku akan membebani Sehun jika aku pergi." Ia meraih jemari kakaknya. Menggenggamnya seolah memberinya sebuah keyakinan utuh. Sama seperti keyakinan yang ada di dalam dirinya. "Kita akan baik-baik saja. Aku janji akan selesaikan ini."
e)(o
Malam yang dingin selepas gerimis mengantarkan suara mobil terparkir di luar. Lampu-lampu rumah sudah menyala dengan terang. Sehun pun baru hendak duduk ketika ayahnya sibuk mengobrol dengan kakaknya. Seperti biasa. Dan Sehun tidak punya celah untuk memotong percakapan bisnis mereka, walaupun ia mengatakan ingin kabur dari sini.
Para pelayan lagi-lagi sibuk meletakkan hidangan di atas meja. Menyusun rentetan acara makan malam dengan sangat rapi, yang sempat menjadi déjà vu bagi Sehun karena berada di kursi yang sama, menu yang sama dan juga dengan orang yang sama.
Pria pucat itu tidak suka duduk di dekat jendela yang berembun, jadi ia memilih duduk di kursi tengah, berhadapan langsung dengan kursi ayahnya atau mungkin sosok yang lain karena jumlah kursi mereka sudah bertambah. Bukan lagi empat buah, alih-alih lima.
Sehun tidak tahu persis rencana macam apa yang dimainkan oleh ayahnya dan juga Kris sampai harus memberantaki rumahnya yang damai─hanya untuk sebuah jamuan makan malam. Bukannya membuat reservasi bagus di restoran mewah sana, atau mungkin Kris sendiri yang menyumbangkan rumahnya untuk kepentingan semacam ini. Lagi pula apa untungnya membuat acara semacam ini di rumahnya?
Pada nyatanya, sebulan sebelum hari pernikahan itu, mejanya kembali dihiasi lilin-lilin. Lebih banyak menghamburkan makanan dan tak luput dari lebih membosankan. Terutama dengan kehadiran Kris yang sudah menebar senyum pada ayahnya. Menyapanya dengan penuh sopan─sarat akan kepalsuan.
Luhan yang sudah sejak siang tadi tiba di rumahnya, memilih turun dengan kostum penyamarannya. Dengan rambut panjang digerai ia masuk ke ruang makan. Sempat melirik Sehun di meja, lalu beralih menyambut ayah dalam sekenarionya. Sehun sendiri bosan melihat kepalsuan di hadapannya ini, terlebih saat menyaksikan Chanyeol yang harus tersenyum pada Kris. Membuat pembicaraan konyol atau sekedar interaksi kecil sebagaimana ia berperan menjadi orang yang paling netral dalam permainan membual mereka.
Tiba pada semua orang duduk mengambil kursinya masing-masing. Luhan mau tak mau duduk di dekatnya. Bersebelahan dengan Kris yang sudah memuji penampilan setiap orang. Si pirang sudah lancang membuka acara bagai si tuan rumah. Meminum gelasnya tanpa memperdulikan Sehun yang kepalang benci dengan kehadirannya.
Pria itu mengurus Luhan dengan baik. Memotongkan steak untuknya lalu tersenyum menjijikkan ketika Luhan berterima kasih padanya. Belum-belum, Sehun sudah kehilangan selera makan. Lebih memilih meminum isi gelasnya sambil memberi tatapan tajam pada Kris yang masih saja tidak perduli akan kehadirannya.
"Aku tidak tahu kenapa kita harus membuat acara semacam ini─" Sehun membuka suara, dan lebih tepatnya berkeluh kesah. Mengabaikan Luhan yang menatapnya takut-takut. Seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi sayangnya scenario miliknya tidak dituliskan untuk banyak berbicara dengannya. "di rumahku."
"Ini ide ayah," aku ayahnya penuh senyum. Pria paruh baya itu bahkan terlalu senang seperti baru saja mengurangi sejumlah umur. Sedangkan Kris terkekeh seakan ini adalah wujud pencapaiannya karena berhasil menguasai keluarganya. "Ayah tahu kau tidak akan datang kalau kita membuatnya di luar."
Senyum miring Sehun kemudian terlukis indah di wajahnya. Ia lantas mengambil pisau dan garpu tanpa melepas tatapan tajamnya pada Kris. "Kau cukup perhatian."
Kris mengalung pundak Luhan santai. Tersenyum ia mendekat pada orang yang kemarin masih bisa Sehun genggam tangannya. "Lagipula aku senang karena Sena tidak akan jauh-jauh keluar dari rumahnya."
Sehun merasakan jiwanya terbakar api. Semakin mendidih kebenciannya pada si pirang yang duduk di kanannya itu. "Ini rumahku," timpal Sehun mengoreksi.
"Sehun," ayahnya menegur.
Sehun beralih menatap ayahnya. Gurat-gurat lelah ayahnya kemudian terlihat ketika ia berkomentar, "Intinya aku tidak suka keramaian di rumahku."
Kris buru-buru mengambil tindakan simpati. Berusaha menjadi pendamai walau mungkin selalu dibela. "Maaf─"
"Bisakah kau bersikap baik hari ini?" Ayahnya memotong. Masih menggurui Sehun untuk selalu menghormati tamu. Dan catat, itu tepat di hadapan banyak orang.
"Tidak apa-apa. Aku paham jika Sehun keberatan soal ini." Kris semakin mahir mengendalikan keadaan. Membuat Sehun muak sampai harus berdecak kesal. "Aku hanya ingin berterima kasih karena kita akan jadi keluarga."
Sehun meletakkan pisau dan garpunya. Ingin batal saja menikmati hidangannya. "Ini seperti bukan dirimu, Kris. Kau terlalu palsu."
Yang mendengarnya kemudian tertawa renyah. Segera membalasnya dengan kalimat yang lebih gila. "Aku selalu suka selera humormu," timpalnya terlalu kentara untuk tidak mengakui bahwa mereka tengah melakukan perang.
Chanyeol yang sejak tadi terdiam dengan hidangannya, kemudian mengambil tindakan. Ia pun sangat berusaha menjadi penengah yang normal untuk seisi mejanya. Meski ia sendiri tidak nyaman dengan permainan konyol di antara adiknya dan juga Kris, tapi ia juga harus segera mencegah perang dingin mereka, sebelum semuanya menjadi boomerang untuk Sehun.
"Bagaimana kalau kita bicarakan masalah persiapan kalian?" tanya Chanyeol menaburkan garam pada bentang luka di hati Sehun.
"Itu baik. Kami menyelesaikannya dengan sangat cepat," jawab Kris lembut sambil meraih tangan Luhan yang menganggur di atas meja. "Bukankah begitu?"
Luhan yang ditatap penuh cinta dari Kris hanya bisa tersenyum kaku. Ia pun berubah tidak nyaman dengan perlakuan Kris padanya. "Ya, itu baik," jawabnya berusaha setenang mungkin menatap kemarahan Sehun di samping kursinya.
"Bagus kalau begitu," puji sang ayah tersenyum lega. Pria paruh baya itu tak kalah lega karena bisa melihat putrinya terlihat baik-baik saja dengan tunangannya. "Hubungi ayah kalau kalian butuh bantuan."
Kris kembali memainkan perannya. Memakai topeng kepeduliannya, dan berusaha untuk menjadi dekat dengan Chanyeol. "Oh, ya. Kudengar kau akan pergi."
Chanyeol tersenyum mengambil gelasnya. "Aku akan menyempatkan diri untuk datang."
"Aku akan menyeretnya pulang untukmu." Sang ayah kemudian terkekeh. Diikuti kekehan kaku Chanyeol yang sudah terlihat bosan duduk disana.
"Lalu bagaimana denganmu? Kau akan datang?" Tiba pada Kris yang menatap Sehun antusias. Pria itu seakan mengejeknya. Menunjukkan kekuatan besarnya dalam membolak-balik keadaan. Menunjukkannya hasil usahanya, tanpa tahu Sehun sudah begitu ingin menghancurkannya malam ini juga.
"Aku tidak akan datang. Aku sibuk," jelas Sehun penuh penekanan.
"Sehun," panggil ayahnya lagi. Sehun sendiri muak dipandang seperti anak kecil yang masih harus diingatkan tentang sopan santun. "Kalau kau tetap seperti ini, lebih baik kau─"
"Memang akan ku lakukan!" tandas Sehun. Pria itu lantas beranjak dari sana. Meraih kedua tongkatnya lalu mengucapkan terima kasih dengan penuh penekanan. "Terima kasih atas jamuannya."
e)(o
Tiba pada Luhan yang menyusul dengan kaki kecilnya. Berhati-hati ia mengekor di belakang Sehun yang selalu berhasil melarikan diri. Membuat jarak yang pasti sampai Luhan susah-susah mengejarnya dengan heels tinggi di kakinya. "Kau baik-baik saja?"
Sehun menghempas tangan Luhan di lengannya. Membiarkan sosok itu terheran-heran padanya. Karena masa bodoh, ia tidak dalam kondisi untuk membicarakan sesuatu yang tidak penting. Terlebih jika Luhan mengejar untuk membujuknya kembali ke meja makan.
"Bagaimana aku bisa baik-baik saja, sementara si berengsek itu terus saja berbuat semaunya?!"
Luhan yang mendapatkan teriakan Sehun di wajahnya itu benar-benar membuatnya tercenung. Sederet alisnya sudah mengapit. Ia lantas tidak punya kata-kata lagi selain membiarkan Sehun berbicara seenaknya. Karena kalau tidak, maka ledakan lain mungkin akan diterimanya.
"Kau bahkan terlihat begitu senang seakan kau menyukainya." Akhirnya dirinyalah yang kini disalahkan. Luhan sendiri berubah menyesal karena meninggalkan meja dengan aneh, demi sesuatu untuk membuat Sehun sedikit lebih baik. Dan ia salah. Ia tidak seharusnya mengganggu seseorang yang tengah dibakar emosi.
"Aku hanya mengerjakan bagianku," bela Luhan pada dirinya sendiri. Ia memang orang yang tidak ingin disalahkan. Ia benci disalahkan kalau ia memang merasa sudah melakukan hal yang benar. Pada siapapun itu.
"Termasuk dengan dia yang memelukmu? Kenapa kau mudah sekali?" Sehun berubah melotot padanya. Sorotnya yang jauh lebih berkilat itu segera menjauhkannya dari ingatan pribadi Sehun yang sempat begitu lembut padanya. Membunuh ekspektasinya tentang dia yang tidak akan pernah mengulang kesalahannya. Tapi benar, Sehun nyatanya memang tak akan pernah berubah.
"Kenapa kau tidak benar-benar menikah saja dengannya untuk menyelesaikan bagianmu?"
Luhan berusaha untuk tetap berdiri di posisinya. Hatinya terasa berdenyut sakit ketika Sehun mengatakan hal demikian, sementara ia sudah memutuskan untuk percaya bahwa Sehun akan menghargai perasaannya.
Sekali lagi, Sehun memang tidak akan pernah berubah.
"Kenapa kau begitu perduli padanya? Kenapa kau lebih memilih mendengarnya dibandingkan dengan mendengarku?!"
Gemetar Luhan menahan emosinya. Tangannya tergenggam kuat, ingin sekali memukul orang ini dengan pukulan biasanya. Tapi koyak di hatinya semakin menganga. Membuatnya melupakan apapun selain mengantar sejuta uap panas di kedua matanya.
Luhan mungkin salah karena memilih berjalan di jalan yang Kris pilihkan. Namun ia tidak punya pilihan lain selain memikirkan dirinya sendiri. Tidak lebih dari mengorbankan salah satu balok kayu untuk membuatnya tetap berlayar. "Aku hanya mengerjakan bagianku. Kau tidak seharusnya marah padaku."
"Tidak seharusnya kau bilang?" Sehun semakin mendekat padanya. Kemarahan pria itu terlihat semakin memuncak. Membuat Luhan tersulut mundur karena terasa menakutkan. "Kau seharusnya menghindarinya."
"Memang apa pentingnya bagimu?" lirih Luhan menahan genangan air matanya. Ia sendiri benci pada dirinya yang hanya menerima diperlakukan seperti ini. Ia pun benci menjadi lemah hanya karena ditatap seperti itu. "Walaupun ia memelukku, memangnya kenapa? Kau pun tidak berhak untuk marah, bukan?"
Sehun menajamkan ekor matanya. Ia pun tidak mengerti mengapa ia merasa berhak marah akan itu. "Aku berhak marah."
"Kau tidak berhak!" potong Luhan begitu tegas. Lagi pula atas dasar apa pria itu bisa bilang kalau ia berhak? Sehun saja bukan ibunya yang bisa melarang. Pun bukan orang yang punya kuasa atas kendali dirinya. "Kau bahkan tidak menyukaiku─"
Sehun terdiam di tempatnya. Membeku ia menatap kedua manik yang tergenang itu. Rahangnya hendak bergerak menyuarakan banyak hal, tapi entah bagaimana tak ada satupun frasa yang dapat ia keluarkan dari mulutnya.
"Aku benar-benar tidak mengerti dirimu," lirih Luhan mengusap air matanya. "Ku pikir kau akan menjadi Sehun yang─" Luhan menjeda. Ia pun berubah bingung mengapa ia harus susah payah mengatakan ini. Menjelaskannya agar Sehun mengerti, sementara Sehun tidak akan pernah memikirkan perasaannya. "Ku pikir kau akan berubah."
Sehun masih tenggelam. Sadar akan kepalanya yang penuh dengan pemikiran bodoh, tapi sedikit pun tidak ia pernah merasa salah. Karena harusnya Luhan lebih banyak memahaminya. Mengerti dirinya lebih baik dari pada dirinya. "Ada beberapa hal yang seharusnya kau cari sendiri. Kau harusnya tidak bodoh untuk memahami seseorang."
Dan ia mengatakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan bagi siapapun. Sekali lagi ia menyakiti orang yang baru saja ingin ia jaga dengan kedua tangannya. Tapi nampaknya, ia tak akan pernah bisa melakukannya dengan benar.
Luhan ingin mendengar dengan baik kalimat itu. Tapi hatinya terlalu sibuk mendengar sesak yang ribut. Ia tak lagi bisa menemukan getaran dalam jiwanya ketika ia menatap mata itu. Ia kehilangan detakan yang selalu mengguncang dadanya ketika sosok itu berdiri di depannya.
Malam ini, Luhan kehilangan Sehun dalam hatinya.
"Maafkan aku─tapi aku bukan orang yang pintar mencari tahu."
Luhan mengambil langkah terpanjangnya. Mencari celah untuk melewati Sehun, kemudian memutuskan untuk tidak kembali kemana pun selain berlari masuk ke dalam kamarnya. Ia mungkin tidak perduli lagi jika ia tidak berhak menempati kamar itu lagi. Yang jelas, ia begitu ingin bersembunyi dari semua orang yang mungkin akan melihat linangan air matanya.
Sehun tidak mencegah Luhan pergi dari hadapannya. Tidak juga bergerak ketika Luhan melangkah melewatinya. Jiwanya seakan dilepas paksa dari raganya. Begitu menyesakkan sampai ia sendiri harus menggenggam kepalanya yang sebentar lagi─mungkin─akan segera terlepas.
Ia beralih menggeledah nakas di dekat pintu. Membongkar isi laci-lacinya, tidak perduli dengan beberapa frame yang mulai terjatuh, pecah berkeping-keping di atas lantai. Langkahnya pun ia bawa menuju sebuah pintu yang sejak pagi tadi mulai dibuka─untuk yang pertama kalinya.
Sebuah gaun putih berdiri di tengah ketika ia memilih masuk. Berdiri kokoh di bawah lampu dengan jejeran bunga di sampingnya. Cahaya lembut di dalam sana kemudian mengantar Sehun untuk menyalakan pemantik di tangannya.
Orang bilang, cinta itu gila, tapi cemburu membuat orang lebih dari sekedar gila.
Sehun tahu-tahu sudah melemparkan pemantiknya yang menyala api pada gaun yang begitu indah tak berdosa. Membiarkannya perlahan dijilat api, tidak perduli jika rumahnya mungkin akan ikut terbakar. Bersama emosinya, bersama dirinya yang selalu egois hingga Luhan tidak pernah menginginkannya.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Annyeong, adakah yang masih inget ff ini? :D
Kemarin ada sesuatu yang terjadi di RL-ku, jadi hari ini aku bayarnya double. Mungkin di chap berikutnya bakalan aku up tidak sesuai jadwal biasa. Dan mungkin 2 atau 3 Chapter lagi two sides akan selesai #mungkinloya.
Oh ya, buat yang nanya Kris sama Tao disini statusnya gimana. Aku membuat mereka menjadi sebatas atasan bawahan (biar kayak pakaian) hohoho. Dan untukmu (sebut saja Laela), aku mau makasih sama kamu karena sudah memberiku inspirasi untuk part anu :D Aku paling gak jago buat adegan anu/?
And special thanks, buat kalian yang masih ngikutin ff ini. ILYSM
See you
