CHAPTER 23
Choi Kihoon duduk termangu dalam mobilnya. Ia tengah dalam perjalanan ke Sajon High School, tempat anak lelakinya bersekolah. Telepon yang baru saja diterimanya membuatnya harus menunda waktu istirahatnya dan cepat-cepat menuju sekolah.
Choi Kihoon baru saja pulang dari kantor. Hari ini tidak begitu banyak pekerjaan. Jadi, ia bisa pulang lebih cepat. Rencananya ia ingin mengistirahatkan tubuhnya yang penat.
Ia menerima sendiri telepon dari sekolah sesaat setelah kakinya memasuki rumah. Hari istrinya ada acara amal di Busan. Jadi, ia harus menunda dulu keinginannya untuk beristirahat.
Choi Kihoon tak punya waktu lagi untuk mandi dan berganti pakaian. Rasa cemasnya mengalahkan rasa penatnya. Ia belum tahu keadaan putranya. Ia hanya tahu apa yang sudah dilakukan putranya itu. Pihak sekolah yang meneleponnya tadi hanya menjeaskan secara sekilas.
Saat memasuki gerbang utama Sajon High School, Choi Kihoon langsung disuguhi adegan dramatis. Ada orang tua yang menyeret tangan anaknya dengan raut muka kesal, ada yang yang memukul punggung anaknya dengan tas yang dibawanya, dan ada juga yang mendorong anaknya dengan kasar memasuki mobil.
Satu per satu kendaraan melaju meninggalkan halaman sekolah. Ia datang lebih akhir rupanya. Banyak anak yang sudah dijemput oleh orang tuanya.
Mobil yang ditumpangi Choi Kihoon berhenti di depan pintu masuk lobi utama. Saat menaiki undakan Choi Kihoon melihat Kepala Sekolah Sajon yang kelihatannya baru kembali dari mengantarkan seseorang.
"Ah, Tuan Choi, selamat malam!" sapa Kepala Sekolah Lee ramah.
"Selamat malam, Tuang Lee!" balas Choi Kihoon sambil menjabat tangan Kepala Sekolah Sajon itu.
"Maaf, Tuan Choi, ada keperluan apa Anda datang ke sekolah malam-malam begini?" tanya Kepala Sekolah Lee dengan sopan.
Kepala Sekolah Lee sangat mengenal baik Choi Kihoon. Sejak anaknya, Choi Siwon, berhasil mengharumkan nama sekolah dengan prestasinya selama menempuh pendidikan di Sajon. Bahkan, sampai saat ini Choi Kihoon masih menjalin hubungan baik dengan menjadi donatur utama Sajon High School.
Kepala Sekolah Lee sangat menghormatinya. Tuan Choi masih berbaik hati mengucurkan donasi yang tidak sedikit untuk sekolah ini meskipun anaknya sudah tidak lagi bersekolah di Sajon.
"Saya baru saja menerima telepon dari sekolah, Tuan Lee. Putra saya terlibat suatu masalah dan meminta saya sebagai orang tuanya untuk menjemput dan menandatangani surat pernyataan," jelas Tuan Choi.
"Ah, maaf, Tuan Choi, bukankah putra Anda sudah lama menyelesaikan sekolahnya? Saya tidak pernah tahu Anda masih memiliki putra yang saat ini tengah bersekolah di sini," kata Kepala Sekolah Lee dengan raut muka bingung.
Kepala Sekolah Lee membuka lembaran kertas yang berisi nama-nama siswa yang terlibat peyerangan ke Pyonae malam ini. Ia menelusuri dengan teliti nama anak-anak yang terlibat satu per satu. Tak ada seorang pun siswa yang bermarga Choi yang tertera di situ.
"Tuan Choi, maaf, mungkin ada suatu kesalahan. Tidak ada nama putra Anda di daftar yang saya terima. Mungkin pegawai saya keliru dengan menghubungi Anda tanpa mengeceknya terlebih dahulu," kata Kepala Sekolah Lee rikuh.
Choi Kihoon tersenyum. Ia maklum kalau semua orang di Sajon tidak mengenali putra bungsunya. Marga yang disandang putranya itu memang berbeda dengan nama keluarganya.
"Tuan Choi, mari kita ke ruangan saya dulu. Kelihatannya saya harus meluruskan kesalahpahaman ini," ajak Kepala Sekolah Lee yang merasa semakin tak enak hati.
Kepala Sekolah Lee berjalan ke arah kantornya. Tuan Choi mengikuti di belakangnya. Dalam hati, Tuan Choi bertanya-tanya kesalahpahaman apa yang hendak dijelaskan oleh Kepala Sekolah Lee. Dalam telepon yang diterimanya tadi, ia jelas-jelas mendengar nama putranya disebutkan dengan lengkap.
"Silakan duduk, Tuan Choi!" kata Kepala Sekolah Lee sesampainya di ruang kepala sekolah.
Kepala Sekolah Lee mengambil tempat di depan Tuan Choi dan kembali menelusuri nama yang tertera di ats kertas yang dipegangnya.
"Tadi, ada yang menelepon saya dan mengatakan kalau putra saya terlibat perkelahian dengan sekolah lain. Saya harus datang ke sekolah untuk menyelesaikan hal ini," terang Tuan Choi pada Kepala Sekolah Lee.
"Tapi, tampaknya putra Anda tidak terdapat dalam daftar nama siswa yang saya terima, Tuan Choi. Saya benar-benar minta maaf atas kesalahan ini," jawab Kepala Sekolah Lee.
"Tidak salah, Tuan Lee. Orang yang menelepon saya tadi menyebutkan nama putra saya dengan amat jelas, namun tidak menjelaskan bagaimana keadaannya," sanggah Tuan Choi.
"Sekali lagi saya minta maaf, Tuan Choi. Kalau bolehh tahu, siapa nama putra Anda? Karena yang saya tahu Anda hanya memiliki satu putra, Choi Siwon," tanya Kepala Sekolah Lee ingin tahu.
"Cho Kyuhyun. Nama putra saya adalah Cho Kyuhyun."
Kepala Sekolah Lee membelalak kaget, lidahnya pun terasa kelu. Ia tak menyangka Tuan Choi Kihoon akan menyebutkan nama anak yang tadi sempat dimarahinya sebagai putranya.
"Nama keluarganya memang berbeda. Saya maklum kalau Anda tidak mengenalnya, tapi ia tetap putra saya. Ia putra bungsu saya," kata Choi Kihoon sambil tersenyum.
"Ah, Tuan Choi, Anda sebenarnya tidak perlu repot-repot datang ke sekolah! Anda bisa langsung menelepon saya tadi. Saya bisa membantu Anda," kata Kepala Sekolah Lee yang semakin tak enak hati.
"Saya tidak bisa seperti itu, Kepala Sekolah. Kyuhyun sudah melanggar peraturan sekolah bukan? Kalau ia harus menerima sanksi dari sekolah, saya tidak keberatan. Ia juga harus belajar bertanggung jawab dan menerima risiko atas perbuatannya," kata Tuan Choi.
Kepala Sekolah Lee mengusap tengkuknya dengan kikuk. Apa yang diucapkan Tuan Choi tadi seperti menohok hatinya.
"Anda benar, Tuan Choi, semua yang Anda ucapkan itu benar. Tapi, meskipun begitu, saya tetap merasa tidak enak dengan Anda," jawab Kepala Sekolah Lee semakin merasa rikuh.
"Bolehkah saya menemui putra saya, Tuan Lee. Saya harus membawanya pulang," kata Tuan Choi.
"Oh, tentu saja, Tuan Choi. Saya akan mengantar Anda ke aula," ucap Kepala Sekolah Lee dengan segan.
Kepala Sekolah Lee segera memimpin langkah Tuan Choi menuju aula. Ia merutuk dalam hati karena keteledorannya. Belum lagi, ia sempat memarahi putra Tuan Choi. Ia takut Kyuhyun akan menceritakan semuanya pada ayahnya yang menyebabkan ia harus kehilangan donatur utama sekolahnya.
Bukan rahasia lagi, kalau sekolah swasta seperti Sajon tidak hanya bergantung pada uang sekolah murid-muridnya. Mereka masih memerlukan uluran tangan para donatur untuk mengembangkan sekolah dan memperlancar proses belajar mengajar di sekolah.
Mengelola sekolah swasta, apalagi dengan nama besar seperti Sajon, pasti membutuhkan dana yang besar pula. Dana besar itu untuk membiayai operasional sekolah dan kegiatan-kegiatan pengembangan diri.
Langkah kepala sekolah terhenti di depan pintu masuk aula. Suasana sudah mulai sepi karena sebagian besar orang tua sudah menjemput anaknya untuk pulang. Tinggal beberapa anak lagi yang masih berdiri menunggu orang tuanya datang, termasuk Cho Kyuhyun.
Para guru yang melihat kedatangan Tuan Choi di depan pintu aula juga mengangguk hormat. Mereka juga merasa heran dengan kedatangan Tuan Choi di saat-saat seperti ini.
"Guru Kang, Tuan Choi ingin menjemput putranya pulang," kata Kepala Sekolah Lee pada Kang Ho Dong.
Para guru terkesiap mendengar apa yang diucapkan kepala sekolah barusan. Dalam hati mereka bertanya-tanya putra yang mana yang akan Tuan Choi jemput.
Tak jauh beda dengan para guru, semua yang ada di ruangan itu pun digelayuti dengan banyak tanya dalam benak mereka. Hampir semua yang ada di ruangan itu mengenal siapa Choi Kihoon. Ia seorang pengusaha terkenal. Banyak orang mengenal rupanya meskipun tak banyak yang tahu tentang kehidupan pribadinya.
Hal itu tak pelak membuat Cho Kyuhyun terkesiap. Ia tak menyangka ayahnya yang akan menjemputnya. Ia mengira ibunyalah yang yang akan membawanya pulang. Selama ini ayahnya tak pernah ikut campur dengan segala urusan di sekolahnya. Semua itu atas permintaan Kyuhyun sendiri.
"Cho Kyuhyun-ssi, ayah Anda sudah menjemput. Anda bisa pulang sekarang," kata Kepala Sekolah Lee sambil tersenyum ramah.
Kyuhyun mencemooh dalam hati. Beberapa saat yang lalu Kepala Sekolah Lee memarahinya. Namun, sekarang karena ayahnya, ia berubah jauh lebih ramah padanya.
Kyuhyun mengambil tas yang tergolek di bawah kakinya. Ia berjalan gontai mendekati ayahnya yang masih berdiri di dekat pintu masuk aula.
Di dekat pintu masuk aula itu ada sebuah meja kecil yang di atasnya terdapat setumpuk kertas berisi surat pernyataan yang harus ditandatangani orang tua. Di situ tertera juga sanksi apa yang harus mereka terima.
Tuan Choi mendekati meja itu untuk menandatangani surat pernyataan. Melihat apa yang akan dilakukan Tuan Choi, Kepala Sekolah buru-buru mencegahnya.
"Saya kira Anda tidak perlu menandatanganinya, Tuan Choi. Anda bisa langsung membawa putra Anda pulang. Saya yang akan mengurusnya," sergah Kepala Sekolah Lee.
"Tak apa, Tuan Lee. Anak saya memang bersalah kan. Jadi, dia pantas menerima hukumannya," jawab Tuan Choi sambil tersenyum.
Kepala Sekolah Lee semakin merasa segan pada Tuan Choi Kihoon. Tadi, ia sudah berhasil membersihkan nama Han Kaisoo. Tapi karena ketidaktahuannya ia malah menyeret anak Choi Kihoon, bahkan ia tadi sempat membentak dan memarahinya.
Ia khawatir kalau Kyuhyun akan berkata yang tidak-tidak pada ayahnya itu. Kepala Sekolah Lee sangat sadar sekolahnya hanya dapat berjalan karena uluran tangan para donatur, termasuk ayah Kyuhyun.
"Saya sebagai orang tua mohon maaf atas kelakuan anak saya, Tuan Lee. Maaf saya tidak mampu mendidik anak saya dengan baik," ucap Tuan Choi penuh sesal sambil membungkukkan badannya.
"Ah, jangan begitu, Tuan Choi! Saya yang seharusnya meminta maaf karena tidak mengenali putra Anda. Kalau saya tahu, tentu Anda tidak perlu datang ke sekolah. Cukup saya yang menyelesaikan masalah ini," jawab Kepala Sekolah Lee.
Kyuhyun merasa sebal dengan semua yang diucapkan kepala sekolahnya itu. Semua yang dikatakannya di depan ayahnya saat ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang dikatakannya pada Kyuhyun saat membawa Han Kaisoo pergi tadi.
Tuan Choi segera pamit pada Kepala Sekolah Lee. Ia menggandeng tangan Kyuhyun yang terlihat melangkahkan kakinya dengan berat di samping ayahnya. Sekejap telinga Kyuhyun mendengar bisikan-bisikan di belakangnya. Ia yakin kedatangan ayahnya ke sekolah pasti menjadi berita hangat di seluruh sekolah.
Choi Kihoon terus menggamit lengan Kyuhyun. Ia mengajak anaknya itu masuk ke dalam mobil yang menunggu mereka di halaman sekolah.
"Sepedaku, Appa?" tanya Kyuhyun.
"Appa sudah menyuruh orang untuk mengambilnya. Kau akan pulang bersama Appa," sahut Choi Kihoon.
Kyuhyun menuruti perkataan ayahya itu. Bukan ide yang baik kalau ia menolak ajakan ayahnya itu. Ia sudah membuat ayahnya repot-repot ke sekolahnya malam ini hanya untuk menjemputnya pulang dan membereskan masalahnya.
"Maafkan aku, Appa!" ucap Kyuhyun lirih.
"Kita bicarakan nanti di rumah. Sepertinya kau harus istirahat beberapa hari di rumah," kata ayahnya pada Kyuhyun.
Kyuhyun menunduk dan semakin tak enak hati. Ia tahu ayahnya tak akan pernah marah padanya. Mereka hanya akan bicara empat mata. Tapi, hal itulah yang membuat Kyuhyun semakin menyegani ayahnya.
"Kenapa bukan eomma yang menjemputku?" tanya Kyuhyun.
"Eomma-mu sedang ada di Busan. Appa rasa kau harus memberi penjelasan panjang lebar pada eomma nanti," sahut ayahnya.
"Eomma pasti marah besar," kata Kyuhyun muram.
"Kau pasti tahu akibatnya. Tapi, bukan hanya eomma-mu yang butuh penjelasan, Appa juga butuh penjelasanmu. Apa yang kaulakukan kali ini sungguh-sunnguh di luar tabiatmu. Appa yakin kau punya alasan tertentu hingga melakukannya," kata ayah Kyuhyun sambil menatap wajahnya.
Kyuhyun memalingkan mukanya. Ia tak yakin alasannya bisa diterima dengan baik oleh orang tuanya. Mungkin mereka akan menyebut kelakuannya itu bodoh. Melakukan sesuatu yang bukan urusannya memang terdengar bodoh di telinga orang lain.
"Bagaimana kalau aku bilang hari ini aku melakukannya karena aku nakal?" tanya Kyuhyun sangsi.
Choi Kihoon tertawa mendengar ucapan Kyuhyun itu. Nakal bukan kata yang ada dalam hidup anak bungsunya itu. Meskipun keras kepala, namun Kyuhyun bukan termasuk kategori anak nakal.
"Itu alasan yang kurang dapat Appa terima. Sepertinya kita akan menghabiskan malam dengan membicarakan hal ini di rumah," jawab Choi Kihoon.
Kyuhyun tersenyum kecut pada mendengar ucapan ayahnya itu. Ia harus mencari jawaban yang tepat agar orang tuanya percaya tanpa melibatkan Kim Ryeowook.
Kim Ryeowook berdiri di depan gerbang kokoh berwarna cokelat. Akhir pekan ini ia memberanikan diri untuk datang ke rumah ini lagi. Setahun yang lalu ia datang ke rumah ini bersama ayahnya. Ia tak pernah menyangka akan kembali lagi ke rumah ini untuk alasan yang berbeda.
Kim Ryeowook sampai harus berjinjit. Pintu gerbang itu sangat tinggi. Kepalanya tak bisa melewati pintu itu hanya untuk sekadar melongok ke dalam.
Di samping pintu gerbang itu ada interkom. Kim Ryeowook memencet tombol interkom itu dan seseorang di dalam rumah menyambutnya lewat suara.
"Annyeong haseyo, saya Kim Ryeowook. Saya teman sekolah Kyuhyun dan ingin bertemu dengan Kyuhyun," kata Ryeowook di depan interkom itu.
Seseorang itu menyuruh Ryeowook menunggu dan Ryeowook pun melakukannya. Ia harap-harap cemas dan menunggu pintu gerbang di depannya itu terbuka.
Ternyata bukan pintu gerbang itu yang terbuka, melainkan pintu berukuran lebih kecil yang ada di sebelahnya yang terbuka. Kepala Kyuhyun menyembul dari dalamnya.
"Ayo, masuk!" ajak Kyuhyun.
Kim Ryeowook mengikuti langkah Kyuhyun. Ia mengekori langkah Kyuhyun menyeberangi halaman rumput yang luas. Ada banyak pohon besar yang daun-daunnya sudah mulai berguguran. Ryeowook menatap rumah besar yang berdiri menjulang itu. Rumah yang membuatnya terkagum-kagum saat pertama kali melihatnya setahun yang lalu.
Kim Ryeowook masih saja mengagumi rumah itu. Rumah itu tidak dibuat dengan model klasik nan mewah, namun bergaya minimalis dengan sentuhan modern. Rumah itu besar tentu saja. Tahun lalu saat ayahnya mengajaknya ke rumah ini, Kim Ryeowook hanya menunggu di beranda rumah. Ia tidak sampai masuk ke dalam rumah.
Semula Kim Ryeowook mengira Kyuhyun sama dengan dirinya. Ia hampir saja termakan omongan Lee Kwang So tentang Kyuhyun. Ia tak menyangka kalau Kyuhyun adalah putra Tuan Choi Kihoon, atasan ayahnya.
Kim Ryeowook berusaha bertingkah biasa saja saat memasuki rumah itu meskipun kepalanya ingin menoleh ke segala arah. Ia berusaha mengendalikan dirinya dengan bersikap sopan.
"Kita langsung ke kamarku saja, Ryeowook!" ajak Kyuhyun.
Kim Ryeowook hanya mengangguk mengiyakan ajakan Kyuhyun. Dalam hati ia berdecak saat melihat foto besar keluarga Choi yang digantung di ruang tamu. Ah, andai saja tahun lalu ia ikut masuk ke dalam rumah ini tentu ia akan tahu siapa Kyuhyun sejak awal.
"Aku membawakanmu catatan dan soal-soal selama kau tidak masuk, Kyu," kata Ryeowook canggung.
Kyuhyun tersenyum pada Ryeowook lalu mengajaknya ke lantai atas di mana kamarnya terletak.
Ryeowook meneguk ludahnya dengan susah payah. Ia tak pernah mengira masuk ke dalam rumah besar itu akan membuatnya secanggung ini. Berhadapan dengan Kyuhyun pun tidak sesantai dulu seperti saat ia belum mengetahui siapa Kyuhyun sebenarnya.
Ryeowook tak menyangka, Kyuhyun yang selama ini dikenalnya sangat bersahaja, ternyata berasal dari keluarga yang terpandang. Teman-teman di sekolah pun juga tidak ada yang menyangka.
Banyak yang kagum dengan cara hidup Cho Kyuhyun selama ini, namun tak sedikit pula yang mencibir. Bahkan ada yang bilang kalau Kyuhyun bukan anak kandung Choi Kihoon dan Tuan Choi tidak menerima kehadirannya sebagai anggota keluarga Choi.
Kim Ryeowook pun punya pemikiran yang sama, mengingat betapa tertutupnya Kyuhyun tentang keluarganya selama ini. Yah, mungkin saja gosip itu benar meskipun Ryeowook belum dapat membuktikannya atau mengonfirmasi langsung pada Kyuhyun.
Mungkin itu alasan Kyuhyun tidak mau bercerita tentang keluarganya. Kalau itu memang benar, Ryeowook merasa menyesal telah berulang kali mendesak Kyuhyun untuk menceritakan yang sesungguhnya. Siapa pun tentu tak akan bercerita dengan suka hati perihal keluarga yang tidak menerima kehadirannya. Sekarang Kim Ryeowook merasa maklum meskipun ia juga merasa kasihan pada Kyuhyun.
Langkah Kyuhyun yang diikuti Kim Ryeowook terhenti di ujung lorong lantai dua rumah itu. Kyuhyun membuka pintunya dan suara lain yang tidak asing lagi di telinga Kim Ryeowook pun terdengar.
"Kalian juga di sini?" sapa Ryeowook pada Shim Changmin dan Choi Minho yang sedang bercanda sambil menatap ke layar besar di hadapan mereka.
"Oh, halo, Kim Ryeowook! Kami sudah di sini sejak tadi pagi," balas Choi Minho.
"Mereka bahkan datang sebelum aku bangun tidur," keluh Kyuhyun lalu duduk di lantai di samping kedua sahabatnya itu.
Kim Ryeowook pun duduk bersama mereka di atas karpet cokelat tebal yang digelar di lantai. Mereka sedang bermain game ternyata.
"Mumpung libur, kami bemain game. Kami baru datang hari ini. Tiga hari yang lalu kami mana berani datang. Ibu Kyuhyun pasti akan mengusir kami. Kau dihukum apa lagi selain tidak boleh keluar rumah dan menerima telepon dari siapa pun, Kyu?" tanya Shim Changmin menggoda Kyuhyun yang sudah cemberut saking sebalnya.
Malam itu juga setelah ayahnya membawanya pulang, ibu Kyuhyun yang sedang berada di Busan pun langsung pulang ke Seoul. Meskipun lelah luar biasa, tapi ibunya masih bisa memarahinya selama berjam-jam (menurut Kyuhyun).
Kyuhyun tidak boleh keluar rumah selama masa skorsing, ia juga dilarang menerima telepon, bermain game, bahkan Siwon, hyung-nya juga dilarang menyambangi kamarnya. Singkat cerita Kyuhyun merasa ia diasngkan dari dunia karena menurut ibunya kesalahannya kali ini tidak bisa ditolerir lagi. Benar-benar menyiksa.
Untung saja besok Kyuhyun sudah bisa kembali ke sekolah. Meskipun ibunya menyuruh untuk langsung pulang ke rumah seusai sekolah dan melarang Kyuhyun pergi ke mana pun sampai batas waktu yang tidak ditentukan, namun Kyuhyun merasa bisa menghirup napas kebebasan meski hidupnya masih berkutat antara rumah dan sekolah.
"Orang tuamu ke mana, Kyu?" tanya Ryeowook was-was.
Mendengar perkataan Changmin membuat Ryeowook merasa cemas. Ia tidak mau diusir dari rumah ini. Masuk di lingkungan chaebol terasa menakutkan bagi Ryeowook.
"Tak perlu tegang seperti itu, Kim Ryeowook! Hanya ada kita berempat sekarang orang tua Kyuhyun dan Siwon hyung tidak ada di rumah sekarang!" kata Shim Changmin menenangkan saat melihat perubahan raut muka Kim Ryeowook.
"Kau mau ikut main? Bertanding denganku, ya! Mereka berdua curang tidak membiarkanku menang sekali pun," keluh Choi Minho merayu Kim Ryeowook.
Kim Ryeowook menggeleng. Ia tak tahu cara bermain. Ia tak mau terlihat bertambah bodoh di tempat yang membuatnya canggung sejak pertama kali ia memutuskan mengunjungi Kyuhyun.
"Mana catatan dan tugas-tugas yang kaubawakan untukku, Ryeowook? Mereka berdua ini memang tidak berguna. Shim Changmin malah tidak ingat sama sekali untuk membawakanku catatan. Mereka berdua hanya menghabiskan makanan saja dari tadi," cemooh Kyuhyun.
"Bukannya aku lupa. Aku hanya tidak ingat untuk membawakannya untukmu," kilah Shim Changmin menyebalkan.
"Huh, apa bedanya kalau begitu? Kau juga tidak ingat untuk mencari tahu keadaanku kemarin," kata Kyuhyun sebal.
"Ibumu tak memberitahu? Aku sudah ke sini dua hari yang lalu. Ibumu yang menemuiku dan menyuruhku pulang. Kau tidak boleh menerima tamu sampai hukumanmu selesai. Menyeramkan sekali," balas Shim Changmin membela diri.
Kyuhyun berdecak. Pendirian ibunya memang seteguh batu karang. Mana mungkin ibunya goyah hanya karena melihat wajah bodoh Shim Changmin.
Kim Ryeowook tersenyum berat mendengar penuturan Shim Changmin. Ibu Kyuhyun terdengar menyeramkan. Mungkin setelah ini Kim Ryeowook akan mempertimbangkan berulang kali sebelum mengunjungi Kyuhyun di rumahnya lagi.
"Kau tahu, Ryeowook, Kyuhyun hari ini bahkan tidak boleh ikut ke Daegu karena menurut ibunya ia masih dalam masa tahanan. Hukumannya berakhir seperti yang tertulis pada surat skorsingnya," imbuh Choi Minho yang membuat hati Kim Ryeowook semakin menciut.
Kim Ryeowook menelan ludahnya pahit. Ia tak menyangka ibu Kyuhyun begitu menyeramkan. Mendengar cerita Shim Changmin dan Choi Minho membuat Kim Ryeowook menilai ibu Kyuhyun orang yang sangat kaku dan ketat.
"Jangan dengarkan mereka, Ryeowook! Ibuku bukan orang yang menakutkan. Well, meskipun aturannya sangat ketat tapi ibuku bukan orang yang menyeramkan," bela Kyuhyun.
Ia tak suka kalau ada orang yang menilai buruk pada ibunya. Ia mendapat hukuman seperti ini juga karena kesalahannya. Bukan salah ibunya kalau Kyuhyun harus menjadi tahanan rumah.
"Oh ya, aku hampir lupa, Kyu! Ini catatan dan tugas-tugas selama kau tidak masuk. Aku sudah menyalinkannya untukmu," kata Kim Ryeowook.
Kim Ryeowook mengeluarkan kertas-kertas dari dalam tasnya. Ia tahu Kyuhyun pasti akan sangat kewalahan kalau harus menyalin semua catatan dan tugas selama tiga hari ia absen. Maka dari itu Kim Ryeowook menyalinkannya untuk Kyuhyun dan menuliskannya pada lembaran-lembaran kertas sehingga Kyuhyun bisa menempelkannya di buku catatan atau di buku latihannya tanpa repot-repot menyalin lagi.
"Wah, kau terlalu baik, Kim Ryeowook!" tukas Shim Changmin saat melihat rapinya tulisan Kim Ryeowook pada kertas-kertas itu.
"Kau memang teman yang baik, Ryeo, tidak seperti kalian, menyebalkan!" hina Kyuhyun pada kedua temannya yang hanya memandang sambil tersenyum lebar padanya.
"Kau tahu seperti apa tulisanku, Kyu. Aku jamin kau akan pusing kalau membaca tulisanku," kilah Shim Changmin.
"Kita juga tidak sekelas. Siapa tahu ada yang beda antara materi di kelasku dan kelasmu," ucap Choi Minho membela diri.
"Banyak alasan."
Kyuhyun berdecak sebal. Kedua temannya itu memang pandai berkilah. Mereka akan benar-benar diam dan menurut kalau Kyuhyun sudah mengeluarkan taringnya.
"Tuan Muda, Tuan Cho menunggu Anda di bawah!" suara seorang asisten rumah tangga di depan pintu menghentikan perdebatan Kyuhyun dan kedua temnnya.
Kyuhyun mengeluh, sedangkan kedua temannya itu terdiam dan memandang Kyuhyun cemas.
"Kelihatannya waktu bertamu kita sudah habis. Ayo, pulang! Kim Ryeowook, kau mau mampir ke rumahku?" ucap Shim Changmin memecah keheningan yang tak mengenakkan itu.
"Oh, kenapa?" tanya Kim Ryeowook tak mengerti.
Ia baru saja sampai di rumah Kyuhyun. Belum juga setengah jam ia di sini, tapi Shim Changmin siudah mengajaknya pergi.
"Kyuhyun punya pertemuan penting yang tidak bisa ditunda dan diganggu gugat. Ayo, cepat kita pulang!" terang Shim Changmin singkat.
Tangannya juga menarik lengan Kim Ryeowook yang terlihat keberatan meninggalkan rumah Kyuhyun.
"Kita ketemu lagi besok di sekolah, Kim Ryeowook. Shim Changmin akan mengantarmu pulang," kata Kyuhyun lesu.
Kyuhyun mengantar ketiga temannya itu sampai ke pintu depan. Kyuhyun tak melihat ada kakeknya di ruang tamu rumahnya saat mereka turun. Hmm, kakeknya itu pasti menunggunya di dalam mobil. Ia harus cepat-cepat menemui kakeknya itu sebelum kakeknya menumpahkan kemarahan pada ibunya seperti biasanya.
"Siapa Tuan Cho, Changmin?" tanya Kim Ryeowook di belakang boncengan motor Shim Changmin dalam perjalanan ke rumah Shim Changmin.
"Kakek Kyuhyun," jawab Shim Changmin singkat.
"Kenapa Kyuhyun kelihatan tidak suka?" tanya Kim Ryeowook lagi.
"Karena Tuan Cho adalah orang yang tidak ingin ia temui, terutama di saat seperti ini. Urusannya akan panjang kalau Tuan Cho ikut campur dalam masalah Kyuhyun kali ini," jawab Shim Changmin.
"Kenapa?" tanya Kim Ryeowook ingin tahu.
"Panjang ceritanya, Ryeowook. Aku akan ceritakan di rumah nanti," kata Shim Changmin sambil menambah kecepatan laju motornya.
Ryeowook diam. Ia memang ingin mendengar cerita tentang Kyuhyun selengkap-lengkapnya. Hanya mendengar cerita singkat dari mulut teman-temannya tadi membuat Ryeowook segan dengan keluarga Kyuhyun. Bukan segan karena status sosial mereka, namun segan karena hidup Kyuhyun tidak semanis kelihatannya.
Mungkin benar gosip yang didengarnya di sekolah selama beberapa hari ini. Kyuhyun anak yang tidak diinginkan. Hidupnya sulit karena ia kurang diterima keluarga barunya. Memikirkannya saja membuat Ryeowook merasa kasihan pada Kyuhyun.
TBC
Akhirnya selesai juga part ini. Makin lama kan nunggunya. Mianhe, entah kenapa akhir-akhir ini penyakit malas sering muncul kalau mulai ngetik. Harap maklum kalau banyak typo nggak sempat edit dua kali coz pengen cepat update. Yang hobi baca di FFN pasti bisa baca lebih dulu karena wattpad masih error. Lanjut di WP kalau udah nggak error lagi. Review ya guys and happy reading.
