Cklek

"Apa ibu sudah pulang?"

"Untung nya belum. Kenapa lama sekali?"

"Aku harus mengajar Sehun dulu." Kris hanya mengangguk cepat. Masalah yang harus mereka hadapi sekarang lebih penting.

"Aku sudah membersihkan ruang tamu, kau hanya perlu mencuci piring." Jongin pun mengikuti instruksi Kris dan pergi ke dapur.

"Kenapa banyak sekali?"

"Tadi siang Namjoon datang dan mencoba untuk memasak sesuatu, tapi aksinya malah jadi menghancurkan dapur." Jongin jadi ingin mengumpat rasanya. Apa-apaan tumpukan piring dan penggorengan ini? Mustahil untuk membersihkan dalam waktu sejam. Belum lagi noda makanan yang tersebar dimana-mana.

"Aku akan membunuh kalian berdua nanti." Gumaman Jongin membuat bulu kuduk Kris seketika berdiri.

Skip

Pekerjaan merekapun akhirnya selesai tepat waktu dan semenit kemudian kedua orang tua mereka pun datang. Mata tajam nyonya Wu menelisik setiap sudut rumah, mencoba untuk mencari kesalahan yang kedua anaknya perbuat saat ia tidak berada dirumah.

"Sepertinya kau membersihkan rumah dengan baik. Sekarang bereskan pakaian yang ada di koper kami."

Dengan patuh Jongin mulai membuka koper itu satu persatu. Tak lupa memisahkan antara pakaian kotor dan juga pakaian baru. Setelah itu dia memasukkan semua pakaian bersih kedalam kamar kedua orang tua angkatnya, dan juga mencuci baju kotor yang mereka kenakan saat liburan.

Saat Jongin sedang menunggu pakaian di mesin pengering, Kris datang dengan membawa segelas coklat panas untuk nya.

"Kau pasti lelah kan?"

"Ya. Tapi coklat panas mu sudah sedikit menghilangkannya. Terima kasih." Jongin tersenyum tulus kepada saudaranya itu.

"Tidak. Aku yang harusnya minta maaf padamu. Maafkan sikap ibu dan ayah kepadamu selama ini. Mereka sudah sangat menyiksamu selama kau berada disini." Jongin menepuk punggung Kris saat melihat pemuda itu tertunduk di sampingnya.

"Jangan merasa bersalah. Aku rasa ini memang sudah takdirku untuk terus bekerja keras seperti ini. Kau jangan khawatir." Kris memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Mencoba untuk menyalurkan semua energi nya kepada Jongin.

Namun hal itu tak luput dari mata sang ibu. Ibu Kris yang awalnya ingin mengikuti Kris secara diam-diam, malah dikejutkan dengan pemandangan aneh yang dilakukan oleh anaknya. Pertanyaan nya, sejak kapan Kris menjadi begitu dengan dengan Jongin?

'Inilah yang aku takutkan jika kau ada disini Jongin.'

.

.

.

Sehun sibuk menatap ponselnya yang tergeletak di meja ruang tamu mini yang ada di kamar nya. Dia mengirimkan pesan kepada Jongin sejak sejam yang lalu, namun belum juga di balas oleh si gadis berambut panjang itu. Jangankan di balas, dibaca saja tidak. Dan hal itu sukses membuat Sehun khawatir setengah mati. Dia juga terus menyalahkan tingkah bar-bar nya pada Jongin tadi. Jika saja dia tidak kurang ajar seperti itu, Jongin pasti tidak akan marah padanya.

Sehun kembali meraih poselnya. Kali ini dia akan mencoba untuk menghubungi Jongin. Namun telpon nya juga tidak diangkat sama sekali. Apa mungkin Jongin marah dan akan memutuskan nya?

"Tidak! Itu tak boleh terjadi."

Sehun buru-buru bangkit dan mengambil kunci mobil nya. Dia akan ke apartement Jongin.

Sehun merutuki kebodohannya. Dia bahkan hanya tau bangunan apartement Jongin, tapi dia tidak tau dimana unit Jongin berada. Namun seperti mendapat pencerahan, setelah beberapa menit terdiam di dalam mobil Sehun dapat melihat sosok gadis yang mirip dengan Jongin di sekitar pintu utama apartemen. Tidak mau membuang-buang kesempatan, Sehun segera turun dari mobil nya dan menghampiri Jongin.

"Jongin."

"Maaf anda siapa?" Sialan! Sehun salah orang rupanya. Setelah meminta maaf pada wanita itu Sehun pun kembali masuk kedalam mobilnya.

'Bagaimana jika sampai esok pagi Jongin tidak juga keluar? Apa sebaiknya aku pulang saja? Lalu menjelaskannya saat di sekolah besok? Ya, benar benar. Kalau begitu aku pulang saja.'

Setelah berperang dengan hati dan juga pikiran nya, Sehun memutuskan untuk pulang dan menyelesaikan masalahnya keesokan hari saja.

.

.

.

Jongin tak tahu apa yang salah dengan dirinya sehingga Irene mendadak menjauhinya sejak kemarin. Saat berpapasan di lorong pun wanita cantik itu hanya akan melewatinya tanpa ada senyum sedikit pun. Kata Chanyeol, mungkin Irene masih belum terbiasa jika Baekhyun dan Sehun menjadi bagian dari mereka bertiga.

Tapi ngomong-ngomong soal Sehun, Jongin jadi membayangkan kejadian kemarin. Bulu kuduk Jongin tiba-tiba meremang. Kejadian kemarin itu sangat mengejutkan bagi Jongin, dan jujur saja itu adalah pertama kalinya dia diperlakukan seperti itu oleh lawan jenis.

"Jongin!" Gadis itu hampir saja tersandung dengan kaki nya sendiri karena mundur secara tiba-tiba.

"Kau... mau apa?" Tanyanya takut-takut. "Aku ingin minta maaf untuk masalah kemarin."

"Aku maafkan." Setelah bergumam tak jelas Jongin segera membalikkan badannya untuk kabur dari hadapan kekasih nya itu. Namun Sehun membaca pergerakannya lebih cepat dari yang ia pikirkan, pria itu menahan tangan Jongin tepat sebelum Jongin berlari.

"Aku sudah memaafkanmu!"

"Mana ada orang yang memaafkan seperti itu?"

"Ada!"

"Siapa?"

"Aku. Kenapa kau tak suka? Kalau begitu kita put-" sebelum Jongin selesai menyelesaikan kata-katanya, Sehun telah lebih dulu membekap mulutnya.

"Jangan pernah berani untuk mengucapkan kata itu Jongin. Aku memperingatkan mu." Peringatnya datar. Mau tak mau Jongin menganggukkan kepalanya, karena seketika Sehun memberikan tatapan menusuk padanya.

"Kalau begitu masuklah ke kelasmu. Istirahat nanti temui aku di kantin, oke!" Itu bukan permintaan, tapi perintah. Dan untuk kedua kalinya Jongin menganggukkan kepalanya, lalu pergi seperti yang di perintahkan oleh Sehun.

'Aneh. Bukankah seharusnya aku yang marah disini? Kenapa malah aku yang ketakutan seperti ini? Hahh sialan!'

.

.

.

Jongin meneguk ludahnya susah payah. Nafsu makan menggebu-gebu yang ia rasakan saat dikelas kini tengah menguap seiring dengan aura gelap yang Sehun keluarkan saat dia sampai dikantin tadi.

'Kemana perginya Sehun yang kemarin?' Batin Jongin pilu.

"Makan."

"Ya!" Tanpa sadar Jongin menjawabnya dengan nada seperti seorang tentara. Tangan nya menggenggam sumpit dengan gemetar.

"Hari ini kau tak perlu mengajari ku. Aku harus berlatih untuk turnamen minggu depan."

"Hah?"

"Kau tak terima?" Jongin segera menggoyangkan telapak tangannya, "Tidak. Aku tidak keberatan."

"Jongin kau dipanggil ke ruangan kepala sekolah." Jongin hampir saja berteriak kegirangan saat seorang murid dari kelasnya datang untuk memberitahunya informasi tersebut.

"O-oh baiklah, aku segera kesana. S-sehun aku pe-pergi dulu."

Skip

"Kau datang lebih cepat dari yang kuperkirakan." Ternyata disana bukan hanya ada kepala sekolah saja, tetapi tuan Oh.

"Kebetulan tidak ada yang kulakukan. Jadi aku bisa lekas kemari." Bohong nya.

"Ya sudah kalau begitu duduklah. Ada yang Tuan Oh ingin katakan padamu."

"Ini upahmu Jongin." Jongin menerima amplop coklat berisikan uang dari Tuan Oh sesaat setelah ia duduk.

"Bagaimana perkembangan Sehun? Cukup baik atau malah menurun?"

"Perkembangan Sehun sungguh baik." Balas Jongin sesopan mungkin.

"Syukurlah kalau begitu. Aku rasa kau bisa berhenti mengajarnya dari sekarang." Mata Jongin membulat. Apa Tuan Oh baru saja memecatnya? Tapi kenapa?

"Aku tahu kalian tengah berkencan Jongin." Rahang Jongin hampir saja jatuh saat mendengar kalimat lanjutan dari ayah Sehun itu.

Apakah hubungan nya harus berakhir sampai disini? Seperti drama-drama yang ibu Kris tonton selama ini? Apakah ayah Sehun tidak ingin anaknya berpacaran dengan orang miskin seperti Jongin? Atau sebenarnya Sehun sudah dijodohkan dengan wanita lain?

"Aku minta maaf Tuan Oh. Kalau begitu aku akan meninggalkan Sehun." Bukannya memaki Jongin, Tuan Oh malah tertawa cukup keras.

"Kau menonton terlalu banyak drama Jong. Aku tak akan menyuruh kalian putus." Dahi Jongin berkerut. Jika bukan karena hal ini, mengapa Tuan Oh memecatnya?

"Lalu kenapa anda memecat saya?"

"Seperti yang kau bilang tadi, perkembangan Sehun cukup meningkat. Aku rasa tugasmu sebagai tutor juga telah selesai. Sebenarnya aku tidak keberatan jika kau terus menjadi tutor Sehun, namun mengetahui fakta kalian berkencan membuatku khawatir. Aku tahu bagaimana sifat anak itu. Dia mungkin akan melakukan hal yang tidak-tidak padamu."

Jongin tersenyum saat mendengar penjelasan dari Tuan Oh itu. Seketika ingatannya kembali pada kejadian kemarin. Belum lagi sifat dingin Sehun yang sepertinya sudah kembali. Bisa-bisa Jongin stress sendiri karena perubahan drastis sifat Sehun tersebut.

"Ah seperti itu. Aku setuju kalau begitu." Jawab Jongin.

"Kau boleh pergi sekarang. Soal masalah ini, biar aku yang memberitahu Sehun nanti." Jongin bangkit dari duduknya, lalu membungkuk kepada kedua orang disana.

"Aku akan kembali ke kelas kalau begitu. Selamat siang."

Dengan langkah ringan Jongin mulai melangkahkan kaki nya. Tujuan utamanya sekarang adalah kelas. Dan dia akan menceritakan hal ini pada Chanyeol.

Dari kejauhan seorang wanita nampak begitu kesal saat melihat tingah laku ceria Jongin. "Dia itu terlalu polos atau memang bodoh. Dia pikir Sehun benar-benar menyukainya. Bodoh." Wanita itu mengeluarkan ponsel dari saku blazer nya.

To : 145xxx

Kau terlalu membuang banyak waktu dengan acara merajukmu itu. Cepat selesaikan masalah ini. Karena aku tak ingin berbagi cinta lebih lama lagi.

Send

Tak lama kemudian ponsel wanita itu bergetar.

From : 145xxx

Aku hanya memancingnya bodoh, agar dia merasa tak enak dan bergantung padaku sepenuhnya. Setelah itu kita akan singkirkan dia. Jika perlu sampai ke neraka.

Tbc

Note: maaf karena telat updatenya. Karena seketika aku ngestuck dan gak tau mau ngetik apa. Btw mulai dari Chap ini udah masuk inti permasalahannya yah. Dan jangan bosen buat baca karena masih ada banyak chap yang nantinya bakal di update.

Sekian.