TWO SIDES

by Gyoulight

.

.

HUNHAN FANFICTION

GENRE: Drama, Romance

RATING: T

.

.

EPILOG

Seorang pria turun dengan menurunkan seorang gadis kecil dari mobilnya. Tak lupa ia berjongkok membenarkan sepatu gadis itu. Surainya yang hitam ditiup angin ketika ia menggenggam jemari si mungil. Dedaunan gugur pun ikut mengantar jejak keduanya menuju trotoar kecil yang lenggang di samping jalan.

Sambil tersenyum riang si gadis kecil mendongak menyaksikan kelopak yang gugur di atas kepalanya. Mengabaikan perkataan orang yang menggenggam tangannya untuk selalu memperhatikan langkah. Alhasil gadis kecil itu hampir tersungkur, kalau saja si pria dengan kemeja biru itu tidak berhasil menahannya.

"Jessie tidak boleh melakukan itu saat berjalan," nasihat si pria merapikan rambut gadis itu. Rambutnya yang dikuncir dua membuat si gadis terlihat sedikit mengemaskan. Membuat pria itu segera menarik hidungnya.

"Jessie mau bunga yang itu," tunjuk gadis itu pada guguran sakura yang menghujani kepala keduanya.

Si pria tersenyum menarik jemari si kecil. Sekali lagi menuntunnya berjalan menuju toko bunga dengan dinding serba putih. "Luge punya banyak, ingin mendapatkannya?"

Gadis kecil itu mengangguk senang. Berlarian ia menarik tangan si tinggi dengan sangat bersemangat. Pintu kaca pun terbuka, memperdengarkan bunyi lonceng yang nyaring. Dan itu mengusik atensi si kecil. Membuatnya takjub bagai melihat hal itu untuk pertama kalinya.

Pria dengan apron kuningnya batal meletakkan bunga ke dalam embernya. Sedangkan si pemuda dengan surai hitam tidak sempat mendekat, sibuk melayani tamu-tamu yang datang.

"Hello, baby~" sapa si pria dengan rambut coklatnya mendekat. Mengusap kepala si kecil dengan lucu sambil memeluk kumpulan bunganya.

Si kecil menunjuk keluar jendela. Menunjukkannya guguran sakura yang terus diterbangkan angin dengan kedipan polosnya. "Luge, papa bilang Luge punya bunga seperti yang di luar."

Pria bersurai coklat itu masih saja terkikik mendapati pria yang tak jauh di depannya itu dipanggil 'papa'. Setelah melirik sebentar wajah datar si tinggi, ia kemudian berjongkok. Menyentuh ujung hidung si kecil lalu menunjukkannya kumpulan bunga di pelukannya. "Kalau bunga yang di luar sudah gugur. Bagaimana kalau bunga daisy?"

Anak itu berubah menatap bunga-bunga itu dengan tatapan berbinar. Maniknya yang coklat terus menatap warna kelopaknya. Lantas setelah ia mendapati senyum pria di depannya, ia pun mengangguk senang. "Jessie mau!"

Melihat interaksi kecil itu membuat si pria bersurai hitam kesal. "Kau mengabaikanku, okay," keluhnya cemberut karena merasa diabaikan.

Si surai coklat meletakkan bunga-bunganya. Beralih menggendong gadis kecil itu lalu mencium pipi gempalnya. "Kau membawanya lagi hari ini?"

"Kau tahu ibunya selalu sibuk dengan pakaian," jawabnya ketus. "Aku membawanya ke kantor sebentar, tapi semua karyawan sudah memanggilku super daddy karena dia terus memanggilku papa."

Yang mendengar terkikik geli. Segera memberi kursi pada kekasihnya dan akan sangat bersedia mendengar keluh kesahnya yang panjang. "Sehun, dia ini keponakanmu," tuturnya kemudian.

Ia pun menjawab dengan merengut. "Tapi aku tidak suka anak-anak."

"Kenapa?" kekeh si surai coklat. Ia kembali menatap Jessie yang memainkan helaian rambutnya. "Mereka lucu. Aku selalu suka adik perempuan."

Mendengar itu pemuda di ujung sana berceloteh asal. Kedua tangannya sangat sibuk menghitung tagihan. "Tidak heran kalau kau tidak menyukaiku."

"Maaf, Jaemin sayang. Kau tidak lucu saat kecil," ejek si surai coklat.

Si surai hitam mendegus. Mengecek ponselnya kemudian berkomentar, "Perempuan atau laki-laki mereka tetap saja suka menangis," yang langsung disetujui penuh oleh pemuda bernama Jaemin di meja kasir.

"Tapi Jessie, jarang menangis denganmu."

Sehun mendapati angka jam di ponselnya. Seakan kehabisan waktu, ia langsung mengantongi benda tipis itu di saku. "Kau harus tutup sekarang. Baekhyun akan mengomel kalau kita terlambat ke pestanya."

"Hey, bukankah kau harus panggil dia hyung?" tanya kekasihnya menurunkan Jessie dari gendongannya. Bocah kecil itu pun langsung ditangkap oleh Jaemin, segera mengajaknya berkeliling ke dalam rumah kaca di belakang sana.

Sehun berdecih. Sebuah senyum miring kemudian tertarik di sudut bibirnya. "Lalu kau mau ku panggil hyung juga?"

Luhan masa bodoh. Ia beralih mengatur banyak bunga di atas mejanya. Mengelompokkannya dengan teliti. Tak lupa memotong bagian yang kering dengan gunting. "Aku belum membeli hadiah. Menurutmu apa yang mereka sukai?"

Yang mendengar mengawang. Mendekat ia pada Luhan yang selalu sibuk dengan membungkus bunga-bunganya. "Mereka hanya menyukai satu sama lain," jawabnya asal lalu memeluk pinggang kekasihnya. Tak lupa menyandarkan dagunya pada bahu sempit itu lalu memejamkan kedua matanya yang ikut pening sejak pulang dari kantor.

"Yang benar saja" Luhan buru-buru bergerak melepaskan pelukan itu. Meski ia sangat merindukan Sehun, tapi mereka tidak mungkin bisa sebebas itu di tokonya. Bukan apa-apa, bagaimana kalau pelanggan tokonya datang dan mendapati mereka dalam posisi seperti tadi? "Bagaimana kalau jam tangan?"

Si pucat merengut melipat lengannya di dada. Sedikit kesal sebenarnya. "Percayalah, milik mereka di Berlin sudah satu lemari. Ini bukan pertama kalinya mereka mengadakan anniversary."

Luhan menggeleng menatap kekasihnya sebentar. Berusaha maklum dengan sifatnya yang selalu ingin dituruti.

Tak lama lonceng di pintu kembali berbunyi. Menyisakan atensi Luhan yang secara otomatis menyapa pelanggannya yang datang. Matanya kemudian tak sengaja menangkap sosok berambut panjang dengan dress selututnya. Senyumnya indah dipatri. Membuat Luhan terbayang-bayang dengan ia yang dulu mengenakan pakaian itu dengan sangat kerepotan.

"Sudah ku duga kalian masih berada disini," tuturnya mendekat.

"Jaemin membawanya ke belakang," beri tahu Luhan menyambutnya ramah. Dibalas tawa kecil sosok itu yang membawakannya sesuatu seperti hadiah di dalam kantung. "Apa ini?"

"Aku bertemu Jongin tadi pagi," jawabnya. "Oleh-oleh katanya."

Sehun semakin berubah kesal karena itu. "Bagus, dia tidak memberiku hadiah."

Sena terkikik. Mendapati kelucuan kakaknya yang masih saja mudah kesal karena sesuatu yang kecil. "Oppa mengirimnya ke Jepang sendirian, bagaimana dia tidak kesal padamu?"

"Mommy!" Tiba pada Jessie yang berlari dari pintu. Disusul Jaemin yang harus kembali ke meja kasir. Mendapati ibunya yang datang membuatnya tersenyum senang.

"Sudah mendapatkan hadiah untuk daddy?" Sena buru-buru menggendong putri kecilnya. Menciumnya sayang lalu mengambil setangkai bunga anyelir merah muda yang ditunjukkan padanya. "Bunganya cantik sekali."

"Jaemin oppa memberikannya untuk Jessie," tuturnya riang.

"Aku baru saja menyelesaikannya," potong Luhan memutus rotasi dunia mereka. Menyerahkan sebuket bunga daisy berwarna putih pada keduanya. "Dan kau tidak boleh membayarnya. Ini hadiah."

Sena mengambilnya dengan rona bahagia. "Terima kasih"

e)(o

Ruangan serba putih menyapa ketika ia menggeser pintu itu. Jessie berlarian masuk. Sedangkan ia lebih dahulu menangkap vas bunga di atas nakas. Jessie dengan hati-hati menaiki kursi. Menyapa ayahnya dengan riang, kemudian menatap ibunya yang sibuk mengganti bunga di dalam vas.

Dan Kris masih terbaring di posisi yang sama dalam tiga tahun terakhir. Masih terbujur kaku dengan alat-alat rumah sakit yang masih setia menemani tidur panjangnya.

"Mommy, kapan daddy akan bangun?" tanya Jessie menatapnya polos. Berkedip kelopaknya yang teduh. Mengingatkannya akan kedua manik yang selalu menatapnya penuh kasih.

Tidak ada yang tidak diwarisi Jessie akan semua fitur ayahnya. Hidungnya, alis tebalnya dan bulu matanya yang cantik selalu mengingatkannya akan pria itu. Maka Sena memeluk putrinya sayang. Mengusap helaian rambutnya sambil menatap penuh harap pada tubuh lemah di depannya. "Sebentar lagi, daddy pasti akan bangun."

"Kalau daddy bangun, Jessie akan mengajak daddy ke taman bermain. Daddy harus tahu kalau disana ada boneka beruang yang sangat besar!"

"Tentu saja," lirihnya menahan air mata di pelupuk. Ia pun meraih jemari dingin Kris hati-hati. "Kita harus pergi bersama suatu hari."

e)(o

.

.

.

.

.

.

.

Selesai ya… selesai :')

Sejak awal Januari 2019, bahkan sebelum itu (Desember 2018), Two sides selalu menghantui minta dituang. Special Thank's to MD yang sudah mendorongku menulis dan mempublish ff ini sampai selesai. Dan ini pertama kalinya aku di FFN.

Terima kasih yang besar kepada kalian yang selalu menemani dan menuangkan semangat di kolom review. Kalian adalah alasan mengapa aku bisa menyelesaikan ff ini. ILYSM.

Aku minta maaf jika ada kekurangan, atau perkataan yang mungkin menyinggung. Senang bertemu kalian disini. Semoga kalian berbahagia selalu

Two sides tentu masih banyak kurangnya. Melihat kalian yang masih bingung dengan Sena, aku minta maaf. Karakter Sena memang ku buat sedikit…. Ya, begitulah. Dia hanya seseorang yang tidak mengerti dirinya sendiri. (Dan maafkan Sena yorobun :D)

Lalu untuk kalian yang merasa belum paham atau masih ganjal dengan alur yang ku tulis (setelah membaca semua Chap.), kalian bisa tanyakan langsung melalui PM.

Terima kasih.

Sampai jumpa di lain waktu.