TWO SIDES
by Gyoulight
.
.
.
.
.
HUNHAN FANFICTION
GENRE: Drama, Romance
RATING: T
.
.
.
.
.
Jongin membuka pintu ruangan kecil itu lebar-lebar. Sedangkan si pemilik ruangan hanya bisa terkejut dengan batal menyumpit ramen cupnya. Kaki-kaki Jongin yang jenjang kemudian menyusuri ruangan dan mendekati pria berantakan dengan jaket lusuhnya itu. Tidak mengambil duduk maupun membiarkan si detektif memprotes karena ia baru saja menikmati ramennya yang mengepul panas.
Di atas meja sudah berjejer CD, tumpukan kertas dan juga laptop yang menampilkan rekaman CCTV yang sudah buru-buru dipause. Jongin tidak perduli dengan kesibukan pria itu. Jadi ia langsung memberinya instruksi sebelum orang lain mengetuk pintunya.
"Tolong selesaikan sekarang," pinta Jongin dengan nafas pendek-pendek. Hasil pelariannya dari pelantara parkir hingga ruangan kecil penuh sesak seperti ini. Lalu jangankan kakinya, detak jantungnya di telinga pun ikut memburu.
Pria sedikit berantakan itu melepas ramennya di meja. Menatap lekat seseorang yang sudah lancang memberinya perintah, sedangkan perutnya meraung minta diisi. Padahal selama ini ia bukanlah berdiam diri dan menutup mata pada kasus yang pria itu minta. Tepatnya ia belum menemukan satu lagi bukti fisik yang selalu ia cari selama ini. "Kau tahu kita tidak bisa mengeluarkan surat perintah."
"Kenapa tidak bisa?" tanya pria tan itu konyol. Lalu dibalas masam oleh si detektif.
"Taeyong menolak bicara. Dan saksi penting yang terdaftar di dalam daftarku satu-persatu menghilang begitu saja," ujarnya melayang-layang dengan keluh-kesah. Ditambah lagi dengan rasa pening di kepala yang sudah ingin meledak karena pria di depannya ini seakan minta dijelaskan masalah proses hukum. "Dan aku tidak menemukan apapun dalam rekaman ini. Ini semakin rumit!"
Jongin menaikkan salah satu alisnya. Mulai mengambil duduk sebelum ia sesak, karena harus tenggelam di antara tumpukan kertas dan juga papan penuh mind map. "Aku tidak percaya kau sedang berkeluh kesah."
"Lebih tepatnya kasus ini memprovokasiku. Mr. K terlalu pintar menyingkirkan jejak." Pria berbaju hitam itu kemudian mengusap wajah berminyaknya. Merasa mau meledak tapi ia terhalang sikap keprofesionalan. Jadi ia hanya bisa mendesah dengan banyak keluhan. "Satu-satunya yang tersisa adalah Taeyong yang hampir 24 jam berada di ruang interogasi. Kalau saja pria itu mau bicara."
Jongin masih tersendat dengan banyak hal. Pikirannya tidak setenang raut wajahnya. dan ia sama sekali tidak bisa hanya duduk disini lalu memohon sesuatu yang tidak jelas kemana arahnya. "Tidak bisakah kau menangani ini dengan cepat?"
"Aku bisa. Tapi kami kehilangan─"
Perkataan pria berantakan itu kemudian terpotong oleh dorongan pintu kecilnya. Suasana kendap itu kemudian berubah riuh ketika seorang pria tinggi berlari masuk, dan langsung menghadap padanya. "Hyung, kami menemukan Kangmin!"
Lantas detektif itu berubah cerah. Ia seakan menemukan cahaya harapan dalam genggaman. "Bagus! Dimana dia?"
Namun sesuatu terjadi di luar kendali. Membuat pria asing dengan jaket navynya itu menunduk seakan semua ini adalah salahnya. "Dia ditemukan penuh luka di gunung."
"Apa?!"
Tidak ada lagi harapan yang bisa dilambungkan. Pikiran-pikiran pupus di suatu tempat. Jongin sendiri sudah bergidik, terlalu terkejut dengan laporan asli pria itu. Lantas ia benar-benar tidak akan bisa menunggu lagi, atau sesuatu yang buruk akan menimpa Sehun dan Luhan di luar sana.
Jongin bergegas mencari letak ponselnya. Terserah akan menghubungi Chanyeol atau Baekhyun, intinya ia harus mengetahui keberadaan Sehun sebelum semuanya terlambat. "Aku akan membuat laporan," putusnya.
"Tunggu!" cegah detektif itu menahan langkahnya. Pria pendek itu kemudian beranjak dari kursinya. Mengambil jaketnya di kursi, kemudian mendekat pada rekannya yang baru saja tiba. "Taemin, keluarkan surat Mr. K untukku."
"Tapi hyung─"
"Aku sendiri yang akan berbicara dengan kepala Park," pesan pria dengan ID Lee Donghae itu sebelum berlalu keluar. Jongin sendiri sudah mengekorinya panjang-panjang. Mengikutinya memasuki lorong-lorong ruang kepolisian lalu menunjuk salah satu dari pria berseragam paling rapi di ujung. "Ikut aku!"
e)(o
Butuh beberapa detik bagi Sehun untuk mengatur fokus di matanya. Alat geraknya mati rasa, sedangkan rasa sakit di sekitar pinggangnya semakin lama semakin pedih. Wajahnya yang pucat kemudian menyapu seisi ruangan gelap. Menemukan seseorang yang bekerja di sampingnya.
Dengan masker hitamnya, pria itu menuangkannya sesuatu di area lukanya. Membuatnya menjerit sakit tak tertahankan. Sementara pria itu seakan tidak hirau akan keributan yang ditimbulkannya. Terlebih ketika sebuah pinset mencari celah pada area lukanya. Diam-diam masuk ke dalam sana, lalu mengubrak-abrik hingga membuatnya semakin berdarah.
Sehun tidak paham dengan apa yang dilakukan pria itu di sana. Ia pun terus berteriak menahan pedih. Menggerakkan kedua tangannya dengan gelisah sampai wajahnya memucat kehabisan darah.
"Tahanlah sebentar lagi," pinta pria itu cukup familiar. Tapi sayangnya Sehun terlalu sibuk dengan pedihnya luka yang dialaminya. Tidak punya waktu untuk mengingat dengan baik pria berambut hitam ini.
Tak lama ujung pinset yang masuk ke dalam lukanya ditarik perlahan. Membuatnya dua kali lipat menjadi lebih sakit dari sebelumnya. Sangat berbeda saat pinset itu masuk dengan renggang yang kecil. Lantas sebutir timah pun mulai terlihat keluar dari kulitnya.
Sehun dapat melihat dengan jelas peluru itu keluar dari sana. Cukup besar dan juga menyakitkan karena berhasil menembus kulitnya. Lalu siapapun tak akan percaya bahwa benda itu tertanam disana hampir setengah jam lamanya.
Pria itu kemudian membuka masker hitamnya. Menaburkan sesuatu di atas lukanya. Lantas memotong jas yang awalnya dikenakan Sehun lalu melilitkannya di pinggang orang yang ditolongnya. "Tahan pendarahannya."
Sehun menyernyit. Tidak akan percaya jika Zitao kini berada di hadapannya. Terlebih membuang-buang waktu untuk mengeluarkan peluru yang beberapa saat lalu ia tembuskan di pinggangnya. "Zitao?"
Pria tinggi itu meliriknya sebentar sebelum kesibukannya terfokus pada merapikan alat-alat medis seadanya yang ia ambil dari suatu tenpat. "Aku bukan Zitao," ujarnya datar. "Zitao sudah mati."
Sehun kemudian bergerak untuk mendudukkan dirinya. Menekan lukanya yang sekali lagi mengeluarkan darah, namun tidak sepedih sebelumnya. Entah apa yang Zitao berikan padanya sehingga ia tidak bergitu bereaksi dengan lukanya sendiri. "Kenapa kau─"
Zitao berlalu dari sana. Membungkus peralatannya yang berlumuran darah, lalu melemparnya ke dalam laci yang sudah rusak. "Benar, seharusnya aku menembak kepalamu. Kau terlalu banyak bicara." Pria berambut hitam itu sendiri heran mengapa ia masih membiarkan Sehun hidup meski ia telah diberikan lampu hijau untuk memusnahkannya seperti banyak tugas yang Kris berikan.
"Dimana Luhan?" Hanya itu pertanyaan terpenting bagi Sehun. Tidak ada sesuatu yang lebih penting selain mengetahui Luhan baik-baik saja. Tidak masalah dengan dirinya. Karena mau bagaimana pun, yang menyebabkan Luhan terlibat dalam hal ini adalah murni karena kesalahannya.
"Jangan bersikap seakan aku menyelamatkanmu. Aku hampir menembak kepalamu kalau saja aku lupa kau pernah membantuku." Zitao kembali menggeledah laci-laci dari lemari yang tak terpakai di belakang. Berusaha menemukan sesuatu yang selalu ia sembunyikan dalam laci miliknya yang entah sejak kapan sudah seberantakan ini. Mungkin karena ia terhapus dari catatan keanggotaan sehingga semua barangnya dilenyapkan?
Sehun seketika ingin tertawa kalau saja ia tidak mengacaukan lukanya yang semakin parah. "Kau kembali menjadi kaki tangannya?"
"Aku tak punya pilihan," jawabnya menutup kasar laci terakhirnya. Benar saja, ia tidak menemukan apapun selain debu dan juga potongan kertas kosong. "Dan yang lebih penting jangan bicara denganku."
Sehun meringis menahan pedih ketika dirinya berhasil menyandarkan diri. Setengah bajunya basah oleh lumuran darah. Dan sisanya menggenang di lantai. Membuat jejak ketika Sehun menarik diri menuju dinding kosong di belakangnya. "Aku harus pergi."
Zitao berdecih. Ia lebih memilih menyeret kursi besi di dekat lemari sebelum mengurusi ponselnya yang bergetar sejak tadi. "Kalau kau terlalu banyak bergerak kau bisa mati kehabisan darah."
"Lalu aku harus diam disini menghabiskan waktu?" timpal Sehun yang masih tidak menyerah untuk berdiri.
Pria dengan pakaian serba hitam itu kemudian mengusap wajahnya. Tidak tahu harus berbuat apa dengan Sehun. Alih-alih bingung dengan apa yang harus ia katakan pada Kris karena ia tidak membunuh pria pucat itu. "Mungkin kau harus menunggu sampai─"
Pintu kini terbuka lebar. Pria berambut coklat dengan hoodie kebesarannya lalu masuk dengan langkah gusar. Kakinya yang tanpa alas kaki menjejak dengan bercak darah. Dan itu segera membelah atensi kedua pria di dalam ruangan gelap itu. Tak satupun dari mereka yang menyuarakan suara, hingga pria itu mendekat pada Sehun lalu berhambur memeluknya dalam tangisan.
Sehun penuh syukur ketika tahu Luhan menghampirinya. Masih dalam kondisi baik-baik saja, meski kakinya penuh luka. "Kris melukaimu?" tanyanya mengusap helaian rambut Luhan yang berantakan. Hatinya pun ikut terhenyuh ketika melihat sosok itu menangis. Merundung rasa takut yang mengalahkan kekhawatirannya soal ia yang mungkin saja tidak tertolong disini.
Luhan menggeleng. Disekanya sisa darah yang menempel di wajah pucat Sehun dengan gemetar. Tak kalah berdosa ia membawa Sehun ke dalam kesalahannya. "Maafkan aku," sesalnya sekali lagi.
Zitao yang menyaksikan itu kemudian hanya bisa menggeleng mengantongi ponselnya. Kakinya yang jenjang kemudian bergerak menuju daun pintu yang menua. Hendak meninggalkan keduanya, karena harus masa bodoh. Entah mengapa ia jadi berubah tidak suka melihat pemandangan menyedihkan seperti itu. Padahal kalau mau dipikir, ia lebih banyak menghilangkan nyawa manusia dari pada menghabiskan waktu untuk menonton serial drama.
Namun tak sampai pada Zitao yang menutup pintu, pria itu sudah menyaksikan sosok Kris muncul di lorong. Berjalan dengan sangat elegan lalu jangan lupakan tajam pisau yang menyilaukan di tangannya. "Oke, mungkin salah satu dari kita akan mati disini," gumam Zitao mundur dari sana.
Ketukan sepatu kemudian menggema di ruangan itu. Menyisipkan dentingan horror dalam tiap bait degupan jantung ketiganya. Membuat Luhan kembali terserang panik yang luar biasa. Lantas menggenggam erat jemari Sehun yang meraihnya.
"Seperti perkiraanku, kau kembali ke markas," buka Kris muncul di muka pintu. Rautnya penuh senyum, tenang dan juga sarat akan emosi. Siapapun mungkin tidak akan tahu jika pria itu tengah menggenggam pisau dalam dendam yang sempurna. "Dan Sehun, kau harus berterima kasih pada bawahanku ini."
Zitao menghentikan ketukan tumitnya. Berdiri dalam pandangan awas ketika Kris beralih menatapnya penuh arti. "Jadi kau akan membunuhku juga?"
Kris terkekeh. Mendekat pada Zitao, lalu meraih bahunya. Menepuknya dalam keheningan yang ditembus detakan keras jantung pria itu. "Kau sudah melakukannya dengan baik," lanjutnya menatap lekat mata bawahannya yang menatap kemana tangannya mengayun.
Zitao tak sempat menghindar ketika pisau itu menancap di perutnya. Begitu cepat dan juga tidak terbaca di benak Sehun dan juga Luhan yang masih mematung jauh di dekat dinding.
"Tapi aku tidak membutuhkanmu lagi," bisik Kris sebelum ia menarik kembali pisaunya lalu membiarkan Zitao tergeletak dengan darah yang mengotori pakaian.
Tetesan darah dari pisau yang digenggam Kris kemudian habis mengotori lantai. Menyisakan kebisuan Zitao yang masih bergerak dalam sisa-sisa kesadarannya. Luhan yang menyaksikan itu kemudian dirundung ketakutan yang tidak biasa. Ia membekap mulutnya kuat-kuat, sedangkan matanya membola dengan genangan air matanya sendiri.
"Tidak, kumohon." Luhan terus menghalangi tubuh Sehun yang ada di belakangnya. Ketika Kris kembali bergerak, tangannya merentang. Memohon tanpa lelah walaupun mungkin Kris tidak akan mendengarnya.
"Aku sudah mengatakannya padamu," tuturnya tepat di hadapan Luhan. "Aku akan membuatmu menyesal."
Melihat kebisuan Luhan, Kris lalu menyingkirkannya menjauh dari Sehun. Membiarkan Luhan memohon saat ia menarik kerah kemeja Sehun untuk mendekat padanya. "Seharusnya aku membunuhmu saat itu."
Sehun tersenyum remeh dengan kalimat itu. Wajah pucatnya meradang, tapi sayangnya ia tak cukup punya tenaga untuk menghantam wajah itu dengan sebuah pukulan. "Kau menyesal?"
Kris berdecak. Mengetuk wajah Sehun dengan pisau yang berada dalam genggamannya. "Kau tahu bagaimana aku mengekspresikan 'rasa menyesalku' kan?"
"Kau benar-benar sudah gila," tatap Sehun nyalang. Tidak bergerak ia dengan posisinya.
"Kaulah yang mengingkari perjanjian itu. Kau sendiri yang membuatku melakukannya." Kris yang muak kini melempar tubuh Sehun ke lantai. Memukul wajahnya dengan sangat keras, tidak perduli bagaimana luka di pinggang Sehun yang semakin menganga.
"Kris!" Luhan kembali menarik Kris dari sana. Tapi sekali lagi usahanya hanya sia-sia. Kris masih saja keras kepala untuk menuruti emosinya.
Sehun menajamkan kedua matanya. Menahan lengan-lengan Kris yang masih menggenggam pisau di tangannya. "Kau tahu, kalau sejak awal aku memang tak berniat menyerahkan Sena padamu."
Kris berdecih. "Aku bersumpah akan membunuhmu sekarang juga."
Sehun kemudian berhasil membalik posisi mereka. Dengan cepat ia mendorong Kris ke lantai hingga pisau di tangan pria itu terlempar jauh. Ia pun segera memukulnya dengan banyak pukulan. "Kau hanya manusia penuh obsesi yang mengejar apapun yang bukan milikmu."
"Lalu apa bedanya denganmu?" ejek pria pirang itu mendorong tubuh Sehun menjauh darinya.
Sehun kembali memukuli Kris dengan tangannya. Menendangnya dengan tenaga seadanya tapi Kris buru-buru meninju perutnya. Menghantam lukanya yang kemudian tidak menunggu sampai ia yang diseret menuju balkon gedung lantai tiga tak terpakai itu.
Luhan buru-buru mendekati Zitao yang tergeletak tak sadarkan diri disana. Ia sempat meraba pergelangan tangan pria itu. Merasakan denyut nadinya yang lemah, ia pun segera merogoh saku Zitao demi menemukan sebuah ponsel. Dan dengan sangat mengejutkan, ia menemukan nama Baekhyun tertera pada suatu pesan.
Siapa yang akan menyangka jika Zitao telah mengirimkan lokasi mereka pada Baekhyun?
e)(o
Kris membuang Sehun ke tepian balkon yang pagarnya memang sudah tanggal. Nyaris Sehun terguling ke bawah kalau saja ia tidak cekatan dalam memindahkan tangannya yang menggapai sudut dinding. Ia pun tertahan di tepian. Sedangkan kepalanya mengudara pada sisi ujung lantai.
Kris kembali mencekiknya. Mencegah Sehun beranjak dari sana kemudian melawannya seperti pertarungan anak-anak. Sehun pun menarik lengan-lengannya yang menjerat. Berusahaa lepas darinya, tapi ia tidak punya tenaga yang cukup.
Tak lama seseorang kemudian terlihat di bawah sana. Seorang gadis berambut sebahu dengan dress biru yang sederhana. Tubuhnya kurus menyedihkan, Ditambah dengan rautnya yang diluputi banyak lelah.
Untuk seketika dunia Kris berhenti berputar. Ia sekali lagi mendapati mata nanar itu menangkapnya. Dan itu akan sangat melukai hatinya karena gadis itu benar-benar tidak akan pernah menerima keberadaannya.
"Dia akan melihat ini. Sayang sekali," ujar si pirang kembali menjorokkan Sehun ke belakang. Sedangkan gadis di bawah sana memekik memanggil namanya. Memohon padanya untuk melepaskan Sehun, karena bagaimana pun akan sangat mengerikan jika seseorang di jatuhkan dari atas sana.
"Kau bisa membawaku, komohon─" Gadis itu tak berhenti berteriak. Susah payah ia meregangkan tenggorokannya. "Kris!"
Tapi Kris hanya terkekeh dengan kalimat itu. Terlambat, pikirnya.
Tanpa ia ketahui, Luhan kini mendekat di belakangnya. Mengayunkan potongan kayu itu tepat di kepalanya. Membuat Kris tersentak kuat, kemudian terdorong ke samping Sehun.
Sehun buru-buru menjauh dari sana, namun Kris kembali menariknya. berusaha menggulingkannya ke tepi. Dan sekali lagi, kayu di tangan Luhan mengayun mengenai lengannya. Membuat pria itu meraihnya lalu mendorongnya menghantam tiang yang kokoh.
Luhan pun dapat merasakan pening yang luar biasa ketika kepalanya terbentur dinding yang kasar. Darah di pelipisnya pun mengalir menuju sudut wajahnya. Belum sempat Kris mengangkat kayu itu untuk Luhan, kini kakinya ditarik oleh Sehun yang masih merangkak di bawahnya. Tidak ada waktu sampai ia terguling ke belakang, lalu terlempar oleh gravitasi.
Kris berakhir dengan bergantung pada lengan Sehun yang menahannya. Tubuhnya bergelantungan menerima respon. Sedangkan Sena di bawah sana hanya bisa cemas dengan semua hal yang dilihatnya. Belum bisa sadar dengan apa yang harus ia lakukan sementara Baekhyun baru saja sampai di tempatnya.
Kayu di genggaman Kris terlepas begitu saja. Terjun bebas ke bawah sana menghantam bebatuan kasar.
"Kenapa kau susah-susah menangkapku?" tanya Kris tertawa konyol, bahkan saat pria itu berada di ujung ajalnya.
"Sena tidak mau kau mati," jawab Sehun sudah payah menahan lengannya.
Kris lantas terdiam menyaksikan gadis yang begitu ia cintai di bawah sana. Tidak bisa melakukan apapun selain menatapnya dalam ketidakberdayaan. Sementara Baekhyun sudah berlari masuk, menggapai semua anak tangga untuk membantu.
Sehun berdecih. "Hiduplah dan bayar semua kesalahanmu."
Kris membuang wajahnya. Tidak ingin memikirkan apapun selain menatap bebatuan di bawah sana. Membayangkan sesakit apa tubuhnya ketika ia menghantam seluruh benda mati itu. "Dia bahkan takut padaku. Apa yang bisa ku harapkan?"
Maka Sehun berteriak padanya. Lengannya tidak lagi bisa menahan apapun. "Setidaknya kau harus hidup untuk anakmu, bajingan!"
Kris kembali menatap Sehun yang jauh berada di atasnya. Mendengar kalimat itu membuatnya sedikit menggunakan otaknya. Tapi menyadari tangan Sehun tak lagi mampu menahannya, ia kemudian memutuskan untuk menyerah saja.
"Pegang tanganku, bodoh!" Sehun kembali berteriak. Susah payah ia mempertahankan lengan Kris yang mulai meluncur dari genggamannya.
Kris sedikit terhenyuh ketika menyaksikan kegigihan Sehun untuk menolongnya. Bayangan dalam benaknya kemudian menari-nari. Membayangkan dengan rinci seberapa damainya hidup mereka tanpa semua kejadian ini. Dan ia pun mulai melihat dengan jelas seberapa berengseknya ia karena pernah mengusik semua orang yang dilihatnya hari ini.
"Aku tidak bisa," gumamnya dihempas angin. Maka ia menggerakkan tangannya yang menggantung. Melepaskan cengkraman Sehun yang seakan mengikat kuat pergelangannya.
Baekhyun baru saja sampai ketika Kris terjatuh begitu cepat ke bawah sana. Menyisakan kekosongan semua orang yang melihatnya, termasuk Sena yang sudah terduduk lemas menyaksikan Kris yang terjatuh di tepat hadapannya.
Sirine polisi kemudian bergema dari kejauhan. Berderet mobil-mobil itu masuk. Menurunkan banyak anggota kepolisian, beserta Jongin yang hanya bisa tercengang dengan apa yang baru saja dilihatnya.
e)(o
Mobil-mobil polisi berlarian ke jalan setelah berhasil meringkus beberapa orang dalam jaringan Kris. Tidak menyisakan satu orang pun setelah Taeyong berhasil membuka mulut. Di jajaran depan, lengkingan ambulan sudah membelah jalan dengan kecepatan tak terbantah. Melewati jalurnya sendiri sampai mereka menurunkan pasien gawat darurat ke dalam gedung bernama rumah sakit.
Lorong gedung bertambah riuh dipenuhi pasien gawat darurat. Tak sedikit yang harus berbaring di meja operasi. Tak terkecuali Sehun yang tak sadarkan diri karena telah kehilangan banyak darah. Sementara Jongin dan Minseok berdiam diri di lorong bersama tuan Oh yang menatap kedua anaknya dengan raut murka. Terlebih menyadari kehadiran Luhan yang baru saja datang bersama Baekhyun dengan perban di kepala.
Semua pasang mata tenggelam dalam kesunyian. Menyisakan tundukan semua orang yang menyesali kejadian ini. Tak terkecuali Sena yang masih berdiri takut di hadapan ayahnya. mengutarakan semua hal yang dialaminya, bersama Chanyeol yang sebelumnya menjelaskan permainan konyol mereka.
Tiba pada tuan Oh yang kemudian menampar putranya keras-keras. Ingin menampar putri kesayangannya pula tapi ia harus mengingat dengan benar beban yang gadis itu tanggung sendirian. Jadi ia memilih membuang wajahnya, menahan kepalanya yang berat sampai harus dibantu pengawalnya.
"Aku selalu bangga padamu, tapi lihat apa yang kau lakukan?!" tegas tuan Oh pada Chanyeol yang masih menatap kakinya kosong. Membiarkan ayahnya memukulinya dengan tongkat─untuk yang pertama kalinya─sampai membuat adiknya berlutut untuk memohon pada ayahnya untuk berhenti memukul.
"Ini salahku, ayah. Ini salahku," mohon Sena meraih jemari ayahnya. Tapi ayahnya tak kunjung manatapnya. Alih-alih mengacuhkannya seakan ia tidak benar-benar ada di hadapannya.
Tuan Oh masih menatap Chanyeol dengan tatapan tajamnya. Mengutuk pria tinggi itu sedalam-dalamnya. Sang ayah bahkan tidak pernah menyangka jika putra kebanggannya itu membohonginya selama ini. Membiarkan adiknya dalam bahaya yang mungkin saja bisa ia tangani kalau mereka mau jujur. "Aku tidak pernah mengajarimu cara berbohong. Tapi kau melakukannya."
"Ayah!" Sena kembali mencegahnya untuk kembali memukul Chanyeol. Tangisan gadis itu pun membuat pedih di hatinya semakin menjadi-jadi. Tak kuasa ia menahan emosi yang mengendap di kepala.
"Jangan pernah berani tunjukkan wajah kalian di depanku," tuturnya kemudian menatap satu-persatu setiap orang di sekitarnya. Tidak perduli seberapa kritisnya Sehun di dalam sana, ia pun memilih pergi bersama orang-orangnya yang selalu setia. Tidak mau dicegah meski dunia mengeraskan langkahnya yang kecewa.
Luhan ingin mengejar sosok itu. Ia bahkan belum sempat memohon maaf. Tapi buru-buru Baekhyun menahan lengannya. Menggeleng pria itu meyakinkannya untuk tetap tinggal, atau ia juga akan terkena dampak dari emosi.
"Dia hanya butuh waktu," ucap Baekhyun menepuk pundaknya, sebelum mendekat pada Chanyeol untuk sedikit menenangkan pria itu.
e)(o
Ruangan tanpa cahaya masih terasa dingin ketika Sena menggeser pintunya. Langkah masih terpaku di pintu. Hendak masuk, tapi melihat alat-alat rumah sakit itu tersambung pada tubuh kaku di dalam sana membuatnya tergerak. Jemarinya beralih menarik kursi. Duduk disana dengan berdiam terlalu lama.
Cahaya bulan mulai menembus kaca jendela. Memberi sinar lembut pada wajah lemah yang setengahnya tertutupi dengan masker oksigen. Tetesan impus masih bekerja dengan baik di lengan dingin itu. Maka ia tidak bisa mengatakan apapun selain menggenangkan air mata di pelupuk.
Tangannya perlahan meraih jemari pria pirang itu. Mencoba menggenggamnya dalam balutan luka di hati. Ia dulu mungkin takut saat jemari itu menggenggamnya. Memeluknya penuh damba maupun dilihatnya melukai seseorang. Tak pernah ia bermimpi untuk mendapatkan genggaman itu di tangannya.
Mungkin akan terasa sama di kulitnya. Masih sekaku dahulu, pun menyisakan pedih di ulu hatinya. Tapi kali ini berbeda. Terasa berbeda ketika ia menggenggamnya dengan pikiran penuh. Ia lalu sibuk membatin, betapa leganya ia karena masih bisa menyaksikannya bernafas. Entah, apa alasannya.
"Kali ini aku datang menjagamu," lirih gadis itu terdengar pilu. Menahan air matanya yang akan terjatuh sampai pandangannya memburam. "Dulu kau pernah bilang, aku bisa datang kapanpun aku mau. Kau pun akan berjanji membuatku bahagia ketika aku datang. Tapi aku tidak pernah memikirkan soal dirimu."
"Betapa buruknya aku─"
Ia kemudian membenamkan kepalanya pada jemari yang digenggamnya. Dadanya penuh sesak, tidak mengizinkannya bernafas dengan benar. "Terakhir kali, aku bilang kau bisa membawaku. Aku sungguh-sungguh soal itu."
Namun tubuh itu masih terbujur kaku. Tidak meresponnya sebagaimana harapannya dibumbung tinggi-tinggi. "Maafkan aku─"
e)(o
Pagi yang cerah ketika semua burung berkicau di dahan yang lembab. Daun-daun masih berguguran, mengotori trotoar dan juga halaman restoran yang sempit. Tak lupa kegiatan akhir pekan yang membuat jalanan ramai. Dan hal itu menjadi daya tarik para penghuni jalan untuk melakukan aktivitas pagi di babak baru.
Satu minggu berlalu, Luhan akhirnya dapat kembali memulai aktifitas di tempat kerja barunya. Ia buru-buru memasang kostum boneka kelincinya dengan pegawai yang lain. Mereka turun ke jalan untuk membagikan brosur restoran sebelum buka. Ada beberapa anak-anak yang menghampirinya, berfoto dengannya atau mengacaukan acaranya. Tapi Luhan tetap melakukan pekerjaannya dengan baik. Menghabiskan seluruh brosurnya, sampai pada ia yang menemukan pria paruh baya dengan pakaian formalnya menghampiri.
Luhan ragu-ragu membuka kostum kepalanya yang mengganggu. Menatap pria yang menunggunya bersama dua pengawal di belakang dengan kepala penuh pertanyaan. Benaknya sibuk memikirkan banyak kemungkinan. Mungkin saja ia akan terkena amarah pria itu sebentar lagi.
Mereka kemudian memutuskan untuk duduk di sudut restoran. Tidak memesan apapun karena memang belum mendapati jam buka. Tapi pegawai lain memberi mereka kopi dengan gratis, karena mengenali pria paruh baya itu.
"Saya belum meminta maaf dengan benar," buka Luhan dengan wajah tertunduk. Tidak berani menatap kedua mata tajam itu seperti sebelumnya. Seperti cara ia membohongi orang itu dengan sangat tidak berperasaan dahulu. "Saya benar-benar minta maaf," sesalnya penuh rasa malu.
Tuan Oh mengambil cangkir kopinya. Meminumnya dengan tenang sementara Luhan masih tidak kunjung menatapnya. "Aku tidak tahu jika ada seseorang yang bergitu mirip dengan putriku," tuturnya kemudian.
Luhan mengeratkan genggaman tangannya di bawah meja. Masih berusaha menebalkan wajahnya dan mencoba untuk tidak gemetar untuk menghadapi pria penuh hormat di depannya ini.
"Ini salahku," tuturnya tiba-tiba. Dan Luhan akhirnya menegakkan kepalanya ketika mendengar kalimat mengejutkan itu. "Dia tidak mungkin melakukan ini jika aku membantunya lebih keras. Dia benar-benar keras kepala."
Luhan berkedip ketika pria itu menyunggingkan senyum kecil padanya. Ia pun menghambur memandang jendela. Mengusap lembut punggung tangannya yang masih saja terasa kosong bahkan saat ia ditemani. "Sehun pasti banyak merepotkanmu."
"T-tidak begitu," jawab Luhan gugup. Ikut melihat keluar jendela dengan kaku, tapi tidak menatap hal yang sama dengan orang di depannya.
"Belum pernah ada yang tahan dengannya," kekehnya pelan. "Tapi kau malah mau bekerja dengannya."
Luhan kembali teringat dengan memori lamanya. Dimana ia pertama kali berlarian di luar sana. Lalu menyetujui apapun yang ditulis dalam kontrak kerjanya. Oh, betapa jahatnya ia karena pernah membohongi banyak orang. "Maaf─"
"Kau tidak salah," tolehnya. "Kau hanya mengerjakan tugasmu."
Luhan kembali menunduk. Merapatkan kedua kakinya dengan kepalan tangan di atasnya. Ia benar, saat ia ingin melihat pria itu baik-baik saja walaupun dengan dirinya yang hanya si pembohong. "Saya tulus ketika berbicara pada anda saat itu. Saya sama sekali tidak berniat untuk membohongi anda─"
"Terima kasih," potong pria itu menatapnya penuh senyum. Merasa cukup beruntung karena ditipu dengan banyak kebohongan putih.
"Dan─Sehun orang yang baik. Dia juga sangat menyayangi anda. Dia hanya tidak pernah mengungkapkan apa yang dia rasakan."
Tuan Oh mengambil tongkatnya. Menatap cangkir kopinya yang masih hangat dalam hening yang meliuk bersama asap kopi. "Aku baru sadar kalau mereka sudah dewasa." Ia melanjutkan. "Tolong perhatikan Sehun untukku."
"Saya akan melakukannya." Untuk sepersekian detik Luhan akhirnya mampu menatap orang di depannya. Menemukan senyumnya yang tulus, kemudian mendapatinya beranjak dari kursi. "Saya akan membujuknya untuk menemui anda," tambah Luhan.
Namun tuan Oh menggeleng. Menepuk bahunya dengan lembut sebelum berlalu tanpa jejak. "Biarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan."
e)(o
Luhan baru saja berhasil mengunci pintu restoran malam itu. Pukul setengah sebelas malam─seperti biasa. Tapi yang mengejutkannya bukanlah tentang suasana malam yang sepi dan penuh dingin, tapi ialah Sehun yang sudah berdiri di depan mobilnya. Menatapnya dengan wajah datar khas miliknya. Bahkan dengan raut yang selalu terlihat lelah.
Luhan bukannya cepat-cepat menghampiri. Sibuk mematung dengan sangat tidak elit di depan pintu resto karena terserang canggung tiba-tiba. Dan Sehun bukan orang yang senang menatap patung sepertinya. Jadi ia melakukan aksi protes dengan membukakannya pintu mobil.
"Di luar dingin," ucapnya masih memaku Luhan dengan maniknya yang hitam. Membuat sebait lagu bahagia ketika pria surai coklat itu menemukannya. Membaca detak jantungnya yang berirama seiring langkahnya diayun mendekat.
Luhan lama-lama terbiasa dengan Sehun yang berbicara penuh arti padanya. Membaca banyak suasana hati pria itu dengan baik tanpa bertanya dan juga akan memahami banyak kalimatnya. "Kemana kita hari ini?"
"Kau ingin pergi kemana?" tanyanya fokus dengan jalanan lenggang di depannya.
Mata Luhan berubah berbinar-binar. Akhirnya ia bisa ditanyai pertanyaan seperti itu setelah mengikuti kemana Sehun membawanya selama ini. "Aku bisa melakukan request?"
"Ya─"
Luhan menerawang lucu. Jemarinya ia mainkan di dagu, sedangkan otaknya sibuk mengumpulkan hal-hal yang tidak sempat ia lakukan selama ini. "Taman bermain? Melihat bintang jatuh? Makan odeng di pinggir jalan? Pantai? Bertemu Minseok?"
Raut Sehun berubah kusut. Mendengar nama Minseok masih saja membuat telinganya sedikit panas. "Kenapa harus ada Minseok di daftarmu?"
"Aku merindukannya. Dia berhutang pizza padaku sampai sekarang," toleh Luhan mengedipkan matanya polos.
"Aku juga bisa membelikannya untukmu," jawabnya ketus.
Maka yang mendengarnya menaikkan salah satu alisnya. Dia kenapa sih?─batinnya meledak-ledak. "Oh, ya. Ada suatu tempat untuk menunggu bintang jatuh."
"Tidak ada bintang jatuh, okay. Mereka hanya mengada-ngada soal bintang."
Luhan berubah mencebik. Memutar wajahnya mendekati jendela yang menampilkan warna-warni lampu jalan. "Aku ingin pulang saja," gumamnya kesal.
Dan Sehun hanya bisa mengutuk dirinya sendiri. Susah payah ia mengajak Luhan berbicara padanya kembali. Tanpa meminta maaf, ia langsung memutar arah. Mengambil jalanan panjang yang sepi walaupun harus mengabaikan waktu yang terus saja menukiknya.
Seusai melalui perjalanan panjang, Sehun akhirnya bisa mematikan mesin mobilnya. Ia beralih menatap kantuk Luhan yang begitu damai di kursi, sampai tak tega untuk membangunkannya. Namun mau tak mau tangannya kini sudah lancang mencubit pipi pria itu. Membuatnya terganggu lalu menggaruk pipinya.
"Kita sampai," ucap Sehun mengusap surainya. Terlalu gemas menyaksikan wajah itu menggapai-gapai kesadarannya.
Butuh beberapa saat sampai Luhan membuka sabuk pengamannya. Hendak membuka pintu, tapi lebih dulu melotot menyaksikan jendelanya dipenuhi suara ombak. "Pantai?!" Luhan seketika mendapatkan kesadarannya.
Ya, walaupun perjalanan yang sangat panjang. Tapi melihat sosok itu berbinar-binar membuat hati Sehun selalu ketagihan. "Kau bisa mencari bintang jatuh atau apalah itu─"
Belum menyelesaikan kalimatnya, Luhan tiba-tiba sudah turun dari mobil. Berlarian ke tepian pantai. Menjemput ombak yang bergulung-gulung di bawah cahaya bulan. Sehun buru-buru memanggilnya. Ikut turun mengejarnya karena akan sangat berbahaya bermain ombak saat malam.
Angin bertiup sangat kuat. Dinginnya pun menusuk tulang. Tapi keduanya setuju untuk melupakan itu dan hanya bermain ombak di tepian. Berkali-kali mereka jatuh disapu ombak yang dingin. Hingga pakaian mereka terdebur setengah basah. Lalu setelah bosan, mereka setuju untuk berhenti melakukannya.
Sisa tawa Luhan masih menggantung ketika ia ditarik keluar dari air. Sedangkan Sehun sudah menggeleng-geleng kecil menghadapi sikap liar Luhan yang luar biasa. Baru pertama kalinya ia mendapati kegilaan pria itu dalam hidupnya. Dan itu sangat membuatnya khawatir sekaligus senang yang membah.
Sehun membuka pintu mobilnya. Mencari sesuatu di dalam sana sementara Luhan memeluk dirinya yang menggigil. "Apa yang akan kau lakukan sekarang dengan pakaian basah seperti itu?"
"Kau tidak bawa pakaian ganti di mobilmu?" Luhan balik bertanya dengan kesibukan Sehun yang mengubrak abrik isi mobilnya sampai harus membuka bagasi.
Sehun menghela nafasnya. Hanya jasnya yang ia temukan di kursi belakang. "Kali ini tidak."
"Kalau begitu kita pulang," respon Luhan santai. Begitu polos sampai Sehun melipat lengannya di dada.
Sehun pun mengeluh, "Butuh dua jam aku menyetir untuk sampai di rumah."
Luhan mengigit bibir bawahnya. Memainkan jemarinya lucu seperti anak kecil yang kedapatan melakukan kesalahan. "Maafkan aku."
Sehun lantas menariknya mendekat. Memasangkannya jas hitam miliknya pada bahu Luhan yang lembab. Tak lupa mengusap wajah dingin itu dengan lengan kemeja miliknya yang kering.
Luhan merasakan dingin yang menerpa kulitnya ketika lengan itu menyentuh wajahnya. Tangannya yang kering pun segera mengambil jemari itu lalu mengusapnya. "Tanganmu dingin. Mau kubuatkan api unggun?"
Sehun terkekeh dibuatnya. Melihat keadaan mereka yang tengah malam terdampar di tepi pantai dengan pakaian basah, apa yang bisa mereka lakukan selain masuk ke mobil untuk menghalau dingin? "Bagaimana kau membuatnya?"
"Di film mereka melakukannya dengan mudah. Tinggal mengumpulkan kayu kemudian─" Luhan mengawang. Matanya berkedip bak bintang kejora. Begitu lucu untuk Sehun peluk sekarang juga.
"Lupakan," perintah Sehun beralih menutup bagasinya. Lantas setelah sampai pada Sehun yang membukakan pintu untuknya, Luhan malah mematung menatapnya ragu-ragu.
"Ayahmu datang tadi pagi," aku Luhan akhirnya.
Mendengar itu raut Sehun berubah mengeras. Ia benar-benar akan menyetir sekarang juga─untuk menemui ayahnya─kalau dugaannya benar. "Dia memarahimu?"
"Tidak. Aku malah disuruh─" Luhan kembali menggantung ucapannya. Membuat Sehun menunggu dengan sabar hati. Kemudian ia teringat dengan ia yang harus memperhatikan Sehun lebih banyak sejak pertemuan itu pagi tadi. "Astaga apa yang aku lakukan? Aku sudah berjanji pada ayahmu untuk─"
Sehun mencium bibirnya sekilas. Berakhir dengan menatap wajah polosnya yang mematung─tak bisa melanjutkan kalimatnya. "Jangan dengarkan dia," tuturnya.
Pupil hitam Luhan berlarian. Mendapati wajah itu terlalu dekat dengannya membuat jantungnya kembali meronta-ronta ingin segera dikeluarkan. "K-kau menciumku─"
Senyum Sehun kemudian terpatri begitu indah disana. Ditambah dengan disinari cahaya bulan yang lembut. Surainya yang hitam pun mulai diterbangkan angin malam yang dingin. "Memangnya kenapa?"
"I-itu─" Luhan berubah gugup. Pipinya menghangat, sedangkan jemarinya bertambah dingin. Dulu ia mungkin akan berpikir kalau hantu laut akan segera menangkapnya. Tapi itu tidak lagi, karena semua berubah ketika ia tahu getaran itu berasal dari hatinya sendiri.
"Kenapa kau lucu sekali, hm?" Sehun berubah bersandar pada mobilnya. Membiarkan pintu mobilnya menganggur, dengan terus menatap manik itu menatap sisi mobilnya.
"Jangan menatapku seperti itu." Luhan rupanya keberatan.
Tawa Sehun kemudian dihempas angin. Terlalu menikmati bagaimana rona merah itu semakin menjalar di pipi Luhan. "Kenapa? Tidak boleh?"
Luhan kemudian mendekat padanya. "Kasihan jantungku," bisiknya.
Mendengar itu membuat Sehun mengusak helaian rambut coklat itu. Sedangkan Luhan sudah mencuri cium pipinya secepat yang ia bisa. Lalu tanpa tanggung jawab, pria itu berlari memasuki mobil. Membenamkan dirinya di kursi sambil menutup seluruh wajahnya.
"Ya, kemari kau!" Sehun kembali membuka pintu mobilnya. Mencari keberadaan Luhan yang masih bergulung-gulung. Sedangkan pria itu sudah berteriak histeris karena Sehun menariknya. Mencoba menemukan wajahnya yang semakin merah padam.
Luhan kemudian tak bisa menahan kikikannya. Ia kembali menggila dengan memainkan surai Sehun yang lembut. Memuja bagaimana Sehun tersenyum padanya. Bagaimana pria itu mencium bibirnya yang gemetar dingin. Menggapai tiap lekuk wajahnya, dan membuat darahnya dua kali lipat berdesir ketika jemari itu menyentuh sisi jemarinya yang kosong.
Lalu biarkan salah satu bintang jatuh di atas sana. Biarkan mereka saling mengakui, betapa mereka saling mencintai sama besarnya.
.
.
.
.
.
THE END
.
.
.
.
.
Masih ada epilog
