CHAPTER 22

"Jadi, sekarang kau mulai berani ikut-ikutan hal terlarang seperti itu, Kim Ryeowook?" tanya Kyuhyun pada Kim Ryeowook malam itu di lobi sekolah.

Kyuhyun sengaja menunggu Ryeowook sepulang sekolah. Setelah Choi Minho memberitahunya tentang pertemuan terlarang itu, Kyuhyun diam-diam mengawasi Kim Ryeowook dari jauh.

Kyuhyun tak mau Kim Ryeowook terlibat hal bodoh yang akan membahayakan dan merugikan dirinya sendiri. Apa pun alasannya, Kyuhyun tak mau Kim Ryeowook terlibat masalah.

Tepat seperti dugaannya, Han Kaisoo dan teman-temannya selalu membayangi Kim Ryeowook. Anak itu menurut saja seperti kerbau dicocok hidungnya.

Kyuhyun maklum pada keadaan Ryeowook. Kim Ryeowook bukan tipe orang yang mampu membela diri. Ia butuh orang lain yang siap membantunya dan membuatnya berdiri tegak. Kim Ryeowook butuh penopang.

Melihat Kyuhyun yang berdiri di sudut lobi sambil melipat kedua tangannya di depan dada, membuat Kim Ryeowook menatap sekelilingnya dengan panik. Ryeowook tak mau siapa pun tahu ia bersama dengan Kyuhyun malam ini. Siapa pun bisa mencurigainya, terutama Han Kaisoo dan teman-temannya.

"Apa yang ada di pikiranmu sampai-sampai kau mau ikut-ikutan seperti itu? Apa kau tak mempertimbangkan posisimu di Sajon?" tanya Kyuhyun kesal.

"Ssttt, diam, Kyu!" kata Kim Ryeowook panik dengan suara tertahan.

Kim Ryeowook cepat-cepat menyeret tangan Kyuhyun meninggalkan lobi sekolah. Kim Chul Sik belum turun dari atap sekolah dan Kim Ryeowook tak mau menjadi bulan-bulanan karena keberadaan Kyuhyun di situ.

"Tidak perlu menyeretku, Kim Ryeowook. Aku hanya perlu penjelasanmu," tukas Kyuhyun.

"Tidak di sini, Kyu. Kau membuat hidupku semakin sulit," kata Ryeowook.

Kyuhyun menurut saja saat Kim Ryeowook menyeretnya hingga ke samping gedung aula yang sepi. Kim Ryeowook sekali lagi mengamati sekelilingnya takut kalau ia ketahuan bersama Kyuhyun malam itu.

"Sekarang bisa kan kau memberikan penjelasan padaku," kata Kyuhyun yang mulai habis sabar.

Kim Ryeowook terdiam. Ia tak tahu harus mulai bercerita dari mana.

"Aku terpaksa ikut," kata Ryeowook kemudian.

"Bisa lebih jelas lagi?" tanya Kyuhyun.

"Kau tahu kan Kyu aku tak bisa menolak. Aku takut. Jadi, aku terpaksa harus ikut meski aku tidak mau," terang Kim Ryeowook.

"Kim Ryeowook, aku sudah tahu kau penakut. Aku juga sudah tahu kalau kau tidak pernah bisa menolak apa pun yang Han Kaisoo katakan padamu. Yang aku tanyakan adalah apa kau tidak memikirkan risikonya? Kau bisa kehilangan semuanya kalau sampai kau ketahuan," kata Kyuhyun.

"Aku tak bisa memikirkan hal lain, Kyu. Aku hanya disuruh melakukan bukan disuruh untuk berpikir."

"Dan kau akan melakukan apa pun yang Han Kaisoo ingin kaulakukan? Sekalipun itu merugikanmu? Sekali pun itu mempertaruhkan masa depanmu? Begitukah?" cecar Kyuhyun mulai jengkel.

"Lalu aku harus bagaimana? Aku tak bisa berbuat apa-apa," kata Ryeowook.

Kyuhyun mengembuskan napasnya kasar. Susah memang membuat Kim Ryeowook lebih berani. Anak itu terlalu penakut untuk berkata tidak pada Han Kaisoo.

"Setidaknya kau bisa meminta bantuanku. Kita berteman kan?" kata Kyuhyun.

"Kau selalu sibuk dengan hidupmu, Kyu. Mana sempat kau membantuku," keluh Ryeowook.

"Ryeowook-ah, bagaimana pun keadaan dan kesibukan kita sekarang, kita tetap berteman. Kita selamanya berteman. Aku akan meluangkan waktuku kalau kau memang membutuhkanku. Kau mengerti?" kata Kyuhyun.

Kim Ryeowook menggigit bibirnya menahan air mata yang hendak jatuh. Andai Kyuhyun mengatakannya dua minggu yang lalu, ia tentu tak akan terlibat dalam masalah ini.

"Batalkan saja! Kau tak perlu ikut tawuran itu. Pikirkan posisimu kalau sampai kau tertangkap," kata Kyuhyun.

"Tak bisa, Kyu. Sudah terlambat. Aku bisa menjadi bulan-bulanan kalau mendadak batal ikut," kata Ryeowook ketakutan.

"Biar aku bilang pada Han Kaisoo supaya ia tidak mengganggumu lagi," kata Kyuhyun.

"Jangan, jangan, Kyu! Kau akan membuat posisiku semakin sulit!" teriak Kim Ryeowook mulai panik.

Ryeowook tahu Kyuhyun akan melakukan apa yang ia ingin lakukan. Kyuhyun tak pernah takut pada Han Kaisoo.

"Lalu bagaimana, Kim Ryeowook. Apa yang bisa kulakukan supaya kau membatalkan niatmu itu?" tanya Kyuhyun.

Nada suaranya mulai meninggi. Kyuhyun semakin kesal pada Kim Ryeowook yang keras kepala.

"Tak perlu apa-apa. Kau tak perlu melakukan apa pun untukku kali ini. Aku akan baik-baik saja. Aku akan menjaga diriku dengan baik," kata Ryeowook mencoba meyakinkan Kyuhyun.

"Ryeowook-ah, aku tak yakin akan hal itu!" keluh Kyuhyun.

Kyuhyun mulai menyerah. Ia tak bisa membujuk Ryeowook kali ini. Ia merasa sudah terlambat.

"Percaya padaku. Aku akan baik-baik saja. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang melebihi kemampuanku. Kau tak perlu terlalu khawatir," kata Ryeowook.

Kim Ryeowook memang harus meyakinkan Kyuhyun. Ryeowook tak bisa mundur lagi. Mundur dan melarikan diri sama saja bunuh diri.

"Aku tak tahu harus membujukmu dengan cara apalagi, Kim Ryeowook. Aku hanya berharap kau mempertimbangkan sekali lagi. Kalau kau takut dengan Han Kaisoo, aku bisa mengatakannya langsung pada orang itu. Kau tak perlu khawatir," ucap Kyuhyun mencoba mengalah.

"Terima kasih, Kyu. Tapi kali ini aku tak bisa berbuat apa-apa, begitu juga denganmu. Aku tak hanya berurusan dengan Han Kaisoo sekarang, tapi juga dengan siswa yang lain. Aku tidak bisa mengkhianati mereka," jawab Ryeowook.

Kyuhyun mengangguk lemah. Kali ini ia memang tak bisa membujuk Kim Ryeowook dengan baik-baik. Tapi Kyuhyun punya rencana. Rencana yang disimpannya sendiri jauh dalam pikirannya.

"Kau yakin mereka melakukannya malam ini?" tanya Shim Changmin pada Kyuhyun yang ada di sampingnya.

Sekolah sudah berakhir. Malam sudah menjelang meski belum larut. Sekolah sudah mulai sepi. Hanya beberapa anak yang masih ikut kegiatan tambahan yang masih bertahan di sekolah, begitu juga dengan beberapa guru yang harus menyelesaikan pekerjaannya.

Cho Kyuhyun berhasil memaksa Shim Changmin bersamanya. Mereka menunggu di halaman belakang sekolah yang sepi. Sesekali Shim Changmin menggaruk-garuk tangan dan lengannya yang digigiti nyamuk kebun sambil sesekali menggerutu.

Choi Minho tak bisa ikut dengan mereka mala mini. Ia masih harus ikut berlatih futsal dengan kub futsal sekolah.

"Lama sekali. Apa yang mereka lakukan? Mengapa mereka belum turun dari atap? Kau yakin mereka akan lewat pintu belakang sekolah? Jangan-jangan informanmu salah," gerutu Shim Changmin lagi.

"Choi Minho tak akan memberikan informasi yang salah. Aku akan menceburkannya ke kolam di depan sekolah kalau ia sampai salah memberiku berita yang akurat," balas Kyuhyun.

"Semoga saja begitu. Aku akan menendangnya sampai ke Korea Utara kalau dia sampai keliru. Aish, nyamuk-nyamuk ini, apa mereka tak makan darah manusia berhari-hari sampai dari tadi terus menggigitiku!" kata Changmin kesal.

"Diam, Chwang, jangan berisik! Kau akan membuat kita ketahuan kalau terus berisik," desis Kyuhyun kesal.

"Semoga saja mereka tidak mengubah rencana dengan tiba-tiba. Aku heran kenapa mereka mau melakukan hal bodoh seperti itu. Anggota tim basket kami malah sudah menerima kekalahan secara sportif," keluh Shim Changmin.

"Itulah bedanya manusia yang punya otak dan tak punya otak, Chwang. Ukuran otot mereka lebih besar daripada kapasitas otak mereka. Maka dari itu, mereka kurang bisa berpikir logis," ucap Kyuhyun berapi-api.

"Kita yang ikut mengintai ini pun ikut yang mana?" sindir Shim Changmin.

Kalau boleh memilih Shim Changmin lebih suka pulang ke rumah. Namun, demi Kyuhyun, partner in crime, teman sehidup sematinya, ia rela menghabiskan malam di kebun belakang sekolah yang sepi dan gelap.

Sejak beberapa hari yang lalu, Kyuhyun sudah menceritakan semuanya pada Shim Changmin. Bukan hanya bercerita, namun Kyuhyun juga berhasil memaksa Shim Changmin untuk membantu rencananya.

Rencana yang konyol menurut Changmin. Ia sudah memberi ide yang lebih baik untuk melaporkan pada guru. Namun, Kyuhyun menolak ide itu karena khawatir dengan nasib Kim Ryeowook.

Kyuhyun dan Changmin sudah menyusun rencana. Mereka akan menyusup, menyerat Kim Ryeowook menjauh, dan memastikannya tidak mendapatkan masalah sesudahnya. Mereka berdua sudah lebih dari cukup untuk menjauhkan Kim Ryeowook dari masalah.

Rencana yang sederhana. Tapi, sulit untuk dilakukan. Itu yang ada di pikiran Shim Changmin saat ini.

"Bagaimana kalau rencanamu gagal, Kyu?" tanya Shim Chngmin was-was.

Masuk akal jika Shim Changmin merasa was-was. Meskipun mereka bukan termasuk salah satu dari gerombolan peyerang, namun mereka ikut menyusup di dalamnya. Kalau sampai tertangkap habislah riwayat mereka.

"Jangan sampai gagal! Mereka bergerak cepat, kita pun juga begitu. Banyak anak yang ikut serta, mereka tak akan menyadari kalau kita ikut menyusup. Jangan sampai kita tertangkap mata Han Kaisoo atau Kim Chul Sik. Begitu kita lihat Kim Ryeowook, kita harus secepatnya menyeretnya pergi," ucap Kyuhyun.

"Huh, kau kira melakukannya semudah kau bicara? Aku harap Kim Ryeowook itu tidak cukup bodoh untuk menolak ikut dengan kita," kata Shim Changmin.

"Berada di sana tidak cukup baik untuk Kim Ryeowook. Anak itu penakut. Mana mampu ia mengeluarkan tenaga untuk melukai orang lain. Bisa-bisa ia yang jadi sasaran empuk. Ia bukan jenis orang yang mampu membalas meskipun diinjak-injak orang lain. Ia hanya bisa diam dan pasrah. Aku yakin ia hanya akan berjongkok dan menutup kepalanya di tengah perkelahian," jawab Kyuhyun.

"Haahh, Kim Ryeowook, Kim Ryeowook, ia kira hidupnya akan baik-baik saja dengan hanya bersikap pasrah. Sekali-kali ia perlu diajari bagaimana berjuang untuk melindungi dan membela dirinya sendiri," kata Shim Changmin prihatin.

"Chwang, kau dengar suara langkah kaki? Aku rasa mereka mulai ke sini," kata Kyuhyun menghentikan Changmin bicara lebih panjang.

Kyuhyun dan Changmin merapatkan tubuhnya di balik rumpun perdu yang tumbuh subur di kebun belakang sekolah. Mereka juga mulai bersiaga.

Memang benar apa yang didengar Kyuhyun tadi. Tak kurang dari dua puluh anak berjalan ke arah kebun belakang sekolah. Dari tempatnya bersembunyi mereka dapat melihat ada Kim Chul Sik dan teman-temannya yang berpostur besar berjalan di barisan paling depan.

Di belakangnya, ada beberapa anak yang sekelas dengan Kyuhyun dan Changmin, selebihnya mereka tidak mengenalnya, mungkin mereka anak kelas 3 atau kelas 1. Paling belakang ada si kecil Kim Ryeowook yang berjalan dengan terpaksa yang di kiri dan kanannya diapit oleh Han Kaisoo dan Shin Dong Min.

Mereka berjalan tergesa dengan tangan kosong. Entah disimpan di mana senjata yang akan mereka pakai untuk menyerang Pyonae.

Kyuhyun dan Changmin masih bersembunyi di balik rumpun perdu yang banyak tumbuh di halaman belakang sekolah. Mereka menunggu saat yang tepat untuk dapat menyusup masuk dan menarik Kim Ryeowook keluar.

"Well, Kyuhyun-ah, bagaimana cara kita menarik Ryeowook keluar secara diam-diam kalau begitu?" tanya Changmin.

Kyuhyun menelan ludahnya kelu. Sekarang yang paling sulit adalah menyeret Kim Ryeowook keluar dari arena pertempuran tanpa disadari oleh siapa pun. Namun, kalau melihat Han Kaisoo dan Shin Dong Min yang menempel pada Kim Ryeowook, Kyuhyun harus mencari cara lain.

"Aku rasa rencana kita tidak akan berjalan sesuai rencana, Chwang. Kaulihat saja Han Kaisoo dan Shin Dong Min, mereka mengawal Kim Ryeowook dengan ketat," keluh Kyuhyun.

"Lalu?" tanya Changmin.

"Tak ada cara lain, Chwang. Berarti kita yang harus menyelinap masuk tanpa mereka sadari. Kalau kita tidak berhasil menyeret Ryeowook keluar, berarti kita harus melindunginya. Benar kan, Chwang?" kata Kyuhyun.

"Kyu, kau benar-benar sudah memikirkan risikonya kan? Bukan hanya sekedar memberi ide dadakan?" tanya Changmin gamang.

"Kita tidak punya waktu lagi, Chwang. Ayo, cepat kita ikuti mereka! Saat mereka mulai penyerangan saat itulah kita masuk."

Kyuhyun segera beranjak dari tempat persembunyiannya. Changmin mengikuti di belakangnya. Mereka menjaga jarak agar keberadaan mereka tidak diketahui oleh barisan penyerang yang ada di depannya.

Mereka harus sangat berhati-hati. Mereka hanya punya satu kali kesempatan. Sekali gagal, mereka tak tahu bagaimana nasib mereka selanjutnya.

Rombongan yang ada di depan Kyuhyun dan Changmin keluar area sekolah melalui pintu besi yang mnghubungkan sekolah mereka dengan jalan kecil yang ada di belakangnya.

Pyonae High School hanya berjarak tak lebih dari 500 meter dari sekolah mereka. Sekolah mereka memang berdekatan, namun rawan gesekan dan pertikaian. Hal sepele saja sudah bisa memicu perkelahian.

Hal itu sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu. Warisan turun-temurun yang tak patut dicontoh oleh generasi penerus kedua sekolah.

Dari jauh Kyuhyun dan Changmin dapat melihat kalau gerombolan pengacau dari sekolah mereka tidak akan masuk melalui pintu gerbang utama Pyonae. Mereka cukup cerdas dengan merusak pagar kawat yang mengelilingi samping timur gedung Pyonae High School.

Mereka masuk bergantian melalui pagar yang telah mereka rusak. Mereka langsung berlari menyerbu ke dalam area Pyonae High School dengan membawa senjata tumpul yang sudah mereka sembunyikan di dalam gorong-gorong yang ada di belakang sekolah.

Ada yang membawa pentungan, pipa, kayu, namun tampaknya mereka cukup pintar dengan tidak membawa senjata tajam. Mereka hanya akan membalas dendam dan memberi pelajaran pada siswa Pyonae, bukan ingin membinasakan.

Kyuhyun dan Changmin mengikuti langkah teman sekolah mereka dengan waspada. Mereka masuk ke area Pyonae High School dengan sikap sangat berhati-hati.

Mereka mendengar suara ribut dari dalam gedung. Nampaknya Kim Chul Sik dan pasukannya sudah menemukan buruannya dan menjalankan aksinya. Suara hantaman, teriakan, jeritan, pukulan terdengar semakin jelas saat Kyuhyun dan Changmin mendekati arena perkelahian itu.

Saat semakin dekat, Kyuhyun dan Changmin melihat pertarungan yang sangat tidak seimbang. Jumlah penyerang dan yang diserang sangat timpang.

Meskipun demikian, siswa Pyonae yang bernasib buruk karena diserang dengan tiba-tiba berusaha melawan dan mempertahankan diri. Mereka mengambil gagang kayu, batu, atau apa pun yang mereka temukan untuk bertahan dan membalas serangan.

Mata Kyuhyun terpaku pada satu titik. Kim Ryeowook, yang meski memegang tongkat kayu di tangannya, hanya bisa mengacung-ngacungkannya tanpa berani untuk menggunannya untuk memukul lawan.

Kim Ryeowook hanya mampu berteriak saat badanya terkena tendangan dari salah satu siswa Pyonae. Ryeowook jatuh terjengkang ke belakang. Anak itu malah hanya meringkuk dan menutupi kepalanya dengan kedua tangannya untuk melindungi kepala dan badannya dari pukulan dan tendangan yang diarahkan padanya.

Kyuhyun langsung berlari mendekati Ryeowook. Ia tidak menghiraukan Changmin yang berteriak di belakangnya. Ia tak bisa menunggu lagi terlalu lama. Ryeowook bisa menjadi bulan-bulanan di sini dan itu membuatnya tak bisa menahan dirinya lagi.

Kyuhyun mendorong hingga jatuh anak yang baru saja menendang dan memukul Ryeowook dengan tangan kosong. Ia menyeret tubuh Ryeowook dan melindunginya saat siswa Pyonae yang baru saja terjatuh itu kembali berdiri dan siap menyerang.

Kyuhyun berusaha mati-matian melindungi Ryeowook. Changmin yang datang sesudahnya pun melakukan hal yang sama. Ia memukul jika terpaksa harus mempertahankan dirinya.

Untung saja anak-anak yang lain tidak begitu memerhatikan kedatangan mereka. Mereka sudah larut dalam pertempuran itu. Kyuhyun tak melihat Kim Chul Sik, demikian juga dengan Han Kaisoo dan teman-temannya. Mungkin mereka bertarung di tempat yang lain atau mungkin juga mereka bersembunyi seperti pengecut.

"Chwang, bawa Ryeowook! Ayo, kita pergi dari sini!" seru Kyuhyun di sela-sela suara riuh perkelahian.

Shim Changmin menoleh ke belakang dan melihat Kim Ryeowook tengah berjongkok dan menutupi mukanya. Dalam hati ia merasa kasihan dengan Ryeowook yang berada di tempat dan waktu yang tidak semestinya.

Dengan sigap Shim Changmin menarik lengan Ryeowook dan memaksanya berdiri. Changmin menyeret langkah Ryeowook yang kakinya seolah-olah mati rasa dan tak bisa diajak bergerak.

Shim Changmin sudah akan berteriak mengajak Kyuhyun pergi saat tiba-tiba ada suara teriakan yang menyuruh mereka menghentikan perkelahian. Ada juga suara peluit yang ditiup dan beberapa orang dewasa berseragam berlari ke arah mereka dan meneriaki mereka untuk berhenti dan diam di tempat.

Para siswa penyerang mulai panik. Mereka semburat berlari menyelamatkan diri. Mereka tidak menghiraukan lagi yang lain. Yang dipikirkan hanyalah keselamatan dirinya sendiri.

"Kyu, cepat pergi! Ryeowook bersamaku!" teriak Shim Changmin sambil berlari menyeret Ryeowook.

Dengan ujung matanya, Kyuhyun melihat Shim Changmin berlari kencang sambil menggamit lengan Ryeowook. Tubuh kecil Ryeowook terlihat seperti boneka besar yang diseret-seret tanpa perikemanusiaan.

Kyuhyun mulai bernapas lega meski kini ia juga harus segera mengerahkan tenaganya untuk melarikan diri. Kyuhyun menghindari salah satu siswa Pyonae yang hendak menghadangnya, namun sial seseorang berhasil menyergapnya dari arah belakang.

Kyuhyun jatuh terjerembab. Ia merasa seseorang atau mungkin beberapa orang memiting tangannya dan menahan tubuhnya agar tetap tertelungkup di atas tanah. Kyuhyun berontak, namun tenaga orang-orang yang menyergapnya jauh lebih kuat.

Kyuhyun pasrah. Ia tak bisa berontak lagi. Kini ia tinggal menunggu nasibnya. Nasib buruk yang menghadang di depannya.

"Urrgghh…!" Kyuhyun mengeluh tertahan.

Betisnya mulai terasa perih. Bukan hanya itu telinganya juga rasanya berdenging.

Setelah kejadian tiga puluh menit yang lalu, beberapa siswa Sajon yang tertangkap basah melakukan penyerangan ke Pyonae digiring masuk ke sekolah dan disuruh berdiri berjajar di dalam aula sekolah.

Ada beberapa yang berhasil selamat, namun sebagian besar berhasil tertangkap. Pihak Sajon menginginkan siswa mereka yang melakukan perbuatan brutal diadili dengan cara mereka sendiri.

Kepala Sekolah Sajon sendiri yang kabarnya menegosiasikan hal itu dengan Kepala Sekolah Pyonae. Mereka tidak ingin melibatkan pihak yang berwajib karena akan mencoreng reputasi sekolah.

Kyuhyun, yang menjadi salah satu siswa yang tidak beruntung menyelamatkan diri, harus rela menjadi pesakitan di hadapan guru-gurunya sendiri.

Ia masih ingat wajah Kang Ho Dong, wali kelasnya, yang penuh murka sambil menyorotkan senter besar ke arah mukanya sewaktu di Pyonae tadi.

Kyuhyun tidak tahu siapa yang berhasil menjatuhkannya, namun ia ingat betul bagaimana marahnya Kang Ho Dong Seonsaengnim padanya.

Kang Ho Dong Seonsaengnim malah sudah berteriak berang di depan wajah Kyuhyun, sesaat setelah ia sampai di dalam aula hingga membuat telinganya berdenging. Betisnya sudah dua kali menjadi sasaran kemarahan gurunya itu. Pukulan rotan Kang Ho Dong memang luar biasa.

Kyuhyun melirik ke samping kiri kanannya. Wajah-wajah kuyu seperti prajurit yang kalah perang tampak di raut muka para siswa. Mungkin baru sekarang mereka menyesali perbuatannya, mungkin juga baru saat ini mereka meratapi risiko dari perbuatan mereka.

"Perbuatan kalian benar-benar keterlaluan!" teriak Kang Ho Dong pada salah satu siswa kelas 3 yang merupakan mantan anggota tim basket.

"Perbuatan bodoh yang hanya dilakukan orang-orang yang tidak punya otak!" sambung Kang Ho Dong sambil berjalan memutari barisan anak-anak yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Tak ada seorang pun yang berani membantah. Tak ada seorang pun yang berani mengangkat wajahnya. Mereka hanya berdiri diam dan menunduk.

"Hanya orang bar-bar yang memiliki kelakuan seperti itu. Dan kalian, yang mengaku sebagai orang terpelajar, dengan bodohnya memiliki kelakuan seperti itu! Di mana kalian letakkan otak kalian, hah!"

Tak hanya Kang Ho Dong yang merasa marah dengan kelakuan para siswanya malam itu. Para guru yang kebetulan masih ada di sekolah pun juga sama marahnya. Mereka yang telah bersusah payah mengajar dan mendidik murud-muridnya, merasa seperti gagal mengarahkan anak didiknya.

"Kau, apa untungnya kau berbuat seperti itu? Jawab!" teriak Kang Ho Dong Seonsaengnim pada Kyuhyun sambil menunjukkan rotannya tepat di depan wajah Kyuhyun.

Kyuhyun hanya bisa terdiam. Ia tak punya jawaban. Memberi jawaban untuk menyelamatkan Kim Ryeowook tentu terdengar sangat bodoh dan tidak masuk akal.

"Apa kau tidak bisa memberi contoh teman-temanmu yang lain? Apa kau tidak bisa menahan teman-temanmu itu untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan sekolah? Kau, siswa yang cerdas seharusnya bisa berpikir lebih baik dari yang lain. Bukannya malah ikut-ikutan!" teriak Kang Ho Dong Seonsaengnim lagi pada Kyuhyun.

Kyuhyun meratap dalam hati. Kalau bisa ia ingin menyobek wajahnya yang seakan sudah tak punya muka lagi. Atau kalau bisa, ia ingin lantai yang dipijaknya terbelah dan menelan dirinya.

Kang Ho Dong Seonsaengnim masih terus mencecar murid-muridnya satu per satu. Demikian juga dengan guru yang lain. Para siswa hanya bisa pasrah dan menunggu hukuman apa yang akan mereka terima.

"Kami sudah menelepon orang tua kalian. Kalian hanya boleh pulang jika orang tua kalian yang menjemput dan menandatangani surat pernyataan. Kalau orang tua kalian menolak, kalian bisa menginap di sekolah sampai besok pagi. Paham!"

Hati Kyuhyun mencelos mendengar ucapan salah seorang gurunya itu. Hukuman di sekolah tak sebanding dengan hukuman yang akan ia terima di rumah. Ibunya akan mengurungnya, tidak membolehkannya keluar rumah, atau menyita barang-barangnya.

Mungkin juga ibunya akan mengatainya bodoh dan tak punya otak seperti yang dikatakan Kang Ho Dong Seonsaengnim tadi. Atau lebih parah lagi, ibunya pasti akan menghajarnya begitu tiba di rumah.

Ibunya tak pernah memukulnya, namun kalau melihat kesalahannya hari ini hal itu bisa saja terjadi. Kyuhyun hanya bisa berharap hal ini tak akan sampai ke telinga kakeknya atau rencananya untuk membujuk kakeknya bisa kandas.

Perlu waktu beberapa lama hingga orang tua mereka datang. Mereka masih harus berdiri sampai orang tua mereka datang menjemput. Kaki Kyuhyun rasanya sudah mulai pegal, terutama betisnya yang terkena sabetan rotan tadi.

Sambil menunggu, Kyuhyun mengedarkan pandangannya. Kim Chul Sik ada di ujung barisan. Ia terlihat tenang meskipun menundukkan kepalanya. Kyuhyun yakin ia menundukkan kepalanya bukan karena menyesal.

Sudut bibir Kyuhyun tertarik ke atas saai ia melihat Han Kaisoo ada di ujung barisan di belakangnya. Dalam hati ia bersorak senang karena anak itu mendapatkan hukumannya juga. Apalagi dilihatnya Han Kaisoo hanya seorang diri di sini tanpa kedua sekutunya.

Kedua temannya itu lebih cepat melarikan diri dan meninggalkannya sendirian. Hmmm…ganjaran yang pantas untuk pengacau menyebalkan seperti Han Kaisoo.

Kyuhyun mulai berpikir mungkin Han Kaisoo dijemput salah satu atau kedua orang tuanya. Mungkin orang tuanya akan memakinya di tempat saking marahnya. Memikirkan hal itu membuat hati Kyuhyun sedikit lebih senang.

Kyuhyun hanya berharap orang tua Han Kaisoo akan datang lebih dulu daripada ibunya sehingga ia bisa menonton pertunjukan hiburan.

"Ah, Kepala Sekolah Lee, Anda sudah datang!" sapa Kang Ho Dong Seonsaengnim pada kepala sekolah mereka.

Para guru yang ada di dalam aula mengangguk memberi hormat pada pimpinan mereka itu. Kepala Sekolah Lee mengedarkan pandangannya ke sekeliling aula dan matanya tertumbuk pada sosok Han Kaisoo.

"Kang Ho Dong Seonsaengnim, aku baru saja menerima telepon penting dari seseorang yang sangat penting pula. Beliau mengatakan bahwa ada suatu kesalahan," ucap Kepala Sekolah Lee.

"Maksud Anda, Kepala Sekolah?" tanya Kang Ho Dong tak mengerti.

"Beliau meneleponku bahwa putranya sebenarnya tidak ikut-ikutan dalam penyerangan ini. Ia hanya diperalat dan dijebak," jelas Kepala Sekolah Lee.

"Bisa Anda jelaskan lagi, Kepala Sekolah?"

"Tuan Han Jung Ahn baru saja meneleponku. Ia mengatakan bahwa putranya diperalat karena ia punya banyak pengaruh. Ia tidak bersalah. Ia hanya ada di tempat dan waktu yang salah," jawab Kepala Sekolah Lee.

"Tapi, Kepala Sekolah, anak-anak ini sudah merencanakannya dengan matang. Mereka sudah mempersiapkan semuanya. Mana mungkin ada yang merasa terjebak dengan hal ini," sanggah Kang Ho Dong.

"Guru Kang, Han Kaisoo hanya dijadikan umpan dan alat. Tentu saja kita tidak bisa menghukum seorang anak lemah yang tak bisa menolak untuk diperalat. Ia tidak pernah melanggar peraturan sekolah bukan? Jadi, mana mungkin putra Tuan Han ikut-ikutan penyerbuan ini dengan sukarela? Itu sangat tidak masuk akal," jelas Kepala Sekolah Lee.

Cho Kyuhyun berjengit mendengar ucapan kepala sekolahnya itu. Kepala Sekolah hanya mengenal Han Kaisoo dari luarnya saja, ditambah koneksi keluarganya, beliau nampaknya sudah menutup mata dengan andil Han Kaisoo dalam aksi penyerangan ini.

"Han Kaisoo-ssi, Anda bisa ikut dengan saya!" ajak Kepala Sekolah Lee pada Han Kaisoo.

"Tunggu, Kepala Sekolah! Han Kaisoo tidak seperti yang Anda kira. Ia juga ikut merencanakan semua ini. Ia juga ikut mempengaruhi dan mengajak siswa yang lain," sergah Kyuhyun tanpa pikir panjang.

"Kau juara Olimpiade Matematika bukan? Apa kau juga merasa dijebak atau ikut dengan sukarela?" tanya Kepala Sekolah Lee sambil berjalan mendekati Kyuhyun.

Kyuhyun menelan ludahnya kelu. Ia tidak dijebak, namun ia juga tidak ikut dengan sukarela. Ia menyusup hanya untuk menyelamatkan Kim Ryeowook. Tapi Kyuhyun tak bisa mengatakan hal itu di depan kepala sekolahnya.

Kim Ryeowook bisa mendapatkan sangsi kalau sampai kepala sekolah tahu ia juga terlibat. Kim Ryeowook bisa kehilangan beasiswanya dan itu artinya Kim Ryeowook tidak bisa melanjutkan pendidikannya lagi.

"Ada perbedaan mendasar antara dipaksa dan sukarela, Kyuhyun-ssi. Han Kaisoo sudah jelas-jelas diperalat. Dan kau memang dengan kemauanmu sendiri ikut dalam rencana kotor ini. Kau seharusnya malu pada dirimu sendiri," ucap Kepala Sekolah Lee pada Kyuhyun.

Cho Kyuhyun mengepalkan tangannya mendengar ucapan kepala sekolahnya itu. Han Kaisoo berteman akrab dengan anaknya, tentu saja Kepala Sekolah akan membelanya. Selain itu, ayah Han Kaisoo sangat berpegaruh di Sajon. Ia salah satu donatur dan penyandang dana terbesar sekolah ini.

"Kang Ho Dong Seonsaengnim, aku serahkan padamu anak-anak ini. Sangsi sesuai aturan sekolah harus tetap diberikan, aturan sekolah harus tetap ditegakkan. Mari, Han Kaisoo-ssi, Anda bisa ikut dengan saya!" ucap Kepala Sekolah Lee seraya meninggalkan aula dengan Han Kaisoo mengikuti di belakangnya.

Gigi Cho Kyuhyun bergemeletuk menahan amarah. Han Kaisoo lebih buruk daripada semua yang ada di ruangan ini. Ia jauh lebih rendah daripada Kim Chul Sik. Ia bisa lolos dari hukuman hanya karena orang tuanya.

Kyuhyun menatap nyalang Han Kaisoo yang melenggang dengan santainya meninggalkan aula. Dadanya lebih bergemuruh lagi saat Han Kaisoo menatapnya dengan pandangan mengejek dan tersenyum sinis padanya. Cho Kyuhyun bersumpah suatu hari nanti ia akan membuat Han Kaisoo jatuh tersungkur di bawah kakinya.

TBC

Han Kaisoo tambah nyebelin kan? Dia memang trouble maker sejati. Rencananya Han Kaisoo mau saya jadikan musuh abadinya Kyuhyun. Meski sebel sama 1 orang moga aja gak ada yang ingin nglempar saya pake sandal (kkkkkk….). Jangan lupa review ya guys. Happy reading.