*mohon dibaca dengan pelan-pelan
TWO SIDES
by Gyoulight
.
.
.
.
.
HUNHAN FANFICTION
GENRE: Drama, Romance
RATING: T
.
.
.
.
.
5 days ago
Luhan baru saja turun dari bus ketika ponselnya menjerit di dalam tasnya. Para pejalan kaki di belakang buru-buru menyalip dengan hati-hati. Mencari celah karena terhalangi punggung Luhan yang seakan menghadang pusat aktifitas pagi mereka yang sibuk.
Tas hitam yang sudah tersampir di pundak buru-buru ia turunkan. Merogohnya dalam kecepatan kilat karena Luhan tidak punya waktu yang cukup, bahkan untuk sekedar mengangkat panggilan. Jadi ia tidak punya pilihan selain meladeni waktu yang mengejarnya, atau bos di tempatnya bekerja menegur marah karena sangat terlambat.
Pagi ini ibunya bertandang ke Daegu sebagai kunjungan wajib. Dan ia mau tak mau harus mengurusi Jaemin yang selalu berantakan. Andai adiknya lebih berguna, mungkin ia tidak perlu berlarian kesana-kemari untuk pergi ke tempat kerja.
Luhan kemudian sukses mengecek panggilannya. Menatap layar ponselnya lekat-lekat, dan tanpa sengaja membuatnya teringat tentang ia yang belum mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya. Ia pun menggeleng kuat, menepis segala pemikirannya soal buang-buang waktu. Karena sadar terlalu lama terdiam di tengah keramaian, sementara jamnya terus berhitung tidak menyisihkan sedikit pun waktu.
"Hallo?" Ia bersuara rendah ketika layar ponsel itu tidak menunjukkan nama si penelfon. Kakinya terus sibuk terjejak di jalan kecil. Menginjak beberapa dedaunan gugur dan juga tidak hirau dengan pejalan kaki yang hampir menabrak bahunya.
"Jadi dengan cara ini kau mengangkat panggilanku?" ujar seorang pria di seberang sana.
"Kris?" Luhan pun berubah menyernyit. Kembali mengecek layar ponsel tipis itu demi menemukan nama si pembuat panggilan. Tapi tetap saja, tidak ada nama yang bertuliskan 'Kris' di dalam sana selain beberapa digit nomor asing.
"Kita harus bertemu sekarang." Pria yang berbicara lewat mesin kecil itu kembali bersuara. Namun Luhan tidak sempat berpikir untuk bertanya 'mengapa' Kris menelponnya sepagi ini untuk agenda yang tidak ia harapkan.
Luhan lantas tenggelam dalam menyebrangi jalan bersama pejalan kaki yang lain. Kakinya terus menjejak dengan cepat namun terkendali. Membuat pijakan halus tanpa menyakiti tungkainya yang terus bergerak. "Aku tidak punya waktu untuk berbicara denganmu."
Ada jeda ketika Luhan berhasil berbelok di samping toko pakaian dengan melewati pedagang lepas di beberapa tempat. Dan Luhan tiba-tiba berubah malas karena pria itu bertanya, "Kenapa?"
"Kris, aku harus─"
Melewati satu toko lagi mungkin Luhan akan sampai di tempat kerjanya. Kakinya yang cekatan sudah sangat ingin berlari menarik pintu yang sudah terbenam dalam visualisasinya, tak lupa membungkuk penuh maaf pada bosnya. Namun yang ia fokuskan bukanlah restoran tempatnya bekerja, melainkan Kris yang sudah bersandar di sisi depan mobilnya dengan senyum mengembang di tepi jalan. "Kenapa kau bisa berada disini?" tanya Luhan menghentikan pelariannya.
Pria berambut pirang itu menurunkan ponselnya dari telinga. Memasukkan benda mahal itu ke dalam sakunya lebih dahulu, sebelum membenarkan posisi santainya. "Kau lupa kalau aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan?"
"Aku harus bekerja."
"Santai Luhan, bosmu tidak akan memecatmu," potong pria itu menyilangkan lengannya di dada. Berusaha terlihat normal dengan mantel panjangnya yang begitu coklat. Dan jangan lupakan kaca mata hitam yang masih bertengger di wajahnya. Membuat sisinya terlalu mencolok untuk menghampiri Luhan yang hanya berbalut potongan kaos lengan panjang dan jeans. "Kau pikir kenapa kau bisa diterima bekerja di restoran temanku?"
Luhan ingin menjatuhkan rahangnya. Sedangkan keningnya mengerut karena tercengang dengan semua perkataan itu. "Jadi kau yang─"
Kris membukakannya pintu mobil. Tidak ingin menunggu respon Luhan yang sudah berubah menjadi patung. Karena sepenuhnya tidak percaya jika Kris-lah yang membuat ia diterima bekerja─meski restoran itu sebenarnya tidak butuh tambahan pegawai. "Masuklah, ada sesuatu yang ingin ku katakan."
Luhan berkedip menyadari jamnya sudah meledak kehabisan waktu. Ia mungkin harus datang ke restoran sebelum ia dipecat. Meski Kris mengaku kalau dia-lah yang membuatnya mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan lumayan itu. Dan Luhan masih belum percaya jika bukan bosnya sendiri yang mengatakan demikian. "Aku tidak ingin berurusan dengan masalah kalian."
Kris lalu berhasil menahan lengan Luhan ketika pria itu hendak melarikan diri. Menariknya dengan kuat sampai Luhan terlempar ke posisinya. "Kau belum menyelesaikan tugasmu," tegasnya sedikit berbisik.
"Aku tidak punya tugas apapun. Aku sudah tidak bekerja lagi dengan Sehun." Luhan memberontak, tapi lengannya malah ditahan semakin kuat.
Kris bersih keras menangkapnya. Mengabaikan banyak orang yang lalu lalang dengan pandangan acuh tak acuh. Tidak perduli kalau ia terlihat seperti penculik anak-anak sekalipun. "Kau belum menyelesaikan tugas dariku."
"Aku harus pergi bekerja," tolak Luhan kembali memberontak.
Kris berdecak kesal. Tidak tahan lagi dengan ketidakpatuhan Luhan akan perintahnya. "Masuk!" titahnya menarik kaos Luhan geram lalu melemparnya masuk ke dalam mobil.
Pintu kemudian tertutup ketika Luhan melihat sosok familiar di samping kursinya. Kris sendiri sudah masuk ke dalam mobil. Tidak menghidupkan mesin mobilnya sama sekali selain duduk tenang dan membuka kaca matanya.
Luhan meraih sosok yang terbaring kaku itu. Tangannya berubah gemetar membaca tag nama yang tersemat di seragamnya. Tak lupa memindai wajah pemuda itu dengan hati yang berdebar. "J-jaemin?!"
Luhan lantas mengguncang tubuh pemuda yang diraihnya. Memeriksa seluruh tubuh itu dengan harapan tidak ditemukannya luka atau sesuatu. Sementara Kris masih terdiam di kursi kemudi. Menunjukkannya botol kosong bekas minuman Jaemin pada Luhan.
"Dia hanya tertidur," celetuk Kris sambil memainkan senyum sinting pada kaca di atas kepalanya. Terlalu puas karena berhasil mencampur obat tidur pada minuman yang ia berikan pada Jaemin.
"Apa yang kau lakukan padanya?!" tandas Luhan memeluk adiknya yang tak sadarkan diri. Mencegah pria gila di depannya itu berbuat hal yang lebih gila, karena sudah cukup ia yang menemukan adiknya tak sadarkan diri setelah meminum sesuatu yang entah apa itu.
"Itu hukuman karena kau mengabaikan panggilanku," ujarnya membuat beberapa alasan.
Sangat tepat sebenarnya, karena Luhan sudah bertekad untuk tidak berhubungan dengan siapapun setelah ia lepas kontrak dengan Sehun. Sudah cukup baginya dengan semua kebohongan yang ia buat. Dan ia tengah berusaha menghindari siapapun yang membuatnya kembali berbohong, termasuk dengan memblokir semua kontak di ponsel yang ia pinjam.
Namun siapa yang akan menduga jika Kris bergerak sejauh ini demi sesuatu yang ia cari? "Kau benar-benar berengsek," umpat Luhan dengan air mata menggenang. Kedua tangannya terkepal menahan emosi di kepala.
Kris terkekeh. Ia pun akhirnya berminat menghidupkan mesin mobilnya. Tidak membiarkan Luhan turun terlebih dahulu. "Mungkin lain kali aku akan meracuninya."
Luhan hendak membuka pintu mobil itu. Menarik ganggangnya berkali-kali tapi tidak ada yang bisa dilakukannya karena pintu itu terkunci. Maka Luhan semakin panik, entah hendak kemana ia dibawa sekarang. "Dia tidak ada hubungannya dengan ini."
"Itu tergantung keputusanmu." Mobil itu kemudian bergerak. Meninggalkan jalanan ramai itu dengan cepat, tanpa Luhan izinkan. Dan sudah seharusnya Luhan tahu bahwa Kris tidak akan pernah mendengar siapapun dalam hidupnya.
"Apalagi yang kau inginkan?" lirih Luhan masih memeluk adiknya. Masih dalam keadaan awas untuk menghindari hal buruk yang mungkin saja akan terjadi.
"Kau hanya perlu menjadi Sena di pernikahan itu," jawab Kris tenang seakan itu adalah sesuatu yang mudah untuk dilakukan.
Luhan menganga dengan kepala yang mulai terasa pusing. Ia kehilangan kata-kata saat mencerna ucapan Kris yang kepalang gila untuk dipikirkan. Tidak ada habisnya Luhan mengutuk apapun yang Kris lakukan padanya. "Kau gila, Kris."
"Dibohongi dan kehilangan orang yang paling kau cintai─" Kris menjeda. Pandangannya kosong kala ia menyaksikan jalanan lenggang di hadapannya. "Aku ingin kalian mengerti bagaimana rasanya semua itu."
e)(o
Gedung berubah khidmat. Sunyi, senyap seperti Sehun yang masih bergeming di kursinya. Lampu sudah menyala terang. Menyorot kedua mempelai yang sudah berdiri tegak di depan. Saling merapatkan bahu, sedangkan para tamu melihatnya penuh haru.
Jongin tak bisa membantunya melakukan apapun. Pria bersurai eboni itu hanya bisa menatap kosong ke arah depan. Tak kalah menunggu dunia kiamat atau berdoa semoga gedung ini runtuh secara tiba-tiba. Berbeda dengan Sehun yang yakin masih berada dalam masa pertimbangan. Ia punya rencana bagus, tapi sama sekali tidak yakin bisa menghentikan acara sandiwara ini dengan benar.
Ingin sekali rasanya Sehun maju ke depan sana. Menarik Luhan pulang atau menyeretnya pergi dari dunia ini kalau ia bisa. Namun para tamu terlalu banyak untuk menjadi saksi tindakan gilanya. Terlebih dengan undangan media yang entah datang dari mana. Bisa-bisa ia dicap sebagai orang paling gila di dunia kalau ia melakukannya.
Ia akui Kris terlalu ahli dalam menyelesaikan permainan. Memutar image dirinya sendiri untuk mendapatkan sorotan baik. Alih-alih berbalik menghancurkannya, sama seperti saat mobilnya terjatuh ke laut. Dan Sehun bersumpah akan menjebloskan Kris ke penjara untuk seumur hidupnya.
Tiba pada sang pendeta yang membuka kalimat. Menyampaikan kalimat sakral yang dapat mengikat kedua orang di depan sana. Sekali lagi, Sehun bisa menyaksikan senyum licik Kris di depannya. Mengalahkannya telak, memprovokasi sampai mana tingkat kesabarannya dalam mengendalikan diri, lalu berakhir dengan menggigit umpan.
Sehun mengeraskan rahangnya. Semakin lama, ia semakin kehilangan akal akan pria itu. Sementara ia tidak ingin Luhan melakukan ini. Memainkan perannya terlalu jauh demi sebuah permintaan bodoh. Ia pun tidak tahu harus marah pada siapa, karena ia sendiri tidak berdaya disini.
Ia lebih ingin mengutuk ketika kalimat itu mulai melantun dari mulut Kris. Menggunakan nama adiknya, seakan semuanya benar adanya. Hingga Sehun memutuskan untuk benar-benar beranjak dari sana. Persetan dengan nama baiknya. Ia sudah muak, dan ia lebih muak ketika Luhan mencoba untuk mengikuti semua kalimat itu dengan suaranya.
"Dia merencanakan sesuatu." Jongin berusaha menahannya, mencegahnya untuk pergi kemanapun, termasuk melakukan hal gila yang sejak tadi ada di pikirannya. Karena sahabatnya itu tahu betul, semua ini hanya akan berbalik menghancurkan dirinya.
Namun Sehun tidak akan perduli. Ia tidak perduli lagi dengan apapun, sampai pada ia yang berjalan melewati panjang karpet itu. Menarik lengan Luhan untuk segera turun dari sana.
Langkah orang yang ditariknya lalu terseok-seok, sedikit mencegah dalam menginjak sendiri dress panjangnya. Kris yang menyaksikannya hanya terdiam di tempat dengan senyum miring, sedangkan seluruh tamu terserang shock tiba-tiba. Tak terkecuali ayahnya yang sudah menahan malu luar biasa di belakang sana.
Sehun tidak perduli, semua orang bisa mencatat itu. Ia mungkin tidak suka orang membicarakannya dengan banyak tuduhan, tapi ia jauh lebih tidak suka jika Luhan melakukan ini untuk menggantikan adiknya.
Maka ia keluar dengan membawa Luhan di cengkramannya. Menyeretnya keluar dari ruangan, meski Luhan banyak berkomentar untuk dilepaskan.
"Sehun, kau harus mendengarku," kalut Luhan di belakangnya. Pria itu paham bagaimana cara kerja Kris, dan Sehun pun jauh lebih dari sekedar paham. Tapi Sehun sama sekali tidak ingin mendengarnya. Malah sibuk membuka pintu mobil lalu melempar Luhan ke kursi penumpang. Lengkap dengan memasangkannya sabuk pengaman. "Kau melakukan hal yang salah."
"Kaulah yang salah disini!" Sehun menyalak, tak ingin mendengar apapun. Menutup pintu mobilnya kasar sampai Luhan terkejut. Tak sampai lima detik sampai ia menemukan Sehun duduk di kursi kemudi. Menancapkan kunci mobilnya, sama sekali tidak menatapnya. "Aku sudah bilang untuk tidak datang, tapi kau malah datang untuknya. Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu?!"
Mesin mobil itu menyala. Luhan sendiri tidak bisa melakukan apapun selain duduk mematung disana dengan Sehun yang mungkin saja akan membunuhnya dengan sejuta kalimat tajam penuh penekanan.
"Siapa yang kau dengar sekarang?"
"Aku tidak mendengar siapapun," jawab Luhan lemah. Tidak punya kekuasaan apapun untuk membela dirinya. Ia hanya mengakui jika ia salah. Sangat salah. Tapi sayangnya, ia tetap harus melakukan ini demi sesuatu yang harus ia pertahankan.
"Apa yang Kris katakan padamu?" Sehun membanting setirnya. Menginjak gas mobilnya dengan kecepatan gila hingga keluar dari basement dengan begitu tergesa. Namun Luhan tidak kuasa menjawab apapun selain meladeni matanya yang memanas penuh rasa bersalah.
"Jawab aku, Luhan! Apa yang kau inginkan sebenarnya?!"
Luhan terus menggenggam sabuk pengamannya. Begitu erat, seakan memegangi tali yang akan membuatnya tertahan di tepian jurang. "Maafkan aku." Hanya kata itu yang bisa ia ucapkan.
Sementara Sehun semakin gila mengendalikan mobilnya setelah mendengar permintaan maafnya. "Kenapa kau lakukan ini padaku?" lirihnya kosong.
Luhan lalu hanya bisa memejamkan kedua matanya. Ingin pergi sejauh yang ia bisa, pun ingin segera menghilang dari dunia ini kalau ia bisa.
e)(o
Semua tamu riuh, berbicara satu sama lain. Mengabaikan pesta, terlebih tidak menjaga perasaan penyelenggara acara. Jongin yang sejak tadi mematung di kursinya, akhirnya beranjak karena menemukan sebuah ide. Ia pun sibuk menggeledah sakunya sendiri untuk menemukan letak ponselnya.
Mendadak ruangan itu menjadi sebuah kekosongan bagi Tuan Oh. Pria paruh baya itu hanya bisa membalikkan badan bersama orang-orang kepercayaannya. Sementara Kris menjadi yang paling aneh di depan sana, karena lebih memilih berlalu menemui seseorang dengan pakaian serba hitam.
Jongin tak luput dari gesture mereka yang begitu awas. Pria bersurai eboni itu kemudian berubah tak tenang sehingga harus terus melakukan panggilan pada Baekhyun. Namun mau sebanyak apapun panggilan yang ia buat, Baekhyun tetap tidak mengangkat panggilannya. Sampai pada orang yang berbicara pada Kris itu mengangguk patuh, dan segera pria misterius itu melenggang panjang untuk keluar. Membuat Jongin mengikutinya dengan penasaran tapi tidak dengan ia yang keluar dari pintu yang sama.
Jongin kemudian mendapati dua orang lainnya di luar pintu. Mereka bergabung, kemudian bergegas menuju basement. Jongin yang mencurigai sesuatu, semakin gencar mendial Baekhyun tanpa lelah. Ia pun mau tak mau harus menemukan kunci mobilnya sebelum mobil mini van itu melesat keluar.
Tapi sayangnya, mobil itu lebih dulu berhasil keluar dari sana. Jauh setelah mobil Sehun berhasil pergi dari pelantara basement. Dan tak lama, mobil Baekhyun akhirnya berhenti tepat di belakang mobilnya. Membuat Jongin membatalkan aksinya untuk mengejar orang-orang asing itu karena mobilnya terhalang dengan sangat tidak baik.
Baekhyun sendiri baru saja membawa masuk mobilnya ketika ia melihat Sehun menyeret seseorang─yang mungkin saja dikenalnya. Pria pucat itu buru-buru masuk ke dalam mobilnya lalu melesat jauh sebelum ia bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Karena sebuah mobil lain sudah terlihat buru-buru mengejarnya seperti tidak ada hari esok.
Chanyeol yang menemui Jongin di luar, akhirnya mulai menanyakan situasi. Tapi Jongin nampaknya terlalu kalut sehingga bingung harus mengatakan apa pada sosok tinggi yang baru saja menapak di negaranya itu.
"Luhan datang." Hanya itu yang bisa Jongin katakan sebelum ia kembali menutup pintu mobilnya. "Kris pasti merencanakan sesuatu."
Baekhyun yang jelas mendengar itu buru-buru kembali masuk ke dalam mobilnya. Suasana mungkin akan berubah kacau, dan ia harus melakukan sesuatu yang membuatnya harus membawa Luhan pulang. Menyingkirkan apapun yang membuat temannya itu celaka meski itu adalah Sehun sendiri.
Tapi belum Baekhyun sempat menutup pintu, Chanyeol sudah menahan kuat pintu mobilnya. Memenjarakan maniknya yang diburu kalut, hingga dengan tegas menanyakan sesuatu seperti pribadi yang keracunan protektif. "Kau mau kemana?"
Baekhyun tak kalah menarik pintu mobilnya. Ia harus segera pergi atau ia kehilangan semua jejak Luhan di jalan. "Chanyeol, biarkan aku pergi."
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya kekasihnya itu kembali memburunya.
Baekhyun semakin kalut. Ia tidak tahu lagi cara menghadapi kekasihnya ini. Sedangkan ia tidak ingin marah atau menyakiti Chanyeol yang baru saja menyatakan rindu padanya. "Apapun, asal Luhan baik-baik saja!"
Jauh dari sana Jongin tak kalah kalut pada banyak hal. Pria tan itu butuh diarahkan karena ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak paham caranya mengalahkan permainan Kris yang begitu rumit. Dan ia tidak punya hak untuk mengambil tindakan yang lebih besar untuk mendahului Chanyeol. "Kita mungkin harus melaporkan ini pada polisi."
"Aku tidak punya waktu, Chanyeol!" tegas Baekhyun akhirnya. Terserah jika Chanyeol akan marah padanya. Ia benar-benar harus melakukan sesuatu untuk Luhan, karena ini benar-benar tanggung jawabnya.
Tapi Chanyeol sekali lagi tidak memahami situasinya. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri. Kau tidak─"
Baekhyun mengerang frustasi. "Chanyeol, pergilah ke dalam dan temui ayahmu. Dia membutuhkanmu untuk menjelaskan semua hal. Biarkan aku pergi!"
"Chanyeol, mobil lain sedang mengejar mereka." Jongin kembali mengingatkan Chanyeol. Masa bodoh dengan drama yang tengah keduanya lakoni. Yang jelas, menurutnya mereka tidak pantas untuk berbagi perhatian disaat genting seperti ini.
Maka Baekhyun berubah kesal. Ia juga tidak ingin Jongin semakin memecahkan kepalanya karena ikut frustasi. "Chanyeol, please. Kau harus mengerti."
"Tapi─"
"Chanyeol!" Sekali lagi Baekhyun berteriak. Menurutnya Chanyeol harusnya tidak melakukan hal yang bodoh semacam ini hanya karena ia mencemaskan dirinya. Itu terlalu kekanakan dan Baekhyun sudah 26 tahun.
Chanyeol akhirnya dengan berat hati menutup pintu mobil itu. Rautnya yang lelah telah diganti dengan raut penuh cemas. Namun sebelum mobil itu bergerak mundur, Chanyeol menitipkan pesan yang membuat Baekhyun tergugu. "Jaga dirimu."
Sampai mobil itu menghilang dari pandangannya, barulah Chanyeol mengeluarkan ponselnya. Mencari nama seseorang di layarnya sambil mengecek apakah seseorang di ponselnya itu akan menjawabnya. "Dimana Sena?"
"Dia aman di rumahku," jawab Jongin mengusap wajahnya frustasi. Angannya pun terbang pada Kyungsoo yang sudah ia pesan untuk menjaga Sena seharian ini. Berharap dokter itu menjaga Sena dengan baik dan tidak membiarkannya keluar dari rumah.
"Kau bisa menghubungi detektif Lee? Dia seharusnya sudah mendapatkan surat perintah." Jongin mengangguk kosong, lalu segera menyambar pintu mobilnya. "Aku akan menghubungi Junmyeon untuk mencari lokasi Sehun."
"Kita harus selesaikan ini sekarang juga."
e)(o
Siang membumbung tinggi di udara. Nyala matahari begitu terik untuk membuat silau pada iris siapa saja yang memandang batas kota. Sehun masih berdiri di luar mobilnya. Menghitung waktu mundur sampai ia menemukan Luhan yang akhirnya keluar dari mobil. Tentu setelah mengganti seluruh pakaiannya dengan pakaian santai miliknya hingga harus menghapus sisa riasan di wajahnya.
Luhan membawa gaun panjang itu keluar dari mobilnya. Merasa kesulitan karena benda itu terus saja tersangkut di pintu mobil. Membuatnya harus turun dengan kaki telanjangnya lalu menariknya menjauh dari mobil.
Sehun yang sejak tadi bosan meliriknya, malah beralih merampas gaun itu. Membuangnya ketepian sungai, tidak perduli dengan harga yang sudah Kris keluarkan untuk membeli dua gaun yang terus pria itu hancurkan.
"Aku benar-benar marah padamu," akunya kembali ke tempat Luhan berdiri. Pria itu juga merampas heels yang dijinjing Luhan kemudian kembali membawanya ke tepian sungai untuk dilempar jauh.
Luhan terus menunduk. Tidak tahu harus mengatakan apa selain mengakui kesalahannya.
Di bawah jembatan itu Sehun terus menatapnya marah. Matanya masih berkilat-kilat seperti sebelumnya. "Aku kadang membencimu karena membuatku menjadi diriku yang tidak biasanya," jelas Sehun berdiri tepat di depannya. Membiarkannya menunduk menatap kedua kakinya yang tanpa alas. "Kau merubahku menjadi orang bodoh yang merindukanmu setiap hari. Apa yang kau lakukan padaku?"
Luhan menegakkan kepalanya. Terlalu terkejut ia dengan pengakuan kecil pria pucat itu sampai jantungnya berhenti berdetak.
"Kau selalu membuatku menunggu di depan restoran tempatmu bekerja. Melihatmu berjam-jam seperti orang bodoh setiap hari. Pun ratusan kali aku memikirkan cara untuk dapat berbicara denganmu. Tapi kau malah mengatakan tidak ingin bertemu denganku." Sehun bersungut marah. Nafasnya naik-turun memberanikan diri untuk bicara. "Menurutmu kenapa aku melakukan semua itu? Kenapa aku kesal setiap kali Kris menggenggam tanganmu? Kenapa aku marah jika kau tersenyum padanya? Kenapa pula aku menyeretmu kemari? Kau pikir kenapa?!"
Luhan hanya mematung mendengarnya. Matanya terus berkedip bak bintang malam yang kehilangan cahaya. Jauh dari itu hatinya begetar, ingin memeluk benak yang sudah membeku dalam keheningan. Ia bisa bilang ini adalah kali pertama ia mendengar Sehun berbicara begitu banyak padanya sedangkan ia tidak bisa mengatakan apapun.
Sehun menghela nafas beratnya. Berusaha mengendalikan dirinya untuk terus berada di dalam batasannya. Tidak meledak-ledak seperti orang bodoh yang selalu Luhan benci dari dirinya. "Kau masih tidak paham juga? Kenapa kau bodoh sekali?"
"A-apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Luhan polos. Rambutnya yang coklat sudah meliuk ditiup angin. Ia sepenuhnya tidak paham, mengapa ia terus dianggap bodoh untuk sesuatu yang sama sekali tidak ia mengerti.
"Haruskah aku mengatakannya? Haruskah aku mengatakan padamu bahwa─" Sehun menjeda. Terlalu sulit baginya untuk mengatakannya dengan jujur bahwa, "aku mencintaimu?"
Lagi-lagi Luhan tercenung dalam lautan kepolosannya. Jantungnya berdebur bagai angin yang menghantam jembatan besar di atas kepalanya. Hatinya dipenuhi hamparan bunga imajiner, sampai ia bisa mencium sendiri aroma liar bunga itu di hidungnya.
"Aku mencintaimu, bodoh. Kau harusnya tahu itu!"
Sekali lagi Sehun menegaskannya sesuatu. Sesuatu yang membuat hatinya terus memekarkan bunga, lalu mengundang ribuan kupu-kupu datang mengecap madunya. Dan entah bagaimana mungkin nafasnya kini bisa begitu lega karena mendengar semua itu.
"A-aku tidak akan tahu kalau kau tidak memberitahuku," lirihnya tersendat. Sedangkan kabut matanya terus memburamkan bayangan Sehun yang berpendar padanya. Dan Luhan tidak pernah tahu kalau ia diizinkan untuk mencintai Sehun. Tidak pernah tahu jika pria itu membalasnya sama besar sepertinya.
Sehun lantas mendekat padanya. Menariknya ke dalam sebuah pelukan. Mendekapnya begitu erat seakan ia akan pergi jauh dan tidak akan menemukannya lagi selamanya.
"Kau juga harus mencintaiku. Kau harus," tuturnya memerintah. Tidak mengizinkannya menolak, seperti Sehun yang dikenalnya. Dan dengan begitu Luhan akhirnya tahu kalau ini semua adalah nyata adanya. Bukan hayalannya dan juga bukan mimpi dalam tidur panjang yang selalu bertema indah.
"Ya, aku akan melakukannya." Luhan kemudian membalas memeluknya. Menyesap sisa aroma Sehun yang tertiup angin. Meraih seluruh kehangatan yang menyapa hatinya, sampai harus menikmati detakan jantung mereka yang saling bersahutan. Luhan pun tak kalah bahagia kala Sehun mencium puncak kepalanya. Mengelus surainya halus dan memperdengarkan alunan nafas pria itu di sisinya.
"Kau harus berjanji," bisiknya merdu di telinga.
Luhan tidak bisa tidak mengangguk. Tak sadar jika air matanya sudah tumpah ke pipi. "Aku janji."
Sehun kembali mengeratkan pelukannya. Disusul dengan suara selongkong api yang teredam oleh angin. Sebuah hentakan tiba-tiba itu membuat Sehun melepaskannya. Membuat Luhan mendongak menyaksikan raut kosong itu menatapnya. Sejenak lengan-lengan Sehun bergerak menjauhinya. Berpindah menyentuh sesuatu di pinggangnya.
"S-sehun─" Pandangan Luhan semakin kabur. Gemetar ia menatap tangan itu menahan lumuran darah yang terus mengalir. Air mata Luhan tumpah ruah. Betapa takutnya ia dengan cairan pekat itu.
Sehun berubah menahan sakit yang luar biasa di pinggangnya. Punggungnya melengkung menjauh. Sedangkan darah semakin merembes mengotori kemeja putihnya. Wajah itu semakin memucat. Kakinya pun lambat laun tak lagi bisa menahan beban tubuhnya.
Luhan yang panik menahan Sehun dari jatuhnya. Menangkap pria itu ke dalam pelukannya hingga terduduk di tanah. Sebelum seseorang menariknya menjauh. Melepas Sehun yang tergeletak di dekat kakinya. Tak membiarkannya menyentuh satu incipun tubuh lemah itu.
"Tidak, kumohon─" Luhan semakin berderai air mata. Ia memberontak meski tahu kalau orang yang membawanya terlalu kuat mencengkramnya. "Sehun, Sehun!"
Sehun sendiri sudah mulai kehilangan fungsi motoriknya. Ia ingin bangun mencegah seseorang membawa Luhan pergi darinya. Namun kakinya kian mati rasa, sedangkan sakit semakin menyusuri hatinya. Membuatnya lemah tak berdaya sekaligus menahan sakit yang semakin menyebar ke seluruh tubuhnya. Yang kemudian sosok familiar hadir menghalangi pandangannya dari sisa kesadarannya.
Sosok berbaju hitam lengkap dengan mata kucing yang menatap kosong padanya. Hanya itu yang bisa ia ingat, sebelum gelap menyongsong pandangannya.
e)(o
Baekhyun memarkir sembarangan mobilnya di tepian jalan. Pikirannya kabur, langkahnya tak kalah gusar. Ia membuka pagar putih itu dengan sangat tidak berperasaan. Atau mungkin ia benar-benar telah merusaknya.
Tangannya kemudian menekan bel rumah dengan sangat kalut. Sesak di dadanya kian menyusahkannya untuk terus bertahan hidup. Pun matanya yang memanas menghalangi pandangannya pada sosok pria yang telah berbaik hati membukakannya pintu.
Baekhyun senang pria itu bukan Jongin. Jadi ia bisa masuk sesukanya. Menapakkan kakinya yang gusar sampai pria asing berkaca mata itu menegurnya. Tidak membiarkannya masuk karena suatu alasan dimana ia adalah seorang tamu yang harus menghormati tuan rumah. Lantas Baekhyun melepas tarikan pria itu darinya. Memilih berlari menaiki tangga, hingga pria itu tak kalah berlarian mengejarnya.
Sosok gadis berambut sebahu kemudian terlihat saat ia mendorong pintu itu kasar. Maka Baekhyun tidak perlu menunggu untuk masuk ke sana sebelum pria asing di belakangnya itu memukulnya, lalu mengusirnya dengan kasar.
"Oppa?" gadis itu mengenalinya dengan baik. Sangat baik, sampai tidak harus ketakutan atau berteriak ketika ia menariknya dengan sangat tiba-tiba.
"Apa yang kau lakukan?!" Baru sampai di pintu, pria asing itu kembali menghentikannya. Melepaskan kasar cengkramannya pada gadis itu lalu meraih kerah kemejanya yang berantakan.
"Aku tidak punya urusan denganmu!" tegas Baekhyun tepat di hadapannya. Namun pria itu semakin marah padanya. Hendak memukulnya kalau saja seseorang tidak mencegahnya.
"Aku mengenalnya, Kyungsoo. Hentikan." Maka tak lama pria itu melepasnya. Namun tidak melepas begitu saja tatapan tajamnya.
"Ikut denganku," pinta Baekhyun tanpa babibu. Ia sendiri sudah putus asa karena kehilangan jejak Luhan. Ia tidak tahu harus mencari kemana lagi dengan mobilnya, selain menemukan cara lain untuk menyelamatkan keduanya. Walaupun mungkin dengan cara menyerahkan Sena kepada Kris. Dan itu adalah salah satu cara yang adil kalau ia menyampingkan sikap kepedulian.
"Apa yang terjadi?" Sena masih bertanya-tanya mengapa ia diseret atau dipaksa ikut seperti ini. Terlebih oleh seorang Baekhyun, yang tak lain adalah kekasih kakaknya sendiri.
Baekhyun menghela nafasnya yang hancur. Ia tentu harus lebih banyak bernafas untuk kelangsungan paru-parunya yang bekerja di rongga dadanya. "Aku tahu aku egois, aku tidak mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi aku mohon, ikutlah denganku. Kau harus bicara padanya."
Gadis di depannya itu hanya melongo bingung. Belum bisa mencerna dengan baik kalimatnya yang begitu tiba-tiba. Sedangkan pria yang bernama Kyungsoo itu memilih membaca keadaan. Menimbang banyak hal sekaligus bersiap, karena sesuatu mungkin saja terjadi tanpa ia duga. Di samping ia sudah berjanji pada Jongin untuk tidak membiarkan Sena pergi dari rumahnya hari ini.
"Mau sampai kapan kau bersembunyi disini? Sampai kapan kau akan lari dari masalah?" Baekhyun kembali berujar tak terarah. Menggerakkan hati gadis itu, meski ia sendiri tidak yakin apakah ini adalah cara terbaik untuk menyelamatkan semua orang.
"A-aku tidak bisa," jawab Sena akhirnya. Gadis itu malah menggenggam jemarinya sendiri. Terlihat ketakukan karena membayangkan 'bagaimana' jika ia setuju.
"Kau takut padanya?" Baekhyun tetap kukuh membuat gadis itu berpikir. Ia tentu tidak punya waktu untuk menjadi penasehat bijak disini. Karena yang ia butuhkan hanyalah pengertian gadis ini untuk ikut dengannya. Sesederhana itu.
"Dia ayah dari janin yang ada di dalam perutmu. Kau akan bertemu dengannya suatu hari karena anakmu akan merindukan ayahnya, bukan? Kau tidak mungkin menghindarinya selamanya."
"Aku─" Sekali lagi Sena membatu. Jauh kepalanya terbang pada segala pemikiran buruk. Membuatnya semakin mengeratkan jemarinya sendiri, tidak perduli jika belitan itu akan membuat bekas di kulitnya yang pucat.
"Hanya kau yang bisa menghentikan semua kekonyolan ini. Hanya kau yang bisa menyelamatkan kakakmu. Hanya kau," yakin Baekhyun merampas jemarinya. Ia terlalu memohon. Kehilangan harga diri dan juga akal yang selalu ia banggakan. Tapi jika ini untuk akhir yang bahagia, maka ia bisa berlutut sekarang juga.
Sena terdiam menatap permohonan besar Baekhyun padanya. Menatap kegusaran pria Byun itu kemudian membuatnya menimbang banyak hal. Namun yang bisa ia katakan hanyalah, "Aku takut─"
Baekhyun berubah lemas.
"Aku tahu, aku tidak seharusnya melakukan ini." Baekhyun membalikkan tubuhnya. Sempat menggenggam kepalanya sendiri karena putus asa. "Tapi kau sendiri tahu Kris orang yang seperti apa. Aku tidak punya pilihan─"
Menahan air matanya, Baekhyun kembali menatap Sena yang masih tergugu di belakangnya. "Mereka mungkin saja akan mati─"
e)(o
Dua puluh menit dalam perjalanan, akhirnya Luhan diturunkan di kediaman Kris yang sepi. Pelayannya tidak nampak dimanapun hari ini, selain dua pria berpakaian hitam yang masih mengunci tiap lengannya. Sedangkan si tuan rumah, Kris, duduk di kursinya, masih dengan setelan tuxedo dan juga dasi yang tampak sangat rapi di lehernya.
Luhan buru-buru dilepas setelah sampai di hadapan pria pirang itu. Dan tak butuh waktu lama bagi orang-orang yang menahannya berlalu sambil menutup pintu. Meninggalkannya dalam suasana sunyi yang menguar pekat dari kamar Kris.
Kamar serba putih itu belum terbuka jendelanya. Korden birunya pun masih menjuntai menggapai lantai. Sedangkan pada meja kayu di depan Kris, sudah berdiri sebotol wine lengkap dengan gelasnya. Senyum Kris lantas mengembang bersama gelas tingginya yang terisi. Segera pria itu mengangkat gelasnya untuk mengajaknya bergabung.
Luhan menatapnya tajam penuh muak. Dengan wajah sembabnya ia pun melangkah tanpa ragu. Mendekat pada si pirang seakan menerima ajakannya. Namun saat ia sampai di hadapan pria itu, tanpa dicegah ia langsung menampar wajah tampan itu dengan tangannya sendiri.
Air matanya kembali menggenang dalam pelupuk. Begitu panas kepalanya meluapkan emosi yang bergejolak. Ia sendiri tidak paham mengapa Kris bisa sebegitu gila dengan apa yang ia lakukan. Percaya atau tidak, pria itu baru saja menyuruh anak buahnya menembak Sehun dengan pistol dan kini ia hanya duduk santai menikmati segelas minumannya, seakan tidak terjadi apapun.
Dan kalau bisa, Luhan ingin memukul kepala pria di depannya ini dengan botol minuman. Betapa ingin dirinya melihat pria itu tidak lagi bisa tertawa remeh di depan wajahnya. "Aku sudah bilang padamu untuk tidak melakukannya!"
Kris menoleh padanya dengan kikikan yang tidak tertahankan. Sebut ia gila, dan Luhan terlalu lucu karena sempat membuatnya merasakan ditampar untuk pertama kalinya. Rautnya tak lama mendadak berubah mengeras. Tapi belum Luhan melanjutkan bicaranya, pria itu sudah beranjak dari kursi. Melempar gelas yang digenggamnya ke dinding, hingga membuatnya pecah tak berbentuk.
"Beraninya kau," gumam Kris dengan rahang yang bergemeretuk.
Tapi Luhan tidak gentar pada tatapan marah itu. Ia sudah kehilangan kendali dirinya. Ingin mengamuk membakar emosi di kepalanya atau mungkin mencari cara agar ia menemukan Sehun secepatnya. "Kau benar-benar manusia yang tidak punya hati," Luhan menekan. Mengayunkan lengan-lengannya untuk memukul kembali sosok di depannya.
Namun Kris terlalu cekatan untuk menangkap lengan kecil Luhan yang hendak memukulnya. Dan sekali lagi, ia menatap nyalang wajah sembab itu. Memenjarakannya dalam lautan emosi, kemudian membawanya membentur meja. Lantas tidak sampai waktu pada botol dan gelas-gelas itu kini terguling jatuh ke lantai. Ikut pecah bersama cairan merah yang menggenang di dekat kakinya.
Meja itu sempat bergeser ribut ketika Luhan terhantam di atasnya. Lehernya tercekik, sesak di dadanya membawa Luhan menggapai banyak oksigen. Menarik tangan-tangan Kris yang semakin erat mencengkram lehernya. Sedangkan di hadapannya Kris menyalak dengan wajah amat sangat menyeramkan. "Sehun pantas mendapatkannya."
Luhan memberontak. Berusaha lepas dari cengkraman menyakitkan dari Kris, namun semua tidak berjalan dengan keinginannya. Ia bahkan sangat mengakui jika Kris terlalu berkuasa untuk melenyapkannya. "Kaulah yang patas mendapatkannya!"
Kris menautkan alisnya. Kilat di matanya semakin menjadi-jadi. Dan itu sangat mempengaruhi tindakan pria itu terhadapnya. "Sekarang aku mengerti mengapa Sena tidak pernah kembali." Luhan terbatuk-batuk. Mulai kesulitan berbicara karena kehilangan kendali akan paru-parunya. "Kau─"
Kris menyalak, "Tutup mulutmu!"
"Kau tidak mencintainya."
"Kau benar-benar," tandas Kris lebih keras.
Luhan semakin tersiksa dengan nafasnya. Ia tanpa lelah menarik tangan Kris di lehernya. Tidak perduli apakah ia mencakar kulit pria itu atau tidak. Pointnya adalah ia harus terus hidup untuk mencari Sehun yang entah ada dimana saat ini.
"Akan ku buat kau menyesal karena pernah membohongiku," timpal Kris garang. Pria pirang itu kemudian melepaskan cekikannya pada Luhan. Beralih meraih salah satu lengan kecilnya untuk ia seret keluar dari pintu.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Yak, sampailah kita di penghujung pertapaanku. Dan sepertinya aku semakin kehilangan feel. Mungkin minggu depan (kalo aku gak sibuk) aku bisa up endingnya.
Buat mas Xiumin. Selamat menunaikan tugas Negara. Jangan lupa jaga kesehatan :') Untuk kalian yang menjalankan puasa, selamat berpuasa. Kurangi asupan anu dulu ya :D
Terima kasih buat yang masih mau baca ff berantakan ku ini. Lope lope pokoknya.
See you
