CHAPTER 24

Cho Kyuhyun mengetuk pintu mobil yang terparkir di samping rumahnya. Pemilik mobil itu, Cho Soo Man, memang kurang suka masuk ke rumahnya. Beliau memang tidak pernah bisa menerima keluarga Choi betapa pun baiknya mereka memperlakukan dan menghormatinya.

Biasanya hanya Paman Han, sopir pribadi yang sudah mengabdi puluhan tahun, yang menjemputnya kalau kakeknya ingin bertemu. Jarang sekali kakeknya ikut menjemputnya. Kyuhyun yakin kakeknya itu sudah mendengar apa yang terjadi dengan dirinya, entah dari siapa.

Pintu mobil terbuka secara otomatis. Cho Soo Man, kakek Kyuhyun, duduk di kursi penumpang. Ia menggeser posisi duduknya ke samping dan menyuruh Kyuhyun duduk di sampingnya.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah kediaman keluarga Choi. Kakeknya hanya diam seribu bahasa selama bersamanya di dalam mobil. Kesunyian itu membuat perasaan Kyuhyun semakin tak menentu. Sepertinya kejadian buruk akan berlaku padanya sepanjang hari ini.

Mobil yang mereka tumpangi berbelok ke kediaman keluarga Cho. Kakeknya turun terlebih dahulu, Kyuhyun menyusul kemudian di belakangnya. Langkah Cho Soo Man langsung menuju ruang kerjanya di lantai atas. Dengan isyarat tangannya, beliau menyuruh Kyuhyun untuk mengikutinya.

"Mulai hari ini kau tinggal di sini," kata Cho Soo Man pada Kyuhyun dari balik meja kerjanya.

Tangannya ditumpukan pada dagunya sambil memandang Kyuhyun tajam dari singgasana tempatnya biasa bekerja.

"Mwo?" seru Kyuhyun kaget.

"Aku sudah mendengar semuanya. Aku tak habis pikir dengan semua yang sudah kaulakukan. Tepat seperti dugaanku, mereka tak mengajarkan apa-apa padamu," kata Cho Soo Man ketus.

Cho Kyuhyn tahu siapa yang dimaksud kakeknya itu. Itu tidak benar. Dialah yang membuat masalah. Seharusnya kakeknya tu menumpahkan kemarahannya padanya, bukan pada kedua oranng tuanya yang tak tahu apa-apa.

"Semua itu salahku, Harabeoji. Semua ini tak ada hubungannya dengan appa dan eomma," ralat Kyuhyun.

"Semua yang dilakukan seorang anak menjadi tanggung jawab orang tua. Kau seperti ini adalah kesalahan orang tuamu yang salah mendidikmu."

"Harabeoji, aku mohon, jangan menyudutkan eomma lagi! Harabeoji marah saja padaku, tapi jangan pernah melibatkan eomma," kata Kyuhyun tak terima dengan ucapan kakeknya itu.

"Aku hanya melihat kenyataan yang jelas-jelas sudah terjadi. Masalah ini pun aku mendapatkan informasinya dari orang lain. Orang tuamu bahkan tidak memberitahu apa pun padaku. Apa mereka kira aku akan diam saja tanpa tahu satu hal pun tentangmu? Apa mereka kira mereka bisa menyembunyikan sesuatu dariku tntang semua yang terjadi padamu?" sindir Cho Soo Man.

"Harabeoji tahu dari siapa?" tanya Kyuhyun ingin tahu.

"Kau tak perlu tahu. Aku bisa mendapatkan informasi sekecil apa pun tentangmu dengan mudah dan lengkap. Aku tahu apa saja kegiatanmu setiap hari, kau berangkat sekolah jam berapa, kapan kau pulang pun aku juga tahu, bahkan dengan siapa kau bergaul pun aku juga tahu" terang Cho Soo Man.

Kyuhyun tersenyum kecut. Kakeknya itu benar-benar tahu segalanya tentang dirinya, bahkan yang tersembunyi sekali pun. Hebat, benar-benar hebat.

"Perjanjiannya bukan sekarang kan, Harabeoji. Masih beberapa bulan lagi," kata Kyuhyun mengingatkan.

"Perjanjian itu tidak berlaku lagi sejak mereka gagal mendidikmu. Mulai sekarang kau tinggal di sini. Kau tak punya hubungan apa-apa lagi dengan keluarga Choi. Seharusnya sudah dari dulu aku melakukan hal ini. Sejak ibumu memutuskan keluar dari rumah ini, seharusnya aku tak mengizinkannya membawamu serta. Apa yang dijanjikannya padaku tidak sesuai dengan kenyataan. Bahkan mendidikmu dengan benar pun, ia tidak mampu. Benar-benar mengecewakan," gerutu Tuan Cho tajam.

"Itu bukan salah eomma, Harabeoji. Itu sepenuhnya salahku. Eomma tak ada hubungannya dengan kenakalanku kali ini. Eomma mendidikku dengan sangat baik. Semua sayang padaku dan aku pun bahagia tinggal bersama mereka. Kalau Harabeoji marah, Harabeoji bisa memarahiku. Aku yang salah bukan mereka," kata Kyuhyun.

"Itu bukan alasan. Aku sudah cukup dengan melihat hasilnya. Tidak ada bantahan dan tidak ada negosiasi. Keputusanku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat," kata Cho Soo Man tegas.

Kyuhyun menggigit bibirnya kecewa. Kalau tahu akan seperti ini hasilnya, ia akan berpikir seribu kali sebelum bertindak seperti pahlawan kesiangan. Kali ini kalau dipikir-pikir lagi tindakannya memang sangat konyol. Seharusnya ia seret saja Kim Ryeowook dan menguncinya di dalam gudang sekolah hari itu.

"Aku perlu berkemas, Harabeoji. Perlengkapan sekolahku masih ada di rumah. Aku masih boleh sekolah kan?" tanya Kyuhyun lesu.

Paling tidak hari ini ia bisa pulang ke rumah. Meskipun untuk terakhir kalinya, ia berharap masih bisa bertemu keluarganya hanya sekadar untuk berpamitan dan memohon maaf karena sudah bertindak bodoh.

"Aku sudah menyuruh orang untuk mengemasi barang-barangmu. Kau tak perlu khawatir. Tidak akan ada satu pun barangmu yang tertinggal di sana. Mulai malam ini kau tinggal di rumah ini. Ada sopir yang akan mengantar jemputmu ke sekolah. Jadi, kau tak perlu bersepeda lagi. Bersikaplah sebagai Tuan Muda Cho mulai sekarang. Mau tidak mau, suka tidak suka," kata Cho Soo Man.

Cho Kyuhyun hanya bias mengangguk pasrah meski dengan berat hati. Ini sudah keputusan final kakeknya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menurutinya. Ia tak mau kakeknya itu murka dan melampiaskannya pada keluarganya, Kyuhyun tak mau itu terjadi. Kakeknya memang bukan orang jahat, tapi ia bisa melakukan apa pun menurut kehendaknya.

Pagi ini Kyuhyun berangkat dengan mobil kakeknya. Paman Han, sopir pribadi kakeknya yang mengantarkan ke sekolah. Kyuhyun tak bisa protes seperti saat ia tinggal di rumah keluarga Choi. Ia patuh melakukan semua hal yang dikatakan kakeknya.

Saat Kyuhyun bangun dan keluar dari kamar pagi tadi, ,arang-barangnya sudah ada di depan pintu kamarnya. Perlengkapan sekolah dan baju-bajunya sudah ada dalam kotak-kotak kardus dan koper-koper besar. Memang tak ada yang tertinggal, kecuali peralatan game dan handphone-nya. Kelihatannya memang sengaja ditinggalkan entah dengan alasan apa.

Kyuhyun harus mengeraskan hatinya saat ke sekolah hari ini. Bukan hanya status keluarganya, namun juga kendaraan yang dipakainya pagi ini. Mobil kakeknya memang bukan mobil yang normal menurut Kyuhyun. Kakeknya itu suka sekali dengan mobil-mobil antik. Salah satu mobil kesayangannya adalah Rolls Roys yang hari ini dinaiki Kyuhyun. Satu-satunya mobil dengan model yang normal menurut Kyuhyun adalah milik samchon-nya, yang tentu saja tidak akan pernah pamannya itu izinkan untuk dipakai Kyuhyun.

Kyuhyun sudah membayangkan yang bukan-bukan. Peristiwa beberapa hari yang lalu tentu akan menyebar dengan cepat. Kabar burung memang menyebar dengan sangat cepat seperti desiran angin yang mengambara ke seluruh penjuru bumi.

Kyuhyun yakin banyak berita dan cerita tentang dirinya yang berkembang di sekolah. Mungkin ada baiknya juga, paling tidak Han Kaisoo akan sedikit menaruh hormat padanya. Mungkin Han Kaisoo tidak akan memandangnya sebelah mata lagi. Kyuhyun juga yakin kedua kasim Han Kaisoo tidak akan berani berbuat macam-macam dengannya. Apalagi Shin Dong Min. Kyuhyun anak bos ayahnya. Jadi, Shin Dong Min tidak akan berani lagi membuat masalah dengannya. Mungkin anak itu akan berbalik menjilatnya, siapa tahu. Ular macam Shin Dong Min akan bisa membelit siapa saja.

"Anda pulang sekolah jam berapa, Doryeonim?" tanya Paman Han beberapa ratus meter dari gerbang sekolah Kyuhyun.

"Hari Senin aku pulang sekitar jam 9 malam, Ahjussi."

"Ah, kalau begitu saya akan menjemput Tuan Cho dulu sebelum menjemput Anda!" kata Paman Han, "Anda tidak keberatan kan kalau menunggu sebentar jika saya belum datang?"

Kyuhyun mengangguk meskipun sambil merutuk dalam hati. Kalau pun Paman Han menjemputnya tengah malam, Kyuhyun tak akan berani pulang lebih dulu.

"Berhenti di ujung jalan saja, Paman," perintah Kyuhyun.

"Kenapa begitu? Anda harus berjalan cukup jauh kalau turun di ujung jalan," kata Paman Han tak mengerti.

"Aku terbiasa begitu," kata Kyuhyun enggan menjelaskan.

"Tuan Besar Cho menyuruh saya mengantar Anda sampai di tempat, Doryeonim," kata Paman Han tanpa terdengar membantah tapi cukup membuat Kyuhyun terdiam.

Bukan tanpa alasan Kyuhyun ingin turun di ujung jalan. Ia tak mau menjadi pusat perhatian, meskipun ia yakin akan sulit melakukannya, apalagi mobil yang dikendarainya ini pasti akan menyita perhatian banyak orang.

Kyuhyun tak mau membahas lagi ia akan turun di mana. Ia malas menghabiskan tenaganya sepagi ini hanya untuk berdebat dengan Paman Han. Kyuhyun hanya tidak mau membuat Paman Han bermasalah dengan kakeknya kalau sampai kakeknya itu tahu Paman Han tidak mengantarkan Kyuhyun sampai di depan lobi sekolah.

Suasana sekolah sudah mulai ramai pagi itu. Banyak mobil yang keluar masuk gerbang utama sekolah. Seperti yang sudah diprediksi, mobil yang ditumpangi Kyuhyun membuat banyak orang memerhatikannya. Kyuhyun sampai harus menarik napas berulang-ulang untuk menenangkan diri sebelum turun dari mobil.

Decak kagum terdengar kala Kyuhyun turun. Beberapa gadis yang ada di dekat tangga juga berteriak tertahan. Kyuhyun mengumpat-umpat dalam hati, saat gadis-gadis yang biasanya melewatinya begitu saja, mulai menyapanya dengan senyum paling manis. Belum lagi sekelompok gadis lain yang mengikuti langkahnya sampai ke depan pintu kelas. Membuat Kyuhyun merasa seperti artis kapiran.

Di depan pintu kelas, Kyuhyun bersirobok dengan Shin Dong Min. Anak itu langsung menunduk dan buru-buru melangkah cepat meningglkan Kyuhyun. Anak itu tampaknya cukup tahu diri sekarang. Ia tak berani lagi petentang-petenteng di hadapan Kyuhyun.

Kyuhyun melangkah cepat menuju bangkunya di ujung belakang. Shim Changmin sudah duduk di situ sambil memainkan ponselnya. Kyuhyun yang membanting tasnya di atas meja membuat Shim Changmin terkejut dan menoleh padanya.

"Ada apa?" tanya Shim Changmin saat melihat wajah Kyuhyun yang kusut pagi itu.

"Dalam dua hari aku masuk ke dalam neraka yang berbeda. Bisa kaubayangkan bagaimana hidupku sekarang?" gerutu Kyuhyun kesal.

"Neraka, eoh? Maksudmu gadis-gadis manis yang menunjuk-nunjukmu dari pintu depan sambil berteriak memanggil namamu itu seperti neraka? Heol, kau perlu memeriksakan matamu kalau begitu," kata Shim Changmin geli.

Kyuhyun makin dibuat uring-uringan dengan kata-kata konyol Shim Changmin itu. Kyuhyun paling benci menjadi pusat perhatian. Apalagi perhatian yang memiliki maksud-maksud tertentu, membuat Kyuhyun merasa muak.

"Hah, mereka tak pernah begitu sebelumnya!" kata Kyuhyun mulai marah.

"Itu kenyataan yang harus kauterima sekarang. Tahan saja sampai satu tahun mendatang sampai kau lulus sekolah," ucap Shim Changmin santai yang membuat Kyuhyun ingin menjambak rambutnya.

"Ngomong-ngomong, kau sudah bertemu musuh besarmu belum?" tanya Shim Changmin melanjutkan.

"Aku hanya bertemu Shin Dong Min tadi. Anak itu bahkan tak mau melihatku saat berpapasan di depan kelas," jawab Kyuhyun.

"Bukannya dia tak mau, tapi tak berani. Apalagi sekarang ia tahu siapa ayahmu. Bunuh diri namanya kalau ia masih berani mengganggumu. Kau tahu, Kyu, Han Kaisoo nampaknya akan kehilangan dua orang kepercayaannya sekarang. Saat kau tidak masuk Shin Dong Min dan Lee Kwang So nampaknya mulai segan dekat-dekat dengannya lagi," ucap Shim Changmin.

"Oh, ya? Baguslah, sekarang ia akan tahu rasanya ditinggalkan orang yang selama ini dianggapnya sebagai teman. Tak akan ada orang yang mau berteman dengan tulus di posisinya seperti sekarang ini. Teman yang benar-benar tulus itu susah didapat," kata Kyuhyun yang mau tak mau hatinya merasa senang.

"Kau benar, ia tak punya teman yang seperti aku yang selalu setia kawan dan perhatian," kata Shim Changmin memuji dirinya sendiri.

"Huh, kau pun sama saja! Kau hanya mau mampir ke rumahku kalau butuh makanan enak," cela Kyuhyun yang membuat Shim Changmin terbahak mendengarnya.

"Nikmati saja masa-masa sekolahmu, Kyu. Meskipun rasanya tidak nyaman, namun kau harus mulai menerimanya. Status sosialmu memang membuat orang silau. Akan banyak juga lintah yang ingin menempel padamu berharap kecipratan ketenaran dan kekayaanmu. Kau mulai harus lebih bersikap waspada, siapa tahu mereka akan mempergunakanmu untuk kepentingan mereka sendiri!" nasihat Changmin.

"Itu harus kan. Aku tak punya pilihan lain sekarang selain menerima hidupku sekarang. Kau tahu, Chwang, sejak kemarin aku sudah pindah ke ruamh kakekku. Barang-barangku pun sudah ada di sana semua. Aku bahkan tak punya kesempatan untuk sekadar berpamitan pada keluargaku," keluh Kyuhyun.

"Oh, ya? Jadi, harabeoji-mu akhirnya berhasil memaksamu untuk tinggal bersamanya? Daebak. Lalu bagaimana reaksi keluarga Choi?" tanya Shim Changmin takjub.

"Aku belum tahu. Semalam waktu aku beralasan mau pulang sebentar untuk mengepak barang-barangku pun tak diizinkan harabeoji. Semua barang-barangku sudah tertumpuk rapi di depan pintu saat aku bangun tidur tadi pagi, kecuali ponsel dan peralatan game-ku," keluh Kyuhyun.

"Huh, sampai segitunya harabeoji-mu?" tanya Shim Changmin tak percaya.

"Harabeoji memang tidak pernah setuju eomma menikah lagi. Saat eomma menikah dan memutuskan keluar dari rumah dengan membawaku juga, harabeoji mengajukan berbagai persyaratan tertulis yang harus disetujui eomma dan appa. Harabeoji memang orang yang kaku dan keras. Apa yang menjadi keputusannya tak bisa diganggu gugat. Well, bukan berarti harabeoji orang yang kejam, beliau hanya terlalu konservatif," kata Kyuhyun.

"Berarti kau tak tahu bagaimana keadaan keluargamu sekarang, terutama eomma-mu setelah kautinggalkan?"

Kyuhyun hanya mengangkat bahunya. Ia benar-benar tidak tahu keadaan eomma-nya. Mungkin eomma-nya itu sangat terpukul dengan keputusan harabeoji-nya itu. Apalagi harabeoji menjemputnya pergi tanpa sepengetahuan eomma dan keluarganya yang lain. Apakah eomma merasa sedih? Apakah eomma merasa kehilangannya? Apakah eomma tengah meratapi kepergiannya?

Kyuhyun ingin bertemu dengan eomma-nya, hanya untuk berpamitan, untuk mengatakan bahwa Kyuhyun akan selalu menyayanginya meski tinggal berjauhan, bahwa Kyuhyun meyesal karena membuat eomma-nya itu berpisah dengannya.

"Aku hanya ingin bertemu eomma untuk terakhir kalinya, Chwang. Aku yakin harabeoji akan semakin marah kalau tahu aku menemui eomma secara diam-diam. Tapi, aku merasa seperti anak durhaka karena meninggalkan rumah tanpa sepatah kata pun," kata Kyuhyun lirih.

"Meluluhkan hati harabeoji-mu yang masih dikuasai amarah memang bukan perkara mudah. Tapi, aku yakin, untukmu, harabeoji-mu akan membuat pengecualian. Menurutku rasa sayangnya padamu lebih besar dari pada kemarahannya. Mungkin bukan sekarang, tapi nanti kau akan diperbolehkan bersama keluargamu lagi," hibur Shim Changmin sambil menepuk pundak Cho Kyuhyun pelan.

Kyuhyun tersenyum mendengar ucapan Changmin itu. Yah, semoga saja setelah banyak hal buruk yang terjadi padanya, akan ada saatnya kebaikan yang menghampirinya. Ia hanya harus sedikit bersabar. Pelan-pelan mencoba menerima semua yang terjadi padanya dengan hati lapang.

"Well, well, menikmati keteranamu sebagai selebritis dadakan, Cho?" tanya seseorang pada Kyuhyun dengan nada penuh dengan sindiran.

"Tutup mulutmu! Aku sedang tidak ingin melihatmu atau mendengar ocehanmu sekarang," jawab Kyuhyun ketus setelah tahu siapa yang menyindirnya.

Han Kaisoo yang tampaknya sudah mulai kehilangan pamornya berjalan mendekati Cho Kyuhyun yang sedang menyendiri di atap sekolah. Kyuhyun sengaja menyelinap ke atas atap sekolah siang itu karena muak dikejar-kejar penggemar dadakan yang selalu membuntutinya ke mana pun ia pergi.

"Enak bukan menjadi selebriti yang dipuja dan dikagumi banyak orang. Aku lihat kau menikmati peranmu saat ini," kata Han Kaisoo dengan kata-katanya yang semakin tak enak didengar.

"Aku bukan sepertimu. Aku tak suka dikelilingi penjilat-penjilat sepertimu," kata Kyuhyun.

"Kau memang tak bisa sepertiku. Aku tetap nomor satu di sekolah ini. Kau dan aku setara, aku ralat, hampir setara. Aku adalah anak kandung ayahku, sedangkan kau adalah anak tiri. Aku mewarisi semua yang dimiliki ayahku, sedangkan kau hanya mendapatkan sisa-sisa yang dibuang kakakmu. Aku benar kan?" ucap Han Kaisoo semakin membuat telinga Kyuhyun merah.

"Kau benar. Aku memang tak akan memperoleh apa-apa dari ayahku. Aku memang tidak sama sepertimu karena aku tidak pernah mau menjadi sepertimu. Kau memang memiliki kekayaan dan ketenaran, tapi aku yakin kau tak punya sahabat dan teman yang tulus menganggapmu sebagai teman. Mereka hanya mau berteman denganmu karena apa yang kaupunya. Aku yakin mereka tak akan mau dekat-dekat denganmu kalau kau tak punya apa-apa. Hidupmu lebih menyedihkan bukan? Aku lihat kedua antekmu pun tak mengikutimu ke mana-mana seperti biasanya. Apa mereka sudah bosan denganmu?" jawab Kyuhyun yang menohok perasaan Han Kaisoo.

Han Kaisoo mengepalkan tangannya mendengar ucapan Kyuhyun itu. Memang benar, kedua teman dekatnya selama ini sudah mulai menghindarinya, terutama Shin Dong Min. ia maklum karena ayah Shin Dong Min bekerja pada ayah Kyuhyun. Tapi tetap saja ia tak bisa menerimanya begitu saja.

"Huh, aku bisa mencari yang lebih baik dari mereka! Teman mudah kucari. Aku bisa memiliki apa pun yang aku inginkan di dunia ini. Aku punya segalanya dan dengan itu aku akan memiliki segalanya," balas Han Kaisoo.

Cho Kyuhyun tertawa mendengar apa yang dicapkan Han Kaisoo itu. Bisa mendapatkan apa pun, huh. Anak chaebol di sebelahnya ini sungguh-sungguh picik pikirannya. Ia pikir ia bisa mendapatkan apa pun dengan uangnya itu. Heol, harta tidak abadi. Harta hanya titipan Tuhan yang bisa diambil kembali oleh pemiliknya kapan saja.

"Kau memang punya segalanya. Tapi, kalau kau terus berpikiran picik seperti ini, aku yakin kau akan kehilangan segalanya," ujar Kyuhyun.

"Jangan meremehkan aku, Cho! Kau tahu, aku lebih segalanya daripada kau. Sekarang kau memang idola baru di sekolah ini, tapi aku yakin kau tak akan bisa menikmati selamanya. Aku akan tunjukkan pada siapa pun kalau aku lebih baik darimu," gertak Han kaisoo.

"Semaumulah. Kau bebas melakukan apa pun yang kau mau. Aku tak pernah ingin menjadi sanganmu. Kau pikir aku suka dengan statusku sekarang? Aku tidak pernah menginginkannya kau tahu? Kau boleh lebih terkenal, lebih dipuja, lebih segalanya. Aku sama sekali tidak tertarik," kata Cho Kyuhyun.

Setelah berkata seperti itu, Kyuhyun pun berlalu meninggalkan Han Kaisoo. Ia sudah cukup muak dengan keadaannya ditambah lagi dengan ucapan dan gertakan Han Kaisoo membuatnya semakin tertekan. Ia tak pernah menginginkan semuanya. Kalau boleh memilih, ia akan memilih untuk melepaskan semua yang dimilikinya sekarang.

Choi Siwon masih menunggu sekolah bubar di dalam mobilnya. Sudah setengah jam ia duduk terdiam di dalam mobilnya itu. Matanya tak lepas menatap gedung megah yang berdiri menantang di hadapannya.

Kemarin, setelah ia dan orang tuanya pulang dari Daegu, mereka mendapati Kyuhyun sudah tidak berada di rumah. Hanya ada kadus-kardus yang sudah rapi dan koper-koper siap angkut tertumpuk di serambi depan. Semula ia tak tahu apa isinya. Tapi, melihat ibunya yang terus menangis dan meratap, membuatnya tahu apa yang terjadi di rumahnya selama mereka pergi.

Harabeoji Kyuhyun akhirya berhasil memaksa Kyuhyun untuk tinggal bersamanya. Tampaknya kedua orang tuanya pun sudah tahu tentang rencana ini. Maka dari itu ayahnya dengan sengaja mengajak mereka ke Daegu dan meninggalkan Kyuhyun di rumah. Ibunya tidak akan sanggup melihat anak kesayangannya itu dibawa pergi.

Siwon juga merasakan hal yang sama. Setelah tahu kejadian itu, ia berniat pergi ke rumah keluarga Cho dan meyeret Kyuhyun pulang. Namun ayahnya bisa meredam emosiya. Semuanya masih dalam pikiran yang kalut. Masing-masing dari mereka merasa memiliki hak untuk mendapatkan Kyuhyun.

Menurut ayahnya jika mereka menjemput Kyuhyun kembali saat itu juga, maka masalahnya akan semakin rumit. Mereka harus menunggu hingga suasana menjadi tenang sebelum bernegosiasi tentang Kyuhyun dengan Tuan Cho.

Malam ini, Siwon sengaja menunggu adiknya itu pulang sekolah. Ia harus memastikan bahwa adik kesayangannya itu baik-baik saja. Mungkin fisiknya terlihat sehat, namun belum tentu mentalnya seperti yang terlihat.

Siwon tahu betul, betapa rapuhnya Kyuhyun saat sedang terjatuh. Ia pasti butuh seseorang untuk bersandar. Selama ini Siwon terbiasa menyediakan bahunya untuk tempat Kyuhyun bersandar. Ia juga yang menghapus air mata adiknya itu saat beratnya beban tak bisa ditanggungnya lagi. Siwon sangat mengenal Kyuhyun. Lebih dari separuh umur hidupnya ia habiskan bersama adiknya itu.

Pintu gerbang utama sekolah terlihat dibuka lebar oleh seorang petugas keamanan. Mobil-mobil yang awalnya menunggu di tepi jalan sama seperti Siwon, perlahan-lahan mulai memasuki halaman sekolah. Siwon lebih memilih menunggu di tepi jalan, toh saat bubaran sekolah, halaman sekolah sangat ramai.

Mobil-mobil dan beberapa anak yang berjalan kaki terlihat meninggalkan area sekolah. Choi Siwon menghidupkan mesin mobilnya dan memasuki halaman sekolah yang sudah tidak terlalu ramai. Semoga saja ia beruntung malam ini dan bisa menemui Kyuhyun. Siwon yakin sekolah adalah satu-satuya tempat di mana ia bisa bertemu Kyuhyun dan bicara dengannya dengan leluasa.

Malam ini memang Siwon tengah dinaungi dewi fortuna. Ia melihat adiknya duduk sendiri di lobi sekolah yang mulai sepi. Sesekali adiknya tampak mengangguk dan membalas sapaan temn-temannya. Siwon keluar dari mobilnya dan melangkah ke dalam lobi sekolah.

"Kyuhyun!" panggil Choi Siwon cukup keras.

Kyuhyun cepat menoleh mendangar panggilan yang amat dikenalnya itu. Kyuhyun merasa terkejut sekaligus senang melihat hyung kesayangannya itu melangkah cepat ke arahnya.

"Siwon Hyung, apa kabar?" tanya Kyuhyun riang.

"Kau menanyakan kabarku? Tentu saja tidak baik," jawab Siwon.

"Eomma?" tanya Kyuhyun resah.

"Eomma apalagi. Eomma menangis semalaman. Pagi ini pun beliau tidak keluar dari kamarnya. Suasana rumah serasa seperti di tempat pemakanan," jawab Siwon lalu duduk di kursi metal panjang yang tersedia di lobi.

Kyuhyun mengenyakkan tubuhnya di samping Siwon. Ia dapat membayangkan perasaan ibunya saat ini. Sama seperti dirinya yang juga merasa kehilangan.

"Ini. Kau lupa membawanya," kata Siwon sambil mengangsurkan ponsel Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum menerima ponsel itu dari tangan Siwon. Ia bisa diam-diam menghubungi eomma-nya dengan ponselnya itu, kakeknya tak perlu tahu.

"Kenapa Hyung kemari" tanya Kyuhyun.

"Kenapa katamu? Tentu saja untuk bicara denganmu. Kalau saja aku tahu appa mengajak ke Daegu supaya kakekmu bisa leluasa membawamu pergi, aku pasti akan menolak ikut. Paling tidak aku bisa membantumu untuk tetap bertahan di rumah," ucap Siwon emosional

"Harabeoji sudah membuat keputusan. Kita semua tahu watak harabeoji. Aku tak mau harabeoji semakin memojokkan eomma dan appa kalau aku menolak ikut," ucap Kyuhyun.

"Bukankah harabeoji-mu sudah membuat kesepakatan untuk membawamu tinggal tahun depan? Ini terlalu mendadak dan di luar kesepakatan," kata Choi Siwon meradang.

"Ini karena kebodohanku, Hyung. Seharusnya aku lebih mawas diri dan tidak hanya mengikuti kata hati. Sekarang kalau sudah begini, aku hanya bisa menyesali diri," sesal Kyuhyun.

"Aku tak pernah menyetujuinya. Seperti Tuan Cho yang tak pernah menerima kehadiran keluargaku, aku pun juga tak pernah bisa menerima jalan pikirannya tentangmu. Ia terlalu posesif seolah-olah hanya dia yang paling berhak atasmu. Seperti Tuan Cho yang bisa melakukan segala cara untuk membawamu pergi, aku pun juga akan melakukan segala cara untuk membawamu kembali."

"Dan apa yang akan kaulakukan untuk membawa Kyuhyuhyun-ku kembali, Choi Siwon-ssi?"

Cho Kyuhyun dan Choi Siwon menoleh menatap pintu masuk lobi saat mendengar ucapan tegas itu. Di ambang pintu Taun Cho telah berdiri dengan tatapan tajam yang tak lepas mengawasi Choi Siwon. Kyuhyun meneguk ludahnya pahit. Tampaknya masalah antara kakeknya dan keluarganya akan semakin bertambah rumit.

TBC

Annyeong, readerdul, makin nunggu lama ya? Maaf semakin lama memang semakin berat untuk melanjutkan cerita. Bukan hanya Fighting, tapi cerita yang lain juga. Persiapan ujian membuat pekerjaan menumpuk dan harus selesai secepatnya. Tapi, meskipun lama, aku janji akan melanjutkan cerita ini sampai tamat. Jangan segan untuk menagih kelanjutan cerita kalau sudah terlalu lama. Kadang aku lebih semangat bikin cerita kalau sudah ditagih hehehe. Happy reading guys, jangan lupa review ya. Gomawo.