Setelah pernyataan cinta konyol itu, Sehun dan Jongin segera melanjutkan perjalanan mereka ke sekolah. Dan beruntung bel masuk bertepatan dengan kedatangan mereka sehingga mereka tidak perlu di hukum karena terlambat.
Jongin masuk kedalam kelas dengan wajah sumringahnya. Namun dia terkejut saat melihat wajah bahagia Chanyeol meskipun si pria caplang itu terus-terusan menatap layar ponsel nya.
"Chan!"
"Hai Jong!" Chanyeol membalas dengan tetap mempertahankan senyum sumringahnya.
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan mu? Mau cerita?" Tanya Jongin antusias.
"Kemarilah." Jongin mendekatkan kuping nya pada bibir Chanyeol. "Aku berpacaran dengan Baekhyun." Bisik nya.
"APA?!" Semua siswa menoleh saat mendengar teriakan dari Jongin. Chanyeol bahkan sudah mengusap-usap telinga nya yang mendengung karena teriakan sang gadis yang tepat di depan wajahnya itu.
"Maafkan aku hehe." Jongin mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya pada seluruh siswa di kelasnya, lalu setelah itu kembali menghadap Chanyeol.
"Bagaimana bisa? Kalian kan tidak pernah dekat."
"Sebenarnya aku sudah mendekatinya sebelum aku tau dia dekat dengan Sehun. Aku memang sempat berhenti mendekatinya saat itu, tapi kami kembali dekat saat seminggu yang lalu." Otak Jongin mencerna kalimat-kalimat yang di ucapkan oleh Chanyeol.
"Lalu kapan kalian resmi berpacaran?"
"Kemarin. Dia bahkan jadi orang yang pertama kali mengakui perasaannya pada ku." Ingin sekali Jongin memukul wajah bodoh milik Chanyeol, tapi dia tahan karena tak ingin menghancurkan mood sahabatnya itu.
"Kau sendiri? Kenapa aura wajahmu terlihat berbeda hari ini?" Tanya Chanyeol balik. Jongin menangkupkan kedua pipinya. "Aku tak apa-apa."
"Kau bilang tak ada rahasia diantara kita berdua. Jadi cepat ceritakan padaku!"
"Nanti saja. Aku akan ceritakan semua nya padamu nanti."
"Baiklah. Jika kau bohong, aku akan memusuhimu." Ujar Chanyeol dengan wajah seriusnya. "Oh iya. Selamat ulang tahun! Aku sudah menaruh kado di laci mu." Lanjutnya dengan wajah ceria.
"Terima kasih Chan!" Jongin memeluk tubuh Chanyeol erat. Tak lama kemudian semua teman-temannya mulai mengucapkan selamat ulang tahun pada nya, yang di balas kata 'Terima kasih' malu-malu ala Jongin.
"Bagaimana kau tau jika aku menginginkan hoodie itu? Aku suka sekali Chan." Jongin terus saja membicarakan tentang kado yang di berikan oleh Chanyeol pagi tadi.
"Kita memiliki selera yang sama Jong. Tidak sulit bagiku untuk menebaknya."
ㅡㅡ
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka ke kantin. Namun Sehun datang secara tiba-tiba lalu memeluk Jongin dari belakang.
"Astaga Sehun!" Chanyeol menatap gerakan aneh antara Sehun dan Jongin. Dari Sehun yang memeluk Jongin, hingga Jongin yang tak melakukan perlawanan apapun.
"Kenapa kalian jadi seintim ini?"
"Jongin, kau tak memberitahu Chanyeol?" Baru saja Jongin akan membuka mulutnya, Sehun segera memotongnya. "Kami berpacaran."
Tatapan Chanyeol berubah datar dan Jongin dapat menangkap aura gelap yang menguar dari Chanyeol.
"Aku bisa jelaskan Cha-"
"Baiklah. Sepertinya aku tidak menganggap ku sebagai sahabat mu lagi." Chanyeol berjalan tanpa menghiraukan teriakan Jongin yang terus memanggil namanya.
Jongin menghempaskan kedua lengan Sehun, lalu berlari mengejar Chanyeol. Para siswa yang berada di koridor itu pun sempat terkisap saat melihat sikap berani yang Jongin lakukan pada Sehun. Namun Jongin tak peduli, Chanyeol lebih penting untuk nya.
"Chan aku bisa jelaskan! Aku kan sudah berjanji akan menceritakan semuanya pada mu, tapi si pucat itu tiba-tiba datang dan menjelaskannya sebelum aku melakukannya." Langkah Chanyeol terhenti. Pria itu berbalik menghadap Jongin dengan wajah datar nya.
"Oke aku terima. Tapi untuk hari ini, sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengan ku." Mata Jongin membulat. Bibirnya ia poutkan, tanda tak menyukai usulan Chanyeol.
Jongin memeluk lengan panjang Chanyeol lalu berteriak heboh. "Tidak mau!"
"Sana Jong!"
"Tak mau. Mengapa kau jahat sekali Chan?" Ujar Jongin dengan mata berkaca-kaca.
"Jongin kau kenapa?" Irene bertanya khawatir saat melihat Jongin memeluk lengan Chanyeol dengan wajah sedih.
"Raksasa ini ingin memusuhi ku!" Irene menatap Chanyeol tidak percaya.
"Mengapa kau berubah jadi laki-laki jahat seperti ini Chan?" Kini giliran Irene yang memukuli lengan Chanyeol yang tidak di peluk Jongin.
"Ya Tuhan! Siapapun tolong singkirkan 2 anak kecil ini dari ku?!" Seru Chanyeol entah kepada siapa. Yang jelas semua orang di sana hanya mentertawakan aksi ke 3 orang itu. Sungguh Chanyeol terlihat seperti seorang raksasa dengan 2 kurcaci yang terus menempelinya.
"Sehun ambil kekasih mu ini sebelum aku melemparkan nya keluar jendela." Ujar Chanyeol sambil melirik jendela besar yang berada di sampingnya. Namun Sehun hanya tersenyum kecil, karena menurutnya Jongin begitu imut saat ini.
"Aku akan berhenti memukul mu jika kau berjanji untuk tidak memusuhi Jongin!"
"Ya aku janji. Sekarang cepat lepaskan aku." Irena dan Jongin menghentikan aksi mereka, kemudia menatap Chanyeol dengan wajah puas.
"Sekarang ayo kita ke kantin! Go go!"
ㅡㅡ
"Jadi kalian berpacaran sekarang?" Sehun mengangguk pasti untuk menjawab pertanyaan dari Chanyeol. Mereka pun akhirnya duduk di meja kantin setelah 5 menit berdebat untuk menentukan posisi tempat duduk yang mereka ambil.
"Kalian berpacaran?!" Jongin tersedak nasinya saat mendengar seruan Irene.
"Iya. Aku dan Jongin, berpacaran." Jongin segera menyikut perut Sehun yang duduk di samping kiri nya. Takut-takut Jongin melirik reaksi Irene, bagaimana pun kan Sehun dan Irene baru saja tidur bersama beberapa hari yang lalu.
"Selamat kalau begitu. Kalian sangat serasi. Dan semoga saja Jongin bisa menghentikan sifat playboy Sehun." Irene tersenyum saat mengakhiri kalimat nya. Saat melihat itu Jongin sedikit ragu dengan ucapan Sehun saat di mobil pagi tadi. Orang sebaik Irene tidak mungkin melakukan hal sejahat itu. Mungkin Sehun saja yang berdalih dengan menyeret nama Irene.
"Hai semua..."
"Baekhyun?" Irene berdesis tak suka saat salah satu wanita yang pernah dekat dengan Sehun itu bergabung ke meja mereka. Namun anehnya, Baekhyun tidak menghampiri Sehun seperti dugaan Irene, gadis itu malah duduk di samping Chanyeol.
"Kenalkan, pacar Chanyeol." Irene menunjukan duck face nya ketika mendengar pengenalan dari Jongin itu.
"Astaga! Apa-apaan ini?! Apa kalian sedang pamer pada ku?"
"Maka nya segeralah cari pacar." Celetuk Chanyeol.
"Kau pikir menyukai seseorang itu mudah? Aku saja belum bisa melupakan orang ini sepenuhnya." Tunjuk Irene pada Sehun.
Irene mendorong kursi yang ia duduki, lalu membersihkan peralatan makannya. "Aku pergi dulu."
Dia tidak cemburu pada Chanyeol. Dia hanya tak suka jika Baekhyun disini, bergabung dengan mereka. Jangan lupa kan fakta bahwa Baekhyun lah penyebab Irene dan Sehun putus.
'Dasar 2 jalang bodoh! Dia pikir aku hanya diam saja melihat tingkah laku nya? Akan ku habisi kalian satu-satu.'
"Makan lah..."
"Iya." Setelah kepergian Irene, Baekhyun sedikit kehilangan nafsu makannya. Sedari tadi ia hanya mengaduk-aduk sup di mangkuknya, tanpa berniat memakannya.
"Jangan pikirkan omongan Irene. Dia memang seperti itu." Sehun berujar kalem. Sehun sempat kasihan dengan Baekhyun, karena Sehun sudah memanfaatkan gadis itu agar dapat lepas dari Irene.
"Makanlah. Kau tak perlu khawatir dengan Irene. Dia pasti sedang PMS hati ini." Kini giliran Jongin yang menenangkan Baekhyun. Baekhyun hanya tersenyum saat mendengar nya.
"Irene sunbae pasti marah padaku. Aku seharusnya tak pernah bergabung ke meja kalian."
"Hey, kau itu kekasih ku. Kenapa kau tak boleh menghampiri ku? Jongin benar, mungkin Irene sedang PMS hari ini." Setelah mendengar penuturan Chanyeol, Baekhyun pun mulai merasa sedikit tenang dan mulai memakan makan siangnya.
"Hari ini kau ke rumahku kan?"
"Ya. Tapi maaf aku tak bisa mengajar lama." Karena ibu angkatku akan datang malam ini- sambung Jongin dalam hati.
"Baiklah."
"Jongin sunbae menjadi tutor Sehun oppa?" Tanya Baekhyun polos.
"Iya. Jongin sudah menjadi tutorku selama 2 bulan terakhir ini."
"Jongin sunbae pasti pintar sekali. Aku juga ingin di ajari."
"Boleh saja. Kapan-kapan aku akan mengajari mu." Chanyeol senang melihat interaksi Baekhyun dan juga Jongin. Mereka menjadi sangat akrab dan dekat. Chanyeol senang karena Jongin memiliki satu teman lain selain dia dan Irene sekarang.
ㅡㅡ
Senyum Jongin melebar setelah melihat hasil test yang Sehun kerjakan saat di sekolah. Sehun mendapatkan nilai sempurna untuk mata pelajaran Sejarah. Meskipun hanya test mingguan, tapi ini sudah menjadi kemajuan pesat untuk Sehun.
"Nilai mu sempurna!"
"Kenapa kau sesenang itu?" Berpacaran dengan Jongin tidak membuat Sehun berhenti bersikap dingin. Lihat saja, bagaimana balasan nya pada Jongin yang terkesan datar dan cuek.
"Bukan kah ini hebat?! Ini pertama kalinya aku melihat nilai bagus di hasil ujian mu."
"Terserah kau saja."
"Baiklah. Kalau begitu sebagai hadiah nya, aku akan meliburkan mu hari ini dan kau bisa latihan basket."
Dengan senyum yang terus terkembang, Jongin mulai merapihkan peralatan tulisnya, bersiap untuk pulang. Sebenarnya ini hanyalah alasan Jongin saja karena sedari tadi Kris sudah mengiriminya pesan jika ayah dan ibunya akan pulang sebentar lagi. Bukannya tanpa alasan, rumah mereka masih begitu berantakan karena Jongin tak sempat merapihkan nya sejak 2 hari lalu.
"Kenapa buru-buru sekali?" tubuh Jongin hampir saja melewati pintu kayu itu, jika saja Sehun tidak menegurnya.
"Hey aku memberimu waktu libur. Bukannya kau harus berlatih basket? Pergilah..."
"Itu sudah tak penting lagi untuk ku." Sehun mendekatkan tubuhnya pada Jongin. Pintu yang awalnya Jongin buka, kini di tutup kembali oleh Sehun.
Grep
Sehun memeluk dan mengendusi leher Jongin, hingga gadis itu bergerak tak nyaman.
"S-sehun ak-aku rasa kita-"
"Kenapa kaku sekali sayang,hm? Seperti baru pertama kali saja." Hey, Jongin bahkan baru pertama kali di cium di pipi kemarin. Mana mungkin dia pernah di perlakukan seperti ini.
"Lepas!" Jongin mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melepas rengkuhan Sehun itu.
"Ini memang pertama kalinya ada seorang pria kurang ajar padaku, dan itu kau! Aku pulang."
Cklek
Brakk
Sehun menepuk dahinya. Dia lupa jika Jongin itu lebih polos dari anak TK. Mana mungkin dia pernah berbuat seperti itu dengan pria lain.
"Aku hampir saja memperkosa seorang gadis. Astaga."
Tbc
oke ini di lanjut...
